Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
51


__ADS_3

Hari-hari berjalan dengan lancar anak mereka sudah berusia dua bulan lebih,kini Gio dan Ayana di sibukan untuk menjaga putri mereka tanpa bantuan suster.ini hari minggu Gio dan Ayana memutuskan untuk tidur hampir seharian karena tubuh keduanya butuh istirahat.Monica yang selalu menyuruh agar mereka tidak kelelahan.apa lagi nanti malam pasti begadang karena si kecil sudah mulai rutin dan sering bangun di malam hari.wanita tua itu selalu mengomel karena kedua anaknya terkadang melupakan istirahat.


"Kalau kalian mau maen gapapa keluar aja sana,biar Mia sama kami.udah ada stok susu kan,Ay?." tanya Monica sembari menggendong dan menciumi cucunya.


"Ada.tapi Gio kayanya lagi males bergerak, gapapa kapan-kapan aja lah maennya kami mau tidur aja hari ini mah." ujar Ayana karena dirinya pun malas jika harus keluar rumah." Makasih ya Mah udah jagain Mia seharian." lanjutnya lalu ke kamar membawa makanan untuknya agar bisa menonton sambil main ponsel.


"Gionya di ladenin dong,Dek.masa iya suami di cuekin aja sih?." omel Monica namun tak di dengarkan oleh Ayana. perempuan itu mengemut cokelat stik seperti anak SD saja.Ayana dan Gio selalu bergantian jam tidur untuk menjaga putri mereka.biasanya mereka membagi waktu Ayana akan tidur dari jam delapan malam sampai jam tiga pagi,maka Gio akan tidur di bawah jam tiga sampai subuh.karena pagi hari harus kuliah dan lanjut kerja.


Sebenarnya Monica sudah beberapa kali mengingatkan Ayana dan Gio agar memakai suster saja.supaya mereka tidak perlu repot-repot membagi jam tidur dan mengurus Mia.namun keduanya kekeuh sudah sepakat katanya akan mengurus sendiri putri mereka tanpa melibatkan orang lain.Ayana dan Gio selalu bilang bahwa mereka mampu dan kuat mengurus putri mereka tanpa bantuan suster.


"Iya mamah tahu,tapi kan kasihan Gio.lihat deh kurusan loh suamimu sekarang.Gio kebanyakan begadang di tambah jam kuliah dia panjang juga kan?belum lagi harus kerja dan pulangnya selalu malam sampe rumah bukannya istirahat malah begadang sampe subuh." omel Monica tadi pagi kepada putrinya yang bebal itu.


"Tapi Gio juga yang mau sih mah.Aku juga udah bilang ke dia biar gak usah kecapean takutnya dia sakit.tapi dia bebal katanya dia udah biasa pergi pagi pulang subuh." sahut Ayana tidak ingin di salahkan.


"Iya emang udah biasa.tapi kalau nanti Gio penyakitan gimana?masih muda udah banting tulang gak sayang sama badan sendiri?nanti kalau ada apa-apa mau kamu jadi janda?bujuk terus dia biar mau kurangin kerjaannya karena Papah juga kan udah sering ngingetin,tapi Gio akan nurutnya dua hari doang paling." balas Monica.


"Lebih baik ambil satu suster untuk bantu kamu.nanti Mia di pindahkan aja ke kamar Thea biar dia tidur sama suster.nanti kamu tinggal pompa aja sebelum tidur gak perlu bangun-bangun tiap jam nyusuin,jadi waktu kalian untuk tidur dan istirahat ada." lanjutnya lagi.


"Kamu juga harus memperhatikan Gio. masa iya kamu fokus ke Mia aja.Mamah udah jarang lihat kamu nyambut Gio pulang kerja.setiap dia pulang kamu udah ngorok duluan.dia cari makan sendiri urus semuanya sendiri.kamu harus perhatikan juga dong suami kamu jangan hanya fokus ke anak aja." omelnya lagi membuat telinga Ayana panas.


"Kata dia gapapa sendiri.karena kasihan sama aku kalau aku harus merhatikan dia juga.lagian aku juga kecapean kalau harus nungguin Gio pulang." sahut Ayana selalu membela dirinya.


Monica bedecak beberapa kali." Iya dia emang pengertian.tapi kan tetap saja. suami itu butuh perhatian dari istrinya.iya gapapa sekarang-sekarang mah tapi nanti dia malah terbiasa semuanya sendiri.dan gak butuh kamu lagi,ingat Gio masih muda dan ganteng ada banyak perempuan yang ngantri untuk merebut hatinya dan siap menggantikan posisi kamu.kamu mau suami kamu kecantol cewek lain?mau Gio mendapat perhatian dari wanita lain?." tanya Monica dengan serius.


