Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
61


__ADS_3

Hari-hari Ayana terasa begitu berat dan tentu saja menyedihkan.bagaimana tidak sudah hampir tiga bulan Gio tidak kunjung bangun.lelaki itu masih betah dalam tidur panjangnya.tebakan Ayana benar,mungkin selama ini Gio kelelahan.masa remaja yang fisiknya belum siap itu sudah di paksa untuk bekerja keras.Gio di dewasakan oleh keadaan,maka karena itu mungkin saat ini Gio ingin tidur untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya.namun meski begitu Ayana tetap dan selalu yakin suatu saat Gio akan bangun.


Tim dokter Danu sudah menyarankan agar keluarga mencabut seluruh alat yang terpasang pada tubuh Gio.para dokter beberapa kali mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi harapan untuk Gio bangun kembali.mengingat kondisi Gio yang terus menurun dan tidak ada perubahan.selama ini kondisi Gio tidak menunjukan kemajuan atau adanya tanda-tanda bahwa dia akan segera sadar.hanya dokter Ilham,dokter yang pertama menangani Gio,dokter itu satu-satunya yang masih mendukung Ayana bahwa keajaiban itu pasti ada.setiap manusia yang berharap dan doanya tidak pernah putus tuhan pasti mendengar dan mengabulkan doanya suatu saat.hanya perlu bersabar dan jangan pernah berhenti berharap.


"Bersabar saja ya Mbak,Ayana.insya allah Gio akan bangun meski kita tidak tahu entah kapan itu.ini kan baru tiga bulan namun_" Dokter Ilham menjeda ucapannya sebentar sebelum kembali melanjutkan.


"Namun,jika sudah lewat dari satu tahun. kondisinya masih sama,berarti sudah tidak ada lagi harapan untuk dia kembali bangun dengan berat kita terpaksa harus menghentikan semua peralatan,kita juga tidak bisa kan menyiksa dia terus menerus. kasihan Gio dia harus terbebas dari alat-alat itu." lanjut dokter Ilham yang langsung saja membuat beberapa butir bulir air mata Ayana menitik.dirinya memandang Gio yang masih tidur itu dengan pandangan berkabut oleh air mata.


Ayana benci dengan keadaan ini.setiap kali dirinya bertemu tim medis ia harus terus mendengar ucapan dokter yang berbeda setiap harinya.kadang kala dirinya merasa lega,namun ada kalanya Ayana juga merasakan sesak seperti sekarang ini.


"Baik dokter.jika sudah lewat satu tahun saya akan menyetujuinya." sahut Ayana pelan.


"Yang sabar ya Mbak.ini semua sudah takdir.saya permisi jika ada yang ingin di tanyakan mbak bisa wa saya aja." Dokter Ilham pamit usai visit ke ruangan Gio dan melanjutkan ke ruangan lain.Ayana duduk di samping ranjang Gio,lalu seperti biasa memijat seluruh tubuh lelaki itu sebelum membersihkanya.tubuh itu semakin kurus dari hari ke hari bahkan tampak semakin pucat.Gio tak ubahnya mayat yang masih bernapas.


"Kamu gak mau bangun ya?pengen tidur aja seperti ini,tapi mau sampe kapan?kamu gak pengen gitu nemenin aku lahiran kaya dulu pas aku melahirkan Mia?masa iya anak-anak pas lahir gak di temani bapaknya sih?kalau begini mah aku berasa jadi janda dong." Ayana mengambil dua lembar tisu basah untuk mengelap wajah Gio.lalu mengelapnya dengan telaten hingga bersih.setelah itu mengoleskan krim pelembab agar kulit Gio tetap tergaja dan tidak kering akibat suhu pendingin.


"Kamu tahu gak Gi?aku capek tahu dengan semua ini,aku bener-bener lelah andai aja ada kamu,aku mungkin tidak selelah sekarang.kamu selalu siap dan ada untuk aku dan Mia.aku ini terlalu manja dan bergantung sama kamu selama ini.ternyata terlalu manja juga gak bagus ya Gi,aku jadi merasakan lelahnya luar biasa setelah ini. aku ngerasa bener-bener gak sanggup dan hampir menyerah.namun wajah kamu ini yang buat aku semangat untuk terus melanjutkan semua ini." Ayana mengusap air matanya yang merembes secara tidak sadar.lalu ia mengolesi lipbalm miliknya ke bibir Gio yang kering dan pucat.


