Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
56


__ADS_3

Gio berjalan mengekori Frans ke dalam ruangan mertuanya itu,sepanjang langkah dirinya terus merutuk ketakutan dan panik Gio menebak-nebak kira kira ada apa dengan mertuanya ini.memang bukan kali ini saja Gio di panggil ke ruangan Frans tapi kali ini rasanya berbeda pikir Gio.


"Aduh.gawat ini moga-moga gue gak di pecat dari jabatan menantu nih." batin Gio dan pikiran-pikiran lain pun terus berdatangan di kepalanya.bahkan kalimat yang akan di lontarkan Frans kepadanya sudah berseliweran di kepala Gio.so udzon aja Gi.


Frans duduk di kursinya lalu menyuruh Gio juga duduk." Kamu ketemu Leo tadi?." tanya Frans langsung saja ke intinya membuat Gio menegang seketika.


"Iya Pah.tadi ketemu gak sengaja." Jawab Gio jujur dirinya sudah panas dingin takut di tanyai macam-macam.dirinya menyesal kenapa tadi malah meladeni pria sialan itu.


"Apa yang dia omongin?" tanya Frans lagi membuat Gio mengerjap kali ini.waduh gawat pikirnya bagaimana kalau mertuanya ini tahu bahwa tadi Gio terlibat perkelahian dengan pria sialan bernama Leonardo.


"A_anu Pah.dia cuma nanyain Ayana katanya gimana keadaan Aya sekarang. aku bilang baik baik aja dan sehat." jelas Gio ragu karena dirinya berbohong. bukannya Gio tidak ingin jujur hanya saja pikirnya untuk apa mengatakan bahwa dirinya terlibat perkelahian dengan mantan Ayana itu.


"Benar cuma itu aja?lalu kenapa dengan wajah kamu itu?" selidik Frans sembari menatap Gio.tentu saja pria muda itu langsung kelabakan.Gio mengusap tengkuknya.


"Ah..ini_"


"Jangan dekat-dekat dengan dia,Papah gak suka pria itu,dia bukan orang baik dan bisa membahayakan semua orang.tolong lindungi dan jauhkan Ayana darinya,Papah tidak ingin dia merusak kehidupan kalian." ujar Frans membuat Gio bergeming.


"Padahal Papah udah peringati dia untuk tidak muncul lagi di hadapan Papah.tapi sepertinya hanya di anggap angin lalu olehnya." Frans berdiri dari kursinya lalu memandang ke bawah jalanan yang padat akan kendaraan yang hilir mudik,biasalah namanya juga negeri konoha pasti kendaraan bejibun di jalan." Kalian kelahi tadi?." tanya Frans lagi lalu menoleh pada Gio yang masih diam bingung ingin menjawab apa.


"Iya Pah.maaf,tadi kami salah paham." aku Gio akhirnya karena dirinya tidak ingin berbohong lagi,Gio yakin Frans mungkin saja sudah mengetahuinya.apa sih yang tidak di ketahui laki-laki tua ini pikir Gio.


"Dia memang pandai mencari masalah.dan Papah minta kamu jangan terpancing sama dia.Leo itu sengaja supaya kamu termakan dengan semua ucapannya.lebih baik hindari orang seperti itu karena hanya akan merugikan kamu dan Ayana kedepannya." ucap Frans dengan suara tegas dan wajah datar tentu saja.


Gio mengangguk dengan patuh tentu dirinya merasa malu." Iya Pah.maaf udah buat Papah kurang nyaman dengan masalah aku dan Leo tadi.aku janji Julliankedepannya akan lebih berhati-hati lagi sama dia." ujar Gio membuat Frans mengangguk tenang.


"Ya sudah pulang sana.istrimu lagi sakit kan?lebih baik urus aja Ayana dulu,soal kerjaan biar nanti aja." suruh Frans dengan suara yang kembali tenang tidak seperti tadi membuat aliran darah Gio tersumbat sementara.


"Ya sudah kalau gitu Pah.aku pulang duluan ya." Pamit Gio dengan sopan yang di angguki oleh Frans lalu Gio keluar dari ruangan ayah mertuanya itu dan berpapasan dengan Surya.pria tua itu dengan cepat mengajak Gio ke ruangannya ada yang ingin di bicarakan katanya.


