Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
91


__ADS_3

Di kafe Shisa tempat nongkrong favorite Ayana selagi muda bersama temannya.kini wanita itu tengah berkumpul kembali dengan ke tiga temannya di sini.ini adalah hari sabtu jadi ia memilih untuk bersantai kumpul dengan mereka,ya itu trio bising Aneska.Giselle,dan Cindy.


"Gimana lo udah isi belum Sel?" tanya Aneska pada Giselle yang tengah meniup hot matcha minumannya.


Giselle menggeleng dengan santai." Belom gue nunda dulu sengaja biar ngerasain bulan madu terus sama Jull.nanti kalau kami udah puas baru deh lepas KB."


Ayana dengan cepat mengangguk membenarkan." Bener Sel,gue bahkan sekarang mikirnya mending begitu.puasin dulu sama suami nanti kalau udah puas baru kita putusin buat punya anak."


Dahi Cindy dan Aneska mengerenyit." Lah terus sekarang lo gak puas Ay?nyesel punya bocil lebih cepet ya?"


Ayana berdecak,kepo memang dua orang di depannya itu." Bukan gitu maksudnya. gue gak nyesel.tapi kalau untuk pemikiran gue emang bagusan nunda dulu.jadinya kita bisa lebih intens dan fokus ke suami dan ngerasain masa pengantin baru lebih lama.kalau gue kan kemarin kecepetan di kasihnya dan yang ke dua juga nyusulnya cepet banget.jadi pas gue lagi jatuh-jatuh cintanya ke suami eh malah rempong sama anak."


"Oh,iya juga sih.tapi emang lo sempet nyesel gak sih hamilnya kecepetan?" kini giliran Cindy yang bertanya.


"Nggak lah,kalau dulu awal-awal gue emang gak terima kok bisa hamil.padahal gue mikirnya gak mau punya anak sama dia dan kalau pun mau punya ya harus nunggu 2-3 tahun baru mutusin." ketiga teman Ayana mengangguk paham, mereka sangat mengerti bagaimana perasaan Ayana dulu ketika awal-awal menikah dengan Gio.bahkan mereka tidak percaya kalau rumah tangga sahabatnya itu akan langgeng sampe saat ini.bahkan sudah di karuniai tiga anak.


"Gue lagi ngerencanain masa depan,gue pengennya setelah nikah nanti gue akan tetap bisa ngumpul kaya gini sama kalian." ujar Cindy yang di angguki oleh mereka." Gue gak mau dong setelah nikah nanti malah gak bisa bebas kaya sekarang.bisa stres gue kalau sampe terkurung dan terkekang mah."


"Ya kalau gitu lo harus cari laki yang mau di ajak komitmen hidup bebas tanpa aturan. sebelum menikah harus bener-bener di obrolin berdua itu mah.gak bisa kalau lo tiba-tiba mutusin sendirian Cyn." Giselle memberikan nasehat untuk temannya yang paling cerewet itu setelah Aneska.


"Betul itu Cyn."


"Emang lo mau nikah Cyn?"


Cindy terlihat mengangguk." Iya,gue di minta nikah sama nyokap,katanya mau di kenalin sama anak temennya gitu.sumpah gue emosi banget tapi ya udah lah.gue paling gak bisa nolak permintaannya."


Aneska tergelak sembari memakan potongan kiwi dari minumannya." Lo jadi penerus Ayana anjir." ujarnya masih dengan kekehan geli.


"Dih" dengus Ayana membuat Giselle ikutan tertawa.


"Tenang Ay,lo gak sendirian sekarang ada temennya."


"Lo udah lihat belum cowoknya Cyn?" tanya Ayana penasaran begitu pun dengan Giselle dan Aneska.


Cindy menarik napas kasar." Pernah sekali,tapi gimana ya sebetulnya gue gak sreg sih." jawabnya.


"Loh,kenapa?"


