
Permainan gulat ranjang semakin panas dan keduanya sepertinya belum ingin menyudahi.saat ini ayahnya Jemi itu masih berpacu dalam melody.eh dalam gairah dong gimana sih.keduanya masih sama-sama berusaha menggapai kenikmatan.saat ini ekspresi wajah Gio begitu tidak beraturan.ia tengah merem melek berpacu begitu keras di atas tubuh istrinya.keduanya tak mempedulikan apa pun hanya ingin menggapai kenikmatan tiada tara yang tengah mereka raih.wajah Gio menunduk mengecup bibir Ayana sebentar.lalu fokus pada hentakannya yang semakin kasar itu.ia merasa sebentar lagi dirinya akan melayang ke awan.
"Yang.aku mau_ahhhh.kel_"
"Ayah.Mia ngompol.." Hentakan Gio terhenti tepat saat ia mendengar suara putrinya.keduanya menengok melihat Jemia yang tengah berdiri tidak jauh dari ranjang mereka.lantas Gio menggeram kesal.
"Pempesnya bocol Ayah." Ayana dan Gio terdiam dan saling pandang.
"Tanggung,biarin aja selesain ini dulu" bisik Gio sembari kembali menggerakan pinggulnya sebelum Ayana menggeplak lengannya.
"Kepalamu.udah sana.nanti keburu nangis." titah Ayana berusaha menyingkirkan tubuh besar Gio dari atas tubuhnya.
Gio tak bergeming masih enggan beranjak dan tidak rela jika harus mencabut miliknya yang masih belum tuntas itu." Yang plis atuh.gak enak banget kalau di cabut tapi belum keluar." rengek Gio dengan memohon.
"Sana Gi." paksa Ayana." Bentar Dek. Bunda gantiin ya " Ayana bersuara dengan tangannya yang berusaha mencari bathrobenya yang tadi entah dimana adanya.
"Cepet bunda.gak enak basah,ini Mia gatal" rengek Jemia sembari menggaruk area pahanya yang basah dan mungkin gatal.
"Yang...." ujar Gio dengan tatapan memelas namun langsung lunglai saat mendengar Ayana menggeratkan giginya tanda wanita itu akan marah jika Gio tidak beranjak." Ya udah aku ngalah." dengan berat hati Gio bangkit dari tubuh istrinya dengan menarik paksa si boy yang malang itu.
"Shhh.." ringis Ayana sebetulnya ia pun tak rela kehilangan begitu saja.
"Yuk sama ayah gantinya." ajak Gio seraya memasang kausnya yang ia pungut dari lantai.
Jemia yang sedang memperhatikan kedua orang tuanya dengan ekspresi heran itu mengangguk dan segera berjalan mendahului sang ayah ke kamar mandi yang ada di kamar ayah dan bundanya." Untung kamu anak Ayah.Jem.coba kalau orang lain udah ayah hanyutin kamu ke sungai." rutuk Gio sembari mencuci kaki anaknya.
"Ayah.suka kucing ya?" tanya Jemia tiba-tiba.
"Iya,kenapa sayang?" sahut Gio seraya memasangkan pempes pada putrinya.
Jemia terlihat berpikir sejenak." Ayah kaya kucing ada buntutnya juga." ujarnya membuat alis Gio terangkat.
"Buntut?"
"Iya buntut ayah.tapi punya ayah buntutnya ada di depa-hmmpp"
"Ayo cepetan pake celananya.jangan ngoceh mulu ini malam loh Jemi.kamu ini ngelantur deh." Gio melepaskan tangannya dari mulut sang putri.
"Iya Jem tau ayah..Jem baru tau kalau ayah ada buntutnya."
"Jemia..."
"Iya maaf.temani Jem bobo ya ayah" Mia menunduk setengah takut karena sang ayah membentaknya walau tidak keras." Ayah jangan lihat Jemi begitu.Jemi takut." lirihnya.
Gio Tak bersuara ia mendekap Jemia yang menunduk sedih." Maaf,ayah gak marah kok.cuma pengen Jem bobo aja dan jangan banyak tanya.anak kecil ga boleh tidur terlalu malam.maafin ayah ya sayang." Gio membawa putrinya ke kamarnya ia melewati Ayana yang masih duduk diam di kasur.sepertinya baru selesai memakai baju dan terlihat sedang menggelung rambutnya.sesampainya di kamar Gio merebahkan diri bersama putrinya dan ia mengusapi punggung dan bokongnya.