"Hati-hati loh.Gio emang baik dan gak macam-macam di luar sana.tapi kita gak tahu kan namanya godaan suka datang dari mana saja.Mamah takutnya,Gio mendapat perhatian dari perempuan lain, ngerasa dia jenuh karena kamu fokus ke Mia,dia malah ngelirik yang lain.biasanya sih awalnya coba-coba malah keterusan jadinya." sambung Monica lagi membuat Ayana bergeming.


Ayana menarik nafas sembari menatap putrinya yang sedang menyusu.dirinya pun lelah sebenarnya,tapi mau bagaimana lagi mengurus anak memang kewajiban mereka bukan orang lain.Ayana hanya ingin mengurus putrinya dengan tangannya sendiri.berbekal ilmu yang selalu di ajarkan oleh Monica setiap hari dirinya memutuskan ingin menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya agar bisa fokus pada suami dan anaknya.


Tapi setelah berkali-kali mendengar ocehan ibunya,Ayana jadi berpikir ia harus mencari satu suster untuk membantunya mengurus Mia.Ayana tidak bisa mengandalkan bi Narti dan si Mbak,karena tugas mereka membersihkan rumah bukan membantunya mengurus bayi.


"Nanti Aya obrolin dulu sama Gio,Mah." sahut Ayana setelah lama terdiam.


"Gak perlu,mending adain dulu susternya baru kamu ngomong ke dia.nanti kalau udah lihat orangnya mau gak mau Gio pasti setuju." ucap Monica sambil mengetik pesan kepada orang kenalannya untuk mencarikan suster yang akan membantu Ayana.


"Ya udah terserah Mamah aja." Ayana hanya bisa pasrah karena setelah di pikir-pikir ibunya ada benarnya juga.jika ada suster maka dirinya bisa lebih leluasa untuk melakukan apa pun.


Setelah melahirkan Ayana hanya pernah melakukan perawatan salon sekali,karena repot mengurus Mia yang sudah mulai tengkurep itu.karena Monica pun terkadang sibuk juga menjaga toko dan bisnisnya yang lain.Ayana juga bisa sepenuhnya memerhatikan Gio,karena selama hampir tiga bulan ini seluruh perhatiannya tersita oleh Mia.mereka juga tidak pernah berhubungan badan setelah masa nifas Ayana.Gio ketakutan saat mereka melakukan lagi untuk pertama kalinya setelah Ayana selesai nifas.mereka kembali berhubungan tapi hanya sampai di tengah jalan karena Gio berhenti tidak tega melihat Ayana yang kesakitan.


Padahal saat itu Ayana biasa-biasa saja, dirinya memang kesakitan tapi tidak selebay itu pikirnya.Ayana masih tahan sakit dan tidak masalah jika mereka melanjutkan.namun dasarnya saja Gio yang lebay.masa berhenti di tengah jalan karena tidak ingin merobek jalan lahir yang sudah di rapikan oleh dokter.kala itu Gio malah membayangkan betapa kesakitannya Ayana jika ia merobeknya.


"Lebay lo,padahal dulu pas lo robek perawan gue biasa-biasa aja deh.tapi ini robekin jahitan aja lo gak berani." sungut Ayana kala itu.


"Kan beda,kalau perawan ya emang harus kayanya karena aku juga penasaran pengen gol in kaya orang-orang.kalau ini kan beda.saat itu aku ketakutan dan gemetar seluruh badan ngilu pas lihat kamu ngeluarin kepala bayi dari sana.terus habis itu jalan lahirnya di jahit,aku gak bisa bayangin sesakit apa itu.masa iya pas kaka udah sembuh aku lukain lagi." balas Gio dengan wajah serius.


Ayana hanya mendekus saja mendengar balasan suaminya.dirinya kesal karena Gio tidak mau melanjutkan permainan mereka yang sudah berada di tengah jalan,bahkan saat itu Ayana sudah terhanyut sebenarnya." Iya udah terserah lo aja kalau gak mau lanjut.lagian gue lelah sih seharian cape ngurusin Mia." ucap Ayana lalu memakai kembali pakaiannya dan keluar kamar.