Cindy terlihat ragu-ragu untuk menjawab, namun ia tetap harus menjawab rasa penasaran mereka.kalau tidak ketiga temannya itu tak akan berhenti bertanya." Duda anak satu."


"Hah?" mereka serempak menantap Cindy membuat wanita itu mendengus.


"Duda anak satu.istrinya meninggal karena gagal ginjal." jelas Cindy dengan malas.ia tahu sebentar lagi tawa meledek akan memenuhi meja ini.


"Duda?ya ampun Cindy_HAHHa." benar saja Cindy sudah menduga hal ini.tawa Giselle,Aneska,dan Ayana meledak di sana.


"Gila,sekalinya dapat jodoh malah duda anjir?" Aneska masih belum bisa menghentikan tawanya.


"Tiati kewalat lo Nes,nanti lo lebih parah dapat duda anak 6 lagi." ujar Ayana membuat Aneska mendelik dan Giselle malah terbahak.


"Eh,Nes.leher lo kenapa tuh?" tanya Giselle membuat Aneska menegang seketika.


"Ah,ini abis kerokan dua hari lalu belum pudar " Aneska begitu gelagapan sepertinya dia panik.


Ayana dan Cindy ikut memerhatikan." Itu mah bekas isepan,bukan kerokan,yakali kerokan bentuknya begitu?udah jelas itu ******"


Ayana menahan tawanya." Belom sembuh lo Nes?" tanyanya sambil menatap Aneska.


"Gue udah lama berhenti.tapi beberapa waktu lalu gue stres di tekan terus sama bonyok.gue maen ke club gak sengaja O*S." jelas Aneska pada akhirnya percuma ia bohong karena mereka akan tau saja apa yang ia sembunyikan.


"Terus-terus?"


"Ck.giliran bahasan beginian aja lo semangat banget." Aneska mendelikan matanya pada Cindy.


"Tau nih bocah." timpal Giselle.


"Sama orang mana Nes?lokal apa impor nih?" Ayana tertawa membuat Aneska makin kesal ia tau Ayana tengah mencibirnya.


"Impor dong,gue kan gak doyan lokal." jawab Aneska cepat.meski dalam hati ia merutuk" Import apaan orang dia temen laki lo anjir." lanjutnya dalam hati.


Ayana dan Giselle memberikan tepuk tangan." Keren,keren.gue seneng dengernya.terus sekarang gimana hubungan kalian lanjut apa cuma malam itu aja?"


"Lanjut,bahkan dia ngajak serius,tapi guenya gak mau belum pengen serius." jelas Aneska penuh dengan dusta.


"Kenapa sih?bukannya lo stres karena mereka tanya terus kapan dapat cucu?ya udah kalau dia ngajak serius dan mau tanggung jawab mah kenapa nggak Nes." ujar Giselle menasehati.


"Gue gak suka sama dia.dan gak tertarik sama sekali." aku Aneska kalau yang ini dia jujur dari hati.meski begitu menikmati cumb*an Rehan,tapi hatinya belum tersentuh sama sekali.


Ayana berdecak sambil mengelap kedua tangannya dengan tisu basah." Gak suka. tapi ngw lanjut,gue gak paham sama lo emang bisa ya ngw tanpa perasaan?."


"Woy" Cindy menggeplak bahu Ayana di iringi dengan tawa geli.


"Kaya lo nggak aja?lo kan juga gitu.gak suka lah,gak mau lah, jijay lah.belum ada sebulan nikah udah melendung."Aneska kesal rupanya.

__ADS_1


"Lah gue kan beda.gue udah nikah ya mau gak mau gue harus ngelayanin suami, sedangkan lo?" Ayana tak terima tentu saja ia dan Aneska beda pikirnya.


"Alah,sekarang lo bilang gitu,dulu gak gitu kayanya." sanggah Aneska cepat.


"Cinta bisa nyusul Nes.lihat Aya sekarang bahagia dengan pernikahannya.coba lo juga terima dia dan niat baiknya.siapa tau kalian jodoh." Giselle memang selalu bijak di antara mereka.


