
Pagi ini Gio sengaja memutuskan untuk membolos kuliah,ia segera membereskan peralatan anak dan istrinya lalu menaruhnya ke dalam bagasi mobil.sejak pagi ia tidak banyak bicara kepada semua orang,bahkan untuk sekedar basa basi pun dengan orang rumah tidak ia lakukan.Gio seperti kehilangan minat walau untuk sekedar menyapa ibu dan kakanya.Ayana yang baru selesai memandikan anak-anaknya di bantu oleh indri dan Mira tentunya.kini tengah berdiri di depan pintu kamar seraya memperhatikan Gio dengan kebingungan.
"Mau kemana?" tanyanya dengan heran.
"Pulang.habis ini kita langsung pulang setengah dua belas nanti aku harus latihan futsal." jawab Gio sembari meletakan sandal dan sepatu anak-anaknya yang baru ia bersihkan dengan tisu basah.rajin banget ya bapak-bapak tiga anak itu.
"Oh ya udah.aku mandi dulu" ujar Ayana dan kemudian pergi ke kamar mandi.
Mira dan Indri hanya saling pandang dengan bingung,mereka masih belum bicara apa pun sejak semalam dengan Gio dan pagi ini Mira harus bicara dengan putra bungsunya itu.agar masalah tidak berlarut nantinya." Gi.." Mira duduk di sebelah Gio yang tengah duduk di ruang tivi dengan Raven yang tengah ngempeng di pangkuannya.
Gio yang sedang menimang sang anak pun seketika menoleh pada ibunya." Iya. kenapa Bu?."
Mira tak segera menjawab hanya helaan napasnya yang terdengar lelah." Kamu marah sama ibu?." tanya Mira kemudian.
Gio menggeleng dengan cepat." Nggak. untuk apa marah sama ibu?aku cuma butuh waktu dan saat ini ingin sendiri dulu kami mau langsung pulang sekarang setelah Aya selesai mandi." jawab Gio dengan cepat pula.dan kentara sekali dari nada bicaranya pun pemuda yang sudah beranak tiga itu terlihat kecewa.Mira hanya mengangguk dengan senyum tipis yang di paksakan.ia paham dengan perasaan Gio yang mungkin saat ini sedang tidak ingin di ganggu.Mira tahu putrnya itu pasti merasa sangat kecewa padanya.
Gio tak lagin bicara apa-apa lagi ia memilih bangkit dari duduknya dan membantu Ayana memasangkan sepatu dan kaus kaki untuk anak anaknya memang terlihat tidak sopan meninggalkan dan mengabaikan sang ibu dan kaka yang masih duduk di kursi itu.Gio sengaja menghindari Mira,bukan karena benci pada ibunya itu.tapi Gio kecewa pada mereka,bohong kalau ia tidak merasakan sakit hati atas apa yang terjadi tadi malam. seumur hidup itu merupakan hal yang begitu mengejutkan untuknya sampai-sampai ia syok di buatnya.
"Cepet.keburu macet Nanti." ujar Gio sembari menurunkan Jemia dari kasur putrinya Gio itu tengah bersusah payah belajar memakai sepatu sendiri,setelah tadi menolak untuk di pakaikan oleh ayahnya.
Ayana yang tengah sibuk menyisir rambut pun lantas menoleh." Ya entar atuh Gi. pamit dulu sama ibu dan kaka."
"Ya udah sekalian keluar.makanya cepetan." ucap Gio dengan nada yang sedikit ketus menurut Ayana.lantas perempuan beranak tiga itu tak menyahut ia memilih diam.meski sebenarnya kesal kepada suaminya,tapi Ayana memilih untuk mengerti akan perasaan Gio yang memang sedang sensitif.
...ππππππ...
