
Seluruh keluarga secara bergantian datang ke rumah sakit untuk menjenguk keadaan Gio.hampir semua keluarga Ayana sudah kumpul di sini.bahkan Frans sampai membatalkan meeting dan langsung melesat kesana,begitu di kabari oleh Ayana.kini ruangan vvip yang luas dan megah ini di penuhi oleh beberapa orang ada keluarga Ayana dan keluarga Gio,tentu saja meski hanya ada Mira dan Indri.ibunya Gio itu sampai pingsan saat mendapat telepon dari Ayana.dirinya tidak menyangka bahwa Gio sadar pada akhirnya.
"Nak,kamu lapar gak?mau ibu suapi?" tanya Mira pada Gio.putranya itu hanya diam tidak merespon sama sekali.ia hanya memandangi semua orang secara bergantian.Gio sepertinya bingung dan terlihat seperti tidak mengenali orang-orang itu.
"Dari tadi dia cuma mau minum aja Bu.aku udah tawarin apa-apa juga tetep nolak dan diam aja." ujar Ayana sembari mendekat dengan Mia di gendongannya.
"Kenapa ya?padahal harusnya Gio lapar kan orang tidur juga kalau bangun pasti lapar." sahut Mira dengan bingung.
"Ayah,Nda,Ayah" tangan Jemia berusaha menggapai Gio yang hanya diam memerhatikannya sembari menyender.
"Ayahnya lagi sakit sayang.nanti aja gendongnya ya." Ayana berusaha mengalihkan perhatian putrinya dengan mengajaknya melihat pesawat yang terlihat dari kaca rumah sakit ini.
"Ayah,Nda,Ayah,ihhhh..mau,ayah." Jemia malah mengamuk dan meronta ia ingin ke ayahnya namun Ayana tetap melarang. bukannya apa,Gio masih linglung mereka tidak mungkin memberikan Jemia pada Gio sekarang ini.
"Coba di dudukin aja Ay.kasih aja ke pangkuan Gio,siapa tahu Gio mau megangin dan dia bisa segera merespon ikatan ayah dan anak itu kuat loh." suruh Monica yang di setujui semuanya.Ayana menurut dan mencoba memberikan Jemia kepada Gio yang sejak tadi memerhatikan dirinya dan Jemia rupanya.Ayana meletakan Mia ke samping Gio membuat kening pria itu mengerut.
"Ini sama ayah ya." Ayana mengusap rambut tipis Mia yang mirip dengannya anak kecil itu langsung memeluk ayahnya dengan melingkarkan kedua tangan kecilnya pada leher Gio.
"Ayah...Ayah.." serunya dengan binar yang begitu bahagia.membuat semua yang ada di sana merasa haru.mata Gio beralih pada Ayana seperti menanyakan apa maksudnya ini.Ayana yang paham pun hanya tersenyum dan mengambil tangan Gio lalu membawanya pada tubuh kecil Jemia.yang mau tidak mau Gio langsung memeluk gadis kecil itu.
"Kamu bingung ya?ini Mia,anak kita Gi.dia udah kangen banget sama kamu.lihat kan seneng banget dia." jelas Ayana dengan perasaan yang jauh lebih baik.melihat putrinya yang begitu senang saat ini.Gio tidak menjawab hanya memeluk putrinya walau sangat terlihat sekali bahwa dirinya terpaksa.pria muda itu mengusap lembut punggung Jemia dengan wajah tersenyum merespon wajah Mia yang begitu antusias.
"Ayah,is ayah is...muah" ujar Jemia sembari mengecup bibir dan pipi Gio.
"Ya ampun,Mia kiss Ayah ya?ayah kiss balik katanya,Yah.ayo dong ayah.masa enggak ya dek." ujar Ayana dengan wajah berseri seri.Gio menoleh pada Ayana dengan wajah bingung,sepertinya dia tidak paham dengan apa yang di ucapkan oleh Ayana." Gitu aja ayah gak paham ya Dek, kiss itu gini nih ayah."
Cup
Ayana mengecup sudut bibir Gio di depan semua orang.membuat mata Gio hampir keluar di buatnya.pria itu menatapnya sebentar namun dengan segera mengalihkan wajahnya ke arah lain.Ayana terkikik melihat wajah Gio sepertinya bersemu pemirsah.pria itu enggan menatap Ayana,pandangannya selalu ia alihkan ke arah lain setiap akan bertemu dengan pandangan Ayana.tapi sesekali ia menatap Ayana dengan pandangan jengkel.
