Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
53


__ADS_3

Gio buru-buru melajukan motornya dengan cepat,dirinya begitu kawatir dan panik takut terjadi sesuatu kepada putrinya apa lagi saat merasakan pegangan tangan Ayana di jaketnya begitu kuat Gio tahu istrinya itu sedang panik sama sepertinya.


"Gi,Mia gak apa-apa kan?." tanya Ayana dengan takut.Gio mengangguk dan menjawab dengan berdehem.


"Mia gapapa.kamu jangan panik dia cuma nangis.mungkin nyariin kita soalnya kan sama ibu dan ka Indri dia gak kenal. biasanya juga kalau sama Mamah dan ncus dia anteng-anteng aja." ujar Gio menenangkan padahal dirinya sudah sangat ketakutan dan panik.


"Gue gak bisa tenang sama sekali." sahut Ayana pelan lalu memeluk Gio dan memejamkam mata berusaha menangkan diri.


"Kalau kamu panik nanti Mia malah rewel. tenangin diri,Yang." ujar Gio dengan lembut.kemudian setelah dua puluh menit perjalanan mereka sudah sampai di halaman rumah Mira.Ayana turun dengan segera dan berlari ke dalam rumah apa lagi saat mendengar tangis Mia yang menjerit-jerit membuatnya tambah panik.


"Itu Bunda sama Ayah.diem ya sayang kamu cape dari tadi gak berhenti." ujar Mira sembari menggendong Mia menuju Ayana.


Ayana membawa Mia ke dalam dekapannya dan berusaha menenangkan putrinya itu.namun Mia malah tambah kejer." Ini Mama.jangan nangis sayang,itu Papa di depan kita ke Papa yuk." ajak Ayana baru akan melangkah Gio sudah menutup pintu rumah dan merentangkan tangannya.


"Sini anak Ayah yang paling cantik,kenapa nangis,hmm?." Gio memeluk putrinya yang masih kejer.dirinya meminta kain jarik yang biasa Ayana kenakan untuk menggendong Mia.kemudian Gio menggendong putrinya dengan kain itu lalu menepuk-nepuk punggung dan bokongnya dengan lembut tak lama tangis Mia mulai mereda menyisakan isakannya saja yang terdengar sangat lelah dan serak.Gio memeluk Mia dengan erat sembari menciumi kepala putrinya itu dengan sayang.


"Bobo ya sayang.Ayah sama Bunda di sini, kami gak ninggalin kamu lagi kok." ucap Gio di telinga putrinya lalu mengecupi wajah Mia yang basah oleh air mata.isakan Mia mulai terdengar mengecil dan napas teratur mulai terdengar oleh Gio.membuat dirinya lega karena putrinya memang tidak bisa jauh darinya.mungkin tadi Mia merasa sedih karena di tinggalkan oleh Gio dan Ayana,makanya dia mengamuk dan tidak berhenti menangis.


"Udah tidur,Gi?." tanya Mira mendekat dan mengintip Mia di balik gendongan ayahnya.


"Udah nih,udah ngorok." jawab Gio lalu tertawa karena lucu juga,wajah paniknya tadi sudah berganti dengan wajah lega.


"Sukur lah.ibu sama kakamu panik banget, takut kenapa-napa tadi mau di bawa ke klinik padahal,cuma kata Indri nunggu kalian dulu aja.duh ibu sampe gak bisa napas saking paniknya." ujar Mira dengan wajahnya yang masih panik itu.


Ayana mendekat usai berganti pakaian dari kamar." Ibu minta maaf ya,Aya.ibu malah merusak waktu kalian,ibu bener-bener takut tadi makanya terpaksa nelpon kalian." lanjutnya kepada Ayana dengan rasa tidak enak pada menantunya.


Ayana menggeleng dan mengusap bahu dan lengan Mira." Gapapa,ibu.kita juga cuma maen tadi gak kemana-mana juga malah aku yang gak enak karena ngerepotin ibu sama ka Indri.makasih ya ibu udah jaga Mia dan tadi aku sama Gio ngerepotin ibu banget." balas Ayana.


"Ibu gak ngerasa di repotin,Nak.Mia cucu ibu mana mungkin ibu ngerasa repot malah senang,hanya saja ibu gak bisa jagain mungkin Mia belum terbiasa sama ibu." ujar Mira lalu kembali mengintip cucunya yang masih berada di gendongan Gio.


