Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
58


__ADS_3

Sejak saat itu,hari-hari Ayana terlihat suram.murung dan kurang bersemangat untuk melakukan apa pun.Gio paham istrinya itu butuh waktu untuk menyembuhkan diri.kini Ayana tidak seperti biasanya sikap wanita itu kembali ke masa di mana saat ia masih remaja dulu dan perubahan sikap Ayana yang tiba-tiba itu membuat kedua orang tuanya heran sekaligus kawatir.pada awalnya keduanya marah,namun setelah mendengar cerita dari Gio,Frans dan Monica paham dan tidak lagi menyalahkan putrinya atas perubahan sikapnya selama ini,mereka selalu mendorong dan menyemangati Ayana agar ceria seperti biasanya.namun rupanya usaha mereka belum juga membuahkan hasil,karena Ayana terlihat menjauhkan diri dari keluarganya sendiri termasuk Gio.


Ayana lebih banyak diam dan melamun jarang bicara dengan siapa pun.termasuk dengan Gio suaminya sendiri.wanita itu hanya akan bicara dengan putrinya saja selain itu Ayana terlihat tidak berminat interaksi dengan siapa pun.setiap Gio bertanya mengapa dan kenapa biasanya Ayana selalu menjawab." Gak tahu Gi sekarang bawaannya kaya sedih aja gitu." dan seterusnya air mata dan isakan Ayana yang selalu menjawab setiap pertanyaan Gio.


Ayana mempunyai trauma akan bullyan kedua orang tuanya memang paham akan mental Ayana yang memang sering kali terguncang jika ia mendapat ucapan yang tak menggenakan hatinya.keduanya selalu memaklumi dan selalu mensupport mental dan fisikis Ayana agar sehat dan pulih kembali seperti semula.seperti sekarang ini,semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan,bahkan Abi dan istri sudah berada di sana begitu juga dengan Nenek dan Kake.begitu mendengar kabar bahwa Ayana sedang kurang baik mereka datang ramai-ramai berkunjung.namun Ayana malah mengabaikan mereka hanya menyapa saat mereka sampai.setelahnya Ayana memilih mengurung diri di kamar.


"Gi,Aya mana?ajak turun kita makan sama-sama." ujar nenek,Gio mengangguk dan langsung naik ke kamarnya bersama Jemia di gendongannya.putrinya itu seakan merasakan bahwa keadaan ibunya sedang tidak baik-baik saja.sehingga Jemia memilih lebih menempel kepada Ayahnya ketimbang ibunya.


Gio membuka pintu kamar dan mendapati Ayana yang sedang duduk sembari menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong.Gio menarik napas sepenuh dada saat melihat keadaan istrinya saat ini.


"Mia,lihat bunda tuh cantik banget ya kaya kamu.yuk ajak bunda turun ke bawah." ucap Gio kepada putrinya.dan balita itu hanya tersenyum dan mengoceh tidak jelas." Sayang,turun ke bawah yuk.kita makan bersama.di bawah semuanya udah menunggu kita turun,loh." ajak Gio dengan lembut sembari menyentuh bahu Ayana.


Perempuan itu menoleh sebentar." Kamu aja,aku belum lapar." tolaknya membuat Gio menggeleng.


"Gak boleh gitu,yang.masa keluarga udah nungguin kita dari tadi,tapi kamunya gak mau makan.kasihan nenek sama kake dan yang lain." bujuk Gio masih dengan nada selembut mungkin.


"Dan kamu juga gak boleh kekurangan makanan,nanti adek lemes loh kalau mamanya kurang makan.yuk kita makan rame rame." Gio sedikit menarik tangan Ayana agar istrinya mau berdiri.dengan malas Ayana berdiri lalu berjalan beriringan bersama Gio keluar kamar.


"Habis makan kamu mau pergi kemana yang?mungpung aku lagi gak sibuk nih jadi bisa antar tuan putri kemana pun kamu mau." ucap Gio mencairkan suasana karena Ayana diam saja bak patung berjalan bahkan menyapa putrinya saja tidak.


