
Begitu Ayana keluar dari pintu rumahnya,ia langsung melihat lelaki itu yang sedang mengajak putrinya bicara.Jerrian terlihat sedang mengobrol dan memberikan satu kantung plastik besar yang berisi cemilan kepada putrinya.lelaki itu menjawil pipi Jemia dengan gemas dan sesekali mengusap kepalanya." Di makan ya cantik kamu suka gak jajanan?" ucap Jerrian kepada putri Gio.dia berjongkok menyamakan tingginya dengan Jemia.
Jemia menganggukkan kepalanya di sertai senyuman malu-malu sama seperti ayahnya." Maacih ya Om.Mia suka." jawabnya.
"Bagus,di makan ya,tapi harus banyak minum takut kamu batuk." Jemia mengangguk lagi di sertai elusan lembut di kepalanya oleh Jerrian.
"Ehem.ada apa ya Jerr?" tanya Ayana langsung saja.
Lelaki itu terkejut dan langsung menoleh ke samping." Eh.Ay?ini apa,hmm,mau ngambil kancing sekalian lewat."
"Oh,kenapa gak Pak Rangga aja?atau gak Pak Rudy kalau udah sampe sini.kamu gak usah lah repot repot,Jerr.biarin aja mereka yang ambil." sahut Ayana.
Jerrian mengangguk dan tersenyum merasa tidak enak." Gak apa apa lah mereka kan repot,toh aku juga gak ngerasa di repotin ini.tibang sekalian jalan dan mampir"
"Oh iya,kamu udah sarapan belum.tadi aku beli bubur ayam sama nasi kuning ada di mobil tuh." tawarnya kemudian.
Ayana menggelengkan kepalanya dengan cepat." Nggak,aku udah sarapan.ini baru aja selesai." tolak Ayana.
Jerrian mengangguk lagi kali ini dengan senyum kecewa." Ya udah." kemudian pria itu melirik Jemia yang sedang memeluk pelastik cemilannya." Anakmu lucu banget sih.yang kembar mana?aku pengen lihat."
"Di dalam lagi main sama suster.ini kamu masih ada perlu apa gak?kalau gak aku mau masuk nih,bentar lagi mau berangkat" ujar Ayana,seharusnya Jerrian paham dengan ucapan Ayana.itu tandanya mengusir secara halus.
"Udah nggak sih.ya udah aku duluan deh sorry ganggu pagi pagi." rupanya Jerrian masih peka akan maksud Ayana.bagus deh.
"Kancingnya gak sekalian di ambil?kalau gitu bawa aja,sekalian kamu di sini." titah Ayana. Jarrian mengangguk mantap.
"Oh,boleh deh.dimana kancingnya? biar aku ambil." balasnya.
Ayana lebih dulu berjalan mengajak Jerrian ke ruangan yang berisi barang dan beberapa bahan dan kebutuhan untuk membuat sebuah helm.seperti ada tumpukan dus yang berisi.kancing dan kaca helm,batok helm.dan masih ada yang lainnya." Itu ada sebelas dus bawa semua aja,Jerr.cuma itu sih yang di perlukan untuk sekarang.kalau yang lain masih belum pada datang barangnya." ujar Ayana membuat Jerrian menelan ludah.
"Buset.pagi-pagi begini angkat barang sebanyak ini?," batin Jerrian dengan pandangan syok pada tumpukan dus yang ada di hadapannya itu.
"Oh ya udah.aku angkatin dulu ya.eh ada orang lain gak yang kira-kira bisa bantu aku?" Jerrian berharap ada orang lain yang membantunya mengangkat dus sebanyak dan seberat itu.
Ayana menggeleng dengan cepat." Gak ada lah.di sini cewek semua dan pada sibuk.Gio juga gak ada kan.kamu angkat sendiri aja,aku ke dalam dulu."
Jerrian membulatkan matanya saat Ayana berlalu dari sana." Anj.kenapa jadi gue yang repot sih.tau gini suruh si Rudy aja yang ambil." rutuknya.niat hati ingin mampir kesana dan siapa tahu Ayana mau berangkat satu mobil dengannya ke kantor hitung-hitung menghilangkan suntuk dan membuatnya semangat untuk memulai pekerjaan yang kadang terasa melelahkan pasalnya Ayana itu mood booster sekali bagi Jerrian.
