
Kemarin sore sepulang dari kantor Gio mendapat telepon dari kakanya dan di minta untuk menginap ke rumah ibunya karena Mira dan Indri begitu merindukan Mia katanya.Billa juga sering kali mengatakan ingin bermain bersama sepupunya.sebenarnya Mira dan Indri bisa saja main atau pun menginap ke rumah Ayana.namun keduanya merasa segan dan tentu saja malu.karena itu Indri meminta Gio dan Ayana untuk menginap ke sana.beruntung istri Gio itu pengertian dirinya mau-mau saja begitu Gio kabari dan di minta untuk bersiap karena akan segera di jemput.
Ayana tengah menyiapkan peralatan dan kebutuhan yang akan di bawanya ke rumah Gio.wanita itu begitu sibuk mengemasi barang-barang keperluan Mia hari ini Ayana terlihat begitu cantik dan jauh lebih segar.berkat suster yang membantunya merawat Mia membuat Ayana mudah untuk melakukan apa pun Monica benar,ternyata mencari pengasuh itu memudahkan Ayana untuk melakukan apa saja.terbukti setelah suster itu datang Ayana langsung melakukan perawatan tubuh dan lebih banyak istirahat terutama waktu untuk Gio juga lebih banyak tidak seperti sebelumnya tersita semua oleh Mia.
"Saya ikut gak Non?." tanya suter Risma setelah menyerahkan Mia kepada ibunya.
"Gak usah Sus,kamu di sini aja bantu Mimin dan bi Narti." jawab Ayana lalu keluar kamar di ikuti Suster Risma yang membawa kopernya ke bawah.
"Mau berangkat sekarang,Ay?." tanya Monica yang baru saja tiba dari luar habis membeli roti dan buah-buahan untuk di kirimkan ke besannya.
Ayana mengangguk sembari membenarkan gendongan Mia yang mulai merosot." Iya udah di jemput Gio,Mah." jawabnya lalu meraih botol susu yang sudah di isi dengan Asinya.
"Jangan lama-lama ya,Mamah nanti kangen sama si gembul ini.salamin sama ibu dan kakanya Gio.itu kue-kue dan buah bawa aja untuk besan." ujar Monica lalu melepaskan dan menjauhkan wajahnya dari pipi Mia.kemudian mengangkat bungkusan kue dan dua dus buah aneka macam untuk besannya.
"Banyak amat,Mah." komentar Ayana saat melihat begitu banyak barang yang ibunya beli.
"Gapapa,jarang-jarang ngasih besan kemarin juga kan pas Aqikah Mia ibunya Gio banyak banget bawa makanan kering Mamah suka loh cemilan buatannya nanti bilang ke ibu Mamah mau kripik sukun ya." sahut Monica dirinya begitu senang punya besan seperti Mira yang memiliki tangan terampil dan pintar membuat olahan makanan dari apa saja.
"Nanti aku mintain ke Ibu kalau Mamah mau lagi itu kripik pisang dan nangkanya sama sukun ya,Mah?." balas Ayana sembari melongokan kepala karena mendengar suara motor Gio memasuki garasi.suaminya Ayana itu masuk ke dalam sembari menenteng jaket kulit yang tadi di pakenya.Ayana memandangi Gio yang berjalan dengan wajah lelahnya itu membuat ketampanannya naik dua ons.
"Eh,udah siap?." tanya Gio saat melihat anak dan istrinya sudah berada di ruang tengah.sepertinya sudah siap dengan semua barang-barang juga.
"Udah dong,Pa.ini Mia udah cantik banget loh gak lihat apa?." jawab Ayana menirukan suara anak kecil.
Gio mengulum senyum dirinya menangkap maksud tertentu." Bundanya apa Mia yang udah cantik nih?apa dua-duanya juga cantik?." goda Gio sembari mencuci tangannya karena ingin segera menggendong anaknya.
Ayana mendekus sebal." Paan sih?udah cepetan nanti keburu magrib." ajaknya tidak ingin menanggapi godaan Gio karena itu membuatnya malu.
"Bentar atuh sayang.buru-buru banget masih setengah lima kok,kan deket gak sampe sejam juga." sahut Gio lalu meraih putrinya dari gendongan Ayana.
