Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
114


__ADS_3

Sore ini kebetulan malam minggu Ayana mengajak Gio dinner double date katanya dengan Aneska dan Rehan.sejak seminggu yang lalu perempuan beranak dua itu memintanya untuk makan malam bersama di restoran milik artis ternama yang kebetulan sedang ramai di bicarakan oleh selebgram, karena pelayanan yang super memuaskan dan makanannya yang enak.meski awalnya Gio menolak karena minggu ini dia ada pekerjaan lain yang sama sekali tak bisa di tinggal.


Selama dua hari kemarin Gio meliburkan diri karena mereka pergi untuk merayakan ulang tahun Ayana di tempat wisata.tapi bukan Ayana Himawan namanya jika keinginannya tidak terpenuhi.ia membujuk sang ayah agar mendesak Surya supaya ada yang menggantikan Gio.


"Anak-anak di bawa nggak? " tanya Gio sambil memakai sabuk hitam yang membelit pinggangnya yang kekar itu.memasuki usia 30 tahun Gio terlihat makin hot dan matang.


Ayana memoles dulu lipstick merah ke bibir tipisnya sebelum menjawab." Nggak dong. rame nanti yang ada.pusing aku,apa lagi kalau udah di satuin sama anak Aneska. beuh," katanya,memang sudah sepakat dengan Aneska mereka tak akan membawa anak-anak agar lebih fokus mengobrol. masalahnya anak-anaknya super aktif dan berisik apa lagi kalau sudah di satukan dengan Renesa dan Hansel.kedua anak Aneska itu super duper aktif dan tidak bisa diam kerap kali membuat kepala sang ibu hampir meledak.


"Kirain di bawa,Jei pasti ngambek tuh soalnya semalam dia bilang kalau bunda pergi dia mau ikut.nah sekarang pasti ngamuk kalo lihat kamu keluar."


"Makanya aku duluan keluar nanti pergi lewat samping." kata Ayana membuat Gio menggeleng.Ayana memang sering kali pergi diam-diam agar Jeivano tak curiga. masalahnya anak itu selalu ingin ikut kemana pun bundanya pergi.


"Yang,yang.kalo orang yang gak tau pasti mikir kamu mau pergi selingkuh." Gio tertawa melihat Ayana mendelik." Habis pergi diam-diam gitu kaya orang mau selingkuh kan?."


"Cepat,keburu telat nanti." ajak Ayana.Gio tertawa dan cepat-cepat merapikan rambutnya.


Di restoran yang temanya korean food yang berada di kawasan karwaci tepat berada dekat dengan tempat tinggal Gio.kini tiga pasangan tengah kumpul sembari menyantap beberapa hidangan pembuka yang di sajikan oleh pelayan.sebelum makanan utama jadi. ada tteobokki semua orang sudah tahu pastinya makanan yang satu ini.tteobokki ini adalah makanan yang bahan bakunya dari tepung beras.biasanya di masak dengan kuah merah yang kental yang di taburi dengan biji wijen dan lelehan keju mozzarella di atasnya.


Lalu ada hidangan kedua bernama mandu, mandu ini adalah makanan berupa pangsit yang terbuat dari adonan tepung yang berisikan daging berbumbu kemudian di kukus.hidangan ketiga ada pajeon,nah yang satu ini merupakan campuran tepung dan sayur kalau di indonesia sendiri kita menyebutnya bakwan karena bentuk dan bahannya hampir sama.kemudian yang keempat ada gamjajorim nah yang terakhir ini merupakan baby kentang yang di bumbui dengan aneka kecap asin dan madu kemudian di panggang di teplon hingga matang dan kecoklatan.


"Ini bos helm lama bener sampenya." keluh Giselle karena sejak tadi dia sudah lama menunggu di sana.ia dan Jullian yang pertama kali tiba di resto tersebut.


"Kayanya kucing-kucingan dulu deh sama si bontot.biasa kan gitu kalau mau ketemuan gini." ucap Aneska yang lebih banyak tahu bagaimana kehidupan Ayana sehari-harinya. karena dia yang paling sering ketemu dengan sahabatnya yang satu itu.berbeda dengan Giselle yang sudah menetap di singapur dan Cindy yang memutuskan ikut sang suami tinggal di luar pulau.


"Asalamualaikum." ucap Gio saat sudah menemukan meja yang berisikan teman Ayana.serempak mereka menjawab dengan senang karena yang di tunggu-tunggu akhirnya sampai juga.Gio masuk sambil menggandeng tangan Ayana yang langsung mendapat godaan dari para sahabat istrinya itu.


