
Monica tampak sedih saat akan pergi meninggalkan cucu-cucunya.saat ini Vindi begitu melekat dalam pelukannya sepertinya balita itu enggan berpisah dengan neneknya.karena memang Vindi lah yang paling dekat dengan Monica,dari pada Jemia dan Raven." Ke bunda ya,nanti oma bakal menginap di sini kalau udah gak begitu sibuk di toko." bujuk Monica pada Vindi.balita itu tampak tidak mengerti sepertinya.ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada leher omanya." Besok oma nginep di sini,Vindi sama ayah dan bunda dulu malam ini,ya."
"Dia belum paham,Mah.ya udah alihkan dulu saja." titah Frans yang langsung di angguki oleh Monica.omanya Vindi itu langsung membawa Vindi menuju ruangan mainnya.
"Dia paling deket sama Mamah.pastinya gak mau di tinggal." bisik Gio pada istrinya.
"Iya,gimana nanti ya?takutnya rewel doang nyariin mamah." balas Ayana dengan kawatir.
"Nggak,pasti sementara doang." ujar Gio kemudian membujuk Vindi.ini sudah malam mertuanya itu akan pulang mereka pasti lelah karena membantu seharian kepindahan Gio dan Ayana ke rumah barunya.
"Sama ayah dulu,yuk." ajaknya kepada sang putri yang untungnya langsung mau.
"Ya sudah kami pulang dulu ya,mamah bakal sering kesini pastinya." pamit Monica dan Frans setelah beberapa saat memastikan bahwa Vindi tidak menangis balita itu malah menguap beberapa kali sepertinya memang sudah waktunya tidur
"Iya,Mah.sering-sering tengokin Aya dan anak-anak ya,Mah." ucap Gio.
"Tentu saja.mamah akan sering datang atau bahkan nginap di sini." balas Monica. kemudian mereka saling melepas dan kedua mertua Gio itu pergi karena sudah lumayan malam.
Ayana terlihat masih berdiri di teras rumahnya.melihat kepergian mobil orang tuanya yang melaju meninggalkan pekarangan rumah.wanita itu masih di sana dengan pandangan lurus ke depan jauh di dalam lubuk hatinya sebenarnya ia tidak ingin berpisah dengan kedua orang tuanya.namun lagi-lagi,ia sadar betul bahwa kodrat istri itu harus patuh terhadap suami.Ayana itu anak Papa dan Mama sekali sedari dulu ia tidak pernah berjauhan dengan kedua orang tuanya.kecuali saat menempuh pendidikan di Swiss dulu.itu pun hanya beberapa tahun saja.selebihnya ia lebih suka di rumah.meski sesekali berpergian ke luar negeri,seperti traveling dan mengunjungi teman-temannya yang sudah menetap di luar.
Gio segera memberikan Vindi pada susternya,ia kemudian menyusul Ayana yang terlihat masih berdiri di depan teras Gio paham dan tahu betul perasaan sang istri.ia juga tahu kalau sebenarnya Ayana tidak terlalu setuju untuk pindah rumah. namun bagaimana pun mereka harus pindah dan mandiri.tidak mungkin selamanya bergantung kepada orang tua Ayana.
Pikir Gio tetap saja meski ia berkerja menghidupi anak dan istrinya.tapi tidak menutup kemungkinan bahwa kebutuhan Ayana dan anak-anak masih di tanggung oleh Frans dan Monica.jika mereka masih tinggal serumah.dan jika semua itu masih tetap berjalan.lalu apa gunanya Gio selama ini.Gio tidak ingin terus menerus di bantu oleh mertuanya.ia ingin bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan mereka.meski tidak lah sedikit.Gio sadar betul karena itu ia harus berkerja lebih keras lagi.untuk membahagiakan anak dan istrinya.
"Yang.." panggil Gio.
Ayana langsung menolah dengan senyuman." Kenapa?." tanyanya.
"Masuk,udah malam." ajak Gio sembari membawa tangan sang istri untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.
"Iya,lupa aku." cengir wanita itu.