Gio di buat tak tenang saat ini." Mas Gio tadi ribut kenapa sama mas Leo?" tanya Surya setelah mengunci pintu ruangan membuat Gio menegang.


"Loh Pak Surya tahu dari mana?" tanyanya dengan panik.


"Dari Tuan,tadi setelah makan siang dia kembali keruangannya dan menyaksikan mas Gio dan mas Leo berantem gak jauh dari area parkir.kan?" jelas Surya dengan jelas tentu saja Gio di buat panik saat ini bagaimana bisa ayah mertuanya mengetahui dan sudah melihat semuanya pikir Gio.betapa bodohnya Gio tidak berpikir kesana.tadi hanya di butakan oleh emosi tanpa memikirkan konsekuensi kedepannya sebagai menantu dari Frans Adelard.


"Pak.sebelumnya saya minta maaf.tadi saya dan Leo sempat salah paham dan jujur aja saya tadi tersulut emosi lalu terjadilah hal yang gak di inginkan.saya sangat menyesal karena gak bisa menjaga perilaku saya di kantor ini.tolong maafkan saya Pak." Gio bersungguh-sungguh.


Surya menganggukan kepalanya." Mas Gio gak perlu minta maaf ke saya,mas cukup minta maaf ke Tuan aja dan akui kesalahan mas Gio.saya minta tolong banget mohon jangan di ulangi lagi ya Mas.karena akan merusak citra perusahaan dan nama baik Tuan akan tercoreng."


"Apa lagi nona Ayana kan sudah di angkat menjadi ceo.lalu bagaimana nanti jika berita buruk menyebar dan tanggapan orang-orang juga karyawan,mengenai masalah mas Gio menantu pemilik perusahaan terlibat perkelahian apa lagi di area kantor seperti tadi.mereka akan beranggapan bahwa mas Gio bukan orang yang tepat untuk nona Ayana memangnya mas Gio mau di cap buruk oleh orang-orang?dan yang menanggung malu tentu Tuan dan nona Ayana." ujar Surya mengingatkan agar kedepannya Gio tidak teledor dan tidak mengulangi hal seperti ini lagi.


Gio menunduk dengan wajah malu dan luar biasa menyesal." Baik Pak.saya lebih baik ke ruangan Papah sekarang saya gak mau masalah di tunda-tunda." Gio berdiri hendak ke ruangan Frans meminta maaf dan mengakui segalanya.


"Silakan mas.saya salut mas Gio mau mengakui dan meminta maaf atas kesalahan mas.Tuan pasti memaafkan dan bangga memiliki menantu yang bertanggung jawab seperti mas Gio." ucap Surya yang di balas senyum hangat dari Gio.dengan perasaan kacau dan takut Gio mengetuk pintu ruangan ayah mertuanya dan tak lama ada sahutan dari dalam membuat lutut Gio gemetar,bagaimana jika ia tidak mendapatkan maaf dari ayah istrinya itu.


"Pah?." sapa Gio setelah menutup pintu ruangan wajah Gio saat ini sekaku kanebo kering.


Frans menatapnya dengan heran." Loh bukannya tadi mau pulang?kenapa,Gi?." tanya Frans keheranan.Gio berdehem sebentar kemudian duduk dengan wajah tertunduk merasa bersalah dan malu kepada mertuanya ini.bagaimana bisa dirinya sangat ceroboh membuat masalah seperti tadi.


"Pah.sebelumnya aku minta maaf atas kesalahan yang tadi aku lakukan.aku janji Pah gak akan mengulangi lagi.dan maaf udah buat Papah malu dengan perilaku aku yang kurang baik.aku menyesal Pah sudah melakukan kesalahan seperti tadi aku minta maaf karena udah buat Papah dan Ayana malu akan hal ini." ucap Gio dengan bersungguh-sungguh dengan wajah penuh penyesalan.