Istri orang memang menantang ya gak Jerr.
Dengan terpaksa lelaki itu membawa dus yang berisi kancing itu satu persatu ke dalam mobilnya.saat ini terlihat sudah ada sekitar lima dus yang sudah Jerrian angkat masih ada enam lagi.tapi keringat lelaki itu sudah mengucur dari ujung kepala hingga ekor,eh kok ada ekornya sih.bayangkan saja di dalam satu dus yang berukuran besar itu ada ribuan kancing yang begitu berat.dan Jerrian harus mengangkatnya satu persatu.masih sukur kalau malam ia bisa tidur dan pinggangnya baik baik saja.
"Apes banget gue hari ini,hah,hah,hah." napas Jerrian sudah ngos ngosan.ia menyenderkan dirinya di mobil.rambut yang sudah ia tata serapih mungkin sudah lepek oleh keringat.bahkan kemejanya yang mahal itu basah semua.
"Ay,bagi minum.gila aus banget." pintanya saat Ayana baru akan menaiki mobilnya rupanya perempuan itu tadi belum berangkat kerja karena harus menyuapi anak anaknya dulu.
"Minta ke bibi aja.gue duluan ya." ujar Ayana seraya masuk ke mobilnya dan mulai meninggalkan rumah.
"Anak sama bapak gak jauh beda." gumam Jerrian dengan wajah syok,karena baru mengetahui sikap dan sifat Ayana yang persis seperti ayahnya itu.
...☘☘☘☘☘☘...
Sore hari usai pulang kerja,Gio terlihat menelepon suster anaknya guna menanyakan kabar mereka.begitu sambungan terhubung Gio tersenyum melihat putrinya yang sedang sibuk memakan camilan yang di bawakan oleh Jerrian tadi pagi." Jemi,kok makan ciki?kan ayah bilang gak boleh makan ciki nanti batuk." ucap Gio seraya menatapi putrinya itu.
"Mau,ayah.." rengeknya.
"Dikit aja.abis itu minta ncus untuk taruh di toples buat kapan kapan." ujarnya yang hanya di tanggapi anggukan oleh sang anak.melihat sang anak yang masih tetap memakan jajanan itu Gio memberitahu pengasuhnya agar menyimpan snack itu di mana saja.asal tidak di ketahui oleh putrinya.
"Di umpetin di mana kek gitu,sus.bahaya kalau Mia lihat,sekarung pun bisa abis kalau di biarin." suster Risma menurut lalu meminta Jemia untuk menyerahkan cikinya.
Dengan berat hati putri Gio itu memberikan makanan kesukaannya kepada suster." Cokatnya jangan.emen juga." mohon Jemia dengan wajah sedih,persis sekali dengan sang ayah sewaktu kecil.duh wajahnya itu menggemaskan sekali.ingin rasanya Gio cubit hidungnya dan uyel pipinya sampe anak itu nangis kejer seperti biasa.
"Lain kali kalau bundanya beliin jajan begitu umpetin aja sus.sesekali boleh tapi kalau keseringan jangan.perasaan kemarin dia makan ciki,hari ini harusnya jangan." ujar Gio.
"Oh itu mah di beliin teman non Aya,Mas tadi pagi mampir ambil kancing." balas suster Titi.
"Siapa Sus?yang suka kerumah bukan?" tanya Gio.
"Iya pernah kerumah.Pak Jerri." ujar suster yang sudah memiliki anak itu.
Kening Gio mengerut dengan heran.untuk apa lelaki itu datang kerumahnya." Ngapain aja dia di rumah sus?lama nggak?" kepo Gio
Suster Titi menggeleng dengan cepat." Cuma ambil kancing doang sih,Mas." Gio tak lagi bertanya lebih,ia memilih untuk menanyakannya langsung kepada sang istri.ia tak ingin mendengar dari orang lain.
...☘☘☘☘☘☘...
__ADS_1
Hari sudah semakin sore tapi Ayana masih belum beranjak dari kursinya.ia tengah mengamati beberapa laporan keuangan perusahaan.wajahnya begitu serius membaca setiap laporan nominal yang tertera keluar mau pun masuk ke dalam akun rekening perusahaan miliknya itu karena begitu serius dan teliti sekali sampai-sampai Ayana tak menyadari bahwa pintunya sudah di ketuk beberapa kali oleh Frans.
