
Bara Schweinsteiger pria berusia 35 tahun. Perawakannya tinggi dengan brewok yang tumbuh dibagian dagu nya. Di usia sematang ini dia masih saja betah dalam kesendirian tetapi sering menghabiskan malam dengan para wanita bayaran hanya ingin sekedar menghangatkan ranjangnya.
"Bagaimanapun, aku harus cari cara untuk memisahkan Bee dari Bastian," ucap nya dengan tatapan tajam ke depan.
Harusnya Bara yang menjadi suami Bee, tetapi kenapa malah adiknya yang baru lahir tahun kemarin. Tentu saja, Bara tidak terima. Dia sudah lama mengincar Bee, apalagi Bee salah satu karyawan kesayangan sang ayah.
"Lihat saja Bas, kau tidak akan bisa memiliki Bee. Kau hanya bocah tengil yang tidak pantas untuk wanita dewasa seperti Bee," ujar Bara. Wajah lelaki tersebut seperti iblis yang siap menerkam mangsa nya kapan saja.
Bara duduk dikursi kebesaran nya, sembari memainkan pena yang dia ketukkan diatas meja yang terbuat dari kayu jati permanen tersebut.
"Bianca Salsabila Santoso, kau adalah milikku, Bee. Takkan kubiarkan bocah itu memiliki mu. Aku akan merebut mu dan kita akan hidup bahagia selamanya," ucap Bara tersenyum membayangkan wajah Bee.
Wajah Bee yang tegas dan dingin seperti menjadi daya tarik tersendiri bagi Bara. Hal tersebut membuat Bara penasaran pada sosok perempuan tegas itu.
"Ada apa Kakak memanggil ku kesini?" tanya Bryan kesal. "Kakak tahu tidak, aku sedang makan siang bersama kekasihku? Kenapa malah di ganggu?" gerutu lelaki tampan itu.
"Hmm." Bara hanya berdehem, lalu tampak berpikir. "Kakak punya pekerjaan untukmu, jika kau berhasil. Maka 25% saham Kakak, akan jatuh ke tangan mu," tawar Bara dengan mengedipkan matanya kearah sang adik.
Bryan menatap kakak nya curiga. Dia sudah paham jika diberi misi dengan hadiah yang cukup besar pasti pekerjaan nya juga tidak mudah.
"Pekerjaan apa Kak?" tanya Bryan penasaran, dia melihat Bara yang senyum-senyum tidak jelas.
"Pekerjaan yang gampang untuk kau selesaikan," sahut Bara. "Pisahkan Bastian dan Bee," sambung nya.
Bryan terkejut mendengar ucapan sang kakak. Apa sebegitu terobsesi nya Bara pada wanita bernama Bee? Padahal jika di lihat Bee wanita biasa pada umumnya. Bahkan terkesan cuek dan dingin, apalagi Bryan tidak suka wanita dengan kepribadian tersebut.
"Memisahkan Bastian dan Bee? Maksudmu bagaimana, Kak? Aku tidak mengerti," ujar Bryan yang belum paham.
Bara tersenyum menyunggingkan bibirnya dan tersenyum miring. Dia tidak peduli siapa Bastian yang jelas Bee harus jatuh ke dalam pelukan nya.
"Ya seperti yang Kakak jelaskan tadi," ucap Bara sekali lagi.
__ADS_1
Bryan menghela nafas panjang, "Tapi Kak, apa tidak kasihan pada Bastian. Dia terlihat mencintai Bee, Kak," ucap Bryan. Walau Bryan tak menyukai Bastian sebagai adiknya tetapi dia masih berpikir untuk menghancurkan kebahagiaan sang adik.
"Kau salah! Bastian tidak mencintai, Bee. Itu masih cinta monyet. Mana paham, bocah seperti nya masalah cinta," sergah Bara sedikit marah.
"Baiklah, baiklah," ucap Bryan mengalah. "Lalu apa yang harus aku lakukan untuk memisahkan mereka?" tanya Bryan yang masih bingung dengan misi tersebut.
Bara terlihat santai-santai saja lalu mengambil berkas didalam laci meja kerjanya nya dan meletakkan berkas tersebut di atas meja.
"Ini...." ucap nya.
Bryan mengambil berkas tersebut, lalu membuka berkas itu dan melihat isi nya. Matanya membulat sempurna ketika membaca berkas tersebut.