Gio hanya termenung dirinya tahu Ayana sedang marah kepadanya." Aku gak tega sama kamu,Ka.masa iya aku berkali-kali harus nyakitin kamu sih?aku udah ngehamilin kamu,udah buat badan kamu rusak karena harus mengandung dan melahirkan anak kita.itu semua karena aku terus sekarang masa iya aku kembali nyakitin kamu lagi sih." gumam Gio seolah ada Ayana di hadapannya.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...

__ADS_1


Pukul delapan malam Gio baru terlihat memasuki garasi rumah.lelaki itu berjalan dengan loyo sembari menenteng kotak kue permintaan Ayana tadi pagi.Gio memasuki rumah yang terasa sangat sepi apa lagi jika dirinya pulang dalam keadaan kelelahan seperti ini.saat Gio meletakan kue itu di meja makan.Ayana terlihat menghampirinya dengan rambut di cepol dan baju piyamanya tidak terkancing sempurna.Gio mengisi gelas dengan air dingin dari kulkas.


"Gi." panggil Ayana lalu memeluk suaminya usai Gio meletakan gelas.Ayana mencium aroma keringat yang bercampur dengan parfum mahal milik Gio." Wangi banget sih ayah Mia ini,padahal seharian kerja tapi tetap wangi dan kelihatan hot banget." ucap Ayana sembari mengecup rahang Gio yang tegas itu.


Gio terkekeh dan menunduk dengan menatap wajah istrinya." Tumben bundanya Mia kenapa nih kok tiba-tiba jadi kaya cabe-cabean gini,caper ih." goda Gio seraya tertawa.lalu tangannya merapikan kancing piyama Ayana.


Ayana mendekus sembari memukul bahunya." Ishh,gak romantis banget sih lo. gue kan berusaha ngasih perhatian sama lo karena selama ini gue sibuk sama Mia terus.gue takut lo malah ngelirik yang lain." ujar Ayana dengan wajah serius.


Gio menaikan kedua alisnya tak mengerti kepada istrinya ini." Ada apa nih tiba-tiba begini?" tanya Gio tak paham.


"Gue takut,Gi.lo malah ngelirik cewek lain. karena gue gak pernah lagi merhatiin lo dan ga pernah ngurusin lo lagi.Mamah bener gue terlalu fokus ke Mia,sehingga waktu buat lo tersita habis oleh anak kita. gue takutnya lo malah dapat perhatian dari perempuan lain di luar sana." lirih Ayana dengan wajah menunduk mereka saat ini masih berdiri di depan kulkas.


"Selama ini kamu memang gak pernah percaya ya sama aku?dan selalu menganggap aku lelaki yang akan seperti itu jika di luar?iya Ka?." tanya Gio.Ayana tidak menjawab hanya diam menatapi Gio.


"Padahal gak pernah terbesit sedikit pun di benak aku untuk melirik cewek lain di luar sana.setiap kaki ini melangkah aku selalu mengingat kalian berdua.dan hanya kalian yang selalu memenuhi kepala dan hati aku. sama sekali tidak ada celah untuk orang lain masuki."


"Tidak pernah ada pikiran bahwa aku akan mencari perhatian dari cewek lain,atau pun mencoba melirik yang lain,karena kamu selalu fokus pada Mia dan aku tidak di perhatikan oleh kamu.pemikiran itu tidak pernah telintas di kepala aku sama sekali Ka." ujar Gio.


Lelaki itu menatap lekat wajah Ayana yang juga sedang menatapnya." Aku selalu mengerti dengan keadaan kamu.kamu sibuk dan fokus kepada Mia itu wajar,kan anak kita masih bayi masih harus di perhatikan.nanti juga akan ada saatnya di mana kita bisa lebih leluasa.sekarang fokus aja dulu ke anak,aku juga gak nuntut kamu untuk selalu merhatiin aku.aku paham bagaimana lelahnya kamu mengurus anak kita seharian tanpa aku. makanya kalau malam aku yang bantuin biar kamu gak terlalu kelelahan." lanjutnya.


"Dan aku juga gak terlalu memikirkan kesana.tidak ingin selalu di perhatikan oleh kamu.aku ini seorang suami sudah sepantasnya mengerti dan memahami posisi kamu saat ini.aku juga gak nuntut kamu untuk ini dan itu aku cuma minta kamu fokus aja ke anak kita dulu.urusan yang lain kan bisa belakangan toh masih banyak waktu ini.tolong hilangkan pemikiran seperti itu.gimana aku bisa tenang kalau kamu selalu berpikiran yang macam-macam sama aku?." Gio masih menatap istrinya yang sedang membisu itu.


