
Gio duduk bersandar ke tiang di teras rumah Rehan,ia menyesap rokonya sambil memandangi langit sore yang terlihat begitu indah sore ini.ia tidak sadar ketika Rehan telah kembali dari dapur membawa sepiring pisang goreng yang masih hangat dan dua gelas kopi susu untuk menemani mereka ngobrol.
"Kayanya masalah lo lebih rumit dari pada masalah gue ya Gi" Gio hanya melirik kala Rehan ikut mengambil bungkus rokonya lelaki itu diam saja tidak membalas malah sibuk menyesap roko yang sudah menjadi candunya itu.
"Gue kira orang berduit kaya lo ga akan punya masalah,kecuali gue yang melarat ini masalah datang mulu,antri," Rehan tertawa di akhir kalimatnya.Gio hanya tersenyum tipis kadang lucu juga memang kalau sudah mendengar celetukan dari mulut si Rehan ini.
"Lo kenapa sih diem bae?bete ga dapat jatah apa gimana?" gatal sudah mulut Rehan kalau tidak bertanya pada sahabatnya yang mendadak bisu itu.
Sebelum menjawab Gio menyesap rokonya terlebih dulu,kemudian menjilat bibirnya yang penuh dan tebal itu." Ga ada apa-apa,cuma pusing aja antara kuliah sama kerjaan,pabeulit" jawab Gio akhirnya yang mendapat cibiran dari Rehan.
"Bukan karena Manda mau kawin,kan?" tuduh Rehan sambil menatap Gio.yang di tatap malah mendekus sembari mengambil gelas kopi meniup kemudian menyesapnya.
"Gak lah,ngapain gue mikirin itu,udah bukan ranah gue lagi." jawab Gio santai.
Rehan mengangguk dengan bibir penuh cibiran.ia mengambil pisang goreng yang masih panas tersebut." Hihang hoengnya hanas hanget,anying,hah hahhhh" Gio mendelik sembari menahan tawa pria oon di dapannya memang bodohnya kelewatan." Melepuh mulut gue sat," Rehan segera meminum kopinya yang panas dan itu menambah rasa terbakar di lidahnya." Bu,ini pisang di gorengnya di api neraka apa gimana Bu?panas banget" omelnya kepada sang ibu.
"Gundulmu,otak di pake Rehan." sungut ibu Rehan dari ruang tengah membuat Gio tertawa.ibu dan anak itu memang tidak pernah akur tak heran mereka selalu saja adu mekanik.Rehan hanya mencibir ibunya tak berani melawan ucapan wanita yang sudah melahirkannya itu.ia sadar bahwa kepiawaian sang ibu dalam bersilat lidah sungguh tak tertandingi,lebih baik mengalah dari pada jatah lauk di kurangin.
"Gue kaget sumpah.tiba-tiba denger Manda mau kawin sama Raka.heran aja gitu tiba-tiba mereka langsung tunangan dan foto prewed,ta'aruf kali ya?" ujar Rehan mengungkapkan keheranannya." Eh,bukan ta'aruf namanya kan udah kenal," dia yang bicara dia pula yang jawab.
"Kan umi sama abinya emang dari dulu pengennya Raka.ga heran sih mereka sat set banget buat nyiapin pernikahan,tapi bagus sih akhirnya gue lega ga kawatir lagi." balas Gio santai akhirnya ia menanggapi.
"Emang lo selama ini kawatir sama Manda?" tanya Rehan penuh selidik." Gila lo udah ada anak istri masih kawatir sama cewek lain"
Gio dengan cepat menggeleng." Bukan kawatir yang gimana-gimana,Han.tapi yang gue kawatirin itu Manda ga mau kawin dan masih nunggu gue,meski itu bukan urusan gue sih dia mau kawin apa nggak.tapi kan sebagai orang yang udah buat dia kaya gitu gue tetep ngerasa bersalah dan kawatir ada apa-apa sama dia.lo ngerti gak sih Han maksud gue?gue udah gak ada rasa sama dia cuma kasihan aja ngelihatnya kalau ternyata dia sekacau itu,gue pikir dia akan benci sama gue dan cepet-cepet buat cari ganti,taunya sampe saat ini dia masih kukuh nunggu gue bahkan tadi aja dia bilang gak mau lanjutin pernikahannya maunya nunggu gue. ngedenger kaya gitu gue sebagai orang pertama yang udah nyebabin dia begitu kan ngerasa bersalah." aku Gio dengan jujur.
