Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
105


__ADS_3

Setelah Gio pergi beberapa saat lalu Ayana kembali menangis.entah bukannya merasa lega setelah mengusir lelaki itu tapi hatinya kini malah sakit.sengaja Ayana mengusir Gio dari sana karena ia tidak ingin menatap lama-lama pria yang sudah membuat hatinya terluka itu.masih ingat dengan jelas wajah terluka Gio saat keluar dari ruangan itu tanpa bisa menyentuh sang anak. Awalnya Ayana akan membiarkannya bebas menyentuh anaknya.tapi setelah mendengar alasan Gio yang tak bisa hadir saat persalinan berlangsung karena Indri sakit.hati Ayana kembali marah,ia yakin Gio hanya beralasan padahal dia pasti sibuk membantu mantan pacarnya.atau siapa tahu malah ikut bersuka cita atas kelahiran bayi Amanda.


"Loh,Gio kemana dek?" tanya Monica yang baru saja masuk bersama Frans.


Ayana yang sedang menangis itu semakin menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya meski terganggu oleh selang infus,Monica dan Frans hanya saling pandang karena tak mendapat jawaban dari sang anak,namun mereka memilih diam.Monica segera saja mengambil bayi mungil yang terdengar menangis mungkin sudah haus atau bisa jadi karena mendengar ibunya menangis.


"Sinikan biar Papah pegang.Mamah buat susu dulu." suruh Frans seraya meraih sang cucu.setelahnya bayi itu terlihat begitu rakus menyusu di dot langsung karena asi Ayana masih seret.


Sebetulnya jika Ayana mau dengan rajin menyusui bayinya,mungkin asinya banjir dan cepat keluar seperti sebelumnya. namun sekarang ini Ayana tidak mau menyusui anaknya ia memilih mengabaikan tangis bayi mungil itu.dia juga meminta ibunya untuk memberikan susu formula saja.Ayana juga menolak segala bentuk vitamin penyubur asi apa pun jenisnya.tidak seperti dulu yang bahkan apa saja ia makan asal asinya bisa subur dan keluar dengan deras.


"Harusnya pelan-pelan di kenalin Ay. kasian loh dia masa nggak ngerasain asi yang cukup kaya kaka-kakanya?." ucap Monica sembari menimang cucunya setelah menyusu sebotol kecil penuh.


"Mah," tegur Frans meminta agar istrinya jangan dulu membahas masalah asi dengan Ayana.melihat bagaimana keadaan anak perempuannya itu sedang kurang baik saat ini.Monica hanya berdecak setelahnya meletakan bayi itu yang sudah terlelap kembali.sedih rasanya melihat sang cucu yang lahir di tengah-tengah kerumitan hubungan orang tuanya.bayi tak berdosa ini harus hadir dengan cara yang menyedihkan pikirnya.


Sementara di perjalanan Gio mengusap air matanya yang kembali meluncur.masih ingat jelas wajah bayi mungil yang begitu mirip dengan dirinya itu seakan meminta di dekap olehnya.namun sayang pertemuan pertama mereka tidak berjalan baik tidak sesuai harapannya.bahkan ia tak sempat mengazani anak ke empatnya itu.


Hari ini tepatnya sudah lima hari yang lalu kepergian Mira.rasanya rumah Gio begitu kosong dan sepi.tidak ada lagi sosok yang selalu rajin menyiram tanaman di pekarangan rumah.tidak ada lagi yang selalu menyambut kedatangan Gio dan Ayana di pintu depan sana yang selalu menjadi tempat favoritenya.


"Kangen ibu yang suka duduk di sini,terus manggil aku dan ngajak makan bareng." Amanda menyusut air matanya membuat Indri tambah terisak.


Gio yang sejak tadi hanya duduk diam di pinggir kulkas itu melirik sekilas namun kembali membuang muka.dia sedikit kurang suka akan kehadiran wanita itu.hampir setiap hari ia melihat keberadaan Amanda di sana.bukannya tidak tahu berterima kasih dengan hadirnya tentangga-tetangga yang memberikan doa dan ucapan belasungkawa padanya termasuk Amanda.tapi Gio risih karena kehadiran Amanda di sana membuatnya kurang nyaman.belum juga status wanita itu yang sudah bercerai dengan suaminya.


