
Gio dan keluarga kecilnya baru saja selesai makan malam,lalu lelaki itu mengajak anak-anaknya bermain di ruang tengah sebelum tidur.kegiatan ini rutin dia lakukan meski tidak setiap malam karena biasanya Gio sibuk dan terkadang pulang larut.tapi di saat ada waktu seperti ini dia selalu menyempatkan waktu bermain dengan ketiga anaknya.karena menemani anak bermain itu adalah hal yang paling Gio sukai dari pada pergi main dengan teman-temannya.
"Makan dulu buahnya,nanti bunda marah kalau gak di makan," suruh Gio kepada putrinya.
Anak gadis yang wajahnya tampan itu menurut dan langsung membuka mulutnya." ayah cuapin ya." katanya.
"Pinter.buah naga itu bagus,harus sering makan ya,biar kamu jadi naga." ujar Gio, random sekali bapak bapak satu itu ya.
Jemia mengangguk cepat." Naga itu apa, Ayah?"
"Yang biasa Jem lihat di iklan.kan ada tuh iklan susu yang gambarnya beruang." jawab Gio.Anaknya Gio itu hanya mengangguk saja.namun sebetulnya ia tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh ayahnya.dan itu membuat Gio terkekeh anak kecil memang selalu ada saja tingkahnya.
Ayana terlihat membawakan cemilan kentang goreng,yang barusan dia selesai buat dengan sepenuh hati,dengan harapan besar agar anaknya memakan hasil kreasinya malam ini.masalahnya kadang kadang mereka tidak mau memakan cemilan hasil karya ibunya.kecuali masakan biasanya mereka hanya menyicipi sedikit.
"Jem.lihat bunda bawa apa nih?" ujarnya.
Jemia langsung menoleh dan ia melihat kentang stik yang pernah ibunya buatkan untuknya." Ga mau." ujarnya langsung bergeser menjauh dan kembali memakan buah naga yang sudah di bejek bejek oleh Raven.
Mendengar dan melihat penolakan itu kontan saja mata Ayana membulat." Dih. nyobain aja belum,kamu udah bilang gak mau."
Gio yang tengah menopang kepalanya sambil menyender di bawah sofa sambari memainkan jari kaki Vindi itu pun terkekeh, melihat tingkah anaknya." Kenyang kali,dia maunya buah doang kayanya."
"Tapi harus makan lah.masa gak di makan." sahut Ayana.dia tidak akan terima jika makanan hasil tangannya malam ini tidak ada yang makan.
"Emang apa sih itu?," tanya Gio seraya bangun dari posisi enaknya.
"Kentang di halusin pake keju,kaya biasa enak deh.cobain,tapi kenapa anak anak gak mau ya?" Ayana meletakan piring itu di atas meja kaca di hadapan anak dan suaminya.Gio hanya ber oh ria,ia memang sudah tahu karena Ayana sering membuatnya namun ia sering kali trauma akan rasanya yang menurut Gio kadang-kadang aneh.
"Gak suka mungkin" ujar Gio.Gio mengambil satu stik kentang goreng itu lalu memakannya.
"Gimana,enak gak?" Ayana penasaran kali ini akan rasanya karena selama ini Gio tidak pernah komentar apa-apa.
"Lumayan lah,dari pada beli yang di mukidi enakan ini." Gio mengangguk-anggukan kepalanya,namun sesaat lelaki itu berhenti mengunyah saat merasakan betapa manisnya garam yang ia taksir ada kali satu sendok mah,dalam satu stik kentang goreng itu.buru-buru Gio mengambil yogurt milik Jemia yang baru di minum setengah.Gio meminumnya hingga habis namun tetap lidahnya kebas.sumpah demi dewanya tapasya itu adalah kentang garam bukan kentang tepung.Ayana tidak menyadari itu karena ia sibuk membersihkan tangan Raven yang belepotan karena ikut mencomot dan membejek buah naga milik Jemia.
"Di jual laku gak yah?" tanya Ayana.
"Gak tau,tapi coba aja nanti,siapa tau ada yang mau." jawab Gio namun ia tidak begitu yakin dengan rasanya.memang untuk keluarga saja boleh,tapi jika untuk di jual pada orang lain,Gio agak ragu pemirsah.
"Ih serius Gi.coba tawarin ke temen kampus kamu" ucap Ayana antusias.
