Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
74


__ADS_3

Ayana begitu ketakutan pada Kaka iparnya itu.bagaimana tidak,pria yang umurnya di bawahnya itu saat ini masih tengah menatapinya dengan tatapan yang sudah Ayana ketahui.pria itu menatapnya dengan tatapan mesum dan sangat kurang ajar sekali padanya.merasa tengah di situasi yang tidak aman dan nyaman,akhirnya Ayana meraih ponsel untuk menghubungi Gio.ia baru mengetik ingin memberitahu suaminya bahwa saat ini ia sedang ketakutan terhadap Bian.


"Ka.." panggil Indri dan wanita itu terlihat nongol di pintu kamar.lantas Ayana menoleh dan bernapas lega lalu segera menyimpan ponselnya." Anak-anak masih tidur?."


"Iya tuh.mereka jajan apa,ka?." tanya Ayana dan langsung keluar dari kamar dan matanya beradu pandang dengan Bian kemudian ia memutus begitu saja.pesan yang hendak ia kirim pada Gio itu Ayana hapus kembali.


"Biasa,eskrim dan cemilan.padahal aku udah larang tetep aja ngamuk kalau gak di turuti.apa lagi nih anaknya si Giok,aduh guling-guling di lantai minta coklat dia" ujar Indri seraya tertawa dan mengusap pelipis anak Gio yang sedikit basah.sepertinya Jemia kecapekan karena tadi jalan kaki pulangnya.


Ayana tertawa sembari menoleh pada anaknya itu." Di ajarin mamah itu.kalau keluar pasti di bawa ke Indomari katanya jajan.di kenalin ke cokelat malah." sahut Ayana.Indri tertawa menanggapi kemudian pandangannya teralih pada sang suami yang sejak tadi hanya diam dan seolah tidak peduli dengan keadaan.


"Bill.ayah udah pulang itu." ujar Indri pada putrinya.namun bukannya senang,Billa malah terlihat biasa saja acuh tak acuh." Kok diam aja.sana ke ayah."


"Iya." sahut Billa namun tetap masih duduk di kursi kecil dan terlihat enggan menyapa ayahnya.gadis kecil itu terlihat kurang dekat pada sang ayah,ia lebih menyukai omnya yang selalu perhatian.


"Di ajakin dong,Mas." suruh Indri melihat sang suami cuek saja.ia sedikit kesal Bian tidak terlihat ingin membujuk sang anak yang memang tidak terlalu menyukai kehadirannya itu.sejak awal kedatangan Bian,Billa terlihat tidak begitu antusias,ia hanya sekedarnya saja dan memang jarang sekali di gendong mau pun di ajak main oleh pria yang katanya ayahnya itu karena Bian lebih suka judi dan mengadu ayam ketimbang mengajak Billa bermain atau pun jalan-jalan.


"Billa,sini ayah punya mainan untuk kamu ." ucap Bian akhirnya.namun bocah berusia hampir tiga tahun itu tetap tidak peduli sepertinya.


"Kamunya kurang ngajakin sih,jadinya anaknya kurang deket,kan." omel Indri sembari menatapi suaminya yang memang sejak tadi masih duduk di kursi depan tv tak beranjak sedikit pun dan kurang minat mencari perhatian sang anak.


Ayana lantas segera menghampiri putrinya dan mengelap area mulut anak kecil itu yang kotor oleh cokelat yang sedang di makannya." Habis ini mandi ya,siniin coklatnya biar bunda yang pegang,bentar lagi ayah datang.katanya mau ke lapangan." bujuknya pada sang putri agar gadis kecil itu menurut dengan begitu ia akan menyembunyikan cokelatnya.


"Iya.Nda." sahut Jemia namun tetap saja hanya di mulut saja.nyatanya ia masih menggenggam cokelat itu se erat mungkin agar tidak di ambil oleh bundanya membuat Ayana mendengus.


