Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
70


__ADS_3

Liburan yang menyenangkan namun sangat singkat itu telah berakhir.mereka hanya tiga hari berada di sana,Gio meminta anak dan istrinya untuk segera pulang karena dirinya begitu banyak pekerjaan.kemarin mereka sudah kembali ke rumah.karena rencananya Gio dan Ayana akan istirahat sembari bersiap-siap untuk pindahan rumah.sebenarnya yang banyak menyiapkan dan sibuk ini itu,hanya Gio seorang diri karena Ayana lebih banyak mengurus anak-anak.Monica pun tak banyak membantu karena sibuk di tokonya.mertua Gio itu sedang membuka toko baru di sebuah mall yang berada tak jauh dari rumahnya.


Siang ini Gio begitu sibuk mengatur rumah yang akan mereka tempati.rumah berukuran sedang itu sudah penuh dengan isinya.mereka tinggal menempatinya saja setelah pindah nanti.bahkan untuk peralatan masak semua sudah lengkap Ayana tinggal menggunakan.


"Saya mau pasang internet,Pak.untuk anak-anak kalau weekend,biar gak jenuh." pinta Gio pada seorang sales yang menerima jasa pasang internet dan tivi kabel.


"Baik Pak.mau di pasang di mana aja ini." tanya si Bapak bernama Guntur itu.


"Di ruang tengah satu,dan di kamar saya.di kamar mbak juga,tolong di pasang ya. Pak."ujar Gio.Gio harus memberikan fasilitas yang layak dan nyaman untuk para susternya.supaya mereka betah dan nyaman bekerja dengannya.karena dua suster itu akan di bawa ke sini juga nantinya.mereka akan membantu Ayana untuk menjaga putra dan putrinya.


"Baik Pak.saya kerjakan sekarang." sahut si Bapak.


Gio mengecek kembali seluruh rumahnya ia takut ada yang kurang saat pindah nanti. dirinya harus membuat rumah itu senyaman mungkin untuk anak dan istrinya setelah di rasa semua cukup,Gio kembali ke kantor.ia harus melanjutkan pekerjaannya,dan meminta salah satu tukang kebun untuk mengawasi orang yang sedang mengerjakan internet itu.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


Siang ini Ayana memutuskan untuk ke kantor.tadi usai masak dan membuatkan makanan untuk suaminya ia langsung meluncur ke perusahaan,ingin menemui Gio.karena sudah lama tidak menginjakan kakinya di kantor ini.rencananya setelah si kembar bisa di sapih.Ayana akan kembali bekerja.dirinya sangat rindu dengan pekerjaan.mengenai ini juga sudah sempat membahas dengan Gio,dan lelaki itu setuju asal peran Ayana sebagai ibu jangan sampai terabaikan.Gio ingin istrinya itu menjadi ibu rumah tangga seutuhnya namun ia juga tidak bisa menghalangi impian Ayana yang memang ingin bekerja tak apa pikirnya,asalkan Ayana masih menjalankan peran ibu dan istri.


"Selamat siang bu Aya.mas Gio nya belum kembali.kayanya lagi makan siang di luar." ucap Lita.


"Oh gitu,ya udah gak apa,saya masuk dulu Papah di mana?." tanya Ayana seraya berjalan mendahului perempuan itu.


"Tuan lagi keluar dengan Pak Surya,Bu" jawab si Mbak.


"Kok semua orang keluar ya?ya udah deh saya masuk aja." Ayana berjalan menuju ruangan Frans,dan segera merebahkan dirinya di sofa besar yang ada di sana lama Ayana bermain ponsel di sana sembari tiduran.kemudian terdengar suara Gio yang memasuki ruangan tersebut.Ayana langsung pura-pura tidur mendengar Gio yang semakin mendekat.


"Sayang.." panggil Gio,lalu mendekat pada istrinya dan mengguncang tubuh itu." Lah ketiduran kayanya ini." Gio mengusap dahi Ayana dengan sayang.


