Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
Kelahiran Baby B & Ending


__ADS_3

Disebuah ruang persalinan tampak seorang wanita tengah berjuang melahirkan bayi dalam kandungan nya.


Disampingnya sang suami dengan semangat 45 memberi dukungan pada istrinya sambil mengenggam tangan wanita itu.


"Ayo Nyonya, tarik nafas. Lalu hembuskan!" perintah sang dokter sambil menyemangati perempuan tersebut.


"Ahhh Dokter kenapa sakit sekali?" pekiknya tak tahan menahan sakit nya.


"Ayo, Ayang. Kau pasti bisa. Sebentar lagi baby-nya keluar. Ingat saja wajahku ya," celetuk yang suami.


"Ck, ini semua karena ulahmu, Bas. Kau selalu meminta jatah tiap malam begini 'kan jadi nya?" gerutunya sambil mengejan beberapa kali.


"Itu namanya kenikmatan, Ayang. Sudah jangan mengomel terus. Ayo fokus berteriak!" seru sang suami


"Aaaaaaaaaaaa."


Tangan wanita itu menjambak rambut suaminya. Sakit luar biasa.


"Aaaaaaaaaaa."


"Owe owe owe owe owe owe."


Beriringan dengan teriakkan Bastian karena jambak kan Bee pada rambutnya, tangisan bayi tampan nan munggil juga ikut menggema dan saling bersahutan.


Bee ngos-ngosan. Nafasnya seolah ingin habis bersama lahir putra pertamanya.


"Selamat Tuan, Nyonya, bayi Anda berjenis kelamin laki-laki."


Sang dokter memberikan bayi yang sudah dibungkus lampin setelah di bersihkan pada Bastian.


Bastian menyambut nya dengan mata berkaca-kaca bahagia. Akhirnya dia sah menjadi seorang ayah. Tak dia sangka pria penjahat kelamin seperti dirinya di diberikan kesempatan luar biasa untuk bisa merasakan betapa bahagia nya menjadi seorang ayah.


"Ayang ini putra kita," ucap Bastian berkaca-kaca memberikan putranya pada sang istri.


"Bas." Bee menyambut putranya dengan mata yang sudah mulai kabur akibat air mata.


"Bas, ini putra kita?" ujarnya setengah tak percaya


"Iya sayang. Ini putra kita," sahut Bastian mengusap kepala istrinya.


"Silahkan diberi ASI, Nyonya!" ucap sang dokter.


"Baik, Dok."


Kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kebahagiaan yang paling berharga adalah ketika bisa menjadi orang tua.

__ADS_1


"Ayang kenapa dia kuat sekali minum ASI nya?" protes Bastian seolah tak suka jika putranya itu menghisap bukit kembar istrinya.


"Tentu saja dia lapar. Kau ini bagaimana sih, Bas?" cetus Bee. "Makan yang banyak ya anak Mommy biar cepat besar," ujarnya sambil menyusui anaknya.


Bastian memutar bola matanya malas. Dia punya saingan lagi untuk merebut kasih sayang istrinya.


Setelah bagian bawah Bee dibersihkan, wanita itu dipindahkan ke ruangan rawat inap VVIP. Bastian tak main-main, dia menyiapkan ruangan mewah untuk istri dan putranya. Tentu saja sultan sepertinya tidak ada yang sulit jika bersangkutan dengan uang.


Tampak Eric dan Laerra disana yang sedang saling berebut menggendong cucu mereka. Apalagi anak Bastian adalah cucu pertama mereka.


Ada Dalina bersama Belvi dan Burgha juga di sana yang turut bahagia atas kelahiran bayi munggil Bastian.


Ada Bara dan Bara juga serta Bryan yang pulang ke Indonesia setelah mendapat kabar bahwa adik iparnya sebentar lagi akan melahirkan. Cukup lama Bryan menenangkan hatinya disana. Walau tak sepenuhnya lupa tetapi dia berusaha untuk terus bergerak maju menjalani hidupnya.


Bastian mendengus kesal karena putranya menjadi rebutan. Belum juga besar bahkan baru juga berusia satu hari tetapi sudah direbutkan.


"Apa kalian sudah siapkan nama untuk putra kalian?" tanya Eric sambil menggendong cucunya. Cucu tampannya.


Bastian dan Bee mengangguk dan saling melihat sambil tersenyum.


"Brino Schweinsteiger," sahut keduanya serentak.


"Nama yang bagus," ucap Laerra mencium wajah cucunya.


