Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
66


__ADS_3

Ayana dan Monica tengah melihat Gio yang sedang terapi berjalan dengan Hendra_terapis yang di sewa oleh Frans itu begitu cepat membuat kondisi Gio semakin membaik,dari hari ke hari.saat ini Gio tengah berlatih berjalan ia melangkahkan kakinya dengan susah payah.Gio melangkah tanpa bantuan alat-alat yang biasa di gunakan saat terapi.karena sekarang Gio harus belajar melangkah tanpa tongkat mau pun bantuan alat lain.


"Ayo ayah semangat jalannya dong.nanti di kasih hadiah sama Mama dan Mia " ujar Ayana sembari memangku putrinya yang sudah pandai lari sana lari sini.dan itu yang membuat Ayana selalu kewalahan.


Gio menoleh tersenyum dan memberikan sebuah ciuman jauh untuk anak dan istrinya itu.membuat Monica mendengus." Lagi terapi aja Masih sempet-sempetnya." dumel Monica membuat Ayana terbahak.


"Mamah ih kaya gak pernah muda aja." dengus Ayana.


"Pernah juga Dek.tapi ya gak gitu juga sih." sahut Monica lalu berdiri karena melihat mobil suaminya sudah memasuki pekarangan rumah." Mamah ke dalam dulu Ay,Papah datang kayanya." ujar Monica lalu melangkah dari sana menemui Frans.


"Ayah jayan nda ya.mau ikut ayah." rengek Mia ingin di gendong ayahnya.


"Gak boleh.ayah lagi terapi dulu biar cepat pinter jalan,nanti bisa bawa Mia lari dan kuda-kudaan lagi." cegah Ayana dengan berusaha mengalihkan perhatian Mia.ia membawa gadis kecilnya melihat-lihat bunga dan tamanan Monica yang berjejer rapih di pekarangan rumah.


"Segini aja dulu Mas.nanti kita mulai lagi ya jangan lupa abis ini istirahat dan makan yang cukup." ujar terapis itu.saat ini mereka menghentikan sesi terapi kali ini karena satu jam setengah di rasa sudah cukup.tidak boleh juga membuat Gio kelelahan.


"Makasih mas.doakan saya agar cepat bisa jalan ya mas." ujar Gio dengan senyum hangatnya.kemudian ia masuk karena Ayana juga masuk ke dalam rumah setelah terapis itu pergi usai mengobrol dengan Frans sebentar.


"Gimana hari ini,Gi?" tanya Frans saat menantunya itu duduk di sofa.


"lancar Pah.ini udah bisa gerak-gerak sih gak ngilu lagi." jawab Gio sembari menepuk kakinya.


"Bagus dong.ada kemajuan berarti.kata Hendra kamu palingan sebulan dua bulan lagi juga udah bisa jalan." ujar Frans.dirinya sempat berbincang tadi dengan Hendra.


"iya Pah mudah-mudahan aja." sahut Gio.


"Aduh kesayangan opa kenapa nangis hmm?" Frans meminta cucunya yang sedang menangis itu dari gendongan Monica.


"Mimpi kayanya Pah.katanya di bohongin malaikat mamanya pergi" ujar Monica sembari mencium kepala bayi yang masih merah itu. "Jadi anak-anak ini siapa namanya Gi?Ay? " tanya Monica seraya melihat kedua orang tua muda itu.


"Yang cowok namanya.Eliezer Ravendra Pramudya.kalau yang cewek,Elina Vindi Parmudya." ujar Gio dan Ayana.keduanya kali ini memilih nama masing-masing untuk putra dan putri mereka.


"Wih bagus banget namanya.jadi panggilannya Eli dan Elin begitu?" tanya Monica.


"Raven dan Vindi.Mah" sahut Ayana Monica dan Frans hanya mengangguk dan langsung fokus menimang kedua cucu kembarnya.


"Raven ini wajahnya Ayana banget ya Pah tapi tetap ada Gionya.itu bapaknya gak mau banget ketinggalan." decak Monica heran.saat ini Ayana dan Gio sudah ke kamar mereka karena putrinya ingin mandi bersama ayahnya.