"Makan lagi yuk.kamu belum makan dari siang tadi kan?." Gio membawa Ayana duduk di meja makan.lalu mengambil piring dan menyendok nasi beserta sayur dan lauk pauknya.di meja makan itu masih tersisa banyak makanan sisa tadi.tadi siang mereka baru saja mengadakan acara sukuran pindahan.Monica memanggil pak ustad beserta warga komplek,untuk mendoakan sukuran rumah baru anaknya.
"Sebenarnya aku bel_"
"Paksain walau dikit.aku suapi ya." potong Gio.ia tahu Ayana akan bicara kalau dia belum lapar.padahal ini sudah malam sejak tadi istrinya tidak makan apa pun.karena Ayana terlihat begitu sibuk mengobrol dengan ibu-ibu komplek yang datang kerumahnya." Makan dulu baru kita istirahat." Gio mulai menyuapi Ayana dengan telaten.perempuan itu juga menurut saja ia menghabiskan makanan satu piring penuh.setelah itu mereka bersiap untuk tidur beruntung hari ini anak-anak tidak rewel dan sekarang sudah pada tidur di urus oleh suster.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Kini Ayana dan Gio sedang berbaring di ranjang besar yang ada di kamar mereka. keduanya tampak diam sibuk dengan pikiran masing-masing.merasai Ayana tetap diam dengan posisi telentangnya,Gio menggeser tubuhnya merapat pada sang istri guna menghirup aromanya yang menenangkan itu.
"Kenapa,belum tidur?." tanya Ayana.saat ini Gio sudah mendusel padanya persis Jemia ketika bermanja pada Ayana.ayah dan anak itu memang sama persis.
"Gak bisa tidur kalau belum peluk kamu." jawab Gio seraya mengeratkan pelukannya.
"Lebay,ah." sahut Ayana sembar terkekeh karena Gio mencium habis wajahnya saat ini.
"Kangen kamu.cium dong." pinta Gio yang langsung dapat dengusan dari Ayana.
"Kangen-kangen.tiap hari juga ketemu."
"Kangennya beda atuh.cium ih." rengek bapak-bapak berumur dua puluh satu tahun itu,sudah seperti anak kecil.ia ingin Ayana menciumnya.padahal sejak tadi dirinya sudah mencium habis wajah sang istri.
"Ck.." Ayana mencium suaminya beberapa kali supaya bayi aki-aki itu diam.terlihat wajah Gio langsung sumringah.dan Ayana pun mengerti akan kemana arah pikiran suami bocahnya itu." Aku gak mau ya jangan minta aneh-aneh." seakan paham dengan apa yang akan di lakukan suaminya.
"Iya,iya.." Gio mengalah ia harus menahan diri setidaknya untuk malam ini saja. kemudian keduanya mengobrol sebelum tidur,membahas mengenai rencana masa depan yang sedang mereka rangkai itu." Aku tau sebenarnya kamu gak setuju kan kalau kita pindah kesini?." tanya Gio pada akhirnya.
Ayana mengangguk membenarkan pertanyaan Gio.karena tidak memungkiri dirinya memang sebetulnya tidak setuju pindah rumah." Iya bener.tapi ya udah lah kita jalani aja dulu,tapi kalau nantinya aku memang gak bisa dan gak sanggup mengurus anak-anak tanpa Mamah,boleh gak,kalau aku minta balik ke rumah Mamah?." Ayana menatap Gio dengan menggigit bibir bawahnya.kawatir pria itu akan menolak mengenai permintaannya itu namun seketika saja Ayana di buat lega karena Gio langsung mengangguk.
"Iya boleh.kalau itu keinginan kamu." ujar Gio seraya mengelus dahi Ayana.
"Makasih ya,Ayah." ucap Ayana.lantas membuat Gio langsung mencubitnya dengan gemas.pemuda itu hanya mengangguk sembari menguyel pipi Ayana yang sudah mulai menipis.tidak seperti beberapa bulan lalu yang tembem sekarang Ayana sudah langsing kembali.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
Gio sedang memakai sepatunya,bersiap sore ini akan latihan futsal untuk turnamen yang akan di adakan kurang lebih sebulan lagi.Gio menoleh ke samping saat melihat putrinya itu berlari ke arahnya sepertinya tahu kalau Gio akan pergi." Ayah,ana?.." tanya Jemia sembari menggigiti biskuit khusus bayi.