Ayana melotot kaget saat mendapati siapa yang duduk di sebelah Aneska dan Rehan.di sana ada Cindy dan Giselle dan juga Roland suami dari Cindy.tak hanya itu belum sempat membuka mulutnya kemudian satu pasangan lagi datang ada Devan dan istri yang sedang hamil besar langsung menyalami tangan mereka.


"Apa kabar kalian sehat-sehat aja kan?" tanya pria itu di ikuti sang istri.


"Alhamdulilah,mas.kalian bagaimana?" jawab Gio begitu ramah seraya menyalami keduanya.


"Puji tuhan lebih dari baik.ini lihat udah melendung lagi.rencana begitu dia lahir gue pompa lagi biar banyak anak kaya lo." balas Devan yang sontak saja mendapat cibiran dan tawa ledekan lainnya dari mereka.


Gio hanya mesem-mesem saja sudah biasa baginya mendapat godaan-godaan seperti ini. bahkan saking seringnya kalau tidak mendapat godaan seperti ini Gio merasa ada yang kurang dan heran sendiri.


"Ini sih gila,gue kaya lagi mimpi." Ayana menepuk pipinya yang langsung mendapat kekehan dari yang lain.


"Surprise gak,Ay?" tanya Aneska yang di angguki Ayana dengan cepat.


Belum sempat Ayana duduk setelah di buat kaget oleh kedatangan Cindy dan Giselle. kemudian terdengar lagu ulang tahun yang di nyanyikan oleh Jullian serta petikan gitarnya yang merdu di susul Jeniper Batarico sambil membawa kue tart berwarna oren dengan princess belle di atasnya.


"Ini apaan? " mata Ayana berkaca melihat sekelilingnya semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.lalu dia melihat Gio yang tersenyum padanya sambil bernyanyi pelan.


"Selamat ulang tahun,bunda Aya.segala doa terbaik untukmu.semoga panjang umur serta berkah dan langgeng terus pernikahan kalian ya." ucap Giselle sambil menyodorkan kue yang tadi beralih padanya dari tangan Jeniper.


"Aminn." sahut semuanya terutama Ayana dan Gio.


"Ayo make a wish." suruh Aneska.


Ayana menutup mata dalam hati ia meminta pada tuhan supaya di berkati umur panjang dan kesehatan serta kesabaran dalam menghadapi segalanya.terutama saat mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya.Ayana meminta pada tuhan agar ia selalu bisa seperti ini sesekali berkumpul bersama teman.dan tak lupa tentunya selalu bersama keluarga tercinta.


"Gue gak tau mau ngomong apa,pokonya pengen nangis." ujar Ayana setelah meniup lilin,dirinya begitu terharu mendapat perhatian dari para sahabatnya ini.ia ingat kapan terakhir kali merayakan ulang tahunnya kalau tidak salah sepuluh tahun yang lalu sebelum pernikahannya bersama Gio.dan baru merasakannya lagi hari ini karena sebelum-sebelumnya hanya di rayakan bersama keluarga saja di rumah karena selalu repot dengan urusan masing-masing.tapi kalau tidak salah pernah juga bersama mereka tapi tidak lengkap seperti sekarang ini walau tanpa anak-anak.


"Ya gak usah ngomong apa-apa kalau gak tau mah.makan aja kita." ucap Jullian yang langsung mendapati cibiran dari yang lain.


"Makan mulu lo." ujar Cindy.

__ADS_1


"Tau nih koko-koko singapur." timpal Aneska.


"Pokonya terima kasih untuk semuanya ya, terutama untuk kaka-kaka di sini." ujar Gio setelah mereka mencicipi kue ulang tahun.


"Sami-sami." sahut mereka serempak.Ayana menoleh pada Gio apa benar suaminya ini tidak tahu menahu kalau akan ada Surprise begini.mustahil rasanya kalau Gio tidak tahu dan sudah pasti terlibat dalam acara Surprise ini.


"Aku di kabari sama ko Jull,Yang.kalau sama yang lain enggak." jelas Gio saat Ayana menatapnya hendak bertanya lebih dulu ia jelaskan.


"Serius?." tanya Ayana tak percaya.


"Hooh ih,lagian emang kami suka kontak sama brondong elo?kagak woy." ucap Cindy yang selalu menaruh harapan pada Gio agar suatu saat bisa mencium rahang lelaki itu,eh becanda loh ini.


