Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
107


__ADS_3

Tepatnya hari ini usia bayi Ayana sudah berumur empat puluh hari.karena itu Monica mengadakan acara sukuran di rumahnya bersama anak yatim dan warga setempat.ada beberapa juga kerabat yang datang tidak hanya keluarga dekat saja.acara kali ini terasa sangat berbeda masalahnya beberapa keluarga Monica merasa janggal melihat interaksi orang tua dari bayi yang sedang di bawa keliling oleh Frans untuk di gunting rambutnya itu.pada saat acara tersebut Ayana tak banyak bicara ia terlihat lebih banyak diam dan melamun.saat Gio gantian dengan Frans membawa keliling anaknya untuk di gunting rambutnya oleh para bapak-bapak yang hadir di sana Ayana hanya diam tak seperti biasa.biasanya ia akan sangat heboh mengambil foto dan video namun kali ini tak banyak yang ia lakukan.


"Terima kasih buat bapak-bapak semuanya sudah menyempatkan datang kemari." ucap Frans dan Gio pada tamu mereka satu persatu meninggalkan rumah Frans.


"Ka Mon,kok aku ngerasa Aya sama suaminya lagi ada masalah ya?" tanya Beatrix-adiknya Monica.


Monica yang sedang menyuapi cucunya dengan puding cokelat itu menoleh seketika." Mereka udah pisah." jawab Monica seadanya.tadi sore ia sudah sempat bicara dengan keluarganya memang hanya Beatrix yang belum tahu.


"Loh,gimana maksudnya Ka?" Beatrix menganga tak percaya mendengar jawaban kakanya itu.


"Udah cerai.secara agama udah di talak cuma ya belum di daftarin aja."


"Gio nalak Ayana,Ka?kok bisa sih?kenapa masalah awalnya?" kekepoan Beatrix meningkat karena ia yang paling akhir tau masalah ini.ia sempat mendengar dari ibunyanya langsung.namun tak puas rasanya jika belum mendengar dari Monica.


Monica menarik napas berat sambil menyusut area mulut cucunya." Entahlah. aku juga bingung.Ayana tiba-tiba ngotot minta cerai tanpa sebab dan akibat.poko permasalahannya aku tidak tau dengan jelas.mereka menutupi sampai saat ini."


"Apa Gio selingkuh Ka?bisa jadi kan namanya laki-laki dan masih muda lagi apa lagi kan Ayana hamil mulu,takutnya gak bisa memenuhi kewajiban terus dia ada main wanita lain di luar sana.kalau nggak kan,gak mungkin Aya ngotot minta cerai?."


"Kaka tau sendiri lah,laki-laki seumuran Gio itu lagi demen-demennya nyetak anak. mungkin bisa jadi itu salah satu penyebabnya.kalau Aya kan udah berumur perempuan mah lewat tiga puluhan aja udah lelah."


"Bisa jadi sih Ka,secara kulihat Gio ini masih seneng-senengnya main deh.dia kan nikah masih muda banget,takutnya lama-lama ngerasa bosan dan iseng nyari yang lain.terus ketauan sama Ayana." serobot Citra-adiknya Frans yang baru saja bergabung.


"Aku setuju sama Ka Citra." timpal Beatrix dia yakin Gio telah berselingkuh dengan wanita lain setelah bosan dengan Ayana." Kayanya selingkuh sih.kalau kdrt sih nggak kayanya ya.soalnya aku lihat dia ini orangnya penyayang sekali.gak mungkin kalau maen tangan."


"Coba Aya nya di bujuk Ka.siapa tau dia mau terbuka dan menceritakan masalahnya.kalau masih bisa di perbaiki ya kenapa nggak.mungpung masih talak satu kan?belum di daftarin lagi.kalau udah proses sidang itu ribet lagi.kalau ini kan tinggal dia abis masa iddah aja bisa rujuk lagi." Citra menyayangkan kalau sampai rumah tangga keponakannya itu bubar." Sayang aja dan kasihan anak-anak kalau sampai mereka pisah."


