Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
99


__ADS_3

Rasa bahagia dan haru menyelimuti Ayana saat ini,ia tersenyum senang sembari mengelus perutnya yang masih rata itu.tak menyangka bahwa di usianya yang kini bertambah Ayana dan Gio di berikan kado terindah dari tuhan.padahal sudah ada rencana untuk steril,namun tuhan segera memberinya kepercayaan lagi dan itu membuatnya semakin senang.Awalnya Ayana tak menyangka bawa ia akan di karuniai anak lagi pasalnya selain karena usia tentu saja dirinya juga sangat berhati-hati dalam berhubungan agar tidak kembali hamil.namun sepertinya tuhan memang ingin memberikan hadiah untuknya di ulang tahunnya kali ini.


Omong-omong saat mengingat hari ulang tahunnya dua bulan lalu,itu adalah hari yang paling mengerikan bagi Ayana sendiri senyum Ayana luntur saat mengingat hari itu.hari yang paling ingin dia lupakan seumur hidupnya.


Saat itu Ayana bangun dalam keadaan pusing yang hebat dan mual.betapa terkejutnya ketika ia membuka mata dan melihat ada lelaki lain yang tidur di sampingnya dengan bertelanjang dada. dan lebih mengejutkan lagi saat Ayana meraba dirinya dalam keadaan polos hanya menyisahkan celana stret hitam dan BH berwarna senada.


Pada saat itu belum sempat Ayana memutar otak tentang apa yang terjadi pada dirinya semalaman sehingga harus berakhir di dalam kamar bersama lelaki itu ia di kagetkan oleh ayahnya yang membuka pintu dengan paksa.Ayana mengutuk dirinya pada saat ia melihat Gio mematung di pintu dengan wajah datar dan sorot matanya yang penuh akan luka.


"Jerrian berengsek." Ayana meremas kertas bungkus tespek yang barusan ia gunakan untuk mengecek kehamilannya.ia bersumpah akan membuat lelaki itu menerima kesialan seumur hidupnya. setelah kejadian itu Ayana memang tidak pernah lagi bertemu dengan Jerrian.Frans melarangnya untuk menemui lelaki itu. ayahnya mengatakan bahwa Jerrian sudah di depak dari perusahaan dengan tidak hormat.Ayana juga tahu bahwa sang ayah sudah memberikan sangsi terhadap lelaki sialan itu.jadi karena itu pula Ayana menjadi sedikit lega merasa bahwa Jerrian sudah mendapatkan apa yang sudah ia perbuat.


Siang itu Ayana memutuskan untuk periksa ke dokter ingin mengetahui mengenai kehamilannya.ia sudah tidak sabar ingin tahu sudah berapa minggu umur si kecil di kandungannya." Udah masuk 9 minggu ya,Bu." ujar dokter kandungan yang tengah memeriksa janinnya membuat senyum Ayana merekah." Sehat ini,jangan kawatir ibu dan bayinya sehat.semuanya sehat ya." lanjutnya.


"Sukurlah,Dok.saya udah degdegan aja ini takut ada apa-apa.karena saya pikir kalau hamil lagi pasti akan beresiko.ngeri saya, mengingat umur saya juga udah lumayan." Ayana mengungkapkan apa yang menjadi kekawatirannya.


"Nggak kok,bu.34 masih bisa kok untuk hamil,yang 43 aja masih bisa kok.cuma yang memang harus pastiin dulu bahwa ibu tidak ada riwayat penyakit.kita juga harus pastikan hidup sehat dan rutin mengecek kandungan tiap bulannya semua aman,tidak perlu kawatir." Ayana keluar dari rumah sakit dengan senyam senyum senang.ia memutuskan mampir ke swalayan terlebih dahulu untuk membeli bahan masakan,pulang dari sini ia akan masak untuk makan malam untuk dirinya dan Gio.tadi katanya ayahnya Jemia itu akan pulang lebih cepat karena itu Ayana dengan cepat bersiap memasak sebelum kesorean.


Wanita beranak tiga yang terlihat seperti masih remaja bak umur dua puluhan itu tengah duduk di sofa ruang tamunya menunggui suaminya pulang.bolak balik Ayana menscrol media sosial untuk mengusir rasa bosan karena sudah jam 7 malam tapi Gio belum juga terlihat batang hidungnya.sudah dua jam ia menunggu kedatangan lelaki itu.dari sebelum magrib sampai Ayana mengambil kembali air wudhu untuk solat isya tapi Gio masih tak kunjung pulang.