"Ya udah kalau gitu aku makan dulu ya laper nih." ujar Ayana lalu ke meja makan lanjut makan padahal baru setengah jam yang lalu dirinya makan sup rumput laut di tambah nasi semangkok besar.
"Makanya nyantai aja,yang.gak usah buru-buru nanti kamu kesedak." pinta Gio saat melihat istrinya begitu lahap menyantap nasi kebuli yang baru di beli Monica saat tadi keluar.
Ayana menelan makannya terlebih dulu sebelum menjawab." Gue bukan buru-buru,Gi.tapi laper tahu gak?padahal tadi baru makan tapi setelah di sedot Mia kosong lagi perut gue." ucapnya membuat Gio terkekeh sembari menciumi pipi Mia.
"Gapapa,makanlah yang banyak biar kalian sehat." sahut Gio.lalu meminta suster Risma untuk memegang Mia sebentar karena dirinya akan memasukan semua barang-barang ke dalam mobil.
...ππππππ...
Ayana dan Gio telah sampai di halaman rumah Mira.keduanya turun dan sudah di sambut di depan rumah oleh kaka dan ibunya Gio itu.langsung saja Mira memeluk Ayana saat menantunya itu sudah turun.
"Ibu,aku kangen banget." ucap Ayana sembari memeluk Mira.
"Sama ibu juga.kalian lama banget kesininya.tuh Billa udah nanyain terus mana dedek bayi katanya." sahut Mira.
Ayana terkekeh lalu menjemil pipi keponakannya." Bilang sama bunda dong Nda buat dede lagi untuk Billa gitu." ucap Ayana kepada Abilla Shena putri kaka iparnya itu.
Mira dan Indri hanya menanggapinya dengan tawa." Ayahnya aja gak ada ya Dek." ucap Indri membuat Ayana langsung menegang dirinya lupa bahwa kaka iparnya itu tidak memiliki suami.
"Maaf Ka.aku lupa." Ayana tersenyum kaku karena malu bisa-bisanya mulutnya ini keceplosan.
"Gapapa santai aja.ya udah hayuk masuk." ajak Indri dan Mira kemudian mereka masuk meninggakan Gio yang masih di luar karena mengajak putrinya melihat burung yang ada di dalam sangkar yang tergantung di depan rumah Gio.
"Itu namanya burung.burung ayah namanya Wahyu dan Sarah." jelas Gio kepada putrinya dengan serius.anaknya itu hanya diam sembari memerhatikan satu pasang burung imut jenis lovebird.
Ayana menahan senyum sembari berdiri di pintu menyenderkan bahunya di sana." Masa burung ayah di gantung di depan rumah.derem amat ya,dek?." ucap Ayana membuat Gio menoleh dan terkejut.
"Kirain ke dalam sama ibu.kok masih di sini?." tanyanya.
"Udah tadi.ayo masuk ngeri ada demit kalau magrib-magrib di luar." ucap Ayana seraya melirik ke samping rumah di sana ada haji Nurmalia ibunya Amanda sedang menatap sinis kepadanya.Gio mengangguk dan masuk tanpa melihat ke samping rumah,padahal di sana ada yang sedang menatapinya dengan wajah sinis dan tatapan benci.
"Anaknya aja gak segitunya ama gue.itu nenek-nenek malah dendam mulu." rutuk Ayana lalu menutup pintu dengan sedikit keras.
Saat Ayana dan Gio telah memasuki rumah haji Nurmalia kembali masuk dan langsung mencari Amanda yang sedang akan melaksanakan solat magrib.
"Lihat tuh mantan kamu,Manda.sekarang udah berani pamer anak segala kesini.gak puas ngelihat kamu bahagia.dia sengaja supaya kamu sakit hati.umi jadi curiga. sebenarnya dia yang gak bisa mupon dari kamu kayanya.dia pasti nyesel deh,karena udah ninggalin kamu demi nenek-nenek itu." ucap ibundanya Amanda.
Amanda yang baru mengetahuinya pun terhenyak,dirinya tak menjawab hanya terdiam meremas mukena yang berada di tangannya." Manda,solat dulu Mi." ucapnya lalu buru-buru ke kamar tidak ingin mendengarkan apa pun lagi tentang Gio.
"Ngapain laki-laki seperti itu masih di pikirin." haji Nurmalia menggelengkan kepalanya menyayangkan sikap putrinya yang tidak bisa move on.