Rehan mengangguk paham ia juga tau mungkin memang Gio merasa bersalah pada mantan kekasihnya itu." Iya gue ngerti.tapi harusnya Manda juga mikir dong kalau emang udah begitu jalannya ya udah terima aja,mencintai gak harus memiliki dan memaksakan kan?kalau kata gue mah lebih baik dia nyari ganti dan cepat-cepat move on.lah dasarnya cewek malah oon sampe 3 tahun dia nungguin lo yang udah jelas udah rumah tangga dan beranak pinak." tandasnya sambil menghela napas.
Gio mengangguk mengiyakan." Tapi sekarang gue beneran lega sih,itu artinya gue udah bener-bener gak perlu kawatir lagi,jujur karena Amanda belum nikah gue selalu di buat takut dia bakal gimana-gimana atau malah ngebuat rumah tangga gue keganggu.terdengar jahat emang gue ini,tapi gimana lagi.gue udah terlanjur cinta sama istri dan gue udah memutuskan akan selamanya sama dia.apa lagi kami udah ada anak.rasanya gak mungkin kalau gue pisah dan ninggalin istri,itu gila banget." Rehan tidak menyela ia menjadi pendengar setia sambil mengunyah pisang goreng yang sudah hangat itu.
"Dulu saat gue mutusin buat ngambil langkah ini,gue udah pikirin mateng-mateng sampe gak bisa tidur dan frustasi banget karena kan ibu juga kambuh waktu itu,meski pada awalnya emang gue kepaksa,tapi setelah gue pikir-pikir pilihan gue udah tepat dari pada tetep maksain buat terus sama Manda.lo tau haji Nur gak pernah suka sama gue?dia cuma pura-pura nerima gue agar semua orang di kampung sini percaya kalau dia seorang yang rendah hati karena mau nerima gue yang miskin ini untuk jadi menantunya.selama dua tahun lebih sama Amanda gue selalu mikirin gimana kedepannya,jujur walau pun gue bahagia pada saat bersama Amanda,tapi gue juga kesiksa dan merasa harga diri gue terus di injak-injak.gue selalu menelan sindiran yang di balut dengan pujian,gue selalu nahan diri dan nerima ketika di bandingkan dengan iparnya Manda."
Rehan terus mengangguk sembari menyesap rokonya,ia memang tahu seperti apa hubungan Gio dengan Amanda meski terlihat bahagia tapi Rehan juga tahu kalau Gio sebetulnya memang tertekan oleh keluarganya Amanda.
"Lo juga tau kan malunya gue dan keluarga kaya apa ketika haji Nur koar-koar kalau pernikahan kami akan di gelar semegah mungkin?semua orang pada ngomongin gue dong dan mempertanyakan dari mana modalnya karena mereka tau gue gak punya apa-apa bahkan pensiunan ayah gue aja udah di cabut.dan di situ dengan bangganya haji Nur bilang kalau semua itu dari keluarganya gue cuma terima beres. saat itu harga diri gue bener-bener udah gak ada,Han."
Sebelum melanjutkan ceritanya lagi Gio menyesap dulu kopinya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering kemudian ia meletakan lagi gelas kopinya yang tinggal setengah itu." Jujur,gue emang bahagia sama Amanda tapi gue juga capek,makanya pas dapet tawaran konyol itu gue mutusin buat nerima.saat itu gue gak peduli kedepannya gimana yang penting ibu sehat kembali dan gue juga berusaha buat ngambil hati istri gue,susah sih emang bahkan gue rasanya pengen mundur aja,tapi tanggung dan akhirnya berhasil,lihat anak gue udah tiga."