"Kan bapaknya Mah,gimana sih?" sahut Frans heran,ya jelas saja pasti mirip Gio kan Gio yang buat mereka.masa iya mirip yang nulis.


"Apa lagi yang ini,dulpikatnya Gio lagi aja. harusnya anak cowok yang mirip ayahnya lah ini yang cewek dua-duanya mirip Gio. kan takutnya orang-orang ketuker doang" ujar Monica seraya menciumi pipi cucunya yang perempuan.


"Udah lah Mah.mau mirip siapa pun gak masalah asalkan pada sehat aja" balas Frans.


"Iya sih tapi_"


"Mah." potong Frans membuat Monica mingkem.


Anak-anaknya Gio dan Ayana ini memang unik.Jemia memiliki wajah yang sama persis dengan sang ayah.tidak heran jika orang-orang sering kali menganggap Jemia itu laki-laki.karena wajahnya yang menyerupai Gio.dan si kembar ini lebih unik lagi.Raven memiliki wajah seperti Ayana namun jika di perhatikan tetap mirip dengan Gio.dan Vindi hampir sama dengan Jemia,namun tetap memiliki garis wajah sedikit lebih lembut.tidak seperti Jemia yang memiliki garis rahang tegas sama seperti Gio.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Saat ini Ayana dan Gio bersama putrinya sedang mandi di dalam bathub bertiga. mereka saling sabun menyabuni tubuh masing-masing.Gio begitu telaten membersihkan tubuh anak dan istrinya meski pun geraknya masih terbatas,tapi Gio tetap berusaha sebisanya.


"Ayah cini,Kat ii" pinta Mia sembari menyodorkan sikat dan pasta gigi kepada Gio.


"Papanya lagi gosokin rambut Mama dulu Dek.nanti tunggu dulu main sabun aja nih." ujar Ayana.karena saat ini dirinya sedang merem melek di pijat kepalanya oleh Gio. anggap saja creambath gratis di rumah.


"Tunggu ya sayang.Ayah pijit kepala bunda dulu." ujar Gio dengan lembut.namun putrinya itu belum paham sepertinya tetap saja ia merengek.


"Ish kamu ini.bisa gak sabar dulu." bentak Ayana dengan itonasi tinggi,dan Jemia sukses menangis.


"Yang." peringat Gio.ia tidak suka Ayana yang kasar terhadap anak.


"Abisnya anak kamu itu keras kepala banget.kalau di bilangin itu gak denger" sahut Ayana kesal.


"Tapi tetap aja.anak-anak kan belum ngerti apa yang di mau oleh kita." sergah Gio namun tetap lembut.ia menarik putrinya lalu menggendongnya.membiarkan rambut Ayana yang masih penuh dengan krim konditioner itu ia tinggalkan.


"Makanya dia manja,kamu begitu sih apa aja di turuti." dengus Ayana kesal buru-buru ia membersihkan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.


"Habis ini minta handuk,yang." pinta Gio. Ayana hanya berdehem tak menjawab." Sini sikat dulu giginya.nanti habis ini Mia makan ya,nanti di suapi sus Risma.karena ayah mau bantu opa." ujar Gio dengan lembut.


"euh." Jemia mengangguk beberapa kali tanda bahwa ia mengerti dengan apa yang Gio ucapkan.gadis kecil itu memang begitu nurut kepada ayahnya.


"Oke.anak ayah kan pinter dan cantik harus nurut ya,gak boleh ganggu Nda dulu abis ini.ndanya capek habis nen in dede bayi.kasihan nanti Nda sakit." ucap Gio memberi pengertian kepada putrinya itu meski entah Mia mengerti apa tidak.