"Belum pulang?udah sore ini,anak anak nyariin kamu nanti." ucap Frans sembari mendaratkan bokongnya di sofa kecil tak jauh dari depan Ayana.
"Bentar lagi Pah.ini lagi meriksain laporan keuangan.Papah jangan percaya percaya banget deh sama HRD baru itu.dan ini apa nih?kok dana untuk pembangunan di Jambi anggarannya gede banget.Aya lihat cuma gitu-gitu aja tapi duitnya udah keluar banyak."
Mendengar putrinya bicara begitu serius. Frans segera bangkit dari sofa kecil itu lalu mendekati Ayana." Oh itu.iya itu udah Papah pantau kok.dan emang di sana kemarin sempat ada masalah sih.makanya ngabisin dana gede.soalnya sempat adu mulut sama pemilik tanah.untung sekarang semuanya sudah beres."
Ayana mendongak menatap ayahnya." Bener?tetep harus hati hati Pah.jaman gini orang orang susah di percaya.Gio juga noh jangan percaya-percaya amat sama dia tapi kalau dia ada ngelipet sih gapapa.toh uangnya buat kami ini." kekehnya yang di balas kekehan juga oleh Frans.
"Suamimu itu gak pegang duit,Aya.dia cuma pegang buat makan doang kayanya kalau abis uang dia dan ada laporan untuk bahan dan karyawan itu udah Dona yang jatah.lagian dia makan siang juga di pabrik bareng anak anak." ujar Frans.
Ayana mendelik tak suka." Papah jangan gitu dong.masa suami aku makannya bareng bareng sama karyawan sih?kok gitu?nggak nggak.gak boleh gitu,Gio itu levelnya di atas mereka."
Frans terkekeh lagi mendengar putrinya yang terus saja protes " Emangnya makanan,ada level levelnya?manusia itu sama saja Aya.gak ada yang level-levelan gitu.toh Gio juga seneng seneng aja berbaur sama mereka." Ayana terlihat mendengus beberapa kali.
"Kamu gak tau aja,kalau Gio di sana sering kena oli,kotor-kotoran dan megang mesin terus ngecekin mesin yang gede-gede sana sini." sambung Frans masih dengan kekehan.
"Papah serius?ih,jorok banget sih.tega amat Pah,suami aku di suruh kerja begitu." rutuknya tak menerima.
"Kalau gak gitu nanti gak ngerti-ngerti Aya. wajar lah namanya juga kerja.dia lagi belajar soal mesin gapapa kotor-kotoran juga yang penting kan duitnya gede." Ayana mendelik mendengar penuturan ayahnya.
"Aku udah suruh di kantor padahal,biar dia belajar mendesain helm.malah Papah suruh belajar mesin coba." Frans berdecak putrinya ini memang sulit di ajak serius seringnya nyerocos terus.
"Kan Gio juga yang mau.dia yang pengen belajar mesin agar suatu saat dia dapat ilmunya.terus buka usaha sendiri dengan tangan sendiri berbekal ilmu yang sekarang dia pelajari." jelas Frans.
Ayana terdiam iya juga pikirnya.tapi kan Aya tidak mau jika Gio harus berlumuran dengan oli dan permesinan.Ayana sudah membayangkan Gio panas panasan dengan tubuhnya yang kotor.karena ia tahu betul di tempat produksi kayu itu tempatnya lumayan kotor dan berdebu. semua di akibatkan oleh serbuk kayu yang berterbangan pada saat pemotongan dan pengupasan.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Senyum di bibir Gio tak luntur sejak panggilan video callnya di jawab oleh Ayana.lelaki muda itu selalu kesemsem saat melihat wajah cantik sang istri.
"Apa sih senyum senyum mulu dari tadi?" tanya Ayana yang keheranan.
"Gak tau pengen aja.soalnya mbak bikin hati saya gimana gitu." Ayana mengerutkan keningnya dan kemudian tersadar.
"Heleh,jamet." di sebrang sana Gio terbahak sembari memakai jaketnya.Ayana memerhatikan lelaki itu yang malam ini terlihat sangat tampan.entah karena Gio memang tampan atau Ayana yang terlalu merindukan ayah dari tiga anak itu.
