Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
50


__ADS_3

Gio langsung menutup dan mengunci pintu kamar,dirinya begitu ketakutan saat ini takut Ayana tidak percaya kepadanya.Gio sudah membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi jika Ayana lebih mempercayai sepupunya yang gila itu.bagaimana jika istrinya Gio itu salah paham." Ka." Gio memegang tangan Ayana dan mengajaknya untuk duduk di tepi ranjang.


"Kenapa?." tanya Ayana datar.perempuan itu terlihat masih mengatur napasnya akibat emosi yang meluap-luap tadi.Gio harus waspada dan jaga-jaga jika Ayana mengamuk.


Gio menelan ludah dengan kasar." Kaka percaya kan sama aku?aku tadi gak ngapa-ngapain sama Thea,aku_"


"Udah.gue udah tahu kok.jangan ngomong lagi gue udah lihat semuanya." potong Ayana membuat Gio tambah ketakutan.


"Aku berani bersumpah tadi sama Thea gak ngapa-ngapain.aku juga gak tahu dia tiba-tiba masuk ke kamar kita dan_"


"Iya,iya.udah gak usah di jelasin lagi." sela Ayana dan lagi-lagi membuat Gio tambah ketar-ketir.dirinya harus menjelaskan seperti apa lagi agar Ayana percaya kepadanya.


Gio tidak bisa diam saja dan masalah akan melebar.apa lagi sepupu Ayana itu pintar sekali memutar balikan fakta,Gio kawatir jika gadis gila itu akan kembali mengada-ngada.Gio menatap istrijya itu tangan besarnya memegang kedua tangan Ayana." Aku gak bisa diam aja kalau kamu seperti ini,aku gak tenang kalau kita belum bicara.biar aku jelaskan semuanya,agar kamu gak salah paham sama aku sekarang dan ke depannya." ucap Gio dengan tenang.


Ayana menarik napas lalu mengeluarkannya perlahan." Iya udah lo mau ngomong apa?." tanyanya kepada Gio.mengalah karena tidak ingin memulai keributan dirinya lelah dengan semua drama yang di ciptakan oleh sepupunya itu.


"Aku cuma mau jelasin kalau tadi saat pintu tertutup,di dalam gak terjadi apa-apa aku cuma ngomong sama Thea,maksud aku mau ngusir tanpa menyinggung.tapi sepupu kamu itu udah bikin aku emosi dan hampir aja kelepasan kalau aja dia itu cowok.karena makin aku diami,dia malah seenaknya.aku gak mau kaka salah paham makanya aku seret dia keluar.tapi malah ngomong yang enggak-enggak di depan keluarga dan kamu." jelas Gio dengan sejelas-jelasnya sembari tetap menatap sang istri.


Ayana mengangguk dengan serius." Iya gue percaya sama lo.tadi gue ikutin Thea ke atas karena penasaran dia mau ngapain karena udah beberapa hari ini gue gak nyaman sama dia yang terus-terusan nempelin lo mulu.dan saat tadi gue lihat dia masuk kamar kita,jujur aja gue syok dia senekat itu." ujar Ayana.


"Udah sering masuk kamar kita Ka. makanya aku risih dan gak nyaman meski dia sepupu kamu,tapi kami ini lawan jenis aku takut terjadi hal-hal yang gak di inginkan.apa lagi.maaf-maaf aja ya sepupu kaka ini agak binal menurutku." ucap Gio dengan jujur.


Ayana terkekeh sembari mengusap rahang Gio." Kalau Thea binal,terus gue gimana?" goda Ayana sengaja.tangan lentik itu membelai rahang kokoh Gio,lalu belaiannya turun ke leher Gio membuat lelaki itu meremang hingga jakunnya naik turun.


"Ka,berhenti dong jangan aneh-aneh.udah dua minggu loh aku." peringat Gio berusaha untuk tidak terpancing oleh belaian liar Ayana yang membuat seluruh bulu di tubuhnya meremang.


Ayana malah terkikik pelan sembari terus mengelus dada Gio.dirinya sengaja ingin melihat seberapa kuat Gio menahan godaannya." Ya udah deh.gue ke luar dulu mau ambil Mia.nanti malah kebablasan lagi gue belum boleh di kunjungi masih di tutup palangnya." ucap Ayana sembari menggoda dirinya senang saat melihat wajah Gio yang berubah menggelap seperti ini.


