Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
67


__ADS_3

Waktu terus berjalan dengan baik,kini Gio sudah bisa kembali berjalan dengan normal bahkan lelaki itu sudah bisa mengajak putrinya berlari.hari-hari Ayana yang suram beberapa bulan ini,kini tergantikan dengan hari-hari indah yang membahagiakan.betapa bahagianya keluarga kecil itu.Gio kembali menjadi laki-laki gagah dan mempesona seperti yang selalu Ayana katakan.


Tubuh jangkung yang sempat kurus itu. sekarang sudah kembali normal,Gio memang memiliki proposi tubuh yang sedang,tidak gemuk dan tidak kurus sangat indah untuk di pandang dan sangat pelukable sekali pemirsah.seperti pagi yang indah ini,pagi yang sangat cerah,Gio terlihat sedang menyisir rambutnya di kaca sepertinya lelaki itu akan pergi kuliah.dua hari lalu memang Gio sudah aktif kembali kuliah dan bekerja di kantor mertuanya.


Hari ini Gio memakai jaket hitam dan kaus hitam pula,di padukan dengan ripped jeans dengan warna yang sama.hari ini ayah Jemia itu terlihat seperti remaja tanggung. kan emang masih remaja.



Rambut tebalnya yang sudah memanjang itu di sisir ke belakang.terlihat seperti jamet kuproy kalau kata Ayana mah.namun Gio tetap tidak peduli akan ocehan istrinya yang sering mengatainya jemet dengan gaya rambut seperti itu.


"Gak ada baju yang biasa aja,apa Gi?." tanya Ayana setelah menaruh hairdryer usai mengeringkan rambutnya.


"Lah emang ini kenapa,yang?ini juga biasa aja kan?" Gio memeriksa penampilannya di kaca perasaan bajunya biasa saja deh tidak ada yang aneh juga,pikirnya.


"Kamunya itu loh,jangan kaya masih bujangan dong.biasa aja,kaya bapak-bapak yang udah punya anak gitu lah." ucap Ayana sembari membenarkan rambut Gio yang sudah rapi dan wangi itu.


Kening Gio mengerut heran." Biasanya juga aku kaya gini kan?maksud kamu aku harus kaya Papah gitu?Pake jas ketat kemana-mana terus bawa cerutu?."


"Ya nggak juga.asal jangan bergaya kaya cowok single dong.nanti anak-anak kampus ngira kamu belum punya istri kalau mereka godain kamu,gimana?." dumel Ayana seraya mengoles sunscreen ke wajah Gio.agar kulit suaminya itu tetap mulus dan bersih terhindar dari sinar matahari.dan ia tidak bisa membayangkan jika Gio bergaya seperti Papahnya.


"Iya udah aku pake baju partai aja deh." ujar Gio sembari membuka lemari ingin mengambil baju yang lain.


Ayana terkekeh sambil melarang suami brondongnya itu berganti pakaian." Emang kamu punya baju partai?" tanya Ayana masih dengan tawanya.


Gio menutup kembali lemari itu lalu mencubit hidung Ayana,dan menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya." Gak ada sih," kekehnya dengan geli." Terus ini Cantiknya aku mau kemana,hmm?pagi-pagi udah dandan aja?" tanya Gio sembari mengecup singkat bibir Ayana." Ini lipsticknya menggoda iman banget sih. yang.pake masker kan ya?."


"Iya,aku mau bawa kembar imunisasi.hari ini jadwalnya." jawab Ayana.


"Gak bisa sore aja gitu,biar aku antar?."


"Nggak lah.kan imunisasi itu harus pagi biar malamnya gak demam.kalau sore kasihan nanti malam pasti rewel."


"Yah,aku pengennya nganter kamu dan mereka."


"Gak apa sih,kapan-kapan kan bisa sekarang kamu jalan dulu mending,nanti kesiangan,di depan suka macet kalau pagi begini." suruh Ayana lalu berjinjit mengecup sudut bibir Gio.