Tentu saja Gio langsung panik mendengarnya." Mm,begini,yang.kalau untuk di jual sih harus di tingkatkan lagi rasanya.dan kamu harus punya takaran untuk rasa.soalnya takut rasanya plin plan kadang enak kadang asin.kadang hambar." jujur Gio sejujur-jujurnya.
Mendengar itu Ayana terlihat merengerutkan dahinya." Emang rasanya kurang enak ya?"
"Enak kok.tapi ya gitu lah,cobain deh." suruh Gio sembari mengambil satu dan memberikannya pada Ayana.
"Ya gitu deh gimana?tadi kata kamu enak. gimana sih?" Ayana mulai makan dan merasai rasanya yang menurutnya oke-oke saja.dan begitu gurih juga enak lalu di mana salahnya.
"Gimana,asin kan?" tanya Gio dengan yakin.
Ayana menggeleng dengan cepat." Enak gini di bilang asin.rasanya pas kok"
"Kok bisa?" heran Gio lalu memakan satu lagi dan benar saja rasanya memang enak.
"Masih mau bilang asin?." Ayana melihat ekspresi Gio yang keheranan.
Lantas lelaki itu menggeleng dengan cepat." Nggak.enak kok.mungkin tadi mah garemnya gak ke campur kali."
"Gak pake garem Gi,ini kan udah asin di campur keju." ucap Ayana dengan kesal.
Hah kok bisa,batin Gio.
"Gitu ya.aku yang salah makan kayanya ini." balas Gio sembari berdiri hendak ke kulkas mencari sesuatu yang dapat melonggarkan tenggorokannya setelah menelan garam begitu hanyak.
Ayana terlihat berdecak namun sejurus kemudian ia baru teringat dan langsung menepuk dahinya." Astaga,tadi kan gue salah naro garem ya,yang harusnya ke sopnya Mia malah ke adonan tadi.mana lupa di buang lagi." ujarnya kemudian terkikik geli.pantas saja Gio seyakin itu kalau tadi kentangnya asin.ternyata suaminya itu tidak lah bohong.
"Maaf ya Gi.semoga surga masih ada untuk aku." gumamanya sembari masih tertawa.
__ADS_1
...☘☘☘☘☘...
"Baju aku udah di masukin koper belum. Yang?." teriak Gio dari kamar mandi.
"Udah.tinggal daleman kamu aja yang belum." sahut Ayana.
Beberapa detik kemudian Gio keluar dengan wajahnya yang segar setelah cuci muka." Kok gitu?kenapa gak sekalian aja?,"
"Pusing aku milihnya Gi.kolor kamu kebanyakan.pilih sendiri aja lah sesuai keinginan." jawab Ayana sembari merebahkan dirinya.
Gio terdengar berdecak." Tinggal masukin aja sih,yang mana aja.toh di pakenya juga di dalam ini.gak harus pusing nyesuain selera aku.tibang cangcut doang.udah kaya benda berharga aja." rutuk Gio.Ayana hanya melirik sebentar kemudian tidak peduli ia tidak ingin malam malam begini harus membahas kolor Gio.
"Tadi abis makan kemana dulu?." tanya Gio setelah ikut bergabung ke dalam selimbut yang di pake Ayana.
"Kantor lah.emang kemana lagi?" jawab Ayana.
"Ramean ya tadi?enak dong bisa sambil ngobrol." Gio bergeser lebih merapat pada istrinya.
Ayana mengangguk dengan mata terpejam." Biasa bahas proyek baru Papah kinerja Jerrian juga bagus katanya makanya Papah seneng.tuh anak emang udah banyak pengalamannya sih."
"Lusa dia harus ke Semarang nyusul Pak Martin tadinya mau bareng kamu ke bengkulu.kapan-kapan kalian pasti kerja bareng Gi." sambung Ayana.
Gio tak menanggapi ia hanya diam dengan perasaan tak suka,tentu saja.Gio tidak begitu menyukai kehadiran Jerrian bukannya ia iri kepada lelaki itu.hanya saja Gio rasa Jerrian seperti ada niat kurang baik tapi sejauh ini lelaki itu cukup membantu di perusahaan." Oh.ya udah." tanggapan Gio membuat Ayana membuka matanya.
"Kenapa,gak mau bareng dia?" tanyanya.
"Nggak kok,ya mau mau aja.namanya juga kerja.cuma yang aku kurang suka itu kamu sama dia yang akrab banget gitu.kaya gimana ya,dia natap kamu itu kaya ada rasa gitu.yang.paham gak sih maskud aku?."