"Ayah"
"Hmm?"
"Tadi ayah sama bunda lagi apa?" tepukan dan elusan di punggung Jemia terhenti kala Gio mendengar pertanyaan anaknya barusan.astaga bisa-bisanya putrinya menanyakan itu lalu bagaimana Gio menjawabnya.
"Bobo Sayang,udah malem." Gio tidak menjawab rasa penasaran putrinya.ia memilih tidak menjawabnya karena bingung bagaimana cara menjelaskannya karena biasanya putrinya Gio itu tidak cukup dengan satu penjelasan.mau tidak mau Jemia memejamkan matanya meski ia tidak benar-benar tidur.ia hanya takut pada sang ayah.namun beberapa menit lalu anak itu tertidur juga karena suara dengkuran halus dapat Gio dengar.
"Ini bocah bener-bener." rutuk Gio pada anaknya sendiri.demi apa pun jika saja Jemia ini bukan anaknya,bukan darah dagingnya.mungkin saja tadi Gio sudah memitas leher bocah kecil yang sudah mengganggu kesenangannya ini." Untung kamu anak ayah Jem.dan ayah sayang banget sama kamu."
Ceklek
Pintu kamar terbuka Ayana yang sedang ingin memejamkan matanya pun menoleh Gio masuk dengan wajah kusut pria itu berlalu ke kamar mandi.dan terdengar pintu tertutup sedikit keras.Ayana terpaksa menyingkap selimbutnya dan bangun menyusul Gio ke kamar mandi.Gio begitu terkejut saat Ayana masuk begitu saja." Ngapain?" tanyanya usai meletakan kausnya ke keranjang cucian.
"Kamu yang ngapain?ngapain jam segini mau mandi,emang gak dingin?." Gio yang hendak memasuki bilik shower itu pun mendengus.
"Kepalaku panas.mau di dinginin." ketus Gio sembari melangkah masuk ke dalam bilik shower dan menyalakan airnya.ia mulai mengguyur kepalanya dengan kucuran air yang hangat itu.
Ayana melepaskan semua kain yang melekat padanya.ia sengaja ingin menggoda Gio kali ini dengan berpura-pura ikut masuk ke dalam.benar saja pada saat Gio menyibak rambutnya ke belakang dan mengusap wajahnya dari cipratan air ia terkejut saat membuka matanya." Ngapain kamu?sana masuk ini udah malam nanti masuk angin."
"Mau ikut mandi lah.biar besok gak usah mandi lagi" sahut Ayana dengan menahan tawa.
Gio menatapnya sedemikian rupa." S**t.kamu sengaja ya mau godain aku mm?." tangan kekar itu memegang keduan bahu ringkih Ayana lalu memojokkanya ke tembok.ia menekan tubuh Ayana yang sudah pasrah jika pun ia akan di hajar di dalam kamar mandi ini.
"Nggak tuh.kamu aja yang baperan kaya dia." tunjuk Ayana pada belalai Gio yang sudah kembali mengacung dan menusuk perutnya,ia meremang saat benda itu berkedut di kulit perutnya.
"Tanggung jawab.manjain sampe puas." ujar Gio seraya menggesek dan menekan benda itu pada perut Ayana membuat istrinya itu melenguh.lalu dengan pandangan nakal tangan Ayana terulur meraih benda itu dan mer*masnya membuat Gio menggeram.Ayana mulai berjongkok akan memanjakan milik Gio agar lelaki itu berhenti mengambek.dan semakin bertekuk lutut padanya.
Ayana mulai menjalankan aksinya yang membuat suaminya itu mendesis lirih. kepalanya mendongak ke atas dengan mata terpejam mulutnya sedikit terbuka dengan mengelus kepala Ayana ia menggeram beberapa kali.dan selanjutnya hanya ada suara-suara des*han merdu Ayana juga desisan dan geraman lirih Gio yang terus mengisi kamar mandi itu.
__ADS_1
Skip deh author yang solehot ini sudah mulai tobat soalnya.