"Ya udah ayok kita keluar." ajak Gio sembari berusaha keluar dari bathub.ia sengaja tak memanggil Ayana karena ingin berusaha sendiri.usai memakaikan putrinya dengan gaun lucu dan bando berwarna pink cerah,agar putrinya terlihat cantik,bukan ganteng.Ayana akan marah jika ada yang memakaikan pakaian biasa kepada Mia.istri Gio itu tidak suka jika anaknya di bilang ganteng.Gio membawa putrinya turun ke bawah.ia selalu menggunakan lift agar bisa menggunakan kursi roda kemana pun." Sus,ini Mia tolong di suapi dulu ya,saya mau bantu Papah dulu.jangan ganggu bundanya dulu ya sus, sus Titi mana?." ujar Gio mencari keberadaan suster si kembar.


"Iya Mas.sus Titi lagi mandi kayanya." sahut suster Risma lalu ia mengambil alih Mia dari gendongan Gio.meski ada sedikit drama dulu.karena si sulung itu begitu lengket pada ayahnya.Gio menuju ruangan kerja Frans karena mungkin sudah di tunggu oleh ayah mertuanya itu.dan benar saja Frans sudah di sana dengan cerutunya yang mengepul.

__ADS_1


"Pah" sapa Gio sembari mendekati Frans yang sedang menikmati kepulan asap di sekitarnya.


"Apa kamu ingat nama Bian?" tanya Frans. Gio mengangguk dengan cepat.meski tidak sepenuhnya mengingat Bian dan segalanya,tapi ia tahu dan ingat tentang lelaki itu.karena Ayana pernah membahas ini sebelumnya.begitu juga tentang Indri yang sempat Gio lupa.Gio hanya lupa nama kakanya itu.namun tidak dengan kenangannya.


"Suami Kaka kamu mau kembali,katanya dia merindukan anak dan istrinya.apa kamu setuju kalau dia kembali kesini?." ucap Frans yang langsung saja membuat Gio terhenyak.


"Papah tau kamu pasti kaget dengar hal ini.maaf baru ngasih tahu sekarang.Bian Papah asingkan ke Malaysia supaya dia gak ganggu Kaka dan ibumu lagi.Papah sengaja gak ngasih tahu kamu tentang hal ini karena gak mau bebani kamu,Gi." ujar Frans dengan lugas membuat Gio melongo pria tua itu menganggukkan kepalanya beberapa kali." Kalau kamu gak senang dengan hal ini.Papah minta maaf.dan mengenai Bian yang ingin kembali juga itu keputusan kamu."


Gio terdiam tak segera menjawab.di kepalanya berputar tentang bagaimana perlakuan dan sikap Bian terhadap Kaka dan dirinya.egonya mengatakan dan mencegah lelaki itu kembali kesini,apa lagi kembali pada Indri.namun lubuk hatinya mengatakan,bahwa masih ada ponakannya yang membutuhkan sosok ayah.Gio melihat bagaimana Jemia yang begitu lengket kepadanya,lalu bagaimana dengan Billa,gadis kecil itu pasti sama seperti yang di rasakan oleh Mia.


Gio yakin Abilla juga pasti sangat merindukan sosok ayah.keponakannya itu masih kecil dia butuh ayahnya untuk menemaninya bermain menggantikan dirinya yang sudah sangat sibuk dengan keluarga barunya kini.setelah kelahiran Mia dan dirinya jatuh sakit.juga tak lama si kembar lahir,Gio sering kali melupakan Billa yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.ia begitu lama tidak melihat dan bertemu dengan gadis kecil itu.


"Boleh Pah.biarin dia ketemu sama anaknya." ucap Gio pada akhirnya.


"Bener?kalau kamu keberatan ga apa.biar Papah yang akan bilang sama dia kalau Indri gak mau ketemu lagi dengannya." ujar Frans.


"Gapapa Pah.aku gak masalah asalkan dia mau berubah demi anak dan istrinya.aku udah melupakan kejadian-kejadian lalu. asalkan dia mau berubah supaya bisa jadi sosok ayah untuk keponakan aku." ujar Gio dengan serius.


"Baik.Papah akan beri tahu Rudy dan minta bawa pria itu kesini segera." sahut Frans.