__ADS_1
...πππππ...
Saat malam tiba rumah Gio menjadi ramai karena celotehan dua anak balita yang sama-sama menggemaskan.saat ini Gio menjadi pengasuh dari dua balita bertubuh gempal ini.karena ketiga wanita kesayangan Gio sedang makan sembari bercengkarama.tadi sore Indri membuat sop iga permintaan Gio.
"Sopnya enak banget,Ka.bumbunya pas kalau Mamah yang masak suka gak kerasa bumbu.malah gak pake garam,tapi ini enak banget." puji Ayana seraya menyuapkan kuah sop yang begitu kental dan lezat itu ke mulutnya.Indri tersenyum merasa senang dan tersanjung.adik iparnya itu begitu menyuaki sop buatannya.padahal sebelumnya Indri sempat tidak percaya diri jika Ayana akan menyukai masakannya.
"Ngerebusnya dari jam satu siang tadi Ka dan baru di matikan jam lima.jadi kaldunya keluar semua." ucap Indri dengan wajah senang.
"Makan yang banyak sayang.biar asi kamu melimpah supaya Mia gak kekurangan. kamu juga jangan nahan-nahan lapar ya ibu waktu hamil apa saja di makan asal kita sehat dan senang."ujar Mira dengan lembut.
Ayana menggelengkan kepalanya." Aku gak diet-diet lagi,Bu.boro-boro mau diet baru makan aja langsung ngemil." jawab Ayana dengan tawa kecil.
"Bagus dong Ka.sekarang kaka berisi cantik dan segar banget makanya Gio senang tuh istrinya makin berisi." Indri menoleh pada Gio yang sedang memangku Mia keliling ruang tamu dengan Billa yang bergelendotan di kakinya.
"Ka Indri,emang Gio suka sama perempuan yang berisi gitu ya?yang kaya sebelah gitu contohnya ya,Ka?." tanya Ayana penasaran siapa tahu memang betul.
Indri tersenyum kaku,bagaimana menjawabnya karena dirinya tak ingin jujur mau pun bohong." Kayanya tergantung orangnya sih,Ka.dia gak punya kriteria setahuku." jawab Indri dengan kaku.
Ayana menganggukan kepalanya usai menyeruput sisa kuah terakhir di mangkuknya." Soalnya dia itu suka yang gemuk kayanya,Ka.dulu pas aku kurus dia suka ngomel katanya bagusan berisi." ujar Ayana lalu mengangkat piring kotor dan membawanya ke wastafel.meski Mira mencegahnya.
"Ka,jangan di cuci biar aku aja." cegah Indri tidak enak masa iya tamu cuci piring apa lagi Ayana itu kan putrinya Frans pengusaha sukses dan pemilik pabrik helm terbesar di kota itu.
"Gapapa Ka,sekalian." sahut Ayana sembari berjongkok namun terhenti saat Gio memanggilnya.
"Kenapa?." Ayana mendongakan wajah.
"Mia ee pempesnya dimana,yang?." tanya Gio sembari menenteng tisu basah dan celana ganti.
"Ada di tas yang warna biru,sini aku aja yang bersihin." pinta Ayana lalu mencuci tangannya.namun Gio menjauhkan dengan segera.
"Aku aja.kamu baru makan duduk aja sana itu piring biar nanti aku yang cuci setelah makan." suruh Gio lalu ke kamarnya mengambil pempers dan mengganti popok putrinya.
Ayana tersenyum lalu melanjutkan cuci piring yang hanya ada sedikit itu.dirinya begitu bahagia mendapatkan lelaki seperti Gio ini yang begitu memuliakan istri. laki-laki seperti Gio tidak banyak di dunia ini,kebanyakan yang brengsek seperti Leo dan suami kaka iparnya itu pikir Ayana. Usai itu Ayana memasuki kamar untuk bergantian makan dengan Gio.meski ada Mira mereka tidak ingin merepotkan mertuanya,keduanya selalu bekerja sama untuk mengurus dan mengatasi semuanya secara bersama.
"Sayang." panggil Gio yang seketika saja membuat Ayana mengulum senyum dirinya selalu suka dan ketagihan jika di panggil sayang oleh Gio.entahlah suara pria itu menjadi candu baginya.