"Iya,iya gue percaya.tapi sama lo mah nggak." balas Ayana membuat Cindy mendelik.


"Makan dulu." ajak Aneska setelah melihat Rehan yang baru keluar dari kamar mandi. setelahnya mereka bercakap-cakap sambil menikmati berbagi makanan yang memenuhi meja yang mereka kelilingi itu.


Setelah selesai makan para lelaki mengobrol dan merokok.kemudian setelah bercakap ringan Cindy bersama suami pamit lebih dulu karena ibu mertuanya akan kembali ke kotanya setelah menginap di rumahnya.


"Bye.gue bakal kangen lo banget Yaya. sehat-sehat sayang bahagia terus ya sama suami dan keluarga kecil lo.kalau suatu saat nanti gue punya anak pokonya kita besanan. gue gak mau tau harus besanan." ucap Cindy dengan air matanya yang merembes.tapi meski begitu dia tertawa karena mereka menertawakannya.


"Makanya sekarang cepet punya.biar kalau perempuan masih ke kejar sama anak bujang gue.kalau cowok gak mungkin secara Jemi dan vindi udah gede." sahut Ayana sama dengan Cindy air mata perempuan itu juga merembes.


"Gapapa lahir cowok juga.nanti kan sama Jemi atau Vindi biar kaya lo dan Gio.atau Neska dan Rehan_hahahahha." Cindy tertawa karena Aneska yang kebetulan dekat dengannya itu menggeplak tangannya.


"Lagi sedih-sedihnya gini,lo malah ngelawak." katanya sewot sambil menyusut sudut matanya membuat Rehan mengulas senyum.


"Doa yang sama buat lo dan keluarga ya. jangan sedih apa pun pilihan lo,asal lo dan pasangan bahagia,udah itu aja." ujar Ayana sambil mengelus punggung Cindy dengan sayang.sahabatnya yang satu ini tak henti mendapat cibiran dari beberapa orang karena memilih dan memutuskan untuk childfree. bukan tanpa alasan dia memilih jalan itu, Cindy sadar betul sebagai manusia yang merasakan emosinya tidak normal naik turun ia lebih memilih untuk tidak punya anak. karena tak ingin anaknya yang menjadi korban dari emosinya yang kadang tidak stabil itu.


"Iya,udah ah.gue jadi sedih lama-lama. kampret lo,Ay.kalau gini gue jadi pengen nangis di pelukan Gio." Cindy tertawa karena Ayana mencubit pundaknya.


"Udah ah balik lo sono." katanya sambil terkekeh.


Sangat jarang ada manusia macam mereka ini.di tambah Aneska dan Cindy mendapatkan pasangan yang sama dengan circle mereka. jadi memungkinkan mereka akan tetap sama seperti ini hingga tua nanti.


Acara haru dan menggelikan itu berakhir saat Cindy pamit dari sana.kemudian di susul Jeniper yang kebetulan sugar daddynya sudah datang menjemput.rupanya bencong satu itu telah menikah dengan pria bule dari Canada mereka juga telah di karuniai satu anak laki-laki,bentar.lah anaknya lahir dari mana itu,dari ingsang bukan,tenang,tenang, bukan dari insang apa lagi dari pori-pori. Jeniper mengadopsi dari panti kok pemirsah.


"Bye semuanya.Jeni duluan ya,kasian Nelson nya kami." katanya seraya melambaikan tangannya dengan gemulai.kini Jeniper terlihat seperti perempuan asli setelah lebih dari 40 kali operasi geregaji pinggang dan rahang.


"Iyaa,byee Jen,bye Travis.jangan kebanyakan makan pedes Jen.panas nanti." Aneska terbahak saat Rehan mencubit pinggangnya. Jeniper dan suami hanya tertawa menanggapi.


"Kami juga duluan ya,biasa Kenny gak mau makan katanya.begini nih kalau punya anak yang nempel banget sama emaknya." Giselle berdiri hendak pulang bersama Jullian.karena sejak tadi teleponya bunyi terus sang anak memintanya untuk segera pulang.


"Iya.jangan lupa bawa Patricia dan Kenny kerumah.jangan Vindi sama Raven terus yang kesono,cape gue." ucap Ayana membuat Jullian tertawa.


"Hooh,ya udah bye calon besan.salam untuk anak-anak." balas Giselle dan Jullian kemudian meninggalkan tempat itu.setelah melakukan hal yang sama pada Aneska dan Rehan.


