Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
112


__ADS_3

Mungpung masih berada di kampungnya Gio mengajak teman-temannya main futsal. rasanya sudah lama ia tak pernah kumpul lagi bersama mereka.mereka juga hampir tidak pernah mengajaknya karena tau Gio sudah berkeluarga pasti ada saja alasannya. beruntungnya kali ini Ayana juga mengijinkan dan malah menyuruh suaminya itu untuk bertemu dengan teman-temannya supaya Gio tidak merasa jauh dengan teman semasa sekolahnya itu.Ayana sadar betul ia tak ingin mengukung Gio dan membatasi gerak pria itu bisa-bisa bukannya Gio tambah cinta padanya tapi kebalikan.suami mana yang tak jenuh jika rutinitasnya hanya itu-itu saja.


Saat ini Gio tengah berkumpul bersama gengnya di tempat futsal.mereka sedang melakukan pemanasan sambil bergurau dan saling menggoda satu sama lain.yang paling sering dan selalu mendapat godaan dan berakhir menjadi bulan-bulanan geng futsal itu adalah Gio.lelaki itu menjadi bahan candaan para temannya karena di antara mereka hanya dia yang sudah berkeluarga dan juga memiliki banyak anak.


"Rajin bener lu,anak udah empat kan co?" Rafi yang baru datang itu menepuk bahu Gio.ia tertawa saat Gio mengangguk." Hebat ya, tenaga lu super,Gi." katanya kemudian lelaki itu berlalu dari sana sambil tertawa.


"Sialan lu." balas Gio sambil melemparkan bola pada Rafi tapi sialnya tidak mengenai temannya itu.


"Sekarang mah panutan gue adalah Gio."ujar Deon sambil terkekeh geli membuat Gio mendekus.


"Panutan gue sih tetap sama,SuGiono versi muda." timpal Ahmad.


"Pala lo." sahut Gio sambil menyeka keringat, belum apa-apa sudah keringatan.


"Gi,seru gak sih nikah sama cewek yang udah berumur?." Gio menoleh pada temannya yang bernama Deon itu.begitu pun dengan yang lain mereka terlihat syok akan pertanyaan Deon.


"Seru lah,kalo ga seru gak mungkin lanjut." balas Gio seadanya sambil berdiri dan membawa bola.


"Kalo nanya yang kira-kira atuh Yon." ucap Firman sambil berjalan mengikuti Gio.


"Tau nih bocil karatan." timpal Ahmad.


Gio tak menanggapi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan para temannya itu.ia tak menganggap apa lagi memasukan ke dalam hati semua candaan mereka. beberapa menit kemudian geng cibay terlihat sedang bermain dengan serius.tangan kekar dan berurat Gio mendribel bola begitu lihai dan keren.tubuhnya yang jangkung itu begitu gesit dan luwes saat mengoper bola.tatapan matanya yang setajam elang mengawasi lawan yang sudah siap menangkap bola.jika saja saat ini mereka tengah berada di acara turnamen atau lapangan sekolah sudah bisa di pastikan sorak sorai suara para gadis terdengar ramai menyeoraki dan mengelu-elukan nama Gio.sayangnya di sini hanya ada beberapa gadis pacar dari teman-temannya Gio,dan mereka memilih mengagumi dalam hati melihat ketampanan dan pesona Gio yang mutlak dan tak bisa di bantah itu.


Orang tak akan menyangka bahwa pria jangkung itu telah memiliki istri dan empat anak.sampai akhirnya permainan selesai dan mereka kembali saling melempar candaan sambil jajan telor gulung dan cilok endul yang kebetulan lewat dan suka mangkal di area tempat futsal itu.


"Gue gak pernah lihat Rehan kemana sih tuh anak?" tanya Deon yang heran karena salah satu anggota geng itu tak pernah kelihatan lagi batang kejantanannya eh hidungnya.


"Terkahir gue ketemu dia pas kapan kali tuh. papasan dia lagi sama bosnya kayanya." timpal Aceng yang masih kerabat Rehan orang tua mereka sepupuan.


"Bosnya cewek kan?rambut pendek sebahu terus susunya gede banget iya gak,Ceng?" tanya Bokir serius.


"Heleh Sakmad.giliran susu aja jernih mata lo." dengus Firman.


"Lah emang iya kok,Man.tanya aja Aceng." sahut Bokir.