"Ya udah makan aja dulu.habis itu bilang bunda ya." ucapnya kemudian ke kamar guna melihat keadaan si kembar takut merangkak dan terjatuh.beberapa saat kemudian,Ayana menulikan telinganya saat ia mendengar adu mulut Indri dengan suaminya.mereka sepertinya sedang cekcok akibat tadi kelakuan Bian yang terlihat cuek kepada putrinya sendiri.


"Bisa diam gak sih,kamu?aku ini pusing dan capek.suami pulang kerja bukannya di sambut dengan penampilan yang enak di pandang,malah ngomel-ngomel gak jelas. udah gitu banyak nuntut lagi,kamu itu ngeselin dan bikin mata ruwet tahu gak?jaga penampilan aja gak becus.tuh muka kamu udah kaya pembantu aja,bikin eneg tau?," ucap Bian yang terasa menusuk hati Indri.


"Kamu bilang apa?aku gak bisa jaga penampilan?sadar diri mas.kamu modalin aku nggak?nggak kan?ya udah diem aja gak usah banyak nuntut.gak modal aja banyak gaya," sengit Indri dengan emosi berapi-api.rupanya perempuan itu sudah bukan perempuan yang lemah dan sering kali tertindas seperti dulu.


Bian terlihat menatapnya dengan kesal mendengar ocehan sang istri yang mengatainya tidak bermodal." Ayo ngomong lagi,gue robekin mulut lo." geramnya sembari mencengkram mulut istrinya.


Ayana di kamar yang mendengar semuanya pun tampak ketakutan,ia takut Bian menyakiti indri.bagaimana kalau laki-laki itu membunuh Kaka iparnya.ingin sekali Ayana keluar dan menolong Indri namun itu bukan waktu yang tepat bagaimana jika Bian menyerang dirinya juga.


"Silakan,kalau kamu mau mendekam di penjara seumur hidup.aku gak takut kaya dulu." tantang Indri yang membuat Bian semakin meradang.


"Pasti Gio yang udah ngajarin lo kaya gini kan?bocah itu emang kurang ajar banget harus gue kasih pelajaran sekali-kali mah."


Bersamaan dengan itu Gio masuk ke rumah.ia menghentikan langkahnya mendengar keributan yang berasal dari kamar kakanya.namun ia membiarkan saja dan masuk ke kamarnya ingin mencari sang istri.


"Stt,mereka lagi ribut itu." bisik Ayana sembari meletakan jari telunjuknya di atas bibir.


"Hmm.iya biarin aja.cium dong," pinta Gio seraya sudah menyosor saja seperti soang.


Indri menghempaskan tangan Bian dengan kasar." Gak usah bawa-bawa adiku yang gak tahu apa-apa dan gak ada hubungannya.kamu harusnya tahu diri dong selama ini kami di biayai oleh dia. anakmu sampai sebesar itu memang siapa yang sudah memberinya makan?siapa yang memberinya hidup enak,makanan enak,beserta pakaian yang layak?semua itu di tanggung oleh Gio.kamu tahu apa selama ini,hah?." Mata Indri menyorot tajam mengarah pada suaminya itu." Kamu hanya menumpang saja di sini.lalu menghilang tanpa jejak dan kabar,dan sekarang kembali tanpa membawa apa pun kamu di sini hanya menjadi beban kami."


Amarah Bian tersulut mendengar semua ucapan istrinya.Indri selalu saja membela Gio tak pernah sekali pun membela dirinya sebesar apa pun usahanya untuk mereka tapi Indri tak pernah melihat semua itu." Banggakan aja terus adikmu yang kaya anjing itu.mau kaya gimana pun kamu selalu belain dia.gue jadi curiga lama-lama apa jangan-jangan Billa bukan anak gue ya?dia anak Gio kan?mengingat kalian bukan saudara kandung,bisa aja diam-diam kalian ngw di belakang gue_"


Plak

__ADS_1


Belum sempat Bian menyelesaikan ucapannya ia terdiam dengan wajah tertoleh ke samping karena kerasnya tamparan Indri.dan bersamaan dengan itu pula Gio yang sedang menciumi pipi istrinya pun di buat mematung di dalam kamar mereka yang memang letaknya bersebelahan.tanpa banyak kata Gio langsung keluar dari kamarnya dengan Ayana yang mengekor di belakang.