...☘☘☘☘☘...
Keesokan paginya Ayana terbangun dengan tubuh yang terasa lumayan remuk ia meraba kesampingnnya yang sudah kosong.sepertinya Gio sudah bangun dan ia yakin suaminya itu sedang bermain dengan anak anaknya.
"Aduhhh.." desis Ayana saat ia mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi area sensitifnya terasa sangat perih dan sakit.bahkan untuk sekedar buang air kecil saja ia sampai meringis dan hampir menangis karena perih.lelaki itu benar-benar membuatnya tidak bisa jalan dengan normal.usai membersihkan diri Ayana keluar dari kamar.ia melihat suami dan anaknya sedang sibuk membuat cookies,lihat lah Gio sekarang.batapa tampannya dia dengan kaus putih polos dan apron bergaris biru yang melekat pada tubuh atletisnya.terlihat sangat tampan dua kali lipat.Ayana tertawa saat melihat wajah gadis sulungnya itu penuh dengan tepung kedua anaknya terlihat sedang anteng menonton televisi sembari sarapan.
"Pagi bunda." sapa Gio saat melihat Ayana menghampiri mereka.
"Lagi bikin apa kalian?" tanya Ayana seraya melihat pada adonan kue yang sedang Gio aduk.lelakinya itu sedang menuangkan mentega cair lalu mengaduknya lagi hingga merata.
"Bikin cookies buat anak-anak.hommade lebih sehat yang." sahut Gio seraya mulai menbentuk adonan dan mulai menyetak saat Gio mulai membulatkan adonan itu dengan tangannya,ia sedikit mer*mas adonan tepung yang sudah tercampur dengan semua bahan.Ayana bergidik teringat akan pergulatan mereka semalam di atas ranjang.Gio meremas dan memilin persis seperti itu juga.
"Heh,kok malah bengong?" tegur Gio yang langsung menbuyarkan pikiran kotor Ayana.
Ayana terlonjak dan tertawa untuk menutupi rasa malunya." Ya udah cepetan buatnya,bunda pengen nyobain." ujarnya lalu memilih duduk di kursi yang tersedia di meja pantry.
Selagi Ayana duduk sambil menikmati sarapan serealnya.Gio yang sudah menaruh adonan kukis itu di dalam oven mendekat dan berbisik di telinga istrinya." Tadi kamu ingat semalam kan?"
Uhuk uhuk
Susu dan sereal yang baru masuk setengah itu reflek menyembur kembali Ayana memukul tangan suaminya yang sedang mengambil sendok." Gila ya.kalau aku kesedak gimana?" kesalnya.
"Orang itu udah"
"Kamu nyebelin banget sih" Gio hanya terkekeh pelan sembari memakan sereal istrinya sampai habis.
"Gak apa nyebelin juga,asal bisa bikin kamu mengangkat bokong." ucapnya tanpa filter.untung saja para suster sedang sibuk menjaga anak anaknya.kemungkinan mereka tidak akan mendengar karena suara tv juga lumayan nyaring.
"Aku gak nyangka kalau kamu semesum ini Gi,jujur sih awal ketemu kamu itu aku kira kamu kalem dan alim.karena mukanya kaya anak pondok gitu.lah taunya mesum dan cabul." ujar Ayana yang seketika saja membuat Gio tertawa.
Lelaki itu menjemil kedua pipi sang istri dengan gemas." Karena aku cabul dan mesum.makanya anakmu tiga kan?." kekehnya tanpa rasa malu sedikit pun.
...☘☘☘☘☘...
Hari libur sudah usai saatnya semua orang kembali ke rutinitas harian.Ayana sudah berada di kantor seperti biasa terkadang pagi-pagi sekali ia sudah sampai.namun kadang kala saat matahari sudah mulai meninggi ia baru tiba.wajar lah namanya juga ceo suka-suka mau datang jam berapa pun.
"Pagi Bu."
"Pagi bu Aya"
"Selamat pagi Non Ayana."