Gio terkekeh di akhir kalimatnya begitu juga dengan Rehan,keduanya sama-sama tersenyum,Rehan senang karena Gio sudah mendapat kebahagiaannya."Jalan idup lo gak ketebak anjir,rejeki lo bagus banyak-banyak bersukur Sat.udah ga usah mikirin yang udah berlalu."
"Iya lah udah pasti,gue udah gak mikirin apa-apa lagi,tinggal gimana caranya dan berusaha jadi kepala rumah tangga yang bener,pengen nyontoh bapak gue tapi kok susah ya." ucapnya membuat Rehan tegelak dan mencibirnya.
"Pak Agus itu nyeremin dan penuh wibawa tapi tetap lembut.lah lo,kaya banteng seradak seruduk gak jelas.gak ada mirip-miripnya sifatnya juga kagak nurun herman gue" seloroh Rehan mengejek membuat Gio mendekus.
"Tai,dahlah,gue mau balik,lo butuh berapa?di bilangin mending ikut gue aja kerja malah kaga mau pan" tanya Gio,ia harus segera pulang karena hari sudah semakin sore.
"Bukan gak mau Gi,tapi kerjaan gue masih oke dan gue nyaman di sana,meski gajinya ngaret banget dan di cicil." balas Rehan jujur ia pun sebetulnya ingin ikut dengan Gio tapi berat meninggalkann pekerjaannya.biar pun irit gaji tapi setidaknya ia sudah banyak di bantu oleh pekerjaannya itu.
"Ya udah nanti gue tf,gue mau ngomong dulu sama istri," Tandas Gio setelah itu ia berdiri dan berpamitan pada ibu Rehan.
...☘☘☘☘☘☘...
Ayana sibuk dengan anaknya ia membantu suster untuk menyuapi putrinya yang sedang aktif lari sana sini.dengan telaten Ayana memberi anaknya makan sampai ludes semua dan itu membuat moodnya bagus.bahagianya seorang ibu itu memang mudah dan sederhana,cukup menyuapi anak dan makanannya habis begitu saja sudah cukup membuat ibu bahagia.
__ADS_1
"Aven sama Vindi pinter ya,teteh Jemi juga pinter emamnya abis semua." puji Ayana dengan bahagia.tidak sia-sia ia membuat sup ikan patin untuk ketiga anaknya itu.
"Mbak siapin baju ganti ya,habis ini kita jalan ke mall.beli mainan buat anak-anak kalian juga gak usah makan di rumah di mall aja nanti bareng saya." titah Ayana pada pelayan di rumah ibunya itu,mereka menurut dan segera bersiap karena mbak majikan mengajaknya pergi main.sembari jalan Ayana mencoba menghubungi Gio ingin tau di mana suaminya itu apakah memang belum selesai kerja atau sudah dalam perjalanan pulang.
"Kemana ini bapak-bapak satu?" tanya Ayana pada ponselnya membuat Monica yang duduk di sebelahnya itu menoleh ke samping.
"Gio kenapa Dek?"
"Nggak di angkat teleponnya,lagi nyetir kali." balas Ayana sembari melajukan kemudinya agar cepat sampai.
Di mall Ayana membiarkan putrinya bermain di temani susternya,ia mencoba melihat-lihat koleksi parfume terbaru keluaran merek ternama.Ayana dan ibunya memutuskan membeli dua botol masing-masing karena tergoda oleh salesman yang mengatakan bahwa parfume ini sangat cocok wanginya dengan Ayana yang feminim sekali.
"Lihat dek,ini kaos bagus loh cocok sama Gio,beli gih" suruh Monica saat mereka berada di stand pakaian.padahal niat Ayana kesana ingin mencari kemben untuknya,tapi kenapa malah belok ke tempat pakaian pria coba.
