
Melihat anak dan menantunya berinteraksi berbeda dari biasanya,Mira sepertinya sudah mencium ada aroma kurang sedap dari hubungan anak dan menantunya itu wanita paruh baya itu diam-diam memperhatikan keduanya sejak kemarin malam.terhitung sudah dua hari ia menginap di rumah anaknya.dan selama itu pula hubungan Gio dan Ayana sepertinya sedang kurang sehat.Mira terus saja memperhatikan keduanya.seperti sekarang ini mereka tengah berkumpul di meja makan hendak makan malam.Mira melihat sejak tadi Ayana sama sekali tidak terlihat menegur Gio mau pun perhatian kepada lelaki itu.di tambah lagi Gio juga tidak terlihat ingin mengajak istrinya itu bicara.
"Jangan makan banyak-banyak nanti gatel badan kamu," cegah Gio saat Ayana mengambil beberapa peyek udang dan menaruh ke piringnya.
Lantas perempuan berambut panjang itu menoleh dengan pandangan tajam." Nanti minum obat." sahutnya ketus ia lupa menjaga sikap di depan keluarga suaminya.
"Jangan suka ngeyel,di bilangin" Gio mengambil kembali peyek udang yang di bawa ibunya itu dari rumah.
"Ck.ya udah" Ayana mengalah lebih memilih makan sayur daun pepaya saja dan ayam bakar madu.
"Sesekali mah gapapa kali Gi,gak sering ini." ujar Indri yang sejak tadi memilih diam dan memperhatikan keduanya.ia pun sama seperti Mira yang sudah menduga bahwa adanya perang dingin di antara adik dan iparnya itu.
"Tetap aja.kalau dia gatal hebohnya minta ampun,pengen di garuk kenceng tapi gak boleh sampe merah-merah apa lagi kalau berbekas.di pelanin bilangnya gak kerasa apa gak bikin orang senewen coba?" sahut Gio yang seketika membuat Indri diam dan menahan tawa.
Ayana melirik Gio dengan tajam baginya Gio itu suka sekali melebih-lebihkan.baru saja perempuan itu hendak protes namun terhenti ketika sebuah suapan mendarat di bibirnya." A,dari tadi lama banget keburu Raven ngamuk nanti."
Ayana menerima suapan itu dari tangan Gio langsung dan rasanya luar biasa nikmat.meski hatinya sedang dongkol sekali pun langsung meleleh." Pake bumbu ayamnya dong." pintanya dengan nada berubah menjadi agak sedikit manja membuat Mira dan Indri diam-diam menggelengkan kepala.kemana wajah ketus itu yang sejak tadi memberengut kemarahan Ayana seperti meluap entah kemana,hanya dengan satu suapan nasi dari Gio.
"Dasar pasangan bucin." komentar Indri yang hanya di dengar oleh Mira dan ibunya itu segera menyikut lengannya.
"Jangan begitu." tegur Mira membuat Indri terkekeh.diam diam ia iri akan hubungan Gio dan Ayana yang terkesan manis menurutnya.bagaimana tidak.meski mereka sedang bertengkar pun tetapi keduanya tetap saling perhatian dan peduli satu sama lain.meski kadang-kadang ego masih mendominasi di antara keduanya.
...☘☘☘☘☘☘...
Gio menghampiri ibunya yang sedang mencuci dot bekas cucunya minum susu. wanita paruh baya itu tetap tidak bisa diam walau Ayana sudah melarangnya pun.itu adalah tugas pelayan di rumah Ayana bahkan ia sudah beberapa kali mengingatkan ibu mertuanya agar tidak turun tangan dan jangan melakukan pekerjaan apa pun.baginya Mira adalah ratu di rumahnya tidak boleh mengerjakan apa pun sama seperti Monica jika ibunya itu datang kesana.namun.namanya juga orang tua jaman dulu yang selalu cekatan dan tidak betahan jika melihat ada barang kotor sedikit saja.mereka akan membersihkannya dengan segera tidak membiarkan cucian mau pun jemuran itu di biarkannya terlalu lama.kalau yang baca di sini sih mungkin saja begitu.