"Akhirnya." Ayana berdiri hendak menyambut Gio di garasi rumah mereka.ia berdiri di sisi mobil lain yang terpakir cantik di carpot samping rumah.


"Masuk,jangan berdiri malam-malam di luar." komentar Gio saat lelaki itu turun dari mobilnya sembari menenteng paper bag sedang.


"Nungguin kamu.tapi kamunya baru nongol." Ayana mengambil alih barang bawaan Gio.lelaki itu meraih tengkuknya lalu mengecup dahi dan bibirnya sekilas.


"Kok sepi,anak-anak udah tidur emang?" Gio melihat sekeliling rumah tampak sepi biasanya rame.hanya mainan anak-anak yang masih berserakan.


"Belum,lagi pada main di kamar Kita."


"Kirain,soalnya sepi."


"Makan dulu yuk,aku udah laper." ajak Ayana seraya menarik kursi untuknya dan Gio.


"Oke deh.tapi jangan marah ya,aku makan dikit doang nemenin kamu.soalnya aku udah makan di rumah sakit tadi sama Billa." Ayana hanya mengangguk dan tersenyum meski sejujurnya ia sedikit kecewa.hampir tiap hari Gio makan di luar meski itu masuk akal sebetulnya karena Gio tiap hari mampir kerumah sakit. mungkin saja memang lelaki itu ingin makan bersama Indri dan keponakannya mungkin juga Gio merindukan masa-masa kebersamaannya dengan keluarganya.apa lagi saat ini Mira tengah sakit.keduanya makan malam tanpa obrolan meja itu begitu hening hanya sesekali suara sendok yang terdengar dari piring Ayana.


...☘☘☘☘☘☘...


Malam semakin larut anak-anak Gio sudah di bawa pindah oleh susternya ke kamar mereka sendiri.tinggal si sulung yang masih terlihat mereog di kasur,gadis kecil itu meminta ayah dan bundanya untuk menemaninya tidur.katanya ia selalu mimpi buruk bahwa bunda dan ayah meninggalkannya.


"Ya udah sini bobo sama Nda." ajak Ayana dan langsung bergabung dengan putrinya Gio terlihat membawa botol susu dari dapur dan memberikannya pada Jemia.


"Ayah juga di sini." rengek Jemi tak ingin di bantah.meski matanya sudah lima watt tapi mulut mungilnya itu masih nyaring.


"Iya,tidur tapi ya." Gio ikut bergabung juga. mereka berbaring bertiga di dalam selimbut yang sama.Gio mengusapi putrinya hingga anak itu lelap barulah ia bisa bangun.Gio kembali ke ruang tamu ada hal penting yang harus ia selesaikan setelah itu menelepon kakanya guna mendengar kabar ibunya.meski baru beberapa jam saja ia tinggalkan,tapi rasa rindunya pada sang ibu tetap membuncah andai ia belum menikah dan memiliki Ayana dan anak-anak,mungkin Gio akan tetap di samping ibunya selama 24 jam untuk melihat setiap tarikan napas wanita yang menjadi kekasih hati pertamanya itu.


Ayana melihat lampu ruang tengah di matikan oleh Gio,tandanya lelaki itu telah selesai dengan semua urusannya.Ayana buru-buru ke kamar mandi mengambil alat tes kehamilan untuk di tunjukan pada Gio.


"Kok belum tidur yang?jangan begadang ini udah malam loh." Gio menggandeng tangan istrinya menuju ranjang.


Ayana tersenyum lalu merogoh kantung piyamanya menunjukan sesuatu pada Gio membuat lelaki itu membulatkan mata. Ayana tambah bahagia melihat senyum dan mata Gio yang berbinar senang tampak sekali lelaki itu terkejut dan bahagia tentunya.


"Tadaaaaa.selamat ayah,anakmu nambah.si kembar punya adik dong.dan kaka Jemi juga tambah adik lagi." Ayana menunjukan alat tes itu di depan wajah Gio ia tersenyum menatap wajah Gio yang sumringah itu


"Kamu beneran hamil lagi,yang?." tanya Gio seakan tak percaya akan di beri kesempatan lagi untuk melihat Ayana kembali hamil dan mereka akan memiliki bayi lagi.ia kira semalam Ayana hanya maagh tapi ternyata memang benar hamil.


