Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
Dilayani oleh suami.


__ADS_3

Bee mengeliat dibalik selimut tebalnya. Dia merasakan ada benda berat yang menimpa bagian perut. Wanita itu membuka matanya, betapa dia terkejut ketika melihat wajah Bastian tepat berada didepan matanya. Hampir saja wanita itu berteriak, tetapi bayangan panas mereka semalam langsung terekam jelas di kepalanya.


"Astaga, jadi semalam aku dan Bastian?" Bee menutup mulutnya tak percaya.


Lalu dia menatap wajah sang suami yang masih terlelap sambil tersenyum, wajah Bee merah merona ketika mengingat adegan panas mereka semalam. Suaminya walau masih muda tetapi sangat tahu bagaimana cara memanjakan dirinya.


"Semoga aku tidak salah pilih. Aku ingin kau menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Semoga saja setelah ini kebahagiaan menyelimuti rumah tangga kita, Suami Brondong ku," ucap Bee terkekeh mengusap wajah Bastian.


Bee bergidik ngeri ketika melihat bekas tanda kepemilikan di leher suaminya, dia tak menyangka jika dirinya pun seliar itu. Apalagi godaan Bastian membuat ia seolah lupa dunia dan akhirat.


"Pagi Ayang," sapa Bastian dengan mata yang masih saja terpejam.


Bee mendelik dan sontak menjauhkan tangannya dari sang suami. Tetapi lambat karena Bastian sudah lebih dulu menangkap tangan wanita itu lalu mengecup punggung tangan Bee dengan sayang.


"Bas..."


"Balas ucapan selamat pagi untuk ku, Ayang," ucap Bastian terkekeh.


Bee merenggut kesal, "Iya selamat pagi juga Suami Tenggil ku," balas Bee memutar bola matanya malas.


Bastian terkekeh dengan gemes lelaki muda itu menghujani wajah istrinya dengan banyak ciuman. Pengalaman pertama Bastian bersama seorang wanita yang dia cintai, takkan Bastian lupakan sampai kapan pun. Ini adalah kenikmatan yang tak bisa Bastian jelaskan lewat kata-kata.


"Bas, geli..." Bee berusaha menghindari bibir Bastian.


"Terima kasih, Ayang," ucap Bastian tulus seraya mengecup kening wanita tersebut.


Kening Bee mengerut, "Terima kasih untuk apa?" tanyanya heran. Bastian memang kadang suka aneh dan sulit ditebak.


"Terima kasih karena sudah menjaga nya untukku. Cie yang sudah tidak perawan," ledek Bastian tertawa lebar. Pokoknya Bastian sangat bahagia. Tidak sia-sia dia bekerja keras mendapatkan nilai terbaik disekolah karena dia menerima hadiah yang setimpal.


"Semoga dia segera hadir disini, Ayang," sambung Bastian mengusap perut rata istrinya.


Bee terdiam, mungkin dia bisa memberikan mahkota nya pada Bastian. Tetapi memiliki anak dari suaminya itu, kenapa rasanya Bee belum siap? Apalagi dilihat dari sisi mana pun, Bastian sama sekali tidak cocok menjadi seorang ayah. Sifatnya yang kekanak-kanakan membuat Bee sedikit ragu, apalagi perkara punya anak bukan hal yang mudah.


"Kenapa Ayang?" Bastian langsung menindih tubuh istrinya. Dia belum puas dengan permainan mereka semalam. Kalau sudah melihat bibir merah merona mirip Bee, lelaki itu selalu tak mampu menahan diri.


"Bas..." Bee menahan dada lelaki itu agar tak menempel padanya. Apalagi dia tak memakai apapun.

__ADS_1


"Hem, aku tahu kau masih meragukan aku, Ayang," ucap Bastian mengelus wajah Bee.


Bee menatap wajah sang suami. Dia tidak meragukan Bastian tetapi dia belum yakin saja jika mereka sudah siap memiliki anak. Apalagi berbicara tentang anak masih banyak yang perlu dipersiapkan.


"Jangan khawatir Ayang, aku sudah siapkan masa depan kita berdua. Masalah anak aku sudah siap, Ayang," jelas Bastian.


