
Terhitung sudah empat hari Ayana berada di desa sunda itu.dan hari ini dirinya terpaksa harus pulang karena ketiga anaknya sudah pasti merindukannya,dan ia juga sadar tidak bisa meninggalkan mereka terlalu lama.usai mandi Ayana langsung mengeringkan rambutnya karena sebentar lagi akan berangkat.di depan sana Ajun sudah siap di depan mobil tengah menunggu bosnya keluar dari hotel.sementara tak jauh dari Ayana,Gio tengah duduk di kursi,menghisap roko dengan santai sambil memerhatikan istrinya yang tengah mengusapkan vitamin ke rambutnya yang indah itu.
Ayana menaruh pengering rambut ke dalam koper,setelah itu ia menelisik penampilannya di kaca,Ayana merasa kulitnya sedikit kusam alias gosong karena terlalu lama terpapar sinar matahari. selama di sini ia sering kali menghabiskan waktu di pantai bahkan siang hari saat panas begitu terik.
"Tetep cantik,gak ada yang kurang.kamu mah gak pernah jelek yang." Ayana menoleh dengan perasaan berbunga tiba-tiba pipinya memanas,ah si Giok itu kan memang sering kali gombal.Ayana harus bisa tahan dengan gombalannya yang receh itu.tidak boleh mleyot pokonya dan harus tetap slay dan anggunly.
"Kulit aku jadi kusam,tapi bagus deh biar exotic kaya bule-bule gitu." jawabnya sembari mengusapkan sunblock ke tangan dan lehernya.
"Bagusan gitu malah,soalnya kulitmu terlalu cerah,kaya di cet.untung rambut kamu hitam yang,kalau misal pirang atau coklat gitu.orang bakal ngira kamu albino" Gio terlonjak karena Ayana melemparinya dengan botol air mineral yang sudah kosong.
"Albino kepalamu,kalau di korea atau di china kulit aku ini bagus dan paling banyak di inginkan oleh orang-orang.karena standar kecantikan di sana,selain cantik kulit putih bersih dan juga badan yang langsing."
"Masa?tapi emang bener sih rata-rata cowok sukanya yang pink gitu_Awsas.sakit yang" lagi Gio mengaduh dan kali meringis karena yang melayang ke bahunya itu kotak kacamata.Gio tertawa membuat sang istri makin komat- kamit.lelaki itu mematikan rokonya lalu mendekati istrinya yang sedang melotot sekaligus menahan tawa pada akhirnya." Kenapa?" tanya Gio membuat Ayana mendekus.
"Mulutmu itu."
Segera Gio meraba mulutnya." Kenapa dengan mulutku?perasaan gak kenapa-napa deh?" ujarnya dengan wajah tanpa dosa.Ayana menggelengkan kepalanya ia berdecak dan tak mempedulikan Gio lagi,kemudian segera melangkah mendorong koper sembari menyampirkan tas mahalnya ke bahu.
"Aku aja." Gio dengan segera meraih koper cokelat itu dan mendorongnya.tangan satunya lagi menggenggam tangan Ayana yang bebas.mereka keluar beriringan menuju di mana Ajun berada.sesampainya di parkiran Ajun segera menaikan koper Ayana ke bagasi.ia langsung masuk ke dalam mobil memilih menunggu di dalam untuk memberikan bosnya itu ruang, siapa tau ada yang mau mereka obrolin dulu.
Gio mengelus kedua lengan Ayana dengan lembut sembari menatap istrinya yang begitu cantik dengan blouse berwarna baby blue." Aku janji dua hari lagi aku akan pulang,baik-baik di jalan dan hati-hati Sayang.maaf aku gak bisa ikut nganterin."
"Iya,kamu juga baik-baik di sini,aku tunggu di rumah." Ayana mengedipkan satu matanya membuat Gio langsung terkekeh.
Mobil Alpahrd putih yang di kemudikan oleh Ajun mulai meninggalkan area hotel Gio berdiri di pinggir jalan memandangi mobil yang mulai menjauh.setelah mobil itu sudah tak terlihat barulah ia pergi dari sana dan segera ke pabrik.