Kemudian mereka membahas pekerjaan dan kuliah Gio.yang tertunda hingga hampir satu tahun ini.Gio kembali melanjutkan kuliahnya atas saran dari Ayana.karena perempuan itu tetap ingin Gio melanjutkan kuliahnya. bagaimana pun Ayana ingin Gio memiliki gelar entah apa pun itu.asalkan Gio mendapat gelar agar impian lelaki itu tercapai.


"Ayo Makan malam.Papah udah laper ini tadi pesan pepes ikan Mas ke Mamah. kayanya udah siap di bawah." ajak Frans setelah satu jam lebih membahas pekerjaan.mereka pergi ke meja makan yang sudah di tunggu oleh Ayana dan Monica.mereka sedang mengobrol sepertinya membahas Gio dan anak-anak entah mengobrol atau berdebat.


"Parenting Gio itu bagus.yang salah kamu, Ay,anak itu harus di lembutin jangan di bentak begitu.bukannya nurut dan takut yang ada anak jadi trauma dan otaknya bleng kalau terus-terusan dapat bentakan dan perlakuan kasar kaya gitu." Omel Monica yang sempat Gio dan Frans dengar.mereka saling pandang membiarkan anak dan ibu itu saling serang keduanya memilih duduk dan mengambil makan masing-masing,karena Gio di beri kode oleh Frans.agar mereka membiarkan Ayana dan Monica mengoceh.


"Mamah ini bisanya cuma nyalahin aku doang Mia itu manja Mah,apa-apa minta ke Papanya,terus gak bisa di bilangin." bantah Ayana.karena mamanya ini terus saja menyalahkannya.


"Sifatnya itu nurun dari kamu.dulu kamu juga begitu pas kecil apa-apa Papah.mana susah di bilangin,persis Mia sekarang." ucap Monica membuat Ayana mendengus.


Gio hanya menahan tawanya,ia melirik pada Ayana yang tengah kesal itu." Imut banget sih istri gue." ucap Gio namun hanya dalam hatinya saja.


"Tapi aku gak begi_"


"Aku suapi ya." potong Gio sembari menyodorkan sesendok makanan.agar mertua dan istrinya ini mengakhiri perdebatan.karena jujur saja telinga Gio dan Frans sudah panas mendengar ocehan mereka itu.


"Hmm" sahut Ayana dan mulutnya menyambar suapan dari Gio.mereka akhirnya makan dengan tenang,namun terhenti karena suara bell yang berbunyi Frans meminta salah satu pelayan untuk menemui tamu di depan rumahnya.


"Siapa Pah?" tanya Monica.


"Gak tahu,Papah gak ngerasa ngundang orang." jawab Frans.tak lama mereka semua menoleh saat siapa yang berjala bersama pelayan itu.


"Aku di suruh Papa nganterin ini oleh-oleh katanya,Mama kemarin dari Taiwan Om Tan." ucap Jerrian.


"Owalah.kenapa harus repot-repot Jerri." balas Monica.


"Gapapa tan.sekalian aku tadi keluar.oh iya,mama dan papa pengen ketemu katanya dengan Ayana dan suami juga." Jerri melihat Ayana dengan senyum hangat.


Ayana menoleh pada Gio yang menghentikan kunyahannya." Oh.iya Jerr kapan-kapan deh ya ketemu." balas Ayana.


"Kebetulan kita lagi makan.ayo makan bersama." ajak Monica dan Frans.


Ayana melihat wajah Gio yang saat ini berubah menjadi datar." A dulu." ujar Gio. Ayana tersenyum saat Gio memberikan suapan lagi padanya.dan langsung menerimanya dengan senang.


Mau tidak mau Jerrian ikut makan juga di sana.karena menolak pun tidak enak.dan juga kebetulan dirinya memang belum makan.mereka mengobrol tentang pekerjaan,Gio hanya sesekali menimpali dan menyahut.selebihnya ia lebih suka mendengarkan.


"Mas Gio gimana terapinya?." tanya Jerri ramah bermaksud ingin mengakrabkan diri dengan Gio.


"Lancar" jawab Gio datar.


"Sukur lah mas.semoga cepat pulih ya."


