
Sudah hampir jam 8 malam Ayana menunggu kepulangan Gio.lelaki itu katanya menunggui para pekerja yang sedang mengerjakan mesin malam ini lembur karena sudah di kejar target maka Gio sengaja membuat karyawan pada lembur untuk dua malam ke depan.
"Masa dari tadi gak buka hape?sesibuk apa sih dia ini" gumam Ayana kesal sembari mengutak atik ponselnya.melihat pesan yang di kirimnya masih centang abu-abu.saat mulutnya tengah komat kamit ia mendengar suara motor Gio yang masuk dan berhenti di garasinya.
Ayana menatapi Gio saat lelaki itu masuk ke dalam rumah tapi masih menggenakan helm fullfacenya.di lihat seperti ini Gio itu terlihat seperti masih bujangan.pakaiannya keren dan kekinian sekali.kaus putih di padukan dengan kemeja kotak biru tua yang di biarkannya terbuka.celana jeans hitam andalanya dengan sepatu sneakers air jordan,ugh pokonya keren sekali menurut Ayana dan yang nulis ini.
Oh tuhan,pantas saja suaminya ini banyak yang naksir.Gio memang lebih cocok seperti artis dari pada bapak-bapak beranak tiga.terkadang Ayana memang tidak menyalahkan para perempuan di luar sana yang mencoba menaruh hati pada suaminya.ia terkdang menyalahkan wajah Gio yang terlalu sempurna dan tanpa cela tapi yang membuat Ayana kadang kala kesal seperti tadi siang.ia tidak suka jika Gio bersikap terlalu ramah yang mengakibatkan banyak betina di luar sana yang salah artikan sikapnya itu.mereka mengira Gio genit dan mudah di dekati dan mendekati.
"Kenapa ga buka Wa Gi?dari tadi masa gak buka hape?emang gak kedengeran aku telepon kamu?." baru juga Gio masuk sudah di cecar dengan pertanyaan beruntun dari istrinya.
Gio menoleh sebentar sebelum melipir ke meja untuk mengambil gelas.tak segera menjawab ia memilih membasahi tenggorokannya terlebih dahulu.usai meminum satu gelas habis tanpa menoleh Gio berkata." Lagi megang mesin tadi terus langsung pulang gak lihat-lihat hape dulu"
"Terus kenapa lembur gak ngabarin?tibang wa aja Gi,gak bakal menyita banyak waktu kamu kok." ketus Ayana seraya berdiri dan menggendong putranya yang sudah melambai pada ayahnya.
"Ayah.Nda,itu ayah." panggil Raven dengan menggerak-gerakkan kakinya.Gio berjalan ke wastafel membawa gelas bekas minumnya.lalu ia mencucinya sekalian cuci tangan.lelaki itu memang rajin dalam urusan bersih-bersih ia jagonya bahkan jika semua pekerja di rumahnya meliburkan diri pun Gio sangat bisa di andalkan.karena ia terbiasa di rumahnya.
"Sini gendong sama ayah." ujar Gio sembari mengambil Raven dari gendongan Ayana.ia membiarkan mata istrinya menyorotinya dengan tajam karena Gio tak membalas ucapannya tadi.
"Kamu ini bener-bener ya Gi,kamu sengaja ya?atau emang tadi lagi sibuk tebar pesona sama anak anak produksi?" tuduh Ayana yang tidak di pedulikan sama sekali oleh Gio.
Wanita beranak tiga itu menggeram kesal karena di abaikan." Masa iya kamu turun selera sih?yakali aku yang udah punya segalanya ini kalah sama anak-anak kemarin sore?." cetusnya yang lagi-lagi tak di pedulikan oleh si lawan bicara.lelaki itu malah sibuk mengecupi pipi putranya.
"Bunda berisik ya Sayang?kepala ayah jadi pusing ini." ucap Gio pada putranya yang sedang memainkan kalung Gio.kalung stainless berwarna hitam dengan liontin cincin Ayana yang terlalu besar di jari perempuan itu.maklumlah Ayana kan tulang semua.
"Tatatah,nda.tatah bicik" sahut balita yang wajahnya lebih banyak miripnya dengan Ayana.tapi tetap masih mewarisi wajah Gio sebagian.gen Gio memang benar-benar kuat ia tidak ingin kalah rupanya.