"Ga usah lah Mah,baju Gio masih banyak yang belum kepake,itu orang kalau udah suka sama satu baju itu-itu aja yang di pake yang lain numpuk." tolak Ayana malas sekali rasanya jika harus belanja untuk Gio karena suaminya itu rajin dalam segala hal,buktinya pakaiannya saja awet sebelum warnanya benar-benar pudar Gio akan terus memakainya,tidak seperti Ayana setelah dua tiga kali pakai langsung buang,atau gak masuk gudang lalu menyuruh bi Juju untuk memberikan pada orang yang membutuhkan.
"Kalau nggak itu aja kaus tuh bagus,udah ambil aja biar Mamah yang bayar" kekeuh Monica,Ayana hanya mendelik heran pada ibunya itu kenapa malah Monica yang heboh coba,kan harusnya Ayana.Akhirnya Ayana menurut dan mulai memilih beberapa kaus yang sekiranya cocok untuk Gio.dan seperti biasa namanya juga perempuan jika sudah belanja tidak cukup satu atau dua baju saja,tapi akan memilih beberapa dan barang lain pun mulai di belinya.Ayana membelikan beberapa celana jeans,atasan kemeja,kaus santai dan beberapa pakaian dalam untuk Gio,ia juga membeli perlengkapan futsal untuk suami brondongnya itu.
"Banyak juga Mah," keluh Ayana saat ia melihat beberapa kantung belanjaan sudah memenuhi kedua tangannya.Monica hanya mencibir melihat anaknya yang kalap belanja itu,tidak sesuai ekpestasinya. tadinya ia mengira Ayana memang benar-benar tidak akan belanja tapi ternyata malah kalap juga hingga beberapa paperbag berukuran besar itu sudah penuh di kedua tangannya.
"Mamah panggil Ajun dulu biar dia ambil kesini,kamu gak usah kemana-mana langsung ke anak-anak aja" Ayana mengangguk sembari membuka permen dari dalam tasnya.perempuan itu duduk seraya memainkan ponselnya ia mencoba menghubungi Gio karena pesannya masih centang abu-abu.dering ke tiga Gio menjawab teleponnya.
"Mm?apa yang?" suara Gio terdengar di sana.
"Dimana?kok gak jawab wa aku?" tanya Ayana.
"Lagi nyetir jalan pulang,tadi abis dari rumah Rehan dia ada perlu.kamu dimana biar aku susulin?"
"Mall SS,kalau kamu udah mau sampe rumah gak usah nyusulin langsung pulang aja,aku sama Mamah kok" cegah Ayana kawatir Gio lelah.
"Ish,belum selesai ngomong maen tutup aja.dasar sableng." gerutu Ayana kesal karena teleponnya di putus begitu saja oleh Gio.
"Gio mau nyusul dek?" tanya Monica yang baru duduk di tangannya membawa beberapa cemilan yang ia beli di food court barusan sembari menunggu Ajun.
"Iya,ya udah kita cari makan yuk Mah laper." Ayana mengajak Monica mencari tempat makan yang ia inginkan,sepertinya makan nasi lemak boleh juga pikirnya.
...☘☘☘☘☘...
Gio melirik istrinya yang sejak tadi masih saja membaca buku di sampingnya mereka hendak tidur namun Gio tidak bisa tidur jika Ayana belum tidur.mana bisa ia tidur tanpa memeluk istrinya kecuali jika berpergian ke luar kota.rupanya Ayana ini tidak peka akan gelagat sang suami,atau memang sengaja membiarkan Gio sibuk sendiri.
"Yang,besok aku ke banten loh" ujar Gio membuat Ayana seketika mengalihkan pandang dari bukunya.
"Terus?"
Gio mencebik seketika." Ayo tidur,besok lagi aja baca bukunya,lagian gak bosen apa baca buku mulu?"
"Tidur aja duluan Gi,tinggal merem aja susah amat" Gio langsung mendengus.