"Apa?." tanya Ayana sembari menyusui putrinya.
Ayana mengerutkan kening tak mengerti." Emang mau kemana?nanti kalau Mia rewel gimana?." Ayana menghawatirkan putrinya rewel dan merepotkan mertuanya." Belum terbiasa,pelan-pelan gue lagi membiasakan diri.lah lo sendiri manggil kaka mulu." ujar istrinya Gio itu.
"Hehehe,maaf.Bentar doang kok.mau ya?." pinta Gio membuat Ayana mengangguk mau tidak mau karena penasaran juga." Ya udah tapi harus sering di ucapkan agar terbiasa." ucapnya lalu keluar kamar untuk bicara pada ibunya.
Kemudian usai Gio makan malam dirinya dengan cepat ke rumah Rehan akan meminjam motor lelaki itu setelah itu dirinya dan Ayana bersiap.lalu keduanya menitipkan putrinya kepada Mira perempuan tua itu begitu senang karena bebas main dengan cucunya tanpa merasa sungkan kepada Ayana.setelah itu keduanya berangkat dengan motor Rehan yang di pinjam oleh Gio.Ayana dengan susah payah menaiki motor besar itu dan kemudian ekor matanya menangkap Amanda yang berdiri di teras rumahnya dengan segera Ayana melingkarkan tangannya ke perut Gio lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih merapat kepada suaminya itu.
"Udah?." tanya Gio dan Ayana mengangguk lalu pemuda itu menjalankan motornya melewati rumah Amanda.wanita itu hanya menunduk tidak ingin melihat keduanya yang berbocengan dengan mesra.
"Ada yang panas." ucap Ayana di tengah perjalanan di pinggiran kota ini.
"Siapa?." tanya Gio setengah berteriak karena suara truk lewat begitu bising dan memekakan telinga.
"Mantanmu." jawab Ayana dengan sama kerasnya membuat Gio terkekeh.
"Kamu seneng ya?." tanya Gio dengan wajah sedikit menengok ke belakang.
"Oh ya jelas dong." sahut Ayana dengan mantap.Gio hanya lagi-lagi terkekeh sembari mengusapi paha istrinya karena mereka berada di lampu merah saat ini.
"Gak boleh gitu sayang.pamali kurang baik itu namanya.kita cukup bahagia dengan cara kita ini,jangan manas-manasi orang lain,apa lagi tertawa di atas deritanya." ujar Gio dengan pelan.
Ayana mendekus sembari mencubit perut keras Gio membuat pria itu mengaduh pelan." Kan dia yang mulai.kalau dia dan keluarganya gak kaya gitu sih aku juga gak bakal."sahut Ayana dengan wajah masam.
"Iya aku tahu,tapi bisa kan kita abaikan aja fokus sama kebahagiaan kita aja,yang.gak perlu memusingkan mereka." Gio kembali mengusap paha istrinya agar tenang.
"Kita mau kemana sih?." tanya Ayana mengalihkan pembicaraan karena takut membuat emosinya terpancing jika membicarakan mantan Gio itu.padahal tadi dirinya yang memulai.
"Nanti kamu lihat sendiri." jawab Gio,lalu menambah kecepatan lajunya membelah jalanan yang mulus dan lumayan lenggang malam ini.
...ππππππ...
Sesampainya di tempat Ayana di buat tercengang.dirinya memasuki area yang di tumbuhi pohon jati yang menjulang lurus tinggi dan berbaris begitu rapih. pohon-pohon jati itu di hiasi oleh lampu-lampu dan lampion yang menerangi seluruh tempat itu.di pintu masuk nama wisatanya terpampang jelas Hutan Jati Gelato.di sana begitu dingin dan nyaman.Ayana menoleh pada Gio yang masih mengoles obat nyamuk ke kaki dan tangannya.tadi pria itu mengolesi tangan dan kaki Ayana dengan obat nyamuk katanya agar tidak di gerumungi nyamuk di dalam sana.Ayana tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Gio usai memasukan obat nyamuk itu ke dalam tas Eiger yang tersampir di bahu lehernya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana sih?kok aku di bawa ke hutan malam-malam gini?aku gak di culik kan terus di bunuh gitu?." ujar Ayana dengan bingung.