"Iya berisik kaya kaleng rombeng." balas Gio lalu ia beranjak dari sana membawa Raven ke kamar.melihat Gio malah meninggalkannya yang sedang dalam keadaan kesal,Ayana tambah misuh-misuh di buatnya,ia meradang karena lagi lagi di abaikan.ia memutuskan untuk naik ke atas menyusul Gio yang sudah masuk ke kamar.
"Nda nen." ujar Raven saat melihat Ayana masuk ke dalam.bocah itu langsung turun dari pangkuan sang ayah.
"Iya sini." sahut Ayana lalu duduk di karpet yang tergelar di lantai dekat tempat tidurnya.ia menaikan kausnya lalu meminta Raven duduk di pangkuannya.balita itu menurut lalu mendusek di sumber kehidupan pertamanya.
"Ayah mandi ya,Aven." pamit Gio takut bocah itu menangis mencarinya melihatnya sudah mengucek matanya Gio yakin putranya itu sudah mengantuk.Ayana membiarkan saja suaminya itu mandi terlebih dulu.karena ia juga sedang menidurkan Raven.setelah Gio selesai mandi ia akan mengintrogasi lelaki itu.
...☘☘☘☘☘☘...
Makan malam telah siap di meja yang baru saja Ayana sajikan.ia menghangatkan ikan bakar ke dalam ovan.ia duduk sambil memakan timun yang sudah ia coelkan ke sambel terasi,selagi menunggu Gio selesai dengan urusannya di dalam kamar.suami Ayana itu menghampiri meja makan dengan wajah segar.ia menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya di sana tangannya mengambil timun yang sudah di potong-potong lalu mencolekkanya ke sambel terasi yang begitu menggugah selera di depannya.
"Siapa yang bikin sambelnya yang?." tanya Gio seraya mencolek sambel dengan jari kelingkingnya.
"Aku." sahut Ayana lalu berdiri karena ovan telah mati.ia membawa ikan bakar gurame itu ke meja lalu mengambilkan nasi untuk Gio makan." Segini cukup?"
"Udah cukup.gampang nambah." Gio menerima piring itu lalu mulai makan menggunakan tangan.ribet jika harus dengan sendok,karena makan pake tangan itu menambah cita rasa makanan biasanya tidak terasa tau-tau habis sebakul,eh.kalau ini kebiasaan yang nulis.
"Ini dagingnya." Gio menaruh daging ikan yang sudah ia bersihkan durinya ke piring Ayana." Biar aku aja yang potelin,nanti tangan kamu kena duri lagi." cegahnya saat Ayana memisahkan tulang ikan. diam-diam Ayana tersenyum dalam hati. meski mereka dalam keadaan perang dingin pun Gio masih tetap perhatian semarah apa pun lelaki itu masih tetap memperhatikannya.baik hal kecil atau pun besar.Gio memang sesempurna itu.
"Gi,Kupasin jengkolnya,mau nyoba enak gak sih?." pinta Ayana sembari melirik pada jengkol muda yang ada di antara lalapan.
Gio mendongak dengan serius." Jangan ah jengkol itu suka bikin mules.aku aja gak mau,kapok." cegahnya karena jujur saja Gio trauma makan jengkol.karena makan jenis itu selain bau dan pengar bisa juga membuat mules dan diare.jika tidak cocok dengan perut yang memakannya.
"Sedikit aja" kekeuh Ayana seraya mengambil jengkol muda dari sangku yang berisi banyak jenis lalaban itu.
"Ck.nanti bau pipismu." dengus Gio lalu tangannya mengambil satu biji jengkol muda itu dan mengupaskan jengkol yang berukuran sebesar kancing baju." Nih awas jangan pipis di kamar mandi nanti bau,aku gak suka baunya."
Ayana mendekus dengan kesal" Terus pipis dimana?di depan rumah?"
"Pokonya ini jengkol bau." sahut Gio yang putus asa.karena ia tidak suka makanan bau itu.