"Aku di rumah aja." jawab Ayana pelan.


"Kok gitu?mending keluar maen,kemana aja ke pasar malam mau gak?nanti kita beli kue cubit kesukaan kamu dulu saat hamil Jemi." bujuk Gio agar Ayana mau keluar rumah supaya istrinya mendapat suasana baru tidak melulu di dalam rumah terus.dan itu semakin membuatnya tambah stres.


"Sekarang udah gak mau.tapi kalau kamu mau keluar kamu aja sendiri.aku sih di rumah aja." sahut Ayana cepat.


"Takut?kan ada aku" ujar Gio sembari menghentikan langkahnya.


"Takut ketemu Leo.nanti dia mengataiku yang tidak-tidak lagi." cicit Ayana sembari menunduk.


"Gak akan.ada aku yang akan melindungi kamu,jangan kawatir semua akan baik baik aja sayang.percaya deh,Leo gak akan macam macam." ujar Gio dengan lembut membuat Ayana terdiam.


Kemudian perempuan itu mengangguk lemah." Nah gitu dong.masa diam di rumah aja nanti beku loh kelamaan di dalam rumah terus." Gio tersenyum lega saat Ayana mau di ajak keluar rumah meski Gio tahu Ayana terpaksa.


"Wah hari ini Aya terlihat lebih segar ya." ucap Nenek menyapa Ayana saat baru mendudukan diri di meja makan.


"Gimana hari ini mau jalan-jalan gak,Dek?kalau mau biar mas anter kemana pun kamu mau." ujar Abi dengan lembut.


"Iya tuh mungpung kaka lagi ada waktu loh Ay.tumben loh mas Abi mau anter biasanya kan pacaran mulu sama kerjaan." timpal Monica dan istri Abi keduanya terkekeh.


Ayana hanya memasang wajah datar malas menanggapi obrolan ini.lagi-lagi semua orang memintanya untuk keluar rumah,saat ini Ayana hanya ingin diam di rumah untuk memulihkan psikisnya yang terguncang oleh perkataan lidah tajam Leo.dirinya hanya ingin bersama Gio setiap saat dan selalu berada dalam dekap hangat pria itu.hanya Gio yang mampu menghapus rasa sakit itu,tapi bukan bebrarti Ayana menganggap pria itu sebagai obat saja.namun saat ini Ayana benar-benar tidak ingin apa pun,hanya ingin bersama Gio,itu saja.


Namun sepertinya semua orang salah paham dan tidak mengerti akan kemauannya.termasuk Gio sendiri.mereka malah menodorong Ayana untuk keluar rumah supaya bisa merasakan suasana baru agar pikiran Ayana lebih fresh dan plong katanya.padahal di rumah saja sudah cukup lebih dari healing pikir Ayana asalkan itu bersama Gio di mana pun dan kapan pun Ayana akan merasa bahagia dan senang.


Ayana tahu mereka semua menganggap dirinya tengah memiliki gangguan mental. atau bisa di bilang sedang mengalami tekanan stres akibat pria gila itu.padahal kenyataannya tidak begitu,hanya saja Ayana akui lidah tajam pria itu memang melukai perasaannya dan membuka luka lama.tapi Ayana tidak selemah itu hingga mentalnya down seperti sekarang ini. Ayana hanya mengalami masa ngidam yang lumayan parah di kehamilannya yang kedua ini.Ayana merasa perasaannya sangat sensitif kali ini.ia selalu merasa tersindir oleh ucapan siapa saja yang di anggapnya melukai perasaannya.padahal biasanya Ayana tidak sesensitif ini sebelumnya.


"Kalian bisa gak sih pada diem gitu?gak harus nyuruh nyuruh aku untuk keluar rumah terus?aku ini gak stres dan gak kenapa-napa,aku cuma ingin di rumah udah itu aja." ucap Ayana membuat semua orang menatapnya.


