
"Ayang, aku mau ke kampus tapi di temani," renggek Bastian manja.
"Jangan ngadi-ngadi, Bas," cetus Bee.
Bee tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Pagi ini hari pertama Bastian masuk kampus. Bee bersyukur karena Bastian akhirnya memutuskan untuk kuliah. Walau dia tahu bahwa suami nya itu sama sekali tidak berminat untuk kuliah.
Bastian merenggek seperti bayi besar dari tadi dia terus memeluk Bee dari belakang. Sumpah demi apapun, belum masuk kuliah saja Bastian sudah pusing dan membayangkan dirinya yang di sibukkan oleh tugas kuliah. Belum lagi pekerjaan di perusahaan yang menumpuk.
"Belajar yang bagus, jangan tawuran lagi. Jangan buat masalah lagi," ucap Bee meletakkan masakkan nya diatas meja.
"Ayang," renggek Bastian.
"Kenapa lagi, Bas?" tanya Bee tersenyum.
Bastian memeluk pinggang istrinya dengan agresif sementara tangan Bee menempel didada bidang suaminya itu.
"Kau pasti bisa. Aku tahu ini sulit untuk mu. Tetapi perlahan kau akan bisa, Bas. Kau tenang saja, aku pasti bantu," jelas Bee memperbaiki kerah baju suaminya.
Pagi ini Bastian langsung ke kampus karena pengenalan lingkungan baru. Jadi semua pekerjaan kantor dia serahkan pada Ruah sang asisten.
"Ayang." Bastian menghela nafas panjang. "Peluk aku sebentar. Aku butuh energi," ucap nya manja.
Bee mengangguk dan tersenyum. Bastian menarik wanita itu kedalam pelukannya. Bee mengusap punggung Bastian dengan sayang. Sekarang tak ada lagi keraguan di hati wanita itu. Dia sepenuh hati percaya bahwa Bastian adalah pelabuhan cinta terakhir nya. Walau terkadang dia bertanya, apakah hubungan beda usia ini akan bertahan lama?
"Ayang, apapun yang terjadi jangan tinggalkan aku yaa?" pinta Bastian memeluk erat istrinya.
"Hem, kecuali kau berulah lagi. Maka aku akan pergi," sahut Bee setengah mengancam.
"Aku tidak akan berulah lagi, Ayang. Aku janji," ungkap Bastian.
Bee melepaskan pelukan suaminya. Senyum nya mengembang. Jujur saja dia bangga melihat perubahan Bastian. Ketika pertama menikah suaminya ini selalu saja berulah. Bahkan pernah Bee meminta cerai pada Bastian. Tetapi lelaki itu seperti nya takut kehilangan dirinya.
Benar kata pepatah, perempuan tidak bisa merubah laki-laki. Laki-laki berubah jika dia mencintai perempuan tersebut. Hal itulah yang di alami oleh Bastian, perubahan yang dia alami karena perasaan cinta nya lebih besar pada Bee.
"Ya sudah ayo kita sarapan, kau mau ke kampus 'kan?" ajak Bee duduk di kursi meja makan.
Bastian mengangguk dan duduk. Dia menatap Bee yang mengambilkan makanan untuknya. Manis sekali wanita ini jika tersenyum. Terbiasa dengan wajah datar Bee membuat Bastian terpesona saat wanita itu tersenyum dan tertawa.
"Makan, Bas."
__ADS_1
Setelah selesai makan, keduanya berangkat dengan mobil masing-masing. Bee sudah memiliki satu mobil, mobil yang Bastian berikan padanya dengan embel-embel pentaris kantor. Padahal itu pemberian dari nya untuk sang istri.
"Ayang, hati-hati ya. Jam makan siang nanti aku jemput," pesan Bastian mengusap bagian kening Bee.
"Tidak usah, Bas. Kita bertemu di restourant biasa saja. Sekalian aku ingin mengajak Rara dan Willy," jelas Bee.
"Asal jangan ajak pria genit itu," cetus Bastian memutar bola matanya malas saat mengingat Gilang yang suka cari perhatian pada Bee.