"Bukan cuma bos doang sih kalo kata gue mah.selain itu mereka juga berbagi peluh tuh pasti" cetus Deon yang di hadiahi jitakan di kepalanya oleh Rafi.mendengar mereka membicarakan Rehan,Gio hanya diam mendengarkan dan tersenyum sesekali. seandainya saja mereka tahu apa yang terjadi mungkin geng cibay cireng ngambay itu pingsan kali.


"Gue setuju sama Deon." timpal Bokir.


"Enak woy jadi Rehan bisa ngekepin bosnya." ujar Rafi ingin juga rupanya dia.


"Bener jadi iri saya." timpal Firman sambil terkekeh.


"Gak usah ngomongin yang begituan kalo tidak di sertakan link mah buat apa?" ucap Ahmad yang baru selesai menghabiskan roti sobek ukuran jumbo tanpa menawari para temannya itu.bodo amat pikirnya toh dia saja kurang untuk apa nawarin mereka yang suka tidak tahu diri itu.


"Link apa Mad?link pala lo." dengus Bokir." Tapi Kalo ada yang share di grup jangan lupa kabarin gue.takut gue keabisan paket data." sambungnya yang seketika saja wajahnya di usap oleh tangan Deon yang sebelumnya sudah di gesekan ke keteknya yang baunya sama dengan bau mayit sama lah seperti jigongnya Bokir.


"Anjing ya lo." maki Bokir dengan wajah mual tidak tahan dengan baunya." Kelek lo bau ban dalam bangsat." kesalnya sambil huek sampai air matanya keluar.


Tak usah di tanya mereka semua yang ada di sana terpingkal termasuk Deon." Ketek Deon bukannya bau lumpia,Kir?" ujar Firman sambil terkekeh.


Bokir mendengus jengkel." Mending kalo bau lumpia mah,bawaannya gue pen makan lah ini bau mayit gitu_ueekkk." lelaki itu kembali mual mual tak lama merasa baikan setelah di beri air dingin oleh Ahmad.


"Udah ah kasian nanti ambeyen nya kumat." ucap Gio dan seketika saja mereka terbahak sampai keluar air mata.


"Ayok cabut geprek Mak Tuti nungguin dari tadi." ajak Deon karena perutnya sudah minta di isi sejak tadi.


"Gas." ujar mereka serempak dan setelahnya menarik tuas motor masing-masing.mereka membelah jalanan menuju lesehan mak Tuti yang terkenal dengan ayam gepreknya yang aduhai membuat huh hah karena pedasnya yang nampol.


Malam ini sebelum pulang Gio merayakan makan-makan dengan temannya,tidak ada perayaan khusus sebetulnya hanya untuk senang-senang saja karena sudah lama tidak kumpul dan hampir lengkap seperti ini. mereka begitu senang dan terlihat sangat bahagia karena personil yang hampir lengkap dan untuk bisa kumpul seperti ini sulit sekali waktunya.


"Makasih Gi untuk waktu dan teraktirannya." ujar Firman setelah mereka menghabiskan makanannya.


Gio mengangguk dan tersenyum." Ya,doain gue ada rejeki lagi nanti kapan-kapan kita adain acara apa kek gitu.sekalian pada bawa pasangan."


"Nggak ah,gue minder sama lo yang banyak anaknya." ucap Rafi bercanda saja dan Gio pun tahu itu.


"Makanya lo bikin Fi." sahut Gio.


"Pake apa co,pake tepung gue?" balas Rafi.


"Pake p_anjing pedes monyong" Deon memaki Aceng dengan mulut penuh oleh daun kemangi dan sambal pecal ayam.


"Istipar Yon ngucap.astagfiruallah, astagfiruallah gitu,emak lo noh lihat." ujar Ahmad sambil mengusap wajah Bokir yang langsung mendapat geplakan dari sang empu.


"Goblog ari maneh,tangan lo bau balsem anj." katanya dengan sebal.dan seketika saja mengundang tawa yang lain.

__ADS_1


...☘☘☘☘☘☘...


Setelah futsal Gio kembali kerumahnya.dia melihat Ayana yang tengah menyirami bunga di halaman dan samping rumahnya itu.Gio tersenyum melihat anaknya yang di tidurkan di stoller di teras.ia menjalankan motornya dengan pelan menuju halaman samping.


"Jei,ayah pulang tuh." ucap Ayana pada putranya ia berhenti menyirami tanaman itu dan menaruh teko kecil yang sudah kosong karena memang sudah selesai juga.