"Emang mau kemana Gi?" tanya Ayana saat Gio menyisir rambutnya di kaca.
"Sama siapa perginya?sendiri kan?" tekannya.
"Berdua"
"Sama siapa?"
"Sama bayangan aku"
"Dasar edan." dengus Ayana dengan kesal.
"Gapapa edan asal sayang dan cinta sama mbak yaya"
"Huek."
"Hamil lagi kayanya"
"Gi,sumpah lama lama gue lempar sendal juga lo."
"Lempar aja orang gak bakal sampe_aduh duh,awss,santai aja dong mbak sakit ini"
"Amit-amit jabang jenglot." Gio terbahak melihat Ayana menatapi layar ponselnya dengan tatapan ingin muntah.ia malah bersiul sembari menata rambutnya yang sudah mulai memanjang itu.
"Gi,kamu ada uang gak sih?kalau gak ada bilang aja biar aku tf buat kebutuhan kamu di sana." ujar Ayana mengingat obrolannya dengan Frans sore tadi.apa lagi kan Gio tidak memegang uang lebih karena sudah di berikan semua padanya.
"Cie mau di tf tante.boleh juga atuh." Gio mengedipkan sebelah matanya seraya membuka pintu hotel.
"Ngomong lagi gue matiin ini telfon." ancam Ayana kesal juga sama suami brondongnya itu.tawa Gio malah semakin keras lelaki itu berjalan di lorong hotel menuju lift yang akan membawanya ke loby.dengan hape yang masih setia ia pegang dan di arahkan ke wajahnya semua.
"Aws,aduh buset." Gio mengaduh ia menabrak sesuatu kaki panjangnya tersandung membuat Ayana kawatir.
"Kamu kenapa?" tanyanya dengan kawatir.
"Tersandung pesonamu." jawabnya di sertai cengiran yang khas akan tingkahnya yang tengil itu.
"Hehehe,yang coba lihat_"
__ADS_1
Tut
Ayana mematikan sambungan video itu secara sepihak.membuat Gio memandangi layar ponselnya dengan nanar." Kenapa sih ini tante-tante?dasar sensian." Gio mencoba menghubungi kembali ponsel istrinya namun sampai dering terakhir pun tetap di abaikan oleh istrinya.
"Kenapa ini emak-emak,kayanya masih sensitif nih karena harga minyak belum juga turun," ucap Gio seraya berjalan keluar dari hotel tersebut.
Sembari berjalan menyusuri trotoar menuju tempat sate yang ingin di belinya.pemuda jangkung itu terus saja bermain ponsel hingga ia tak menyadari ada beberapa manusia sejenis dengan Jeniper batarico yang sedang mencoba menarik perhatiannya membuat Gio panas dingin setelahnya.
"Mau kemana kasep?" katanya dengan wajah genit.
"Ke depan mas_eh mbak." jawab Gio dengan langkah cepat ingin segera menjauh dari mereka itu.
"Kok buru-buru banget sih mas.sini dulu kita manja-manjaan yuk." ucap salah satu yang dandananya paling mencolok di antara yang lain.
Langsung saja sekujur tubuh Gio merinding disko." Nggak mas makasih." tolaknya cepat membuat mereka terkekeh dan semakin tertantang.
"Yeay mah suka nih sama yang begini nih. galak-galak gumush dan maluan kaya anak prewong aja.padahal aslinya ganas banget." katanya yang langsung membuat Gio tersentak.Gio hanya bisa menegang dan merinding disko melihat beberapa lelaki yang menyerupai perempuan itu mereka sudah mengelilingi dirinya saat ini.
"Ke depan kemana sih ganteung?"
"Nyari makan mas_eh ka.sambil cari angin." jawab Gio dengan senyum manisnya agar ia bisa lolos dari kerubunan belatung nangka itu.
"Jangan jauh jauh cari anginnya.di sini aja ya sama kita kita ganteng.mau sekalian di manjain gak?." mendengar tawaran si banci banci itu tentu saja Gio bergidik ngeri sudah kebayang tubuhnya yang ekslusif hanya untuk mbak Ayana di jamah berjamaah oleh mereka.