"Ayah mau latihan futsal,Mia sama bunda ya.ayah gak lama kok." jawab Gio seraya berdiri lalu mengambil tas perlengkapannya.
"Nda mau.mau ikut ayah,nda mau Nda." Jemia menggelengkan kepalanya menolak di rumah dengan bundanya.Mia ingin ikut kemana pun ayahnya pergi.
"Kamu ngomong apa sih?ayah bingung tau." ujar Gio tak paham dengan bahasa anaknya yang terdengar belepotan itu.
"Ikut ayah..." pinta Jemia kekeuh.
__ADS_1
"Gak bisa.nanti kamu sama siapa di sana?ayah mau latihan,sayang.Jem sama Bunda aja nanti beli eskrim ke Alfa ya?." bujuk Gio dengan lembut.Jemia tetap menggeleng dirinya ingin ikut dengan sang ayah mungkin pikirnya nanti akan membeli eskrim di jalan." Haduh.gimana ini."
Gio manarik napas bingung kalau sudah seperti ini.bisa-bisa drama akan berlangsung sekitar setengah jam sedangkan dirinya dua puluh menit lagi. harus sudah berkumpul di tempat latihan karena kalau telat Arman suka mengomel Ayana terlihat berjalan dari dapur dengan Raven di gendongannya." Kok belum jalan?."tanyanya.
"Lihat dong anak kamu.aku gak boleh berangkat dia kekeuh mau ngikut." ujar Gio membuat Ayana terkekeh.
"Hei,Jemi.ikut bunda ke belakang yuk.kita kasih makan ikan dulu." bujuk Ayana sembari menarik tangan Jemia dengan pelan.
"Ikan mau makan,Nda?." tanya Jemia.
"Iya mau makan.yuk kasih makan dulu." ajaknya dengan segera menuntun anak itu ke dalam rumah.
"Aku berangkat,ya." pamit Gio yang hanya di jawab gumaman oleh Ayana.kemudian laki-laki itu menjalankan motornya menuju tempat pelatihan futsal.
Sesampainya di sana Gio sudah di tunggu oleh teman-teman eskulnyanya.dulu ketika masih SMA mereka adalah kaka kelas Gio yang masih berhubungan baik hingga saat ini sejak dulu mereka sudah menjadi bagian dari tim futsal yang selalu mengikuti turnamen baik besar atau pun kecil.
"Woi,Gio yang sekarang beda banget ya sama Gio yang dulu." ucap Dion sembari menepuk bahu Gio.membuat si empunya mendelik sinis.karena Gio tidak suka di sentuh-sentuh.
"Gio yang dulu bukan lah yang sekarang dulu di tendang sekarang Gio di sayang." Edgar yang baru datang pun terdengar bersenandung meledek Gio.yang langsung mendapat dengusan dari ayahnya Jemia itu.
"Gila,roda hidup lo mah cepet banget dan lancar muternya anak aja udah tiga.Gi sedangkan gue masih gini-gini aja,anjir." ujar Arman yang paling dewasa di antara mereka.
"Punya lo rodanya macet,Man." timpal Dion yang di tanggapi tawa dari yang lain.
Gio hanya berdecak sembari melakukan peregangan otot.biar tidak kaku saat latihan di mulai." Gimana caranya lo bisa ngejerat anak orang kaya,Gi?bagi tipsnya dong biar gue jerat juga tuh anak dosen di kampus gue." tanya Arga.
"Coba lo tanya ke pesulap ijo,Ga.kali aja dia tahu caranya menjerat cewek-cewek Kaya." sahut Gio yang sejak tadi tampak cuek dengan pertanyaan-pertanyaan tak bermutu dari mereka.
"Ah lo mah.gue kan nanya ke lo,masa suruh nanya lagi ke pesulap ijo sih." rutuk Arga.dirinya sedikit tahu tentang istri Gio yang katanya berasal dari kalangan atas. Edgar dan Arman terbahak mendengar gerutuan Arga.begitu juga dengan yang lain.