Gio mencegah Ayana yang akan berdiri lalu memeluk istrinya dari belakang sembari menekan miliknya yang sudah mengeras di belakang tubuh Ayana." Ka.." panggil Gio sembari menaruh bibirnya di leher Ayana.bibir tebal itu mulai nakal menelusuri leher Ayana,tangan Gio sudah melingkar di perut istrinya dan berusaha untuk tidak menggapai dada Ayana yang terlihat menantang itu.Gio tidak ingin membuat Ayana ter*ngsang karena bahaya jika Ayana terpancing gairahnya bisa-bisa jahitan yang belum menyatu sempurna itu kembali koyak oleh rudal Gio.


"Kenapa?sana ih jangan glendotan begini. gue mau ambil Mia ini udah malam soalnya." ujar Ayana seraya melepaskan pelukan Gio namun bukan melepaskan Gio malah mengerat bak di lem saja hingga merapat.


"Bantuin aku.aku butuh kamu sekarang. mau ya?." pinta Gio memohon.


"Bantuin gimana?emang lo mau ngapain hah?." tanya Ayana pura-pura tidak tahu padahal dirinya merasakan benda keras yang mengganjal di belakang tubuhnya ingin sekali ia menarik benda itu lalu memasukannya ke miliknya saat ini juga karena jujur saja,Ayana juga sudah merindukan Gio memasukinya.


"Bantu ini biar jinak." Gio menggesekan bagian bawah tubuhnya ke bokong Ayana.


"Ishh,gue gak bisa atuh kan belum empat puluh hari.ini masih berdarah loh,Gi.jahitan gue aja baru kering belum sepenuhnya menyatu." ucap Ayana jujur,memang benar dirinya tidak berbohong.masih perih dan di pakai jalan saja masih mengganjal tapi Ayana juga sudah tidak sabar ingin bercinta dengan Gio.


Gio merapatkan pelukannya sembari mengendus leher Ayana." Aku tahu,dan aku gak meminta untuk masuk kesana kok, Sayang.pakai cara lain aja,jalur alternatif." ujar Gio seraya mengecup daun telinga Ayana membuat perempuan itu merinding.


"Ya udah tapi cepetan ya.kasihan Mia sama ncus dari tadi." Ayana kemudian berjongkok dan membuka pengait celana pendek yang di kenakan oleh Gio.lalu mengeluarkan benda yang begitu gagah dan berotot itu.begitu indah di pandang pikir Ayana,berdiri mengacung dengan tegak dan kokoh.Ayana mengelusnya dengan lembut bahkan kepalan satu tangan Ayana tidak cukup menggenggam benda itu.karena begitu besar nan panjang Ayana mulai menunduk dan menjalankan tugasnya.


"S**t.Ka,kamu luar biasa." d*sah Gio saat Ayana mulai melakukan tugasnya dengan benar.Gio menekan kepala istrinya dan melelepkan sepenuhnya miliknya ke mulut Ayana.


"Uwokhhh." Ayana tersedak dan memukul paha Gio.lalu dirinya melepaskan permen batang berukuran jumbo itu." Kenapa sih mesti di lelepin kaya gitu?lo pikir punya lo kecil dan pendek apa?lak-lakan gue berasa mau lepas ini." sungut Ayana kepada suaminya.karena barusan Gio mendorong kepalanya agar melahap sepenuhnya miliknya.


Gio menyengir malu dan tidak enak." Habisnya cuma sepotong.biasanya juga sampe masuk semua." ujar Gio sembari mengulum senyum.


Ayana mendekus sebal." Kan pelan-pelan, gak bisa langsung panjang dan gede soalnya,sampe pegel nih mulut gue." sahutnya lalu mengurut peremen batang itu membuat Gio reflek mendesah.


"Ya udah pelan-pelan aja_aahhh..sshhh." desah Gio saat Ayana kembali melahap habis miliknya.istrinya Gio itu melakukan tugasnya dengan baik dan lihai karena sudah berpengalaman selama menikah dengan Gio.Ayana yang polos tentang hal ini,kini sudah di racuni oleh Gio hingga perempuan itu sedikit lagi sudah bisa di katakan pro.

__ADS_1


"Ka,mmm_oughhh.aahhh." racu Gio kepalanya mengadah ke atas dengan mata terpejam desisannya begitu lirih.dan tangannya membelai kepala Ayana dengan sayang.luar biasa pikirnya membuatnya tidak ingin berhenti.saat menuju puncaknya Gio menggeram lirih setelah Ayana selesai." Makasih ya.kamu luar biasa sayang." ujarnya sembari mengecup kening Ayana.perempuan itu masih mengatur napas karena mulutnya pegal dan lelah.


"Udahkan?." tanya Ayana seraya menjilat bibirnya lalu berdiri dengan perlahan dan Gio membantunya.