Bee terkekeh pelan, dia melipat bibirnya ke bawah menahan tawa. Bee paling suka kalau Bastian cemburu, karena wajah suaminya itu akan begitu lucu saat dia cemburu.
"Iya Sayang ku," jawab Bee.
Mata Bastian membulat ketika Bee memanggil nya sayang.
"Ayang, tadi kau panggil aku apa?" tanya Bastian dengan mata berbinar-binar. Sederhana, panggilan seperti itu saja berhasil membuat dia salah tingkah.
"Bastian," jawab Bee.
"Bukan itu," cetus Bastian.
"Lalu apa?" tanya Bee bingung.
Bastian merenggut kesal. Lelaki itu masuk kedalam mobil duluan dengan bibir menggerecut, seperti anak kecil yang tidak di belikan mainan.
Tok tok tok
Bee mengetuk pintu mobil Bastian. Suaminya harus di rayu dan bujuk.
Bastian membuka kaca mobil dengan wajah kesal nya.
"Semangat kuliahnya Sayang ku. Cup."
Bastian membeku ditempatnya saat Bee mengecup pipinya. Lelaki itu menatap istrinya tak percaya.
Sementara Bee langsung masuk kedalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi takut suaminya itu malah mengejarnya nanti.
Bee tersenyum sendiri didalam mobil, dia tak menyangka jika dirinya memiliki sisi bucin. Entahlah, Bee merasa bersama Bastian dia benar-benar menjadi dirinya sendiri. Apalagi sifat Bastian yang suka membuatnya kesal, membuat Bee tak bisa menahan emosi nya.
"Astaga, aku lupa isi pulsa. Aku sungguh sebentar," ucap nya.
__ADS_1
Wanita itu menepikan mobil nya didepan sebuah konter yang menjual pulsa dan alat-alat elektronik lainnya seperti ponsel, laptop dan iPad.
"Bee."
Bee terdiam ketika mendengar suara yang begitu dia kenal memanggil namanya.
Bee menoleh saat dia hendak masuk kedalam mobil.
"Kak Ragil," gumam nya.
.
.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ragil sambil menyesap kopi dalam gelasnya.
Ragil mengajak Bee untuk berbicara sebentar. Awalnya wanita itu menolak dengan keras karena baginya Ragil adalah orang di masa lalu yang tak perlu dia ingat-ingat lagi.
"Seperti yang kau lihat," jawab Bee dingin. Bahkan wajah wanita itu tak berekspresi apapun.
"Kakak minta maaf," ucap Ragil penuh penyesalan. Dia benar-benar menyesal telah meninggalkan Bee. Padahal wanita ini sangat baik dan setia padanya.
"Untuk apa?" tanya Bee tanpa melihat Ragil.
"Untuk semua yang Kakak lakukan padamu," ucap Ragil merasa bersalah.
"Aku sudah tak mengingat apapun," kilah Bee.
Bohong jika Bee tidak mengingat semua hal yang menyakiti hatinya. Penghinaan keluarga Ragil masih terngiang di kepala wanita itu. Rasa sakit yang ditinggalkan hingga kini masih bersemayam dengan nyaman. Apalagi sifat Ragil yang tidak tegas kala itu, bahkan saat Bee di hina dan di maki oleh keluarga nya. Ragil hanya diam saja dan tak bisa membela.
"Kakak tahu, jika kau membenci Kakak," ucap Ragil sendu menatap Bee yang jauh berbeda ketika bersama nya.
Bee lagi-lagi tak menjawab, dia diam saja dan menunggu Ragil melanjutkan ucapannya. Sebenarnya dia tidak mau berbicara dengan lelaki ini. Namun, Ragil memaksa dan mengatakan bahwa ada hal penting yang akan dia ucapkan pada Bee.
"Sisil meninggalkan Kakak," ucap Ragil seolah minta belas kasihan.
"Itu bukan urusan ku," sahut Bee.
Ragil menghela nafas panjang. Seperti nya harapan dia untuk mendapatkan hati Bee kembali sangat mustahil karena wanita ini masih enggan menatap dirinya.
__ADS_1
Bee sama sekali tak peduli, mau Sisil selingkuh dan menduakan mantan kekasih nya itu dia sama sekali tak peduli.
Bersambung....