"Semuanya tergantung nasib,Ga.itu udah nasib si Gio yang bagus.makanya dia bisa ngawinin anak orang kaya.lo mah ngawinin nenek gue aja kalau mau." ujar Arman.
"Tod." sahut Arga sembari melempar cangkang akua pada temannya itu.
"Udah ayo latihan dulu.waktu gue gak banyak." ajak Gio,karena waktunya memang tidak banyak.setelah selesai dia harus segera pulang karena Jemia pasti mencarinya.
"Iya,si paling sibuk." ujar mereka kompak meledek.namun Gio tetap santuy tidak marah sama sekali,anggap saja ledekan mereka itu hanya angin yang lewat.
Gio tidak ada waktu untuk bermain-main ia harus membagi dan menggunakan waktunya dengan hal-hal yang berguna seperti mengasuh dan menjaga anak-anaknya misalnya.sore ini Gio telah selesai latihan futsal.dirinya bergegas akan segera pulang tidak ikut nongkrong bersama teman-temannya padahal sudah sejak tadi mereka mengajak Gio untuk nongkrong di warung mang Aan,tempat dulu Gio kumpul bersama temannya.
"Gak.di tungguin anak gue ini.tadi aja sebelum berangkat di tangisin." jawab Gio sembari naik ke motor besarnya.
"Ah elah,lo mah gak seru deh bentar-bentar anak bini mulu yang di prioritaskan.jadi iri gue sama mereka" ujar Arga sedikit dramatis
"Yah,Gi.uke lo sedih tuh." ucap Arman yang langsung mendapat geplakan di kepalanya dari Arga.
"Ya udah.lo aja yang gantiin gue kalau gitu." sahut Gio terkekeh.Gio sudah paham apa itu seme uke.dulu ia tidak tahu pembahasan mereka.namun sekarang berkat Andre dan Rehan,Gio sudah hapal sepertinya.
"Anjing lo." maki Arman yang langsung mengundang gelak tawa dari semuanya.
"Cabut,cabut.jangan ngeributin lobang tai aja woy." Bokir membubarkan mereka dengan langsung menyalakan motor besarnya hingga menimbulkan suara bising.
"Goblog si boker,anjing." maki Edgar dan kawan-kawan
"Gue duluan." pamit Gio kemudian berlalu dari sana menyusul Bokir.
"Itu anak hidupnya jadi makin bener aja.iri gue ama dia.nasibnya bagus banget.kalian bayangin coba,dia ganteng co dan banyak di sukai cewek-cewek.gampang buat gonta-ganti pacar.terus sekarang nikah sama cewek cantik dan orang kaya lagi terus punya anak yang lucu-lucu.apa gak hoki tuh bocah?." ucap Marko yang paling bijak di sana.di antara mereka semua memang Gio,Dion dan Edgar yang paling muda.mereka umurnya sudah di atas Gio semua.
"Iya bener.gue aja iri sama dia.fisik cakep. nasib bagus.apa lagi sekarang tambah bagus mulus bener hidup si Gio.ngalahin jalan tol anjir," sahut Arga.
"Gue salut sih sama dia,meski lahir di keluarga yang kurang mampu.tapi dia bener-bener bisa menjadi kebanggaan keluarganya.sejak dulu prinsipnya gak pernah berubah,dia harus berkerja sejak muda agar kelak bisa menikmati hasil jerih payahnya.buktinya sekarang berkat kerja kerasnya yang tekun itu.dia di jadikan menantu oleh Frans Himawan,coba kalau Gio itu modelan lo.Bang.Mr Frans mana mau." ujar Arman dengan kekehannya Marko hanya mendengus menanggapi ocehan sahabatnya itu.
"Gini-gini juga.gue ini bisa di andelin ketimbang si Gio." ucapnya.
"Oh ya?coba buktiin apa yang bisa di andelin dari lo,Bang?."tanya Edgar.