"Gak tau nih,gue belum ada keinginan menikah dalam waktu dekat ini.karena gue rasa semua jantan sama aja.kecuali Gio yang hot itu_Hahahaha." Aneska terpingkal karena Ayana memukulnya dengan tas.


"Berani lo muji suami gue,gue aduin bonyok lo kalau anaknya yang sok manis ini suka O*S" ancam Ayana membuat ketiganya terbahak bahak.


"Iya,iya mbak ah,sensi bener ibu-ibu ini."goda Aneska.


"Emang lo setakut itu ya Ay,lo takut ya kehilangan Gio?" tanya Cindy.


Ayana memutar bola matanya." Pake nanya,siapa sih yang gak takut kehilangan suami?apa lagi laki lo tanggung jawab dan cukup baik untuk ukuran suami dan ayah, bonusnya ganteng dan bikin melayang terus."


"Wahhahahaha.anjir,Ayana sekarang udah terang-terangan banget ya.untung Gio gak ada di sini,kalau ada.gak kebayang salting dan besar kepalanya kaya apa itu anak." Cindy mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya,mana narsis lagi itu bocah." timpal Giselle.


"Narsis juga depan bininya doang.kalau depan kita mah jaim-jaim tai ayam." tambah Aneska di sambung kekehan apa lagi melihat Ayana mendekus.


...☘☘☘☘☘☘...


Gio membuang puntung rokonya ke tanah lalu menginjaknya.ia tengah mengawasi orang-orang yang baru sampai dan sedang menurunkan kayu-kayu dari truk besar.begitu banyak para karyawan yang tengah bahu membahu menurunkan potongan kayu-kayu itu.Gio meraba saku karena ponselnya bergetar.kemudian ia memeriksanya.


"Undangan?" gumamnya sembari membaca undangan eletronik tersebut.di sana tertulis nama Amanda dan Raka sebagai mempelai.usai membacanya Gio memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana." Gak mungkin bisa datang bisa perang dunia ketiga.lagian gak penting." lama ia memperhatikan orang-orang yang masih belum selesai dengan kerjaannya itu,dan karena ini Gio masih belum kembali ke hotel.biasanya hari sabtu akan kerja setengah hari.


"Udah selesai Pak.ini biar saya aja yang tunggu mereka makan." ujar bapak-bapak yang paling Gio percaya.


"Oh udah ya Pak?kalau gitu saya duluan ya.kalian pada makan aja dulu sebelum pulang." pamitnya dan langsung melangkah menuju ruangan pribadinya di dalam pabrik itu,setelahnya ia keluar dan masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman pabrik.


Setelah sampai di hotel Gio langsung mandi kemudian setelah beres dengan masih handukan ia merebahkan dirinya di kasur,hendak melepas lelah tidur sore bukan pilihan yang buruk." Akhirnya.." ucapnya sembari menatap langit-langit kamar hotel yang bernuansa cokelat itu.


"Siapa lagi nih?" Gio menyambar ponsel yang ia geletakin di nakas.dahinya mengerut saat ia tahu siapa penelepon itu.nomor yang tadi mengirim undangan ke ponselnya.lama Gio memerhatikan panggilan yang masuk itu tanpa minat menjawab.


Sepertinya penelepon itu tak akan berhenti sebelum Gio menjawabnya.terbukti sudah empat panggilan masuk dan ini yang kelima." Iya,halo." jawab Gio akhirnya setelah ia merasa bosan.


"Gi?.." Amanda terdengar menyapa di sebrang sana.


"Kenapa?" tanya Gio dingin.


"Ehem..udah baca belum undangannya?" pasalnya Gio mematikan tanda baca di ponselnya,karena itu Amanda tidak tahu pesannya sudah di baca apa belum.


"Kamu datang kan?"


"Nggak tau,kayanya nggak deh.tapi gimana istri aja kalau dia mau ya datang kalau nggak mau ya gak datang." jawab Gio cepat.padahal ia tak berniat memberitahu Ayana soal ini.