"Aku selalu berharap kamu segera bangun Gi,putri kita merindukanmu.dia selalu menangis memanggil kamu sampai kalau tidur sering mengigau nangis manggilin kamu terus.ayo bangun,kamu mau kan mijitin kaki aku lagi?ini sekarang udah bengkak padahal masih berapa bulan. mungkin keseringan ngegantung kali ya dan aku suka makan yang asin-asin gara-gara kamu sih gak siapin makanan sehat lagi buat aku" Ayana tersenyum sekilas bayangan kebersamaan mereka melintas di kepalanya.Ayana ingat Gio selalu memasak untuknya sarapan. katanya agar Ayana makan banyak supaya ibu dan calon anak mereka sehat dan asupan gizinya selalu terpenuhi.


Bayangan Gio yang sering kali memijat kakinya yang pegal terus beseliweran di kepala Ayana.pria itu sering memijat kakinya dengan rutin tak peduli meski dirinya lelah sakali pun,Gio selalu ada untuk Ayana.


"Sekarang malah gantian ya Gi,aku yang mijitin kamu setiap hari,bahkan hingga tiga bulan loh aku masih rutin.tapi kamunya malah keenakan aku pijitin tidurnya malah tambah pules banget.kamu jahat Gi,kamu ninggalin aku dengan semua beban ini.aku lelah Gi,rasanya aku gak sanggup lagi untuk meneruskan semua ini.kamunya juga jahat.gak kasihan sama aku malah tidur pules banget.ayo bangun dong katanya kamu cinta sama aku?tapi kok malah nyiksa aku kaya gini sih?kamu bener-bener jahat." lengan Gio yang kurus itu Ayana guncang untuk meluapkan rasa sesal dan kesalnya.tidak peduli meski Gio merasakan sakit karena tangannya Ayana guncang seperti ini.Ayana ingin balas dendam karena Gio telah menyiksanya selama ini.


Ayana menyerocos saja tidak peduli walau Gio tidak meresponnya pun.Ayana hanya ingin mengeluarkan segala uneg-uneg selama ini,segala beban selalu di simpannya di dalam hati.tanpa pernah ia keluhkan di depan orang lain,termasuk keluarganya sendiri.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Dua minggu berlalu hari ini Ayana tidak mengunjungi Gio,karena ada Mira dan Indri yang menemani pria itu.Ayana memutuskan untuk memanggil psikiater untuk memeriksa keadaan dirinya yang benar-benar merasa tidak baik-baik saja dalam dua minggu ini.Ayana mungkin terlalu banyak berpikir dan melamun.juga begitu terpaku pada kondisi Gio,sehingga ia melupakan kesehatan mental dirinya yang sangat perlu di perhatikan.wanita yang sedang dalam keadaan hamil memiliki dua kali lipat lebih rentan stres dan merasa tertekan.kondisi ini umum karena wanita hamil sangat sensitif.


"Kamu hanya perlu minum obat,istirahat yang cukup jangan lupa untuk rutin yoga dan menghindari segala sesuatu yang dapat memicu perasaan kamu,misal hindari dulu kontak dengan orang-orang supaya kamu tidak mendengarkan ucapan yang tidak menyenangkan.juga tahan dulu untuk di rumah sementara.jangan mengunjungi rumah sakit selama satu minggu ini.pulihkan dulu jiwa kamu,jangan memaksakan diri,Aya." pesan dokter Liliana pada Ayana.dokter tua itu begitu paham akan kondisi Ayana saat ini.dia yang selalu menangani keadaan Ayana sudah sejak masa remaja dulu.dan kini setelah beberapa tahun.dirinya di panggil kembali untuk menangani perempuan yang seumuran dengan putrinya itu.


"Baik tante,makasih ya." ucap Ayana.


"Sama-sama,ayo semangat putri dan bayimu butuh ibu yang sehat dan ceria." dokter Liliana kemudian pamit usai mengobrol sebentar dengan Ayana dan Monica.