"Ka Indri mana?" tanya Gio setelah mencium dahi istrinya.


Ayana tak menjawab hanya menatapnya tak suka dan Gio langsung sadar." Maksud aku kemana dia?kenapa kamu yang siram tanaman?biarin aja biar ka Indri.kamu gak usah ngapa-ngapain,Yang" Gio langsung kelarifikasi berabe nanti.


"Jualan dan nganterin Billa ngaji." jawab Ayana sembari pergi ke dapur meninggalkan Gio yang hanya menarik napas.


Lelaki itu kemudian berjongkok guna melihat sang anak yang sedang tidur ayam.mungkin Jeivan merasa nyaman setelah mandi sore." Ganteng banget sih kamu,kaya ayah ya?" Gio menoel pipi anaknya dengan gemas." Enak ya sayang kena angin gini.tapi jangan kelamaan ya." katanya sembari menutupi tubuh kecil itu dengan selimbutnya.


Tak lama Ayana kembali keluar membawa segelas susu coklat hangat dan potongan brownis buatan Indri tadi siang." Enak loh,Gi." katanya sambil menyodorkan sepotong brownis itu pada Gio.


"Siapa yang bikin,kamu?" tanya Gio sambil mengunyah.


"Ka Indri."


"Oh,kirain kamu."


"Mana sempet kalo aku." balas Ayana.


Gio tertawa sambil menjemil pipi istrinya tak lama ia pamit ke belakang untuk mandi karena sudah gerah dan tak sabar ingin segera menggendong Jeivan.sepeninggal Gio ke dalam Ayana mengajak anaknya main dan ngobrol saat bayi itu terlihat sudah bangun.


"Laki-laki ya Mbak?" Ayana menoleh ke samping melihat siapa yang bertanya padanya itu.di sana ada Amanda yang sedang memangku anaknya,perempuan itu tersenyum ramah.


"Iya." jawab Ayana sambil mengangguk.


Tak di sangka Amanda mendekat lalu ikut duduk di kursi bambu bersebelahan dengan Ayana.anaknya itu terlihat mengoceh dan memainkan ludah,Khalil sedang belajar bubbling." Hay,kamu cakep banget mirip ayah mukanya ya?" ujar Amanda pada Jeivan yang sudah belajar tersenyum saat ada yang mengajaknya main." Lihat tuh temannya masih kecil ya de?" ujarnya pada sang anak.


Ayana tidak tahu dia harus bereaksi seperti apa.perempuan itu hanya diam dan sesekali tersenyum saat anak Amanda tertawa padanya." Kamu kok bisa jiplakan ayahmu banget sih?jadi gemes banget lihatnya." lagi Amanda memuji anak Ayana membuat sang ibu jengah lama-lama.


Wajah Ayana sudah seperti lap warteg kusut dan tak enak di pandang.tak lama Amanda menyadari dan ia tersenyum diam-diam, kemudian mendongak pada istri mantan kekasihnya itu." Lagi sibuk apa Mbak?" katanya basa basi saja karena sadari tadi perempuan yang sedang tersenyum pada bayinya itu diam saja.


Merasa di tanyai lantas Ayana menjawab." Sibuk ngurus Gio dan anak-anak aja.selain itu gak ada lagi paling belanja sama perawatan."


"Oh,enak dong ya Mbak.masih bisa dan sempet perawatan sedangkan saya mah, repot." balas Amanda.


"Kalo menurut saya ngerawat diri itu penting Mbak.apa lagi sudah ada anak,selain buat nyenengin diri sendiri buat suami juga kan, gak munafik masalahnya sekarang tuh banyak perempuan yang gak tau diri suka banget sama suami orang." ujar Ayana sambil memainkan kaki anaknya.


"Ngobrolin apa tadi?" tanya Gio saat Ayana masuk ke dalam setelah Amanda pergi.


"Bukannya kamu nguping dari tadi?" sahut Ayana sambil mencibir dan mengacak rambut suaminya itu.


Gio tertawa dan merangkul Ayana membawa duduk di pangkuannya." Yang,kekamar" ajaknya penuh arti membuat sang istri mendengus.


"Malam aja,sore-sore gini males banget." tolak Ayana sambil mengelus rahang Gio yang di tumbuhi bulu halus.