Kini tinggalah mereka berempat kemudian Ayana mengajak Aneska untuk melihat-lihat koleksi brand favoritenya.lalu keduanya meminta ijin pada suaminya untuk belanja, sebentar aja katanya yang tidak di percayai sama sekali oleh Gio dan Rehan.tentu saja mereka tahu kalau kata sebentar itu hanya ucapan belaka.karena nyatanya kata sebentar bagi Ayana dan Aneska itu biasanya satu sampai dua jam.kalau mereka bilang agak lama dikit itu bisa setengah hari atau bahkan seharian.biasalah namanya juga perempuan.


"Ya udah.nanti kabarin kalo udah." ujar Gio pada istrinya yang di angguki oleh Ayana dengan senyuman.


"Kalau bosen ajak Gio maen kemana aja,Pi. asal kabarin Mami." kata Aneska pada suami brondongnya itu.Rehan hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ck,ampun dah bini gue." desah Rehan setelah melihat istri dan istri temannya itu sudah berlalu dari sana.


Gio mengulum senyum seraya mengetrukan abu rokonya pada asbak.lelaki itu menyandar pada kursi sambil menghembuskan asap roko hingga mengepul di sekelilingnya. terkadang Gio masih belum percaya bahwa pusaran takdir membawa mereka pada kehidupan yang tak di sangka-sangka. padahal dulu Gio tak pernah serius mendengarkan permintaan Rehan yang ingin memacari salah satu teman atau kerabat Ayana.namun siapa yang tahu seperti kata pepatah ucapan adalah doa.


Dulu Rehan sering kali ingin di kenalkan pada teman Ayana,umur bukan masalah katanya dan tak apa asal mau di ajak serius.siapa yang tahu bahwa sekarang Rehan telah hidup bahagia dengan teman dari istri Gio itu. Aneska dan Rehan tak peduli akan masa lalu mereka yang masing-masing mempunyai kebiasaan yang buruk,tak apa asal mereka sepakat untuk berubah dan saling menerima karena pendosa seperti mereka juga punya masa depan.

__ADS_1


"Ibu sehat,Han?" tanya Gio setelah sedikit mengenang masa lalu.


Rehan menoleh setelah menyelipkan satu batang roko ke bibirnya.kemudian mengangguk." Sehat,cuma udah gak bagus penglihatannya.dan udah agak linglung malah sering kali gak bisa bedain mana Nesa mana Neska."


Gio cukup perihatin mengingat ibu Rehan,ibu Tini adalah ibu pengganti baginya.setelah kepergian Mira dia sering kali menjenguk ibu Rehan dan sudah menganggap bu Tini seperti ibunya sendiri." Salamin buat ibu kalo kamu pulang.udah lama gak main.terkahir pas pulang lagi gak ada di rumah." sebisanya sudah dua tahun terakhir Gio dan Rehan memang sudah membiasakan diri saling memanggil dengan sebutan umum.tak ingin selalu dengan panggilan akrab semasa muda mereka tak ingin anak-anak ikut mencontoh. meski kadang ketika berdua saja selalu kaku dan berakhir panggilan mereka seperti dulu. maklum menghilngankan kebiasaan memang sulit sekali.


Rehan mengangguk sembari menyandarkan kepalanya." Masih belum ngomong sama Andre,Gi?kalian belum ketemu?" tanyanya penasaran apakah dua sahabatnya dari orok itu masih berselisih hingga saat ini.


"Belum." jawab Gio kemudian lelaki jangkung itu menarik napas berat." Entah akan sampai kapan kami seperti ini.padahal aku_mmm.. gue_ishh,anjing." Gio menggaruk kepalanya kesal kenapa ia selalu kaku seperti ini ketika membiasakan diri,membuat Rehan terkekeh.


"Gue pribadi sih biasa aja.toh hanya salah paham doang sebenarnya dan gue udah coba jelasin tapi andrenya yang gak mau tau.gue dulu udah ngalah semua terserah ka Indri aja kalau dia memang mau.gak pernah sekali pun gue neken dia buat jauhin tuh cucunguk satu. gak tau dah.gak ada angin gak ada ujan tau-tau Andre nyalahin gue dan ngemusuhin sampe sekarang,"


Rehan mengangguk karena paham apa yang sudah terjadi antara Andre dan Gio." Apa gak coba sesekali lu ajakin dia ketemu.mungkin aja kan Andre malu buat memulai duluan? siapa tahu kalau lu ajakin dia buat ketemu terus ngobrol berdua dari hati kehati masalah kalian bisa selesai.kalau begini terus gue rasa sampe lebaran onta juga gak bakal kelar."