"Aku gak kenapa-napa Mah,Pah.kakek dan nenek juga gak perlu sekawatir itu,apa lagi Mas Abi dan kaka.aku baik-baik saja cuma aku rasa kehamilanku yang ini cukup menganggu perasaan aku.moodku selalu naik turun lebih cepat dari roller coaster. jangan kawatir aku baik-baik aja kok." Jelas Ayana dengan serius.


Semua orang masih menatapinya dengan tatapan tak percaya.mereka masih yakin bahwa Ayana memang sedang mengalami tekanan bukan hanya kehamilan semata. hanya saja perempuan itu mungkin tidak menyadarinya.dan itu malah membuat semua orang tua kawatir apa lagi Gio.


"Iya,kami tahu.tapi keluar rumah gak masalah kan?anggap aja healing kemana kek gitu.misal ke puncak atau bandung kalau Aya mau,kalau di rumah terus rawan stres Dek.apa lagi hamil kan hormon lagi sensitif banget." ujar Abi dengan lembut.


Ayana mendengus sembari mencebikan bibirnya." Mas Abi benar Aya.coba sesekali pergi liburan sama Gio atau hanya pergi jalan jalan aja,gak perlu sampe menginap." timpal Nenek yang di setujui Monica.


"Atau mau sama kaka?." tanya istri Abi.


Ayana menggeleng menolak tawaran semuanya." Aku cuma pengen di rumah titik jangan maksa.kalau pun mau pergi paling ke rumah Ibu." jawabnya sembari menyendok nasi lalu memakannya.


Semua orang mengalah tidak ingin memaksa atau malah membuat Ayana tambah stres.mereka yakin Ayana mungkin memang hanya ingin di rumah saja tidak ingin kemana pun.semoga saja perempuan hamil itu memang dalam keadaan baik baik saja.


"Suter Risma kemana sih?biar Gio makan dulu itu." ujar Nenek saat melihat Gio sangat repot dengan putrinya yang tidak ingin lepas dari gendongannya.


"Lagi mandi Nek.biarin aja gapapa aku bisa kok." sahut Gio dengan sopan.


"Bukan gitu Gi.kamu kerepotan begitu untuk apa sewa suster kalau mau makan aja musti ribet sama anak." omel Nenek seperti biasa selalu mempermasalahkan hal sepele.


"Udah lah Ma.Gio udah terbiasa begitu gapapa biar belajar sebentar lagi yang di perut keluar,nambah lagi repotnya." sahut Monica di iringi tawa Abi dan Kake.


"Gak apa-apa Gi.sekarang memang repot tapi nikmati aja.nanti coba lihat beberapa tahun lagi kamu akan merindukan masa masa itu.dua atau tiga lagi lah tambah biar ramai." goda Kake dengan tawanya.


Gio hanya mengangguk dan tersnyum." Iya Kek.gapapa itung itung belajar aja seperti kata Mamah tadi.biar gak kaget pas adiknya lahir nanti."


"Iya.banyak-banyak sabar aja,Gi.apa lagi induknya modelan gitu nguras tenaga dan kesabaran.beli stok sabar aja yang banyak di pasar loak." ujar Abi membuat tawa mereka meledak kecuali Ayana dan Gio. pria itu hanya tersenyum malu malu.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Ayana merebahkan dirinya di atas ranjang dan Gio ikut menyusul istrinya usai menidurkan Mia.Gio mengusap lembut perut Ayana yang sudah lumayan sedikit menonjol meski masih sangat kecil tapi kata Ayana dirinya sudah merasakan adanya getaran halus dari dalam sana.

__ADS_1


"Baik-baik di dalam sayang.jangan buat bunda kecapean ya,sehat sehat di dalam sana,ingat,ayah sayang kalian." ucap Gio sembari menunduk dan mengecup perut mulus Ayana.