"Gak pengen di peluk emang?ya udah kalau gitu aku tidur duluan aja" grutunya sembari membaringkan diri dan menutup tubuhnya dengan selimbut.
"Serah" sahut Ayana kembali fokus pada bacaannya.ia tertawa tanpa suara saat mendengar Gio misuh-misuh dalam selimbut.bukannya Ayana tidak peka hanya saja ia malas dan takut Gio minta jatah malam ini.pasalnya menurut hitungannya ia sedang masa subur. masalahnya Gio itu suka lupa diri dan Ayana tidak mau menambah anak karena si kembar masih sangat kecil ia takut tidak bisa membagi waktu dan kasih sayangnya dengan adil pada mereka.
Keesokan paginya Gio bangun dengan wajah di tekuk,tapi hanya sebentar ia kembali luluh saat melihat meja makan sudah terisi penuh dengan makanan dan ia melihat istrinya sedang sibuk menggoreng ayam krispi sambil sesekali menyuapi anaknya dengan penuh sayang.hati Gio terenyuh melihat Ayana yang selalu tampil glamor dan fashionable itu mau dan rela bergelut dengan segala alat tempur di dapur.ia mau memasak dan menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya langsung di buat oleh tangannya sendiri.
__ADS_1
Ada banyak perempuan lain yang seperti Ayana di luar sana yang tidak mau dan ogah jika tubuhnya bau bawang dan bumbu dapur,bahkan perempuan dari kalangan biasa pun banyak yang tidak mau turun ke dapur,tapi Ayana ini,lihat lah meski ia bisa membayar puluhan pelayan untuk menyiapkan segalanya tapi ia memilih turun sendiri untuk mengurus. memenuhi gizi dan perut suami juga anaknya.
Gio mendekati kompor perasaannya menghangat saat senyum Ayana merekah menyambutnya." Pagi Ayah" Ayana mengelap mulut anaknya dengan tisu sebelum balita itu berlari karena suster sudah memanggilnya untuk mandi.
"Pagi sayang,masak apa ini?" tanya Gio sembari memeluk sang istri lalu mengecup keningnya.
"Banyak,ada Ayam gule juga kesukaan kamu dan tumis daun singkong campur teri enak deh cobain" Ayana mengambil sendok dan menyendok sedikit tumis daun singkong buatannya itu.ia sodorkan ke mulut Gio dan dengan semangat suaminya itu melahap." Gimana?kurang apa kira-kira?kalau kata aku sih udah pas asin juga dari terinya."
Gio mengangguk membenarkan." Iya udah pas,yuk makan kok aku jadi laper sih." ajaknya membuat Ayana senang.
"Oke,ayo" ajaknya lalu mengambil piring dan menyiapkan makan untuknya dan Gio, keduanya bercengkrama seraya menyantap sarapan mereka,bahagia,itu lah yang Gio dan Ayana rasakan saat ini keduanya mengucap dalam hati semoga selamanya akan seperti ini kehidupan rumah tangga mereka.
"Besok aku nginep di malingping yang," ujar Gio setelah mereka menghabiskan sarapan.kini keduanya tengah duduk sembari menonton tayangan berita pagi di televisi.
Ayana mengangguk sambil menyuapkan potongan buah naga ke mulutnya." Berapa hari?gak lama kan?bukannya hari ini?"
"Paling dua hari,itu pun kalau gak ada kendala di mesin.mudah-mudahan lancar dan gak lama,tadinya emang mau hari ini cuma Papah tadi wa nyuruh ke kantor nanti siang."
"Oh,di sana pantainya enak gak sih Gi?katanya bagus,coba dong sesekali kalau weekend kesana sama anak-anak." ujar Ayana yang di angguki Gio.
"Oke,aku coba cari info penginapan yang enak di sana ya.soalnya villa tempat aku nginep ini kurang enak sih tempatnya udah lama gitu yang.kalau buat anak-anak gak cocok,nanti aku cari yang bagus biar kalian nyaman." balas Gio kemudian keduanya bersiap ke kantor karena sebentar lagi Gio juga harus kuliah.