"Kalau sering ketemu nanti juga terbiasa bu." sahut Ayana membuat Mira tersenyum dan mengangguk.


"Berarti kalian yang harus sering maen kesini." balasnya yang langsung di angguki oleh Ayana.


"Aku ke kamar,yang." pamit Gio dan di angguki keduanya.kemudian pemuda itu masuk kamar dan mulai merebahkan putrinya di atas kasur lalu ia ikut menemani di sampingnya kawatir Mia akan terbangun.


"Gio belum pantes punya anak ya Bu.masa mukanya masih bocah banget udah gendong anak." celetuk Ayana sembari menggigit jagung manis rebus yang tersaji di meja.


Mira dan Indri yang baru duduk itu tertawa mendengarnya.sebenarnya mereka juga ingin mengatakan itu hanya saja tidak enak jika di depan Ayana takut wanita itu tersinggung." Aku juga mau ngomong gitu Ka.cuma gak enak aja sama kaka." ucap Indri di iringi tawa renyah.


Ayana tertawa mendengar kaka iparnya." Aku gak kesinggung,Ka Indri.kan emang kenyataannya gitu.kami kalau keluar juga suka di sangka Gio itu adik aku,dan Mia keponakannya.makanya tidak sedikit beberapa remaja yang sering kali curi-curi pandang ke Gio.aku sih biasa saja karena sadar diri perbedaan kami cukup jauh." ujar Ayana dengan senyum di wajahnya.


"Perbedaan umur itu hanya lah angka.aku gak peduli mau kita beda lima puluh tahun pun,yang penting itu aku cinta kamu pake banget udah itu aja." sambar Gio yang baru keluar dari kamarnya.


"Heleh juned." cibir Indri membuat Ayana tertawa.


"Loh Mia di tinggal gapapa?." tanya Mira kawatir.Gio mengeleng dengan cepat.


"Dia kalau tidur anteng kok,Bu." jawabnya lalu duduk di samping Ayana yang masih mengatur ekspersi wajahnya yang bersemu akibat ucapannya tadi.


"Ke kamar yuk,Yang." ajak Gio memberi kode padahal Ayana sedang malas.


"Ya udah sana pada tidur aja.istirahat habis jalan kan tadi." suruh Mira mengerti akan urusan anak muda.mau tidak mau Ayana mengangguk dan meninggalkan ruang tamu usai berpamitan pada kaka ipar dan ibu mertuanya.


Di kamar Gio yang kecil itu Ayana mulai merebahkan badannya,dengan Gio yang terus menempel bak anak monyet saja Ayana menepis tangan lelaki itu yang terus menjelajah ke segala arah yang ada pada tubuhnya.


"Libur dulu.hadeh lagi males ini boro-boro mau ini itu pengennya langsung merem aja." tolak Ayana dengan halus.jujur saja dirinya sedang malas meladeni Gio malam ini mending kalau hanya sebentar pikirnya.


Gio melepaskan sentuhannya dari tubuh sang istri." Ya udah kalau gitu bobo gih." ucapnya lalu mengcup dahi Ayana dan menarik selimbut untuk menutupi tubuh mereka.namun Ayana salah tanggap,ia langsung memeluk Gio kawatir suaminya itu marah dan ngambek.dirinya langsung saja menyingkap dasternya ke atas dan menarik turun celana d*lamnya ke bawah.


"Maaf tadi aku bercanda aja kok ayo cepetan." pinta Ayana membuat Gio menoleh kepadanya dengan wajah bingung.


"Apaan?." tanyanya tak mengerti.


"Katanya tadi mau?ya udah ini udah di buka." Ayana menarik tangan Gio dan meletakan di dadanya membuat Gio terbahak hampir saja menganggu Mia yang tengah pulas itu.


"Lah kok udah pasrah aja?katanya besok?." tanya Gio dengan heran tapi tangan nakal itu tetap menguyel benda kesukaannya yang sekarang sudah berbagi dengan Mia.