"Gi " panggil Ayana membuat wajah Gio yang sedang menunduk itu mengadah.


"Kenapa,mm? "tanyanya.


Ayana terdiam tidak segera menjawab lalu tangan lentik itu mengambil tangan besar Gio.Ayana memainkannya dengan menggesek gesekan jari besar Gio kemudian menautkan jari jemari mereka lalu menggenggamnya.


"Kenapa yang?ada yang mau kamu omongin,hmm?" tanya Gio lagi karena istrinya tak kunjung menjawab.


"Kamu sama kaya mereka ya?menganggap aku lagi kena gangguan mental?." ucap Ayana membuat Gio mengerjap.


"Semua orang mengira aku ini lagi stres akibat Leo.sebenarnya enggak begitu.ya emang aku akui.gara gara Leo perasaan aku jadi sedikit terganggu.tapi bukan berarti aku ini depresi karena dia.enggak sama sekali.aku baik-baik aja,Gio.cuma emang mood aku akhir akhir ini naik turun dan selalu merasa risih kalau di dekat orang-orang.aku lebih suka menyendiri karena merasa lebih tenang aja.tapi malah semua orang mengira aku seperti ini gara gara Leo.termasuk kamu."


Ayana memainkan jari jemari Gio yang di hiasi cincin pernikahan mereka,cincin itu memiliki warna silver dengan satu mata berlian di atasnya.jemari kokoh itu ia usap usap dengan lembut karena Ayana sangat menyukai jemari Gio yang begitu indah ini, apa lagi jemari yang besar ini selalu membuatnya melayang dan melenguh nikmat.


"Apa sih?." Gio merapatkan tubuh Ayana ke dalam dekapannya." Aku gak berpikiran kesana.aku gak anggap kamu seperti itu kok." pria pemilik hidung bangir itu mengecup pucuk kepala Ayana dan mengusap lembut surai panjang yang selalu harum sampo itu.


"Tapi aku bisa ngerasain kalau kamu sama seperti Mamah dan Papah.menganggap aku ini depresi,menganggap kalau mental aku ini lagi gak baik baik aja.padahal nyatanya,aku seperti ini bukan karena itu, Gi.aku cuma sedang mengalami perubahan hormon,bukan depresi karena pria gila itu.rugi banget kalau aku harus down cuma karena dia." ungkap Ayana dengan sembari menatap jatuh ke dalam manik Gio yang jernih dan bening itu Ayana selalu tenggelam kedalamnya.mata itu selalu meneduhkan dan membuatnya betah berlama lama menatapnya.


Sama halnya dengan Gio,pria beralis tebal itu selalu jatuh ke dalam pesona Ayana yang tiada duanya ini.bagaimana tidak bingkai wajah itu begitu sempurna tuhan ciptakan.hidung lancip dan bibir tipis yang kemerahan selalu mengundang untuk Gio kecup.matanya yang besar dan jernih itu selalu membuat Gio terjatuh hingga tersesat di dalamnya.Gio lupa di mana pintu keluar dari pesona Ayana ini.selama menikah dengannya Gio sudah lupa bagaimana caranya keluar dari segala pesona yang di miliki perempuan cantik ini Gio rupanya sudah menetap di sana,sudah menjadi pemilik bukan lagi hanya sekedar singgah saja.


"Karena aku ngerasa kamu berubah setelah ketemu dia.aku mengira sikap kamu yang berubah jadi dingin seperti belakangan ini.semuanya karena dia karena memang benar adanya seperti itu yang aku lihat." aku Gio sembari mengelus pipi mulus Ayana dengan ibu jarinya.


Ayana mendekus dengan delikan khas dirinya yang judes." Sok tahu banget sih kamu ini.siapa bilang aku seperti ini gara gara dia?enak aja,ya enggak lah.yakali ngapain rugi banget."


"Tapi perubahan kamu tepat setelah itu, Yang?" ujar Gio.