"Jaga mulut kamu.berani-beraninya kamu menuduh kami seperti itu.dia adiku,kami adalah saudara sedarah dan sekandung jadi jaga ucapan kamu itu." geram Indri.


"Gi,tahan diri jangan marah." bisik Ayana sembari memegangi tangan suaminya yang berdiri dengan tangan mengepal di depan pintu kamar indri.


Bian tertawa dengan sinis." Adik?adik dari mana?dia itu anak adopsi.ibu bapaknya udah mati,kamu sendiri kan yang bilang kalau dia itu anak pungut?sok-sokan bilang adik.adik ketemu gede?bilang aja kalau kamu sebenarnya ada rasa sama dia gak usah pura-pura deh gue tahu_ "


"CUKUP" bentak Gio beserta tendangan di pintu yang membuat pasangan suami istri itu bungkam seketika.pintu di gedor dengan begitu kerasnya dan Gio memaksa untuk membukanya." BUKA." teriak Gio.


"Gi,tolong kendalikan diri.aku mohon jangan ribut malu sama tetangga,Gi.bicara baik-baik ya." pinta Ayana yang sudah ketar ketir duluan.apa lagi melihat wajah suaminya yang sudah memerah akibat marah.Gio tak mempedulikan Ayana ia terus menggedor pintu memaksa Bian dan Indri untuk keluar.Mira yang sejak tadi ketakutan pun hanya bisa diam tak mampu bicara,apa lagi melihat sang anak yang sedang di Landa emosi.


"Keluar lo,Bian." teriak Gio lagi.


"Ka,jangan di buka pintunya." ucap Ayana pada Indri di dalam kamar ia kawatir akan terjadi duel antara Gio dan Bian.


"Keluar atau gue hancurin ini pintu?." ancam Gio dengan emosi yang meluap luap.


Dan akhirnya meski dengan takut Indri membuka pintu kamarnya." Gi,maafin kaka,tolong jangan seperti ini kita bisa bicara_"


"Ngomong apa tadi lo,anjing?." Gio tak mempedulikan kakanya malah menyerang Bian yang berdiri di belakang Indri.


"Apa?gue ngomong apa?wajar dong gue curiga kalau Billa itu bukan anak gue.tapi anak lo.karena apa?karena kalian sedekat dan selengket itu.dan indri itu suka sama lo" ucap Bian yang mampu menyulut api kemarahan di mata Gio.


"Berengsek." Gio menerjang Bian yang belum siap itu.ia memukuli Kaka iparnya dengan amukan tenaganya yang sekuat banteng.indri,Ayana dan Mira tentu histeris melihat keduanya malah duel di kamar yang tidak terlalu luas itu.Mira berlari untuk membawa anak-anak Gio keluar rumah meski dengan kerepotan ia memanggil kang Aris tetangganya untuk menenangkan anak dan menantunya itu.


"Cukup,Gi.cukup.kamu gak sayang sama aku,ibu,kak Indri dan anak-anak?kalau sayang sama kami tolong berhenti.aku mohon." mohon Ayana kepada Gio yang tengah kesetanan itu.namun usahanya sia-sia Gio terus dan terus saja memukuli Bian,melampiaskan rasa emosinya akan ucapan pria bajingan itu.jika dulu tenaga Bian tidak sebanding dengannya.berbeda dengan sekarang,Gio jauh terlihat lebih kuat dari pria itu.


"Gio.udah ya udah." mohon Ayana dengan tangis bercucuran.melihat itu Gio pun berhenti dan langsung memeluk istrinya. mengecup kepalanya dan mengatakan maaf berkali-kali.


"Maaf." ucapnya sembari mengeratkan pelukannya lalu membawa Ayana ke dalam kamar.sesampainya di kamar ia mengunci pintu dan menangis di pelukannya istirnya itu.


"Ka.." ucap Gio dengan suara lirih dan terdengar pilu yang menyayat hati sang istri." Aku harus gimana?" adunya dengan Isak tangis yang tak bisa di bendung lagi.