"Iya dong,sayang.udah jalan 9 minggu loh, Gi.bisa-bisanya ya gak ketauan.dan aku juga gak ngerasain apa-apa." jawab Ayana sembari mengelus perutnya.ia sedikit menyingkap piyamanya itu ke atas memperlihatkan bentuk perutnya yang masih rata.


"9 minggu?" tanya Gio pelan dan sangat pelan bahkan seperti gumaman tatapannya beralih pada alat tes yang masih di pegang oleh Ayana.kemudian pada perut polos istrinya.senyum cerahnya perlahan luntur berganti dengan wajah datar.


"Iya,ini lihat coba." Ayana menurunkan bajunya dan melangkah pada nakas segera mengambil sesuatu dan memperlihatkannya di depan Gio." Ini hasil USG tadi Gi,katanya udah masuk 9 minggu dedeknya sehat dan kuat dong,Ayah." Ayana menunjukan mengenai bagian-bagian tubuh janinnya dengan antusias walau Gio tak bereaksi apa-apa. pria itu hanya diam tak beralih dari wajah Ayana yang sedang kegirangan menjelaskan kehamilannya.


"Gi?" Ayana menatap Gio yang masih diam saja tanpa ekspresi.lelaki itu juga tidak meresponnya walau Ayana sejak tadi sibuk nyerocos menjelaskan." Kenapa?"

__ADS_1


"Dia...anaku?." ucap Gio seraya menatap lurus pada perut Ayana.


"Maksudmu?" Ayana mendongak dari foto USG yang sedang di pegangnya itu senyum bahagianya surut begitu saja.


Gio tak menjawab hanya memalingkan wajah kesamping kemudian duduk di sofa menarik napas berat dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan lalu tertunduk memegangi kepalanya.


"Apa maksudmu?." lagi Ayana bertanya dengan suara bergetar.ia mendekat berdiri tepat di hadapan Gio dengan mata yang tak beralih sedikit pun dari wajah suaminya itu." Apa,Gi?maksudnya Apa tadi?."


"Nggak,nggak ada.aku cuma_"


"Cuma apa?ragu?ragu kalau ini anak kamu?" potong Ayana membuat Gio mendongak.


"Gak gitu,yang.tapi_"


"Tapi apa?"


"Yang,udah ya,kita gak usah bicara soal ini dulu deh." tandas Gio tak ingin bahasan ini akan berujung menjadi pertengkaran.


"Kenapa?" Ayana menatap Gio dengan tajam membuat suaminya itu menghindari tatapannya." Memangnya kenapa?apa yang salah dengan bahasan ini?." tekan Ayana tambah membuat Gio diam tak berkutik." Kamu meragukan anak kita,Gi?" Ayana kemudian mendekat sedikit menunduk lalu memegang kedua pundak suaminya dan mengguncangnya pelan." Iya Gi?kamu ragu sama anak ini?" Gio masih tak bersuara hanya menatap kedua mata Ayana yang sudah mulai berair itu." Jawab aku,kamu ragu?." Ayana menekan dan mencengkram bahu Gio dengan kuat matanya sudah memanas air matanya sebentar lagi akan tumpah." JANGAN DIAM AJA,JAWAB AKU,GI." suara Ayana menggeleger membuat Gio tersentak wanita itu merosot ke lantai duduk dengan tangis tertahan.


Gio segera meraih istrinya." Shhhh,udah Sayang.aku minta maaf.udah ya." Gio setengah berdiri merangkul sang istri namun tangannya segera di tepis oleh Ayana.


"Jangan sentuh aku." sentaknya dengan bengis seraya berdiri.


"Yang_"


"DIAM." bentak Ayana membuat Gio bergeming.kemudian Ayana segera pergi keluar dari kamar di ikuti oleh Gio.


"Yang,dengerin dulu maksud aku.aku_" langkah Gio terhenti karena langkah Ayana terhenti.wanita itu segera membalikan badan dengan tatapan tajam menghunus tepat pada mata Gio.membuat Gio merinding.


"Untuk saat ini dan mungkin seterusnya jangan katakan apa pun.aku gak mau dengar omong kosongmu.ucapanmu tadi itu sudah cukup buat aku mengerti.aku mengerti keraguan kamu.kamu ragu kalau ini anak kamu,oke kalau memang seperti itu." Ayana menjeda ucapannya dengan hembusan napas berat.saat ini tenggorokannya ibarat tercekik sesak dan sakit sekali rasanya.