"Iya,tapi kan gak langsung kali.aku itu udah begini jauh sebelum ketemu dia." elak Ayana dirinya tidak ingin semua orang menganggapnya seperti itu.padahal memang salah satunya karena itu juga.


"Gitu?" sahut Gio sedikit tak percaya, pasalnya dirinya tahu betul kapan sikap Ayana itu berubah.jelas saja setelah bertemu Leo semuanya langsung berubah menjadi dingin dan suram.hari hari mereka menjadi tidak lagi hangat begitu kelam dan beku.


"Kenapa sih gak percayaan amat?." tanya Ayana dengan nada tak suka.


"Percaya kok.masa sama istri sendiri gak percaya sih." sahut Gio lalu menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Ayana dan seperti biasa mendusel di sana.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Rehan tengah berjalan dengan santai di bawah terik matahari.mulut pria kurus itu komat kamit sejak tadi karena motornya yang tiba tiba ngambek.dirinya terpaksa harus berjalan kaki dengan jarak dua kilo meter dari rumah ke tempat kerjanya.


"Kalau begini bisa bisa subuh gue baru sampe kerjaan." dumel Rehan dengan wajah kusut.tiba tiba sebuah mobil sedan melintas dan melewati jalan berlubang yang di genangi air sisa hujan semalam dan air itu berhasil menciprat mengenai Rehan hingga wajah dan bajunya basah.


Lalu mobil itu terlihat berhenti dan kepala seorang perempuan melongok ke luar." Aduh mas saya minta maaf.gak sengaja tadi." ucapnya terlihat sekali tidak niat.


"Gak sengaja Ndasmu,Mbak." emosi Rehan lalu dirinya mendekati mobil yang masih diam itu.


"Gak sengaja lo bilang Mbak?ini baju dan badan gue basah semua goblog,gue mau kerja ini malah lo basahin." ucap Rehan dengan nada meninggi.


"Ya maaf,tadi kan gue bilang gak sengaja gue gak lihat kalau ada jalan berlubang." sahut wanita itu.sangat tidak masuk akal deh.


Rehan mendengus dengan tatapan kesal." Makanya kalau jalan itu pake mata.Mbak. jangan pake dengkul.gue gak mau tahu ganti rugi beliin gue baju,soalnya rumah gue jauh dari sini gak mungkin kalau gue balik lagi,gue mau kerja ini."


Rehan memaksa perempuan itu tanggung jawab.enak saja pikirnya.jika perempuan itu lepas tanggung jawab begitu saja dirinya bak gembel saja saat ini.basah kuyup nan dekil juga bau tentu saja.hadeh gawat kalau ketemu mantan Ayang dalam keadaan begini.harga diri Rehan bisa anjlok.


"Nih gue kasih lo beli baju sana." tak ingin berdebat Aneska memberikan uang seratus ribu rupiah kepada Rehan.


"Mbak sadar?Mbak uang seratus ribu di jaman ini kebeli apa sih?yakali gue beli baju pake uang segini,mana cukup atuh mbak.kolor gue aja Calvin cleon,kan gak cuma baju doang tapi celana gue juga basah nih sepatu gue juga kena lo gimana sih Mbak?" omel Rehan dengan tatapan sengit.


Aneska mendesis dan turun dari mobilnya dengan wajah emosi." Apa lo bilang tadi hah?lo meras gue?." tekan Aneska.


"Enggak.siapa yang meras sih?emangnya lo santen gue peras segala?gue cuma minta ganti rugi doang,elah." kilah Rehan dengan santai.


"Tadi kan udah gue kasih,tapi lo nolak dan minta lagi,terus kalau bukan meras apa namanya?lo gak ketabrak cuma kecipratan air doang tapi minta ganti ruginya udah kaya orang yang kelindes kakinya aja lo." tukas Aneska dengan mata menajam.


"Buset galak amat." batin Rehan dirinya langsung menciut melihat keganasan Aneska ini." Ini mah satu spesies dengan istri Gio.galak dan aduh nakutin banget." lanjutnya.