"Ya udah,hati-hati ya jangan kebanyakan berdiri kamu kan sering pegel.apa lagi bekas jahitan itu suka sering ngilu kan." pesan Gio lalu mencium sekali lagi kening Ayana.


"Iya.ya udah bye,sayang." keduanya saling memagut untuk beberapa detik.lalu saling melepas karena Gio harus segera pergi tidak ingin terjebak macet.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Gio berjalan memasuki area kampus dan langsung mendapat sapaan hangat dari para gadis yang sedang berjalan di halaman kampus besar itu.Gio hanya tersenyum untuk membalas mereka dan melambai tangan sesekali saat ada yang melambai kepadanya.semata-semata ia lakukan hanya untuk formalitas saja.


"Gio ganteng banget sih,woy lah pengen gue gebet aja rasanya." ujar salah satu gadis.


"Banget-banget.tinggi putih dan arghhh. bibirnya itu loh penuh dan tebal banget. pokonya cipokable sekali.beruntung banget yang jadi ceweknya."


"Iya banget,gila.tapi kok dia itu cuek ya. kayanya ada hati yang musti di jaga."


"Tapi denger-denger sih,dia udah punya istri loh."


"Membagongkan sekali pemirsah.baru aja gue mau gebet taunya udah punya istri"


"Kata siapa lo,kalau dia udah ada istri?"


"Kata Aldi temennya dia.katanya sempet denger kalau Gio video call sama anak dan istrinya."


"Lah siapa tahu itu kakanya,kan cowok ganteng mah suka gitu,biar gak di dekatin cewek-cewek spek kita ini."


"Masa iya kakanya,manggilnya sayang sih?terus itu bocilnya manggil dia ayah yakali segitunya banget."


"Siapa tahu kan emang nganggap Gio ayahnya."


"Udah.udah,kalian ini kenapa malah ngeributin Gio?dia itu punya gue.gue peringatin ya,gak boleh ada yang ngecrushin dia.kalau sampe ada yang diam-diam deketin siap-siap aja berhadapan sama gue." ucap Sally sang primadona kampus.dia perempuan paling cantik dan paling modis,di kampus itu. sebenarnya masih banyak yang lebih modis dan cantik juga kaya.tapi yang paling mencolok adalah dia.karena gaya dan penampilannya yang selalu mencuri perhatian seantero kampus.


"Lah kok gitu?gak bisa gitu dong,gue yang udah lama ngincer dia,kok lo yang ngatur." bantah salah satunya lagi.


"Alah udah gebet aja.intinya mah grecep aja lah." balas satunya lagi.semua gadis yang ada di sana tengah membicarakan Gio dan memikirkan cara agar bisa menggaet hati pemuda jangkung itu.


Siang ini Gio berjalan di koridor kampus dan sesekali melihat ponselnya,ia selalu melihat aplikasi pesan siapa tahu Ayana mengirimi sesuatu padanya.istrinya itu memang sering kali mengirim gambar putra dan putri mereka.


"Halo Gi.mau kemana?" tanya Sally ramah.


"Mau ke ruangan pak Bastian" jawab Gio.


"Oh sama,aku juga mau kesana bareng yuk." ajak Sally mulai mendekatkan diri.


"Oke." Gio berjalan lebih dulu,namun Sally berusaha mensesajarkan dirinya agar beriringan dengan langkah Gio.


"Kamu hebat dan kuat ya,usai kecelakaan hebat itu tapi kamu masih bisa selamat,dan sehat kembali seperti dulu." Sally membuka percakapan di antara mereka yang sudah seperti di tengah hutan itu begitu hening dan sepi.

__ADS_1


"Iya alhamdulilah.semua berkat allah dan keluarga,terutama istri." sahut Gio.


"Iya bersukur ya Gi.oh iya aku minta nomor kamu dong.aku pengen minta tolong sama kamu,minta di ajari materi yang gak aku paham,bisa gak Gi,kira-kira?" tanya Sally langsung.