"Ibu,kangen." ujar Gio sembari memeluk ibunya dari belakang.membuat Mira terkekeh sembari mengelap tangan usai mencuci dot.
"Sama,ibu juga kangen anak bujang ibu yang sekarang udah gak bujang lagi,tapi udah jadi bapak bapak." Gio mendengus ketika mendengar ucapan ibunya." Sini biar ibu peluk yuk sambil di pijit kepalanya." ajak Mira lalu membawa anaknya itu menuju sofa di ruang tivi.
Gio tiduran di sofa dengan berbantalkan paha ibunya.demi apa pun ia kangen masa masa di mana ia masih remaja yang bebas memeluk ibunya kapan pun.bahkan jika Gio sedang libur kerja maka ia akan diam diam menyelinap ke kamar ibunya lalu tidur di pelukan ibunya sepanjang malam padahal saat itu ia sudah bangkotan.
"Iya di gituin bu,enak banget,pusingnya jadi berkurang." ujar Gio saat Mira mulai memijat kepala dan dahinya.lelaki itu memejamkan mata merasai betapa nikmatnya pijatan ibunya itu,ia tersenyum akhirnya bisa merasai momen ini lagi setelah sekian lama.
"Ibu boleh tanya?" Mira bersuara sembari terus memijat pelipis Gio dengan pelan.Gio bergumam tanpa membuka matanya yang sedang kepalang enak itu." Apa kalian lagi ada masalah,atau berantem gitu?" pertanyaan Mira sontak membuat Gio langsung membuka matanya.ia tidak segera menjawab melainkan tetap diam menunggu lanjutan ibunya." Kalau iya,ya jangan kekanakan dong,Nak.kasihan istri udah mah bebannya berat di tambah punya suami kurang pengertian."
Mendengar itu Gio langsung berdecak ia yakin nih Ayana pasti sudah mengadu yang tidak tidak kepada ibunya." Aya bilang apa sama ibu?" tanyanya bukannya menjawab.
Mira menggeleng tangannya terus memijat dahi anaknya." Nggak lah. mana ada Aya ngadu ke ibu.dia mah gak pernah ngadu kamu lupa kalau menantu ibu itu super baik?"
Cih,Gio seketika bangun dari posisi nyamannya." Anak ibu itu aku apa dia sih?kok ibu mah kaya ngebelain dia mulu deh padahal ibu belum tau masalahnya apa." ketus Gio tidak terima karena sepertinya Mira lebih memihak Ayana.
"Emang apa masalahnya?"
"Ibu tanya aja sama menantu kesayangan ibu itu.coba tanya apa aja kesalahan dia jangan mentang mentang karana aku lebih muda dari dia lantas aku yang buat salah terus.asal ibu tau yang sering buat salah itu dia bukan aku." jelas Gio membela diri.
Mira terkekeh lalu menggeplak paha Gio yang hanya di balut oleh boxer abu abu yang super pendek." Pake celana sana yang bener,malah pamer aurat gak malu sama pengasuh anakmu itu semuanya masih muda.gimana kalau mereka tertarik sama kamu?apa lagi kalau ngelihat kamu kaya gini?."
Gio mendengus sembari menggosok pahanya." Ngadi-ngadi bu.ya nggak lah biarin aja aku gerah ini." sahut Gio dengan cuek.
"Ya udah sana susul istri kamu mungkin nungguin dari tadi.dan ibu ingatkan sekali lagi ya Gi,apa pun yang terjadi tetap perbaiki dengan segera hubungan kalian.di bicarakan cepet,karena komunikasi itu penting.jangan malah kaya gini diem dieman sinis-sinisan kaya tadi apaan itu?udah kaya anak remaja aja.udah pada dewasa juga."
"Aku kan emang masih remaja bu.yang dewasa kan Ayana bukan aku_awshh apaan sih Ka?." sahut Gio dan mengaduh karena Indri menjewer telinganya tanpa perasaan.
"Udah sana susul Ayana,ngapain kamu masih melek aja jam segini,Juned?" ujar Indri.
Gio mendelik dengan wajah kesal." Dih anda sendiri ngapain jam segini belum tidur.Markonah?"