"Tapi satu yang harus kamu bener-bener tau.aku tidak pernah tidur dengan Jerrian sudah aku bilang bukan?seumur hidup hanya kamu yang pernah menyentuh aku,Gi.ingat dan dengar itu kamu akan menyesal karena udah ragu sama darah daging kamu sendiri.mulai saat ini dia hanya anaku." Gio hanya diam membatu setelah Ayana meninggalkannya kembali masuk ke kamar dengan membanting pintu cukup kuat.kemudian Gio memilih keluar rumah dengan merenung hampir sepanjang malam di teras dalam kegelapan karena ia mematikan lampu luar untuk membuatnya tenang.


"Non,Vindi anget badannya." suara suster Risma menghentikan tangan Ayana yang sedang mengaduk sayur sop di dalam panci.


"Udah cek belum suhunya?"


"Udah non,tadi malam naik lagi semalam udah saya kasih paracetamol,mendingan tapi cuma sebentar aja."


"Siapin keperluan Vindi.habis ini kerumah sakit." Ayana mematikan kompor dan segera mencuci tangan.ia pergi menuju kamar anaknya dan benar saja Vindi terlihat sedang merengek di stoller.


"Nda,sakit." rengeknya merentangkan tangan ingin di gendong.


"Kenapa sayang?jangan sakit ya." Ayana meraih putrinya ia memeluk Vindi membawanya keluar kamar menuju halaman samping agar putrinya menghirup udara pagi yang masih segar.ia menangis sembari memeluk Vindi mengingat kejadian semalam.


Ayana masih tak percaya dan tak menyangka bahwa Gio akan setega itu tega meragukan darah dagingnya sendiri. Ayana merasa bagai di hempaskan dari ketinggian puluhan meter.bagaimana tidak ia begitu bahagia dan melambung tinggi melihat binar mata Gio dan senyum cerah lelaki itu saat ia menunjukan bahwa dirinya hamil.namun rasanya itu hanya sedetik saja yang Ayana rasakan.nyatanya Gio langsung menjatuhkan harga dirinya hingga tak tersisa dan tak berbentuk lagi.


Gio sama seperti merendahkannya.dengan meragukan janin yang sedang Ayana kandung itu sama saja dengan merendahkan Ayana.seolah Gio menganggap Ayana telah berzina dengan lelaki lain.mengingat kejadian semalam air mata Ayana tak henti bercucuran membasahi kepala Vindi hingga anak itu menggeliat tak nyaman." Jangan sakit sayang.kuatin bunda ya." Ayana terisak memeluki putrinya.


Sementara belasan kilometer dari Ayana di tempat lain.Gio tengah melamun sejak tadi pikirannya kembali tidak bisa fokus membuatnya mendesah berkali-kali dan meremas rambut.Gio frustasi entah ia harus bersikap bagaimana pada Ayana. istrinya itu mendadak mendiamkannya dan menghindar.sejak semalam mereka tidak bertemu,wanita itu tidak keluar dari kamar dan Gio pun tidak bisa masuk karena Ayana mengunci pintu kamar.bahkan Gio memakai kamar mandi lain dan berganti baju seadanya.


"Arrgghh,bangsat." Gio memukul meja hingga asbak bekas roko itu berhamburan hampir mengenai minumannya.ia mengabaikan saat beberapa pengunjung kafe menoleh ke arahnya.


Gio bingung setelah ini apa yang harus ia lakukan.dan harus bersikap seperti apa pada Ayana yang sudah tidak ingin bicara itu.lalu jika begitu bagaimana Gio harus menjelaskan mengenai keraguannya kemarin.sebetulnya Gio tidak bermaksud meragukan anak yang di kandung Ayana saat ini.ia hanya syok saat mendengar usia janin itu sudah 9 minggu.itu berarti sama dengan kejadian sialan itu yang memang sudah dua bulan lamanya.


Entah bagaimana tiba-tiba saja pikiran buruk melintas di kepala Gio.meski dia sudah berusaha untuk membuang dan mengenyahkan pikiran sialan itu.namun tetap bersarang di kepalanya.bahkan hingga detik ini.sangat sulit sekali rasanya untuk mempercayai semuanya.meski sudah berusaha mati-matian untuk percaya pada sang istri.tapi siapa yang tahu mengingat Jerrian yang licik itu.tentu saja apa pun bisa saja terjadi,itu yang tiba-tiba mampir di kepala Gio pada saat Ayana menyebutkan usia kandungannya.