"Aku gak sepintar yang orang-orang kira Sall.aku pernah gak naik kelas waktu SMA karena otak aku gak encer.kamu bisa minta bantuan ke yang lain aja.ke Naufal coba." tolak Gio dengan halus.bisa di amuk Ayana jika ia memberikan asal nomor ponsel apa lagi kalau sampai mengajari gadis itu.jadi Gio harus pandai-pandai menjaga hati dan menolak siapa pun yang berusaha mendekatkan diri padanya.


"Yah,padahal aku pengen banget belajar sama kamu.tapi kalau nomor hape kamu gapapa kali?kan kita satu kelas siapa tahu ada hal penting." kekeuh Sally.


"Maaf,aku udah beristri,Sall.takutnya istriku salah paham nanti." aku Gio akhirnya dari pada panjang urusannya.


Mata Sally membulat mendengar apa yang Gio katakan barusan tidak mungkin pikirnya.lelaki ini bisa saja ngelesnya,bilang saja kalau ia tidak ingin di dekati.pake segala ngaku kalau sudah beristri.Sally mana percaya sih.atau jangan bilang kalau sebenarnya Gio ini Gay,tidak suka perempuan pikir Sally.


"Begitu ya.ya udah deh takutnya istri kamu nanti malah salah paham,benar juga sih."


"Iya,makasih ya udah ngerti." balas Gio dengan senyum ramah.ia bersukur ternyata Sally baik juga mau mengerti kondisi Gio.


Sally hanya mengangguk dengan senyum hangat pula,dalam hatinya ia bersumpah akan mendapatkan Gio bagaimana pun caranya,hanya saja ia akan bermain halus agar Gio tidak curiga padanya.Gio ini tipe orang yang susah di dekati,karena itu Sally harus menjadi baik dan terlihat mengagumkan dulu di depan Gio.mereka berjalan beriringan,sebenarnya Gio merasa risih berduaan seperti ini dengan si idola kampus,apa lagi perempuan itu banyak fansnya bisa-bisa lelaki pengagum Sally akan salah paham pada Gio.tidak lucu kan kalau tiba-tiba Gio di keroyok oleh fans Sally.


"Kamu mau masuk duluan?masuk aja dulu. "suruh Gio saat mereka sudah berada di ruangan dosen pembimbing.


"Bareng aja yuk." ajak Sally.Gio hanya mengangguk dan keduanya masuk menemui pak Bastian.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


Usai membawa anak-anaknya ke rumah sakit,Ayana meminta ibunya pulang lebih dulu ia dan si kembar akan mampir ke kafe tempatnya nongkrong semasa lajang.tidak lupa bersama suster juga.karena ia akan kerepotan jika sendirian.bisa-bisa Ayana migrain menjaga dua bayi sekaligus tanpa ada yang membantu." Udah lama banget lo gak nongol,Ay?." ucap Vita dan Ery. mereka adalah teman Ayana dan owner dari kafe Nongkies tersebut.


"Sibuk banget Gue,Vit.apa lagi anak-anak ini belum bisa di tinggal mereka kan masih asi.terus kan kata si Mamah kalau belum empat puluh hari di larang keluar rumah." ujar Ayana sembari menarik napasnya sepenuh dada." Sampe butek gue.mana laki gue kan belum bisa jalan dengan normal masih membutuhkan beberapa rangkaian terapi lagi.tapi gue bersukur sih semua badai sudah berlalu akhirnya gue bisa napas dengan lega." lanjutnya seraya mengaduk kopi.


"Iya pandai-pandai bersukur aja lo.rumah tangga lo lagi di uji itu,kan katanya menuju tahun ke lima itu suka di uji,kalau lo bisa ngelewatin itu,insya Allah bakal langgeng sampe maut." ujar Vita.


"Amin" sahut Ayana dan Ery.


"Kan bisa pompa,Ay?" ujar Ery.