"Jangan di godain,Aya,lihat tuh Gio malu kayanya." ujar Nenek membuat tawa mereka semua meledak di sana.
"Heran deh.katanya kehilangan semua memori dan ingatannya.dan bertingkah layaknya anak-anak.tapi kok giliran di cium lawan jenis malu-malu sampe wajahnya merah gitu." celetuk Indri yang sejak tadi heran dengan tingkah adiknya itu.semua orang kompak tertawa dan mengelengkan kepala sembari memerhatikan Gio yang sedang mencoba merespon Mia.meski ia tidak bicara dan tidak mencoba mengatakan apa pun,tapi Gio merespon Mia dengan baik,mereka seakan bicara melalui telepati.
Monica dengan Frans mendekat kepada Gio.ibu Ayana itu menyentuh tangan putra menantunya dengan lembut membuat Gio seketika menoleh.dan seolah bertanya ada apa." Gio.dengarkan Mamah ya." ujar Monica d lembut,membuat Gio meresponnya dengan mengerjap.
"Ini Mamah,ibu dari Ayana wanita itu istri kamu,Nak.dan ini Papah,Papahnya Ayana. kami adalah orang tua Ayana dan kamu juga." Monica menunjuk Ayana dan Frans juga dirinya.
"Dan ini Jemia,si cantik ini,dia adalah putri kamu dan Ayana.lihat deh wajahnya,dia mirip banget sama kamu loh.kalau gak percaya coba berkaca kalian sangat mirip dan sekarang istri kamu ngisi lagi tuh.anak kalian kembar,di dalam sana ada dua bayi sebentar lagi akan lahir makanya kamu cepat sembuh ya."
"Nama kamu Gio,kamu udah menikah mereka ini adalah anak dan istri kamu.Gio harus cepat sembuh biar kumpul lagi sama kita.anak kamu ini nangis terus badannya juga kurus dan susah makan.dia selalu nanyain kamu selama beberapa bulan ini makanya Gio harus semangat sembuh ya Nak.biar Jemia gak sedih lagi di tinggal ayahnya terlalu lama."
"Mereka berdua merasa begitu kehilangan kamu.gak cuma mereka aja,tapi kami semua sangat kehilangan kamu." lanjut Monica mengusap lengan Gio.
"Cepat sembuh.Papah menunggumu untuk melanjutkan project baru.dan kejutan untuk mereka sekarang terbengkalay." bisik Frans pada Gio sembari menunjuk Ayana dan Mia.membuat pria itu mengerutkan dahi.kemudian Monica menjelaskan satu persatu anggota keluarganya.Gio hanya mengangguk dan berdehem meski pelan sebagai respon.tak apa.setidaknya ia sudah menunjukan kemajuan.Dokter memang sudah memvonis bahwa Gio khilangan memorinya untuk sementara mungkin karena terlalu lama tidur jadi otaknya kembali beradaptasi lagi.
Dokter mengatakan itu hanya bersifat sementara saja.tidak permanen.biasa tidak lama akan segera pulih dan Gio dapat mengingat kembali.keluarga harus terus mendorongnya untuk mengumpulkan puing-puing ingatan Gio.supaya kembali seperti semula.
__ADS_1
...πππππππ...
Semua anggota keluarga sudah kembali ke rumah masing-masing.Jemia juga sudah di bawa oleh Monica,gadis itu menangis karena tidak ingin pisah dengan ayahnya beruntung saat di bawa pulang tadi,Jemia tengah tidur.jadi tidak ada drama adegan tarik menarik.usai membersihkan dirinya Ayana keluar dari kamar mandi.ia melangkah lebar melihat Gio yang menggapai botol minum di nakas.
"Aus ya sayang." Ayana mengambil botol itu dan memberikannya pada Gio.Gio hanya mengangguk dan segera minum melalui sedotan yang di pegangi oleh Ayana." Pelan-pelan aja,nanti kamu kesegrek bahaya loh nanti masuk ke paru-paru." cegah Ayana saat Gio begitu kuat menyedot air minum itu hingga setengah botol tandas.padahal rahangnya belum bisa di pakai untuk makan.