Begitu pun dirinya,meski belum ada yang tahu bahwa ia telah menjadi duda secara agama.namun masih sah sebagai suami dari Ayana di mata hukum.tetap saja semua itu membuatnya merasakan kurang nyaman dengan status mereka saat ini.


"Om dedenya ka Manda lucu ya?" celetuk Billa dengan senang sembari menatap Khalil yang sedang terlelap di pangkuan Amanda.bayi itu sesekali tersenyum membuatnya terlihat semakin menggemaskan.Gio tak menjawab hanya mengangguk agar sang ponakan diam namun bukan Billa namanya jika puas begitu saja." Oh iya,Om.dedenya nte Aya mana?belum keluar ya masih di dalam perut?"


"Iya belum." jawab Gio agar gadis itu itu cepat diam,rasanya kali ini ia lelah untuk meladeni.


"Nanti kalau udah lahir aku mau gendong." girang ponakan Gio itu dengan polos.


"Bill," tegur Indri agar anaknya diam.ia tahu bagaimana perasaan Gio saat ini.belum lama ia di buat syok saat di beri kabar oleh Gio mengenai rumah tangga adiknya itu dan itu membuatnya terus kepikiran.


"Kenapa sih bun?aku kan pengen gendong" gerutu Billa tak terima di tegur oleh ibunya dengan wajah sinis begitu.


"Kamu maen aja deh sana.gak baik anak-anak mainnya sama orang dewasa." titah Indri membuat Abilla mengerucutkan bibirnya.


"Aku ngasuh Khalil aja deh,ka Manda." ucap anak itu semangat ingin menunggui bayi Amanda.


"Gak usah Bill.nanti jatuh." cegah Amanda ia belum berani apa lagi percaya pada anak sekecil itu bisa menjaga bayinya.


"Ya udah.aku jajan aja." ketus Bila,ia kecewa karena tak di beri ijin mengasuh anak bayi itu.


Tak lama Gio memasuki kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.Amanda yang merasa di abaikan ia segera pamit pada Indri untuk pulang.setelah Amanda meninggalkan rumah Indri masuk ke kamar Gio melihat adiknya hanya diam menatap lemari,di sana ada baju Ayana yang tergantung di pintu lemari.


"Gi?" Indri duduk di ranjang Gio yang sepreinya bermotif kotak-kotak biru putih. sprei itu Ayana yang membawanya dari rumahnya.Indri masih ingat saat wanita itu membawa barang-barang ke rumahnya dengan cara menyicil setiap kali datang." Jangan nangis,kaka tambah sedih lihat kamu begini."


"Harusnya aku yang ngomong gitu ke kaka." balas Gio malas membuat kakanya itu tertawa.tawa pertama setelah seminggu lamanya mereka di rundung kesedihan.


"Gi,walau bagaimana pun kamu tak seharusnya menceraikan ka Aya." Gio melirik kakaknya yang ikut duduk di pinggiran kasur." Percayalah permintaan ka Aya itu bukan dari hatinya.dia hanya butuh pembuktian dan kesungguhan kamu dalam rumah tangga dan seberapa besar kamu menginginkannya.harusnya kamu tetap kukuh dan pertahankan jangan sampe kata talak keluar begitu saja dari mulut kamu,"


"Emang kamu gak mikir panjang sebelum menceraikan istrimu,Gi?." Indri menatap adiknya yang hanya diam bersandar di kepala ranjang sambil memeluk lutut." Anak kalian banyak,dan masih kecil-kecil mereka butuh orang tua yang lengkap. mereka harus tumbuh di tengah-tengah kalian berdua.kalian tahu?perceraian kalian ini melukai perasaan mereka."


Gio masih tak bergeming hanya menatap jatuh pada dres hitam motif bunga melati yang tergantung di pintu lemarinya.masih ingat jelas saat Ayana menggenakannya di kamar ini.waktu itu yang paling Gio sukai bagian dada Ayana yang lebar bak dada model itu terlihat cantik efek dari baju ini yang memiliki kerut di bagian dadanya. sehingga mencetak jelas bagian bahu dan dadanya dengan sempurna.


"Talak satu kan?itu bisa kembali lagi. mudah-mudahan ka Aya belum mendaftarkan gugatan ke pengadilan. kalau pun udah kamu bisa ajukan banding usahakan agar percerain itu tak terjadi." Indri menoleh ke samping saat Gio tetap tak menanggapinya." Bukan apa-apa Gi.kaka menolak keras perceraian kalian karena kaka gak mau anak-anakmu sama seperti Billa.dia tumbuh tanpa ayah.kaka gak mau mereka sama merasakan apa yang ponakanmu rasakan."