"Ngabisin nasi Padang tiga bungkus dalam waktu dua menit." jawab Firman yang langsung mendapat dengusan dari mereka.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Saat masih di perjalanan Gio berhenti lalu memakirkan motornya di kedai nasi goreng dia membeli beberapa bungkus sekalian untuk orang rumah.Gio masuk dan memesan nasi goreng sesuai apa yang di sukai istrinya.lalu ia duduk di kursi yang sudah di sediakan.sembari menunggu Gio memainkan ponselnya dengan membuka beberapa aplikasi akun sosial medianya.
"Kebetulan kita ketemu di sini." ucap seseorang.Gio sudah selesai dengan pesanannya.saat ini dirinya berada di tempat parkir motornya dan akan bersiap pulang.
Gio menoleh dan sudah tahu siapa pemilik suara itu." Kenapa,Sall?."tanyanya.
__ADS_1
"Kenapa,kamu bilang?kamu benar-benar gak punya hati ya?setelah apa yang kamu lakuin ke aku,kamu masih nanya kenapa?," semprot Sally tiba-tiba membuat Gio mengerjap dengan heran.
"Loh,emang aku kenapa?," herannya.
"Lo udah nipu gue,Gio.lo udah bohongin gue,lo ngajakin gue ketemu,tapi lo sendiri gak datang.emang dasar kurang ajar sih lo mentang-mentang banyak yang suka lo berlagak sesuka hati." amuk Sally langsung tanpa basa-basi lagi karena perempuan itu begitu murka kepada Gio, dirinya sudah mencari Gio kemana pun namun tidak ketemu.karena laki-laki itu juga tidak datang ke kampus hari ini.
"Apa sih?kamu ngomong apa aku gak ngerti?" Gio tidak paham kemana arah bicara Sally yang aneh menurutnya tiba-tiba menuduh orang tanpa bukti seperti ini.apa perempuan itu sedang mabuk pikirnya.
"Halah.gak usah pura-pura gak ngerti lo,lo yang hampir bikin gue celaka.untung aja nasib gue masih bagus jadi gue masih selamat kalau nggak,lo bakal mendekam di penjara." ucap Sally yang lagi-lagi membuat Gio tambah bingung.
"Emang gue ngelakuin apa ke lo?." akhirnya Gio terpancing juga ia sudah tidak menggunakan aku kamu lagi.saking geregetnya pada perempuan itu.
"Lo ngajakin gue ketemuan di gang buntu dan gue kira lo beneran,gue pergi kesana jam sepuluh malam.karena lo janjinya jam segitu.sampe sana gue gak nemu siapa-siapa.hape lo gak bisa di hubungin tiba-tiba.sampai setengah dua belas malam gue masih nunggu lo.dan akhirnya gue hampir di perkosa preman.karena ini gue bakal nuntut lo atas dugaan penipuan dan kejahatan berencana." Jelas Sally dengan napas sedikit tercekat.ia begitu takut saat mengingat kejadian mengerikan itu.dirinya di kerumuni oleh preman yang mabuk dan hampir saja di perkosa beruntung saat itu ada yang menolongnya kalau tidak.mungkin saat itu Sally sudah di gilir oleh empat preman berbadan kekar itu.
Gio menganga mendengar penjelasan itu. sebelum ia membuka suaranya Sally sudah lebih dulu memperlihatkan ponsel dan isi chatnya.Gio membaca pesan tersebut dan langsung mengerutkan kening.ia tidak merasa melakukan itu.
"Gue gak ngerasa ngirim chat itu Sall.lo jangan aneh-aneh deh.bisa aja itu chattan di edit.jaman sekarang apa sih yang gak bisa." Gio menolak untuk percaya meski sudah ada bukti.baginya itu bisa saja editan karena Sally itu perempuan licik.
"Oh jadi lo gak mau ngakuin?oke kalau gitu gue akan laporin lo ke polisi soal ini." ancam Sally dengan serius.
"Apaan sih?ngelaporin orang yang gak tahu apa-apa,itu namanya gila." kesal Gio emosinya meninggi saat ini.
"Gue gak gila.ini kan udah ada bukti dan bisa di cek kalau ini chat asli,bukan editan." Sally masih kukuh dengan ucapannya.
"Serah lo." Gio tak peduli dan segera menaiki motornya,namun segera di tahan oleh Sally membuat Gio dengan segera menepis tangan perempuan itu." Lepas gak usah pegang-pegang." sinis Gio.