Bee terdiam, dia menghela nafas panjang. Bastian terlalu muda untuk mengemban tugas menjadi seorang ayah. Bee hanya takut nanti anaknya terlantarkan, apalagi dirinya yang seorang wanita karir.


"Ahh sudah lah, jangan di bahas dulu. Doakan saja semoga kecebong ku segera membuahi," celetuk Bastian turun dari atas ranjang lalu menyimak selimut Bee.


"Bas..."


Bastian menggendong tubuh Bee menuju kamar mandi. Keduanya tak memakai apapun. Wajah Bee sudah merah merona, sementara Bastian tersenyum menggoda. Lelaki ini selalu suka melihat wajah merah sang istri.


"Awww," jerit Bee saat Bastian meletakkan nya.


"Ayang, kenapa?" tanya Bastian panik.


"Sttt, sakit Bas." Bee mendesis kesakitan. Bagian bawahnya terasa perih.


"Ayang maafkan aku ya, pertama-tama memang sakit kok. Tapi nanti tidak lagi," ucap Bastian merasa bersalah.


"Ayang, tunggu disini aku siapkan air hangat dulu," ucap Bastian.


Bee mengangguk, dia tak malu lagi walau tak memakai pakaian. Bee tersenyum melihat suaminya yang tampak sibuk menyiapkan air panas untuk dia mandi. Bee berharap ini adalah awal yang baik untuk dia dan Bastian. Walau Bee yakin setelah ini akan banyak yang harus mereka lewati. Tetapi Bee takkan pernah meninggalkan Bastian, dia sudah menaruh sepenuh jiwanya pada lelaki muda tersebut.


"Ayo Ayang."


Bastian mengangkat tubuh istrinya dan memasukkan nya ke dalam buth up.


"Masih sakit, Ayang?" Bastian merasa bersalah. Dia tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh Bee.


"Sedikit," jawab Bee.


"Biar aku yang mandikan. Ayang diam saja," ucap Bastian.


Bastian menggosok punggung Bee dan membersihkan tubuh wanita tersebut. Tanda kemarahan tercetak jelas di bagian dada Bee. Suaminya benar-benar mengigit nya tanpa ampun. Bahkan lehernya sudah seperti lukisan saja.

__ADS_1


"Bas," panggil Bee.


"Iya Ayang, kenapa?" tanya Bastian tersenyum hangat dengan tangan yang terus menggosok bagian belakang istrinya.


"Terima kasih ya, sudah sabar menunggu aku," ucap Bee menatap suaminya serius.


"Harusnya aku yang berterima kasih Ayang, karena Ayang sudah mau menerima bocah tenggil ini menjadi suami mu," celetuk Bastian.


Bee terkekeh mendengar ucapan Bastian,"Ternyata kau mengaku kalau dirimu masih bocah?" ledek Bee.


"Hem, tapi kau mencintai bocah ini kan?!" goda Bastian mengedipkan matanya jahil.


"Dih, percaya diri. Siapa juga yang mencintai bocah ini?" Bee mendorong kening suaminya dengan gemes.


"Ayang," renggek Bastian mengusap keningnya.


Bee tertawa lebar, setidaknya Bastian bisa menjadi pelipur lara di saat dirinya lelah. Walau kadang harus di buat kesal oleh kelakuan suaminya tersebut.


"Gosok gigi Ayang."


Bee menurut dan mengambil sikat gigi yang sudah diberikan pasta oleh Bastian.


Bastian sama sekali tidak jijik mengurus wanita tersebut. Baginya Bee tak hanya istri tetapi juga seseorang yang begitu berharga dalam hidup nya.


Mereka mandi berdua, sesekali Bastian yang jahil mencuri ciuman di bibir sang istri dengan gemes. Seperti biasa dia suka melihat Bee yang mengomel karena kelakuan nya.


"Tunggu sebentar Ayang."


Bastian mengambil handuk lalu membungkus tubuh istrinya.


"Setiap hari kita harus mandi bersama!" seru Bastian dengan senyum mengembang.


"Jangan ngadi-ngadi, Bas. Mandi yang seharusnya hanya sepuluh menit bisa setengah jam kalau bersama mu," cetus Bee.


Bagaimana tidak, ada-ada saja kelakuan Bastian supaya lama di kamar mandi.


Bastian tertawa menggelora sambil mengangkat tubuh wanita itu dan keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2