Usai berpamitan dengan cara yang dingin dan tak biasa kepada ibu dan kakanya,Gio dan Ayana akhirnya pulang.kini mereka tengah dalam perjalanan dengan keadaan yang bungkam.hanya celotehan Jemia yang sibuk menanyakan ini dan itu dengan apa yang di lihatnya sepanjang jalan hingga mobil yang di kendarai oleh Gio sampai di rumah pun keduanya memilih diam.Ayana sengaja tidak banyak bicara membiarkan Gio larut dalam pikirannya sendiri.laki-laki itu butuh waktu untuk menenangkan pikiran yang kacau. Ayana sangat mengerti akan perasaan itu.
Sebelum latihan futsal,Gio menyempatkan diri untuk mengistirahatkan pikirannya sebentar.ia tidur di kamar anak-anak dengan memeluk bantal yang biasa Jemia peluk di saat tidur.Ayana mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.ia melihat sang suami tidur dengan pulas di kasur yang sengaja di gelar di lantai biasa mereka gunakan saat menidurkan anak-anak.
"Ayahnya anak-anak jangan di ganggu ya. kalau Jem atau si kembar tidur nanti suster bawa ke kamar saya aja.saya mau ke depan dulu." ujar Ayana seraya meraih tas yang tergeletak di meja ruang tamu.
"Iya,Non." jawab kedua suster anak-anaknya.
Ayana duduk di kursi yang di sediakan di mini market yang tak jauh dari rumahnya. kemudian perempuan bermata cokelat terang itu mengedarkan pandang,dan tak lama setelah itu Jerrian terlihat melambaikan tangan ke arahnya di sertai senyum manis yang merekah di bibir pria itu.
"Hai,Aya." sapanya sembari mendudukan bokongnya ke kursi tepat di depan Ayana." Sorry ya,aku nemuin kamu di sini."
"Iya.oh iya bener emangnya kamu mau kerja di kantor Papah,Jerr?." tanya Ayana.
Jerrian menganggukkan kepalanya dengan serius." Iya.Papah aku yang minta dan om Frans juga udah setuju.usaha Papah lagi goyang,Ay.makanya aku pusing banget ini.mudah-mudahan aja si Papah bisa segera atasi penyebabnya."
"iya udah mending kerja di kantor aja Jerr lagian Pak Andreas udah resign sih. mudah-mudah kamu bisa menggantikan dia dengan amanah." ujar Ayana seraya membuka botol minuman dan segera meneguk isinya.lama keduanya mengobrol membicarakan pekerjaan.sampai-sampai Ayana baru tersadar bahwa jam sudah menunjukan di angka dua kurang.dengan segera ia berdiri berpamitan kepada Jerrian.
Sementara di rumah,Gio baru bangun dari tidurnya dan segera mengecek jam.benar saja ia sudah kepepet dengan waktu.tanpa mandi dan makan terlebih dulu,Gio dengan segera mengambil kunci motor dan segera pergi ke tempat pelatihan.ia mengabaikan wajahnya yang terlihat sedikit berantakan itu.ada beberapa luka memar bekas pukulan kaka iparnya.sekembalinya Ayana ke rumah,ia yakin kalau Gio sudah pergi karena motor besar yang biasa terpakir di garasi dengan gagah itu tidak ada.
"Ayah anak-anak udah berangkat,ya Sus?." tanya Ayana pada suster Titi untuk memastikan.
"Iya Non.buru-buru banget kayanya itu."
Ayana mangambil ponsel lalu mengirim pesan kepada suaminya,untuk meminta maaf karena tadi pergi tanpa pamit dan ijin karena tidak ingin menganggu Gio yang sedang tidur.istri Gio itu menunggu beberapa saat,tidak ada balasan dari ayah tiga anak itu.karena memang sepertinya Gio sedang sibuk latihan.
...ππππππ...
"Telat mulu lo mah,si Firman udah ngomel mulu itu." dumel Deon yang setengah kesal kepada Gio.