"Bisa sih,tapi enakan langsung rasanya tuh kaya plong gitu.dan enak aja gitu bisa manjadi momen bonding dengan anak-anak juga. " sahut Ayana.memang benar,menyusui secara langsung lebih banyak manfaatnya dan suplai produksi asi juga akan lebih banyak penelitian mengatakan menyusui secara langsung lebih bagus untuk kesehatan bayi dalam hal ini dampaknya untuk meningkatkan berat badan.


"Enakan mana?menyusui bapaknya atau anaknya?" pertanyaan unfaedah datang dari mulut Vita.


"Kalau boleh jujur sih enakan nyusui bapaknya dong.sensainya geli-geli nagih gitu lah." jawab Ayana jujur sejujur-jujurnya membuat kedua temannya itu terbahak-bahak.


Lama mereka tak bisa berhenti tertawa karena bahasan unfaedah itu.hingga akhirnya kembali serius." Gue lihat bokap nyokap gue juga gitu.mereka banyak banget ujiannya bahkan dari gue lahir katanya.sampe gue udah ngerti kaya sekarang ini.tapi mereka selalu sabar untuk hadapin semua masalahnya.meski terkadang mereka ingin menyerah pada pernikahan,tapi selalu berpikir ulang namanya hidup akan ada saja ujian.kalau lurus aja kan gak mungkin.pasti ada aja masalah entah apa pun itu.asal kita tahu bagaimana menyikapinya."


"Iya juga ya,tante Silvi dan Om Agung memang paling bisa di jadikan contoh untuk kita-kita ini.tapi terkadang gue gak setegar dan sesabar tante Silvi,Vit.gue ini emosian dan kadang labil juga sih,tapi sering gak sadar." ucap Ayana.


"Lo bisa,asalkan belajar aja dari sekarang. namanya hidup dan kedewasaan kan butuh proses.ujian dan waktu adalah proses untuk kita menuju dewasa yang sesungguhnya." ujar Ery.


"Bener itu,pokonya apa pun masalah kedepannya lo harus bisa menyikapinya. jangan apa-apa langsung ambil keputusan aja ya.lo udah hebat banget itu.sabar dan tegar saat di timpa masalah yang gak kecil menurut gue.suami hampir mati di saat lo lagi mengandung.pasti berat banget itu. tapi lo masih bertahan dan sabar hingga buahnya manis kaya sekarang ini.sumpah ya,gue bangga banget sama lo." Vita mengacungkan dua jempol pada Ayana dengan serius.betapa bangganya ia pada Ayana yang kuat dan tegar juga sabar menurutnya.karena jika itu ada di posisinya Vita belum tentu bisa sekuat Ayana.


Ayana hanya tersenyum mendengarkan." Thank's Vit,gue jadi pengen nangis." ujar Ayana terharu mendapat pujian dari sahabatnya itu.


"Udah jangan lebay ya.dan jangan labil lagi deh kasihan laki lo nanti gue ambil kalau lo sia siain." ucap Vita.


"Kurang ajar.gue gak jadi terharu deh kalau gitu." sahut Ayana.kedua sahabatnya itu langsung terbahak.mereka mulai mengobrol ngalor ngidul membahas segala macam kehidupan hingga lupa waktu.


"Eh,ngomong-ngomong lo udah seger banget ya Ay?kaya bukan abis lahiran loh biasanya kan kalau sesar itu gak seaktif kaya lo gitu.waktu kaka gue aja dua bulan abis lahiran masih kaya orang sakit katanya sering ngilu lah,pegel lah dan semacamnya.apa lagi bekas jahitan itu sering sakit kata dia." ujar Ery.sedikit heran pada Ayana yang terlihat begitu segar dan bugar.padahal baru saja melahirkan.


Ayana tertawa menganggukkan kepalanya." Jaman sekarang ini semuanya sudah serba canggih dan moderen.kan bisa pake obat yang paling bagus dong. gue pulang dari rumah sakit aja udah bisa lari kok.dan gak ngerasa gimana-gimana padahal kata orang sih iya kalau lahiran caesar itu penyembuhannya lama.lah gue mah enggak dong.dan tergantung reaksi tubuh-tubuh masing-masing juga sih.tapi gue juga kadang pegel punggung kalau kelamaan berdiri."