"Ay,tadi Papah mampir ke rumah sakit katanya teman-teman Gio lagi pada jenguk sekarang.dan_"Monica tak melanjutkan ucapannya.ia takut Ayana akan mengamuk saat mengetahui apa yang terjadi di rumah sakit.


"Dan apa,Mah?." tanya Ayana.


"Dan Gio merespon katanya,ada gerakan dari tangan dan kelopak matanya sempet gerak.tapi sepertinya Gio masih butuh beberapa hari untuk berjuang menggerakan seluruh tubuhnya.setelah mereka menyemangati Gio untuk segera bangun dan sembuh." ujar Monica,namun Ayana sepertinya tidak begitu percaya dengan apa yang di katakan ibunya.tidak tahu mengapa,hati Ayana seakan menolak percaya dengan itu semua.Ayana yakin ada hal lain yang di sembunyikan.


"Oh.ya sudah kita hanya perlu menunggu aja kan." sahut Ayana kemudian melengos ke kamarnya begitu saja.Monica menatap langkah Ayana dengan tatapan sendu.dirinya tidak tega jika mengatakan kalau mantan Gio juga berkunjung kesana namun hanya sebentar karena Mira melarangnya berlama-lama.beruntung ibu Gio itu masih punya hati,ia melarang Amanda berlama-lama di sana.rupanya besan Monica masih memikirkan perasaan Ayana.


Di kamar tangis Ayana tumpah,mengapa Gio begitu jahat kepadanya.Ayana yang selalu menemaninya setiap saat tapi Gio tidak pernah sekali pun meresponnya.lalu mengapa di saat orang lain yang mencobanya Gio malah seakan merespon.


"Lo emang bener-bener ya Gi.kalau gitu gue gak perlu lagi datang setiap hari kesana." ucap Ayana sebelum merebahkan dirinya lalu terpejam melupakan sedikit saja beban pikirannya.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...

__ADS_1


Sudah satu minggu ini Ayana tidak lagi mengunjungi Gio di rumah sakit.ia menuruti saran dari dokter Liliana,sekaligus ingin menghindari orang-orang.Ayana juga masih menghindari Mira yang masih bersikap dingin kepadanya.Ibu mertua Ayana itu memang sudah tidak lagi ketus padanya.dan sudah meminta maaf namun sikapnya masih sama dingin dan terlihat kurang suka jika Ayana berada di sana.apa lagi jika Ayana sedang bersama Gio,maka sikap Mira akan berubah menjadi lebih dingin,sedingin es serut.


Selama itu pula Ayana sering mendengar bahwa teman-teman Gio sering datang setidaknya seminggu bisa empat kali datang.seperti Andre dan Rehan yang selalu rutin menyempatkan diri mengunjungi Gio.dan itu membuat Ayana senang,setidaknya dengan kehadiran mereka mungkin saja Gio bisa segera sadar.dan hari ini Ayana berniat akan ke rumah sakit juga,karena sekalian ada jadwal kontrol kandungan.Ayana bersiap-siap ia berdandan lebih cantik dari biasanya.siapa tahu alam bawah sadar Gio menyadari kehadirannya.lalu pria itu sadar dan bangun.usai memarkirkan mobilnya Ayana masuk menuju ruangan Gio,namun matanya tak sengaja melihat Amanda yang sepertinya baru saja akan memasuki ruangan Gio.dengan langkah cepat Ayana menyusul Amanda ke dalam.


Ceklek


Pintu terbuka mengagetkan Amanda yang baru saja akan mendudukan dirinya di kursi yang biasa Ayana duduki." Eh,Mbak?" sapa Amanda dengan kaku.


"Siapa yang ngijinin kamu kesini?" tanya Ayana dengan dingin.


Amanda mengerjap dan gelisah." Oh itu saya tahu dari ibu kalau Gio ternyata seperti ini.saya udah minta ijin ke ibu kalau saya mau jenguk Gio." jawab Amanda.


"Seberapa sering kamu datang?." tanya Ayana lagi dengan nada yang sama.


"Baru..dua kali sih." jawab Amanda gugup.


"Saya gak percaya." sahut Ayana lalu membanting tasnya ke meja yang berisikan peralatan dan obat pasien membuat Amanda terkejut karena kaget.