"Kasihan banget sih kamu,pasti lelah ya?ngurus anak-anak yang luar biasa aktifnya maafin aku ya,sering banget buat kamu marah."


"Apa nih?." ujar Gio setelah melirik ke meja ada tas kecil yang berisi makanan.Gio langsung membukanya dan mencicipi masakan istrinya yang selalu terasa lezat di lidahnya itu.


"Bundanya Mia emang gak ada obat semua masakannya gak ada yang gak enak.beruntung banget punya istri sesempurna kamu,yang." pujinya sembari memakan brokoli cah udang.Ayana yang pura-pura tidur itu pun di buat mleyot seketika.aduh jantungnya sudah tidak bisa di selamatkan lagi.saat ini ia menggigit bibirnya agar tidak senyum.


"Kenapa dia jadi manis gitu sih?ih,jadi makin gemes deh." batin Ayana,lalu pura-pura menggeliat dan terbangun.


"Gi.." panggilnya sembari duduk.


"Apa cantik?." sahut Gio.membuat Ayana hampir terjedag di buatnya.heh,apaan itu. mengapa Gio jadi manis begini sih.


"Baru pulang?." tanyanya dan menyembunyikan wajahnya yang sudah tidak tertolong lagi.jika pemirsah bisa melihat,saat ini ada banyak lope lope berterbangan di sekitar Ayana.


"Iya.abis nengokin rumah baru kita,tadi aku pasang internet sore ini juga udah jadi.biar anak-anak gak kesepian.tapi tetap harus di awasi.biar gak kebiasaan nonton." ujar Gio sembari melahap habis brokoli cah udang itu.Ayana hanya mengangguk saja lalu ikut duduk di samping Gio.


"a,kamu udah makan apa belum?" tanya Gio seraya menyodorkan satu sendok makanan ke mulut Ayana.


"Udah tadi,ini sengaja kesini lagi pengen aja dan sekalian nanti mau beli popok si kembar." jawab Ayana sembari mengunyah.


"Ya uda bareng aku aja nanti belinya,tapi nunggu sampe sore,kamu mau gak nunggu?kalau nggak malam aja biar enak." tawar Gio.


"Sore aja lah.gapapa aku nunggu aja." balas Ayana lalu ikut makan bersama Gio hingga bekal yang ia bawa itu ludes semua.


Saat mereka tengah mengobrol membahas kepindahan yang akan di lakukan besok pagi.ponsel Gio terus berbunyi hingga Ayana curiga.pasalnya Gio hanya melihatnya sekilas dan menekan tombol off.setelah itu kembali mengobrol tanpa melirik sekali pun pada ponselnya yang sesekali berbunyi.


"Siapa,Gi?di lihat coba siapa tau penting." suruh Ayana.


"Biasa grup dari kampus,gak penting" balas Gio,lalu berdiri dan ke kamar mandi.


Ayana yang curigaan dan penasaran pun menekan tombol ponsel Gio.dan memperlihatkan pesan masuk dari nomor tanpa nama.ia sempat membaca sekilas. mata Ayana langsung memicing,siapa pemilik nomor itu,apakah ia seorang perempuan,pikir Ayana.


"Mau ke Papah?." tawar Gio setelah dari kamar mandi.


"Hm,boleh deh.ayo bareng." sahut Ayana.


Mata Ayana terus tertuju pada ponsel Gio. ingin sekali dirinya mengambil ponsel itu dan melihat siapa pengirim pesan itu namun Ayana urung,ia menghargai privasi Gio.meski dalam rumah tangga itu tidak ada yang namanya privasi.karena semuanya harus serba terbuka.tapi,tetap saja Ayana harus menjaga imej di depan Gio.ia tidak mau Gio menilainya sebagai perempuan tukang curigaan.bisa-bisa Gio ilfil padanya.