Gio memutuskan untuk kembali ke pabrik dan menyelesaikan kerjaannya sebelum pulang.pukul lima sore ia pulang dan mendapati rumahnya sepi hanya ada Jemia yang sedang di suapi makan sambil duduk di ayunan.


"Non Aya kemana sus?" tanya Gio setelah membersihkan diri.ia sudah mengecek ke berbagi sudut tapi rumah tampak sepi.

__ADS_1


"Nona di rumah sakit Mas.tadi pulang bentar cuma jemput Raven habis itu gak pulang sampe sekarang." jelas suster Titi membuat Gio tekejut.


"Siapa yang sakit?Vindi?"


"Iya Vindi panas.tadi pagi di bawa ke rumah sakit sama non Aya.selang beberapa jam Raven juga ikutan demam."


Gio tak membalas ia hanya mencium pipi dan pucuk kepala Jemia dengan terburu-buru." Ayah nyusul bunda dulu ya jangan nangis oke.sebentar aja." pamitnya pada Jemia kemudian setelah pamit pada suster Titi,Gio segera menuju rumah sakit terdekat tanpa menghubungi Ayana dulu,ia yakin anak-anak pasti di bawa kesana.


"Dimana,yang?aku di lobby?." tanya Gio di telepon setelah ia berlarian di lobby rumah sakit menuju lantai dua karena lift penuh ia sudah mencoba beberapa.dan memutuskan untuk naik tangga ke lantai dua.Ayana memberi tahu bahwa ia berada di lantai tiga dan memberikan nomor kamar tempat anaknya di rawat.


"Ayah.." rengek Vindi begitu melihat Gio masuk.batita itu merentangkan tangannya yang terpasang infus meminta di gendong. berbeda dengan Raven yang diam hanya tersenyum saat melihat ayahnya tiba di sana.


"Iya sayang.ini Ayah." Gio menghampiri dan memeluk kedua anaknya.ia menciumi pipi keduanya bergantian.rasa nyeri melingkupi hatinya kala melihat kedua anaknya sakit seperti ini.apa lagi tangan-tangan mungil itu harus di tusuk oleh jarum-jarum tajam.sudah pasti rasanya sakit dan menakutkan.


"Anak-anak sakit apa?kok bisa barengan gini?" tanya Gio pada Ayana yang sejak tadi memilih diam.ia melirik suster Risma yang duduk anteng di ujung sana.dan suster Risma yang mengertipun segera keluar dari ruangan itu guna memberikan privasi untuk kedua majikannya.


"Demam." jawab Ayana singkat.


"Iya,tapi kok bisa barengan?"


"Namanya juga kembar.mereka itu terikat udah pasti dan gak aneh kalau mereka sakitnya barengan." jelas Ayana tanpa minat melihat wajah Gio yang sedang menatapnya itu.ia muak melihat wajah itu wajah yang seakan tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


"Iya,ya." balas Gio kemudian memeriksa kening anak-anaknya gantian.benar mereka masih demam namun tidak begitu tinggi.lalu ia menoleh pada Ayana yang sejak tadi enggan melihatnya." Udah makan belum?"


"Udah." Ayana memilih ke kamar mandi menghindari pertanyaan Gio selanjutnya.ia masih kecewa,benci dan marah pada lelaki itu.bahkan rasa kecewanya melebihi rasa bencinya pada Gio saat ini.bagaimana bisa Gio seakan tidak menganggap apa-apa tentang ucapannya samalam.bahkan sepertinya tidak merasa bersalah sama sekali dengan bersikap biasa saja seolah tidak ada masalah apa pun di antara mereka.kalimatnya yang mengatakan bahwa Gio meragukan anaknya sendiri bahkan masih terngiang di telinga Ayana hingga saat ini.setelah kejadian semalam sikap Ayana pada Gio tidak bisa baik-baik saja.


"Makan dulu ya,minum obatnya biar cepet pulang,oke." bujuk Gio pada putra dan putrinya yang menolak untuk makan padahal harus segera minum obat karena sudah hampir siang.semalaman Gio tidak tidur ia menjaga anak-anaknya yang lebih sering kebangun dan rewel.mungkin mereka tidak nyaman dengan alat yang terpasang di tangannya itu.


