
Cemburu.
"Hai, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tawar Gilang.
Gilang satu ruangan dengan Bee, Rara dan Willy. Sebagai manager keuangan tentu dia harus mengayomi para bawahannya.
"Boleh, Tuan," sahut Rara menyenggol lengan Bee.
Bee hanya mengangguk. Sebenarnya dia sudah tak nyaman melihat tatapan Gilang padanya. Bagaimana kalau suami tengil nya itu nanti melihat, bisa ribet lagi urusan nya. Suaminya itu kalau sudah merajuk bisa seperti anak kecil. Perkara pasang dasi saja sampai di bawa-bawa ke kantor.
"Ayo," ajak Willy.
Gilang dari tadi curi-curi pandang pada Bee. Melihat cara Bee membela Bastian tadi membuat Gilang tertarik dengan sosok tegas ini. Bee termasuk wanita langka yang jarang ditemui.
Mereka berjalan menuju kantin. Rara dan Bee berbincang-bincang dan berjalan dibelakang Willy dan Gilang. Kedua wanita itu entah membahas apa.
Langkah Bee terhenti ketika melihat Bastian bersama asisten nya sedang makan siang disana. Kantin perusahaan sangat mewah dengan fasilitas bak restaurant. Makanan yang disediakan pun, khas makanan mahal yang tentu nya menjadi salah satu menu favorite disini.
"Hai Nona Bee," sapa Bastian. "Mau kah makan siang dengan saya?" tawarnya tersenyum menggoda pada wanita tersebut.
Bee memutar bola matanya, andai saja mereka berada dirumah sudah pasti dia akan mengajak suaminya ini baku hantam.
"Maaf Tuan Muda, Nona Bee akan makan siang dengan saya," ucap Gilang
"Makan siang dengan Nona Bee?" ulang Bastian.
"Iya Tuan," jawab Gilang.
"Oh begitu, ya silakan," ucap Bastian ketus kembali melanjutkan makannya. Hatinya panas melihat istrinya didekati oleh pria lain.
Sementara Bee santai-santai saja sambil duduk bergabung di meja Bastian. Dia biarkan saja kedua lelaki itu berdebat karena dirinya.
"Kami boleh gabung 'kan?" ucap Bee tersenyum kearah suaminya. Entah kenapa Bee takut kalau Bastian salah paham.
"Tentu saja Nona Bee," sahut Bastian senang.
Gilang ikut duduk disamping Bee. Hal tersebut sukses membuat Bastian merenggut kesal. Seperti nya Bastian harus menyiapkan pengawalan ketat pada istrinya supaya tidak ada lagi yang menganggu Bee.
Wajah Bastian tampak ditekuk kesal. Dia sangat kesal. Andai saja tidak menjaga perasaan Bee sudah pasti dia akan mengumumkan pada semua karyawan di kantornya kalau Bee adalah istri tercinta nya.
Sementara Bee menahan senyum. Dia suka sekali melihat wajah suaminya yang tampak kesal seperti itu. Menurut Bee wajah suaminya lucu.
Setelah makan siang mereka kembali keruangan masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan.
.
.
__ADS_1
Bee turun dari mobil Rara, wanita itu tampak lelah karena banyaknya pekerjaan yang menguras otak dan tenaga tersebut.
"Thanks, Ra," ucap Bee menutup pintu mobil.
"Yup. Besok aku jemput lagi seperti biasa," balas Rara melambaikan tangan nya.
Bee mengangguk. Wanita itu tersenyum lebar karena Rara sudah tidak lagi merenggek masalah patah hati nya. Apalagi sekarang Rara sudah kembali di kediaman orang tua nya setelah di campak kan karena tak bisa memberikan keturunan pada sang suami.
Bee menghela nafas panjang, seperti nya dia setuju pada Bastian untuk mencari asisten rumah tangga. Kesibukan Bee dalam bekerja membuatnya tak sempat mengurus rumah. Untung saja Bastian yang tampak dan baik hati itu selalu membantu pekerjaan sang istri, sehingga Bee bisa santai-santai.
"Capek sekali," keluh Bee.
Bee melempar tubuhnya di sofa. Gara-gara Gilang yang memberinya tugas segunung membuat dia harus lembur setengah mati.
"Seperti nya aku perlu asisten rumah tangga," ucap Bee.
Tidak lama kemudian terdengar deru mobil yang terparkir di garasi mobil.