"Iya sih,kalau pun Gio emang bener selingkuh mungkin dia khilaf.kalau masih bisa di maafkan kenapa nggak.buat aja surat perjanjian pra nikah.biar dia gak dapat apa-apa.semua aset harus nama Ayana dan anak-anak." Beatrix menyetujui.


"Gak ada kata maaf dan kesempatan buat lelaki yang doyan selingkuh." Melani yang datang dari dapur itu menyerobot membuat ketiga wanita itu menoleh." Kalau dia selingkuh ya tendang aja ngapain di maafin?kaya gak ada lelaki lain aja di dunia ini."


"Ma" Beatrix menegur karena suara ibunya itu membuat para laki-laki yang berada di ruangan lain dan beberapa dari mereka menengok.


"Kau juga Be,aneh deh.pake ngomong segala mungkin khilaf dan masih bisa di maafin.kau saja sana yang maafin laki-laki macam itu.aku sih nggak.jijik kali aku sama laki-laki yang doyan selingkuh." semprot Melani ketus ia membuat anak dan cucunya mingkem.


"Kalau pun benar dan terbukti dia selingkuh di luar sana.siap-siap deh kutendang tanpa apa pun.kalau Monica dan Frans gak bisa tendang dia,biar saya sendiri yang tendang dia sampai dia sadar kalau dia berasal dari orang rendahan." Melani berbicara di tengah-tengah semua keluarganya.tanpa di ketahui mereka semua sudah kumpul di satu ruangan karena kepo.


Gio yang hampir masuk ke ruangan itu membeku di tempatnya.awalnya dia penasaran mengapa hampir seluruh anggota keluarga berada di satu ruangan ia pikir seperti biasa nenek Melani memberikan wejangan kepada cucu-cucunya.tapi ternyata beliau sedang membicarakannya dan akan menendangnya.


"Orang seperti dia harus tau dan sadar diri. saya tidak akan memaafkan lelaki yang berselingkuh dan kdrt.berani sekali dia kalau sampai selingkuh di luar sana.aku tidak terima cucuku yang sempurna yang memiliki segalanya harus terinjak harga dirinya di selingkuhi oleh orang rendahan seperti itu." Gio menahan napas seluruh tubuhnya bergetar menahan rasa sakit yang teramat.ia masih berdiri di sana kakinya seakan tertancap padahal ia ingin segera pergi agar telinganya tidak lagi mendengar hinaan itu.


"Dari awal aku tidak setuju Ayana di nikahkan dengan bocah ingusan itu." ucap Melani menatap Frans yang baru duduk di sana ia masuk ke sana dari kamarnya setelah selesai berganti pakaian." Kau juga Frans,kenapa pula anakmu kau kawinkan dengan dia?dimana otakmu sih?bisa-bisanya mencari menantu asal mungut aja.setidaknya meski kau mengambilnya dari tong sampah sekali pun.cari lah barang yang lebih baik di antara tumpukan sampah itu.jangan asal nyomot aja.hasilnya begitu kan?anakmu sendiri di injak-injak harga dirinya."


"Ma." tegur Monica.


"Apa Mon?" Melani beralih menatap anak sulungnya itu." Kau juga sama aja.sudah kubilang dari dulu kan?cari dan pilih lelaki yang baik dan jelas asal usulnya.rugi sekali rasanya menyekolahkan Ayana mahal-mahal hingga ke ujung berung memfasilitasi dengan seluruh uang yang kau punya.sekarang hasilnya malah jadi pabrik anak.sia-sia saja sekolah tinggi-tinggi kalau ujungnya hanya diam di rumah menjadi pabrik bayi.di tambah di bodohi oleh suaminya yang bahkan dia kuliahkan dari uangnya sendiri. memalukan."


Ayana tertunduk meremas ujung bajunya ia tidak terima mendengar ucapan neneknya itu.matanya seketika memanas sekuat tenaga ia menahannya agar tidak menangis.