"Anak gue drama dulu,Yon.cape gue ngebujuk dia sampe tidur.dan akhirnya gue yang ketiduran." dusta Gio,kali ini membawa-bawa nama anaknya.dan akhirnya para temannya itu memaklumi karena bagaimana pun Gio memang sudah memiliki buntut,yang katanya sangat nempel dan lengket padanya.mereka harap maklum.
Pelatihan yang terakhir sore berjalan lancar besok mereka akan tanding untuk memenangkan turnamen ini.karena hadiahnya lumayan bagi mereka yang memang ada beberapa orang yang sangat mengharapkan hadiah itu.seperti Gio misalnya.ia sangat berharap akan menang dalam turnamen ini karena ia ingin hadiahnya untuk menambah membeli kebutuhan anak-anaknya.berbeda dengan yang lain,ada juga yang mengikuti turnamen itu hanya untuk kesenangan saja karena di dalam kelompok tim Gio tidak semuanya seperti Gio.ada sebagian yang berasal dari keluarga berada.jadi tidak terlalu mengharapkan hadiahnya.
Usai latihan Gio duduk di pinggir lapangan dengan napas ngos-ngosan.sembari mengelap keringatnya ia meminum air mineral dingin yang tadi di berikan oleh Firman.Gio merogoh ponselnya membuka semua pesan yang masuk.ada beberapa pesan masuk yang baginya sebagian tidak lah penting.hanya dari sang istri lah yang paling penting meski terkadang isinya hanya sebuah stiker lucu yang Ayana kirimkan namun jika di tanya apa maksudnya istri Gio itu hanya akan menjawab"Gak tahu,iseng aja"
"Kenapa?emang tadi kamu dari mana yang?" tanya Gio saat sambungan telepon terhubung,Gio menelepon Ayana karena malas mengetik pesan.lebih enak saja mengobrol langsung pikirnya.
"Habis dari mini market depan.ketemu Jerrian dia wa aku.katanya senin dia mulai kerja di kantor,mau ijin ke kamu gak enak karena kamu lagi tidur." jelas Ayana.Gio tak segera menjawab wajahnya langsung masam.untungnya Ayana tidak melihatnya. " Halo.kok diam aja?," tanya Ayana karena Gio tak kunjung bicara.
"Iya.ya udah aku mau ngobrol dulu sama anak-anak.bentar lagi pulang ini." tutup Gio dengan datar.
Ayana mengerti dan langsung menutup panggilan itu.biarlah setelah Gio sampai nanti dia akan menjelaskannya.semoga saja laki-laki itu tidak marah.karena Gio sangat cemburuan,di kantor saja ia selalu tidak suka jika Ayana tak sengaja bertemu dengan Jerrian.
__ADS_1
"Tunggu aja kamu.ternyata udah mulai berani dan diam-diam ketemu tikus got lagian ngomongin apa sih sampe keluar rumah segala?." rutuk Gio sembari melempar botol kosong yang langsung mengenai kepala Arga.
"Woy.salah gue apa sih tod.kok di lempar nying?" maki Arga yang kesal.jika yang mengenai kepalanya bagian dari botol itu bukan lah tutupnya,Arga mungkin tak akan selebay itu kok.
"Salah lempar tadi.gue kira tong sampah taunya pala lo." ujar Gio dengan menahan tawa.
Mendengar itu lantas Arga menoleh padanya dengan mata melotot sempurna" Anak dajjal,emang bener-bener lo ya."
"Udah woy.malah ribut di mari kurang kerjaan banget,mending ribut di lapangan tadi." sambar Deon.
"Ya ini kan emang di lapangan oon.tinggal lari dikit aja mereka udah bisa langsung adu jotos." heran Marko yang seketika saja membuat mereka tergelak kecuali Gio.
...ππππππππ...
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu untuk pertandingan itu tiba.Gio sudah bersiap dengan sepatu futsalnya,lelaki itu terlihat sibuk memasukan barang-barang Jemia untuk di bawanya.karena beberapa waktu lalu Gio meminta Ayana ikut menonton,dan hari ini istri dan anaknya itu ikut serta keduanya memasuki mobil dengan Jemia yang sudah duduk anteng di kursi belakang.