Ayana terlihat berpikir kemudian mengangguk." Iya ngerti.tapi nggak kok. kamu tenang aja,dia udah ada pacar kayanya.lagian aku bukan seleranya dia kali,masa iya selera dia emak emak?"
Gio berdecak malas." Dari mana kamu tau kalau kamu bukan selera dia?laki-laki itu pikirannya aneh-aneh.ada juga yang kalau lihat istri orang dia mikirnya kemana-mana bahkan ada yang punya pikiran pengen ngerebut.jangan salah,jangan kamu mikir mentang-mentang udah bersuami dan punya anak kamu mikir gak bakal ada yang naksir kamu.itu pemikiran yang salah nyanyata ada banyak lelaki di luar sana yang lebih tertarik sama istri orang."
Ayana sampai bangun lalu duduk saat mendengar penuturan Gio.ia kira bahasan ini tidak lah serius." Ya ampun Gi.aku kira ini hanya bahasan ringan loh,taunya kamu seserius ini." ucapnya.
"Ya aku emang serius.pokonya aku bilang kamu jangan terlalu dekat sama dia sebatas kerja aja gapapa.tapi di luar itu jangan deh." Gio terlihat bangun dari posisi tidurannya lalu meraih rokok dan berlalu dari kamar.
Tak ingin ada kesalah pahaman nantinya. Ayana memutuskan menyusul Gio keluar kamar.ternyata lelaki itu duduk di teras rumahnya dengan sebatang rokok yang mengepul di sela jarinya." Kok tadi ngomongnya gitu?." Ayana duduk di hadapan Gio sembari memeluk dirinya sendiri karena baju tidurnya terlalu tipis dan terbuka malam ini.
"Gak mau kalau kamu kaya gini.besok kamu berangkat,aku gak mau kamu pergi dengan hati yang kesal.bisa jelasin kenapa kamu segininya banget sama aku dan Jerrian?padahal kami gak ngapa-ngapain dan normal-normal aja."
Gio membuang asap roko ke atas dengan kepala menyender ke kursi.tak segera menjawab pertanyaan istrinya itu.ia menatap plafon teras rumahnya dengan pandangan menerawang." Di jelasin gimana pun kamu gak bakal ngerti.kamu itu selalu percaya apa yang kamu lihat kadang orang emang gitu sih,kalau belum kejadian ya gak percaya." Gio menoleh ke samping melihat istrinya yang sedang menatapinya dengan dahi mengerut." Singkatnya.Jerrian itu suka sama kamu, tapi kamu gak ngerti.gak tau,pura-pura, apa emang beneran gak ngerti."
Gio kembali menyesap rokoknya dan melihat reaksi Ayana yang langsung berubah." Apa sih maksud kamu?ya kalau pun dia ada rasa ke aku,ya udah gapapa itu hak dia.toh yang penting aku gak suka balik atau pun respon." Ayana membalikan ucapan Gio kala itu." Kan kamu yang bilang kalau ada perempuan lain yang suka sama kamu,kamu bilang terserah biarin aja dan bodo amat.ya aku juga sama terserah dan bodo amat.ngapain di pikirin toh Jerrian gak terang-terangan juga.gak kaya yang lain maen serobot aja." sindir Ayana.
Gio menganggukkan kepalanya." Iya.asal ingat pesan aku.kamu hati-hati dan jaga diri di mana pun.apa lagi kalau jauh sama aku." ucapnya karena Gio tidak ingin berdebat dengan sang istri.
"Jangan iya iya aja.tapi di hati ngedumel" ucap Ayana.
"Nggak,nggak.mana ada?dingin nih udah sana masuk duluan.nanti abis ini aku nyusul." suruh Gio dengan lembut.
Ayana sebenarnya ingin menyahut tapi apa daya ini sudah malam.dan emang dingin juga udaranya.ia tak ingin ribut dengan Gio." Ya udah.abis itu masuk terus peluk." pintanya.
"He'em.udah sana." sahut Gio seraya menyesap rokoknya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Keesokan paginya Ayana tengah sibuk menyiapkan sarapan dan keperluan Gio yang lain.ia sudah mengecek semua barang barang suaminya yang akan di bawa ke bengkulu.setelah semua sudah beres Ayana kembali ke dapur.selagi Gio masih mandi Ayana menyiapkan meja makan di bantu oleh si bibi.perempuan yang masih menggenakan daster tipis itu begitu sibuk menata makanan di meja.