...πππππππ...
Gio duduk di kursi pelastik memerhatikan para karyawan yang sedang melakukan proses round up pada mesin rotary yang sudah mereka buat beberapa hari lalu.dan saat ini mereka sedang dalam pengujian mesin besar itu sebelum di kirim pada pemesan.proses round up pada mesin rotary dabarker merupakan proses membuatan log kayu yang masih ada kulitnya.sehingga log kayu bersih dan terbebas dari kulit mau pun kotoran lainnya yang menempel pada lapisan kayu tersebut.log kayu hasil kupasan mesin dabarker ini akan membentuk bulat atau mendekati bulat.sehingga memudahkan untuk pembuatan veneer di mesin rotary dengan jenis lain.
"Bos,kita butuh oli baru ini." ujar salah satu mekanik yang sedang memeriksa tangki oli untuk pelumas yang sudah mulai sedikit.
Mendengar itu lantas Gio berdiri dan mendekat." Berapa drum kira-kira,mas?"
"4 cukup bos.dan pisau pengupas jangan lupa kita butuh empat set juga.yang kemarin udah tumpul.nanti akan mengghambat proses pengupaskan.kalau di paksa nanti gak sempurna.dan kulit kayu biasanya masih menempel kalau sampe pisaunya tumpul." jelas kepala mekanik itu yang di angguki oleh Gio.Gio segera mencatat dan ia mengirimkannya pada Frans dan tak lama ayah mertuanya itu langsung menghubungi Frans langsung meminta Surya mengirim sejumlah uang yang nominalnya sudah pasti tidak sedikit untuk belanja bahan baku mesin yang akan di butuhkan.
Waktu memasuki jam makan siang Gio segera masuk ke kantin.ia butuh penyegaran dan perutnya juga minta di isi beruntung si ibu yang di tugaskan masak di kantin pabrik itu sudah memasak dengan menu yang tak sedikit." Jus mangga ya bu." pinta Gio,lelaki itu langsung mendudukan diri di kursi.
Ibu kantin mengangguk dengan senyum ramah dan segera membuatkan permintaan bosnya." Ini Pak silakan,itu saya ada buat sukun sama cempedak goreng,enak dan masih anget.bapak mau?." tawarnya kemudian masuk ke dalam setelah mendapat jawaban dari Gio dan keluar lagi sembari membawa sepiring sukun dan cempedak goreng lalu menyajikannya di depan Gio.
"Nuhun bu." balas Gio sembari mencicipi gorengan empuk itu.Gio melamun seraya mengunyah sukun dan cempedak goreng ia teringat semalam akan perdebatan kecil dengan istrinya itu.perdebatan kecil namun masih menyimpan rasa tak nyaman di hati Gio hingga saat ini lelaki itu masih merasa tak begitu lega.bermula dari Ayana yang tak sengaja meminjam ponsel Gio untuk melakukan panggilan video call dengan anaknya karena ponselnya sendiri kehabisan daya dan sedang di isi.
Awalnya tidak ada masalah semua berjalan lancar selama panggilan video itu berlanjut namun setelah selesai Ayana tak sengaja menscrol isi chat di ponsel Gio.bukan berarti ia lancang pada ponsel suaminya itu.tapi rasa kepo dan penasaran sekali juga kebetulan memang Gio sedang mandi jadi ia merasa ini waktu yang pas untuk mengintip sedikit apa saja yang ada di dalam ponsel suaminya itu.siapa tahu seperti beberapa waktu lalu tiba-tiba ponsel Gio penuh dengan video panas yang di kirim oleh teman Gio yang iseng dan kalau itu terjadi lagi Ayana akan menghapus semuanya seperti waktu itu.ia tidak suka Gio menyimpan koleksi video laknat itu karena Ayana takut Gio bisa kapan saja membukanya.Ayana berjaga-jaga untuk mencegah hal buruk terjadi.