"Kok kamu berani banget ya datang kesini tapi gak ijin ke saya?di mana letak sopan santun kamu ibu bidan?." tanya Ayana usai meletakan tasnya.


"Saya gak perlu ijin dari mbak juga kali.kan ini bentuk rasa kemanusian aja sebagai tetangga juga.lagian kan saya cuma datang jenguk bukan mau apa-apa kok dan Gio juga mantan saya,tali silaturahmi kami belum putus apa lagi dengan keluarganya_"


"Kamu bukan siapa-siapa Mbak.sadar diri dong,kamu hanya mantan Gio,bukan saudara bukan juga siapa-siapa.gak usah berlindung di balik kata tetangga dan rasa kemanusian.bilang aja kalau kamu masih menginginkan Gio.percaya diri boleh saja Mbak,tapi sadar diri jauh lebih penting." potong Ayana dengan nada ketus.dirinya menatap Amanda dengan tajam dan penuh emosi.


"Saya ini istrinya yang lebih berhak atas diri Gio.seharusnya kamu ijin juga kepada saya sebelum ke yang lain mentang-mentang lebih deket ke mertua saya,kamu cuma ijin ke dia. padahal di sini sayang berhak menentukan." lanjutnya membuat Amanda mendengus sinis kepadanya.


Kemarin Amanda sempat mendengar obrolan Indri dengan Mira mengenai kesehatan mental Ayana yang kerap kali kambuh.Amanda berharap Ayana akan depresi dan berujung menjadi gangguan jiwa.biar saja pikirnya.dengan begitu ketika Gio bangun nanti.dirinyalah yang akan menggantikan sosok perempuan tua itu.


Ihh apaan sih cabe keriting ini


Ayana tertawa dengan wajah sinis menatap Amanda dirinya sama sekali tidak terpancing oleh perkataan perempuan itu.


"Kamu yakin kalau saya cuma istri sementara buat Gio?lalu setelah itu kamu yang akan menjadi istrinya,gitu?mimpi,Gio gak akan pernah kembali kepelukan kamu dia punya saya dan milik saya dan akan selamanya menjadi milik saya.kamu hanya masa lalu yang udah lama terkubur bersama dengan kenangannya." balas Ayana tak kalah sengit membuat Amanda mematung.Amanda menatapi Ayana dengan tatapan sulit di artikan.Ayana sih tahu Amanda pasti sedang menyiapkan kata-kata baru untuk menyerang dirinya.


"Lebih baik kamu pergi dari sini.saya akan membersihkan badan Gio,saya tidak sudi kamu melihatnya." usir Ayana.


"Tapi saya udah bersihkan tadi Mbak.saya udah elap semuanya tadi pagi." sahut Amanda berbohong.Ayana yang sedang menatap Gio itu pun seketika menoleh kemudian melangkah dengan lebar menuju Amanda.lalu tanpa kata ia menarik kerudung Amanda dengan kuat.


"Akhh,lepasin sakit." teriak Amanda.


"Kamu bilang apa?sakit,hmm?berani sekali kamu menyentuh tubuh suami saya. perempuan biadab seperti kamu ini harus di kasih pelajaran." Ayana mencengkram krudung Amanda dengan kuat hingga perempuan itu mengaduh.


"Lepasin Mbak.sakit banget ini..mbak udah gila ya,aduhh sakit tolong." raung Amanda yang terseret oleh Ayana.


"Ayo teriak lebih kencang saya hancurkan kepala bodoh kamu ini ke tembok." ancam Ayana sembari menjabak rambut Amanda yang kerudungnya sudah melorot.


"Saya bisa laporin mbak ke polisi.ini tindakan kasar dan penganiayaan mbak." Amanda mengancam balik Ayana.


Ayana tergelak dengan mengejek." Silakan laproin aja saya gak takut.bagaimana kalau saya seret kamu ke halaman rumah sakit ini.saya akan katakan kalau kamu ini sedang berusaha merebut suami saya?saya yakin kamu akan dapat respon yang baik dari seluruh para istri sah yang ada di negeri ini." Ayana tersenyum mengejek melihat wajah pucat Amanda yang sepertinya ketakutan akan ancamannya." Kenapa,takut?." tanya Ayana.

__ADS_1


"Silakan kalau mbak bisa." tantang Amanda dengan sudut bibir terangkat.