"Ada deh,ayok masuk.kamu gak percaya kalau suami kamu ini sangat mencintai kamu?mana mungkin aku berani menyakiti kamu apa lagi melakukan perbuatan keji seperti itu?aku gak mau terbenam di kerak neraka." ucapnya lalu menggandeng tangan Ayana dan mengajaknya masuk ke dalam lalu duduk di salah satu kursi yang terbuat dari kayu jati.Ayana senyum-senyum mendengar ucapan Gio tadi.dirinya begitu melayang saat ini,oh ayolah pipinya sudah memerah sepertinya untung saja ini malam jadi tidak terlihat dengan jelas.
"Kita gak usah makan ya,aku pesankan makanan lain aja karena kamu pasti masih kenyang." ujar Gio yang di angguki Ayana lalu Gio berdiri dan meninggalkan Ayana untuk memberikan pesannya yang sudah dirinya catat,karena sistemnya seperti itu di sana.
"Dia mau ngapain sih?." tanya Ayana sembari melihat Gio yang sedang berbicara pada salah satu pelayan di hutan jati itu.tak lama Gio kembali ke meja mereka dengan senyum manisnya yang terus merekah membuat Ayana meleleh.di bawah sinar lampu malam seperti ini wajah Gio berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya.
"Tadi kamu ngomong apa sih ke mas-mas itu?." kepo Ayana usai meletakan ponselnya ke meja yang terbuat dari kayu jati yang begitu halus di rabanya.
"Aku minta di stelin lagu kangen band yang judulnya aku tersandung." jawab Gio asal membuat Ayana tertawa,dirinya tidak percaya kalau Gio serandom itu.tak lama pesanan datang ada kue kecil yang berbalut cokelat lumer dan dua bola imut di pinggirannya yang menarik perhatian Ayana.Ayana mendongak kepada Gio dan menatap pemuda itu merasakan ada yang aneh pikirnya.perasaan dirinya tidak sedang berulang tahun.dan anniversarry pernikahan mereka yang kedua juga masih lama,lalu ini kejutan apa pikir Ayana.
"Gio,ini apaan?dinner nih ceritanya?tapi gue gak lagi ulang tahun,Gi." ujar Ayana dengan menahan senyum bahagia.
Gio mengangguk lalu meraih kedua tangan Ayana dan mengenggamnya." Iya aku tahu,Aku sengaja bawa kamu kesini sekali-kali lah biar kita gak sibuk ngurus Mia aja.kita juga perlu waktu berduaan gini kan?bener kata Mamah sesekali itu harus dan aku rasa ini adalah waktunya." ujarnya lalu melepaskan kembali tangan Ayana dan merogoh kantung celana jeansnya.
"Sengaja kesininya malam-malam begini. karena di sini suasannya kalau malam lebih indah dari pada siang,karena kalau siang banyak pengunjung aku gak suka kalau ramai." lanjut Gio.
Ayana mengerjap saat melihat Gio mengeluarkan kota kecil berwarna hitam dari kantung calananya.laki-laki itu tersenyum kepadanya dan membuka kotak hitam itu." Gi?." panggil Ayana.
"Selama ini aku belum pernah ngasih apa-apa sama kamu.jangankan untuk barang dan benda berharga,hal-hal kecil aja aku belum pernah ngasih.dan untuk kali ini aku memiliki kesempatan ingin memberikan sesuatu sama kamu,meski ini bagi kamu mungkin gak berharga dan biasa aja.tapi bagi aku ini indah dan sesuatu yang udah kupersiapkan dari lama." ucap Gio sembari mendekatkan sebuah kalung berwarna silver yang berkilauan dengan berlian.
Ayana di buat tercengang dengan menatap Gio dan kalung itu bergantian dirinya tidak segera menjawab namun di buat tidak bisa berkata-kata lagi,laki-laki itu begitu pandai membuat hati dan perasaannya berbunga-bunga seperti ini tidak cukupkah Gio membuat dirinya menjadi bucin,lalu mengapa harus romantis seperti ini sih kan Ayana jadi salah tingkah dan bahagia seperti ini.
"Mm.Gio..ini untuk aku?." tanya Ayana dengan wajah malu-malu.dan Gio langsung menangguk dengan cepat.
"Iya ini untuk kamu.aku belinya dari tabungan aku." jawab Gio dengan mantap.