"Selamat ya Bas, Bee. Semoga kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan. Rawatlah anak kalian dalam kasih, agar kelak dia pun bisa menabur kasih pada orang lain," pesan Dalina.


Kebahagiaan menyelimuti pasangan suami Istri itu. Pasangan yang baru saja sah menjadi orang tua. Apalagi kelahiran putra mereka disambut hangat oleh semua anggota keluarga.


Perjuangan Bee selama sembilan bulan sepuluh hari telah berakhir. Meski menderita karena mengidam. Namun, Bee tak pernah menyesal. Dia justru bahagia karena bisa melahirkan bayi setampan putranya.


Begitu juga dengan Bastian, meski tersiksa karena mengidam istrinya dan sempat mengeluh beberapa kali. Namun, akhirnya Bastian menuai kebahagiaan yang sesuai dengan penderitaan nya.


Menatap bayi tampan berwajah campuran itu membuat hati Bastian menghangat. Kadang dia beberapa kali bertanya, apakah dia sedang bermimpi atau hanya berkhayal? Tak di sangka pernikahan atas perjodohan tersebut telah membawanya pada titik kebahagiaan. Bastian beruntung bisa menjadi suami Bee karena dari sang istri dia belajar banyak hal tentang kehidupan.


Bee juga tidak keberatan dengan masa lalu Bastian, apalagi saat suaminya itu memutuskan meninggalkan dunia hitam dan fokus pada pekerjaan dan kuliahnya serta peran Bastian yang semakin bertambah yaitu menjadi seorang ayah.


"Bee, selamat ya. Dia sangat menggemaskan sekali!" seru Rara


"Terima kasih, Ra," sahut Bee. "Semoga kalian juga segera di karuniai momongan," ucap Bee dengan senyuman hangatnya.


"Amin," jawab keduanya kompak.


.


.

__ADS_1


Beberapa tahun kemudian.....


"Ayang," renggek Bastian.


"Kenapa, Bas?" tanya Bee melirik suaminya yang kesusahan memasang toga di tubuhnya.


"Bantu," renggeknya manja.


Bee tersenyum, dia sedang menyuapi putranya yang sudah berusia empat tahun itu. Apalagi anaknya sangat aktif dan nakal, jadi dia harus menjadi seorang ibu yang ekstra menjaga sang anak.


"Sebentar." Bee meletakkan piring tempat makanan putranya.


Bee membantu Bastian memasang toga di tubuh lelaki itu. Setelah perjuangan panjang dengan segala pengorbanan antara waktu, uang, tenaga dan pemikiran. Hari ini, Bastian menuai hasil dari jerih payahnya selama kurang lebih empat tahun.


Mengemban tugas peran sekaligus, menjadi seorang suami, ayah, pekerja dan mahasiswa bukanlah hal yang mudah. Bastian harus pandai membagi waktu antara dirinya dan keluarga. Untung saja dia memiliki seorang istri yang dewasa dan selalu mengayomi dirinya ditengah kesibukan.


"Ayang," panggil Bastian yang menatap istrinya dengan cinta.


"Iya, Bas?" Bee tersenyum.


"Ck, kita menikah sudah lebih dari 5 tahun tetapi kenapa kau malah masih memanggil namaku? Bagaimana nanti kalau Baby B mendengar lalu malah memanggil aku dengan nama juga," protes Bastian.


Bee terkekeh, tetapi untungnya putra yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang itu bisa memilah.


"Lalu, aku harus memanggilmu apa?" tanya Bee memperbaiki bagian leher suaminya. Dia mengenakan kebaya yang pas di tubuh rampingnya.


"Panggil sayang juga boleh," ucap Bastian mengedipkan matanya jahil.


Bee tersenyum, "Baiklah, Sayang," ucap Bee penuh penekanan walau terasa canggung.


"Terima kasih, Ayang. Aku mencintaimu."


Cup


"Bas," renggek Bee. "Brino lihat," ucapnya.


Bastian terkekeh lalu menatap kearah anaknya yang tampak bingung saat melihat sang ayah mencium bibir sang ibu.


"Son, kau tidak boleh mengintip." Bastian mengangkat tubuh anaknya lalu menggendong pria tampan tersebut.


"Ayo, yang lain sudah menunggu," ajak Bee.


Ketiganya keluar dari kamar. Bastian sudah lengkap dengan toga yang membungkus tubuh kekarnya. Hari ini akan menjadi sejarah perjuangan selama kurang lebih 4 tahun.


**T-A-M-A-T**

__ADS_1


Sampai bertemu di lain cerita......


__ADS_2