Frans tersenyum hangat kepada menantunya itu.wajah yang tadi sempat datar itu berganti hangat kembali." Iya. Papah udah maafkan.dan tolong jangan di ulangi lagi.ya udah kamu pulang aja sana Ayana udah ribut telepon Papah tuh nanyain kapan kamu pulang." ujar Frans sembari memijat pelipisnya.


"Seandainya hidup tidak butuh makan mending kamu gak usah kerja,Gi.keloni Ayana aja seharian biar dia gak musingin Papah terus.Wa,telpon segala macam hape Papah bunyi terus ini." Frans memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan pesan chat dari Ayana menanyakan kapan suaminya itu akan pulang.


Gio mengulum senyum malu dan senang karena Frans memaafkannya.malu karena ucapan mertuanya itu mengenai istrinya." Iya Pah.terima kasih udah memaafkan kesalahan aku.kalau begitu Gio pulang sekarang ya Pah," pamit Gio kemudian berdiri setelah mendapat anggukan dari Frans.


"Belikan donat jeku aja,Gi.katanya dia mau itu.dan pastikan yang isi kacang sama greentea semua." ujar Frans saat Gio akan membuka pintu.


"Siap Pah.makasih udah ngingetin." sahut Gio karena ia sudah tahu tadi sempat melihat chat dari Ayana.kemudian lelaki itu segera menuju mobil dan tergesa ke toko kue untuk membeli pesanan sang istri.

__ADS_1


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Sementara tadi siang,Ayana termenung di kamarnya sembari memandangi benda pipih yang berada di tangannya.benda itu menujukan dua garis merah yang masih samar.Ayana tadi mencoba mengetes benda itu karena penasaran dengan dirinya dan sekarang Ayana menyesal karena sudah penasaran yang berujung membuatnya bingung saat ini.


"Gimana ini?Jemia masih kecil dan full asi. terus gimana dengan Gio dia pasti ngomel nanti.terus kalau dia gak menerima ini Gimana dong?duh." gumam Ayana dengan wajah frustasi.


"Pantesan beberapa hari ini gak enak badan terus.dan pengen yang aneh-aneh tahunya ngisi." Ayana mengelus perutnya yang masih rata itu.karena dirinya langsing jadi setelah melahirkan Jemia perutnya kembali rata seperti semula.itu yang membuat Gio selalu bangga kalau body istrinya ini seperti gadis yang begitu indah dan menakjubkan.tidak di temukan lemak di pinggiran perut mulus itu,bahkan strechmark dan gelambir juga sepertinya enggan timbul di tubuh Ayana mereka sudah minder duluan.


"Sehat-sehat ya, Nak.semoga Papah senang dengan hadirnya kamu." ucap Ayana lalu keluar kamar ingin menemui Jemia.mobil Gio memasuki garasi dan pria muda itu terlihat keluar sembari menenteng dua dus donat pesanan istrinya.saat melewati tangga dirinya menemukan Jemia yang sedang melambai di gendongan suster Risma karena melihatnya mendekat.


"Aduh anak Ayah udah bisa dadah nih ya, bentar ya ayah cuci tangan dulu sayang." Gio meletakan dus donat itu lalu menggendong anaknya karena sudah akan menangis mengira Gio tidak ingin menggendongnya.Jemia memang selengket itu kepada Gio di banding Ibunya.


"Bunda mana,Hmm?" tanya Gio kepada Jemia sembari menimangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.balita itu begitu girang memperlihatkan senyum manisnya yang menjadi candu bagi Gio.


"Di kamar tadi mah Mas.lagi mandi kayanya." sahut susternya Mia.


"Oh iya." balas Gio lalu membawa Mia sebentar untuk melihat-lihat aquarium yang lampunya sudah menyala dengan indah.setelah beberapa menit Gio membawa putrinya naik ke kamar untuk melihat istrinya sedang apa.


"Gi?" sambut Ayana sembari berdiri dari meja rias usai merias diri di cermin.Ayana begitu wangi dan cantik saat ini,tumben pikir Gio dan langsung saja hidung bangirnya itu ingin mengendus tubuh sang istri.


"Wangi banget,Yang.kayanya parfum baru nih." ujar Gio seraya mengecup pipi sang istri sampe pipi Ayana menyon.