"Yamaha Mbak.eh yamaap.saya kan cuma minta ganti pakaian saya doang kok.gak minta yang lain." sahut Rehan dengan nada pelan kali ini,rupanya si kurus itu takut.


"Mbak Mbek,Mbak Mbek?gue bukan pembantu lo." sungut Aneska.


"Ya terus manggil apa,Ayang?" tanya Rehan membuat Aneska mendelik tajam.


"Ngelunjak nih bocil." maki Aneska.


"Bocil juga bisa buat bocil nih Mbak." sahut Rehan.


"Lo bisa gak diem?sekarang lo mau kemana ayo gue anter buat beli pakean lo." ucap Aneska akhirnya mengalah.


"Ke toko pakean lah Mbak.masa ke toko bangunan?." jawab Rehan dengan santuy.

__ADS_1


"Darting gue lama-lama." dumel Aneska. Rehan mendekat ke mobil Aneska bermaksud ingin masuk namun Aneska menghentikannya." Lo mau ngapain?" tanyanya.


"Ya masuk lah,ikut Mbak beli baju." jawab Rehan.


"What?lo dalam keadaan jelek dan kotor gini mau masuk ke dalam mobil mewah gue?oh may got,lo gila kali ya?ini mobil harganya bisa ngebeli harga diri lo,dan gak ada satupun orang ganteng yang pernah naek ini mobil.apa lagi lo yang jelek dan dekil,iww." ujar Aneska.


Rehan menatap Aneska dengan tatapan heran.kok ada jenis perempuan macam gini pikirnya." Berarti harga diri saya tinggi dong Mbak.dan Mbak jomblo karatan ya?sampe-sampe gak ada satupun cowok yang nempel sama Mbak." sahut Rehan lalu menatap Aneska dengan tatapan menilai." Pantas saja jomblo wong Mbaknya kaya reog gini." lanjutnya.


Mata Aneska membulat sempurna." Heh bocah dekil ingusan,sini lo ya." Aneska hendak menerjang Rehan namun sayang kakinya terpelintir.


"Aduh..aduh kaki gue patah." raung Aneska sembari memegangi kakinya." Maa.kaki gue patah." teriaknya dengan meruang.


Rehan mendekat kepadanya." Ini beneran apa akting doang?." tanyanya tak percaya.


"Lo kurang ajar banget ya,orang kena musibah lo masih nanya akting apa bukan. dasar bocah tolol." maki Aneska.


"Bocah tolol bocah tolol muke lo kaya kon..konci Mbak" sahut Rehan yang mau tak mau harus membantu Aneska.


"Sini saya bantu kita ke rumah sakit aja. takutnya kaki Mbak beneran patah biar nanti segara di ganti sama kaki meja." ucap Rehan sembari membungkuk hendak memapah Aneska namun tersentak karena Aneska memukul bahunya.


"Lo kurang ajar banget ya,udah sana gue bisa sendiri.keringat lo bau solar." sungut Aneska.


Rehan segera mencium badannya." Bau solar?emangnya gue gilingan tepung atau apa?." rutuknya


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Ayana sedang bermalas-malasan dengan tiduran sembari mensecrol tiktak.hingga setengah jam lamanya dirinya masih betah Ayana suka sekali melihat tutorial masak di salah satu akun resep masakan khas nusantara.dirinya banyak belajar membuat menu baru dari sana.dari akun itu juga Ayana juga mempelajari menu Mpasi untuk putrinya yang sudah mulai makan itu dirinya sering kali mengurung diri di kamar sebenarnya bukan hanya melamun saja. seperti kata orang orang.tapi Ayana sering kali menatapi ponselnya untuk mencari resep baru.


Setelah hampir satu jam lamanya salah satu postingan video mampir di berandanya.video itu berisikan orang Thailand yang terlihat sedang memperlihatkan masakan yang terlihat lezat sekali.Ayana menyimak dengan serius tutorial memasak sate biawak.