__ADS_1
"Yang bilang wangi siapa?kalau gak bau namanya bukan jengkol dong.tapi jengcool" Ayana terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Lagian bibi bukannya pada di makan ini jengkol.malah di taruh di sini." ujar Gio sembari melirik istrinya yang sedang takut-takut mengunyah jengkol muda itu.
"Ih kok enak.tapi langur banget ya" Ayana memberanikan diri mengunyah satu biji jengkol muda.dan rasanya menurutnya enak namun tetap tidak enak di lidah apa lagi saat ia minum air putih.rasanya sangat aneh dan membuat lidah kebas.
"Udah gak usah di makan,itu bau.nanti aku gak bisa jilat,kalau bau-mmm apwa swih ywang." Gio mendelikan matanya karena mulutnya penuh dengan tahu goreng.satu biji tahu kuning Ayana lelepkan ke dalam mulutnya yang comel itu
...☘☘☘☘☘...
Usai makan malam Ayana dan Gio memilih menyalakan televisi,padahal tidak mereka tonton.hanya saja agar suara di kamar mereka tidak begitu hening.Gio memilih mengerjakan tugas kuliahnya.besok ia harus datang lebih pagi.karena besok ada kelasnya dosen killer.
"Ka Indri sama ibu mereka aku suruh nginep besok." ujar Ayana mendekati Gio yang sedang fokus dengan buku di depannya.
"Oh."
Dahi Ayana yang super glowing itu mengerenyit mendengar tanggapan Gio apa lelaki itu sudah bosan hidup mengapa hari ini ia mendadak menyebalkan." Kamu kenapa?"
"Ha,aku?" Gio menunjuk dirinya.
"Ck.emang ada orang lain selain kita di sini?hari ini kamu kenapa jadi edan begini?" kesal Ayana yang sudah tidak kuat meladeni Gio.
"Biasa aja,emang apa yang aneh?" sahut Gio sembari merapikan buku pelajaran ke dalam laci meja.
"Oh lagi jatuh cinta ya sama anak anak pabrik makanya cuek ke istri dan cari gara-gara terus?." tuduh Ayana.
Tak di sangka Gio menganggukan kepalanya." Iya in aja biar ribut."
Bantal sofa melayang ke tubuh Gio.lelaki itu dengan santai mengambilnya lalu memeluk bantal itu." Enak bener ngomongnya ya" kesal Ayana.
"Terus aku harus apa,yang?ngomong salah gak ngomong salah.kamu mah bikin puyeng tau"
"Ck,istri aja bikin puyeng apa lagi palakor." balas Gio yang membuat Ayana menatapnya dengan tatapan membunuh." Terus itu Kaka sama ibu mau kesini?."
"Iya,kenapa?biar di sini ngawasin kamu yang udah mulai melenceng." Gio mengerutkan dahinya mendengar kata melenceng,memangnya dia ini melakukan apa sih sampai di katakan melenceng segala.perasaan Gio masih di jalan yang benar tidak melakukan apa pun.dan ia pun menjalankan kewajiban sebagai seorang suami,ayah dan anak.lalu di mana melencengnya coba hah.
"Aku masih muslim kok,yang.masih menjalankan kewajiban sebagai umatnya aku juga menjalankan kewajiban aku sebagai seorang suami dan ayah,juga anak dari bu Mira.di mana melencengnya coba?" tanya Gio dengan heran.
"Udah lah,capek ngomong sama kamu" Ayana meninggalkan Gio yang masih menantikan jawabannya.rupanya suami Ayana itu sudah mulai gila.
Tak ingin masalah sepele menjadi besar lalu Gio menyusul istrinya.ia berhasil mencegat tangan Ayana yang hendak membuka pintu kamar." Kamu kenapa sih?kok jadi marah-marah kaya gini?maunya apa coba? bilang"
Ayana memandang Gio begitu dalam sebelum ia memutuskan membuang pandangannya,Ayana tidak kuat berlama-lama menatap mata Gio yang selalu bisa membuatnya jatuh dan kalah." Kamu kan tahu alasannya.aku gak suka kamu akrab dan dekat dengan perempuan lain.jangankan perempuan,dengan laki-laki pun aku gak suka,kecuali untuk urusan kerja dan jika itu temanmu,misal Andre dan Rehan."