"Awalnya aku sih setuju saja asal cucuku bahagia.aku pikir kalian memang benar mencarikan lelaki yang jelas.taunya apa yang aku takutkan beneran terjadi sekarang.memang benar sih mencari pendamping itu harus setara levelnya meski di bawah setidaknya jangan sampai anjlok banget." Melani kemudian menatap Ayana yang ternyata ada di sana berada paling ujung tengah duduk menunduk." Setidaknya jika lelaki itu selingkuh kita sebagai pihak perempuan tidak merasa amat terhina karena levelnya sama.tapi ini bahkan kuliahnya saja kau yang membiayai,Frans."


"Ma,tolong jangan ikut campur soal urusan anakku.biarkan mereka yang menyelesaikan masalahnya.kita hanya keluarga tidak tahu apa yang terjadi pada mereka.sebaiknya cukup doakan yang baik-baik saja untuk keduanya." Frans yang sudah tidak tahan itu bersuara dengan wajah dingin.sejak tadi ia menahan diri agar tidak menyerang kata-kata mertuanya itu karena masih menghargai bagaimana pun beliau ini orangtuanya juga.


"Aku tidak bisa diam sepertimu.aku bukan kau,Frans.yang diam saja meski anakmu di perlakukan tidak baik oleh menantu kesayanganmu itu.di sini harusnya kau adalah orang yang harus bertanggung jawab.kau sendiri yang membawa anak itu masuk ke keluarga ini.kau juga yang memaksa anakmu untuk menikah dengan bajingan itu_"


"Ma." sela Frans dengan wajah emosi." Kubilang diam.aku mengundang kalian untuk datang kemari untuk merayakan sukuran cucuku." Frans menatap sekeliling keluarganya dan keluarga istrinya itu." Aku seneng dan berterima kasih kalian hampir semuanya datang menyempatkan waktu. hanya untuk itu saja aku tidak ingin mendengar komentar kalian mengenai anakku dan rumah tangganya.cukup doakan saja yang terbaik untuk mereka tidak perlu bicara lebih seolah kalian tau betul apa yang terjadi.aku minta maaf jika ini menyinggung semuanya.tapi sebagai ayah dari Ayana saya tidak suka kalian ikut campur dengan masalah mereka."


"Gio tidak berselingkuh.jangan asal menuduh dan menghakiminya.tolong jangan memperkeruh keadaan."


"Bela saja terus menantumu itu,Frans. semakin kau bela semakin besar kepala dia dan semena-mena kedepannya." Melani tak terima mendengar Frans yang terus membela menantunya itu.


"Sudah,sudah.cukup.ayo kita istirahat." ajak Raharjo menengahi.


"Gak bisa Pa,Frans ini udah kelewatan dia terus-terusan ngebelain bocah itu terus." tolak Melani menepis tangan suaminya yang memegang pundaknya.

__ADS_1


Terlihat beberapa dari mereka meninggalkan ruangan itu.Ayana menoleh ke ruangan lain matanya beradu dengan Gio.lelaki itu berdiri tepat di sana sambil menatap padanya.Ayana sadar dan terkesiap ia berdiri.bersamaan dengan Gio yang meninggalkan tempat itu.


"Kang,tolong sampaikan pada mereka saya pamit lebih dulu ya.ada urusan ngedadak.dan ini tolong kasihkan ke non Aya nanti ya.saya duluan Kang." pamit Gio pada Kang Maman dan buru-buru keluar setelah memberikan kunci mobil yang ia bawa.Gio memutuskan untuk meninggalkan mobil itu di sini.dia masih tau diri tidak akan membawa secuil dan sepeser pun barang yang masih ada hubungannya dengan uang Frans dan Ayana.