Ayana mulai memeriksa beberap chat yang nyasar juga dari teman-temannya Gio.ia tak menggubris itu semua dan isi chat di ponsel Gio juga kebanyakan dari karyawan.ia melihat nomor tanpa nama yang menggunakan foto profil wanita muslimah yang hanya di perlihatkan tubuh bagian belakangnya saja.Ayana mulai membaca isi pesan itu.ia terkejut saat melihat tautan undangan di sana dan matanya membelalak melihat mantan pacar suaminya itu akan segera melaksanakan pernikahan.tak lupa Ayana mengecek hostory panggilan di sana ada nomor Amanda dan benar sepertinya mereka sempat mengobrol.ada sedikit rasa curiga di hati Ayana namun ia segera menepis rasa itu.ia percaya Gio tidak mungkin macam-macam.mengingat suaminya itu begitu ketus setiap kali bertemu dengan mantannya itu.
"Yang,mau makan di kamar apa keluar?" tanya Gio yang baru keluar dari kamar mandi itu.
Ayana menoleh namun tak menjawab ia hanya menatap Gio." Kenapa?" suaminya Ayana itu mendekat lalu duduk di sampingnya.
"Mantan terindahmu mau nikah ya,kok gak bilang-bilang aku?" ujar Ayana dengan terus menatap Gio.Gio tak kaget sama sekali,ia sudah menduga istrinya itu akan segera mengetahui,meski sedikitpun ia tak berniat memberi tahu Ayana karena tidak penting sama sekali.
"Oh iya,kemarin dia ngundang tapi aku gak mau datang."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Gapapa,cuma males aja ngapain coba? banyak kerjan yang lebih penting."
"Oh,kirain mah takut baper di sana.terus kaya di media sosial gitu banyak laki-laki atau perempuan yang datang ke nikahan sang mantan,terus saling pelukan dan menangis mengabaikan pasangannya masing-masing."
"Itu mah orang-orang gila sih.ngapain coba kaya gitu?"
"Ya siapa tau kamu juga kaya gitu nanti."
"Ngaco,yang.kurang kerjaan banget."
Ayana hanya menaikan bahunya acuh lalau ia mulai menjelajahi ponsel Gio lagi.ia mengabaikan Gio yang sedang memakai baju santai dam kemudian meringsek di sebelahnya.lelaki itu tiduran di pahanya dan mencumi perutnya seperti biasa Gio suka mendusel." Udah gak usah di pikirin aku gak akan datang ." ujar Gio mencoba menghilangkan rasa kawatir di hati Ayana yang sepertinya sudah sejak tadi mencokol di sana.
Ayana meletakan ponsel Gio di atas nakas ia berdiri dan duduk di depan cermin hendak membersihkan wajahnya." Kita datang nanti ya." ucapnya tanpa melihat ke arah Gio.
Gio menggeleng meski Ayana tak melihat." Gak,ngapain coba."
"Ya datang aja sih,Gi,aku pengen puding."
"Nanti aku minta ka Indri buatin.puding doang ngapain sampe ke hajatan segala"
"Ish,aku pengen puding pengantin, titik." tandas Ayana membuat bahu Gio melemas.
Gio langsung menggelengkan kepalanya." Mana bisa nolak keinginan tuan putri." gumamnya sambil meneguk es jeruk hingga tandas.akhirnya ia pasrah semua terserah Ayana saja asal perempuan itu tidak membuat ulah setelahnya.
...βββββ...
Hari berlalu begitu cepat dan Gio sudah kembali ke jakarta.begitu ia sampai anak-anaknya langsung pada menempel seperti cicak saja.bahkan si kecil dua-duanya tidak ingin lepas dari sang ayah semuanya bergelayut sampai Gio kesusahan sendiri.
"Gapapa oma,ayah gak capek kok,gitu dek." suruh Gio pada anaknya dan langsung di turuti oleh mereka.
Monica hanya menggeleng akhirnya ia membiarkan saja,memilih membantu Ayana membuat makanan untuk siang ini. setelah semuanya selesai ia memanggil suami dan menantunya itu untuk makan siang.Monica memilih makan di gazebo samping kolam ikan yang berada di belakang rumahnya itu.