"Ishh pelan-pelan dong." sungut Ayana merasakan hidung bangir Gio menusuk pipinya yang baru di poles bedak dan blush on berwarna peach itu.dan sekarang tersapu habis oleh hidung Gio.


"Abisnya kamu gumus banget sih.aku suka heran kamu kok secantik ini?kadang aku masih gak percaya bisa ngelonin anak Pak Frans." ucap Gio sambil terkekeh.


"Ck.kalau lo jelek juga gue gak bakal mau, coba aja lo dekil dan kumuh kek jamet gitu. idih gue mana mau." sahut Ayana membuat tawa Gio tambah kencang.pria itu menjemil hidung lancip Ayana.


"Berarti aku emang ganteng kan,yang? "godanya yang langsung mendapat cibiran dari Ayana lalu perempuan itu masuk ke kamar mandi.Gio hanya tergelak sembari mengecupi pipi kemerahan sang putri.tak lama Ayana kembali lalu duduk di samping Gio yang sedang mengajak putrinya bermain cilukba di atas kasur.


"Gi."panggil Ayana dengan ragu untuk mengatakannya.Gio menoleh kepada istrinya itu dan menunggu jawabannya.lalu Ayana memberikan benda pipih yang baru di ambilnya kepada Gio." Lihat coba."


"Apa nih?" tanya Gio kemudian sadar dan meneliti benda itu.di sana menunjukan garis dua yang berarti istrinya ini positif lagi seperti dulu." Yang?" tanyanya lalu menatap wajah Ayana.


Gio tak segera menjawab dirinya meneliti benda itu bulak balik." Lo pasti gak seneng ya kalau gue hamil lagi?lo kan gak mau nambah anak lagi." lirih Ayana melihat Gio hanya diam dengan wajah datar.


"Bukan gitu,tapi aku gak mau ngelihat kamu kesakitan kaya dulu lagi.aku gak mau nyiksa kamu,apa lagi kemarin pas Mia lahir kamu sesakit itu,masa iya hamil lagi dan ngerasain kaya kemarin itu lagi?aduh aku ngebayanginya aja udah ngilu duluan." jawab Gio dengan jujur.


"Terus gimana dengan ini?udah terlanjur. udah jadi juga." ujar Ayana sembari menatapi Gio takut-takut jika lelaki itu tidak menerima kehamilannya kali ini.


"Ya apa lagi,yang?" Gio memberikan mainan kepada Mia agar putrinya anteng dan ia bisa leluasa ngobrol dengan Ayana.


"Apa lagi coba?selain harus menerima dengan senang anak kita ini.memangnya mau apa?yang jelas harus menerimanya jangan di buang dih amit-amit atuh yang. kita harus bersukur kembali di titipkan kepercayaan lagi sama tuhan." sahut Gio begitu serius." Itu artinya allah percaya sama kita,karena sudah dua kali ini di kasih titipan lagi."


"Iya,tapi kamu kok kaya gak senang gitu? gak seperti pas hamil Mia kamu bahagia banget waktu itu sampe girang." ujar Ayana pelan.


"Aku bukannya gak senang,sayang.cuma kasihan sama kamu,Mia masih kecil dan masih full asi,dan kayanya luka di perut kamu aja belum pulih eh udah hamil lagi. aku takutnya pas kamu ngeden gitu yang keluar usus kamu dan isi lambung gimana coba?." ucap Gio dengan serius membuat Ayana mendekus.


"Pikirannya,Gi." dengus Ayana seraya mendelik." Melahirkan itu seru kok,Gi.gak seseram yang kamu lihat loh,iya emang sakit,tapi pas bayi udah keluar rasanya tuh lebih plong dan bikin aku ketagihan."


"Yang.." tegur Gio.


"Kenapa?emang iya kok kamu aja yang lebay." balas Ayana." Orang cuma ngeden aja terus bayi keluar udah deh selesai." ucapnya dengan enteng.


Gio menggelengkan kepalanya tak mengerti pada Ayana,bagaimana bisa melahirkan itu seru katanya.bahkan Gio masih ingat saat itu dirinya ikut ngeden dan menahan napas karena latah melihat Ayana yang sedang berusaha sekuat tenaga mengelurkan putri mereka.Gio masih ingat dengan jelas saat itu seluruh urat-urat yang ada pada tubuh Ayana seperti akan putus satu-persatu karena begitu menjol dengan jelas menggambarkan betapa kuat dan sakit usaha sang istri mengeluarkan buah hati mereka.