Sapaan hangat silih berganti Ayana terima dari para karyawan kantornya.ia tersenyum seadanya membalas sapaan mereka.kaki jenjang perempuan itu melangkah menuju lift yang akan membawanya ke ruangan tempatnya bekerja.pada saat makan siang tiba Ayana memilih menyebrang ke restoran yang tidak jauh dari kantornya.ia memesan makanan di sana lalu duduk di kursi sembari menunggu pesanannya tiba Ayana memainkan ponselnya dan berkabar dengan Gio yang katanya akan menyusulnya kesana ingin makan bersama.
"Ay.." sapa Jerrian sembari meletakan dua gelas greentea hangat yang baru di belinya di kedai kopi yang terkenal mahal itu.
"Mau makan Jerr?" tanya Ayana dan lelaki itu mengangguk seraya duduk di depannya.
"Minum gih" suruhnya pada Ayana,ia mendekatkan satu gelas minuman hangat itu.
"thanks,tapi mau makan dulu lah nanti kekenyangan." Ayana menerima pemberian Jerrian meski terpkasa toh hanya minuman tak apa lah menolak kebaikan orang juga tidak baik.mereka mulai mengobrol membahas proyek yang di jambi,katanya rencannya Jerrian akan kesana menggantikan Ayana untuk meninjau proyek yang sedang di kerjakan itu.keduanya larut dalam bahasan sehingga Ayana tidak menyadari kalau Gio sudah tiba di sana.
Gio duduk di kursi lain yang tidak jauh dari mereka.ia memerhatikan keduanya yang tengah bercengkrama,Gio bisa melihatnya bahwa mereka sangatlah nyambung membahas pekerjaan.maklum lah keduanya sama-sama berpendidikan dan berwawasan luas.tidak seperti dirinya yang tidak begitu tahu menahu dunia bisnis dan pekerjaan.
"Silakan Pak.mau pesen apa?" pelayan menghampirinya seraya memegang catatan.
"Oh,gak usah mas.saya akan duduk di meja itu." tunjuk Gio pada meja Ayana pelayan itu mengerti kemudian meninggalkannya.lama Gio memerhatikan mereka dalam diam.sesekali ia mendengus kala melihat Jerrian yang begitu kentara sekali mencari perhatian istrinya.Gio tahu betul lelaki itu berusaha menarik hati Ayana dan ingin membuat wanitanya itu terkesan.
"Dasar bujang lapuk." maki Gio saat ia melihat Jerrian yang gencar untuk membuat Ayana nyaman kepadanya." Cih,trik murahan lo bener-bener bikin gue mual." geram Gio,ia terus memaki dalam hati kala Jerrian menebar senyum semanis mungkin.
"Langsung makan aja yang.laper aku." ujar Gio yang langsung medudukan dirinya di samping Jerrian.
Tentu saja Ayana dan Jerrian terkejut." Oh ya udah." sahut Ayana sembari mendekat dekatkan semua menu pada suaminya." Lama banget kemana dulu?."
"Macet di depan" sahut Gio dengan mulut penuh.
"Mas,eh panggil nama aja lah kita hampir seumuran." ujar Jerrian dengan ramah.
"Sejak kapan 21 tahun sama 36 tahun itu hampir seumuran?." cetus Gio di sela kunyahannya.
Jerrian tertawa walau garing tentu saja ia sangat malu." Eh iya ya.lupa saya.ternyata umur kamu jauh di bawah kami,ya Ay?" Jerrian menatap istri Gio meminta pendapat wanita itu.
"Iya,Gio lebih muda dari kita.tapi pemikiran dia jauh lebih dewasa dari pada aku sendiri." ujar Ayana seraya menatap Gio dengan hangat.
__ADS_1
"Thanks babe" sahut Gio dengan senyum hangat pula lalu menyuapkan chicken karage ke mulutnya.melihat keduanya membuat Jerrian seketika merasa tidak nyaman.hatinya meradang melihat tatapan keduanya yang saling memuja itu.
"Hmm.Ay,aku duluan ya.mau ketemu temen juga habis ini." pamit Jerrian,Ayana mengangguk.lalu pria itu berdiri dan segera meninggalkan mereka.
"Rasain." maki Gio dalam hati sembari menikmati makan siangnya.