Dua puluh menit kemudian Ayana dan Gio beserta Frans tengah mengobrol dengan beberapa karyawan juga.namun hanya Ayana di sini yang terlihat risau.ia terus kepikiran siapa yang mengirim Gio pesan itu.


"Kamu kenapa?," tanya Gio,heran melihat istrinya seperti sesorang yang tengah cemas.


"Nggak.aku cuma kedinginan aja.acnya kegedean." bohong Ayana.dan Gio percaya saja.mungkin Ayana memang sedang merasa dingin pikirnya.


"Oke deh.Saya akan info besok pagi." ujar Frans kepada dua karyawannya.ya itu Surya dan Rangga.semua bubar,begitu juga dengan Gio dan Ayana mereka langsung menuju ruangan Ayana dulu,saat masih bekerja.setelah memikirkan cara agar Ayana bisa mengintip ponsel Gio akhirnya Ayana tersenyum.


"Gi.." panggil Ayana setengah mendayu-dayu.

__ADS_1


"Hmm" sahut Gio yang tengah fokus mengerjakan laporan.


"Aku pengen hotang yang ada di deket klinik Asih itu loh,noh di situ." tunjuk Ayana pada kaca.Gio berdiri dan melihat apa yang Ayana tunjukan.


"Oh,ya udah beli atuh." suruh Gio.kurang peka sekali sih.


"Ish.pengennya kamu yang belikan.aku males ke luar mager banget ini.lagian dia gak ada di aplikasi gopud." rengek Ayana tanpa Gio sadari tangannya menutupi ponsel Gio yang tergeletak di meja itu dengan kertas.agar Gio tak melihatnya kalau melihat kan bisa saja di bawa saat keluar nanti.


"Ya udah,aku beli dulu." Gio menurut dan segera pergi untuk membelikan permintaan putri raja.setelah Gio pergi,dan memastikan lelaki itu sudah turun kebawah Ayana segera membuka ponsel Gio yang memang tidak di kunci itu.


"Kurang ajar.siapa ini cewek." geram Ayana setelah memeriksa semua pesan di hape Gio.


[Halo,Gi.lagi apa?sorry aku dapat nomor kamu dari grup Pak Bastian.]


[Kok di baca doang Gi?bales kek.]


[Gi,tahu makanan korea yang lagi viral itu gak?kita jualan itu yuk.join aja kayanya laku tuh.aku ada ruko punya papahku yang gak kepakai,nah kita bisa pake itu aja buat jualan.terus sewa orang yang masak dan yang menyiapkan menu.gimana Gi,mau gak?]


[Siang Gi,mau nonton gak?aku ada tiket berdua nih sayang banget gak kepake]


Masih banyak lagi pesan dari perempuan itu yang di kirimnya kepada Gio,namun tak satu pun Gio membalasnya.malah banyak yang tidak di buka oleh Gio.dan itu membuat Ayana bersukur.ternyata suaminya itu memang tidak lah genit atau pun gatal kepada perempuan di luar sana.


"Apa gue isengin aja ini betina?." gumam Ayana dengan senyum licik.akhirnya ia membalas pesan itu dan berpura-pura seakan dirinya adalah Gio.Ayana meminta bertemu di sebuah tempat nanti malam sekitar jam sepuluh.


^^^[Makan mie level neraka mau gak?ada di gang buntu,tapi bukanya malam jam 10an.]^^^


[Mau,mau,Gi.oke gappa jam 10 juga.jadi gimana ini?aku yang jemput kamu,atau kamu yang jemput aku?.]


Perempuan itu begitu cepat membalas pesan dari Gio,membuat Ayana memakinya berkali-kali " Dasar gatal." makinya.


^^^[Ketemuan aja.nanti aku kirim alamatnya,ya udah ya,sampe ketemu.]^^^


Ayana terbahak membaca balasan pesan dari perempuan itu.terlihat sangat antusias sekali di ajak ketemu oleh Gio.apakah memang mereka dekat atau tidak.pikir Ayana.saat mendengar pintu terbuka Ayana buru-buru menaruh ponsel Gio kembali ke meja dengan posisi seperti tadi ia berpura-pura sedang memainkan ponselnya.