__ADS_1


"Tetap saja,walau kalian adil dan kompak dalam mendidik dan menemani tumbuh kembang mereka.tapi tetap saja akan terasa berbeda dengan orang tua yang berada di rumah yang sama,yang sama-sama kompak mengurus mereka. mereka akan bingung dan bertanya-tanya mengapa orang tua mereka tidak tinggal bersama.jangan menciptakan luka untuk mereka,Gi." Indri masih terus berbicara meski tak di tanggapi oleh Gio.


"Setelah ini kaka mau ngomong sama Ka Aya." lanjutnya sembari mengambil selimbut di kasur Gio lalu menaruhnya di keranjang cucian.


"Ayolah bangun temui istrimu.buktikan kalau kamu bener-bener ingin mempertahankan pernikahan kalian.usaha lebih keras lagi,Gi.siapa tahu Aya luluh dan tersentuh setelah melihat usaha dan kesungguhan kamu.jangan korbankan anak-anak kalian.kaka tau ka Aya itu gak bener-bener ingin cerai dari kamu.dia cuma lagi stres dan merasa tertekan, namanya juga orang hamil pasti pikiran dan perasaannya aneh-aneh." Indri berdiri kemudian menepuk pundak adiknya." Ayo buktikan kesungguhanmu kalau kamu bener-bener mencintai dia."


"Pembuktian dan kesungguhan yang seperti apa lagi Ka?bahkan aku menggadaikan seluruh hidupku untuk dia." Indri menarik napas mendengar balasan adiknya." Ayana itu keras kepala angkuh, dia merasa mempunyai segalanya.dia bisa melakukan apa pun dengan hanya menjentikan jarinya saja.jadi untuk apa aku berusaha lagi?sekeras apa pun usaha aku gak akan mempan.dia punya segalanya mana mungkin butuh lelaki seperti aku."


"Sekarang aku sadar.aku ini hanya lelaki biasa,miskin dan tak punya apa-apa memang tidak sebanding dan pantas untuk menjadi pendampingnya.salahku juga gak sempat melihat ke bawah dan tak sadar dari mana berasal.aku terlalu terbuai mimpi yang indah yang seakan nyata.namun sekarang aku udah bangun dari mimpi itu Ka." Gio mengusap sudut matanya yang berair.rasanya dia baru terbangun dari mimpi yang indah.dia tersadar dari mana dia berasal,tak seharusnya ia melupakan fakta itu.


Indri tak bicara lagi hanya menarik napas berat melihat kepelikan rumah tangga adiknya yang berada di ujung tanduk. kesedihan mereka saja belum usai karena di tinggal Mira,kini bertambah dengan rumah tangga Gio yang terancam bubar.


"Istirahatlah,kaka mau angetin sayur dulu. kamu belum makan dari siang,Dek." Gio tak menjawab saat kakanya meninggalkan kamar.


Di tempat lain,Ayana yang sedang mengayun bayinya di dekapannya itu meringis merasakan ngilu di bekas jahitannya.sejak jam 7 malam bayi berusia seminggu ini tak mau tidur,dia menangis dan tidak mau di letakan di kasur.hanya ingin di gendong dan di ayun-ayun.dia juga tidak mau di ayun di ayunan elektrik yang selalu tersedia di pinggir ranjang Ayana.bahkan Ayana sudah mencoba meletakannya di ayunan per siapa tahu anaknya akan nyaman dan diam.namun bayi itu malah tambah kejer sampai seluruh wajahnya memerah semua karena menangis terus menerus.


"Ssstt,tidur ya nak.bunda mau tidur juga." bisik Ayana pada bayinya.ia mengusapi pelan punggung anaknya selama bermenit-menit.rasanya seluruh tangan Ayana kebas semua.bahkan pinggang wanita itu terasa mau copot saat ini.hampir subuh bayinya itu baru benar terlelap membuat Ayana menarik napas lega.