"Gak mau." tolak Raven sambil menutup mulutnya.ia tidak suka bubur apa lagi yang tidak berkuah seperti itu.


"Gak enak." Vindi sama menolak makan bubur.ia menggelengkan kepalanya saat Suster Risma menyodorkan suapan kedua.


"Terus maunya makan apa?roti mau?." Gio mencoba negosiasi dengan mereka siapa tau keduanya mau makan yang lain.


"Loti cokat mau." Vindi merengek meminta roti cokelat kesukaannya.


"Aven mau oti eju." pinta Raven ingin makan roti keju kesukaannya.anak-anak Gio dan Ayana memang random.mereka tidak akan menyukai makanan yang di sukai oleh saudaranya sendiri.contohnya Raven suka keju,Vindi sebaliknya.begitu pun dengan yang lainnya.


Setelah memastikan kedua anaknya tidur sehabis minum obat.Gio merentangkan tangannya seraya mendaratkan tubuhnya pada sofa empuk yang berada tidak jauh dari ranjang tempat anaknya tidur.ingin sekali Gio memejamkan mata sebentar saja untuk mengusir rasa pening di kepalanya karena semalaman tidak tidur.


Belum lagi tadi subuh ia menyempatkan untuk menengok ibunya yang masih berada di rumah sakit.sesibuk apa pun Gio memang tidak pernah absen menengok sang ibu.tidak hanya menengok saja jika ada alasan lain pun dia akan segera membantu jika kakanya membutuhkan bantuan.meski Indri sendiri tidak pernah memintanya untuk datang.tapi Gio selalu pengertian karena ia tau kakanya pasti kerepotan karena harus membagi waktu anatara ibu dan anaknya yang sudah sibuk sekolah itu.pada siapa Indri akan meminta bantuan mengingat ia tidak memiliki siapa-siapa selain Gio.


"Pulang aja dan istirahat di rumah." ujar Ayana saat ia keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri.ia sebetulnya tidak tega melihat wajah Gio yang kelelahan akibat semalam tidak tidur.dan Ayana sendiri malah pulas.kehamilan ini membuatnya cepat lelah dan mengantuk.


Gio yang sedang memejamkan mata itu berusara tanpa membuka matanya." Gapapa.tiduran bentar juga udah mendingan.aku udah ijin juga ke anak kantor hari ini gak masuk.Papah juga udah tau.justru kamu yang banyakin istirahat Yang." ujarnya namun tak mendapat balasan dari Ayana membuatnya membuka mata.Gio melihat Ayana yang duduk seraya memerhatikan wajah anak anak yang sedang terlelap dengan pulas.


"Kenapa gak bilang sama Mamah Papah kalau anak-anak sakit?" Ayana menoleh saat Gio berbicara mata mereka bertemu untuk sesaat saling menatap sebelum Ayana memutus lebih dulu." Mamah kaget tadi pas aku kasih tau.aku kira kamu udah ngasih tau makanya aku diam aja."


"Gak semua hal harus ngasih tau orang tua." balas Ayana singkat padat.


"Iya tau,tapi kan kamu tau sendiri kalau Mamah suka ngomel kalau ada apa-apa sama anak-anak tapi gak di kasih tau-"


"Kamu gak suka Mamah ngomel?kalau gak suka diemin aja."


"Yang_"


"Udahlah,hal-hal sepele kaya gini gak perlu di bahas.kalau kamu cuma mau ngoceh doang lebih baik pulang aja sana atau kalau gak temui ibu.biar keberadaan kamu lebih berguna." tandas Ayana membuat Gio tertegun.


"Kenapa ngomongnya kaya gitu?" tanya Gio seraya bangkit dari posisinya semula.ia mendekati Ayana dengan wajah heran.


Ayana mendengus lalu melihat Gio dengan sinis." Jangan bersikap seolah gak ada masalah di antara kita.kamu lupa sama ucapan kamu kemarin malam,hmm?ucapan kamu melukai aku,Gi,ingat gak?kamu ragu sama darah daging kamu sendiri.lalu setelah mengatakan kalimat mengerikan itu kamu bersikap seolah semuanya baik-baik saja.dimana otak kamu?aku bukan kamu yang bisa bersikap baik-baik saja setelah apa yang keluar dari mulut kamu itu."

__ADS_1


...☘☘☘☘☘...


Salamat menunaikan ibadah puasa kaka2 yang cantik yang menjalankannya☺💜


__ADS_2