"Aing lagi ngambil air,Sakmad." Sahut Indri dengan tangan yang sudah siap hendak menjewer lagi.namun sebelum itu Gio buru buru bangun dan berlari menuju kamarnya.
Gio tertegun di lihatnya sang istri yang tidur sambil mangap,sepertinya istrinya Gio begitu lelah hari ini.ia naikan selimbutnya hingga leher dan tak lup membenarkan letak kancing piyama Ayana yang sedikit terbuka,kebiasaan wanita itu yang suka lupa mengancingkan kembali usai menyusui anaknya.
"Maaf,Sayang" bisik Gio sembari mengecup dahi Ayana dengan lembut perempuan itu melenguh dan langsung membuka matanya.
"Kenapa?" tanyanya dengan suara serak.
"Gapapa,cuma kangen aja sama kamu jangan marah-marah lagi dong,yang.aku capek." ujar Gio dengan suara pelan sembari mengeratkan pelukannya pada pinggang tipis bak talenan itu.
"Yang marah-marah kan kamu.lagian jadi orang kenapa suka banget bikin orang naik darah?jangan kaya gitu mulu napa Gi,nurut aja sih apa kata aku.dengan begitu gak perlu kita diem-dieman kaya gini." jelas Ayana seraya berusaha duduk dan mencepol rambutnya ngasal.
"Kamu yang ngediemin aku loh yang jangan lupa.aku mah biasa-biasa aja deh." bela Gio ia lupa apa kata Mira bahwa ia harus selalu merendahkan egonya,selalu loh ya.
"Kamu nyalahin aku?"
"Nggak dong mana ada?cuma ngingetin aja biar gak kaya gitu lagi"
__ADS_1
"Ck.bilang aja sih.kalau pun iya juga aku udah biasa ini di salah-salahin."
"Ya udah maaf,terus aku harus gimana biar kamu maafin aku,hmm?" akhirnya Gio mengalah ia memang harus mengalah demi kelancaran segalanya.alamat kalau sampai masalah sepele ini berlarut maka ia akan kehilangan jatah malamnya.karena jika begitu Ayana akan memasang palang Gio di larang berkunjung.Gio yang sudah kecanduan akan tempat lembab itu pun mana bisa ia kehilangan jatah itu.karena selain bentuk tanggung jawabnya si itu juga adalah salah satu obat semangatnya dalam mencari sebongkah diamond.
"Besok beliin bakso ikan malingping,tapi yang asli dari malingping gak mau buatan di sini.itu pun kalau kamu mau aku maafin." ujar Ayana membuat Gio melongo.
"Buset,yang.itu kan tempatnya jauh banget ada di ujung kulon,mana bisa aku kesana. mana di sana banyak begal katanya emang di online gak ada?" tolak Gio dengan halus berharap Ayana mengerti akan ketidak sediaannya.
Ayana terdiam sesaat dan pikirannya jauh melayang pada kejadian lalu pada saat ia meminta Gio untuk mencarikan sate biawak.seketika saja ia langsung merinding mengingat masa terburuk di sepanjang hidupnya.dan sekelebet bayangan tubuh kurus Gio yang terbaring di brankar rumah sakit dengan alat medis yang terpasang memenuhi tubuh suaminya itu menari di kepalanya.
Ayana meringsek dan memeluk Gio dengan kuat ia membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu." Nggak jadi.kamu gak boleh pergi terlalu jauh dari aku lupakan permintaan aku tadi.aku takut kehilangan kamu,Gi." ucapnya dan tanpa sadar sambil terisak.
Gio yang terkejut pun hanya bisa mengelus punggung Ayana dengan lembut." Kesurupan setan apa ini tiba-tiba begini?iya sayang.ya udah bobo yuk udah malam besok aku coba cari tau di temen kampus aku,siapa tau ada yang punya kenalan orang sana.yang bisa delivery itu bakso sampe sini."