"Berarti ini cumi sekilonya kena 25 ribu doang ya Gi?" tanya Monica pada Gio mereka sedang membahas harga ikan di pasar daerah tempat Gio bekerja.
Menantu Frans itu mengangguk." Iya Mah, murah banget.itu aja tuna sama tenggiri cuma 60 ribuan udah segede Vindi gedenya.gak sampe seratus ribu,coba kalau di sini udah berapa harganya mungkin bisa ratusan."
"Bener,nanti minta orang sana untuk anter ikan kesini sesekali Gi.ikan sangat bagus untuk pertumbuhan anak-anak." Frans meminta pada menantunya itu yang langsung di turuti oleh Gio.
...βββββ...
Hari ini tepatnya pernikahan Amanda di langsungkan.sebetulnya Gio tidak peduli dan tidak ingin datang kesana.tapi karena Ayana yang memaksa untuk datang mau tidak mau ia menurut saja,dan sekarang ini mereka tengah dalam perjalanan mungkin sekitar dua menitan lagi sampai di tempat acara.Ayana melirik suaminya ke samping saat Gio mendengarkan arahan dari tukang parkir untuk memarkirkan mobil ketika mereka sudah sampai di tempat acara. setelah Gio sudah selesai lelaki itu mencabut kabel yang terhubung ke ponselnya.di rumah ia lupa mencharge ponselnya dan lupa membawa power bank Ayana kembali melirik lagi hingga Gio yang sedang sibuk itu menyadari dan menoleh.
"Kenapa?"
Ayana menggeleng." Gapapa.dekornya mewah dan bagus ya?" Ayana melihat ke depan di sana terlihat dekorasi pesta begitu mewah terlihat dari luarnya saja sudah semewah itu,apa lagi dalamnya meski di gelar hanya di rumah.
"Bagusan juga dekor nikahan kita." balas Gio sekenanya kemudian ia memasukan ponsel dan rokonya ke dalam tas tangan." Tapi kalau untuk di gelar di rumah,iya ini termasuk mewah sih." lanjutnya santai.
Ayana mengangguk membenarkan." Gimana perasaanmu sekarang Gi?" Gio yang sedang membuka seatbelts langsung menoleh mendengar pertanyaan dari Ayana.
"Biasa aja,emang harusnya gimana,Yang?" Ayana mengerucut Gio malah membalikan tanya." Kalau kesini cuma nyari penyakit dan berujung kita bertengkar.lebih baik kita pulang lagi aja yang.aku gak mau setelah ini kita malah ribut.lagian gak penting juga datang kesini." Gio tak mengalihkan pandang tetap menatap Ayana yang sedang mengerenyitkan dahi itu.
__ADS_1
"Kamu nganggap aku tukang cari penyakit ya Gi?padahal aku datang kesini pengen silaturahmi aja sebagai tetangga.bukan sebagai mantanmu.aku nganggap Amanda adalah tentangga kamu,jadi gak ada salahnya kita datang lagi pula udah di undang juga kan" Ayana melirik ke samping saat rombongan keluarga besar besan haji Nurmalia tiba dengan iring-iringan sebelum kembali fokus ke Gio." Kalau kamu gak mau datang ya udah kita pulang aja.kamu bener,takutnya aku malah cari penyakit di sana." lanjutnya dengan nada sedikit pelan.
Gio menghembuskan napas jadi serba salah kalau sudah begini." Maaf.bukan gitu maksud aku," Gio menyamping meraih tangan Ayana kemudian menggenggamnya sembari menatap jatuh ke dalam manik jernih milik istrinya itu." Jadi gini,Sayang.kalau kita datang takutnya terjadi hal yang nggak-nggak nanti.bukan menganggap kamu tukang cari penyakit,bukan.cuma kamu tau sendiri kan kalau keluarganya dia masih ngemusuhin aku?aku tau aku salah dan aku ngerasa memang pantas di perlakukan demikian.tapi aku gak mau dan gak akan terima kalau itu terjadi ke kamu.takutnya kamu yang akan jadi sasaran keluarganya dan orang-orang yang gak tau apa-apa di sana." jelas Gio dengan pelan agar mudah di pahami dan istrinya tidak tersinggung.