Saat itu Ayana sama sekali tidak menaruh curiga pada Gio,ia kira suaminya itu tidak cemburu pada Jerrian karena ia sudah berkali kali menjelaskan bahwa perasaannya tidak mudah berlabuh.hati Ayana yang sekeras batu kali itu tidak gampang tersentuh akan rayuan lelaki pokonya hanya Gio yang bisa meluluhkannya dalam kurun waktu beberapa bulan saja.
"Ngobrolin apa tadi?asik bener keliatannya" ujar Gio usai menyelesaikan makan siangnya.
Ayana yang sedang mengunyah salad sayur itu pun menatapnya seketika." Ngobrolin proyek di Jambi.itu aja selebihnya ya gak jauh dari kerjaan."
"Masa?seasik itu ya kalian kalau bahas kerjaan" Ayana mengerutkan dahi mendengar ucapan suaminya.
"Asik kaya mana sih?perasaan biasa aja deh." sahutnya.
"Itu ada orang tadi asik banget ngobrol sama rekannya.sampe suaminya udah lama sampe pun gak sadar karena ke asikan ngobrol" sindir Gio sengaja.
"Kamu cemburu?"
"Menurutmu?"
"Cuma bahas kerjaan masa cemburu sih Gi?gak lebih loh yang kami bahas,selain itu." Gio mendekus mendengarnya.
"Aku cemburu ya cemburu.gak peduli kalian bahas apa pun.lagian dia itu kok gak ada otaknya sih?apa harus istri orang yang dia deketin?kan di kantor ini banyak cewek lain yang masih single.kenapa harus kamu coba?" Gio meletakan garpu buah yang sedang ia pegang itu,lalu meneguk air minum di hadapannya.
"Apa harus banget kita bahas ini di sini?malu Gi banyak orang." ujar Ayana mencoba untuk tidak terpancing melihat Gio yang kekanakan.
"Iya udah aku pergi.ada barang yang mau datang.mau ada tamu juga kan habis ini." Gio berdiri lalu pergi begitu saja setelah ia memastikan bahwa semua makanan sudah di bayar olehnya.
Setelah kepergian Gio,Ayana terdiam dengan berbagi macam pikiran.haruskah ia menghindari semua lelaki yang sekiranya bakal Gio cemburui,atau tetap biasa saja tidak ada batasan dengan siapa pun seperti biasanya selagi ia tidak melewati batas sebagai seorang wanita yang sudah bersuami.
"Kamu itu kadang bikin aku pusing Gi. terkadang kamu dewasa banget dalam bersikap dan tidak mempermasalahkan hal hal kecil apa lagi sepele kaya gini.tapi kadang kala kamu bikin aku kesel dan jengkel kaya sekarang ini Gi." ujar Ayana dalam hati sembari melangkah dari restoran tersebut.
...☘☘☘☘☘☘...
Sekembalinya ke kantor Ayana terlihat begitu sibuk siang ini.ia menjamu tamu yang akan melihat-lihat pembuatan helm Frans meminta Ayana untuk membawa tamu itu ke tempat produksi ya itu tempat Gio berada.pukul tiga sore Ayana dan Jerrian juga tiba di pabrik Frans.mereka langsung saja membawa tamu itu masuk untuk melihat lihat bagaimana kondisi tempt produksi yang di isi lebih dari dua ribu karyawan itu.
"Silahkan Mr." Ayana mempersilakan tamu yang berasal dari negeri gingseng itu untuk melihat ke dalam.
"Terima kasih nona Ayana,maaf aku menggangu waktumu.anda dan Mr Frans sangat luar biasa." pujinya kemudian.ia terkagum begitu melihat banyaknya tenaga kerja di sana.
"Sama sama Mr.ya anda benar,ayahku memang luar biasa.tapi aku biasa saja." sahut Ayana dengan senyum mengembang.
Pria asing itu tertawa di buatnya.ia seketika saja jatuh cinta pada rekan bisnisnya ini.ia sangat suka keramahan dan cara bicaranya.lama mereka melihat lihat dan mengobrol.Ayana menjelaskan dengan detail mengenai desain dan pembuatan helm dan mesin yang di buat oleh perusahaannya itu.
"Jika anda masih sendiri.aku ingin mengenalkan putraku padamu nona. kapan-kapan aku akan membawanya kesini." ujar lelaki tua yang bernama lengkap Mr Park Myung Hoon itu.