"Iya,tapi di peluk kaya gini ya,jangan di tinggal ngerokok lagi kaya kemarin malam." pinta Ayana yang seketika berubah melembut entah setan apa yang merasukinya,pemirsah.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Seperti biasa keadaan hubungan suami istri itu sudah kembali membaik.rumah tangga mereka memang sudah seperti roller coaster berputar dan naik turun begitu cepat.namanya menyatukan dua kepala dengan isi yang berbeda memang tidak semudah itu.apa lagi terkadang keduanya masih meninggikan ego.namun bersukurnya salah satunya dari mereka pasti akan mengalah.meski akan begitu terus terulang tidak tahu entah sampai kapan.dan mungkin saja sampai mereka benar-benar saling menyadari bahwa meninggikan dan selalu mengedepankan ego itu tidak lah baik untuk keduanya.
Hari-hari mereka begitu bahagia dan indah dengan hubungan yang semakin hari semakin romantis apa lagi jika mereka habis bertengkar.romantisnya nambah dua kali lipat,keharmonisan pemegang Pt.Inko dan suaminya itu kadang kala membuat orang lain merasa iri.kini hampir setiap hari Gio mengantar Ayana ke kantor.meski perempuan itu tidak meminta hanya saja Gio yang tetap kekeuh.
"Bye sayang" ujar Gio setelah mengecup pipi istrinya yang selalu harum bedak mahal itu.
"Hmm." jawab Ayana lalu meraih tasnya dan membuka pintu mobil.saat hendak menurunkan kakinya tangannya di tarik oleh Gio." Apa?"
"Kasih energi dulu dong Bun.lemes ini kalau ga di transfer energi." pintanya membuat Ayana mendengus." Di sini dua kali dan di sini tiga kali." Ayana mendelik saat Gio menunjuk bibir dan pipinya.
Cup
Cup
Muah
"Udah_Hmmmm..Gi"
"Bibir kamu enak banget sih" ujar Gio dengan senyum mengembang kentara sekali wajah bahagia pria itu.
"Iyalah di rawat,gunanya scrub tiap hari buat apa?ya biar enak dan kenyal." sahut Ayana sebelum menurunkan kakinya.
Gio terkekeh sambil mengusap bibirnya yang basah itu dengan punggung tangannya." Iya ya.lalu gimana dengan bibir aku yang tebel gini?enak ga?." tanyanya sembari menjilati bibirnya yang super tebal dan cipokable sekalih.
"Mulut istri gue pedes banget sih.tapi sayangnya enak.hadeuh,punya istri mulutnya gak ketulungan tapi cantiknya juga gak ketulungan,gimana dong?pusing hamba ya allah." gumamnya seraya memutar kemudi hendak meninggalkan area kantor.usai semua pekerjaan selesai Gio langsung tancap gas segera menuju rumah.namun sebelum itu ia membelokan kemudinya menuju tempat soto tangkar langganannya.lelaki itu memarkirkan mobil tepat di depan ruko tempat makan itu.
"Teh,sotonya empat ya bungkus,jangan lupa empingnya juga." ucapnya pada Teh Enoh pemilik kedai soto tersebut.
Teh Enoh yang sedang memotong tomat untuk pesanan orang pun mengangguk sembari tersenyum." Kemana aja Gi?kok udah lama ga pernah mampir ke Teteh?"
"Sibuk teh,gawe" jawab Gio.
"Udah lupa ya sama soto teteh?" teh Enoh tertawa di ujung kalimatnya.
Begitu pun dengan Gio." Nggak dong teh Mas Darto kemana?"
"Di rumah yang muda."sahut teh Enoh membuat Gio mengerjap heran.
"Maksudnya,teh?"
"Dua sekarang mah,Gi"
"Dua gimana teh?maksudnya anak teteh udah dua gitu?"
"Mas Darto udah upgrade Gi,bininya dua." sambar Toni dari luar sehabis mengantar pesanan.
Gio mengangguk dengan wajah syok." Wow.luar biasa ya mas Darto." komentarnya tidak kurang tidak lebih.
"Itulah laki-laki kalau sudah berduit suka lupa diri.dia lupa siapa yang menemani dari nol sampe seperti sekarang ini.teteh yang nemenin orang lain yang nikmatin hasilnya." ujar Teh Enoh dengan kekehan ia terlihat begitu iklas dan mungkin sudah berdamai dengan keadaan.namun tetap saja Gio masih bisa menangkap luka di netra perempuan berusia mendekati empat puluh itu.