"Kamu jangan banyak pikiran,dan gak usah kecapean takut kandungan kamu kenapa-napa lagi.fokus aja sama kehamilan kamu saat ini.dan perhatikan juga Mia takutnya dia lebih lengket ke ncusnya." ujar Gio membuat Ayana langsung mengangguk.


"Iya udah pasti itu mah.aku usahain tetep fokus ke Jemia.aku gak mau dia lebih dekat ke susternya dari pada ke aku." sahut Ayana.Gio mengangguk lalu mengecupi Jemia yang sedang merangkak ingin turun dari ranjang.


"Jadi kamu udah nerima kehamilan aku yang ini kan?." tanya Ayana memastikan saja siapa tahu Gio hanya pura-pura menerimanya padahal terpaksa.

__ADS_1


Gio menoleh dengan cepat." Kamu ngomong apa sih?ya jelas dong aku menerima anaku.masa iya anak sendiri gak di terima?toh itu juga kan perbuatan aku." sahut Gio dengan heran.


"Iya abisnya kamu jarang pake pengaman sih apa lagi kalau aku lagi subur.maen gas aja.kan jadi akhirnya." ujar Ayana.Gio hanya menyengir lalu mencium bibir Ayana sebelum membawa putrinya bermain di kamar sebelah.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Saat makan malam ke empat orang dewasa itu begitu menikmati menu masakan Bi Narti yang khas akan bumbu Ayana makan dengan diam tidak seperti biasanya yang kadang rewel meminta Bi Narti membuatkan atau mengambilkan apa saja karena dirinya malas gerak.diamnya Ayana ini membuat Monica heran.


"Kamu kenapa,Dek?kok muram gitu mukanya." tanya Monica.Ayana dan Gio menoleh kepadanya.


"Enggak tuh.mana ada wajahku muram sih Mah." sahut Ayana sembari mengunyah makanan namun ogah-ogahan karena rasanya mendadak aneh,perasaan tadi enak-enak saja pikirnya.


"Bi,ini di pakein ketumbar ya?" tanya Ayana kepada Bi Narti


"Enggak atuh non,kan itu sayur bayam gak pake ketumbar atuh." jawab Bi Narti.


"Kok kaya ada bau ketumbar dan jahe gini." ujar Ayana sembari melepeh makanan itu ke tisu mulutnya mendadak langur.


"Kamu kenapa?jangan bilang kamu_"


"Iya Mah,Aya ngisi lagi." sahut Gio dengan cepat dan mulu-malu membuat Frans dan Monica melotot apa lagi Bi Narti.


Orang tua Ayana itu menatapi putrinya dengan penuh pertanyaan." Kok bisa sih Dek?Jemia masih kecil banget loh dan masih Asi kan?terus kamu udah hamil lagi gimana nanti dengan Mia?" tanya Monica mertua Gio itu sampai meletakan sendok dan garpu.


"Ya gimana Mah,orang udah jadi gimana lagi." sahut Ayana dengan santai.


"Emang kamu gak KB?kok bisa kebobolan gini?." tekan Monica dengan wajah galak.


Ayana menggeleng sembari mengupas jeruk dengan ekpresi santai." KB sebulan doang males aku.terus kami KB kalender. eh Gio suka kelupaan pake pengaman kalau aku masa subur.jadi deh adiknya Mia." jawabnya membuat Gio menunduk malu hampir saja wajahnya itu menyentuh meja makan.


Monica menggelengkan kepalanya tak percaya." Kok bisa cerboh banget sih kalian ini?Mia masih kecil loh duduk aja belum masa udah punya adek?lalu gimana nanti?kamu pasti kerepotan ngurusin anak yang masih bayi,apa lagi ngurus anak dalam keadaan hamil itu gak mudah,Aya" ucap Monica di susul napas lelah.


"Kan ada suster Mah.ada Gio juga jadi tenang aja lah." sahut Ayana.


