Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
Kesal


__ADS_3

Bara membanting pintu mobilnya dengan kuat. Wajah lelaki itu kusut, terlihat kalau dia sedang marah.


"Brengsek," pekiknya. "Awas saja kau, Bas. Aku akan singkirkan kau dari muka bumi ini," ucapnya dengan amarah, tangannya mengepal kuat dan rahang yang mengeras sehingga urat-urat lehernya terlihat jelas.


Bara masuk dengan wajah kesalnya. Baru saja dia mendapat info dari anak buahnya, kalau Bee tengah menggandung anak Bastian.


Bara duduk di kursi kebesarannya dan sesekali memejamkan matanya menetralisir emosi yang menggebu-gebu di dalam sana.


"Siapa Bastian sebenarnya? Kenapa sulit sekali mengalahkannya?" Bara menghembuskan nafasnya kasar.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya seorang pria berjas rapi dengan kacamata tebal yang bertengger di hidung mancungnya.


"Apa kau sudah menemukan siapa wanita yang tidur bersamaku sepuluh tahun lalu?" tanya Bara memijit-mijit pelipisnya yang terasa berdenyut sakit.


"Sudah saya kirim ke alamat WhatsApp Anda, Tuan," jawab lelaki berkacamata itu.


Bara mengambil ponselnya dengan cepat. Jujur saja dia benar-benar penasaran, siapa wanita yang telah menghabiskan malam dengannya saat itu. Walau sudah berlalu sepuluh tahun dia tetap tak bisa lupa, saat tatapan penuh gairah dari wanita itu. Apalagi, dia adalah orang pertama yajg menyentuhnya. Hal tersebut tak bisa hilang dari bayangan Bara.


"Wanita ini?" Bara menutup mulutnya tak percaya.


.


.


"Kenapa, Ra?" tanya Willy duduk disamping wanita itu.


"Aku rindu, Bee. Sejak hamil dia tidak pernah masuk lagi," sahut Rara menghela nafas panjang.


Willy meletakkan segelas jus di depan Rara. Mereka berdua sedang makan siang di kantin bersama beberapa karyawan lainnya.


Willy sudah mengetahui pernikahan Bastian dan Bee. Walau awalnya lelaki gemulai itu sempat syok, tetapi saat dijelaskan dengan detail oleh Bee, akhirnya dia paham sendiri.


"Kemarin aku bertemu Tuan Bara, tetapi aku merasa tatapan matanya tak biasa. Seperti mengingatku pada masa lalu," ungkap Rara dengan helaan nafas panjang.


Setelah perpisahannya dengan sang mantan suami, membuat wanita itu trauma berat dalam menjalani hubungan. Dia berhati-hati dalam membuka hatinya. Sebab patah hati nyatanya selalu meremukkan sebagian isi dadanya.

__ADS_1


"Tuan Bara?" ulang Willy.


Rara mengangguk. Semalam dia tak bisa tidur karena tatapan Bara masih terngiang di kepalanya. Aneh, benar-benar aneh, padahal bukan pertama kali dia bertemu dengan lelaki itu. Tetapi kali ini rasanya sangat berbeda.


"Apa kau mengingat sesuatu?" tanya Willy.


Rara menggeleng, "Entahlah, aku tak ingat apapun," sahut Rara.


Willy dan Rara adalah dua orang yang sama-sama terluka dimasa lalu. Mereka telah dikecewakan oleh orang-orang yang mereka sayangi. Rasa sakit dan trauma itu hingga kini telah mendarah daging dan membuat hati keduanya belum seolah tak bisa di cairkan lagi.


"Kau masih memikirkan Dino?" Willy melirik sahabat.


Rara terkekeh, "Tentu saja masih, Wil. Bagaimana bisa aku melupakan seseorang yang pernah menghabiskan waktu denganku?" sahut dengan nada beratnya. Dia sangat mencintai mantan suaminya itu. Dia pikir, Dino akan menerima dia apa adanya. Ternyata lelaki itu malah menatap dari masa lalunya.


.


.


"Jadi Tuan Muda Bastian, adalah suami Bee?" ulang Ragil sekali lagi.