"Yang.rasa cokelatnya abis.adanya ini aja yang asin dan vanila." ucap Gio sembari menaruh beberapa makanan di meja.


"Gapapa lah.ini juga udah cukup." sahut Ayana seraya membuka kantung pelastik itu dan mengeluarkan isinya,kemudian ia makan dengan perasaan senang.


"Itu ada puding juga.kesukaan kamu." ujar Gio sembari menunjuk salah satu kantung pelastik dengan dagunya.


"Iya.nanti aku makan." balas Ayana kemudian sibuk dengan makanannya sampai melupakan Gio di sampingnya yang sedang memperhatikan dirinya dengan heran.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang,Gio membelokan stir mobilnya menuju super market karena akan membeli diapers dan keperluan untuk anak-anaknya.


"Yang.." panggil Gio sembari melirik ke samping.Ayana hanya menyahut dengan gumaman.


Gio memicing di lihatnya sang istri begitu sibuk dengan ponselnya." Sibuk amat sih. chatting sama siapa emang?." tanyanya dengan curiga.


"Kenapa?" tanya Ayana tanpa mendongakan wajahnya.


"Kamu chat sama siapa sih?kok serius banget?" ujar Gio,demi apa pun ia tidak suka Ayana yang fokus pada ponsel seperti itu.jangan bilang kalau istrinya sedang berbalas pesan dengan si tikus Jeri.


"Balesin grup chat.biasa anak anak rempong." jawab Ayana.lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas dan mendongak pada Gio.


"Kenapa?kamu mau ngomong apa?"tanyanya kemudian.


"Aku mau ikut turnamen futsal.hadiahnya lumayan bisa buat beli popok si kembar dan mulai besok rencannya aku udah mulai latihan." ujar Gio.


"Emang kamu bisa atur waktunya,Gi?terserah aja sih kalau kamu gak cape mah." sahut Ayana.membuat Gio bingung sepertinya istrinya itu setengah hati.


"Kalau kamu gak ngijinin mah gak apa,aku gak akan ikut." balas Gio.ia tidak akan memaksakan diri jika Ayana tidak mengijinkan.karena baginya semua rencannya harus mendapat ijin sang istri.


"Aku ngijinin kok,kan aku bilang.terserah kamu aja kalau emang gak cape.dan jadwal kuliah kamu juga lancar.asal jangan menghambat kuliah kamu aja." ujar Ayana dengan serius.


Gio tersenyum lebar mendengar respon istrinya." Jadi aku di bolehin nih,ya?."


"Iya.tapi ingat waktu,ya Gi." ujar Ayana.Gio mengangguk dengan serius.


"Tenang aja.aku pasti akan atur waktunya kok.makasih ya." ucapnya.


Kemudian mereka berhenti di salah satu pusat perbelanjaan.seperti biasa,Ayana selalu jalan lebih dulu dan kalap membeli beberapa kebutuhan untuk anak-anaknya Gio hanya mengekor saja sembari mendorong dua troli besar sekaligus." Katanya cuma mau beli pempes doang?ini sampe dua troli dan masih sibuk pilih ini itu." gumam Gio sembari menggelengkan kepalanya.


"Gi,ini bagus loh buat kamu?beli aja ya cocok banget di kamu." Ayana memperlihatkan kaus untuk pria dan dua buah Hoodie berwarna hitam dan abu-abu dua pakaian itu yang paling sering Gio kenakan dari pada jenis dan pakaian lain. percaya lah,jika Gio memakai pakaian itu suaminya itu terlihat jauh lebih muda.