"Masalahnya Andrenya sendiri yang gak mau, Han.gak pernah mau angkat telpon gak pernah mau balas chat dan lain lain,itu orang kaya hilang dari peradaban.semua sosmednya sepi bener gak kaya dulu tiap jam dia buat story." ujar Gio yang heran pada Andre yang tak pernah lagi terlihat nongol di story mau pun sosmednya.entahlah mungkin dia di hide atau bisa juga lelaki itu memang sudah tak serandom dulu.mungkin juga sekarang ini Andre begitu sibuk.


"Iya,gak pernah ada kabarnya lagi." timpal Rehan.dia sangat menyayangkan retaknya hubungan Andre dan Gio hanya karena salah paham.entah sudah berapa tahun mereka tidak pernah bisa kumpul bertiga lagi seperti dulu rasa-rasanya Rehan rindu dengan semua itu.


...☘☘☘☘☘☘...


Andre menimang bayinya di teras samping rumah sambil bersenandung karena sang bayi sejak tadi rewel karena kurang susu. Amanda sama sekali tidak berusaha keras agar asinya cukup.wanita itu hanya sekedarnya saja karena memang Amanda tak mencintai anaknya dengan sepenuh hati.dia hanya sayang pada Khalil saja anak pertamanya dengan Raka.tapi tidak pada Nesya anak keduanya dengan Andre.sangat jauh dari profesinya yang seharusnya menyayangi anak-anak.entah lah pikir Andre karena urusan hati tidak ada sangkut pautnya dengan profesi.


"Bobo Sya,kamu gak cape nangis terus?" katanya seraya menepuk-nepuk lembut punggung anaknya.bayi yang masih merah itu terlihat tersenggal-senggal karena telalu lama menangis.setelahnya ia tertidur di dekapan Andre usai di beri susu di botol.tak lama mata Andre melihat Billa yang kebetulan lewat sepertinya gadis itu selesai mengaji dengan teman-temannya.


"Bill." panggil Andre pelan.Abilla menoleh sebentar merasa ada yang memanggilnya. setelah ia tahu bahwa itu Andre,gadis itu dengan cepat pergi dari sana dengan wajah masam.


"Billa." panggil Andre lagi.namun Billa tak mempedulikannya terus saja berjalan.merasa tak ada siapa pun Andre menaruh putrinya di ayunan dan meminta nenek Amanda untuk menjaganya.karena Amanda sendiri sudah berada di klinik.dengan langkah cepat Andre menyusul Billa yang sepertinya sudah masuk ke dalam rumahnya.


"Billa?Bill." panggilnya setelah di depan pintu rumah Indri.dia terus saja mengetuk pintu rumah itu meski Billa tak sekali pun menjawab." Buka dulu bentar,om mau bicara Bill." masih sama tidak ada jawaban namun Andre tak ingin menyerah sudah lama ia tak bisa dan tidak ada kesempatan untuk bisa bicara dengan gadis kecil itu." Bill_"


"Kenapa om?" Abilla membuka pintu dengan sekali tarikan muncul di depan wajah Andre dengan tiba-tiba membuat lelaki itu kaget." Ada apa kemari dan manggil aku?," tanya Billa dengan wajah masam.belum sempat Andre membuka mulutnya gadis itu sudah kembali bicara." Bunda gak ada.ikut hantaran ke nikahannya teh Mila.lagi pula jangan pernah ganggu bunda aku lagi om.kasihan bunda selalu berada di bibir ibu-ibu di kampung ini. semua karena om Andre dan haji Nur." ucapnya tanpa ragu sambil menantap wajah Andre dengan berani.gadis ini benar-benar jelmaan Indri sekali.


Andre menunduk merasa bersalah karena ia penyebab dari semua yang kini anak gadis ini alami terutama bundanya." Karena itu om kesini,Bill.jangan di rumah sendirian.lebih baik kerumah ibu Siti yuk.biar om anterin.om kawatir kamu di rumah sendirian,Billa.apa lagi gak ada bunda." katanya membuat Billa membuang wajahnya ke samping.


"Gak perlu sekawatir itu om.aku bisa menjaga diri,lagi pula kami sudah terbiasa apa-apa sendiri atau berdua.insya allah kami baik-baik saja allah menjaga kami." balas Billa.