Gio mengangguk lalu merapikan kembali celananya.usai itu menuangkan air ke gelas untuk Ayana minum." Makasih, servisnya luar biasa patut di beri penghargaan berupa sertifikat rumah misalnya." Gio terkekeh melihat Ayana yang hampir menyemburkan air dari mulutnya.


"Apaan sih?." dengus Ayana kemudian menghabiskan satu gelas air minum.


"Yuk keluar.sekalian bicara sama Papah dan Mamah,juga kakek nenek.lurusin yang tadi biar semuanya enak." ajak Gio sembari merangkul bahu Ayana lalu keluar kamar.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Sarapan pagi ini tidak seperti biasanya. semua orang lebih banyak diam termasuk Gio dan Ayana.wajah Althea lebih mendung pagi ini.gadis muda itu melihat Gio penuh permusuhan.Raharjo dan Melani sudah bersiap akan pulang hari ini juga.


"Cepatan sarapannya,Thea.kita pulang sekarang juga" ucap Melani setelah menaruh tas dan kopernya.


"Aku udah kok dari tadi." sahut Althea dengan ketus.ia melihat Gio dan Ayana dengan wajah masam.


"Baguslah,cepetan lo pulang sana.ngapain di sini juga cuma ganggu rumah tangga gue doang." ketus Ayana dengan wajah bengis.Gio mengusap bahu sang istri agar tidak emosi pagi-pagi seperti ini.tidak baik untuk kesehatan Ayana dan produksi asinya akan berkurang nanti.


"Oke Ka.aku juga pulang kok gak usah ngusir kaya gitu.tenang aja aku juga gak akan datang ke rumah ini lagi." balas Althea dengan sama ketusnya.


Ayana mengangguk dengan cepat." Iya udah bagus gue lebih suka malah." sahutnya.membuat Althea mengepalkan tangannya dengan kesal.dirinya memaki dalam hati agar Ayana merasakan rasa sakit dan penghinaan atas apa yang di rasakan Althea saat ini.


Althea berdiri dari meja makan lalu menarik koper dan tasnya." Aku pamit bude,Pakde makasih atas tumpangannya selama ini makasih juga sudah baik sama Thea.tapi mulai hari ini Thea gak bakal kesini lagi." pamit Althea kepada Frans dan Monica.


"Rumah bude dan Pakde akan selalu terbuka untukmu,Thea.jangan bicara seperti itu sama keluarga sendiri.ka Ayana lagi sensitif perasaannya jangan terlalu di anggap ucapannya." ujar Frans berusaha netral meski sebetulnya ia sangat kecewa kepada keponakan istrinya itu.


"Gue gak berubah kok,lo aja yang baru sadar sama sifat gue.udah gak usah drama cepetan pulang sana eneg gue lama-lama sama lo.jangan sampe gue kena baby blues gara-gara denger ucapan sampah dari mulut lo itu." tukas Ayana kemudian berdiri dari meja makan dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.


"Nah itu akibatnya,makanya jangan banyak tingkah,Thea." omel Melani dengan kesal. keduanya berjalan menuju garasi usai berpamitan kepada Monica dan Frans dan Gio.Melani sengaja tidak pamit kepada Ayana karena wanita itu sedang kesal saat ini.biarlah nanti mereka akan meneleponnya.


"Bela aja terus cucu kesayangan nenek itu. kasihan banget iri dia sama aku yang masih seger dan muda ini.sedangkan dia udah tua dan bentar lagi juga peot.aku sumpahin biar suaminya nyari selingan di luar sana." sumpah Althea berapi-api.


"Hati-hati kamu ke makan sumpah sendiri." Raharjo menegur cucunya dengan wajah emosi.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Sebelum berangkat kuliah dan kerja Gio menyusul istrinya ke kamar,wanita itu terlihat duduk menghadap ke jendela dengan sisa jejak air mata di wajahnya.Gio memeluknya dari belakang lalu mengecup pipi mulus itu.


"Kenapa kok nangis,hmm?." tanya Gio pelan.


"Gue sakit hati,di katai tua dan peot terus sama dia.emang kenapa sih kalau gue tua?bukankah setiap manusia akan menua juga?lalu kenapa kayanya cuma gue yang di permasalahin di sini?." lirih Ayana dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan di dengarin ucapan dia dan mereka,mereka itu cuma iri sama kamu karena gak secantik kamu.yang muda-muda sekarang pas seumuran kamu belum tentu secantik dan sesegar kamu,biarkan aja mereka mau ngomongin apa hukum alam itu bekerja dengan nyata bahkan sekarang mah di bayar kontan gak di cicil lagi." ujar Gio dengan lembut sembari mengusap dan menyelipkan rambut Ayana ke telingannya.