Ayana mengangguk kemudian tersenyum." Iya aku paham.tapi ada baiknya kita datang aja tanggung udah di sini kan,lagi pula kita harus mampir dulu ke ibu,aku kangen Billa."
"Oke,hayuk turun." Gio mengajak Ayana turun ia menunggu sebentar karena istrinya tengah merapikan penampilannya.setelah memastikan Ayana sudah selesai,mereka turun dan Gio langsung memberikan tangannya untuk Ayana gandeng.mereka berjalan melenggang memasuki tempat acara.keduanya menjadi pusat perhatian hampir semua orang.jujur saja Gio gugup bukan main melihat orang-orang menatapinya sampai sebegitunya.apa dirinya ini pernah viral pada masanya seperti artis tiktak atau apa.
"Selamat datang bapak dan ibu,silakan." seorang pagar ayu mempersilakan Gio dan Ayana untuk tanda tangan sebagai tamu undangan.pesta hajatan di kampung Gio memang masih biasa dan seperti jaman dulu masih memakai adat tahun 2000an.
Gio dan Ayana tak henti menebar senyum saat orang-orang menyapa,apa lagi para tetangga-tetangganya itu antusias sekali melihat Ayana dan memiliki kesempatan basa-basi dengan wanita cantik itu.bahkan tak sedikit dari mereka malah meminta pada foto dengan Ayana." Nyalamin pengantinnya dulu yang." ajak Ayana saat Gio selesai berbincang singkat dengan teman sepekerjaannya dulu di bengkel mas Tito.Gio mengangguk dan tersenyum lalu menggandeng Ayana menuju pelaminan di mana pengantin berada.
Keduanya menaiki pelaminan yang memiliki empat anak tangga.kemudian Ayana tersenyum saat berdu tatap dengan kedua mempelai.Amanda yang baru menyadari kedatangan mereka itu terlihat terkejut karena sejak tadi ia fokus menyalami para tamu hingga tidak menyadari kalau Gio sudah berada di hadapannya.Ayana sedikit mendorong Gio agar suaminya yang lebih dulu bersalaman.
"Gi?" sapa Amanda dengan suara pelan hampir tidak terdengar apa lagi dengan suara riuh dari tamu-tamu.dan seketika suara-suara yang tadi ramai kini seakan mendadak sedikit hening saat Gio berada di atas pelaminan.hanya ada suara anak-anak saja dan tamu-tamu jauh yang tidak tahu menahu tentang mereka.
Gio tersenyum dan mendekat lalu menyodorkan tangannya pada Amanda meski sedikit lama Amanda kemudian menerima uluran tangan Gio dan menyambutnya dengan baik.Kemudian Gio memeluk Amanda untuk sekedar formalitas saja." Selamat ya,semoga pernikahan kalian langgeng dan samawa sampe maut memisahkan." ucap Gio sembari menepuk dua kali punggung Amanda dengan pelan.
"Makasih Gi." suara Amanda terdengar gemetar menahan tangis tangannya bahkan sempet hendak membalas pelukan Gio dengan erat.namun ia sadar selain pasangan masing-masing semua mata tengah menyorot pada mereka.
Gio melepas Amanda kemudian beralih pada Raka dan melakukan hal sama." Selamat Kha,semoga samawa dan langgeng ya."
"Iya makasih." balas pria itu seadanya namun Gio tak ambil pusing.
Ayana maju dan menyalami Amanda tanpa memeluk." Selamat ya Mbak.samawa sampe kekek nenek." ia tersenyum pada mantan lekasih suaminya ini.namun gadis itu seakan benci padanya ia hanya mengangguk tanpa membalas senyum.
"Iya,makasih." balasnya dan berusaha memaksakan senyumnya.
"Selamat mas.samawa ya." ujar Ayana pada Raka saat ia menyalami lelaki itu.ia sedikit terkejut saat lelaki itu menatapnya dengan sedikit nakal.