"Tidur ya,bunda lapar mau makan dulu." Ayana meletakan anaknya di box bayi kemudian ia mencari makanan yang selalu tersedia di kamarnya.hanya semangkuk kecil sereal yang masuk ke perut wanita itu sejak magrib dia belum makan apa-apa karena sibuk dan malas.lagi pula tak merasakan lapar.setelah selesai dengan sarapannya.Ayana berdiri di depan kaca yang ada di kamar mandinya.ia memandangi dirinya yang terlihat seperti zombie saat ini.lingkaran hitam di bawah matanya yang mulai cekung terlihat jelas.bibir yang kering pecah-pecah serta pucat memperjelas keadaannya saat ini tubuhnya kurus kering,rambutnya pun kusut tak terurus.


Ayana menangis di depan cermin besar itu. kemana dirinya yang dulu yang cantik dan selalu tampil modis dengan setelan blezer formal.atau gaun seksi juga baju-baju mini ala wanita-wanita bangkok.kemana semua itu.saat bersama dengan Gio ia masih bisa mengurus dirinya karena ada Gio yang siap siaga begadang menjaga bayi mereka.tidak seperti sekarang ini semuanya ia lakukan sendirian.


Sempat terpikir oleh Ayana bahwa dia harus merendahkan egonya untuk menghubungi Gio agar lelaki itu datang kesini.namun ucapan Gio pada saat menanyakan kehamilannya selalu terngiang.hati yang sempat melunak itu kembali mengeras.lagi pula tak ada gunanya ia memanggil Gio untuk datang. karena sejak awal lelaki itu sudah meragukan anaknya.jika Ayana sekarang menghubunginya meminta untuk datang maka Gio akan merasa besar kepala karena sangat di butuhkan.


"Gak akan.aku bisa dan mampu mengurus anakku sendiri." ucap Ayana pada dirinya sendiri.kemudian ia melangkah guna melihat bayinya yang sedang pulas." Tenang sayang,jangan takut,kamu gak usah kawatir ada bunda di sini.yang selalu ada untuk kamu.yang akan terus menemani kamu sepanjang waktu.kamu punya bunda,Nak."


...☘☘☘☘☘☘...


"Ayah..." Jemia berteriak girang saat melihat Gio yang menyambutnya.gadis kecil yang baru turun dari mobil itu berlari menghampiri sang ayah yang sedang merentangkan tangannya.tak peduli teriakan oma dan opanya melarangnya agar jangan berlari.


"Ayah lebih kangen,sayang." balas Gio seraya mendekap putrinya lebih erat menciumi seluruh wajahnya dengan gemas.


"Banyak tamu ya,Gi?" tanya Monica yang baru sampai di teras rumah Gio.wanita itu melongokan wajah ke dalam terlihat di sana beberapa orang memenuhi dapur rumah Gio.


"Iya Mah,ada kerabat ibu dari jauh.itu lagi pada nyiapin buat nanti malam." jawab Gio lalu mempersilakan mertuanya masuk ke dalam setelah menyalami tangan keduanya.


"Aya sama si dede gimana Mah?" bisik Gio pada Monica yang baru saja duduk setelah menata barang bawaannya.rasanya gatal mulut Gio ingin tahu bagaimana keadaan Ayana saat ini.kemudian mereka bertiga duduk di samping rumah Gio sedikit menjauh dari kerumunan orang-orang.


Monica terlihat menarik napas berat lalu menatap Frans sebentar meminta persetujuan untuk mengatakan yang sebenarnya." Begitulah,Mamah gak bisa bilang Ayana baik-baik aja.keadaannya cukup buruk,Gi.badannya kurus kering setiap hari hanya melamun dan melamun aja.memilih mengurung diri dan menolak di bantu oleh kami.pelayan di rumah juga yang udah Mamah sediakan dia tolak."


"Sekarang Ayana jarang makan.gizinya juga gak cukup untuk asinya.makanya asinya seret itu yang buat bayinya rewel kalau ga di bantu susu formula mah gak tau deh gimana." lanjut Monica seraya terus menggelengkan kepalanya.


"Terus si dedenya gimana Mah?" Gio penasaran dengan keadaan anaknya karena Monica tak menceritakan keadaannya.


"Dia baik dan sehat.cuma ya gitu rewel terus mungkin dia tau kali dan ikut merasakan keadaan orang tuanya yang tidak baik-baik aja." Monica menjelaskan secara rinci mengenai keadaan Ayana dan anaknya itu.Gio menarik napas berat,jujur dia kawatir dengan mereka.tapi bagaimana ia bisa kesana menemui Ayana wanita itu sudah melarangnya untuk tidak datang.Ayana juga meminta Gio menemui anaknya sebulan sekali saja.