"Gapapa sekarang aja_ahhh.hmmm." Ayana malah mend*sah karena perbuatan nakal suaminya yang ******* kuat si mungiel yang berisi itu.Gio tidak bicara lagi malah melancarkan aksinya dengan brutal hingga Ayana kwalahan di buatnya.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Suara ayam berkokok memanggil Gio dan Ayana untuk bangun di pagi hari yang cerah ini.keduanya menggeliat dengan tubuh yang terasa remuk akibat pertarungan semalam.pagi ini terasa lebih cerah bagi Gio karena ia kembali terbangun dari tempat tidur masa kecilnya karena selama menikah dengan Ayana Gio jarang sekali menginap ke rumah kecilnya ini.


"Gak usah bangun nanti aja ini masih pagi." ucap Gio saat Ayana baru akan menyingkap selimbut.

__ADS_1


"Malu,nanti ibu sama ka Indri nanyain masa aku masih tidur." sahut Ayana.


"Ibu juga pengertian.gak mungkin nanyain. udah tidur aja aku mau bawa Mia dulu keluar." ujar Gio lalu bangkit dari ranjang dan segera menggendong putrinya yang sudah merentangkan tangannya sejak tadi meminta di gendong.Ayana hanya menurut saja dirinya kembali tidur saat Gio keluar kamar.benar kata Gio dirinya memang kurang cukup tidur,jadi harus tidur kembali agar nanti siang tidak pusing kepalanya.


Gio membawa putrinya mengelilingi dan melihat-lihat tanaman bunga kertas di samping rumahnya.lelaki muda itu begitu asik bercengkrama bersama putrinya menimang dan menciumi pipi gembulnya membuat siapa saja yang melihatnya gemas sendiri.jadi ingin cium bapaknya,eh.


"Gimana rasanya punya anak,Gi?." Gio langsung menoleh ke asal suara itu dan terkejut melihat Amanda sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Kenapa?" tanya Gio datar.


"Aku cuma nanya aja,gimana rasanya punya anak?." tanyanya lagi sembari menatap wajah Mia yang begitu mirip dengan Gio membuat seluruh perasaan Amanda seperti tercabik.


"Tentunya setiap orang tua pasti bahagia lah.hanya orang yang kurang waras aja yang gak bahagia memiliki anak." jawab Gio tanpa minat melihat wajah Amanda.


"Mungkin putri kita juga akan sama rupanya seperti ini,Gi.aku yakin wajahnya pasti lebih banyak menyerupai kamu." ucap Amanda membuat mata Gio memicing.


Laki-laki muda itu mendekus ke arah lain." Belum tentu.karena anak itu tergantung gen." sahutnya dengan datar.


"Kalau gennya seperti kamu sih gak usah kawatir akan seperti apa hasilnya.udah pasti seratus persen bagus dan gak mengecewakan." ujar Amanda di iringi dengan senyum manis di wajahnya.lalu tangannya menyentuh kaki montok Mia yang langsung di tendang-tendang oleh balita itu.dia tidak suka di sentuh orang lain.


"Maksud aku,kalau ibunya kamu,ya belum tentu hasilnya seperti ini." balas Gio sembari menunjuk putrinya dengan cepat membuat ulu hati Amanda langsung tertombak panah yang runcing dan beracun langsung melemahkan saraf-sarafnya.Amanda tertunduk dengan kerongkongannya yang terasa tercekat dan sakit.tangis begitu mendesak ingin keluar namun dirinya berusaha untuk menahan agar tidak terlihat menyedihkan di depan Gio.


"Mau gendong gak?sini gandong sama kaka yuk kita lihat kambing." ajak Amanda membujuk putri Gio.balita itu membuang wajahnya dan menjerit saat Amanda menyentuh kakinya." Aku gak nyakitin kamu kok,Dek.aku gak sejahat itu kok." ada nada sindiran di sana yang keluar dari mulut Amanda.


"Dia gak suka orang lain." Gio menjauhkan putrinya sembari berjalan melihat sekumpulan induk bebek dan anak-anaknya barulah anak Gio itu diam.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Ayana sudah menyiapkan air hangat untuk putrinya mandi.pagi ini dirinya begitu sibuk karena Gio akan berangkat pagi.Ayana sudah membuat sarapan roti bakar untuk Gio karena Mira dan Indri tidak akan sarapan katanya.keduanya akan pergi kondangan ke tetangganya.


"Mandi dulu sama Bunda ya.ayah mau mandi juga nanti kesiangan." ucap Gio sembari menyerahkan putrinya kepada Ayana.


