
"Bee, kau ingin beli apa?" tanya Rara sibuk memilih pakaian di toko yang mereka kunjungi.
"Aku membeli dasi untuk Bastian," jawab Bee sambil melihat-lihat beberapa dasi yang bergantung.
"Cie, mulai perhatian sama suami brondong nya!" goda Rara mengedipkan mata jahil kearah Bee.
Bee hanya tersenyum dan tak menanggapi, sifat tenang wanita ini menjadikan dia berbeda. Dalam menghadapi masalah pun, Bee tidak pernah gegabah dalam mengambil keputusan. Dia selalu memikirkan resiko-resiko yang mungkin saja akan menjadi akibat jika dia tidak hati-hati.
"Aku ambil ini saja Bastian pasti suka," ucap Bee sambil tersenyum sambil membayangkan suami bocil nya itu memakai dasi pilihannya.
"Cie sekali dua," goda Rara.
"Mumpung Bastian lagi baik hati, dia memberikan aku kartu hitam nya," ucap Bee menunjukkan kartu hitam di tangannya.
"Gila, Bee. Suami bocil tapi sultan," ucap Rara geleng-geleng kepala.
"Ini nafkah pertama dari Bastian, perusahaan mengalami keuntungan besar bulan ini. Tidak sia-sia dia bekerja keras untuk memimpin perusahaan ini," ucap Bee bangga. Dia memang di berikan kartu hitam oleh suaminya. Bee sendiri tak menyangka jika Bastian bisa memiliki uang sebanyak itu.
"Hebat," puji Rara berdecak kagum. "Walau masih bocil tapi memiliki banyak uang!" seru Rara.
Bee tersenyum bangga, tak sia-sia dia mengomeli Bastian setiap hari ketika lelaki itu selalu kesiangan setiap pagi.
"Nafkah pertama saja kartu hitam, bagaimana nafkah kedua dan ketiga nya nanti," goda Rara sambil tertawa lebar. "Eh, apa kau sudah memberikan nafkah batin untuk suami bocil mu?" tanya Rara serius.
Bee terdiam, "Belum," jawab wanita itu mengambil beberapa jas dan kemeja.
"Why? Kalian menikah sudah hampir tiga bulan tapi belum malam pertama?" tanya Rara penasaran. Bagaimana bisa seorang suami mampu menahan hasrat nya, selama menikah dalam waktu tiga bulan? Apalagi satu ranjang.
"Rahasia," sahut Bee.
Walau Bastian sudah lulus dengan predikat nilai terbaik, namun Bee masih belum siap memberikan hak suaminya. Bee tengah menyiapkan diri. Dia tengah memantapkan hatinya, apakah Bastian akan menjadi pelabuhan terakhir cinta nya.
"Jangan lama-lama Bee, Bastian itu pria normal walau masih muda. Bagaimana jika nanti dia malah mencari wanita diluar sana?" ucap Rara memperingatkan. Kegagalan dalam rumah tangganya membuat Rara selalu hati-hati dalam memulai hubungan dengan orang yang baru.
"Kalau dia mencintai ku, dia tidak akan berpaling. Dia akan siap menunggu ku. Lagian aku ingin melakukan nya dengan cinta bukan sebatas nafsu," jelas Bee. Wanita ini memang selalu berpegang teguh pada pendirian nya.
Rara terdiam, yang dikatakan Bee memang benar. Rara pernah gagal dalam hubungan rumah tangga karena dirinya yang di kuasai oleh nafsu di masa muda, sehingga membuat dia rela melakukan apa saja.
__ADS_1
Bee membayar barang belanjaannya. Padahal Bastian memberikan dia uang untuk kebutuhan sang istri, tapi Bee malah membelikan sesuatu untuk suaminya.
"Kau tak ingin beli yang lain lagi?" ujar Bee pada Rara.
"Tidaklah, ini sudah cukup," sahut Rara.
Keduanya keluar dari toko pakaian dan melanjutkan kegiatan belanja siang ini. Bee memang tidak terlalu suka yang namanya belanja, apalagi berhubungan dengan yang namanya pakaian. Dia bukan wanita yang menguasai dunia fashion. Membeli pakaian saja seperlunya dan sesuai selera.