"Aku lebih suka kamu yang dingin sama orang-orang.aku maunya kamu itu tegas kaya Papah.jadi tidak sembarangan orang mendekati kamu.kaya tadi kan dia bisa tanya ke orang lain sebenarnya gak perlu ke kamu.tapi karena dia suka sama kamu dan nyoba cari kesempatan buat deketin kamu.sebetulnya masalah kaya gitu tinggal tanya Pak Azis atau Pak Nardy juga bisa kok.dan kamu juga bisa bilang minta tolong sama mereka." jelas Ayana dengan raut kesal.
"Kamu maunya aku seperti itu?sementara aku di sini belajar dan harus berbagi ilmu dengan semua orang.kalau begitu caranya mana bisa aku memegang pekerjaan?aku bukan kamu yang seorang pemilik dan pemimpin.yang bisa kamu tolak atau alihkan orang yang akan bertanya sama kamu.aku di sini sebagai suami kamu tentu saja aku bisa dan harus berbagi ilmu dengan mereka.aku tidak bisa menolak dan mengalihkan orang yang akan bertanya sama aku ke orang lain.tolong pahami itu."
Gio menatap istrinya yang berwajah kesal dan marah itu.ia menatap Gio dengan tatapan tajam." Kamu itu egois ya Gi.kamu seakan ngebela dia dan berlindung di balik kata berbagi ilmu.padahal sebetulnya kamu emang seneng deket-deket sama mereka.halah,namanya lelaki sama aja."
Ayana semakin menatap Gio dengan tajam." Kamu ngelarang-larang aku dekat dengan Jerrian yang udah jelas-jelas kamu sendiri tahu kalau kami dekat hanya sebatas kerjaan aja.tapi kamu sendiri bebas nempel sana sini.kamu pikir aku gak tau kalau kamu sering sekali ngobrol sama anak-anak produksi.aku tahu kok kamu lagi mantau mana yang pantas untuk kamu jadikan teman di kala bosan."
"Udah lah capek ngomong sama kamu selalu gak mau kalah dan hanya mementingkan diri sendiri." Ayana keluar kamar dan menutuskan untuk tidur di kamar anaknya.malam ini ia butuh sendiri tanpa Gio.
Gio sengaja tidak mencegahnya memilih membiarkan Ayana mendinginkan hatinya yang sedang ruwet itu.ia paham mungkin Ayana sedang dalam keadaan mood yang kurang baik.karena Gio tahu istrinya itu gampang sekali marah dan emosi perempuan itu memang super moody berbeda sekali dengan ibu mertuanya yang super sabar.suami Ayana itu membuka pintu bagian belakang rumahnya yang terbuka.ia duduk di salah satu kursi tempat anak anaknya main.tidak lupa membawa serta rokok dan minuman kaleng.lelaki itu duduk menyandarkan dirinya di sandaran kursi.
"Tau gini mending bujangan sampe tua." gumam Gio sembari menempatkan satu batang rokok ke bibirnya.ia menjepit di antara bibir tebal itu lalu mematiknya dengan korek yang senantiasa berada di saku celananya.
__ADS_1
Asap rokok mengepul mengelilingi dirinya dengan diam Gio menikmati kepulan asap itu.sudah hampir satu jam Gio di sana entah sudah berapa batang rokok ia habiskan.matanya tak sengaja melihat hordeng kamar yang sedikit tersingkap kemudian kembali seperti semula.ia yakin Ayana tadi mengintipnya dari sana.Gio berdiri menepuki celana dan bajunya kawatir ada serbuk debu rokok yang menempel di pakaiannya.usai itu ia ke wastafel mencuci muka dan mulutnya setelah itu masuk ke kamar anakmya menyusul Ayana.
Gio melihat istrinya yang tengah meringkuk memeluk Jemia di kasur lantai.dengan sangat pelan Gio memindahkan putrinya ke kasur yang satunya lagi.lalu ia ikut bergabung memeluk istrinya dari belakang menghirup aroma yang selalu membuatnya candu itu.wangi tubuh alami Ayana yang selalu manis dan menenangkan.