Gio berdiri di depan rumah ayah mertuanya itu,ia merogoh saku mencari ponselnya untuk memesan taksi online.saat sedang menunggu taksi tiba Gio menoleh melihat Ayana yang menghampirinya.Gio tak bicara hanya memasang senyum tipis seolah mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


"Kenapa ini di kasih ke Kang Maman?ini mobilmu,kenapa gak di pake?" tanya Ayana langsung sambil menyodorkan kunci mobil pada Gio.hatinya bergemuruh ada rasa takut dan sakit campur aduk sekali pokonya.


"Aku naek greb aja gapapa,mobilnya aku tinggal aja di sini.siapa tau nantinya mau kamu pake atau orang lain.itu kan bukan mobil aku." jawab Gio.ia melihat aplikasi sudah sampai mana taksi itu jalan.sengaja ia lakukan demi menghindari mata Ayana.


"Jangan dengerin ucapan Nenek.jangan di anggap.namanya juga nenek-nenek suka ngelantur dan seenaknya aja kalau ngomong." ucap Ayana sambil menatap Gio dari samping.


"Emang nenek ngomong apa?" Gio tersenyum menguatkan hatinya yang sakit." Aku ga denger apa-apa tadi.emang itu rame-rame ngomongin apaan?aku tadi mau pamit ke mereka.eh gak enak soalnya kakek,Nenek sama Papah kaya lagi debat gitu.jadi aku nitip pamit aja sama kang Maman." jelas Gio kemudian membuat Ayana menunduk.hening tercipta di antara keduanya membuat suasan menjadi tidak nyaman.Ayana meremas kedua tangan ia menjadi bingung saat ini." Eh taksinya udah mau sampe ini.aku duluan ya,bilang Jem nanti lusa aku jemput." Gio menoleh ke samping melihat Ayana yang masih nunduk itu." Hey?." tegurnya.


"Mau pulang?" tanya Ayana pelan yang di angguki Gio.


"Iya,udah sana kamu masuk.udah malam ini nanti masuk angin." Gio meminta Ayana segera masuk ia tak mau wanitanya ini melihatnya pergi.


"Dengan Pak Gio?." tanya supir taksi yang baru sampai itu.ia memastikan nama orang yang memesan sama dengan yang di aplikasi.


"Iya Pak.saya." jawab Gio sambil tersenyum dengan ramah.kemudian ia berbalik melihat lagi Ayana yang hanya diam di tempat." Aku pulang ya,dah." pamitnya sembari membuka pintu mobil.


"Gi" Gio tersentak karena Ayana menubruk dan memeluknya membuat ia segera berbalik badan.


"Kenapa?"


"Jangan pulang." cicit Ayana.


Gio tak bersuara hanya diam sambil balas memeluk Ayana.kemudian ia melongokan kepalanya ke dalam mobil." Pak sebentar ya." ijinnya pada supir taksi itu.beruntung si bapak berbaik hati ia menjawab dan bersedia menunggu.


"Kenapa?aku harus pulang udah malam. kamu juga harus istirahat nanti malam begadang kan?." Gio melihat ke dalam rumah sudah sepi sepertinya anggota keluarga sudah pada tidur." Masuk gih,"


"Tapi kamu jangan pulang,Gi." ujar Ayana masih dengan suaranya yang pelan sekali.


Gio terkekeh pelan ia melonggarkan pelukan meraih kedua tangan Ayana. kemudian menatap wanita yang telah mencuri seluruh hatinya itu.sampai tak tersisa sedikitpun cela untuk orang lain masuki." Sayang,Kita udah bukan lagi suami istri yang Sah meski di mata hukum kita masih pasangan,apa kata orang dan keluarga besar nanti kalau aku nginep?mereka akan menganggap aku laki-laki tak bermoral kalau sampe nginep di rumah mantan istrinya.jangan membuat namamu buruk di mata orang lain,Yang.aku gak mau setelah ini orang -orang menganggap kamu yang selalu sempurna ini tercela."


"Gi" cicit Ayana air matanya sudah menyeruak meluncur begitu saja." Tapi-"


"Udah ya.kamu masuk dulu ini udah malam gak enak nanti ada yang lihat.besok aku datang lagi tapi sorean kalau semua kerjaan udah kelar.insya allah besok aku bantuin sampe malam jaga dede." sela Gio ia tak enak pada supir taksi yang seperti kambing edan hanya menatap lurus ke depan tanpa melirik sedikit pun ke samping.