"Iya,makasih."


Ayana merasakan bahwa Gio sudah tidak nyaman di situasi ini.Ayana tahu Gio ini super cemburuan sama seperti dirinya." Kalau kamu udah,kita ke kamar aja yuk." ajak Ayana.


"Nanti aja.udah kamu makan buah dulu." suruh Gio.


"Gio,Jerrian ini yang nolong Ayana sewaktu kecelakaan dulu.kita udah pernah membahas waktu itu ya.dan ternyata setelah Papah tahu dan Papah baru ingat, ternyata dia ini anak kawan Papah anaknya om Rian." ucap Frans kepada Gio.dan Gio hanya mengangguk saja.tidak tahu harus menanggapi seperti apa.


"Dan udah hampir dua bulan ini Papah mengajak Jerrian kerja sama.dia jadi model untuk pemasaran helm.Papah juga udah membahas ini dengan Ayana." lanjutnya lagi membuat Gio menoleh sebentar kepada Ayana.namun ia mengangguk dan kembali fokus pada Frans berpura-pura sudah mengetahuinya.agar Frans yakin bahwa Ayana sudah memberitahukan padanya.


"Dan untuk ke depannya,Papah harap kamu dan Jerrian bisa bekerja sama ya. kalian bisa saling membantu kalau salah satu ada yang gak paham soal pekerjaan." ujar Frans hangat.membuat Gio menegang namun ia berusaha untuk menyembunyikannya.Gio kembali mengangguk apa pun yang Frans katakan ia menyetujui saja.


"Iya Pah." sahut Gio akhirnya.meski dalam hati begitu berat untuk mengatakan itu.


"Bagus.ada bagusnya kalian menjadi saudara. " kekeh Frans yang di balas kekehan juga dari Jerrian.namun Gio dan Ayana hanya diam dengan wajah datar.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


Setelah berbincang akhirnya Jerrian pamit pulang karena sudah malam juga.Ayana dan Gio mengantar sampai depan teras." Makasih ya Ay.dan masnya,eh maaf udah ngerepotin banget ini" ucap Jerrian.


"Sama-sama Jerr.gak ngerepotin kok cuma main doang.ngerepotin apanya." sahut Ayana.


"Kalau gitu aku pamit ya." Jerrian berpamitan dan hendak pulang namun urung karena Monica memanggilnya.ada barangnya yang ketinggalan di sofa.


"Ambilin,yang." suruh Gio pada Ayana.


"Oh,iya." Ayana ke dalam mengambil barang Jerrian.


Setelah Ayana pergi Gio melirik ke dalam." Mas tahu kan,etika dan sikap juga batasan sama lawan jenis yang udah punya pasangan?." ujar Gio langsung saja.


Jerrian seketika menoleh dengan mata membulat.sepertinya pria itu kaget akan apa yang di ucapkan Gio itu." Oh.iya mas saya tahu kok tenang aja." jawabnya masih dengan wajah ramahnya.Gio tak menjawab karena ia sudah melihat bayangan Ayana yang datang membawakan barang Jerrian.kemudian lelaki itu pergi dari sana.


"Gi?.." panggil Ayana saat mereka sudah di kamar.


"Kenapa?" tanya Gio yang baru masuk membawa putranya." Dia pengen nen. susuin dulu biar tidurnya nyenyak" suruh Gio.


"Kamu kenapa tadi kok mukanya gitu?kamu gak suka ya,Jerrian datang kesini?." tanya Ayana.


"Kamu pikir dong,suami mana yang suka istrinya akrab dengan lelaki lain?lagian kok akrab banget gitu,kamu udah sering ngobrol ya sama dia selama aku koma?" selidik Gio.


"Nggak dong.ih ketemu juga jarang,aku kan sibuk ngurus kamu dan anak-anak." bantah Ayana.


"Oh,bagus deh." sahut Gio kemudian menyerahkan putranya pada Ayana.


"Ngambek?kenapa sih semenjak sakit kamu jadi ngambekan gini?."Ayana menatap Gio yang datar.