"Mukanya kok tegang banget?." tanya Ayana.
"Grogi,yang.takut kalah nanti gak jadi beli pempes si kembar." jujur Gio sejujur-jujurnya.bagaimana tidak,saat ini ada Ayana serta Jemia yang akan ikut menonton dan memberikan dukungan untuk dirinya.kalau Gio sampai kalah gimana.
Ayana berdecak pelan." Kamu ini belum apa-apa udah tegang.berdoa aja supaya tim kamu menang.menang atau kalah bukan masalah bagi kami kamu adalah yang terbaik." Gio tersenyum dan melayang sembari menjalankan mobilnya kata-kata dari Ayana ini memberikan semangat dan dorongan untuknya.setelah mendengar kata-kata itu ia menjadi tambah semangat dan semakin berambisi agar menang di pertandingan nanti,meski jika pun ia kalah nanti itu tidak masalah baginya.
"Makasih." jawab Gio seraya mengusap rambut Ayana yang selalu lembut itu.
Ayana berjalan di samping Gio dengan satu tangannya yang terus di genggam oleh lelaki itu.mereka memasuki salah satu ruangan yang di sana sudah di isi oleh beberapa teman-teman Gio.tidak hanya teman-temannya saja,tapi di sana juga ada pacar dari para temannya.Gio di sambut oleh teman-temannya antusias mereka begitu terjekut saat melihat Gio datang tidak sendiri seperti biasa,tapi membawa ikut serta anak dan istrinya bahkan ada beberapa dari teman Gio yang hampir tak percaya dengan siapa yang Gio bawa itu.
Ayana menyambut uluran tangan orang-orang yang ada di sana satu persatu.mereka begitu ramah dan terlihat sangat menyambut kedatangannya.Jemia yang berada dalam gendongan Gio pun terlihat malu-malu saat di sapa oleh beberapa teman ayahnya itu.
"Setdah.bening bener,Gi." ucap Firman usai bersalaman dengan Ayana.
Gio mendengus sebal." Bening-bening,lo kira seprite?."
"Gio orangnya nyebelin gak,teh.kalau di rumah?." tanya Marko kepada Ayana yang saat ini masih berdiri di belakang Gio.
"Mar,lo mah tutah teteh aja deh.panggilnya Kaka dong atau Non.lo gak lihat mereknya aja mahal gitu?jangan sembarang manggil istri Gio ini bukan brand lokal loh." ujar Adam membuat semua yang ada di sana tergelak.
"Lo kira istri gue barang?." ketus Gio.
"Anak lo ganteng banget,Gi."ujar Deon membuat mata Gio langsung melotot.ia melirik istrinya yang berada di balik punggungnya.
"Lah bukannya cewek ya?" tanya Marko dengan heran.setahunya anak Gio ini perempuan dan anak keduanya masih kecil.
"Cewek lah.mata si Deon aja yang katarak. cantik gini di bilang ganteng." omel Gio.
"Jadi,cewek anak lo?" Deon masih tidak percaya kalau anak Gio itu seorang perempuan.
Gio berdecak dengan kesal." Lo gak lihat pake kunciran begini nih?pake anting dan kalung begini,Yon?."
"Iya,ya.aduh maaf,maaf.gue salah lihat. biasalah kurang makan wortel." cengir Deon yang seketika saja sadar dan merasa sangat malu kepada Ayana.
...ππππππ...
Ayana duduk di tribun di antara orang-orang dan teman Gio.dan mungkin saja Ayana juga duduk di antara salah satu mantan Gio di sana.ada beberapa dari mereka yang terlihat menatapnya dengan sinis.tapi kebanyakan dari mereka ramah dan sopan.namun ada pula yang terlihat segan pada Ayana.mereka tahu betul bahwa ternyata istri Gio itu anak konglomerat yang ada di kotanya.