...☘☘☘☘☘...
Saat makan siang tiba Ayana pergi bersama Cindy dan Aneska,rasanya sudah lama tidak berkumpul dengan temannya itu hanya Giselle yang memang jarang ikut gabung karena perempuan itu super sibuk setelah menikah,selain itu Giselle juga sudah menetap di Singapur.hanya sesekali saja ia datang untuk menemui keluarga dan teman-temannya.
"Lo kok makin cantik aja sih,pusing gue" ujar Cindy setelah mencium pipi Ayana usai cepika cepiki ala cewek-cewek kalau ketemu temannya.
Ayana tertawa sembari mendudukan dirinya." Lo juga tau,makin glowing ya Cindong sekarang mah."
"Udah punya gadun dia,makanya glowing ada yang modalin soalnya.kalau dulu kan masih ngarepin transferan dari bonyok sekarang mah beda dong di modalin gadung gitu loh." ujar Aneska dengan semangat membuat Cindy mendelik namun terkekeh juga.
"Gak usah di dengerin sesat dia mah" ucapnya.
"Gak usah malu-nalu Cyn,namanya juga hidup iyakan?hidup ini keras jadi simpenan gadun gak masalah di era ini,apa-apa harganya serba gak ngotak bikin kepala mau botak rasanya.gapapa gak usah malu gue dukung lo." Ayana memberikan dorongan semangat kepada Cindy berupa candaan membuat kedua temannya itu terbahak.
"Tapi gue masih waras Ay,duit gue masih mampu buat ngidupin gue gak perlu jadi simpenan gadun juga.bapak emak gue juga masih hidup mereka masih sanggup ngidupin gue kayanya," Ayana dan Aneska ngangguk-ngangguk saja seraya tertawa." Tapi kalau gadunnya modelan Om Frans mah sabi lah,gue sikat juga gak perlu mikir lagi,secara duitnya banyak banget.iya gak Nes?"
"Syalan lo" maki Ayana tangannya melempar Cindy dengan tisu bekas ngelap es batu yang meleleh di mejanya.
"Pppffft,HAHAHAHAHA" Aneska memegangi perutnya ia terpingkal melihat wajah Ayana yang sedang kesal itu.
"Gue tandai lo" ancam Ayana membuat Cindy terbahak.
"Abisnya bokap lo kok menggoda banget ya.janggut udah putih juga tapi badannya masih oke,tapi bisa-bisanya nyokap lo punya anak satu doang?kalau gue jadi tante Monic.beuh.gue gas terus sampe anak gue dua losin kali."
"Itu karena emak gue gak sanghean kek lo" cetus Ayana yang mendapat anggukan setuju dari Aneska.
"Tapi lo yang sanghean iya kan?" balas Cindy membuat tawa Aneska meledak." Anak lo tiga mana masih kecil-kecil lagi gue yakin bentar lagi lo melendung lagi tuh." sambungnya dengan serius.
"Eh jangan dong,3 aja cukup gue gak mau nambah lagi,kasian mereka nanti gak kebagian kasih sayang." sahut Ayana,ia memang sudah akan memutuskan untuk tidak menambah anak lagi.
"Ya udah kalau gitu gue aja yang jadi ibu penggantinya,gapapa gue iklas lahir batin rahim gue yang premium ini buat di buahi oleh Gio_mpph." kalimat Cindy terputus karena Ayana menyumpel mulutnya dengan potongan buah.
__ADS_1
"Emang kalau di lihat-lihat Cindy ini ada bibit pelakor sih." tawa Ayana menyembur mendengar kalimat Aneska untuk Cindy yang di balas delikan oleh Cindy yang sedang sibuk mengunyah itu.
"Sialan,gue telep juga bapak lo mungpung nomornya masih ada di hape gue." ancam Cindy pada Aneska membuat ketiganya terbahak-bahak sampai lupa waktu.