"Bahaya Billa.kamu anak gadis,om kawatir bagaimana kalau ada orang jahat masuk kerumah?terus kamu di apa-apain?lebih baik kerumah ibu aja kamu aman di sana." kekeuh Andre bukan tanpa alasan dia kawatir berlebihan.masalahnya Andre sudah lama menaruh curiga akan gelagat tetangga baru yang sepertinya menaruh rasa pada indri.


Pria duda itu sering kali diam-diam memerhatikan Indri yang sedang beraktivitas di luar rumah.Andre tak ingin jika lelaki itu berbuat macam-macam,sungguh dia begitu kawatir.takutnya seperti kata pepatah jaman dinosarus tak dapat ibunya maka anaknya pun tak apa.


"Kamu gak takut sama para pemuda di sini?apa lagi om-om yang baru pindahan itu,dia terlihat menyeramkan Billa."


"Oh,maksud om Andre,om Satria duda kaya idaman emak-emak itu?," tanya Billa membuat Andre mendengus samar.gadis itu menarik napas seperti orang dewasa saja padahal umurnya baru akan menginjak 12 tahun.tapi kedewasaan Billa sudah terlihat." Tenang aja om,om Satria orang baik gak mungkin macam-macam.udah beberapa kali loh kesini dan suka ngobrol juga sama bunda. keliatannya sih baik gak mungkin berbuat aneh-aneh." ucap gadis itu membuat Andre menggeram dalam hati.baik bagaimana sih dari gelagatnya saja sudah terlihat pria itu sepertinya duda gatal.


"Terserahmu.tapi kalau ada apa-apa teriak aja ya,panggil om Andre.jangan tidur malam-malam setelah ini kunci semua pintu dan jendela." pesannya begitu perhatian membuat gadis remaja tanggung di depannya menatap nanar.ini yang selalu Billa rindukan perhatian om Andre padanya.


"Iya." balas Billa dengan datar dia sedih begitu kenangan beberapa tahun ke belakang terlintas di ruang ingatannya.Andre yang perhatian dan begitu menyayanginya layaknya anak sendiri.dia sudah berharap banyak pada pria ini agar menjadi ayahnya. namun semua itu rupanya hanya angan-angan Billa saja.Andre berhenti berjuang saat restu itu tak kunjung di dapat. saat Indri belum bisa membuka hati untuk lelaki yang begitu Billa harapkan itu.


"Hey,Bill?" tegur Andre saat Billa hanya diam terpaku menatapinya dengan pandangan yang sulit di artikan." Billa kenapa?" tanya Andre pelan suaranya hampir tak terdengar. demi tuhan dia sangat menyayangi Billa dan sudah menganggapnya layaknya anak sendiri.namun takdir tak bisa membuatnya bersama dengan gadis ini.rupanya tuhan belum menginjinkan Andre untuk bisa merawat dan menemani Abilla hingga dewasa.


"Om pulang ya,kasian dede Nesya sendirian." pamit Andre yang di angguki Billa dengan lemah.


Billa menatap punggung Andre yang menjauh dari teras rumahnya.pria itu menoleh sebentar dan tersenyum padanya membuat Abilla reflek membalas senyum itu.kemudian ia melihat Khalil yang berlari dari samping rumah lalu memeluk Andre membuat Billa cemburu.


"Ayah dari mana?" kata anak itu.


Andre mengusap kepalanya lembut." Gak dari mana-mana cuma dari samping rumah.kamu sudah makan?ibu mana?." kemudian mereka masuk ke dalam rumah dengan Andre yang mengggendong bocah itu membuat perasaan Billa sakit.

__ADS_1


Billa menutup pintu rumahnya tak lupa menguncinya.gadis itu berdiam diri di sofa rumahnya lalu menangis tanpa suara.dia iri dan cemburu pada bocah bernama Khalil itu. harusnya dirinya lah yang berada di posisi Khalil,harusnya Billa yang mendapat semua perhatian dan kasih sayang pria itu.kenapa harus Khalil,bocah itu sudah bergelimang kasih sayang dari semua keluarga ayah dan ibunya.meksi dia tumbuh tanpa ayah sama seperti billa.tapi setidaknya ada banyak yang menyayangi khalil.tidak seperti Billa yang hanya memiliki Bunda dan pamannya saja. betapa hausnya Billa akan kasih sayang. namun tak ada yang memahami perasaannya termasuk ibunya sendiri.


"Aku gak boleh iri.suatu saat nanti aku juga akan punya ayah." gumam remaja itu sembari menyantap mie instan seorang diri.lapar juga habis menangis selama lebih dari dua puluh menit.


__ADS_2