"Gak bisa tidur kalau gak sambil meluk kamu." bisik Gio tepat di telinga Ayana namun ia tak mendapat jawaban Ayana seolah tengah pulas dengan tidurnya padahal Gio sendiri tahu bahwa istrinya itu tidak tidur.mana ada orang tidur tapi jantungnya bebeledagan begitu coba.
"Geser." ketus Ayana jujur saja ia suka sekali di peluk seperti ini tapi gengsi lebih mendominasi saat ini.
"Diem,biarin seperti ini sampe pagi." Ayana hanya bisa pasrah saat tubuhnya di peluk dengan erat oleh Gio.ia tak bisa berontak karena sejujurnya memang menginginkan hal ini sampai pagi.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Pagi ini Ayana sengaja belum berangkat ke kantor,karena ia menunggui ibu mertua dan kaka iparnya yang akan datang menginap.tak lama suara mobil di depan rumahnya terdengar oleh Ayana.dengan cepat perempuan itu keluar sembari menggendong putrinya.
"Ibu." sapa Ayana setelah Mira dan Billa turun dari taksi online.ia melihat Indri masih di dalam mobil mungkin sedang membayar ongkos.
Ibu mertua Ayana itu langsung tersenyum dengan hangat." Apa kabar sayang?ibu kangen banget sama kamu." Mira memeluk dan mencium kening dan pipi menantu kesayangannya.
Ayana mengangguk dengan senyum hangat pula." Sama Aya juga.ayo masuk Bu,Ka." ajaknya mempersilakan kaka dan ibu mertuanya itu masuk ke dalam.
"Gio kemana?udah berangkat ya pasti" tanya Indri seraya menurunkan tas besar yang berisi perlengkapan ia dan putrinya.
"Iya,ada kuliah pagi dia.ayo ibu sama kaka duduk dan makan nih masih anget." ujar Ayana mempersilakan mereka menyantap menu sederhana yang ia siapkan sederhana itu versi Ayana,bagi Mira dan Indri itu adalah sesuatu yang sangat mewah dan wah.
"Owalah.sombong itu anak sekarang mah wa kaka jarang di bales." ujar Indri membuat Ayana tertawa.mereka duduk di ruang tamu di sofa mewah yang rasanya begitu empuk semenjak mereka pindah kesini ini baru pertama kalinya keluarga Gio main dan menginap kesana.
"Ini apa Ka?" tanya Indri saat ia membuka kotak kue di lihat dari kardusnya saja ia tahu pasti ini kue mahal.
"Oh itu di kasih temennya Mamah.katanya dari belanda minggu lalu.cobain aja enak itu Ka.abis sama Gio aja itu katanya enak cocok untuk ngeteh." jawab Ayana seraya memanaskan kuah soto yang ia buat tadi pagi.usai menemani ibu mertua dan kaka iparnya makan.Ayana memutuskan untuk ke kantor sebentar karena banyak berkas yang harus ia tanda tangani,siang ia akan pulang sekalian mengajak kaka dan ibu Gio itu pergi belanja. rasanya ia butuh shopping karena akhir-akhir ini sering kali merasa mudah emosi.
...☘☘☘☘☘☘...
Sebelum pulang ke rumah Ayana mencoba menghubungi Gio tapi lelaki itu tidak menjawab panggilannya.dan itu semakin membuat Ayana tambah emosi.bagaimana tidak,semua pesan dan panggilannya tidak di jawab oleh Gio.
"Gapapa Gi,suka-suka kamu lah." rutuk Ayana lalu meraih tas dan jas kerjanya.ia memutuskan untuk segera pulang untuk melampiaskan kekesalannya ia akan shopping dengan uang pribadinya,karena masih menumpuk di atmnya dan sudah lama tidak terpakai.di sisi lain Gio mendudukan diri sembarangan seraya membuka botol air mineral dengan meneguknya habis.usai membantu para helper memasang cerobong asap terakhir di mesin yang mereka buat minggu ini.ia meraba kantung celananya melihat ponsel yang terdapat beberapa pesan dari istrinya.
Gio menghubungi Ayana beberapa kali tapi sepertinya istrinya itu balas dendam.sama sekali tidak di jawab padahal online sejak tadi,itu yang membuat Gio emosi." Bunda si Jemia kenapa sih?kaya bocah aja." kesal Gio seraya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku usai mengirim pesan kepada Indri.