"Bilang,ayah semangat gitu." pinta Ayana kepada Jemia setengah berbisik.dan langsung di turuti oleh putrinya itu.Jemia melihat kearah Ayahnya yang tengah menanti bola yang sedang di oper oleh lawan.
"Ayah angat.ayo ayah angat"
"Ayah io"
"Ayah Jem angat" suara cempreng Jemia terdengar melengking menyemangati ayahnya.Gio yang mendengar teriakan anaknya itu pun lantas menoleh dengan senyum mengembang membuat para penonton bersorak girang.dan banyak pula yang mleyot melihat senyum mematikan itu.
"Gio.Gio,Gio."
"GIO.GIO SEMANGAT,GIO"
"DEON SAYANG AYO"
"FIRMAN"
__ADS_1
"AYANG MARKO"
"AYANG GIO"
"AAAAAA....GIO..."
Teriakan dari beberapa penonton membuat tim Gio semakin bersemangat.apa lagi Gio yang saat ini tengah menebar senyum cerah karena merasa bahagia berkali-kali.
"Ayo kasih semangat lagi ke Ayah." bisik Ayana di telinga Jemia.
"AYAH.AYAH"
"AYAH.ANGAT AYAH."
"AYAH IA ANTENG ANGAT."
Teriak putri Gio dengan heboh,gadis kecil itu bahkan setengah berdiri dari pangkuan sang bunda.Gio melambaikan tangannya dan memberikan kecup jauh.dan itu membuat Jemia tambah jingkrak-jingkrak.
Namun rupanya tak hanya Jemia saja yang bahagia melihat lambaian tangan Gio.ada beberapa perempuan yang salah paham mereka mengira lambaian dan kecup jauh itu di berikan untuk mereka.Ayana dapat melihat dan mendengar begitu banyak perempuan yang bersorak bahagia mendapatkan hal itu dari Gio.
"Dih,pada lebay banget." Ayana mencebikan bibirnya dengan malas.
"Pacar gue semangat..GIOOOOOO." teriak beberapa perempuan.membuat Jemia menoleh ke samping kanan dengan gembira.dia senang ada banyak orang yang menyemangati ayahnya seperti dirinya.gadis kecil itu belum memahami apa yang di dengarnya.
"Nda.oyang cuka Ayah" ucap Jemia sembari menunjuk beberapa perempuan yang terus meneriakan nama Gio.
"Iya." sahut Ayana cepat.supaya putrinya tidak bicara lagi.karena ia tidak suka mendengarnya bahwa begitu banyak orang yang menyukai Gio.
"Lagi,kasih ayahnya semangat." ucap Ayana kepada putrinya yang langsung di lakukan oleh Jemia lagi.beberapa kali anak itu berteriak namun tidak berhasil karena tertutupi oleh suara jeritan para supporter yang kebanyakan wanita.
Setelah hampir beberapa kali,akhirnya Jemia berhasil membuat sang ayah kembali menoleh kepadanya dengan senyum cerah.lelaki bernomor punggung sembilan belas itu melambaikan tangan berkali-kali.dan berhasil membuat suara jeritan dari supporter yang kebanyakan wanita itu berteriak serempak memanggil namanya.
Mendengar hal itu,Ayana mendengus dengan sebal.seperti tidak ada pemain lain lagi saja yang bisa mereka elu-elukan.apa harus Gio terus menerus yang bisa mereka teriaki namanya berkali-kali.padahal banyak pemain lain yang lebih menonjol dari pada Gio.apa karena Gio di sana yang paling menawan di antara temannya.ya iyalah,Ayana ini gimana sih,kan emang Gio di sana yang paling ughh.