Brak
Tidak sengaja seseorang menabrak Bee sehingga membuat paper bag ditangannya terjatuh.
"Maaf. Maaf," ucap lelaki itu mengambil paper bag milik Bee.
"Tidak apa-apa," sahut Bee.
"Bee," sapa lelaki itu.
"Kak Bara," sahut Bee pelan sambil mengambil paper bag nya ditangan Bara.
"Membelikan Bastian pakaian kerja," jawab Bee.
Bara menghembuskan nafasnya kasar ketika mendengar Bee menyebut nama Bastian. Setiap kali mendengar nama adiknya itu, dia selalu saja emosi.
"Ada waktu tidak? Bagaimana kalau kita minum kopi atau makan siang?" tawar Bara.
Sementara Rara terdiam menatap Bara penuh selidik, suara lelaki ini seperti tidak asing di telinganya. Dia sering bertemu Bara, karena dulu di masa jabatan Eric. Bara sering datang ke perusahaan bersama ayah nya. Namun, suara ini seperti mengingatkannya pada kejadian yang sebenarnya tidak ingin Rara ingat-ingat lagi.
"Boleh," jawab Bee.
Bukan Bee tidak tahu rencana busuk Bara yang ingin menghancurkan suami bocil nya. Tetapi wanita tersebut menghadapi dengan tenang. Dia tidak akan biarkan siapapun menyakiti Bastian.
"Ayo," ajak Bara.
Mereka bertiga menuju restaurant yang tidak jauh dari sana. Ketiganya duduk dan memiliki meja paling pojok.
"Mau pesan apa? Biar saya yang traktir," ucap Bara.
__ADS_1
"Samakan saja," jawab Bee.
Rara kembali memperhatikan Bara, lelaki ini benar-benar tak asing didalam ingatan nya. Dia berusaha mengingat, di mana dia pernah bertemu Bara sebelum nya.
"Ra, kenapa diam saja?" bisik Bee.
"Tidak, Bee," kilah Rara.
"Bagaimana kondisi perusahaan sejak Bastian menjadi pemimpin disana?" tanya Bara. Sudah lama dia menunggu moment bertemu dengan wanita pujaan nya ini. Tetapi baru kali ini dia dipertemukan dengan wanita impian nya.
"Ya seperti yang Kakak lihat berkembang dengan pesat. Aku tak menyangka jika Bastian memang hebat jadi seorang pemimpin," sahut Bee sambil memuji suaminya.
Tanpa sepengetahuan Bee tangan Bara mengepal di bawah. Rahangnya mengeras dengan kuat, dia tidak suka ada yang menyanjung tinggi adik nya tersebut.
"Ohh bagus," ujar Bara menahan hatinya yang panas.
"Tentu, Kak," jawab Bee santai.
Bara tampak terdiam berusaha mencari topik pembicaraan. Bee ini wanita yang tidak banyak bicara jika tidak di ajak.
"Bagaimana hubungan mu dan Bastian?" tanya Bara lagi.
Makanan yang mereka pesan datang. Sambil menikmati makanan diatas meja, Bara dan Bee terus berbincang-bincang. Sedangkan Rara malah terdiam, dirinya yang paling banyak bicara dan cerewet seketika diam dengan tanpa seribu bahasa.
"Hubungan kami baik-baik saja, Kak," jawab Bee tersenyum semanis mungkin. Bukan dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh kakak iparnya tersebut, Bee hanya mengikuti permainan Bastian.
"Syukurlah," sahut Bara.
Bara berharap Bee belum mencintai Bastian. Jika wanita itu tidak mencintai suaminya, Bara masih memiliki kesempatan untuk merebut hati Bee. Bara yakin, Bee bukan wanita yang mudah jatuh cinta. Apalagi dengan masa lalu yang suram dan sempat membuat Bee trauma.
"Aku berharap kalian baik-baik saja," sambung nya. Padahal lain di mulut lain di hati.
"Ya semoga saja," balas Bee dengan tenang.
Bee makan seperti biasa. Bee tidak tahu jika yang di jodohkan dengannya adalah Bara, sebab sejak awal dia tidak mempermasalahkan mau di jodohkan dengan siapapun, termasuk Bastian. Apalagi Bee sama sekali tidak tertarik untuk mencari tahu hal tersebut.
Bersambung....
__ADS_1