"Gitu ya?" suara Amanda tersengar pelan. sepertinya perempuan itu kecewa.


"Justru lebih baik aku gak datang,takutnya kalau datang Raka bakal mikir yang nggak-nggak.mending aku gak usah datang." jelas Gio akhirnya.


"Gak mungkin lah,Raka gak seperti itu kok ya udah kalau emang kamu gak datang gapapa Gi." Gio yakin kalau Amanda saat ini tengah menahan tangis.sebab suaranya terdengar bergetar.


"Iya,berbahagia lah,Manda.fokus pada masa depan kamu.semoga nanti acaranya lancar dan kalian bahagia,langgeng sampe maut yang jadi pemisah." Gio mendokan membuat tangis Amanda mendesak.dan air mata berlomba berjatuhan.


"Iya makasih doanya." sahut Amanda dengan suara pelan.


"Sama-sama.aku tutup ya teleponnya.mau lanjut kerja ini belum pulang dari pabrik." dusta Gio yang langsung di setujui oleh Amanda.baru juga Gio menarik napas usai panggilan itu tertutup.ponselnya langsung bergetar kembali terlihat nama si pemanggil MY WIFE.


"Apa sayang,mm?" ucap Gio sambil tersenyum melihat sang istri begitu cantik dengan tampilan rambut baru." Hampir gak ngenalin,kirain siapa.taunya bidadarinya aku."


"Gombal" Ayana tersipu membuat Gio gemas." Ayah gak pulang besok?" tanya Ayana.


"Nggak,maaf ya,aku ada kerjaan sampe hari jumat kemungkinan baru kelar." jelasnya dengan menyesal.


"Kok gitu?terus kami gimana?ini udah hampir tiga minggu loh kamu gak pulang emang gak kangen sama aku?." rajuk Ayana dengan wajahnya yang terlihat kecewa,tentu saja ia kecewa.sudah memotong rambut dan ke salon untuk perawatan hingga berjam-jam lamanya tapi hasilnya Gio malah tidak pulang.


"Jelas kangen dong.emang kapan sih aku gak kangen sama kamu,hmm?selalu kangen sayang.kapan pun.bahkan sejam gak ketemu aja udah kangen.gimana sampe berminggu-minggu begini coba"




Aaaaaaa,rasanya Ayana ingin menubruk Gio lalu memeluknya dengan erat bagaimana bisa si tukang membuatnya kesal itu begitu manis sih.


"Giiiii,kangen.." suara Ayana terdengar manjah dan mendayu dayu membuat sesuatu berkedut dan ingin bangkit.apa lagi sudah hampir tiga minggu ini kan gak luluran dan berendam di kubangan favoritenya itu.


"Apa,hmm,kenapa?" suara serak Gio membuat Ayana tambah kangen andai saja suaminya itu ada di dekatnya sekarang." Jangan buat suara kaya gitu aku jadi pengen tau."


"Ish,makanya pulang bentar lagi aku datang bulan loh,nanti pas kamu pulang zonk lagi." Ayana sengaja membuat Gio ingin pulang ia yakin laki-laki itu pasti kelimpungan.Ayana tahu betul suaminya yang hyper itu tidak akan kuat menahan hasratnya.jangankan hampir tiga minggu begini,semalam saja Gio jarang pernah melewatkan,dan tiap malamnya itu hampir tidak pernah cukup jika hanya sekali naik.


"Yang..please.kenapa sih jadi genit begini?awas ya kamu jangan aneh-aneh di luar aku kerja loh yang,masa kamu tega sih nyiksa aku di sini?" mohon Gio supaya istrinya tidak menggodanya lagi.dan ia sangat ketakutan.takut Ayana kelepasan di luar sana.bukan tidak percaya pada sang istri tapi terkadang napsu mengalahkan akal sehat jika tidak kuat iman.