"Iya juga ya." sahut Ery.


"Nah iya kan.gue rencana sih mau nambah lagi kalau si kembar udah gedean." ujar Ayana.membuat kedua sahabatnya itu melongo.


"Lo doyan amat beranak,udah tiga loh emang gak cape ngurusnya?." tanya Vita


"Nggak dong.kan ada suster Vit.gue ini anak tunggal dan gak enak banget gak punya sodara.punya kaka juga gak pernah di rumah sama aja bohong.jadi gue pengennya punya banyak anak,biar rumah gue rame." jawab Ayana,tentu saja semenjak menikah dengan Gio impiannya berubah menjadi ingin memiliki banyak anak padahal dulu Ayana inginnya punya satu atau dua anak saja cukup.


"Kalau gue juga pasti gitu sih,secara kan laki lo hot banget gitu.benihnya juga gak maen-maen berkualitas semua.mending banyakin anak.sayang aja kalau terbuang sia-sia mah.dan kalau boleh mah gue minta benihnya ya,biar anak gue juga cakep." ceteluk Ery membuat kedua sahabatnya itu mendengus.


Vita dan Ayana berdecak menggelengkan kepalanya." Otak lo emang udah rusak sih."


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Sudah hampir gelap Gio baru sampai di rumah.tadi ada klien ayah mertuanya dari Jepang,dan Frans meminta Gio dan Surya yang menemani tamunya itu.karena Frans mendadak ke rumah sakit.katanya kolesterolnya kambuh tiba-tiba,semua itu karena ulah Ayana yang memaksanya makan seafood kemarin malam.


"Ayah ntang." teriak Mia dari pangkuan suster Risma.anak kecil itu langsung berlari menghambur ke pelukan ayahnya.


"Si pinter ayah cantik amat sih,siapa yang belikan bando kelinci ini,bunda ya?" tanya Gio.ia menciumi pipi anaknya yang hari ini terlihat lebih lucu menurut Gio.Jemia mengangguk dengan senyum yang sangat mirip dengan senyumnya Gio.ah mereka kan memang mirip seperti pinang yang tidak di belah.


"Bunda mau jualan aksesoris kayanya dek. masa anaknya di borongin bando mulu ya. kemaren bunga matahari.kemarennya lagi gambar kucing.hari ini kelinci


besoknya gambar hello Kitty.besoknya lagi dedaunan.lama-lama kepala kamu jadi kebon nih." ujar Gio sambil terkekeh.begitu juga suster Risma yang ikut tertawa.

__ADS_1


"Kata non Aya mah mas.Mia harus terlihat seanggun mungkin.gaun dan bikini udah numpuk tuh non Aya beliin.nanti ke Bali katanya harus di pake semuanya.tadi sore aja berenang pake bikini." ucap Suter Risma yang membuat Gio tercengang seketika.sampai segitunya sekali ternyata Ayana itu,karena tidak ingin anaknya di sangka anak lelaki.


"Bikininya seksi gak sus?." tanya Gio.


"Ya seksi lah mas.namanya juga bikini kalau yang sopan mah gamis atuh." jawab si Suter dan langsung terdiam menyadari ucapannya." Eh maaf mas,maksud saya_"


"Maksud saya seksinya itu kaya mana sus?terlalu terbuka apa masih wajar.pokonya Mia gak boleh pake yang terlalu terbuka dia ini perempuan saya gak suka kalau terlalu terbuka ga bagus nanti sampe gede kebiasaan." jelas Gio sembari mengusap rambut Mia yang super tipis itu.dan putrinya itu mencium pipinya yang sudah di tumbuhi bulu halus membuatnya merinding,sepertinya Mia geli.


"Iya mas,maaf." jawab suster Risma malu.