"Setiap manusia yang hidup itu akan menua sayang.jangan dengarin ucapan mereka fokus saja sama Mia dan rumah tangga kita.karena bagi aku,apa pun bentuknya kamu,aku akan tetap mencintai kamu.bagaimana pun bentuk tubuh kamu gak akan ngebuat aku berhenti jatuh cinta sama kamu.karena bagi aku,kamu itu sempurna,aku mencintai kamu tidak peduli bagaimana bentukmu." lanjut Gio lalu mengusap air mata Ayana yang tak terasa meluruh.


"Aku kan udah bilang.tangan kita gak bisa menutup mulut mereka.tapi kita bisa menggunakan tangan kita untuk menutup kedua telinga kita,agar tidak mendengar kata-kata busuk dari mulut mereka." sambungnya.


"Tapi,tapi,Gi." sahut Ayana dengan suara tercekat.


"Udah-udah ya,kamu harus happy loh, sayang.biar stok ASInya Mia melimpah masa bundanya sedih gini sih?nanti ayah dan Mia minum apa?kan sumber kehidupan kami dari ini." Gio meremas sedikit dada Ayana yang terlihat menantang itu.terlihat penuh dan berisi membuat Gio tak sabar ingin membenamkan mulutnya di sana.

__ADS_1


Ayana memeluk Gio dengan haru karena begitu pengertian dan dewasa suaminya ini." aaaa.peluk." rengek Ayana lalu mengalungkan tangannya ke leher Gio.


Gio langsung mengangkat tubuh jangkung istrinya itu ke dalam pangkuannya." Jangan ngangkang sayang.nanti robek jahitan kamu." cegah Gio saat Ayana akan melingkarkan kedua kakinya ke pinggul Gio,bibir Ayana menganga baru tersadar.


"Eh iya.untung kamu ngingetin.kalau gak alamak gawat,pasti kebelah ini mem_"


"Yang." tegur Gio saat akan mendengar istrinya berbicara vulgar." Jangan ngomong seperti ini nanti kebiasaan.kalau cuma di depan aku gapapa.tapi kalau keceplosan di depan orang lain gimana, hmm?apa lagi kalau di dengar anak kita?gak baik buat pertumbuhannya.Sayang." tegur suami Ayana itu.


"Uluh-uluh suami aing sweet banget sih, jadi tambah cinta gue.coba aja jahitan udah kering dan masa nifas udah selesai udah gue goyang lo sampe patah." ujar Ayana membuat Gio menepuk jidatnya.


"Udah deh jangan ngingetin kesana.nanti aku kepengen lagi gimana?katanya eneg kalau harus senam mulut?mandi gih,aku mau kuliah,yang.nanti keburu siang." suruh Gio sembari mendudukan istrinya di ranjang.


"Masih pengen kelonan sama lo.libur aja sih sehari gapapa kali.gatel banget nih gue gara-gara makan ikan layur kali ya." ujar Ayana membuat Gio mengangkat alisnya tak mengerti.


"Gatal apanya?." tanya Gio.


"Semalam gue makan ikan layur panggang di suruh bi Narti,eh sekarang V gue gatal bawaannya pengen di col_"


"Lama-lama migrain aku,dengerin kamu ngomong.gak cuma kepala atas ini mah yang migrain." keluh Gio lalu ke kamar mandi untuk cuci muka supaya tidak migarain lagi.


Ayana malah terbahak melihat Gio yang berkali-kali merutuk itu." Rasain,emang enak gue kerjain siapa suruh punya kon kok baperan." ucap Ayana lalu ke kamar Mia untuk menyusui putrinya setelah berhasil membuat Gio migrain.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat, bayi Ayana sudah berusia empat puluh hari.besok adalah hari aqikahan putrinya Gio dan Ayana.sekalian mengadakan acara selametan pernikahan keduanya meski Ayana kekeuh tidak ingin mengundang orang banyak.karena sebetulnya tidak perlu.pada saat pernikahan mereka di adakan di hotel memang tidak terlalu banyak yang di undang tapi hampir separuh teman Ayana pada datang.dan akhirnya Frans dan Monica menuruti keinginan putrinya untuk tidak mengadakan selamatan,hanya mengadakan pengajian dan santunan anak yatim saja.seluruh keluarga sudah hadir di sana,termasuk keluarga Gio.


Ibu dan kaka Gio sudah berada dari dua hari lalu di rumah Ayana.hanya Althea yang tidak terlihat hadir,sepupu Ayana itu kabarnya masih sakit hati kepada Ayana.