"Gue gak ngada-ngada,Gi.kalau lo gak merasa.lo bisa cek sendiri kalau ini bukan chat editan." ucap Sally dengan pikiran liciknya membuat mata Gio menajam padanya.
"Maksud lo?"
"Siapa tahu ada yang mengirim pesan ini.lo tahu gak siapa yang suka pegang hape lo?." ujar Sally sengaja sukur-sukur setelah ini Gio dan istrinya itu bertengkar hebat.
"Udah sana.gue mau balik." Gio tak ingin menanggapi.dirinya menyalakan motornya lalu mulai meninggalkan tempat itu.Gio masih mendengar teriakan Sally.
"Gue gak main-main,Gio." teriak perempuan gila itu.namun Gio tak mempedulikannya sama sekali.meski jauh di lubuk hatinya sedikit terganggu dengan ucapan Sally.setelah sampai di rumahnya Gio masuk dan segera mencuci tangan karena anak-anaknya langsung menyerbu meminta di gendong.
"Nda.ayah puyang." teriak Jemia dengan riang.
"Iya.ayahnya biarin mandi dulu ya,Jem ayah bau keringat." ujar Ayana dari ruang makan.wanita itu sedang menata meja untuk makan malam.
"Ayah bau ingat?" ucap Mia.
"Iya,ayah bau keringat.makanya Mia sama ncus dulu ya." bujuk Gio setelah itu ia melesat ke kamar mandi,sebelum Jemia merengek meminta di gendong.
"Gimana latihannya?." tanya Ayana,setelah Gio muncul dari kamar dengan baju santainya laki-laki itu sudah wangi dan rapih.
"Lancar"
"Sukur deh.ayo makan dulu." ajak Ayana. karena dirinya sudah lapar sejak tadi.
"Nasi gorengnya gak di makan?." tunjuk Gio pada nasi goreng yang berada di dekat susunan piring di meja makan.
"Aku masak tadi.kamu gak bilang kalau mau beli nasi goreng." sahut Ayana lalu segera membuka bungkusan nasi goreng itu.
"Biar suster yang makan kalau gitu.kita makan ini aja." ajak Gio.mengalah supaya Ayana tidak sedih karena masakannya tidak di makan.
"Gapapa nasinya pake nasi goreng aja." ujar Ayana dengan segera membuka bungkusan nasi goreng itu.lalu mengajak para suster untuk makan di meja yang sama.Ayana meminta anak-anaknya di dudukan di baby chair.si kembar juga sudah mulai di beri makan,karena sudah mulai MpASi.keduanya di biarkan mengemut biskuit bayi hingga mengotori baju dan wajah mereka.
"Nasi goreng di campur nasi putih?." tanya Gio sembari menahan senyum.ia melihat piring sang istri yang berisi nasi goreng dan nasi putih yang terlihat menggunung.
"ini sayang aja sih nasi putihnya juga masa gak ke makan." jawab Ayana tanpa melihat pada Gio,dirinya malu karena ketahuan kalau sekarang porsi makannya semakin hari semakin bertambah saja.
"Iya bener.ayo abisin." ucapnya lalu melihat pada kedua asistennya yang sedang makan begitu tenang." Sus abisin makan yang banyak biar pada gemuk."
"Aduh.Mas,saya udah gemuk ini.kalau tambah gemuk lagi nanti susah cari suami." guyon suster Titi.
"Gak apa.kalau sudah cinta mah mau kaya gimana juga tetap akan cinta,Sus.banyak kok laki-laki yang suka perempuan berisi." ujar Gio seketika saja Ayana menoleh padanya.
"Kalau saya sih,tetap sukanya yang modelan non Aya ." lanjut Gio seakan mengerti akan tatapan istrinya yang terasa menusuk ginjalnya.
"Mm,ayok makan." ajak Ayana tidak ingin berlama-lama mendengar suaminya membahas bentuk tubuh.apa lagi bentuk tubuh wanita lain.
...Ayah:Mia,sini Gendong sama ayah😍...
__ADS_1