"Menangis lah.aku di sini,ada aku di sini." bisik Ayana dengan suara lembut sembari mengusap air matanya yang kembali menderas.Gio tergugu dalam pelukan sang istri,bahunya yang kokoh itu sekarang terlihat rapuh dan bergetar membuat hati Ayana begitu perih.laki-laki yang selalu memujanya ini,saat ini terlihat tak berdaya dengan Isak tangis yang membuat perasaan Ayana tidak karu-karuan.


Usapan lembut tangan sang istri di punggung dan bahu Gio,terasa sangat menenangkan hatinya.lama ia menangis menumpahkan semuanya di dalam pelukan Ayana.sampai-sampai tenggorokannya kering dan sakit karena terlalu lama menangis.perasaan dan jiwa Gio begitu terluka saat ini.bagaimana bisa kaka iparnya yang biadab itu menuduhnya dengan fitnahan keji seperti itu.siapa yang tidak terluka,kedekatannya dengan sang Kaka di tuduh melenceng dan tidak wajar padahal ia menyayangi indri layaknya kaka kandung pada umumnya.namun si biadab itu begitu tega menuduhnya dan indri telah berbuat hal yang menjijikan.


"Tiduran ya.biar gak pusing kepala kamu" ucap Ayana dengan lembut.Gio hanya mengangguk dengan lemah.Ayana membawa suaminya berbaring di kasur agar Gio tidak merasa pusing.ia pun ikut membaringkan diri di samping Gio.dan memeluk suami mudanya itu.tangannya yang lembut itu masih setia menepuk punggung sang suami.jujur saja tangannya saat ini merasa kebas atau mati rasa.Gio menangis terlalu lama karena itu Ayana merasa pegal.


"Merem aja.aku di sini." ucapnya lagi tepat di telinga Gio.lelaki itu memang sejak tadi sudah memejamkan mata.namun sudut matanya masih mengeluarkan cairan bening dan sesekali Ayana menghapusnya.


Di luar masih terdengar ribut.sepertinya Mira dan Indri sedang berbicara dengan tetangganya.Ayana bisa mendengar suara beberapa orang pria yang sepertinya sedang mengintrogasi Bian." Seharusnya kamu tahu diri Bian.tolong jangan membuat ulah terus,kurang apa Gio sama kamu dan anak kamu?kok bisa-bisanya kamu ini selalu mencari masalah dan mengusik Gio?." ujar suara pria yang Ayana dengar.


"Bukan saya yang mulai,Pak.bapak-bapak dan semua orang juga udah tahu kali?kalau bukan saya yang selalu nyerang duluan?Gio itu emosian,suka gak mau dengar penjelasan orang dulu,maen pukul dan nyerang aja." Bian terdengar membela diri membuat Indri melirik sinis pada suaminya itu terlihat sekali wanita itu tengah menahan diri.


"Makanya kamu jangan membuat orang emosi dong." sengit Indri dengan pandangan benci." Bisanya menyulut emosi orang aja."


"Menyulut gimana sih?aku kan cuma ngomong dan wajar dong kalau aku curiga bahwa Billa bukan anak kandungku.karena aku rasa kalau cuma ponakan,Gio gak mungkin sampe segitunya,kedekatan kalian itu gak wajar tau gak?." Bian lagi-lagi terdengar membela diri.

__ADS_1


"Mas,Bian.tolong dong jangan bicara sembarangan kalau gak ada bukti.karena itu bisa menjadi fitnah.seharusnya mas Bian berterima kasih kepada Gio yang sudah rela dan ikhlas membiayai seluruh kebutuhan Billa dan Indri.yang mana itu seharusnya sudah menjadi tanggung jawab mas Bian sendiri.mas Bian gak malu sama Gio,mas?Gio bahkan jauh lebih muda dari mas Bian sendiri,tapi Gio sendiri jauh lebih dewasa secara berpikir dan bertindak ketimbang mas Bian."