"Semoga langgeng dan harmonis terus ya Gio dan Ayana." ucap salah satu kerabat Ayana dari Frans yang baru bisa hadir.


"Aminn.makasih doanya ya tante." ucap Ayana dan Gio bersamaan dan di aminkan juga oleh yang lain.kemudian keduanya bergerak menyalami tamu yang lain.


"Ngomong-ngomong Gio ini turunan bule ya Bu?soalnya Gio kaya orang barat banget loh,gak kaya orang kita." ujar salah satu tamu kepada Mira.tamu itu rombongan dari teman-teman arisan Monica.orang-orang yang ada di sana yang mendengarkan pertanyaan teman ibu Ayana itu pun menoleh kepadanya.dan memerhatikan Gio yang memang benar memiliki fisik seperti orang barat,alih-alih mirip ibunya.mereka yakin ayah Gio itu pasti orang luar.


Mira menegang sesaat,namun tetap tersenyum dan membalas pertanyaan ibu-ibu itu." Ayahnya orang pribumi sini Bu.cuman kebetulan saja anak saya di anugrahi fisik mirip orang luar.saya sangat bersukur putra saya gak mirip kami orang tuanya yang biasa-biasa saja ini." sahut Mira dengan senyum ramah di sertai candaan.


Tentu saja membuat semua orang heran. namun tetap menanggapinya dengan candaan agar tidak menyinggung." Owalahh,jadi Gio beda sendiri ya bu?." balas mereka dengan bercanda juga.


"Iya bu.mungkin biar di kira bule kali." ujar Mira.


"Gapapa bagus dong Bu kalau gitu.kalau saya mah udah bangga banget pasti kitanya lokal,tapi anak bule iya kan?." ucap yang lainnya.


Ayana dan Gio yang tidak jauh di sana ikut mendengarkan.tentu saja keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing Ayana yang kembali sadar jika wajah suaminya itu memang tidak mirip dengan kedua mertuanya itu pun,kembali kepikiran.Ayana kembali berpikir dan meragukan Gio.apakah suaminya itu benar-benar anak kandung Mira dan Pak Agus.atau Gio hanya anak angkat seperti dugaannya selama ini.setelah pertama kali berkunjung ke rumah Gio,Ayana memang sudah curiga akan hal itu.


Sementara Gio sibuk berpikir setelah bertahun-tahun lamanya,Gio baru kembali mendengar pertanyaan orang tentangnya. sebetulnya Gio pun sudah curiga dengan asal-usulnya ini.namun dirinya menutup mata dan telinga,tidak ingin mengurusi hal-hal sepele menurutnya ada banyak hal penting yang perlu ia urusi.dari pada meragukan asal-usulnya." Lo gapapa kan?." tanya Ayana saat melihat wajah Gio tiba-tiba menjadi datar dan lelaki itu mendadak diam.


Laki-laki itu tersenyum kepada istrinya." Gapapa.cuma kekenyangan aja tadi habis makan nasi bakar di depan." ujar Gio berbohong.


Ayana memegang tangan Gio dan mengelus punggung tangan lelaki itu." Apa pun kata mereka,kamu gak boleh meragukan ibu dan ayah,Gi.kamu jangan tanyakan apa pun pada ibu yang bakal ngebuat perasaan ibu terluka.kamu anak mereka dan mereka orang tua kamu.tidak peduli bagaimana awalnya,tapi kamu di didik dan besarkan oleh mereka dengan kasih sayangnya yang tulus.aku harap kamu jangan pernah bertanya apa pun pada ibu mau pun ka Indri." ucap Ayana dengan lembut.


Gio mengangguk pelan meski ada perasaan yang mengganjal di hatinya.tapi ucapan Ayana ada benarnya juga,siapa pun dan dari mana pun asal Gio.dia sama sekali tidak peduli.Gio hanya tahu Mira dan Agus adalah orang tuanya yang membesarkannya dengan penu cinta dan kasih sayang." Mau istirahat gak,Ka?ke kamar yuk,kamu gak boleh kecapean loh." ajak Gio karena tidak ingin Ayana kelelahan.sedari tadi istrinya itu tak henti menyalami tamu.


Ayana menggeleng cepat." Enggak ah, takut di unboxing kalau ke kamar." godanya membuat Gio terkekeh.ada-ada saja istrinya itu,padahal dirinya belum ke pikiran kesana.Gio masih trauma melihat Ayana melahirkan lalu jalan lahirnya di jahit tentu saja Gio tidak berani merobeknya kembali.

__ADS_1


__ADS_2