Sementara Gio yang berdiri di pinggir lapangan karena dirinya baru saja di ganti terlihat tersenyum ke arah Ayana dan Jemia.saat ini dirinya begitu bahagia bisa merasakan langsung dukungan dari anak dan istrinya,rasanya lebih bahagia dari pada dulu ketika di temani oleh mantan. dengan perasaan yang berbunga Gio kembali memasuki lapangan yang langsung mendapat jeritan dari penonton yang sejak tadi memperhatikan.dan lagi-lagi Ayana mendengus mendengarnya.
"Pengen gue robekin aja satu-satu mulut mereka." dumelnya dalam hati.Ayana melebarkan senyumnya saat melihat Gio kembali main.Ayana dan Jemia terus saja menberikan dukungan dengan sesekali meneriakan nama Gio,membuat beberapa pasang mata melihatnya dengan sinis namun Ayana tetap mengabaikan itu semua masa bodo saja.sampai keadaan menjadi riuh karena Gio membawa bola.
"AAAAAAA....GIO..GOAAAAALLL" Ayana berdiri dengan Jemia di gendongannya ketika pada akhirnya Gio bisa menjebol gawang lawan.
"Yeayy.ayah kamu goalin,dek" ucap pacar salah satu teman Gio sambil tersenyum senang ia menepuki paha Jemia dengan kipas bulu saking senangnya.
Para pemain beristirahat sebentar,namun hanya lima menit saja sebelum kembali memasuki lapangan dan Gio mulai mengoper bola ke pada Marko.belum satu menit bola yang di oper oleh Gio kepada Marko menumbuhkan goal yang sangat cantik.
"GOAAAALLL" Gio dan Marko berteriak sembari melakukan tos karena strategi berhasil di lakukan.
Penonton di buat terkagum-kagum." AYAH." teriak Ayana reflek dengan wajah memanas dirinya ingin menangis saat ini saking bahagianya melihat tim Gio kembali mencetak goal.apa lagi melihat Gio yang sedang di pangku dan di gerumuni oleh timnya itu.melihat itu perasaan Ayana begitu bangga pada lelaki itu.
Peluit panjang terdengar berbunyi dengan skor 2-1 yang di menangkan oleh tim Gio. menyadari hal itu Gio dan teman-temannya terduduk karena kecapean.dengan napas ngos-ngosan Gio mengedarkan pandang melihat Ayana dan Jemia yang masih duduk di tribun dengan senyum mengembang ke arahnya.
"Ayah menang,Jem." ucap Gio dalam hati.
"Ayah menang loh,dek" ucap Ayana dengan senang.Jemia yang tidak tahu apa itu menang pun hanya mengangguk saja padahal ia tidak paham apa artinya. beberapa saat berlalu merasa sudah cukup mengatur napasnya.Gio dan teman-temannya meninggalkan lapangan kembali memasuki ruang ganti.setelah itu Gio menghampiri Ayana yang berada di tribun sedang melambaikan tangan kepadanya.
"Selamat"
"Selamat,Gi."
"Selamat,Gio" ucap dari beberapa orang yang Gio lewati.
"Makasih." jawab Gio dengan senyum senang. " Maksih semuanya."
Begitu di depan Ayana Gio langsung memeluk Ayana dengan erat.yang di balas tak kalah eratnya dari sang istri yang tengah berbisik sekarang ini ditelinganya." Selamat Ayah,kamu hebat dan kami bangga."
"Makasih,Sayang." balas Gio sembari mengecup pipi Ayana secepat kilat agar tidak ada yang melihatnya mudah-mudahan saja tindakannya tadi tidak ada yang menyadari di sana.
__ADS_1
Gio ini memang terlihat seperti badboy. namun itu hanya penampilannya saja karena ia memang bertindik,tindik telinga sengaja ia lakukan pada saat memasuki bangku SMP.ya namanya juga anak remaja katanya sih biar keren dan untuk seru seruan aja.dan karena itu pada awalnya Mbak Ayana tidak percaya jika lelaki berhidung bangir ini ternyata memiliki sikap yang lembut dan manis.bahkan mengalahkan softboy loh