"Temui Aya,Gi.kembalilah luluhkan hatinya. Papah yakin dia akan menerimamu lagi, kemarin dan saat ini dia lagi khilaf karena menuruti amarahnya sendiri.tapi ketahuilah sekarang dia menyesali semuanya.Papah tau seperti apa dia.ayolah,Gi.selain demi keutuhan keluarga kalian.ini juga demi anak-anak jangan membuat mereka merasakan dampak dari percerain orang tuanya.kamu mau kan dan bersedia kembali dengan putri Papah yang keras kepala itu?."


Gio hanya diam mendengar ucapan Frans barusan.entah harus menjawab bagaimana.di sisi lain dia bingung bagaimana bisa menuruti ayah mertuanya itu karena Ayana sudah tidak mau menerimanya lagi.tapi Gio juga setuju dengan Frans,ia harus melakukanya demi keutuhan rumah tangganya,tak peduli meski ia merangkak dan bersujud di bawah kaki Ayana asalkan wanita itu mau menerimanya kembali sebagai suami dan ayah dari anak-anak.


"Gi?" Frans menuntut jawaban dari Gio karena sejak tadi lelaki itu hanya diam menunduk.


"Tentu mau Pah,keinginan aku untuk kembali dan tetap bersama Aya hingga menua dan di pisahkan oleh umur tak pernah luntur dari hati.kapan pun itu aku selalu bersedia kembali saat Ayana juga bersedia.tak pernah sedikit pun ada keinginan berpisah dan jauh dari putri Papah.aku mencintainya segenap jiwa setulus hati." jawab Gio sambil mendekap putrinya yang sedang memakan camilan bernama dodol.


Monica mengusap matanya yang basah mendengar perkataan Gio.ungkapan lelaki itu begitu tulus bisa Monica rasakan. bagaimana bisa Ayana menyianyiakan lelaki tulus seperti Gio ini.Monica benar-benar tak habis pikir akan putrinya itu yang kurang bersukur.di berikan lelaki baik dan tulus seperti Gio tapi malah di tendang sesuka hati.

__ADS_1


"Papah harap kalian rujuk lagi setelah masa iddah Aya selesai.maka mulai saat ini kamu boleh sering datang ke rumah untuk meluluhkan hatinya kembali.si kepala batu itu pasti akan melunak lama-lama.kita lihat seberapa lama dia mempertahankan gengsinya itu." ujar Frans yang di angguki Gio.


"Terima kasih Pah.aku akan melakukannya pelan-pelan semoga saja berjalan sesuai harapan." balas Gio.kemudian mereka masuk ke dalam rumah untuk berbincang dengan para tetangga Gio.sebelum hari benar-benar sore Gio membawa kedua mertua dan putrinya itu ke makam Mira.


Sesampainya di makam Mira,mereka menabur bunga dan berdoa yang di pimpin oleh Gio.setelah itu Monica menabur bunga dan air mawar.anak Gio terus saja memerhatikan dengan raut bingung.ia tak mengerti apa yang sedang mereka lakukan saat ini.dan apa itu yang sedang omanya taburi dengan bermacam bunga saat ini.


"Oma,emang ini apaan?" tanya Jemia penasaran.


Gio yang mendengar pertanyaan putrinya itu langsung meminta Jemia duduk di pangkuannya.ia menunjuk nisan yang terpampang nama Mira di sana." Jem tau ini mama siapa?"


"Nggak." jawab Jemia karena ia memang tidak paham dan belum bisa membaca.tapi jika di eja dia bisa.


"Coba baca satu-satu." titah Gio.putri Gio itu langsung menurut setelahnya mengerutkan kening.


"Ini nama siapa Yah?" katanya bingung.


"Ini Oma,oma Mira.Jemi tau kan,nenek?"


"Oma?oma di dalam sini Yah?" putri Gio keheranan dia menatap ayahnya menuntut penjelasan." Kenapa oma bisa di sini Ayah?"


Mata Gio mengembun seketika." Oma udah pergi,di panggil allah lebih dulu." jelas Gio meski ia yakin anaknya makin tak paham akan penjelasannya itu.


"Tapi nanti omah pulang kan Yah?"


Monica segera meraih cucunya agar tidak bertanya macam-macam lagi.rasanya tidak tega melihat wajah Gio yang kembali sedih itu." Nenek kenapa di dalam tanah Oma?" lagi Jemia bertanya pada omanya.