"Sebelum sakit juga aku udah gini" sahut Gio.


"Iya sih.bungsunya Bu Mira emang rada ngambekan anaknya.padahal udah tiga buntutnya masih aja ngambekan." sindir Ayana membuat Gio menahan tawa.


"Makanya yang lurus-lurus aja bisa gak sih yang?gak usah aneh-aneh gitu.pake akrab sama orang baru lagi.aku gak peduli walau dia anaknya teman Papah juga.tetap aja aku gak suka." ungkap Gio.


"Ya ampun Gi.aku sama Jerrian gak seakrab itu kok.kami ini biasa aja loh.dan aneh-aneh bagaimana maksud kamu?aku ini lurus-lurus aja deh padahal." ujar Ayana.


"Ck.pokonya jangan akrab sama tikus itu. aku gak suka ya nggak suka aja." ucap Gio tegas.


"Iya.udah jangan marah gitu.gak usah cemburu lagian aku ini udah turun mesin berapa kali coba?gak bakal ada yang mau sama aku." Ayana menenangkan sang suami supaya Gio luluh.Gio hanya mendelik mendengar ucapan istrinya itu.


"Itu sih kata kamu.beda pandangan yang. sedangkan cowok-cowok di luar sana?mereka ngelihat kamu aja udah kaya singa lapar gitu.si jeri juga gitu." ucap Gio membuat Ayana terkekeh.


"Iya iya.iya udah jangan marah lagi.mau gimana pun cowok di luar sana.kan aku ini tetap punya kamu kok Gi.yang tahu luar dalamnya aku,ya kamu lah." Ayana menggapai tangan Gio yang terjuntai bebas di pahanya.wajah Gio terlihat melunak dan ia memeluk Ayana dari samping karena sedang menyusui putranya.


"Kok gue kaya punya anak bujang sih?." ujar Ayana dalam hati.


"Bawa Raven dulu ke kamarnya yang.aku mau cuci muka." pinta Ayana membuat Gio seketika menoleh.


"Apa tadi?coba ulangi?." pintanya.


"Apaan?" tanya Ayana heran.


"Kamu manggil aku apa tadi?" ucap Gio.


"Gi,kenapa emang?" jawab Ayana.


"ish bukan,tadi manggil apa sih?" rengek Gio.


"Oh,yang.aku ngikutin kamu aja." sahut Ayana membuat Gio kejang ringan.


"Langsung sembuh kaki aku denger kamu manggil gitu.aku juga sering mimpi ada yang manggil aku dengan sebutan itu." ujar Gio teringat pada mimpinya kala ia koma.ia mengingat ada orang yang setiap hari bicara kepadanya dengan berbagi hal dan selalu memanggilnya dengan sayang.ia merindukan hal itu,dan sekarang bersyukur karena mendengar Ayana memanggilnya dengan panggilan sayang,yang selalu Gio suka.


"Itu aku" jawab Ayana.


"Iya.makanya aku rindu panggilan itu." sahut Gio.


"Heleh.aku juga sering manggil kamu gitu kok." decak Ayana.


"Makanya panggil aku seperti itu mulai sekarang.dan lebih senengnya lagi kalau kamu manggil aku Mas." ucap Gio membuat Ayana terpingkal.


"ih.geli banget dengernya,masa aku manggil kamu mas sih?udah kaya manggil mas-mas penjual cireng aja." tawa Ayana menyembur.dirinya merasa geli bukan main.


"Itu panggilan untuk suami.sebagai bentuk hormat.masa manggil Gi,Gio mulu?udah kaya ke adek aja." dengus Gio.


"Emang udah bagus manggil ayang sih." sahut Ayana masih dengan tawanya. mendengar itu,bibir Gio melengkung ke atas ia menyembunyikannya dengan mengecup pipi sang putra yang sedang lahap menyusu di pangkuan Ayana.



...Ayah Gio jadi kurusan semenjak sakit☺️☺...

__ADS_1


...Makasih buat yang masih baca kaka2 cantik😍❤...


__ADS_2