Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
Masih perawan


__ADS_3

Bastian menyeka air mata Bee. Terkadang jarak membuat orang menyadari sebuah perasaan yang dia anggap remeh. Begitu juga dengan Bastian dan Bee. Keduanya menikah tanpa cinta. Tetapi siapa sangka perpisahan selama satu Minggu itu membuat keduanya saling merindu dalam syahdu.


"Jangan pergi lagi, Bas," ucap Bee.


Bastian terkekeh, padahal dia mengajak istrinya untuk ikut dengannya tetapi wanita itu menolak dan memilih dirumah saja. Namun, sekarang malah Bee yang merindukan dirinya. Tetapi Bastian bersyukur dengan perpisahan mereka selama satu Minggu akhirnya dia mendapat ungkapan cinta dari sang istri.


"Aku tidak akan pergi, Ayang. Maaf yaa meninggalkan mu sendirian," ucap Bastian terkekeh.


"Iya Bas. Aku tidak bisa jauh dari mu," ungkap Bee malu-malu. Dia seperti anak remaja yang baru merasakan jatuh.


Bastian tertawa lebar, hati nya berbunga-bunga ketika mendengar ucapan Bee. Rasanya Bastian belum percaya jika Bee sudah mencintai nya.


Bocah tampan tersebut mengedipkan matanya jahil.


"Cie yang sudah jatuh cinta pada suami tenggil nya," ledek Bastian terkekeh.


"Bas." Bee mendesah kesal tetapi wajahnya merah merona.


Bastian tersenyum, lalu dia mengambil kedua tangan Bee dan menggenggam nya. Tak lupa lelaki itu mengecup punggung tangan Bee. Wanita ini adalah alasan kenapa dia berjuang hingga kini. Bastian berjanji dalam hidupnya tak akan mengecewakan Bee yang sudah mau membantu nya bangkit dari patah hati nya.


"Iya Ayang, kenapa? Mau di cium?" goda Bastian yang suka melihat wajah istrinya malu-malu kucing.


"Dih.." Bee mendelik dan memutar bola matanya malas.


"Sini peluk lagi, suami tenggil mu masih rindu!" seru Bastian.


Bee masuk kembali ke dalam pelukan Bastian. Tubuh Bastian yang tinggi membuat Bee merasa nyaman saat tangan kekar itu mengusap punggung nya.


"Makanya jangan suka marah-marah sama suami mu, Ayang. Kalau jauh jadi rindu 'kan," ledek Bastian lagi.


Bee tak menanggapi, dia hanya tersenyum sambil menelusupkan wajahnya didada bidang Bastian. Usia mereka terpaut sangat jauh, Bastian lebih cocok jadi adiknya dari pada suami Bee. Tetapi karena Bee yang awet muda seperti anak remaja jadi tidak terlihat mencolok.


"Ayang, aku 'kan sudah lulus dan mendapat nilai terbaik. Mana hadiah untukku?" Tagih Bastian.

__ADS_1


Bee langsung menelan salivanya susah payah. Dia juga sebenarnya sudah berjanji pada dirinya sendiri, kalau Bastian pulang dia akan memberi hak lelaki itu.


"Ayang kenapa diam?" tanya Bastian tangannya masih mengusap kepala Bee. Tinggi badan Bee hanya sampai dadanya saja. Tubuh Bee memang tidak terlalu tinggi dan bisa dikatakan pendek untuk ukuran wanita Indonesia.


"Bas...."


"Kalau Ayang belum siap jangan dipaksa," potong Bastian dengan wajah kecewanya. Tetapi dia tidak mau memaksa istrinya. Seperti yang Bee katakan dia ingin melakukan nya dengan cinta bukan sebatas nafsu saja.


Bee menghela nafas panjang lalu melepaskan pelukan suaminya. Dia menatap wajah Bastian yang kecewa, perasaan bersalah kian menelusup masuk kedalam hatinya.


"Aku belum pernah jadi_"


"Ayang masih perawan?" potong Bastian setengah tak percaya.


Bee adalah wanita dewasa yang sudah biasa menjalani hubungan dengan banyak pria. Tentu saja jika hubungan dewasa seperti ini, bukankah sudah biasa baginya?


"Bas...." Bee mengerutkan bibir bawahnya gugup.


"Jawab iya saja, Ayang," ucap Bastian bersorak gembira. Tentu saja dia bangga jika istrinya masih perawan, bukankah hal tersebut suatu keuntungan bagi pria yang bisa menikahi wanita perawan.