"Panggil ayahnya Jemi,bi." suruh Ayana pada si bibi yang baru selesai mengupas timun untuk teman nasi goreng.
Selesai mandi dan menggenakan pakaian yang sudah di siapkan oleh Ayana,Gio keluar dari kamar sembari menenteng satu koper besar yang akan di bawanya ke bengkulu." Pagi Bi." sapa Gio kepada si bibi yang bertugas membereskan rumahnya.karena si bibi itu sudah hampir satu minggu tidak datang ke rumah mereka dengan alasan anaknya sakit.
"Pagi Mas.hati hati nanti di jalannya ya." balas si bibi.
"Iya bi.makasih." sahut Gio.kemudian Ayana datang dari dapur membawa sendok kecil untuk menyendok selai roti.
Cup
__ADS_1
"Pagi sayang.udah sarapan dulu sini jangan ngosrek mulu." pinta Gio setelah mendaratkan kecupan ringan di dahi dan bibir sang istri.
"Iya,ayo." Ayana mendudukan dirinya di hadapan Gio lalu mereka memulai sarapan dengan tenang.anak-anak mereka sedang di ajak keliling komplek oleh susternya.jadi pagi ini sarapan keduanya terasa lebih santai dan sepi.karena biasanya begitu heboh." Jaga diri,hati-hati di sananya, sering sering wa kabarin ya." ucap Ayana kepada Gio saat suaminya itu akan berangkat.
"Kamu baik-baik di rumah.aku pasti rindu banget kalian.kalau ada apa apa hubungi Mamah dan Papah.jangan buat aku kawatir." pesan Gio sembari memeluki istrinya.
"Iya.kamu juga ya." sahut Ayana dan malah mengeratkan pelukannya.
"Aku jalan dulu.takut anak anak keburu pulang,aku paling gak bisa ninggalin mereka." Gio melepaskan Ayana. perempuan itu mengangguk tidak iklas.Gio mengecup bibir sang istri lalu buru-buru pergi sebelum anak anaknya sampai.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Di kantor Ayana tengah bersantai sembari memainkan ponselnya.Jerrian terlihat menyembukan kepalanya membuat Ayana menoleh." Mau ngopi gak?ngopi yuk" ajaknya.
Ayana ingin menjawab iya.tapi teringat akan pesan Gio yang melarangnya agar jangan terlalu dekat dengan lelaki itu." Kamu aja.aku mager." sahutnya.
Jerrian mengangguk kemudian." Oke deh." Ayana menoleh saat lelaki itu pergi ia berpikir dan bertanya-tanya apa benar dugaan Gio itu.bahwa Jerrian menyimpan rasa kepadanya.
"Ah bodo amat." ucap Ayana sembari ke kamar mandi.usai itu ia memeriksa beberapa ruangan kantor.guna meneliti apakah para pekerjanya itu bekerja dengan baik atau tidak.sekembalinya Ayana di buat terkejut saat ia melihat satu cup es kopi dan jus buah dalam kemasan botol.
"Siapa yang naro?" Ayana terlihat kebingung.perasaan ia tidak meminta apa apa kepada si Dino.tapi kenapa ini ada jus buah dan kopi di sini.tak ingin ribet,Ayana meminum kedua minuman beda rasa itu toh tidak mungkin di taruh racun di dalamnya kan.lagian siapa yang berani meracuni Ceo perusahaan.
...☘☘☘☘☘☘☘...
Pagi pagi sekali Gio sudah menghubungi istrinya.bahkan Ayana masih tidur dengan nyenyaknya.dan terbangun saat mendengar telepon berdering." Kenapa?aku masih ngantuk ini." ucap Ayana dengan mata terpejam.baru beberapa jam ia tidur,semalam tidak bisa tidur karena tidak di peluk oleh Gio.heleh.
Gio berdecak dan menggelengkan kepalanya." Modelan bini gue gini kok bisa jadi Ceo?bangun aja malesnya minta ampun." batin Gio seraya memandangi wajah Ayana yang masih memejamkan mata itu.
"Ya udah tidur lagi aja kalau emang masih ngantuk mah.aku mau lanjut sarapan dulu." ujar Gio sembari mematikan ponselnya.Ayana tidak sanggup menjawabnya karena sudah terbang kembali ke alam mimpi.ngantuk memang benar-benar membuatnya tidak sadar kembali tidur.