Jujur Ragil sangat syok mendengar pernyataan dan penjelasan sang asisten. Dia mengenal seperti apa sifat Bee, mantan kekasihnya itu menyukai pria dewasa dengan wawasan luas. Sementara Bastian, adalah anak orang kaya yang masih bau kencur dan bahkan belum mengerti apa-apa. Bagaimana bisa selera Bee tiba-tiba turun setelah putus dari Ragil?


"Kau yakin?" ulang Ragil, barangkali yang disampaikan oleh asistennya hanya salah bicara saja atau sesuatu yang tidak benar.


"Iya Tuan. Saya sudah menyelidiki dengan detail," jawab sang asisten.


Ragil menghela nafas panjang. Pantas saja Bee terlihat syok saat dia mengatakan bahwa Bastian adalah ketua mafia, ternyata wanita itu telah menikahi seorang brondong.


"Baik. Kau boleh keluar," usir Ragil.


"Saya permisi, Tuan."


Ragil kembali melamun dan menatap kosong kearah jendela ruangannya. Kenangannya bersama Bee masih terekam jelas di kepalanya. Wanita itu adalah cinta yang tak bisa dia lupakan meski sudah berlalu setelah sekian tahun. Bahkan bayangan Bee tak pernah benar-benar lepas dari kepalanya.


"Bee," lirihnya memejamkan mata sejenak. "Maaf dulu pernah menyia-nyiakanmu, sekarang kau sudah menjadi milik orang lain," gumam Ragil penuh penyesalan.

__ADS_1


Ragil teringat saat dirinya bertemu dengan Bee di cafe kemarin. Wajah wanita itu jauh berbeda dari biasanya. Sikap Bee yang dingin dan tak tersentuh membuat hati Ragil berdenyut sakit. Sikap wanita itu seperti menyadarkan dirinya bahwa sesuatu yang sudah pergi takkan mungkin kembali lagi.


"Kau harus tahu siapa Tuan Muda Bastian. Aku akan menyelamatkanmu darinya. Dia bukan orang baik, Bee," ucapnya lagi sambi menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Ragil berdiri dari duduknya. Dia adalah pria yang patah hati akibat keegoisan kedua orang tua nya. Ragil meninggalkan Bee karena ancaman. Dia pikir wanita yang di pilihkan oleh kedua orang tua nya adalah jodoh istri yang baik. Tetapi ternyata dirinya dipatahkan kenyataan dan keadaan.


"Kenapa kau tega, Sil?" tanya Ragil terdengar lirih dan sendu, suaranya benar-benar menyayat hati sehingga menimbulkan luka mendalam.


"Kenapa kau tak bilang jika kau bosan? Kenapa malah mendua dan menyiksakan luka?" gumam Ragil yang terus bermonolog sendiri didalam ruangannya.


Lelaki itu keluar dari ruangannya. Dia tak peduli dengan sapaan para karyawannya.


Dia masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat. Rasa sakit atas pengkhianatan dari Sisil membuatnya sadar tentang apa yang pernah dia lakukan pada Bee. Hukum karma itu berlaku pada orang-orang yang sering melakukan kejahatan.


Sampai di rumahnya, Ragil langsung turun dan membanting pintu mobil dengan kuat. Entah kepada siapa saja marah?


"Tumben pulang cepat, Kak?" tanya Alsya.


Ragil duduk di sofa sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Mereka memang hanya tinggal berdua saja. Sedangkan kedua orang tua mereka menetap di luar negeri.


"Capek!" jawab Ragil sambil melepaskan jasnya.


Alsya menatap kakaknya penuh selidik, kalau sudah galau seperti ini pasti lelaki itu sedang ada masalah.


"Pasti lagi memikirkan Kak Bee?" tebak Alsya.


"Hem!" Ragil hanya berdehem sambil menyandarkan punggungnya. "Bee ternyata istri Tuan Muda Bastian," jelas Ragil.


"What's?" pekik Alsya terkejut.


Ragil hanya mengangguk. Wajahnya tampak lelah, patah hati memang tak pernah bercanda.


"Jadi Bastian dan Kak Bee, sudah menikah?" ulang Alsya sekali lagi sambil menutup mulutnya tak percaya.


Bastian adalah pria terfavorit di sekolah Alsya saat SMA. Siapapun tahu bahwa pria itu sedang dekat dengan bunga sekolah bernama, Cantika. Lalu kenapa tiba-tiba sudah menikah? Kapan Bastian dan Bee menikah?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2