"Kak, kau yakin?" tanya Bryan memastikan dan tak menyangka.
"Apa Kakak terlihat bohong?" tanya Bara balik, dia tidak perna main-main dengan ucapan nya.
"Tapi Kak, Bastian itu adik kita," ucap Bryan menghela nafas panjang.
"Apa Kakak tega melakukan hal ini padanya?" Bryan menatap sang kakak.
"Kenapa harus Tidak tega? Bastian bukan adik yang kita inginkan! Sejak kelahiran nya, kita selalu di anak tirikah oleh Daddy dan Mommy," jelas Bara, wajah lelaki itu tampak menunjukkan kemarahan.
Bryan terdiam, dia memang tidak menyukai Bastian. Tetapi untuk menyakiti adiknya dia tidak bisa. Bagaimanapun Bastian itu masih bocah dan belum tahu apa-apa.
"Maaf Kak, aku tidak bisa," tolak Bryan.
"Kau tak ingin membantu Kakak?" Bara menatap adiknya tajam.
"Aku tidak bisa, Kak. Silahkan Kakak cari orang lain saja," ucap Bryan berdiri dari duduknya. "Aku permisi, Kak," pamitnya melenggang pergi dari ruangan Bara.
Bara menatap punggung Bryan dengan marah. Namun, dia tidak bisa emosi dan memarahi adiknya tersebut. Bisa saja nanti Bryan malah membocorkan rencana nya pada sang ayah.
__ADS_1
Bara mengambil kembali berkas itu dan menyimpan nya. Dia tetap terlihat tenang dengan wajah datar dan dingin. Apalagi Bara adalah pria berambisi yang selalu mendapatkan apa saja yang dia mau. Tak peduli siapa yang harus berkorban dan di korbankan, selama hal tersebut bisa mewujudkan keinginan nya. Maka ia akan lakukan apapun.
"Kau akan jadi milikku, Bee. Percayalah tulang rusuk akan kembali kepada tuan-nya."
.
.
"Bee," gumam seorang pria memeluk figura didadanya.
"Maaf, seandainya aku tidak mengkhianati mu. Kita pasti sudah bersama," ucap nya lirih dengan penuh penyesalan. "Andai aku lebih berani melawan kedua orang tua ku, mungkin kita sekarang telah hidup bersama," lirihnya seraya memejamkan matanya.
Putus cinta tidak sakit, yang sakit ketika harus putus tetapi dalam keadaan cinta. Apalagi karena restu orang tua. Dirinya yang terlalu takut akan ancaman demi ancaman dari orang tua nya lebih memilih mengkhianati daripada bertahan.
"Aku tak menyangka jika kau akhirnya menjadi milik orang lain. Aku baru sadar, bahwa melihat orang yang kita cintai bahagia bersama pilihannya. Rasanya sakit sekali, Bee. Maafkan aku Bee. Aku sekarang memahami perasaan sakitmu."
Pria tersebut menatap langit-langit kamarnya. Sejak perselingkuhan sang istri terkuak dia memilih lepas dari wanita tersebut. Namun, sekarang hal tersebut justru membawa nya pada penyesalan yang tak berujung.
"Bee, jika kau tak bahagia bersama nya. Bisakah kau kembali padaku? Aku, aku masih mencintai mu Bee. Aku ingin memperbaiki semua kesalahan ku pada mu," kata lelaki itu lagi.
Dikeheningan malam dia menangisi nasib dan takdir yang seolah tak berpihak padanya. Hidup yang dia pilih telah membawa luka yang mendalam. Rasanya dia pria paling bodoh yang tak memiliki keberanian untuk memperjuangkan cinta yang seharusnya.
Apakah sekarang dia akan hidup dalam penyesalan sepanjang masa? Dia tidak mungkin merebut wanita yang telah bersuami walau dia sungguh mencintai wanita tersebut. Mustahil untuk wanita itu mau kembali lagi padanya, setelah dia mematahkan hati mantan kekasihnya.
Pria tampan itu baru sadar, bahwa tidak ada hal yang sepele jika berbicara tentang perasaan. Dia menyesal dulu pernah bermain-main dengan luka yajg menciptakan kecewa.
Bersambung...
Malam guys...
Mohon baca nya jangan di lompat-lompat atau nabung bab yaa. Soalnya ini regulasi baru yg bisa menurunkan retensi author...
__ADS_1
Terima kasih semua..love kalian sekebon cabe.