"Bu_bukan begitu.maksud gue tuh_"


"Apa?ada yang bilang ke kamu kalau aku di luar bisa aja macam-macam gitu?siapa yang bilang begitu?." potong Gio dengan tegas.


"A_anu.gue cuma takut,gue takut lo dapat perhatian dari wanita lain.kan bisa aja. masalahnya gue udah gak pernah ngurusin lo lagi,gue udah sibuk banget sama Mia dan diri gue sendiri.kita juga kan_gak pernah melakukan itu lagi,apa lo tahan gak dapat jatah dari gue?bisa aja kan lo tiba-tiba ada kepikiran buat nyoba-nyoba di luar sana." ujar Ayana membuat Gio menarik napas panjang.


"Aku bilang kan,cobalah untuk me time sesekali biar kamu fresh dan pemikiran kamu gak butek.kamu kecapean itu makanya banyak berpikiran yang aneh-aneh jadinya." Gio memegang tangan Ayana yang tergantung bebas di kedua sisi tubuhnya.


"Tolong dengerin aku kali ini ya.tolong hilangkan pemikiran buruk itu dari kepala kamu ini.jujur,aku gak mau kamu malah sakit karena kebanyakan mikir yang enggak-enggak ujung-ujungnya kamu sakit dan ngebatin,karena memikirkan hal-hal yang tidak akan pernah terjadi di dalam hidup kita ini."


"Aku gak akan melakukan itu semua sayang.tolong pegang ucapan aku ini kalau pun aku terlihat akan menginjak jalan yang berbeda.tolong ingatkan dan tegur aku supaya tetap berjalan berdampingan di jalan yang sama dengan kamu." Gio melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ayana yang masih di bebat oleh kain panjang berwarna merah permintaan Monica.


"Gi.." panggil Ayana dengan mata yang sudah memerah siap akan menangis.


"Aku di sini,Sayang.aku akan selalu di sini bersama kamu dan anak kita.aku gak akan kemana-mana karena tempatku itu kamu. kamu adalah rumah bagiku.tempatku pulang dan melepas lelah melepas segalanya setelah seharian melakukan tugasku di luar.tolong percaya sama aku setidaknya agar bisa mengurangi beban di pikiran kamu itu." Gio mengusap punggung Ayana dengan kedua tangannya.


Ayana mengeratkan pelukannya pada tubuh Gio dan mulai terisak." Gio.maafin gue udah keterlaluan ya sama lo." ucap Ayana sembari terisak.


"Sstttt,jangan nangis nanti kalau Papah pulang aku di kira udah KDRT lagi,wajar kalau kamu ketakutan.tapi tolong takutnya itu di kurangin ya biar mental kamu juga sehat." ujar Gio sembari mengecup berkali-kali kening Ayana.


Ehmmmm


"Kok stok ASI Mia gak di sediain ya?." ucap Monica yang baru turun dari kamar Ayana membuat keduanya menoleh dan melepas pelukan.


"Eh anak Ayah,sini Sayang." pinta Gio sembari merentangkan tangannya.


"Eitss.kamu udah cuci tangan belum,Gi?sana mandi dulu mending nanti baru pegang adek." cegah Monica dan menjauhkan cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


"Belum Mah.lupa hehe." cengir Gio merasa tak enak juga.padahal dirinya sudah tidak sabar ingin memeluk dan menguyel sang putri.


"Gio kan cuma duduk di ruangan aja Mah. gak keluar-luar juga gak kotor-kotor amat lah." sewot Ayana sembari mengelap air matanya dengan tisu jengah juga ibunya yang terlalu bersih itu.


"Ya udah Gio mandi dulu." pamit Gio lalu ke atas membawa kemejanya yang tersampir di pundaknya.


"Ke kamar yuk nen dulu." ajak Ayana pada putrinya lalu menaiki tangga.


"Ini kue punya siapa,Ay?" teriak Monica.


"Tadi Gio bawa buat aku katanya.Mamah makan aja kalau mau." sahut Ayana sembari terus berjalan.