"Phing tokhma kungmha phii.iklew khuntawak sontulay.mhi nau luey shoknon iklew phati mhachay." begitu lah ucap salah satu chef yang berasal dari thailand tersebut.


"Enak juga kayanya." gumam Ayana seraya menalan ludah.sepertinya sate itu begitu empuk dan gurih.lihat saja bumbunya yang meresap ke daging dengan sempurna pasti rasanya mantap poll.dengan gerakan terburu Ayana mengintip ke bawah lewat jendelanya.di bawah sana ada Gio dan ayah mertua sedang bermain catur di gazebo depan kolam.terlihat sekali wajah Gio yang tertekan dan pasrah itu.


Ayana terkikik melihat wajah tertekan Gio. ia tahu suaminya tidak suka catur dan kurang mahir dalam permainan itu.Ayana turun ke bawah menghampiri Gio dan ayahnya.wanita itu langsung saja menyender di badan Gio.


"Gi" rengek Ayana tiba tiba membuat Gio dan Frans menoleh.


"Kenapa,Dek?." tanya Frans kawatir.


"Aku lagi pengen sesuatu Pah." jawab Ayana dengan manja membuat Gio mengerjap.


"Mau apa?" tanya Frans serius.


"Sate biawak."


"Ha?" ucap Frans dan Gio bersamaan mereka menatap Ayana dengan tatapan horor.


"Pengen sate biawak kayanya enak deh bumbu kecapnya di banyakin gitu." ujar Ayana sambil membayangkan betapa nikmatnya sate biawak itu yang tadi ia lihat.


"Dek jangan aneh-aneh deh.yakali pengen sate biawak ada ada aja." ucap Frans dengan gelengan kepala.


"Kok tiba-tiba pengen sate biawak,kamu gapapa kan?." Gio menyentuh kening Ayana yang terasa normal suhunya.


Ayana menepis tangan Gio." Apaan sih lo kira gue sakit apa?segala di periksain." dengusnya.


"Bukan gitu.tapi Gio heran kamu tiba-tiba pengen sate biawak ada ada aja.lagian di sini mana ada sih yang jual sate biawak?" heran Frans dengan decakan.


"Iya yang.sate yang lain aja ya?sate kambing mau gak?atau kita buat sendiri rame rame?jangan sate biawak atuh." tawar Gio dengan lembut.


"Gak mau,aku pengennya sate biawak kambing sama sapi mah udah bosen.apa lagi ayam." tolak Ayana.


Frans dan Gio menarik napas sepenuh dada." Mana ada yang jual sate biawak sih Aya?di sini mana ada coba?dimana yang jualnya?lagian itu hewan beracun masa di sate,nanti kalau kamu dan bayimu kenapa-napa.gimana?" ujar Frans.


"Kata siapa beracun?orang pada di makan kok.aku lihat ini di vidio juga di makan.gak mau tahu pokonya pengen ini,Gi." rengeknya seraya menunjuk video itu yang langsung membuat seluruh persendian Gio melemah.


"Kemana aku harus nyari biawaknya?aku juga gak bisa nangkepnya." lirih Gio dengan perasaan tak menentu.


"Coba ke pantai B biasanya di sana banyak Gi.kan kita suka lihat pada naik ke pohon kelapa.nyarinya yang gemukan ya biar dagingnya banyak." pinta Ayana dengan wajah sumringah karena Gio sepertinya bersedia.


Gio menatap Frans berharap di tolong oleh ayah mertuanya itu.Gio yang sedang terjepit begini sangat berharap bantuan dari Frans." Pah." ucap Gio dengan tatapan nanar.


"Cari dan turuti.dia lagi ngidam sepertinya. buruan jangan sampe lagi ngediemin kita semua." sahut Frans dengan tegas ia mengeraskan hatinya melihat wajah Gio yang melas itu.




__ADS_1


__ADS_2