"Iya sus.nanti tolong di perhatikan aja ya kalau mau berpergian.dan ingatin istri saya juga." ucap Gio lalu melangkah dari sana ingin menemui istrinya.seharian ini ia mendadak rindu berat.Gio membuka pintu kamarnya dan terlihat sang istri yang sedang memoles bedak ke wajahnya. Ayana tersenyum padanya dan langsung berdiri menghampiri Gio.dan tanpa bicara ia mengambil tangan Gio kemudiam mencium punggung tangan itu.


"Capek ya,Sayang?."tanya Ayana.dalam waktu belakangan ini Ayana memang selalu membiasakan kebiasaan itu.ia mulai belajar bagaimana caranya menjadi istri yang baik dan patuh pada suami.ia sedikit demi sedikit mulai menerapkan kebiasaan itu.dirinya mencontoh sang ibu dan selalu mendengarkan nasehat Gio.


"Capeknya udah ilang dong.kalau udah lihat istri sama anak mah." jawab Gio lalu mengecup kening istrinya dengan sayang.


"Hmm,iya deh." sahut Ayana lalu mengambil alih Mia.agar suaminya bisa mandi terlebih dulu.


"Sama bunda dulu,biar ayah mandi dulu baunya gak enak banget soalnya." ujar Ayana pada Mia.


Gio mengerutkan dahinya lalu mencium tubuhnya sendiri." Emang aku bau ya?perasaan nggak deh."


"Gak tau kaya ada bau lain gitu." sahut Ayana lalu keluar kamar begitu saja membawa Mia.


Gio yang terheran-heran pun segera memeriksa seluruh tubuhnya,memastikan apakah ia memang bau atau apa.perasaan wangi-wangi saja,bahkan baunya biasa seperti ini." Bau apa sih?masa iya ketek gue bau." monolog Gio.lalu ia cium ketiaknya itu dan tetap wangi dong masa bau.


"Ish.Aya kenapa sih kok aneh?." tak ingin banyak berpikir macam-macam.Gio akhirnya memutuskan untuk mandi terlebih dulu.sekitar lima belas menit Ayana kembali masuk ke dalam.begitu juga Gio lelaki itu telah rapi dan tampan menggenakan pakaian santai dengan kaus polos dan celana bahan pendek sebatas lutut.


"Yang,tadi aku emang bau apa?" tanya Gio penasaran.


"Kaya bau parfum cewek gitu sih sekilas. emang kamu abis ketemu siapa?" Ayana balik bertanya.Gio menegang ia teringat bahwa tadi sempat berdekatan dengan Sally.karena perempuan itu tak sengaja menabrak dirinya saat akan keluar dari area kampus katanya sih tidak sengaja namun Gio pun tak begitu percaya.


"Oh tadi pas anteri beli kopi ketabrak mbak-mbak gitu deh.dia hampir jatuh ya udah aku reflek aja pegangin dia biar gak jatuh." jawab Gio dan menejalaskan kronologisnya meski ia sedikit mengarang cerita.


"Oh." balas Ayana datar.dia percaya pada Gio.namun entah mengapa ada perasaan yang mengganjal di hatinya.


"Kok,oh doang,marah?" tangan Gio memeluk istrinya yang sedang berdiri sembari menggulung rambutnya ke atas.


"Nggak.ngapain marah coba?suami aku kan bisa di percaya,gak mungkin macam-macam." jawab Ayana.Gio tak menjawab hanya tersenyum lalu mengecup bibir istrinya sekilas.setelah itu ia mengambil ponselnya yang bergetar sepertinya itu chat dari kakanya.


"Bentar,ka Indri wa nih." ucap Gio lalu merebahkan dirinya sembari membalas pesan dari Indri.mereka membahas Bian yang sudah kembali itu.namun Gio belum menemuinya hingga kini karena terlalu malas dan sibuk.Ayana ikut naik ke ranjang dan tiduran juga di sebalah Gio,seraya tangan itu menyelusup ke dalam kaus tipis Gio.membuat ukiran ngasal di perut suaminya karena ia merasa gabut.