Gio melepaskan tangan Ayana karena ia harus segera pergi." Aku pulang dulu ya gak enak si bapak udah nunggu dari tadi nanti aku telepon kalau kamu jenuh saat begadang." Gio sedikit mendorong Ayana untuk masuk ke dalam rumah.meski Ayana menolak tapi wanita itu menurut ia masuk dan menatap mobil yang mulai berjalan meninggalkan rumah besar itu.


Ayana mengusap air matanya mengadahkan kepala ke atas agar air matanya surut." Kenapa harus nangis sih?aturan gue biasa aja." Ayana bicara sendiri sembari menaiki tangga menuju kamarnya.


Di lantai dua ini Althea tersenyum penuh kemenangan.puas sudah ia menonton drama keluarga ini,dendamnya pada Ayana terbalaskan malam ini.tak sia-sia ia menghasut Neneknya itu untuk membenci Gio.rasa sakit hatinya akibat ucapan Ayana dulu sekarang terbalaskan.tapi ia belum puas kalau mereka belum hancur.harusnya keduanya harus saling menyakiti setelah ini.


"Rasain.orang sombong kaya lo itu emang harus ngerasain gimana rasanya di tinggal oleh orang-orang yang lo cinta." ucap Althea sembari meminum jus jeruk yang sejak tadi di tangannya." Gak sabar gue pengen lihat lo nangis darah Ka.lo nyesel karena Gio pergi ninggalin lo beserta anak-anak lo itu."


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pagi-pagi sekali Gio bangun dan segera mandi juga sarapan.lelaki itu sudah rapi dan wangi ia sedang memakai sepatunya Gio mencium pipi Billa yang sudah putih oleh bedak tabur.keponakannya itu mendengus kesal karena bedaknya pindah ke hidung Gio semua." Om,ihhhh." kesal Billa karena Gio belum puas mendusek pipinya.


Gio terkekeh sambil menjawil dagu bulat keponakannya itu." Habisnya udah kaya kesemek aja kamu mah.putih semua mukamu dek.mandi aja belum udah bedakan aja."


"Kata siapa aku belum mandi?om kali yang belum mah." Billa tak terima di ejak oleh omnya.


"ini buktinya bau iler ini." sekali lagi Gio mencuri ciuman di pipi Billa membuat ponakannya itu emosi." Bau pesing juga. kayanya Abilla ngompol nih-awsshhh." Gio meringis karena Billa mencubit perutnya dengan dua tangan sekaligus." Gak kena aw.orang perut om kenceng,wle." ejek Gio membuat kemarahan Billa naik level.


"Bun,om nih ngeselin." adu Billa dengan mata berkaca.


"Ngadu kok ke emak,ngadu sana ke pacarmu si Mursid noh." Gio masih belum puas mengerjai ponakannya itu.selain karena hobinya yang memang dasar jahil mengerjai Billa juga untuk mengalihkan perasaanya yang tak kunjung membaik sejak pulang dari rumah Ayana.dan ia juga rindu bercanda dengan anak-anaknnya.


Indri yang baru datang dari dapur itu tertawa sambil meletakan nasi goreng di meja." Cepat sarapan Bill.kamu nanti berangkat Bareng om aja ya.bunda mau ngambil pesanan orang soalnya."

__ADS_1


"Ka,nanti aku pulangnya malam kayanya mau kerumah Aya." pamit Gio setelah selesai sarapan ia hendak pergi.


Indri mengangguk dan tersenyum." Sukurlah.usaha ya dek semoga membuahkan hasil.mudah-mudahan ka Aya segera terketuk hatinya." ujar Indri dengan senang." Kemarin itu kaka sengaja duluan pulang biar kamu dan ka Aya ada waktu.juga kaka malu sama keluarga besar Pak Frans yang semuanya rata-rata kaya.kaka kan minder."