"Yakin?" sahut Ayana sembari mengencangkan kembali cengkramannya pada rambut Amanda dan menyeretnya ke luar.namun belum sampai di pintu Amanda menginjak kakinya dan tak sengaja menyikut perut Ayana sembari meronta hingga Ayana terdorong dan melepaskan cengkaramannya.Ayana jatuh dengan bokong mendarat sempurna di lantai yang dingin itu.Amanda panik dan langsung merangkul Ayana yang tengah memegangi perutnya.


"Mbak,astaga apa yang sakit?" tanya Amanda dengan panik.ia berusaha membangunkan Ayana namun tangannya di tepis dengan kasar oleh istri Gio itu.


"Lepas.lebih baik kamu pergi dari sini.saya tidak sudi melihat wajah kamu yang sok alim itu." tukas Ayana dengan dingin.


"Iya saya akan pulang.tapi mbak gapapa kan?saya takutnya mbak kenapa-napa." ujar Amanda.sebagai seorang manusia dan tenaga kesehatan jujur saja ia memiliki jiwa empati yang lumayan.Amanda takut jika terjadi sesuatu yang serius terhadap kendungan Ayana.meski memang sisi gelapnya benci sekali dan berharap anak yang di kandunganya mati saja.


"Saya bilang pergi." usir Ayana dengan tegas membuat Amanda segera keluar tidak ingin mencari ribut di tempat umum apa lagi ini rumah sakit.citranya sebagai bidan yang baik.yang imejnya selalu di jaga mati-matian bisa hancur seketika.jika ia masih meladeni Ayana yang keras itu.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Ayana berdiri dengan gerakan pelan lalu menghampiri Gio.Ayana duduk sembari mengusapi perutnya agar si janin tenang mungkin tadi mereka syok karena tiba-tiba terguncang.dengan tubuh Ayana yang langsung mendarat di lantai." Kamu dengar pertengkaran aku tadi sama dia?." tanya Ayana dengan harapan Gio merespon.


"Maaf tadi mungkin suara aku ganggu kamu banget ya?aku kesel banget Gi.masa iya dia datang gak ijin dulu ke aku maen nyelonong aja,terus katanya bilang kalau dia udah berani bersihin tubuh kamu.ya aku marah lah.aku gak rela dia nyentuh kamu,Gi.aku cuma ijinkan ibu dan ka Indri aja yang boleh nyentuh kamu.kecuali suster ya kalau lagi darurat banget tapi." ujar Ayana sembari memainkan tangan Gio lalu dirinya terkejut karena tangan itu bergerak dan seluruh tubuh Gio ikut bergerak walau sangat pelan.


"Gi.kamu kok gerak?." tanya Ayana dengan tangan yang ikut gemetar kemudian bola mata Ayana hampir lepas dari tempatnya saat melihat kelopak mata Gio bergerak.kemudian dengan gerakan lambat kedua mata Gio terbuka sedikit.dan pria itu langsung kembali menutup matanya dengan menyipit.mungkin Gio merasakan silau dari lampu rumah sakit ini.


"Gio.kamu..kamu udah sadar Gi?." mulut Ayana terbuka dengan tangan bergetar ia menyentuh tangan Gio yang bergerak dengan lemah.mata Gio kembali terbuka dan menatap Ayana dengan menyipit.ia tidak mengedip hanya diam menatapi Ayana dengan tatapan kosong.


"Aku panggil dokter ya,bentar." dengan lutut yang sudah terasa melemas Ayana memencet tombol untuk memanggil dokter perempuan itu mendudukan diri supaya tidak jatuh ke lantai.karena Ayana begitu syok dan terkejut.setelah tiga bulan lamanya dan hari ini ia melihat Gio membuka matanya kembali.


"Sayang.kamu bisa dengar aku gak?." tanya Ayana dengan air mata yang sudah menganak sungai di pelupuknya." Ini aku Ayana.istri kamu ingat kan,ya?" tanyanya lagi.Ayana takut Gio lupa masalahnya pria itu tertidur begitu lama.Gio tidak merespon hanya diam menatapi Ayana bahkan tanpa berkedip.pria itu ibarat patung saat ini berdiam tanpa bergerak dan berkedip,kan serem juga atuh.