"Makasih Kak." balas Raka dengan mata yang terarah pada manik Ayana sepenuhnya.selanjutnya mereka di minta untuk foto bersama.Ayana segera menyela saat Amanda terlihat akan berdiri di samping Gio.ia tak akan memberikan celah untuk wanita yang tidak punya sopan santun ini.
"1,2,3,oke." arah sang fotograper saat mereka sudah siap berpose.Ayana dan Gio terlihat senyum ke arah kamera begitu juga Raka.namun berbeda dengan Amanda yang terlihat datar saja.darah Amanda mendidih saat melihat tangan Gio merangkul pinggang istrinya dengan posesif.
"Yang,hayuk." Gio menggandeng istrinya turun lalu mereka di persilakan duduk dan di minta mencicipi hidangan." Mau apa Yang?" tanya Gio karena ia akan mengambilkan makan barang kali Ayana malas.
"Buah aja,sama rujak serut tuh aku lihat ada rujak di sana." pinta Ayana sambil menunjuk jejeran rujak serut dalam cup kecil dengan dagunya.
"Pudingnya nggak?" tawar Gio membuat Ayana tertawa sambil menepuk pahanya.
"Nggak ah,itu aja."
"Katanya itu adalah alasan utamnya kesini karena puding pengantin." decak Gio dan lagi membuat istrinya itu tertawa-tawa.
"Iya itu alesan awal.tapi setelah ini berbuah pikiran." kilah Ayana membuat Gio menjawil pipinya sebelum ke tempat makan.setelah itu ia kembali dan memulai menikmati makanan dengan Ayana.
Keduanya menjadi perhatian mempelai. Raka memandangi Ayana dengan sangat intens ia merutuk dalam hati." Jadi istrinya Gio ini cewek yang gue incer?sialan.gue kira dia benar menikahi tante-tante ternyata dugaan gue salah." Raka meremat gelas air mineral yang telah ia habiskan airnya." Pantes aja muka si bedebah itu tetap pongah.ternyata istrinya jauh dari bayangan gue?sial.kalau begini untuk apa gue menikahi betina ini," Raka melirik Amanda yang juga sama tengah menatapi sepasang suami istri di depan sana dengan wajah sedih membuat Raka mual.
"Cih,bahkan si tolol ini gak bisa move on." ia mendecih melirik Amanda dengan sinis tanpa wanita itu ketahui." Gak ada di kamus gue mungut bekas orang,apa lagi bekas dia,najis." Raka kembali mengumpat ia menyesali semuanya." Gue gak bisa terima semua ini." Kembali Raka meremat gelas kosong itu sampai benar-benar tak berbentuk lagi dengan pandangan yang terus terarah pada Gio.
Raka menyikut pinggang Amanda dengan sikutnya membuat perempuan itu menoleh." Apa?"
Mendengar itu Raka kembali mendecih." Bahkan di hari pernikahan kita aja lo masih terang-terangan menunjukan sikap kalau lo masih cinta sama dia.cih,murahan." Amanda menegang mendengar semua itu ia mati-matian menguasai diri dengan baik sebelum ia bicara Raka sudah kembali menyela." Lihat dia bahagia kan sama istrinya,sedangkan lo?lo cuma perempuan yang menyedihkan." Raka kembali membuat hati Amanda bergemuruh hawa panas.ia senang melihat perempuan itu semakin panas.
__ADS_1
"Istrinya cantik dan langsing,udah gitu awet muda lagi.sedangkan lo?paha aja segede gedebong pisang,ck." usai mengatakan itu yang membuat perasaan Amanda seketika hancur.lelaki itu pergi dari pelaminan dengan alasan pada orangtuanya ingin memejamkan mata sebentar.mati-matian Amanda menahan air matanya di tempatnya kini duduk.saat ada dua orang tamu dan Amanda segera berdiri,dua tamu itu menyalami dan mengajaknya sedikit basa-basi perempuan itu bahkan tak mampu mengangkat suara karena ucapan Raka barusan.