"Gi.." panggil Ayana jarinya terus bermain-main di dada Gio yang keras itu.


"Hm,apa?" jawab Gio yang fokus pada ponselnya.


"Cari angin yuk ke bakso Haryanto" bisik Ayana karena saat ini wajahnya terbenam di ketek Gio.


Gio yang sedang fokus pada ponsel pun menoleh seketika." Cari anginnya ke bakso haryanto?mau cari angin apa cari bakso?."


"Cari angin dan bakso." jawab Ayana.Gio bangun dari tidurannya lalu mencubit hidung lancip istrinya.ia berjalan menuju lemari mencari jaket atau apa saja agar bisa melapisi piyama yang Aya kenakan.


"Ayo bangun.pake dulu jaketnya biar gak kedinginan." ajak Gio sembari memegang jaketnya akan memakaikannya pada Ayana.perempuan itu menurut saat di pasangkan jaket oleh Gio.kduanya turun dari kamar menemui suster anak-anaknya untuk pamit pada mereka kemudian di ruang tamu terlihat Frans dan Monica sedang tertawa menikmati tontonan acara komedi di televisi.


"Mah,Pah.kami keluar dulu ya bentar pengen cari angin." pamit Gio pada kedua mertuanya.


Frans dan Monica menoleh pada mereka." Ya udah pacaran aja sana.puasin lah kalian kan jarang ada waktu bersama.lamaan dikit ga apa.gak usah khawatir,anak-anak biar Mamah yang jaga."


"Bener Mah?kalau gitu kami jalan dulu ya titip anak-anak." ujar Ayana dan Gio dan di angguki oleh Frans juga Monica.


"Kasian juga mereka ya,pengen mesra-mesraan susah ada waktu,ribet sama anak melulu." ucap Frans sembari menyeruput minumannya.


"Siapa suruh beranak terus.Mamah kan udah bilang jeda,sebentar mah biar ada waktu untuk mereka berdua.kan biar gak kerepotan banget kaya sekarang ini." balas Monica.


"Baru juga dua Mah.belum lima atau enam." ujar Frans .


"Kan sekali brojol dua Pah.nanti kalau hamil lagi kembar lagi,lumayan sih."sahut Monica membuat Frans terkekeh.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Saat ini Ayana dan Gio berada di jalan menuju kedai bakso mang Haryanto.motor besar itu melaju dengan kecepatan sedang Ayana terlihat sangat menikmati perjalanan ini.apa lagi angin malam begitu dingin hingga kulit putihnya kemerahan.Ayana merentangkan tangannya ke atas sembari memejamkan mata menikmati momen kebersamaan ini bersama Gio.suatu hari nanti mereka akan merindukan momen-momen seperti ini.dan akan menjadi kenangan indah untuk keduanya. saat di lampu merah,Gio memberhentikan motornya.tangan kanan Gio mengelus tangan Ayana yang melingkar di perutnya.


"Gi,lihat ke samping sebelah kiri." pinta Ayana.Gio menurut dan melirik ke samping ia melihat seorang perempuan yang sedang menatapinya di atas motor perempuan itu terlihat begitu intens menatap keduanya.


"Ada orang yang lihatin kita,kamu kenal?" tanya Gio,karena ia tidak tahu siapa perempuan itu.


"Nggak" sahut Ayana.dan lampu merah pun berubah menjadi ijo.Gio menarik tangan sang istri agar lebih merapat kepadanya.lalu melajukan motor besar itu kembali membelah jalanan.


Perempuan itu menjatuhkan air matanya melihat kepergian mereka.Amanda yang di bonceng oleh Hanif_sepupunya pun menangis tergugu di punggung pria itu saat ini hatinya ibarat di iris-iris sebilah pedang yang tajam,begitu perih dan sakit.


"Aku mencintaimu,Gi.tak bisakah kamu melihat dan merasakannya?." raung Amanda suara tangisnya itu berbaur dengan kebisingan suara kendaraan yang saling bersahutan.

__ADS_1


__ADS_2