"Nenek Jem udah meninggal sayang.jadi di kubur di dalam sana." jelas Monica sembari berjalan lebih dulu meninggalkan area pemakaman.


"Meninggal itu kaya anaknya Cio ya Oma?anaknya Cio kan meningal terus di kubur." terus saja Jemia berceloteh hingga mereka sampai di rumah Gio.


...☘☘☘☘☘☘☘...


Karena merasa haus Ayana berjalan ke lantai bawah hendak meminta tolong pada Kang Maman agar mengisikan air di dispenser yang ada di kamarnya.ia keheranan rumah tampak sepi mana mungkin kedua orang tuanya itu belum pulang.setelah meminta Bi Juju mengisikan air galon.Ayana menuju kamar anaknya di sana ada suster yang menemani si kembar main.


"Kemana Jemia,Sus?" tanya Ayana.


"Ikut nyonya keluar sama Tuan dari tadi siang Non." jawab suter Risma.


"Kemana?"


"Oh,kalau itu ga bilang kemananya mah Non mungkin ada kondangan kali soalnya bawa barang dan kue-kue gitu."


"Ya udah.jangan biarin mereka tidur malam." Ayana kembali ke kamarnya.ia yakin kedua orang tuanya itu membawa Jemia kondangan ke rekan bisnisnya paling,begitu pikirnya.


Malam harinya Ayana tidur dalam keadaan pulas.sesekali bibir wanita itu melengkung menandakan bahwa ia tengah bermimpi indah dalam tidurnya.ia bermimpi sedang di manja oleh Gio,awalnya lelaki itu tengah mengerjainya dengan menciumi seluruh wajahnya.dan malam itu kebetulan bayinya tidak rewel dan pulas mungkin karena kenyang sebelum tidur meminum banyak asi dan susu.namun tidur pulas bayi itu hanya bertahan beberapa saat.membuat mimpi Ayana terganggu .


"Gi?" Ayana tersentak dan langsung membuka matanya saat mendengar suara tangis putranya yang melengking.ia segera terbangun mengabaikan perutnya yang masih ngilu jika di gerakan.bayi itu rewel seperti biasa membuat Ayana kewalahan dia terjaga hingga pagi menjelang.


"Aku capek,Gi.aku capek." Ayana duduk dan tergugu di pinggiran ranjang.ia menangisi keadaan dirinya saat ini.rasa lelah dan kantuk menyerangnya tanpa henti sedangkan sang anak sulit sekali di ajak kompromi.Ayana menyesali semuanya mengapa dia menjadi berantakan seperti ini.sedangkan Gio mungkin saja sekarang sedang bersenang-senang di luar sana.bisa saja lelaki itu mencuri waktu untuk menghibur diri di tengah kerepotannya mengurus Mira.


"Lihat aja kalau itu benar adanya.aku akan menjauhkan anak-anak dari kamu." Ayana mengoceh sendiri seolah tengah bicara dengan Gio di ruangan yang sama." Urus aja sana anak mantanmu itu.gak usah pedulikan anak-anakku." tangisnya kembali pecah sambil memukul dadanya yang sesak.


"Benar kata orang punya suami itu harusnya yang lebih tua.bukan anak-anak macam dia.lihat sekarang dia seolah terbang bebas hingga lupa pada anak-anaknya.bahkan baru seminggu tapi udah hilang bak di telan bumi." Terus saja Ayana mengoceh meluapkan kekesalan di hatinya tanpa henti


Ayana menyalahakan Gio yang tak pernah mengunjunginya sekali pun setelah menceraikannya malam itu.meski tak menampik Ayana pernah melarang Gio untuk datang kesana dan mengusir lelaki itu saat di rumah sakit waktu mengunjunginya.tapi tak seharusnya Gio menyerah begitu saja.harusnya lelaki itu tetap datang melihat anak mereka.jika memang hanya mereka yang menjadi pusat kebahagiaan dan tujuannya. atau mungkin karena ada hal lain yang membuat lelaki itu beralih,siapa lagi kalau bukan mantan pacarnya.

__ADS_1


"Dasar lelaki semuanya sama aja.enak setelah lepas bisa bebas sana-sini." maki Ayana sebelum menjatuhkan dirinya akan tidur ia harus mengistirahatkan pikirannya walau sejenak.


__ADS_2