"Kok kamu banyak minum sih?nanti kalau kembung gimana?ini perut kamu penuh sama air doang loh." Ayana menepuk perut Gio yang memang kembung.Gio mencekal tangan Ayana dan menurunkan setelan rumah sakit itu.ia sepertinya malu karena Ayana melihat perutnya.
"Kenapa malu?aku istri kamu masa iya malu.kita bahkan udah terbiasa saling terbuka.melihat tubuh polos satu sama lain." ujar Ayana dengan wajah memanas ia malu sendiri dengan ucapannya ini.dan Gio hanya menatapnya dengan tatapan tak suka.Ayana merias dirinya dengan memoleskan lipstick berwarna soft pink ke bibir tipisnya.lalu mengoles skincare dan body lotion.usai itu menyisir rambutnya lalu mengikatnya secara asal.semua itu tak luput dari pandangan Gio.pria itu rupanya sejak tadi memerhatikan Ayana tanpa kedip.
"Ughh." ringis Gio pelan.Ayana yang mendengar itu pun langsung berdiri menghampiri.
"Kenapa?ada yang sakit?" tanya Ayana lalu memeriksa tangan Gio yang seperti sedang memegangi sesuatu di bawah sana.mata Ayana melotot saat ia melihat apa yang sedang Gio pegang.tangan pria itu memegangi si gatot di bawah sana yang membuat Ayana heran dan..aduh gimana ya jelasinnya.
"Kenapa dengan itu?" tanya Ayana.
"Shhhh..i_tu." Gio seperti kesusahan saat akan mengatakan sesuatu.beruntung Ayana paham dengan tangan Gio yang terus menunjuk ke arah kamar mandi.
"Oh.kamu mau pipis ya?pipis aja gapapa itu kan pake ketater.kamu tinggal pipis aja." suruh Ayana.Gio menolak dengan menggeleng,mungkin dia tidak nyaman pipis di dalam alat itu." Kamu kan belum bisa jalan,mana bisa ke kamar mandi.nanti aja kalau udah mulai terapi ya,sekarang di sini dulu.atau mau pake ini." Ayana mengambil botol pispot dari kolong ranjang.mata Gio terbelalak menatap benda itu.ia mengadah menatap Ayana dengan tanda tanya.
"Ini pispot.lebih enak di sini pipisnya.siniin titydnya masukin sini biar aku pegangi." ujar Ayana tanpa filter bodo amat pikirnya Gio kan sedang amnesia pemirsah.Gio tetap tidak mau,membuat Ayana gemas sendiri.Gio malah menarik celananya yang hendak di perosotkan oleh Ayana tadi dirinya menahan tangan Ayana yang akan mengeluarkan si gatot dengan paksa.
"Terus mau tetap ke kamar mandi aja?." tanya Ayana setengah kesal.Gio mengangguk sepertinya dia paham apa yang Ayana katakan.
"Ya udah,kamu pegangan ke aku.terus kita turun pelan-pelan pake ini." Ayana mendekatkan kursi roda dan merangkul tubuh Gio untuk ia turunkan.Gio menemplok pada tubuh Ayana meski sangat lah sulit karena terhalang oleh perut besar itu.dengan susah payah akhirnya Gio sudah duduk di atas kursi roda lalu Ayana mendorongnya ke kamar mandi.
"Gini aja pipisnya.kamu tetap duduk di sini gak usah ke toilet susah." perintah Ayana sembari mendekatkan Gio ke lubang saringan air.biarlah nanti ia akan siram.Gio sepertinya tidak mau pemirsah buktinya dia tidak ingin membuka celananya.Gio menatapi Ayana seperti meminta di turunkan karena ia tidak ingin pipis di atas kursi roda seperti ini.
"Malu?buset deh.woy aku ini istri kamu loh?aku udah biasa lihat punya kamu. jangankan saat kamu pipis saat di mobil aja kita sering beje." dengus Ayana kesal apaan si Gio itu lebay banget deh." Udah cepetan keburu ngompol nanti." paksa Ayana dirinya meninggalkan Gio menghargai pria itu mungkin malu.