"Sabar Teh.semua ada hikmahnya." balas Gio mencoba menghibur.
"Iya,kamu jangan seperti mas Darto ya Gi. kasian Manda loh.mau cari yang kaya mana lagi Amanda udah yang terbaik." Gio langsung mendongak mendengar penuturan Teh Enoh tentu saja ia kaget di buatnya.
"Lagi pula Manda mah luar biasa ya Gi pantes kamu sampe kelepek-kelepek sama dia.banyak yang mau,tentara,polisi sampe pengusaha pun banyak yang antri tapi Amanda tetap milihnya kamu.gak heran sih kamu ganteng soalnya." tambah syok saja Gio mendengarnya.
"Teh.saya sama Manda_"
__ADS_1
"Iya,teteh denger dari Nurafida waktu lalu pas ke klinik bawa si Kila.dia cerita katanya kamu ngundur waktu terus.padahal segalanya udah di siapin sama Pak Haji." rahang Gio langsung mengeras mendengar ucapan teh Enoh.
"Harga diri itu penting ya Gi.gak peduli sekaya apa pun keluarga calon istri.gak enak juga kan ya kalau semua di bayarin sama Pak Haji mah atuh." sambung wanita itu.
"Saya udah nikah teh" sela Gio sebelum wanita itu kembali menyela ucapannya dan nyerocos begitu saja.
Teh Enoh menoleh ke samping seketika menatap Gio." Loh,sama Manda kan?"
"Bukan,sama yang lain teh" sahut Gio.
"Lah terus Amanda?hubungan kalian sudah berakhir emang?walah teteh baru tau,Gi"
Gio tersenyum dan mengangguk." Saya dan Amanda nggak berjodoh teh.jodoh saya malah perempuan lain,yang sekarang sudah jadi ibu dari anak-anak saya."
"Oh,jodoh gak ada yang tau ya.selamat ya untuk pernikahan kalian.semoga bahagia sampe maut.kapan-kapan bawa istrimu kesini,Gi"
"Aminn.pasti teh nanti mampir."
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Ketika selesai makan malam Ayana terlihat sibuk dengan ibu mertuanya.mereka berbincang di dapur sambil membuat adonan empek-empek.anak sulung Gio itu suka sekali empek-empek karena itu pula Ayana memilih membuatnya di rumah.Gio duduk di sofa di sebelah kakanya yang memangku putrinya.Indri yang sedang menertawakan Jemia dan Billa yang sedang bermain coret-coretan wajah dengan crayon itu terhenti dan menoleh.
"Apa?" tanyanya.
Sebelum menjawab Gio menoleh ke dapur memastikan Ayana tidak dapat mendengar obrolannya." Ka.Manda belum terlihat mau menikah ya?" Indri memicingkan matanya mendengar pertanyaan Gio.
"Kenapa emang?kamu kepo sama mantan?"
"Ish,nggak lah.cuma pengen tau aja soalnya ada yang cerita katanya aku ngundur waktu buat nikahin dia.males aja kalau ada gosip yang nggak-nggak tentang aku.takutnya kan kalau pas pulang ke rumah nanti terus onoh noh denger gimana?" Gio menujuk Ayana dengan alisnya.
Indri tertawa sambil memukul paha Gio dengan bantal sofa." Itu mah si Nur waktu itu ngoceh sana sini.udah ibu beresin kok tenang aja gak usah kawatir." ujar Indri menenangkan." Udah ada beberapa yang datang cuma kayanya selalu di tolak sama dia.dengan alasan masih nunggu kamu. emang rada tolol itu anak.udah jelas laki-laki punya istri malah di tungguin coba."
Gio mengerjap mendengar kabar itu." Oh. gak bagus bukan kalau nolak yang datang?suka susah gak sih nantinya?"