"Tolong jangan di ulangi keributan seperti ini lagi,mas.kalau seperti ini terus.mohon maaf kami terpaksa harus mengusir mas Bian dari kampung ini.saya lebih memikirkan seluruh warga sini,dari pada mas Bian sendiri." lanjut bapak-bapak itu membuat Bian membesarkan bola mata.


"Kalau Indri dan Bian masih ingin bersama Indri harus meninggalkan kampung ini dan ikut serta dengan mas bian.maaf aja.kami udah gak tahan dengan sikap dan sifat mas Bian yang sering kali membuat keributan di sini." pak rt beserta kang Aris juga beberapa tetangga Gio,terlihat menghakimi Bian.mereka benar-benar sudah di buat muak oleh tingkah laku lelaki bernama Bian itu.menurut mereka Bian bukan lah manusia yang pantas di beri kesempatan terus menerus.preman pasar itu sering kali membuat ulah dan mencari masalah kepada warga situ mau pun kepada adik iparnya sendiri.


"Ya gak bisa gitu dong,Pak." Bian terlihat tidak terima akan ucapan para bapak-bapak tadi.


"Maaf kami sudah tidak mentolerir sikap mas Bian lagi." ujar pak rt Kemudian berdiri di ikuti para warganya untuk meninggalkan rumah Indri.Indri dan Mira hanya bungkam di buatnya,ibu dan anak itu merasa malu dan sudah tidak punya muka lagi di hadapan para tetangganya.semua itu akibat ulah suami Indri.


"Kamu dengar kan?apa kata mereka semua memang udah jelas.dengan berat hati ibu minta kamu segera meninggalkan rumah seperti beberapa waktu lalu." ujar Mira kepada menantunya itu sebelum menoleh pada Indri." Dan kalau kamu masih ingin bersama,maka ikuti dia tapi Billa akan ibu urus sendiri." Mira kemudian berdiri lalu pergi meninggalkan pasangan suami istri yang sedang perang itu.


"Ibu gak bisa seperti ini ya sama aku?emangnya ibu siapa,bisa ngehina-hina dan ngusir aku kaya gini?." sungut Bian setelah ia berhasil mengikuti Mira ke dapur.


"Sudah cukup,Bian.ibu udah muak sama sikap kamu ini.silakan pergi dari rumah ibu sekarang juga.kamu di sini gak berguna sama sekali hanya membebankan Gio dan Indri,jadi lebih baik kamu pergi dari sini." usir Mira dengan amarah yang menggebu sudah habis kesabarannya menghadapi menantunya yang kurang ajar itu.


Bian tersenyum sinis." Wah ibu mertuaku lagi membanggakan anak pungutnya yang udah berduit itu ya?anak pungut ibu itu hebat iya gak?saking ingin membuat ibu dan Indri kaka tersayang bangga padanya sampai dia rela menikahi nenek-nenek demi uang,rela menggadaikan harga dirinya demi harta.wah aku ikut bangga Bu_"


Plak


Satu lagi tamparan meluncur dari tangan Mira dan mendarat di pipi Bian.pipi dan pelipisnya yang di hiasi bekas jahitan itu karena dulu Bian sering saling membacok dengan musuh.kini memerah oleh tamparan ibu mertua." Jaga ucapan kamu." suara Mira menggelegar di rumah yang tidak besar itu.


"Kalau saja ibu ini seorang lelaki,aku gak akan segan memotong leher ibu mertuaku tersayang ini.dengan celuritku hanya aja aku juga masih punya ibu,dan aku gak akan menyakiti seorang ibu." Bian kemudian duduk di depan tivi seperti biasa langsung membuka kaleng cemilan.ia mulai mengemil dengan santai,layaknya tadi tidak terjadi apa pun.


Indri pergi ke kamarnya lalu mulai melempar pakaian dan barang-barang Bian ke luar." Bawa semua barang kamu dan jangan pernah kembali kesini lagi. jangan temui aku mau pun anakku anggap kami ini udah gak ada."


Bian yang tengah mengunyah rengginang pun seketika terkejut." Apa-apaan kamu ini,Ndri?." kesalnya.namun Indri tak peduli dan langsung mengunci pintu mengurung diri.dan mengurungkan niat untuk menjemput putrinya yang sedang berada di rumah teh Susi.