Gio mengeluarkan miliknya dan mulai membuang apa yang sedang di tahannya sejak tadi.diam-diam Ayana mengintip ia ingin memastikan apakah punya Gio itu masih hidup atau sudah mati,eh kok.bukan negitu maksudnya Ayana hanya ingin memastikan apakah kepunyaan Gio itu masih berpungsi dengan baik,atau loyo sementara seperti badan lelaki itu.atau lebih parahnya lagi milik Gio bisa saja hilang ingatan.siapa tahu si gatot itu tidak mengenali Ayana sebagai sangkarnya selama ini.
"Ehemm.udah?." tanya Ayana saat dirinya kepergok oleh Gio.lelaki itu memicing menatap Ayana sepertinya Gio tahu apa yang sedang di lakukan oleh Ayana.namun Ayana tetap memasang wajah datar padahal jantungnya sudah diskoan karena malu kegep oleh Gio.
...ππππππππ...
"Aaa dulu.dua suap lagi aja,abis itu minum obat terus tidur." pagi ini Ayana sedang menyuapi Gio dengan bubur oat yang di campur dengan susu.pisang,stroberi dan mangga.bahan-bahan itu di blender hingga halus membentuk bubur. karena Gio belum bisa mengunyah makanan padat.ia baru bisa menelan makanan yang di haluskan.
Dokter bilang rahang Gio juga bergeser saat kecelakaan itu.maka dari itu otot rahang Gio belum bisa di gunakan untuk mengunyah dan bicara.karena itu Gio tidak bisa bicara sampai saat ini.padahal ini sudah minggu ke dua pasca dirinya sadar. kata Frans tidak apa,asalkan Gio masih hidup dan sudah sadar.baginya tidak masalah dengan kondisi Gio yang saat ini asalkan pria itu masih bernapas dan bisa membuat putrinya seakan hidup kembali.
"Dua sendok lagi ya,pinter.lihat tuh pesawatnya lewat." ucap Ayana persis seperti saat dirinya menyuapi Jemia.Ayana merasa seperti memiliki bayi kolot saat menyuapi dan merawat Gio seperti ini.Gio memicingkan matanya,sepertinya ia kurang nyaman dengan perlakuan Ayana ini.mengapa dirinya terus di perlakukan seperti anak kecil sih.padahal kan Gio ini sudah dewasa.tanpa mereka ketahui bahwa perlahan Gio sudah mulai paham dan menyadari bahwa dia ini seorang pria dewasa bukan anak-anak.namun ingatannya belum kembali meski kerap kali Gio merasakan kepalanya hampir pecah.
"Ayo dong cepetan.aku mau periksa si kembar.kata dokter gak lama lagi anak kita lahir.soalnya akhir-akhir ini aku sudah mulai rutin nyeri panggul.ini sih akibat dulu ada seseorang yang ngedorong aku makanya sekarang sering banget sakit panggul." Ayana merapikan sisa bubur di mangkuk itu.kira-kira tersisa dua atau tiga sendok lagi.
Saat Ayana mendongak ternyata Gio sedang memandanginya dengan tatapan sendu." Kenapa kamu kasihan ya sama aku?jangan gitu ah,aku ini strong kok,stres tak tertolong." kilah Ayana dengan tawa kecil.
Tanpa sadar bibir Gio ikut melengkung ke atas saat melihat tawa kecil itu.tawa itu mampu meluapkan rasa sakit di kepala Gio.ya,Gio akui.saat ia bersama dengan Ayana kepalanya pasti akan merasakan sakit.seperti di paksa untuk mengingat sesuatu namun Gio tidak mampu mengingatnya.dada Gio juga sering kali sakit dan sesak kala melihat wajah Ayana.
"Kamu tidur ya.aku mau periksa kembar dulu.nanti aku balik lagi mungkin ibu bentar lagi datang.cepat sehat sayang." Ayana mengecup dahi Gio lalu menyelimbuti tubuh lelaki itu dan meninggalkannya.
__ADS_1
...ππππππ...
...[Pov Gio]...