Bee duduk untuk menyambut kedatangan suami tenggil nya. Dia akui jika Bastian memiliki semangat yang luar biasa untuk bekerja. Apalagi Bastian sering direndahkan karena masih muda.
"Selamat datang, Bas," sapa Bee yang sudah menyetor wajah senyumnya.
"Iya," cetus Bastian melewati istrinya dan duduk disofa.
Bee menghela nafas panjang, pasti Bastian merajuk lagi gara-gara kejadian di kantor tadi.
"Tahu ah aku lagi merajuk," ucap lelaki itu.
"Merajuk kenapa lagi, Bas?" tanya Bee menggeleng sambil tersenyum gemes.
"Ayang, berani genit-genit pria lain?" Bastian menatap istrinya menyelidik.
"Siapa?" kening Bee berkerut heran.
"Cih, Tuan Gilang," sahut Bastian.
"Kau cemburu, Bas?" tebak Bee menahan senyum nya.
"Ck, siapa yang cemburu?" kilah Bastian memalingkan wajahnya.
"Syukur deh kalau tidak cemburu," ucap Bee berdiri dari duduknya.
"Ayang, kau mau kemana?" tanya Bastian sambil merenggek.
"Masak," jawab Bee. "Bas, jangan lupa bersihkan toilet. Pakaian kotor masukkan mesin cuci," titah Bee setengah berteriak dari jauh.
Bastian merenggut kesal. Harusnya dia pulang kerja disambut manis dengan pelukkan hangat. Nah ini dia malah di minta membersihkan toilet.
__ADS_1
"Ayang," renggek lelaki itu.
Niat hati Bastian ingin merajuk supaya dirinya di rayu dan dibujuk oleh istrinya. Lah ini, malah terbalik harus dia yang merayu sang istri.
"Ayang, aku sedang merajuk," ucap Bastian menyusul istrinya.
"Lalu?" Bee sibuk mengeluarkan beberapa bahan mentah didalam kulkas yang akan dia olah jadi makanan cepat saji.
"Apa kau tidak ingin merayu dan membujuk ku?" ucap Bastian sambil melipat kedua tangannya didada.
"Buat apa?" kening Bee berkerut kesal.
"Ayang......"
.
.
.
"Apa kau sudah bertemu Bee?" tanya seorang pria pada lelaki yang berdiri disampingnya.
"Iya, Tuan. Dia sangat cantik dan juga menarik," sahut pria tersebut.
Bara menatap tajam lelaki yang memuji kecantikan Bee tersebut.
"Ku peringatkan padamu, aku memerintah mu mengawasi Bee bukan untuk jatuh cinta padanya. Jadi jangan berani-berani memuji nya!" hardik Bara.
"M-maaf Tuan," ucap lelaki itu menunduk ketakutan saat melihat tatapan tajam Bara padanya.
"Kerjakan tugas mu dengan benar. Awasi Bastian dan Bee. Pastikan mereka tidak bisa bersatu," titah Bara.
"Baik Tuan," sahut lelaki itu.
"Kau boleh keluar," usir nya seraya mengibaskan tangannya.
Bara menghembuskan nafasnya kasar, dia semakin panas ketika mendapat kabar bahwa Bee membela Bastian. Padahal dia sengaja menyogok para direksi agar menjatuhkan mental Bastian. Tetapi kenapa malah Bee membela lelaki tersebut.
"Awas saja kau, Bas. Aku akan rebut Bee dan perusahaan dari tanganmu. Kau hanya anak buangan yang tidak pantas menjadi pemimpin Schweinsteiger Group," ucap Bara dengan emosi menggebu-gebu.
Bara mengepalkan tangannya kuat. Hingga kini dia belum sempat bertemu dengan Bee, selain waktu yang sangat sibuk. Bee juga wanita berbeda dan sulit sekali didekati. Wanita itu terlalu dingin padanya.
"Kau akan kehilangan semua nya Bas. Karena akulah yang pantas memiliki semuanya," ucap Bara lagi tersenyum licik.
Sejak Bastian lahir lelaki itu sudah menolak kehadiran adiknya. Baginya Bastian tidak lebih dari seorang pembawa sial.
Bersambung....
__ADS_1
Guysss jangan lompat-lompat bacanya yaa.
Maaf baru bisa up 1 bab. Bulan besok akan author usahakan update banyak-banyak.