"Nanti pulang jam berapa?titip rujak ya di tempat itu loh yang deket kampus kamu." pinta Ayana,Gio hanya mengangguk saja meski sedikit heran tumben sekali istri Gio minta rujak.pukul sepuluh pagi Mira dan Indri sudah bersiap akan pergi kondangan ke rumah Pak Sarip juragan tanah di kampung Gio.mertua dan kaka ipar Ayana itu begitu cantik memakai gamis dan jilbab membuat Ayana tertarik.


"Ka Aya.aku sama ibu kondangan dulu ya. kaka gapapa kan di tinggal bentar.aku paling cuma kondangan aja habis itu pulang lagi.kalau ibu pasti ikut bantu-bantu." ujar Indri sembari berkaca di lemari pajangan yang ada di ruang tamunya.


Ayana mengangguk dengan senyum." Iya gapapa Ka.lama juga gapapa lagian aku udah tua ini berani kok sendiri juga." sahut Ayana.


Mira yang baru keluar kamar pun melihat Ayana yang sedang memperhatikan Indri dengan wajah kagum." Ayana mau gak ikut?ikut aja yuk biar Mia ibu yang gendong kalau Aya mau juga boleh kalau mau pake hijab kaya Ka Indri." tawar Mira dengan lembut.


"Kalau gak mau gapapa,Nak.ibu cuma nawarin aja takut Ayana mau." ucap Mira lagi dengan pelan.


"Ayana mau bu.tapi gak bisa pakenya soalnya gak terbiasa." ujarnya dengan wajah malu-malu.


"Kalau kaka mau biar aku yang pakein yuk." ajak Indri.kemudian Ayana ikut ke kamar kaka iparnya itu lalu mulai memilih gamis yang cocok untuknya.Indri begitu sibuk mencocokan beberapa gamis di tubuh Ayana,namun hanya ada beberapa saja karena Ayana begitu tinggi jadi gamis milik Indri terlalu pendek dan cingkrang di tubuhnya.


"Nah yang ini aja lebih bagus dan cocok banget buat kaka.soalnya kaka tinggi banget badannya malah kaya tunik ini padahal di aku kepanjangan." Indri dan Ayana tertawa kemudian mulai memilih hijab yang sekiranya cocok dengan gamis yang akan di kenakan oleh Ayana.


"Ini cantik dan anggun banget,Ka." puji Indri begitu takjub menatap Ayana yang begitu cantik dan teduh ini.matanya yang berbinar cerah begitu cocok dengan hijabnya saat ini.apa lagi bingkai wajah Ayana yang memang berbentuk V sangtalah indah dan cocok dengan pakaian dan hijab apa saja.bahkan hijab Indri yang harganya tidak seberapa ini terlihat mahal di wajah Ayana yang memang memiliki paras mahal pula.


"Aku kaya ngerasa beda banget,Ka." ujar Ayana saat melihat pantulan dirinya di cermin saat ini.


"Iya dong beda.kamu kaya bidadari aja tahu,Ka?kalau Gio ada saat ini aku yakin dia pasti jingkrak-jingkrak dan kesemsem abis." ucap Indri membuat tawa Ayana pecah.


"Yuk keluar ibu pasti kaget lihat kaka." ajaknya lalu keluar menemui Mira dan benar saja perempuan itu begitu tercengang melihat menantunya yang berubah dalam sekejap.


"Masya allah Aya,ibu sampe gak ngenalin kamu,Nak.cantik dan anggun banget sih betapa beruntunynya anak ibu bisa memperistri kamu." Mira malah hampir menangis bukan karena sedih tapi begitu terharu dan bahagia karena memiliki menantu seperti Ayana ini.


Ayana begitu cantik dan anggun juga memiliki keperibadian yang sangat baik,tidak hanya fisiknya saja,tapi hatinya yang luar biasa. Jarang-jarang ada orang kaya raya seperti Ayana ini mau-mau saja tinggal di rumah Gio.bahkan mungkin jika orang lain untuk menginjakan kakinya saja tidak akan sudi.tapi Ayana ini luar biasa,dia begitu antusias saat pertama kalinya memasuki rumah Gio.dan tidak terlihat raut menyesal atau pun tidak nyaman saat berada di sini.


"Ibu kok nangis?nanti bedaknya luntur,ibu." Ayana mendekat dan mengusap air mata Mira lalu memeluk ibu mertuanya itu." Ayok kita berangkat kata Ka Indri takut keburu panas." ajaknya yang langsung di angguki Mira.