Aku terbangun dari tidur panjangku,namun mataku tidak bisa di gerakan entah mengapa rasanya sulit sekali untuk membuka kedua mata ini.mataku ibarat di lem saja begitu rapat dan sulit sekali terbuka.saat itu aku mendengar pertengkaran dua wanita yang entah siapa itu.mereka sepertinya berkelahi dan adu mulut dengan sengit di ruangan ini.aku tidak tahu mereka meributkan apa dan apa yang menjadi sebab dan akibatnya.aku hanya mendengarkan suara keduanya yang saling serang.
Suara perempuan itu sama dengan suara perempuan hamil yang kini merawatku dengan telaten setiap saat.suara dia yang paling aku kenali.jika yang satunya lagi entah itu siapa.karena setelah bangun aku tidak lagi mendengar suaranya.dan aku juga tidak peduli siapa pun dia,bodo amat lah.pada saat itu aku sudah bangun dari tidurku.aku mendengar suara yang aku kenali itu mengerang,sepertinya dia kesakitan karena aku mendengar suara benda jatuh ke lantai entah apa itu namun di susul oleh suara.rintihan perempuan itu yang membuatku seketika kawatir.
Tak lama aku mendengar suara satunya lagi begitu panik sepertinya karena itu ada sesuatu dalam diriku yang memaksa kedua mata ini untuk membuka namun usahaku masih gagal pada saat itu tak lama aku mendengar ia mendekati aku dan bertanya padaku.dia memanggilku dengan sebutan Gi.selalu ia menyebutku seperti itu.dan aku juga terbiasa mendengarnya.kemudian dia mengadu kepadaku dengan apa yang terjadi padanya.namun saat itu aku masih bingung dengan semuanya.pikiranku blank dan kosong.aku hanya mendengarkannya saja dan berusaha untuk bangun karena risih mendengarnya banyak bercerita.bosan tahu.
Aku malu sekali saat pertama kali di mana aku ingin buang air kecil.aku terlalu banyak minum sih jadinya kebelet banget ingin ke kamar mandi.tapi si Mbak itu malah menyarankan aku untuk pipis di selang saja,heh mbak mana nyaman sih.terus dia memberikan aku sebuah botol katanya di situ saja kalau tidak mau di selang.aku memakinya dalam hatiku.enak saja aku harus pipis di botol itu.memangnya aku ini aki-aki atau apa sih Mbak?aku masih mampu dong untuk ke kamar mandi. namun pada saat itu hingga kini aku memang tidak bisa berjalan.jadinya meminta tolong pada si mbak-mbak resek itu.
Andai kalian tahu dia sangat menyebalkan sekali.dia mencoba mengintipku saat aku pipis.dia sepertinya cabul deh.dia juga pernah mencium bibirku.sepertinya mbak itu memang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.dia juga sering memegang tanganku dengan dalih memijat.katanya supaya peredaran darahku lancar.aku rasa itu hanya modus saja sih,sudah kubilang kalau dia itu cabull.
"Yuk mandi dulu,habis itu makan ya." singkat cerita itu pada saat dia mengajaku mandi.katanya aku harus membersihkan badan supaya tidurku nyenyak.heh Mbak. tidak mandi pun aku tidur sangat lama loh sepertinya.apa lagi kalau mandi,gak ada hubungannya sih mandi dengan tidur nyenyak menurutku.
Mbak-mbak ini memang sedikit resek sih dia cerewet sering mengomel dan marah tidak jelas yang membuat kepalaku pusing tiap saat.dia mengaku sebagai istriku katanya sih ya,tapi aku tidak yakin sih kalau dia itu benar istriku.heh,kayanya aku ini masih bujangan deh.aku tidak merasa bahwa aku sudah menikah dan memiliki anak.
"Ini Jemia putri kita,sayang." itu ucapan si Mbak pada saat mereka datang ramai-ramai mengunjungiku.tentu saja aku terkejut mendengarnya.apaan sih ini kok aku jadi punya anak?kapan aku membuatnya sih.dumelku saat ia memberikan anak kecil itu padaku.dan anak itu langsung menempel padaku bak anak koala begitu imut dan menggemaskan dan ada ibu-ibu yang mengatakan katanya dia adalah mertuaku ibunya si mbak itu.dia bilang aku memang sudah menikah dan sudah punya anak anak kecil itu loh,dan istriku,perempuan hamil itu,ya ampun aku bahkan pusing mendengar setiap pernyataan dari mereka.