"Bentar aja,please." mohonnya dengan wajah sayu.jika sudah begini mana bisa Ayana tega melihat pengerannya memohon seperti ini." Gas_"


"Asalamualaikum,om io,ante Aya,dede Jeivan." teriak Billa dengan nyaring membuat Ayana terkekeh dan Gio lemas kehilangan semangat hidup.


"Tuh anak cepet banget pulangnya." rutuk Gio kesal.Ayana hanya tertawa seraya turun dari pangkuan Gio ia mengambil putranya yang sudah merenyus hendak menangis.


"eh,ada Andre?" tanya Ayana saat melihat Andre tersenyum malu-malu padanya.


"Iya Ka.kebetulan nganterin Billa sekalian mau beli donat buat ibu ngopi." jawab pria itu sambil mengusap tengkuk.salah tingkah sendiri dalam hati ia menggerutu mengapa harus ada Gio dan istrinya di rumah ini.


"Oh,ya udah masuk dulu tuh Gio di dalam." suruh Ayana yang langsung di turuti oleh Andre.kemudian keduanya duduk di ruang tamu sembari menunggu Indri sampai.karena Andre sendiri pun tidak sedang buru-buru.


"Om besok jadi kan ke waterparknya?" tanya Abilla seraya duduk di sebelah Andre.sontak saja lelaki itu menatap Billa memberi kode lewat tatapan dan kedipan mata agar gadis kecil itu jangan melanjutkan pertanyaannya.


"Billa mau kemana emang?" Gio menatap keponakannya membuat Billa kebingungan." Mau ke waterpark?" lanjut Gio.


"Iya,sama om Andre." jawab Billa membuat bahu Andre melemas." Eh,om Andre bilang sama bunda juga kalau bundanya mau tapi." makin ambruk saja bahu Andre mendengarnya.


Gio menoleh pada Andre dengan kening mengerut." Kalian mau pergi bersama?_"


"Nggak,nggak,becanda aja kok.iya gak Bill?" sela Andre sambil mengedipkan matanya.


Billa menatap Andre dengan heran." Tapi tadi pagi om bilang beneran mau ajak aku sama bunda.kok sekarang bilangnya gitu?" wajah Billa langsung sedih membuat Andre jadi tak enak pada Gio dan anak itu.


"Lo ngejanjiin apa emang ke mereka,Ndre?" tanya Gio.


"Nggak.tadi_duh gimana sih gue ngomongnya ya." Andre menjeda ucapannya ia menggaruk kepalanya bingung." Sebenarnya iya.gue ngajakin Billa maen karena dia ngomong terus pengen maen katanya soalnya temen-temennya pada maen kesono, sedangkan dia gak pernah." jelas Andre sambil menatap Abilla yang terdiam sembari memainkan stiker kuda poni di lengannya.

__ADS_1


"Billa mau kesana?." tanya Gio manatap gadis kecil itu dengan perasaan sedih.


"Iya.tapi Billa maunya sama om Andre dan bunda.kan om Andre yang ngajakin,terus sama om io juga,sama Jei dan ante Aya." jawab gadis manis itu.


Andre dan Gio saling pandang kemudian Gio menatap Andre penuh curiga." Sejak kapan lo deket sama mereka?" selidiknya membuat Andre mengerjap dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu.


"Nggak deket.kaya biasa aja,gue emang sering kesini beli kue buat ibu." elak Andre sebisanya.malu sekali rasanya jika ketahuan bahwa selama beberapa minggu ini ia sedang mencoba mendekati kaka dari sahabatnya ini. dan semakin gencar saat ia mendengar kabar bahwa suami dari Indri telah meninggal dunia kesempatan itu makin ada.


Tentu saja Gio tidak langsung percaya begitu saja pada pembohong ulung seperti Andre ini, hidup dan mereka tumbuh bersama walau tak serumah tapi sehari-harinya bersama tentu saja ia paham dan hampir seratus persen tahu sifat Andre seperti apa.Gio bahkan hapal betul sifat Andre melebihi ibu dari pria itu." Gak usah menutupi gitu lah,jujur aja sih" ucap Gio sambil membuka kaleng kerupuk bawang yang ada di meja tepat di depannya." Jangan lupa ka Indri punya suami,ndre."