"Pake mobil Om Yanto aja kali ya,Ndri?katanya tadi tante Lydia juga pengen barengan sama kita." ujar Mira langsung di setujui oleh Indri,karena Ayana akan ikut kawatir adik iparnya itu kecapean jalan kaki.meski tidak begitu jauh tetap saja orang kota itu pasti tidak akan mau jauh-jauh berjalan kaki pikir Indri.


Ketiga wanita itu berangkat kondangan dengan mobil tentangga Gio yang masih kerabat jauh dari Agus Rahman suami Mira.sesampainya di sana Ayana mendapat perhatian dari para tamu undangan mau pun pemangku dan pemilik hajat.apa lagi barisan pemuda yang bertugas membersihkan piring dan gelas kotor.mereka hampir tak bisa kedip karena pesona Ayana begitu memikat.


"Istrinya Gio kaya gak nyata gitu gak sih? cantiknya kebangetan " ucap mereka.


"Iya,beruntung banget si Gio." sahut yang lain.emudian sekumpulan perempuan yang bertugas sebagai pagar ayu itu di buat ternganga saat melihat Ayana yang sedang menyalami para tamu itu.


"Itu siapa sih kok cantik banget?." ujar salah satu pagar ayu di acara tersebut.


"Gak tahu,baru lihat keluarga jauhnya kali." jawab temannya.


"Itu istrinya Gio kalian masa gak tahu?itu loh yang katanya orang kaya.dia anak pemilik pabrik helm itu loh." sambar temannya yang lain.

__ADS_1


"Hah seriusan kamu?masa iya istrinya Gio udah dewasa banget kayanya ya.duh ayang gue udah kawin ternyata.dulu aku sempat pedekate sama dia tapi cuma bentar.keburu di caci maki sama di Amandel." ujar salah satunya.membuat yang lain terbahak.


"Kamu sih mau aja sama laki orang."


"Kan waktu itu mereka belum jadian.aku cuma iseng aja mungpung Gio bebas kan eh si kalem dan solehah maen nyerobot bae.pake ngaku-ngaku udah tidur sama Gio dan katanya Gio udah gak bakal ngelirik yang lain soalnya udah terikat sama dia.buktinya sekarang nikahnya sama orang lain.dan cantik banget lagi istrinya.jauh lah sama Amandel mah."


"Iyalah kamu mah gimana sih?bidadari di samain sama bedogol pisang.tapi aku teh gak yakin Amandel pernah tidur sama Gio."


"Apa lagi aku."


"Eh tapi gak tahu juga loh,kan Gio diem-diem nakal juga anaknya.aku pernah lihat dia nyium kaka kelas pas acara kemping itu."


"Serius kamu?kok bisa anjir."


" Kamu tanyain aja sama orangnya masih idup kok.ngapain aku bohong."


"Tapi kalau aku sih,jangankan di cium sama doi.di icip juga gapapa lah gak rugi woy.cakep gitu pasti gak sia-sia kalau pun benihnya tumbuh."


"Aku teh jadi ngebayangin anu Gio gede kali ya?kalian lihat kan postur tubuhnya aja gede dan ugh banget,soal itu mah gak usah ragu kayanya."


"Eh,tapi aku pernah sih lihat pas renang waktu itu loh.Gio kan cuma pake boxer tipis ya.nah jelas banget gundukannya gustiii,segede betis anak bayi woy."


"Ughh istrinya beruntung banget ya."


"Aing jadi pengen ngelakor jadinya kalau denger yang gede-gede begini mah."


"Eh diem ada istrinya." salah satu dari mereka menghentikan obrolan tak berfaedah itu.mereka langsung mingkem dan pucet saat melihat Ayana tersenyum kepada mereka.namun di balik senyuman itu mereka bisa menangkap ada raut ingin membunuh di sana.membuat mereka jadi ketar-ketir dan keringat dingin mulai keluar sebesar biji jagung.


"Lagi ngobrolin suami saya ya?suami saya ternyata terkenal juga ya di kampung sini. pantesan hampir seluruh orang mengenal Gio." ujar Ayana masih dengan senyum manisnya.ia melihat-lihat berbagi macam souvenir yang memang di siapkan di depan aana.