Oh iya,aku ini sebenarnya sudah sadar,bisa mendengar,bisa mengerti dan paham apa yang orang lain katakan.meski pada awalnya aku tidak paham dan bingung dengan semuanya.namun perlahan aku mengerti dan memahami semuanya.hanya saja aku tidak mengingat apa pun jangankan nama orang,namaku sendiri saja aku tidak tahu siapa aku ini.
Andai boleh jujur aku hanya merindukan anak kecil itu.hanya dia yang membuatku tertarik dan ingin selalu bersamanya.setiap bersamanya hati dan perasaanku tenang. kepalaku juga biasa saja tidak sakit berbeda ketika aku menatap wajah ibu hamil itu,selalu saja kepalaku sakit dan seperti akan meledak.dia membuatku sakit tiap kali dia di dekatku.sebenarnya aku ingin mengatakan padanya supaya dia tidak datang lagi ke sini.tapi aku segan dan merasa tidak enak hati juga malu sih.masa iya setega itu padahal dia sudah baik padaku.
...ππππππ...
Ayana berjalan memasuki ruangan Gio usai memeriksa si kembar.beruntung kata dokter anak-anaknya itu baik baik saja mereka sangat kuat di dalam sana.di dalam ruangan sudah ada Mira yang sepertinya sedang berusaha mengajak Gio mengobrol.tapi sepertinya Gio tidak merespon hanya sesekali mengangguk selama Ayana perhatikan.
"Gimana keadaan kandungan kamu?" tanya Mira masih kaku,sikapnya memang seperti ini usai kejadian itu.
"Baik-baik aja Bu.mereka kan kuat kaya ayahnya.doain aja bu supaya mereka lahir cukup usia." jawab Ayana sembari mendudukan tubuhnya pada kursi.
"Sukur lah.Gio udah ibu suapi tadi.dia juga udah minum obat tinggal tidur aja." ujar Mira lalu berdiri sepertinya ia akan segera pulang.
"Iya makasih bu udah jagain Gio.maaf aku udah merepotkan ibu terus." lirih Ayana merasa bersalah karena sering kali meminta tolong pada Mira.
"Gio itu anak ibu,gak ada yang di repotkan di sini,kita sama-sama merawat Gio.gak usah bilang begitu.kamu juga perlu istirahat lebih jangan kecapean." sahut Mira usai mengambil tasnya.
"Iya bu." balas Ayana tidak ingin memperpanjang,tidak ingin berujung debat dengan ibu mertuanya itu.Gio hanya menyimak percakapan mereka dengan bingung.hatinya sakit kala melihat wajah Ayana yang tiba-tiba sendu itu.Gio tidak tahu ada permasalahan apa di antara mereka.namun yang tidak ia pahami mengapa hati dan perasaannya sakit saat melihat Ayana sedih.
"Mau ke kamar mandi?" tawar Ayana setelah mereka hanya berdua saja.Gio mengangguk dengan cepat." Ayok pegangan ya takut jatoh doang,soalnya aku makin kesini makin susah nahan perut berasa kaya mau jatoh aja." ucap Ayana.
"Hmm." sahut Gio lalu melingkarkan tangannya ke pundak Ayana dan berusaha pindah dari ranjang pada kursi roda.setelah selesai Ayana kembali memindahkan Gio ke ranjang.namun sial Ayana kehilangan keseimbangan saat tubuh Gio menemplok sempurna padanya.Ayana oleng lalu keduanya terjatuh dengan Ayana yang menindih Gio.
"e_ee...eh." Ayana mencoba berpegangan pada sisi ranjang namun telat sudah keburu ambruk.karena tubuh Gio begitu lemah tidak bisa menopang beban Ayana yang lumayan.sebenarnya pada saat Gio tahu mereka akan jatuh,ia mencoba sekuat tenaga untuk mengubah posisi agar Ayana yang berada di atas tubuhnya bahaya jika Ayana yang terjatuh ke kantai.
Mata keduanya beradu saling menatap dan menyelami ke dalam masing-masing. pandangan Gio beralih pada bibir ranum itu menatapnya lama dan terpaku di sana. begitu juga dengan Ayana ia memandang sayu pada wajah kurus Gio.keduanya masih dalam posisi yang sama,degub jantung mereka terdengar saling bersahutan.
__ADS_1