Namun tak lama suara telepon dari Indri masuk" Iya Ka,kenapa?" tanya Gio.
"Emang kamu gak ketemu Aya di kantor?" Indri balik bertanya karena di dalam pesan Gio menanyakan keberadaan Ayana.
Kening Gio mengerut heran." Oh,tadi ketemu sih,mampir ke temennya dulu kali dia kan biasa gitu suka nongkrong sama temennya." sahut Gio di telepon.dan tak lama obrolan mereka berakhir karena Gio harus cepet membereskan pekerjaannya.
Di tempat lain Ayana dan Tante Regita-Ibu dari Jerrian.sedang duduk di kafe yang tidak jauh dari rumah Ayana.tadi sepulang kerja Ayana tak sengaja bertemu dengan ibu Jerrian.mereka bertegur sapa keduanya pernah bertemu dua kali secara tak sengaja.pada saat Regita berkunjung ke rumah Monica.
Mau tidak mau Ayana duduk di sini bersama ibunya Jerrian.tadi wanita yang seumuran dengan ibunya itu memintanya untuk duduk sebentar.katanya sudah lama tidak mengobrol.cih,memangnya mereka saling kenal apa.Ayana mendecih dalam hati.tak apa lah sekali ini saja meski ia tak suka pada wanita yang tetap cantik dan modis di usianya yang sudah tidak muda lagi itu.
"Tante kira kamu masih di rumah Mamah. taunya sudah pisah rumah.beberapa hari lalu tante kan maen ke Mamah kalau gak salah hari kamis lalu deh.lah kok rumah sepi Mbak bilang Ayana sudah lama pindah.Mamah juga bilang gitu.tadinya tante pengen lihat anak-anakmu." ujar tante regita.
Ayana mengulas senyum mendengar ibu Jerrian." Iya tan.maen aja ke rumah aku kapan-kapan Tan." tawar Ayana sebenarnya itu hanya tawar pasar.karena ia tidak terlalu menyukai banyak orang yang berkunjung ke rumahnya.
"Boleh deh.nanti tante mampir sama Jerri kalau itu anak gak sibuk,anak itu doyannya kelayapan aja.sampe lupa cari pasangan." Ibunya Jerrian itu terkekeh di akhir kalimatnya.
"Masih pengen bebas kali tan." sahut Ayana sekenanya.
"Iya mungkin.padahal dulu tante ada niat buat deketin kalian loh.eh kaliannya malah pada gak pulang-pulang,sekalinya Ayana pulang sudah keburu nikah duluan.dan tante sama mamah juga gak berkabar sudah lama.kalian juga pindah rumah kami gak tau alamatnya." jelas Tante Regita sambil mengingat masa lalu dirinya dan keluarga Ayana.
__ADS_1
"Oh,aku udah lupa tan.malah gak tau pas ketemu jerrian dulu aku gak kenal juga dia siapa.pas Papah bilang kalau Jerrian itu anak temen Papah aku baru ngeh.lagi pula kami juga gak deket sih jadi wajar kalau saling lupa dan pada gak kenal." balas Ayana membuat tante Regita sedikit tersinggung.
Benar memang,keluarga mereka tidak terlalu dekat sejak dulu.ayahnya Jerrian hanya sebatas teman sekolah Frans sewaktu SMA.dan pada saat dulu juga mereka tidak begitu dekat.hanya saja akhir-akhir ini Frans banyak membantu ayah Jerrian karena perusahaan lelaki itu terancam mengalami kebangkrutan. beberapa waktu lalu ayah Jerrian meminta bantuan kepada Frans.karena itu pula Frans membantu mereka dengan menempatkan Jerrian di perusahaannya tidak lebih dari itu.namun ibunya Jerrian ini seolah menganggap itu hal yang bisa membuatnya lebih dekat dengan Ayana dan Monica.sebenarnya sah-sah saja jika tujuannya hanya untuk mempererat tali silaturahmi sebagai sesama rekan bisnis sekaligus teman.namun tidak untuk hal yang lebih dari itu,pikir Ayana dan kedua orang tuanya.