"Kurang tau juga sama mitos itu.tapi ada beberapa yang bener suka susah dapet jodoh kalau sering nolak lamaran laki-laki." Gio mengangguk membenarkan.ia terdiam dan berpikir tidak menyangka bahwa Amanda sampai segitunya.untuk apa pula wanita itu menolak banyak lamaran hanya untuk menunggu Gio yang tidak akan pernah kembali padanya.
"Maaf mungkin aku memang meninggalkan banyak luka untukmu.tapi tidak seharusnya kamu menungguku yang tidak akan pernah lagi melihat ke belakang." batin Gio.
"Paket apa ini,yang?" tanya Gio sembari menutup pintu dengan sebuah kotak dus di tangannya.
Ayana yang sedang menyemprotkan parfum ke lehernya pun menoleh sesaat." Oh itu.bawa sini."
Gio memberikan barang tersebut dan langsung mengambil gunting guna memudahkan Ayana untuk membukanya." Minyak apa itu?"
Ayana dengan cepat menyimpannya ke dalam laci meja rias.ia terlalu malu kalau sampai Gio mengetahui kegunaan minyak itu,mana mulut lelaki itu kadang lemes." Ini minyak sereh.untuk pijat biar hangat."
"Oh,coba aku minta buat oles perut,sama kamu pijat lengan aku dong pegel gara-gara futsal ini."
"Nggak,nggak bisa.pake minyak EGP aja. jangan pake itu." tolak Ayana.
"Lah kenapa?kata kamu biar hangat."
"Ini beda."
"Coba lihat" paksa Gio sambil membuka laci.Ayana hendak mencegah namun kalah cepat.akhirnya Gio berhasil mengambil minyak itu dan membaca keterangan dan kegunananya.lelaki itu terbahak kemudian menatap istrinya dengan senyum simpul." Biar guede ya?" ledeknya,kan benar dugaan Ayana.
Ayana memalingkan wajahnya ke samping dalam hati ia memaki Aneska yang sudah mengiriminya minyak itu." Apaan sih?nggak lah." untuk menutupi rasa malunya Ayana mencoba mengelak,namun pecuma si Giok itu sudah terlanjur meledeknya.
Gio menarik Ayana ke pelukannya.tidak tega melihat wajah istrinya yang sedang mencoba menahan malu itu." Oke,oke. gapapa,kamu mau nyenengin aku kan?makasih ya udah berusaha." amit amit pede bener sih lo,Ayana merutuk dalam hati." Tapi demi dewanya Tapasya,yang. aku suka banget yang original tanpa sentuhan dan tambahan apa lagi bantuan lain.karyaku sudah cukup membuat sizenya nambah loh.yang tadinya segegaman tangannya Jem.sekarang segini_"
"Mulutnya Gi" Ayana mencubit perut berotot suaminya membuat lelaki itu mengaduh." Di larang sentuh selama pengobatan."
Gio langsung terbahak dengan keras." Anjay pengobatan katanya?udah sih segini cukup yang.emang mau segede apa coba?oh pengen kaya punya si Jeniper batang itu ya?badan kamu kurus gini masa nen nya Gede sih?"
"Aneska tuh yang rempong,komen terus katanya dada aku tipis banget.gak kaya punya mantan kamu ya Gi,gede" Gio menarik napas dapat ia pastikan sebentar lagi akan ada drama insecure dan membandingan diri.
"Kalau itu mah kegedean,gak bagus juga sih kalau sampe segede helm gitu mah" sahut Gio.
"Udah pernah megang dan ngerasain ya?makanya tau ukurannya sampe segede helm"
"Dih,nggak dong.ngelihat aja gak pernah."
"Masa?kalau di depan dia kamu merem gitu?itu kamu tau ukurannya?"
"Ya di kira-kira aja sih."
__ADS_1
"Dusta."
"Udah jangan bahas masa lalu.aku kurang suka.lebih baik bahas masa depan kita aja itu lebih berguna dan bermanfaat." Gio membawa istrinya ke ranjang lalu mereka berbaring dan melakukan deeptalk sebelum memasuki alam mimpi.tidak lupa Gio sambil memijat tangan istrinya.padahal katanya tadi yang sakit itu lengan dia,tapi kenapa Ayana yang mendapat pijatan coba.