"Ya udah aku jalan dulu." Gio segera mengajak keponakannya itu berangkat. mereka pergi naik motor besar.motor pemberian Frans untuk Gio dulu saat awal-awal menikah.


Melani berdecak melihat Ayana yang melamun di meja makan.sejak tadi cucu cantiknya itu tak menyentuh makanan sama sekali.sejak pagi Ayana juga tak banyak biacara itu yang membuatnya heran." Aya?" Melani duduk di depan Ayana ia menyodorkan buah jeruk yang sudah di kupas pada Ayana." Di makan. jangan melamun terus kapan makannya."


"Belum lapar,Nek.nanti aja aku makan kalau udah pompa biasanya baru lapar." tolak Ayana sembari menutup makanan yang tadi di siapkan oleh bi Narti.ia hanya memakan buah saja.


"Jangan terus memikirkan masalahmu hidup harus terus berjalan.jangan berlarut dengan perceraianmu.nanti juga akan membaik seiring berjalannya waktu.masih banyak laki-laki yang mapan dan tampan tinggal tunjuk mau yang seperti apa.biar Nenek carikan untukmu."


Ayana langsung berdiri menekan keras egonya menahan diri untuk tidak berkata kasar pada neneknya itu." Aku gak butuh lelaki,Nek.gak usah repot mencarikan lelaki lain untuk Aya." tukas Ayana.


"Kamu di sakiti lelaki,konon obatnya juga lelaki lagi,Aya.percayalah nanti kamu akan butuh juga.cari yang dewasaan.kamu butuh lelaki matang untuk pendampingimu bukan bocah ingusan yang ngertinya cuma buat anak aja." ujar Melani santai sambil mengunyah kacang polong di toples.


Ayana berdiri dari kursi tak mempedulikan ucapan neneknya itu ia berlalu begitu saja meninggalkan meja makan.rasa kesalnya terhadap sang nenek makin bertumpuk sejak semalam.Ayana memang benci pada Gio tapi ia tidak bisa dan tidak akan terima mendengar dan melihat suaminya itu di hina dan di rendahkan oleh keluarganya sendiri sampai kapan pun Ayana tak akan terima.Gio,dia lelaki itu lelaki pertama yang menyembuhkan luka di hatinya.lelaki pertama juga yang membuatnya jatuh cinta hingga lupa bahwa Ayana pernah merasakan sakit dan di campakan.laki-laki terbaik yang pernah Ayana temui dalam hidupnya setelah ayah dan kakanya.Ayana tidak munafik bahwa kehadiran Gio di dalam hidupnya begitu berarti dan berharga.terlepas dari satu kesalahan yang pernah lelaki itu ucapkan.selain itu Gio adalah lelaki yang sempurna versi dirinya bagi Ayana.


Suara ketukan di pintu mengalihkan kesedihan Ayana.ia berdiri dan mengusap air matanya.sebelum itu Ayana membersihkan wajah terlebih dahulu dengan gerakan cepat." Masuk." ujarnya dan langsung membuka pintu.ia tertegun melihat Gio yang berdiri di depan pintu.


"Hey,boleh aku masuk?atau gak bawa aja dede ke bawah ya." ucapnya sembari mengusap lehernya ia jadi malu sendiri melihat Ayana yang hanya diam menatapnya.


"Masuk aja.gak usah di bawah.soalnya ada nenek." suruh Ayana ia segera menutup pintu mamun di tahan oleh Gio." Kenapa?"


"Jangan di tutup,aku gak enak masa kita berduaan di kamar?nanti yang lain lihat gimana?" ujar Gio mengingatkan.


Ayana berdecak dan mendorong dada Gio sambil menutup pintu.Gio yang tak siap pun terdorong hingga tubuhnya menabrak dinding." Kenapa kamu segitunya banget, Hah?tibang satu ruangan sama aku doang. kamu nolak,Gi?kenapa sih?apa ada hati lain yang sedang kamu jaga?tenang aja cewek kamu gak akan tau kita berada dalam satu ruangan." dada Ayana naik turun menahan emosi yang membungbung tinggi di ubun ubunnya.