"Makasih lo kalian udah memuji ketampanan suami saya.tapi ada baiknya jangan sampai alat kelaminnya segala di bahas ya.hal seperti itu gak usah di bahas juga dong apa lagi di tempat ramai seperti ini.rasanya kurang etis aja jika ada yang dengar." lanjut Ayana membuat mereka tambah beku di tempatnya.


"Dan saya ingatkan ya mbak-mbak gak usah mimpi bisa masuk ke dalam rumah tangga saya.karena Gio hanya tercipta untuk saya begitu pun sebaliknya.cari aja yang single banyak,tuh kang Deni juragan beras juga kan single dan kaya lagi." sambung Ayana yang masih tidak di sahuti oleh mereka.


"Eh,tolong saya minta itu dong buat anak saya." pinta Ayana sembari menujuk souvenir yang tersusun di meja lain.dengan cepat salah satu dari mereka memberikannya.


"Ini ka.kami minta maaf ya udah ngomong ya enggak-enggak.kami bener-bener minta maaf dan gak akan ngulangi lagi.janji Kak." ucap mereka dengan wajah menyesal.


Ayana tersenyum dan mengangguk." Iya saya maafin.tapi jangan macam-macam ya kedepannya juga.dan jangan berfantasi tentang laki-laki lain apa lagi yang sudah beristri.kalian gak mau kan suatu saat menuai karma?." ujar Ayana.


Mereka kompak menggelengkan kepala." Enggak,Ka.makasih ya." ucapnya.Ayana mengangguk dan buru-buru mencari ibu mertua dan kaka iparnya yang sedang makan sembari menyuapi Billa.


"Dari mana,Aya?" tanya Mira dan mempersilakan menantunya itu makan.


"Habis minta souvenir Bu.untuk mainan Mia.dia kan suka barang kaya gantungan kunci gitu." sahut Ayana lalu mulai makan dengan lahap.usai itu Ayana meminta Indri untuk memfotokan dirinya.dan ada beberapa hasilnya yang bagus Ayana begitu senang dan antusias.dia iseng mengirimkan fotonya kepada Gio.


Gio membuka ponselnya usai makan siang dirinya begitu terkejut mendapati foto bidadari yang di kirim oleh Ayana." Ini siapa sih?." tanya Gio pada dirinya sendiri sembari meneliti foto itu.


"Loh ini istri gue kayanya?kok cantik banget anying?loh kok bisa begini sih?siapa yang bikin dia secantik ini?." monolog Gio seraya mengezoom foto Ayana dengan mata memicing.


"Gila ini mah.harus cepet pulang gak boleh terlewatkan saat dia make hijab gini." Gio kemudian memencet tombol menghubungi istrinya.dua kali dering langsung di angkat oleh Ayana.


"Kenapa?." suara Ayana begitu lembut di sebrang sana.


"Sayang,itu kamu serius?." tanya Gio begitu tak percaya.


"Iya,emang kamu pikir siapa?." ucap Ayana.


"Aku pikir model muslimah yang ada di sopi itu loh.saking cantiknya aku sampe gak ngenalin istri sendiri." ujar Gio membuat Ayana melayang ke mars saking melyotnya mendengar ucapan dari mulut Gio.sudah dirinya katakan bahwa mulut dan suara Gio seperti candu baginya.


"Ah masa?." sahut Ayana dengan pipi yang memanas bahkan sampe ia kipasi dengan tangannya sendiri.


"Iya yang.jangan di buka dulu ya tunggu aku pulang pengen lihat momen langka ini." pinta Gio dengan memohon.


"Gerah,Gi.ini aja udah di tarikin Mia terus sampe menyon-menyon hijabnya." sahut Ayana apa adanya.


"Setidaknya sekali ini aja,yang.soalnya kan kamu gak bakal make lagi kayanya." ujar Gio dengan pelan membuat Ayana tersinggung.namun ia tak ambil pusing.


"Iya udah,Papa di tunggu ya pulangnya." ucap Ayana menirukan suara anak kecil.


"Iya Bunda.Ayah bakal cepat pulang soalnya gak sabar pengen lihat bidadari tercantik yang pernah Ayah lihat.i love you bundanya Jemi." balas Gio sembari memberikan kecupan jauh.jangan tanyakan lagi Ayana saat ini.perempuan itu sudah meleyot dengan wajah bersemu merah dan memanas.



__ADS_1



__ADS_2