__ADS_1


"Gak usah.baju aku udah numpuk.kamu aja kalau mau beli,aku mah nggak." tolak Gio.bukan bermaksud menolak karena belanjaan sudah banyak.tapi Gio memang tidak membutuhkan pakaian.pakaiannya banyak dan tidak begitu penting untuk menumpuk semua itu.saat ini yang paling di butuhkan adalah keperluan anak-anaknya.


"Ish.udah aku ambil semua pokonya.toh kalau udah di lemari kamu bakal pake juga." final Ayana.ia tidak suka penolakan pokonya.mau tidak mau,suka tidak suka Gio harus mengalah.


"Iya" jawab Gio.membuat Ayana mendelik padanya.


"Kenapa iya doang?kalau gak suka ya udah aku balikin lagi nih." ucapnya dengan wajahnya yang sudah tidak ramah.


"Nggak.maksudnya ya udah beli aja bukannya gak suka.nanti juga aku pake kok." bujuk Gio dengan serius.berabe kalau Ayana sudah mulai seperti ini bisa-bisa perdebatan hingga sampai rumah.


Ayana hanya mendengus sebagai tanggapan." Ya udah kamu ke kasir duluan aku mau ambil uang cash dulu ke atm." suruh Ayana.


Gio mengangguk sembari mendorong troli menuju kasir." Pasti gak cuma ambil uang doang.tapi melipir ke counter skincare." tebak Gio sudah hapal betul bagaimana istrinya itu.


Sembari menunggu Ayana,Gio berdiri mengantri di depan kasir.beberapa pasang mata terlihat memperhatikannya.tidak hanya kaum perempuan saja.tapi kaum lelaki pun terlihat mencuri-curi pandang kepada Gio.Gio menyadari dan semua itu membuatnya tidak nyaman.


"Di jaga matanya ya adek-adek cantik.itu suami saya ga usah di lihatin mulu." bisik Ayana kepada tiga orang perempuan muda.ketiganya langsung melengos begitu saja dengan wajah masam.mungkin karena malu atau mungkin juga karena kesal pada Ayana.


"Anak jaman sekarang.di kasih tau dan di ingetin,gak ada sopan-sopannya." rutuk Ayana sembari mendekat pada Gio.


"Udah beres semua?." tanya Ayana sembari meletakan beberapa botol skincare dan body lotion.tuh kan apa yang Gio bilang tadi.


"Udah tinggal bayar." jawab Gio.lalu memberikan salah satu kartu atmnya pada kasir untuk membayar semua belajaannya. dengan jumlah yang tidak sedikit itu,tentu saja.


...☘️☘️☘️☘️🍀🍀...


"Yakin dengan semua keputusan kamu ini Gi?" tanya Frans.saat ini mereka sedang berada di ruang kerja ayah mertua Gio keduanya tengah menikmati teh larutan madu yang katanya dari luar negeri.


"Udah yakin,Pah.mengingat aku pengen mandiri dan belajar menghidupi mereka anak dan cucu-cucu Papah.aku minta doa dan bimbingannya aja,Pah.supaya aku bisa menjadi pemimpin dan sandaran untuk mereka.supaya aku bisa seperti Papah yang berhasil menjadi kepala keluarga dengan baik.yang bisa di hormati oleh istri dan anak anak." jawab Gio dengan serius.


Frans mengangguk beberapa kali.lalu pria tua itu berdiri mengambil benda dari laci yang ada di ruang kerjanya." Ambil ini dan pakai.gunakan untuk keperluan dan semua urusan kamu.yang kecil itu untuk berpergian sendiri.kalau ini untuk kamu membawa anak-anak dan Ayana berpergian." ujar Frans sembari meletakan kunci mobil di depan Gio.membuat Gio seketika terkejut.


"Loh,Pah." Gio tidak bisa berkata-kata lagi selain menatap Frans dengan tatapan terharu.di mana lagi ia mendapatkan mertua sebaik pria ini.


"Pakai aja.kuliah yang benar ya,Gi.dan pelajari ilmu yang kamu dapat,supaya nanti kalau Papah gak ada kamu bisa meneruskan usaha Papah."