...☘️☘️☘️🍀🍀☘️...


Ayana terdiam mematung mendengar semuanya dia merasakan seluruh perasaannya tidak karu-karuan.ada segelintir rasa kawatir.bagaiman jika yang di ucapkan Bian itu benar adanya.bahwa Billa memang anak Gio.mengingat Indri dan Gio bukan lah saudara kandung,bisa saja mereka pernah melakukan hubungan terlarang itu.baik di sengaja mau pun tidak.


Mengingat Ayana mengetahui bahwa Gio dan Indri memang tampak saling menyayangi satu sama lain.dan bisa saja kan mereka saling memiliki perasaan.apa lagi Gio bahkan rela melakukan apa pun demi membiayai Billa dan kakanya itu.lalu bagaiman jika Gio memang bertanggung jawab sebagai seorang ayah,bukan lagi paman terhadap keponakannya.dan jika di lihat-lihat wajah mereka juga begitu mirip.


"Nggak,nggak." Ayana menggelengkan kepalanya beberapa Kali.ah,mengapa ia bisa berpikiran sampai sejauh itu." Mungkin aku kebawa emosi ini." gumamnya kemudian.


Terasa Gio menggeliat di dalam pelukannya.dengan cepat Ayana kembali mengusap punggungnya agar suaminya itu bisa tertidur lagi." Jam berapa?." tanya Gio dengan serak dan sangau khas orang yang habis bangun tidur setelah menangis.


"Jam lima." jawab Ayana.Gio tak membalas kemudian pria muda itu bangun dan mendudukan dirinya di kasur dengan pandangan lurus ke depan." udah baikan?"


"Mm" jawab Gio dengan gumaman.lalu pria itu berdiri kemudian meneliti penampilannya di kaca.lalu berjalan ke pintu hendak keluar namun terhenti karena Ayana mencegatnya.


"Jangan emosi kaya tadi.aku mohon,kalau dia macam-macam kamu jangan ladeni dan aku minta sama kamu,tolong jangan bicara apa pun yang bisa menyakiti hati ibu mau pun ka indri.ingat waktu dulu,kita pernah membicarakan ini kan?jika dan kalau kamu memang bukanlah anak ibu maka biarkan semua itu berlalu.yang harus kamu ingat adalah kasih sayang mereka dan ketulusannya dalam merawat dan membesarkan kamu.jangan kamu ungkit soal darah,Gi.karena nyatanya jika satu darah pun belum tentu sedekat ini ikatan dan hubungan kalian."


Ayana berbicara sembari menatapi dalam manik abu-abu suaminya.ia meraih tangan Gio yang terasa dingin." Tolong dengarkan aku.itu pun kalau kamu sayang sama aku. jangan membuat lagi keributan dan memperkeruh semuanya.lusa kamu akan tanding futsal kan?itu berarti kamu harus fokus pada pelatihan.kalau kamu banyak pikiran mana bisa fokus nanti?katanya mau memenangkan turnamen itu supaya bisa membeli pempes Raven dan Vindi?ya udah mending fokus sama turnamen aja.aku tahu memang gak mudah buat kamu,tapi tolong pikirkan lagi."


Mata Gio yang sendu itu menatap mata Ayana begitu dalam,ia tidak tahu harus menjawab apa.Gio hanya terpaku pada bibir tipis yang terus berbicara padanya itu. setelah itu ia tersenyum pada istrinya dan mengangguk walau terpaksa baginya Ayana adalah segalanya ketimbang ia membesarkan masalah yang sedang menimpanya.sebenarnya Gio bukan ingin membesarkan masalah.ia hanya meminta penjelasan kepada Kaka dan ibunya itu tentang apa yang barusan ia dengar.


"Ya.terima kasih udah ngingetin aku." ucapnya sebelum mengelus kepala istrinya lalu mencium kening Ayana dengan sayang.Ayana memejamkan mata merasai kehangatan suaminya meski dalam hati masih kacau,bak baju di untel-untel.

__ADS_1


__ADS_2