"Emangnya Gio pasti dua puluh empat jam di rumah?dia kan kerja dan kuliah Aya. udah sukur Gio masih bisa bagi waktu dengan kalian.Mamah itu mikirinnya kamu kedepannya.takutnya kamu gak kuat dengan dua anak yang masih kecil-kecil apa lagi kalau anaknya aktif bisa gempor kamu." omel Monica membuat Ayana mencebikan bibirnya.


"Kamu kira gampang ngurus dua anak yang umurnya beda dikit doang?kok gak mikirin kedepannya sih kalian ini?." lanjut Monica lalu menatap Gio yang sejak tadi hanya diam." Kamu juga,Gio." ucap Monica membuat Gio menegang dengan cepat mengangkat wajah.


"Harusnya kamu tahu dong bagaimana repotnya nanti kalian,kok bisa gak pake pengaman sih?jangan mikir enaknya saja, Gi.tapi pikirin repotnya juga dong.kamu kan kuliah masih panjang dan gak mungkin di rumah terus bantu Ayana." semprot Monica dengan tegas.membuat Gio menciut takut.


"Mamah repot amat sih.yang hamil aku kok yang sibuk Mamah?aku dan Gio juga santai-santai aja kok.Mamah ribut sendiri. lagian mau anak kami sepuluh juga gak masalah suster banyak tinggal sewa aja gitu aja repot" cetus Ayana dengan kesal.


"Kamu pikir semua bisa di serahkan ke suster?mengurus dan menjaga anak itu tugas kalian sebagai orang tua.apa lagi mendidiknya,bukan tugas suster.tugas suster itu hanya membantu untuk meringankan beban kalian." ucap Monica membuat kepala Frans pusing.


"Dulu sok-sokan gak mau pake suster. sekarang bilangnya gampang banget tinggal sewa suster aja.hadeh Dek.kamu itu udah keenakan nyerahin Mia ke suster makanya bilang gitu.sekarang aja kamu udah lumayan males urus Mia,gimana kalau adiknya lahir?bisa-bisa di telantarin kalau suaminya kerja." sambung Monica.


Wajah Ayana tambah menekuk dan bibir cantiknya semakin maju." Siapa yang bilang aku keenakan nyerahin Mia?enak aja.aku yang lebih banyak sama dia kok suster cuma bantu pegang sesekali aja." sahutnya dengan ketus.


Baru Monica akan menyahut keburu di sela oleh Frans." Sudah-sudah.kalian ini malah ribut di meja makan.kamu juga Mah?kenapa ribut sekali bukankah harusnya bahagia menyambut cucu kedua kita.kamu malah ribut sendiri." ujar Frans dengan heran.


"Tahu tuh Pah.si Mamah rempong banget." timpal Ayana.


"Kamu gak usah dengerin Mamah,Dek. udah fokus saja sama kandungan kamu. ibu hamil harus bahagia kan,jangan banyak pikiran Mamah lagi datang bulan kayanya." ucap Frans sembari terkekeh.


Monica mendekus." Mamah udah enggak datang bulan ada-ada aja Papah ini." sahut ibu mertua Gio itu." Dan siapa juga yang gak senang cucuku tambah lagi." lanjutnya pelan langsung mendapat gelak tawa dari Frans dan Bi Narti.namun Ayana masih masam sedikit kesal kepada ibunya itu.


Gio yang paham akan perasaan istrinya pun angkat suara setelah lama terdiam." Yang,mau jalan-jalan gak?." tawarnya membuat wajah Ayana langsung cerah.


"Mau.ayo kita ke XX aja Yuk." ajak Ayana lalu berdiri dan menggandeng tangan Gio untuk ke atas.setelah Gio pamit kepada kedua mertuanya itu.


"Mia jangan di bawa ya." ujar Monica membuat Frans terkekeh.

__ADS_1


"Tadi ngomel gak boleh hamil lagi. sekarang Mia aja udah di kuasai terus." rutuk Ayana sembari menaiki tangga.


"Ternyata Mamah serem juga ya kalau lagi ngomel." sahut Gio membuat Ayana terbahak.


__ADS_2