"Udah mati kali Gi,dan selama ini dia sendiri kan?gak ada salahnya dong gue deketin.toh suaminya gak bertanggung jawab juga gak pernah nafkahin.lo tau kan?kalo tak memberi nafkah selama tiga bulan itu artinya jatuh talak?" Sahut Andre mengakui." Hampir sebulan ini gue emang nyoba deketin ka Indri walau masih belum mendapat respon,tapi gue tetep usaha sampai ka Indri minta gue untuk berhenti.di situ baru gue akan berhenti kalau dia yang minta."


"Ndre_"


"Gue tau lo gak bakal setuju atau ngijinin.tapi tolong setidaknya biarin gue mendekati ka Indri,Gi.siapa tau kami cocok setelah melakukan pendekatan.demi allah gue serius bukan sedang main-main.gue ingin menjadikan ka Indri istri kalau dia bersedia."


Gio menatap Andre setelah menelan kunyahannya.tentu ia tak percaya bahwa ternyata sahabatnya itu diam-diam mendekati kakanya.enak saja Gio tak akan memberinya ijin dan celah untuk pria itu.hidup kakanya terlalu rapih dan lurus untuk Andre yang berantakan.kebiasaan Indri terlalu kalem untuk Andre yang begajulan serta hobi celup sana sini.


"Nggak,sekali nggak tetep nggak.banyak cewek di dunia ini kenapa harus ka Indri?."


"Kenapa nggak?jodoh gak ada yang tahu,Gi. siapa tau dengan cara seperti ini tuhan bisa menyatukan kami dalam pernikahan."


"Ka Indri punya Billa,Ndre.dia punya anak apa lo akan sanggup menerima dia seperti anak lo sendiri?menikahi wanita beranak itu artinya sepaket.lo cinta ibunya berati lo cinta anaknya juga.lo siap menikahi ibunya artinya lo siap menerima anaknya juga.seumur hidup kalo lo niatnya serius.bukan waktu yang sebentar,Ndre.pikirkan baik-baik."


Andre terdiam ucapan Gio memang benar, pemikiran itu sempat mampir di kepalanya namun ia tak benar-benar menganggapnya. menikahi Indri sama dengan menerima anaknya,itu artinya Andre harus siap dengan segalanya.ia harus siap menerima Billa dan membesarkannya serta membiayainya hingga ia dewasa.tak hanya itu Andre juga harus bisa menerima dan menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri.lantas apakah dia bisa melakukan semua itu menyayangi dan menerima anak orang layaknya anak sendiri.


Andre menggerutu dalam hati mengapa ia tak kepikiran kesana.dia hanya berpikir ia juga bisa menerima Billa,tapi dia lupa bahwa itu hanya pikiran sesaat karena dirinya jatuh cinta pada Indri.


"Gue siap menerima semua itu.gue akan menerima Billa,gue udah mikir ini dari lama." sahut Andre pada akhirnya.rasa penasaran dan sukanya pada Indri memaksa dirinya mengatakan itu pada Gio.padahal dalam hati ia masih bertanya dan meraba hatinya apakah ia siap dengan semua itu.


"Setidaknya pikirkan dulu,jangan gegabah. dunia ini luas,Ndre.cewek dan janda gak cuma ka Indri." balas Gio sembari menaikan kakinya ia tersenyum saat Ayana keluar kamar dan terlihat rapih dengan baju terusan berwarna peach.sepertinya istrinya itu ganti baju karena terkena gumoh Jeivan.


"Tapi cuma ka Indri yang pengen gue seriusin." ucap Andre membuat Gio menampilkan wajah ingin muntah.


"Eneg banget gue dengernya.mulut lo yang biasa nyedotin kemem kriput itu manis bener ngomongnya." dengus Gio.


Andre tebahak sembari mengelus kaki Jeivan yang sedang di gendong oleh Ayana." Ayolah, itu cuma masa lalu,Gi.gue udah tobat karena ingin serius meminang ka Indri."


"Omong kosong." sahut Gio malas.


"Siapa bilang?gue serius gue gak mau pacaran kalo ka Indri bersedia gue mau langsung datang sama ibu." Andre terlihat bersungguh tapi meski begitu Gio tak menanggapi ucapannya.


"Kaka gue terlalu kalem dan polos untuk lo yang sukanya ngw in nenek-nenek,Ndre. kasian ka Indri dapat bekasan puluhan orang." ucap Gio membuat Ayana menganga lalu menatap Andre dengan horor.


Andre mengusap tengkuknya dan melirik Ayana dengan menyengir seperti kuda. Sungguh jika tidak sedang di depan istrinya saat ini ingin Andre memukul kepala Gio hingga lelaki itu hilang ingatan.