__ADS_1


"Serah,lagian kenapa gak minta yang lain dulu buat ngawasin disana.bilang aja kalau kamu betah di sana karena yang lain" Ayana pura-pura merajuk padahal ia hanya sedang memanasi Gio saja.


"Yang..."


"Apa?"


"Jangan ngomong gitu,aku kerja di sini mana ada betah karena yang lain,oke.aku usahain bisa pulang minggu ini." Gio akhirnya mengalah.


"Gak usah.aku aja yang kesana pengen lihat sekalian." tolak Ayana cepat.


"Gak boleh.bahaya buat kamu,"


"Pokonya besok aku kesana,setuju gak setuju aku akan tetap kesana.nanti di antar Ajun." tandas Ayana membuat Gio menarik napas pasrah.


"Oke.tapi hati-hati dan jangan malam kesininya ya." pesan Gio dan Ayana hanya mengangguk." Sayang,lihat bentar dong" lanjutnya membuat istrinya itu mengerutkan dahi.


"Lihat apa?"


"Itu" alis Gio mengarah pada sesuatu milik istrinya.


"Dih,nggak ah ngapain?" tolak Ayana malas ia malu yang benar saja Gio memintanya untuk menunjukan segitiga bermudanya.


"Bentar aja.pengen lihat doang." paksa Gio membuat Ayana menurutinya saja dengan terpaksa asal Gio diem.


...☘☘☘☘☘...


Suara kartun dari tivi yang hampir selalu menyala terdengar memenuhi ruang keluarga.terlihat Frans dan Monica ikut mengkuti tarian dan lagu dari chanel cocorobet eh cocomelon dong.Ayana yang baru keluar dari kamar ikut menimbrung di sana.


"Rain rain go away come again another day Aven,Vindi and teteh Jemi wants to play,rain rain go away.giman jogednya?" tanya Ayana sembari bergerak mengikuti musik.


"Rin rin go away come again another day, Bunda and ayah wants to play,rain rain go aawayyyyy." kini giliran Jemia yang menyanyikan lagi tersebut.


"In in wo wey,am gen nadey dey,opa en ma wans pey win win wo wey." ujar si kembar bersamaan membuat semua yang ada di sana gemas.Ayana meminta susternya untuk merekam nanti akan ia kirimkan pada Gio.


"Makin kangen aja sama kalia." balas Gio di telepon.


Minggu pagi ini Ayana telah bersiap akan menyusul Gio ke tempat kerjanya.setelah semalam mendapat ijin dari kedua orang tuanya,Ayana langsung beres-beres barang apa saja yang akan di bawanya.ia sudah menitipkan anak-anak pada suster dan orang tuanya.kebetulan Frans dan Monica juga sedang banyak waktu di rumah.jadi Ayana leluasa untuk menitipkan mereka.


"Jangan rewel ya sayang.bunda mau ketemu ayah dulu.nanti bunda pulang cepet kok." pamit Ayana pada anaknya.


"Mungkin bundamu mau nambah adik untuk kalian " celetuk Monica yang berjalan dari dapur membuat Frans terkekeh.


"Mamah ih,"rajuk Ayana dengan malu.


"Masih kecil-kecil Dek.jangan dulu ya." ujar Frans membuat Ayana langsung menatapnya horor.


"Pah,astaga.aku kesana cuma mau ketemu Gio kok.siapa yang mau nambah anak coba?"


"Ya siapa tau kan" sahut Frans dengan kekehan jahil." Udah sana,hati-hati di jalan Nak.gunakan waktu kalian dengan benar. mungpung gak ada gangguan anak-anak."


"Iya Pah.Aya jalan dulu ya.titip anak-anak." Ayana segera melengkah setelah menyalim tangan kedua orang tuanya dan mengecupi anak-anaknya.mereka tidak rewel karena terbiasa di tinggal kerja.