"Hey nggak gitu." bantah Gio sembari menangkis tangan Ayana yang terus memukuli dadanya.


"Terus apa?sejak kamu menceraikan aku. kamu seolah menjaga jarak dari aku.kamu selalu memakai alasan kita udah bukan pasangan lagi.aku tau itu dan gak usah kamu ingatkan terus.aku sadar kalau aku ini mantan istri kamu bukan istri kamu lagi."


"Kamu keterlaluan tau,aku tau kamu mungkin udah ada yang lain.tapi gak gini juga kan sama aku,bisa kan?." Ayana sesegukan setelah kedua tangan kurusnya itu berhasil di tangkap oleh Gio.ia menangis di dada bidang nan hangat lelakinya ini.


"Jangan nangis." lirih Gio sembari mendekap Ayana.


"Kamu jahat." sahut Ayana dengan suara serak.Gio membawa Ayana ke atas sofa mendudukannya di sana.ia takut Ayana pegal jika lama-lama berdiri.Ayana tak bersuara hanya menurut saja apa pun yang Gio lakukan.Gio duduk bersandar di sofa itu ia merebahkan kepala Ayana pada dadanya.


"Gak ada yang lain,hanya kamu." bisik Gio di telinga Ayana membuat perempuan itu mengeratkan pelukan.


"Bohong." ucap Ayana.


"Tanyakan saja pada dunia kalau kamu gak percaya.aku cuma punya kamu,cuma kamu.aku gak minat sama wanita mana pun selain kamu.sudah kukatakan kalau aku ini mati rasa sama wanita lain."


"Lalu,Amanda?" Ayana mendongakan wajahnya menatap wajah Gio yang menunduk ke bawah.


"Kenapa harus bawa dia ke dalam obrolan kita?dia bukan siapa-siapa bagi aku.tolong jangan selalu libatkan dia.Amanda hanya masa lalu bagi aku.yang bahkan hanya mampir sebentar.sedang kamu,kamu yang paling lama dan selalu menetap di sini." Gio membawa tangan Ayana pada dadanya." Kamu pemiliknya.pemilik hati dan raga ini."


"Kamu juga ngomong gini pas sama cewekmu kan?"


"Allah." Gio memejamkan matanya mendengar pertanyaan konyol dari Ayana ini ingin sekali dia membawa tubuh kurus Ayana lari ke luar jendela lalu melemparkannya ke bawah.saking gemasnya Gio.


"Iya kan?"


"Biar aku tanya Andre dulu.harus aku jawab apa pertanyaanmu ini." ujar Gio dengan lemas.


"Jadi dia juga tau kalau kamu sudah punya cewek lain?" lagi Ayana membuat asam lambung Gio menyeruak menuju kerongkongan.


"Anakku mana?" tanya Gio mengalihkan pertanyaan-pertanyaan edan dari Ayana ini." Belum ayah beri nama si ganteng ini ." Gio berjalan ke sisi ranjang melihat anaknya yang tertidur pulas.


"Jeivano Arnesh Pramudya." ucap Gio pada putranya." Nama yang gagah dan berani.kelak kamu akan menjadi lelaki yang gagah dan berani seperti namamu." ia mencium anak lelakinya dengan sepenuh hati." Tumbuhlah sehat dan pintar seperti kaka-kakamu ya Nak.maafin ayah ya,i love you Jei." setelahnya Gio menciumi bayi mungil itu dengan sayang.


Ayana mendekat dan duduk di sebalah Gio ia mengelus pipi anaknya dengan jarinya." I love you too,ayah." Gio menoleh ke samping dan tatapan keduanya beradu.

__ADS_1



Gak tau pokonya ganteng banget bikin pusing Gio ini ya😭🀧😍


__ADS_2