"Karena itu gue ingin dia,karena di antara puluhan janda di kampung ini gue tau ka Indri wanita baik-baik."


"Enak aja_"


"Rame banget." ucap Indri memotong ucapan Gio yang hendak menyahuti kalimat Andre.


Ayana tersenyum ia menggelengkan kepalanya lucu juga mendengar perdebatan suami dan temannya itu.meski beberapa kali ia di buat kaget mendengar ucapan-ucapan Gio mengenai masa lalu temannya.


"Lagi ngobrolin apa mereka,Ka?" tanya Indri seraya menaruh nampan bekas jualan donat.


"Tanya mereka aja." jawab Ayana sambil tertawa." Yuk Jei ke kamar." lanjutnya pada sang putra seraya bangkit masuk kamar karena Jeivan terlihat tidur kembali.


"Pulang lo sana.gak usah banyak halu." usir Gio saat Andre sudah mendapatkan donat beserta kue basah lainnya.


"Iya dah,elah tibang mampir bentar doang geh." gerutu Andre kesal." Gimana mau mendekatkan diri kalo belum apa-apa udah di usir gini." Andre kesal kenapa Gio ada di sana hari ini.hari-hari biasanya usahanya selalu lancar karena tak ada yang mengganggu.


...☘☘☘☘☘☘...


Gio memasuki kamar melihat Ayana yang sedang menyusui putranya sembari bermain ponsel.dirinya segera rebah di samping sang istri memeluk dari belakang tangannya terulur mengelus pipi Jeivan yang halus.ia mengecupi leher Ayana membuat wanita itu mendekus geli.


"Hape teros." sindir Gio membuat Ayana terkikik selain geli juga lucu.Gio itu cemburu berat pada hape Ayana,rasa-rasanya jika hape itu bernyawa mungkin Gio akan memukuli dan mengomelinya.


"Kenapa emang?ada waktunya pas gini aja." ucap Ayana dan benar adanya.ia hampir tak punya waktu karena sang anak masih kecil masih membutuhkan dirinya selalu.meski ada pengasuh sekali pun tetap saja sebentar-sebentar anaknya membutuhkan Ayana.


"Nyusuin Jei terus.kapan nyusuin akunya." Gio mencebik kemudian Ayana melepas pucuk dadanya dari mulut sang anak.ia berbalik badan sambil membetulkan kancing bajunya.


"Lah terus yang biasanya apa?" tanya Ayana heran deh.Gio aktif begitu kok masih nanya.


"Perasaan ya,setelah kelahiran Jami kamu gak ada istihrahatnya dari persusuan,Yang. nyambung terus dari Jemi ke si kambar lanjut Jei.gak capek apa?" ucap Gio heran sambil menerawang langit-langit kamar.padahal Gio meminta Ayana untuk menyetop asinya agar beralih ke sufor saja seperti selama ini mereka menyeling dengan sufor karena asi Ayana tidak deras.ia cukup perihatin pada sang istri apa lagi melihat tubuh wanita itu kurus kering dan habis.


"Menurutmu?" tanya Ayana sambil menatap suaminya itu.dan Gio pun menoleh padanya." Gak usah di tanya.jelas capek dan lelah.kamu pikir menyusui itu mudah apa?belum lagi bapaknya juga ikut aja dan gak mau kalah." Ayana mendekus saat Gio terkekeh." Belum lagi kondisi mood aku yang suka berubah kerap kali menghambat kelancaran asiku, sedihnya luar biasa,Gi.saat asi tiba-tiba seret dan anak tidak kenyang."

__ADS_1


"Maaf." Gio memeluk Ayana kemudian mereka saling bertatapan lama." Maaf udah nyusahin kamu,dan selalu menjadi penyebab masalah antara kita." ucap Gio,sungguh meski kerap kali ada masalah dan bukan Gio penyebabnya.tapi lelaki itu selalu meminta maaf dengan tulus dan iklas.tak apa baginya banyak mengalah asal keutuhan cinta mereka tetap terjaga hingga akhir hayat.


Ayana mengusap rahang tegas milik Gio, kemudian mengecupnya lembut membuat pria itu memejamkan matanya dan tersenyum." Makasih ya,Gi.selalu ada dan ngertiin aku." ucap Ayana yang langsung di jawab kecupan basah oleh suaminya.


__ADS_2