Di perjalanan Ayana mendengarkan musik untuk mengusir kebosanannya.bahkan ia sempat gantian menyupir dengan Ajun saat lelaki itu terlihat sangat mengantuk meski Ajun kekeuh tidak mau tapi karena Ayana memaksa dan tidak ingin terjadi hal buruk maka ia setuju.


"Ini di mana kita Jun?" tanya Ayana sembari melihat kanan kiri yang di penuhi hutan semua.setiap sisi jalan ada banyak pohon karet yang berjejer,setelah tadi melewati kebun sawit yang panjang.


"Ini di gunung kencana namanya Non,nanti di depan ada hutan yang lebih panjang lagi." sahut Ajun.


"Kamu hapal daerah sini ya?"


"Lumayan,pernah beberapa kali nganter Tuan kalau Pak Rudy lagi keluar kota."


"Katanya pantainya bagus ya Jun?"


"Bagus non,nanti non jalan-jalan aja keliling pantai,di daerah bagedur sana ada pantai yang bagus.namanya pasir putih nanti saya anter kalau non Aya mau."


Ayana mengangguk ia sudah tak sabar ingin segera berjumpa dengan Gio.satu jam perjalanan mereka akhirnya hampir sampai di tempat tujuan.mata Ayana berbinar saat ia melewati jalan yang sisi kirinya adalah laut luas.sedangkan di sisi kanan adalah jejeran pohon kelapa yang di bawahnya adalah rumput hijau pakan sapi dan kambing.Ayana tersenyum saat beberapa sapi menghalangi jalan dan mengelilingi mobil,Ajun menjalankan mobil dengan pelan karena sapi-sapi itu bergerombol.Ayana membuka kaca mobil dan mengelus kepala sapi yang berada tepat di jendela.


"Hih lucu banget.maaf ya aku gak ada makanan." ucap Ayana sambil mengelus kepala sapi.


"Jangan non,nanti di gigit." cegah Ajun kawatir.


"Nggak Jun,ini lucu loh.mereka nyamperin mobil yang lewat ya.kaya nyapa tamu dan minta makanan gitu." ujar Ayana masih dengan mengelusi kepala sapi satu persatu.mobil perlahan bergerak Ayana kembali terpukau saat ia menghirup aroma laut yang khas akan aromanya.ia meminta Ajun untuk berjalan pelan karana Ayana ingin menikmati angin laut yang segar-segar anyir bercampur ompol paus itu.


"Bau ikan asin ya Jun?" Ajun terkekeh mendengar ucapan Ayana.


"Kan itu pengasinan Non,tempat istri nelayan mengasinkan ikan di sana.tuh yang itu gedungnya.lihat tuh,tumpukan garam dan jejeran ikan asin yang belum di angkat." Ajun menunjuk dan memberitahu apa saja yang ia tahu di sana." Itu namanya benur,untuk mengambil udang dan lobster." lanjutnya pada suang-saung kecil yang nelayan buat di laut.


"Ohh begitu." Ayana di buat kagum melihat pemandangan di sana.tak terasa mobil sudah melewati jembatan tinggi yang di bawahnya tepat laut yang menghubungkan langsung dengan sungai kecil.lucunya air lautnya tidak menyatu dengan air tawar.sebalah kiri dan di bawah jembatan itu merupakan muara tempat berhentinya kapal setelah menangkap ikan dan sebelahnya adalah pasar dan pelelangan ikan namanya.


"Pabriknya dimana Jun?" tanya Ayana setelah mereka melewati jembatan itu.


"Di depan non,sekitar lima ratus meter lagi." jawab Ajun sambil melajukan mobil dengan cepat.saat memasuki gapura besar yang di depannya bertulisan Pt.INWOOD Perkasa.jantung Ayana di buat dagdigdug tak sabar ingin segera melihat Gio.

__ADS_1


"Itu Pak Gio udah nunggu non." ujar Ajun membuat pandangan Ayana terpaku pada lelaki yang tengah berdiri untuk menyambutnya itu dengan senyum merekah.


__ADS_2