"Gak ah,itu manis Mamah udah tua nanti diabetes lagi." balas Monica lalu berjalan ke kamarnya.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Setelah di kamarnya Ayana langsung menyusui putrinya yang memang sudah kelaparan sejak tadi rupanya.sembari menunggu Gio mandi Ayana iseng membuka ponsel Gio ingin tahu saja apa isinya dan dengan siapa saja Gio sering chattingan.namun saat membuka-buka semua isi ponselnya Gio,Ayana tidak menemukan apa pun yang mencurigakan hanya satu saja ada yang menarik perhatian Ayana,wanita itu memencet salah satu profil perempuan yang terlihat berfoto dengan beberapa temannya dan perempuan itu berada di samping Gio. mereka terlihat akrab dengan tawa yang merekah di foto itu.


"Nih cewek cantik kagak,gatel iya." rutuk Ayana memaki perempuan yang ada di foto itu." Gak tahu apa kalau Gio sudah beranak.emang lo mau sama duda?." omelnya dengan ketus.


Gio yang baru keluar kamar mandi pun menggelengkan kepalanya mendengar dan melihat istrinya itu sedang memaki orang.seolah orang itu ada di depannya saat ini." Kenapa?" tanya Gio sembari menggosok rambutnya dengan handuk.


Ayana terkejut saking fokusnya sampai tidak menyadari kalau Gio sudah berada di depannya." Ini cewek siapa sih,Gi?." tanyanya.


Gio menunduk dan melihat ponselnya yang di sodorkan oleh Ayana." Oh temen satu kelas,kenapa emang,Sayang?." tanya Gio lalu menunduk mencium putrinya yang tengah menyusu dengan lahap.


"Kayanya dia suka deh sama kamu.lihat nih tatapannya aja begini banget dalem loh,emang kamu gak bilang ke dia kalau kamu udah ada istri dan anak?." tekan Ayana dengan wajah masam.


"Dia udah tahu kok,kan teman-teman aku pada tahu,Yang.aku sih gak pernah bilang langsung karena buat apa juga kan?aku gak deket sama dia.cuma kalau lagi ada pelajaran aja saling tanya-tanya info gitu doang." jelas Gio lalu duduk di samping istrinya masih handukan.


"Tapi dia suka sama kamu."ujar Ayana.


"Ya aku gak peduli,yang penting aku gak bales dan gak ladenin dia." balas Gio.


"Lo sengaja gak bilang ke dia biar orang-orang juga pada naksir lo kan?enak ya jadi cowok mah udah punya anak bini juga bisa ngaku bujangan di luar sana.dan gak kelihatan juga kan kalau udah beranak." ketus Ayana dengan segala tuduhannya.membuat Gio menepuk jidatnya yang mendadak keleyengan.


"Sini dedenya biar kamu istirahat,capek ngomel-ngomel mulu soalnya." ujar Gio sembari hendak mengambil alih Mia dari pangkuan Ayana.namun perempuan itu menjauhkan.


"Gak usah mengalihkan pembicaraan deh, udah lo ngaku aja kalau di luar sana pasti lo ngakunya bujangan kan?." desak Ayana masih tidak percaya kepada Gio.


Gio berdecak sembari menarik napas lelah." Apa aku harus menempel stiker di jidad aku?dengan tulisan bahwa aku sudah menikahi Ayana Disha Himawan putri dari Frans Adelard Himawan?biar semua orang tahu kalau aku udah beristri,begitu?." tanya Gio dengan wajah serius membuat Ayana malah salting.


"Apaan sih?lebay deh." ucap Ayana dengan wajah yang sudah memerah dirinya pura-pura menunduk menatap wajah Mia.


"Kalau itu yang kamu mau dan bisa membuat kamu puas dan tenang gapapa.besok aku mau buat stiker segede gaban lalu di tempel di jidad aku,dan di belakang punggung supaya orang-orang tahu kalau aku milik kamu.atau perlu aku umumkan di mesjid biar seluruh daerah ini_"


"Gio.apaan sih.?" potong Ayana,oh ayolah wajahnya sudah tidak bisa di selamatkan lagi.


"Makanya,mau begitu lagi enggak?." tanya Gio sembari menyamping dan mengangkat dagu sang istri dengan telunjuk tangannya agar istrinya itu menatapnya.mau tidak mau Ayana akhirnya menatapnya." Mau gitu lagi enggak hmm?jawab dong." lanjut Gio membuat Ayana tambah salting.

__ADS_1


"Iya enggak." sahut Ayana lalu menatap ke arah lain karena malu.


"Ini baru istri aku." balas Gio lalu mengecup bibir merah muda tanpa polesan itu.keduanya berpagutan melupakan Mia di pangkuan Ayana yang sedang menatapi keduanya bergantian.


__ADS_2