Tidak terasa sudah hampir lima hari Gio berada di bengkulu,hari-hari Ayana begitu kerepotan.pasalnya setiap malam anak-anaknya rewel mencari keberadaan sang ayah.jangankan si sulung,si kembar saja sudah mulai mencari dan selalu menunggu kepulangan ayahnya setiap malam.mereka sudah terbiasa menunggu ayahnya.karena itu pula di tinggal selama lima hari ini mereka begitu rewel dan kehilangan Gio." Cepet pulang sih,anak anak kamu tiap malam rewel terus,pusing aku." rutuk Ayana.
Gio tertawa kecil mendengar sang istri yang sejak tadi tak henti merutuk.saat ini mereka tengah melakukan panggilan video." Iya,iya.sabar dulu atuh.dua hari lagi kayanya aku pulang." ucap suami Ayana itu.
"Masih lama banget." sahut Ayana.
"Mau gimana lagi,kan aku kerja ya ga bisa di tinggal sesukanya kalau belum selesai yang" Gio menyeruput kopinya yang terasa sudah mulai dingin.saat ini suaminya Ayana itu tengah sarapan di hotel.dan terlihat begitu menyukai makanan yang berada di mejanya.jika proyek pembangunan pabrik kayu itu masih lama. mungkin Gio akan membawa istrinya kesana sekalian liburan.
"Udara bengkulu enak gak Gi?" tanya Ayana penasaran karena ia belum pernah menginjakan kakinya di kota itu.
Gio terlihat menangguk." Lumayan.tapi kalau di sini panas,yang.kulit kamu bisa kebakar kalau lama lama di sini."
"Kaya di jawa ya Gi?dulu kamu sampe gosong pulang dari sana." Ayana terkekeh kala mengingat sewaktu Gio di ajak oleh Frans mengunjungi daerah jawa tengah.
Gio tersenyum melihat betapa cantiknya istrinya pagi ini.walau pun tanpa polesan make up dan hanya memakai pakaian sederhana seperti daster rumahan tapi istri Gio itu begitu cantik dan terlihat modis padahal hanya pakaian rumahan biasa tapi mengapa jika Aya yang memakainya malah terlihat modis.apa karena wajah dan tubuh wanita itu yang terlihat mahal dan sempurna.pikir Gio.
"Cakep banget,jadi pusing lihatnya." ucap Gio seraya mengunyah lemang tapai makanan khas bengkulu.makanan jenis ini juga sering di temukan di daerah banten makanan terenak yang bahan dasarnya adalah beras ketan yang di campur dengan santan.kesukaan yang nulis banget ini.
"Cape kenapa?ya udah istirahat dulu sehari mah Gi." ujar Ayana.kasihan juga melihat muka lelah Gio sepertinya pria itu kurang tidur.terlihat dari kantung matanya yang membesar.
Gio menelan lebih dulu makanannya sebelum menjawab." Gampang nanti siang bisa di tinggal molor bentar."
"Yang,mau di bawain apa dari sini?" tanya Gio siapa tau istrinya ingin oleh-oleh dari kota itu.
Ayana berpikir sebelum menjawab." Boleh deh.makanan daerah sana apa?." tanyanya bingung karena belum pernah mendengar makanan khas daerah bengkulu yang letaknya ada di ujung barat sumatra itu.
Gio terlihat bertanya kepada salah satu karyawan Frans yang ikut dengannya." Pendap katanya,yang.itu tuh kaya ikan di bumbui rempah di bungkus daun gitu.terus di bakar." ujarnya.
"Gak mau ah,amis nanti.aku kan gak terlalu suka ikan.makanan aja deh,kaya cemilan gitu.ada gak." pinta Ayana.perempuan jangkung itu memang kurang menyukai makanan dari olahan ikan.
"Ya udah,kata Pak Asim ada banyak.nanti aku beli sebelum pulang." Gio terlihat merapikan meja bekas makan.tanda bahwa ia telah selesai dengan sarapannya.
Melihat itu Ayana pun paham Gio pasti akan segera berangkat ke tempat kerja.ia segera meminta Gio mengakhiri panggilan video itu.karena dia pun harus bersiap siap untuk ke kantor.tapi pada saat akan membuka pintu,si Bibi sudah mengetuk terlebih dulu pintu kamar Ayana.
"Ada apa Bi" tanya Ayana.
"Di depan ada orang non.Pak Jerrian katanya." Ayana terlihat mengerutkan kening untuk apa lelaki itu datang kemari pikirnya,ia mengangguk kemudian menemui lelaki itu.
__ADS_1
Gio:Ngopi dulu slur