"Bagaimana ibu?." tanya dokter saat memasuki ruangan Gio.doker itu terkejut melihat Gio membuka matanya.


"Puji tuhan,dia telah sadar.mari mengucap sukur." pinta dokter kepada dua orang perawat.tentu saja mereka langsung mengucap sukur kepada yang maha kuasa atas kuasanya yang luar biasa ini.jangan di tanyakan Ayana,dia tidak ada hentinya mengucap sukur pada sang pemilik dunia ini dan segala isinya.Ayana berkali-kali merapalkan doa yang sudah Gio ajarkan kepadanya.ia begitu takjub kepada tuhan karena keajaiban dan kuasanya ini,Gio bisa kembali sadar dan bangun juga Ayana melihatnya lagi saat Gio membuka mata.


"Kondisinya bagus.namun sepertinya Gio kehilangan memorinya,namun ini hanya bersikap sementara aja kok gak permanen. dia cuma kaya orang linglung gitu Bu wajarlah ya,kan tiga bulan gak bangun-bangun udah pasti linglung dan lupa segalanya." jelas dokter Danu usai memeriksa kondisi Gio.ini hebat menurutnya.Gio terbangun dalam kondisi bisa di katakan sehat.bahkan luka pasca oprasi juga sudah hampir sepenuhnya membaik.kondisi fisiknya juga bagus hanya butuh pemulihan saja.karena sepertinya kaki Gio lemas dan susah di gerakan.


"Habis ini dia butuh terapi bu.untuk mengajarinya berjalan.karena saya lihat tungkai kakinya lemas ini.dan mungkin saja dia akan lupa cara berjalan.lihat nih." Dokter memegang kaki Gio dan memperlihatkannya pada Ayana bahwa kaki yang dulunya kokoh itu sekarang begitu lemas." Dia akan susah berjalan.ini lemas banget kan nih,jadi perlu terapi khusus untuk kembali normal.selain itu tidak ada yang perlu di kawatirkan lagi semuanya baik dan normal.Gio sehat kok lihat nih rambutnya aja udah tumbuh lagi."


Ayana tersenyum saat mendengarkan penjelasan dokter mengenai kondisi Gio. dirinya merasa lega karena Gio akan baik-baik saja dan tentunya sehat." Halo Gio,kamu bisa dengar suara saya kan?kamu bisa jawab gak?." tanya dokter pada Gio yang sejak tadi diam saja.


Gio tak merespon hanya diam menatapi dokter dan Ayana bergantian.pria itu seperti orang linglung.atau bisa di katakan seperti mahluk aneh dari dunia lain." Dok. kok dia diam aja ya?dari tadi saya ajak ngomong gak mau jawab loh dia." tanya Ayana.


"Apa dia masih syok kali ya,wajar dia kan baru bangun.mungkin butuh adaptasi dengan suasana baru ini.coba ibu ajakin terus ngobrol ya.kalau dalam waktu dua puluh empat jam dia tidak juga merespon kita ambil tindakan lain.habis ini pasti kami pantau terus." jawab dokter Danu.


"Apa dia mengalami ganggun bicara ya dok?kata dokter Ilham kan bisa jadi begitu." Ayana semakin penasaran.


"Bisa juga bu,namun saya belum bisa menyimpulkan karena pasien baru sadar. maka kita tunggu saja hasilnya setelah dua puluh empat jam.kita oberservasi dulu." ujar Dokter Danu.setelah itu ia meminta suster untuk menyuntikan vitamin agar tubuh Gio memiliki tenaga karena sangat lemah.usai dokter dan perawat keluar Ayana mendekati Gio yang masih diam bak orang linglung saja.Ayana tersenyum kala melihat mata Gio yang lucu itu,ia mengedip dengan lucu persis anak kecil.


"Jadi inget Mia kalau lihat kamu kaya gitu Gi." ujar Ayana,menurutnya mereka sama persis." Hay.kamu lapar gak?mau aku suapin?eh kamu udah bisa nelen belum ya." Ayana mengeleng dengan bingung.


"Mau minum?." tawar Ayana saat Gio melirik air botol yang ada di atas nakas.


"Mmm." sahut Gio tanpa membuka mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2