Mendengar itu lantas Ayana tertawa." Ah. boleh juga Mr.apakah anak anda setampan Lee joon Gi?jika iya,maka aku ingin berkenalan dengannya." sahut Ayana bercanda dan Mr Park pun pahan akan candaan Ayana.
"Ah iya,maaf nona,anaku tidak setampan itu." balasnya dengan kekehan.Gio yang sejak tadi berdiri di sana diam-diam mendengarkan obrolan istrinya.ia menatap Ayana tidak suka baginya istrinya itu terlalu akrab dengan aki-aki yang ada di depannya kini.
"Hahaha tak apa Mr.oh iya,aku sudah bersuami itu suamiku di belakang anda." Mr Park melihat tunjuk Ayana pada Gio yang sejak tadi berdiri di belakangnya." Sini sayang perkenalkan dirimu"
"Benarkah?" Mr Park seakan tidak percaya.
Dengan senyum malu Gio menganggukan kepala dan membungkukan setengah badannya." A-annyeonghaseo Mr.saya Giovanno." ucap Gio terbata dan gugup apa lagi ia melihat Ayana menahan tawa.
"Oh,anyeonghaseyo tuan Giovanno,aigoo maafkan saya.Giovanno.saya mengira nona Ayana belum memiliki suami.senang bertemu denganmu ya." balas Mr Park dengan senyum ramah.
"Ah iya tidak apa-apa Mr.senang juga bertemu dengan anda."
"Apakah suami nona berkewarganegaraan asing?aku melihat ia seperti dari eropa atau wanita indonesia memang banyak menikahi warga negara asing ya." Mr Park terdengar bertanya pada Ayana.
"Tidak Mr.suami saya asli warga sini.hanya saja ia terlihat seperti orang eropa." balas Ayana di sertai kekehan.mereka berbicara dengan tiga bahasa korea,indonesia dan inggris.karena itu lah Gio dan Jerrian tidak sepenuhnya mengerti akan pembicaraan Ayana dan Mr Park.
"Anda hebat nona.suamimu tampan dan anda cantik,sangat cocok." Ayana tersenyum mendengar pujian itu." Tadinya aku mengira lekaki yang datang bersama kita itu suamimu,karena Giovanno terlihat masih sangat muda,jika di korea ia masih SMA." jelas Mr Park seketika melunturkan senyum di bibir Ayana.
"Ah iya Mr." hanya itu yang Ayana katakan. kemudian ia melihat Gio yang sedang berbicara dengan salah satu anak produksi Ayana melihat suaminya begitu ramah pada gadis muda itu.
"Terima kasih mas."ujar gadis itu di sertai senyuman manis.Ayana tahu jenis senyum itu.senyum untuk memikat lawan jenis.
"Sama-sama Cha.kalau ada yang gak paham kasih tau saya aja." balas Gio seketika saja darah Ayana mendidih melihat keakraban suaminya dengan gadis itu.bahkan Mr Park di sampingnya tidak ia hiraukan.Ayana melangkah mendekati mereka untuk menyeret Gio pergi dari sana.
"Kerja yang benar kalau kamu masih betah di sini dan kalau kontrakmu ingin di perpanjang.kalau udah gak betah kamu bisa angkat kaki dari perusahaan saya." ujar Ayana pada gadis itu secara tiba-tiba membuatnya terjangkit kaget.
__ADS_1
Gadis itu ketakutan ia langsung menunduk." Maafkan saya,bu.jangan pecat saya ya bu Aya.saya masih butuh pekerjaan ini.maaf atas sikap saya yang kurang sopan sama ibu. " ujarnya merasa bersalah,meski ia sendiri tidak tahu kesalahannya apa.Gio menatap Ayana dengan rahang mengetat.ia tidak bicara karena ini bukan tempatnya.Gio tidak suka membicarakan hal yang menyangkut dengan privasi rumah tangganya di depan umum.
"Lanjutin sana.tuh barang pada datang semua. " titah Ayana pada gadis yang bernama Ocha itu.ia tahu saat ini Gio masih menatapinya dengan tatapan mengintimidasi.namun Ayana memilih abai dan pura-pura tidak melihat apa pun.