Gio langsung mendongak." Pah?"


"Umur gak ada yang tahu kan.maka itu. Papah ingin kamu belajar bersungguh-sungguh." sahut Frans.karena umur tidak ada yang tahu baginya mengingat usianya sudah sangat tua meski pun Frans terlihat masih gagah dan bugar tetap saja.karena usia tidak ada yang tahu.


Frans sadar betul bahwa ajal kapan saja menjemput.jadi sebelum semua itu terjadi ia harus memastikan terlebih dahulu bahwa putra menantunya itu bisa meneruskan segala hal yang dirinya tinggalkan di dunia.Frans selalu berjaga-jaga supaya ada yang meneruskan usahanya.


"Terima kasih,Pah." ujar Gio dengan pandangan haru.Frans berdiri,begitu juga dengan Gio.Frans langsung memeluk Gio dan mengusap pundaknya.ia begitu menyayangi menantu yang baginya adalah anak sendiri itu.


"Tetap jadi laki-laki yang bertanggung jawab ya,Gi." ucapnya.


...☘️☘️☘️☘️🍀🍀...


Gio berjalan ke kamar Ayana,di sana menemukan putrinya yang sedang meminum susu di dot sembari tiduran dengan kaki di tumpang satu.melihat hal itu membuat Gio terkekeh." Anak ayah lagaknya kaya orang gede aja." komentar Gio kini ia ikut membaringkan tubuhnya di kasur bersama Jemia.


"Ayah,cucu Agi." pinta Mia sembari menyodorkan botol susunya yang sudah kosong.


"Loh,udah habis aja,dek?buset ini perut apa sih,kok sebotol gede gak kenyang." Gio menguyel anak gadisnya dengan gemas.


"Cucu,ayah." rengeknya lagi.


"Cucu-cucu.gemes banget sih kamu ini." Gio mencubit hidung mancung Jemia." Yang benar itu susu,sayang.bukan cucu."


"Ayah..." dan seperti biasa berakhir lah dengan merengek.mau tidak mau Gio harus menuruti.bukan ia melarang sang anak menyusu terlalu banyak.tapi tubuh Jemia sudah lumayan gempal dan subur jadi Gio dan Ayana membatasi susu kawatir anak itu akan menjadi gemuk yang akan menyulitkan akitvitasnya.


"Nda,cucu agi." pintanya kepada sang bunda.


"Udah cukup,Jem.nanti dulu lah mending gosok gigi dulu." larang Ayana yang baru akan menidurkan si kembar.


"Ihhh,Nda.cucu." rengeknya lagi.dan tak lama langsung berlari melihat sang ayah membawakan botol berisi susu untuknya.


"Kok di tambah,yah?." tanya Ayana.saat ini dirinya sudah membiasakan panggilan itu. Supaya anak-anak mereka mengikuti kebiasaan orang tuanya.karena sata-saat ini Jemia dan si kembar sudah mulai belajar bicara.mereka sedang meniru apa yang di lihat dan dengar.


"Ngerengek mulu.kasian lah gapapa kasih aja." jawab Gio sembari mengangkat tubuh putrinya.


"Gendut nanti.cewek gendut itu jelek loh. Jem.nanti kamu susah dapat suami yang kaya ayah." ujar Ayana.yang membuat kening Gio mengerut,maksudnya apa sih.


"Emang aku kenapa?" tanya Gio.


"Susah dapat brondong." cengir Ayana. membuat Gio menahan tawanya." Nanti dapatnya om-om,mau kamu?." ucapnya pada sang putri.

__ADS_1


"Huss.masa dapat om-om?gak boleh gitu ah.Anak sendiri di doain dapat om-om?." decak Gio heran.


"Ya nggak lah,Gi.amit-amit atuh." balas Ayana sembari bergidik ngeri membayangkannya saja sudah merinding bagaimana kalau semua itu terjadi.


__ADS_2