Ayana mendekus mendengarnya." Ishh, kan kata lo kita harus ngirit?kenapa beli kalung semahal ini sih?terus beli pempes dan keperluan Mia gimana?" ucap Ayana membuat Gio melirik kanan kiri takut ada yang mendengarkan.beruntung sangat sepi dan jauh dari tamu lain.
"Kamu tenang aja,masih ada sisa kok aman kalau untuk Mia mah.bahkan kaka masih bisa ke salon kok." sahut Gio dengan pelan.
"Gaji lo berapa sih,Gi?dua lima lebih ya?." tanya Ayana dengan serius.Gio menepuk dahinya dan menggeram pelan.
"Ampun deh.punya istri gak bisa banget di ajak romantis kaya orang-orang.malah ngebahas gaji lagi." batin Gio sembari berdehem kecil.
"Sayang.ini kita lagi berduaan begini bisa gak jangan bahas gaji dulu?itu biar di rumah aja urusannya." ucap Gio membuat Ayana tersadar iya juga pikirnya.
"Iya udah maaf.tadi gue cuma kawatir gak kebeli keperluaan Mia." ujar Ayana pelan.
"Jadi kaka gak suka nih dengan ini?"Gio menunjuk kotak kalung yang masih tergeletak di meja.terlihat raut wajah Gio yang berubah menjadi sedikit datar.
Ayana tersenyum dan meraih tangan Gio." Seneng dong masa enggak?ayo buruan pakein kira-kira cantik gak kalau di pake sama artis?." ucap Ayana dengan percaya diri membuat Gio menahan senyum.
"Bener nih mau?." tanyanya lagi masih tidak percaya membuat Ayana berdecak lalu dengan cepat mencondongkan kepalanya memudahkan Gio agar segera memakaikan kalung cantik itu.
"Cepetan pakein." pinta Ayana lalu dengan cepat Gio berdiri memutari meja dan segera memakaikan kalung berlian itu ke leher istrinya.benar kata Ayana kalung itu berkali lipat lebih cantik jika di pakai oleh Ayana yang cantiknya sudah sekelas artis ini.
"Cantik banget sih istri aku." puji Gio lalu mencium pipi istrinya sekilas sebelum kembali ke kursinya lalu memandangi Ayana yang tengah salting.
"Apaan sih biasa aja kok.gak usah ngelihatin kaya gitu." Ayana memalingkan wajahnya ke samping malu di tatap dengan mesra oleh seperti itu Gio.
"Cie salting." ujar Gio membuat Ayana tambah kelepekan.
"Ngomong-ngomong ini minuman kena ee burung gak ya?." celetuk Ayana lalu mendongak ke atas takut-takut ada burung di atas pohon itu.Gio menarik napas lelah lalu memaksakan senyumnya kemudian terkekeh karena istrinya ini begitu lucu membuat suasana yang harusnya romantis itu menjadi riweuh seperti ini.
"Kan di atas ada jaring,Sayang.mana mungkin ada ee burung sih." ujar Gio membuat Ayana bernapas lega.setidaknya saat dirinya tengah mengobrol dengan Gio tidak ada yang jatuh dari atas dan mengenai minumanya,kan tidak lucu jika moca float tercampur dengan kotoran burung.
Kemudian keduanya baru akan kembali mengobrol dan saling mengungkapkan rasa.terhenti karena suara ponsel Gio yang terus bergetar sejak tadi.padahal sudah berusaha Gio abaikan karena tidak ingin mengganggu momen romantis ini.tapi karena ponsel itu terus bergetar Gio kawatir ada hal penting Gio terpaksa mengangkatnya.
"Iya Ka,ada apa?." tanya Gio.
"Gi,kalian di mana?kalau udah selesai pulang aja mending soalnya Mia nangis dari tadi kejer banget sampe serak suaranya.kasihan kecapean dia.ibu dan kaka gak bisa tenangin karena dia mungkin tidak begitu mengenal kami." ujar Indri membuat Gio panik dan segera berdiri dari duduknya.
"Kenapa,Gi?." tanya Ayana bingung.
"Kita pulang,Mia nangis kejer katanya." ucap Gio membuat Ayana ikut panik dan langsung berdiri juga.
...Papah Gio dan Mia...
__ADS_1