"Yes." Bastian bersorak gembira. "Ayo, Ayang kita malam pertama," ajak Bastian tak sabar.


Bee mendelik, dia mendorong kening suaminya dengan gemes.


"Aww, Ayang. Kejam," rintih Bastian mengusap keningnya yang di sentil dan di dorong oleh sang istri.


"Jangan ngadi-ngadi Bas, ini di kantor," kilah Bee.


Sial, gara-gara suaminya itu tubuh Bee jadi panas dingin. Dia wanita yang belum pernah di sentuh oleh pria. Bahkan saat menjalin hubungan dengan Ragil saja Bee selalu menjaga jarak dan pria itu pun menjaga nya dengan baik serta menghormati Bee sebagai wanita. Ketika Bee tahu pengkhianatan Ragil, dia benar-benar tak menyangka jika lelaki yang menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun itu ternyata tega mengkhianati cinta yang dia pupuk dengan susah payah.


"Kan ada kamar rahasia Ayang," renggek Bastian seperti anak kecil.


"Dirumah saja," sahut Bee. Jika saja Bastian bukan suaminya sudah pasti dia akan mendorong lelaki itu.

__ADS_1


"Yes. Akhirnya malam pertama juga," ucap Bastian menggoda, bibirnya melengkung membentuk senyuman.


.


.


"Kakak kenapa?" tanya Alsya.


"Kakak ingin bertemu Bee. Kakak ingin meminta maaf padanya," sahut Ragil.


"Percuma Kak. Sekarang Kak Bee sudah bahagia sama, Bastian. Alsya lihat kok mereka bermedia waktu di mall kemarin," jelas Alsya pada kakaknya.


Ragil terdiam seraya menarik dalam sedalam mungkin. Dia tak percaya jika wanita yang dulu dia cintai itu kini menjalin hubungan dengan wanita yang jelas-jelas jauh lebih tua darinya.


"Kakak yakin jika Bee masih mencintai Kakak," ucap Ragil.


Ya dulu Bee sangat mencintai nya, jadi Ragil yakin jika wanita tersebut masih mencintai nya. Dia dan Bee pernah berangan-angan hidup bersama selamanya. Namun, Ragil harus di kalahkan oleh keegoisan kedua orang tua nya. Sekarang, dia benar-benar merasakan penyesalan yang teramat sangat. Seandainya dia lebih berani sedikit saja membuktikan cinta yang dia miliki pada kedua orang tua nya.


Alsya menggeleng saja, "Kak, jangan terlalu percaya diri. Kakak sendiri yang sudah meninggalkan Kak Bee, Kakak tahu sendiri seperti apa Kak Bee kalau sudah disakiti?" ujar Alsya.


Mulut Ragil bungkam ketika mendengar penjelasan adiknya. Bee pemaaf yang baik tetapi pendendam terbaik. Sekali saja di sakiti maka tak ada kata maaf untuk kedua kalinya.


"Tetapi Kakak masih mencintai Bee. Kakak tidak bisa melupakan dia," ucap Ragil.


Ragil hanya hidup bersama adiknya Alsya, sementara kedua orang tua mereka menetap di luar negeri. Awalnya mereka bertiga dengan Sisil, tetapi sejak wanita itu berkhianat Ragil memilih tinggal bersama adiknya.


"Aku tahu itu Kak. Tapi Kakak harus sadar kalau seseorang yang sudah pergi takkan mungkin kembali lagi, Kak. Sebaiknya Kakak lupakan saja Kak Bee. Aku yakin kok suatu saat nanti Kakak akan menemukan seseorang untuk mengobati luka Kakak."


Alsya menatap kakaknya kasihan. Dia tahu betapa Ragil mencintai Bee. Tetapi karena ancaman orang tua mereka membuat Ragil tak bisa menolak keinginan kedua orang tuanya. Dia takut Bee disakiti oleh orang-orang tersebut.


"Tapi sulit sekali melupakan nya," keluh Ragil.


"Bukan sulit tetapi Kakak yang belum berusaha. Pelan-pelan pasti bisa, Kak. Ini hanya masalah wanita saja," sahut Alsya menasihati kakaknya ini.

__ADS_1


Ragil mengangguk walau dia belum yakin apakah bisa menghapus wanita itu dalam ingatan nya.


Bersambung......


__ADS_2