"Nggak kak.makasih.saya lagi buru buru ini." tolak Gio dengan cepat dan berusaha berjalan mengabaikan mereka.
Namun langkahnya di ikuti oleh mereka dan mencoba menghalanginya." Yuk manja-manjaan dulu kita.bayar seiklasnya aja,tuker sama beras atau sama indomeh juga boleh,setelah itu kamu boleh pergi. ayolah ganteung.mungpung kami berbaik hati,di jamin servis kami yang terbaik dari pada lomteh di luar sana."
Gio mengerjap dan menghentikan langkahnya mendengar rayuan dengan nada memelas dari mereka." Kalau gak tuker sama nasi bungkus aja deh.atau pecel ayam.kami belum makan soalnya dari siang." rayu yang satunya lagi.
Tak pingkir panjang Gio langsung merogoh sakunya.ia mengeluarkan dompet lalu menarik lembaran uang berwarna merah sebanyak lima lembar.dan mata mereka seketika membulat dengan air liur berceceran." Nih.untuk kalian makan.tapi tolong jangan ikutin saya ya.ini cukup untuk makan beberapa hari."
"Wah makasih loh kasep.baik banget sih kamu ini,udah ganteng baik lagi.mau saya emuahhh dan sedot-sedot dulu gak" ucap salah satu yang penampilannya paling mencolok di antara mereka sambil mengeluar masukan lidahnya membuat Gio ketakutkan.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Gio mengambil dua lembar tisu mengusap keringat di dahinya sembari mendudukan diri di tempat sate yang terkenal di daerah sana.ia mencoba menghubungi Ayana kembali sambil terus menyunggingkan senyum.Gio teringat kejadian barusan mungkin itu salah satu karma dari istrinya karena ia tadi membuat Ayana kesal.
"Untung cuma di kroyok bukan di paksa gak kebayang kalau mereka maksa gerepe gerepe." sambil bergidik Gio mengetik pesan pada istrinya.dan tak lama Ayana menghubunginya.
"Apa?" Gio tersenyum menatap wajah kesal ibu dari anak anaknya itu.
"Tadi pagi emang ada yang ke rumah kita?" tanya Gio mencoba menanyakan apakah istrinya itu jujur atau tidak.
Ayana terlihat mengerjap mungkin ia kaget mengapa Gio bisa tahu kalau ada Jerrian kerumahnya tadi pagi." Oh itu.Jerrian ambil kancing di suruh Papah.abis itu dia langsung pulang kok," Gio hanya mengangguk sambil mentapi layar ponsel.
"Jem jangan di kasih jajan kaya gitu lagi tadi makan ciki banyak banget.usahain banyakin makan buah dan jajanan yang sehat sehat aja." ujar Gio membuat Ayana mengangguk sambil menyahuti dengan deheman.
"Mau nolak juga gak enak Gi.kalau udah di kasih,masa iya nolak pemberian orang itukan sama aja rejeki anak." Ayana seakan tahu isi hati Gio saat ini.mungkin pria itu memang tidak menyukai ketika anaknya mendapat makanan dari orang lain terutama dari lelaki yang bernama Jerrian.
Gio menganggukan kepalanya seraya meminum teh panas yang tersedia di warung emperan itu." Sebenarnya gak masalah sih.kalau yang ngasihnya iklas dan emang gak ada tujuan lain.cuma aku kurang suka kalau ada orang memberi dengan maksud tertentu." Ayana tak menjawab dari pada mereka berujung ribut ia mengalah untuk yang satu ini.semoga Gio tidak memperpanjang lagi bahasan yang berhubungan dengan Jerrian.
"Kapan pulang?aku kangen dan kesepian banget tau." tanya Ayana mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak melulu membahas itu lagi dan lagi.
Senyum cerah yang merekah terbit di bibir tebal Gio hingga matanya menyipit." Besok dong.persiapin ya buat buka puasa.nggak lagi dapet kan?." Ayana mengulum senyum dan berniat mengerjai suaminya itu." Gak usah bohong.aku bahkan ngitungin kapan kamu datang bulan.jadi kamu gak bisa ngelak." Ayana membulatkan matanya seraya menahan tawa.bisa bisanya suami mudanya itu sampai hapal kapan ia datang bulan.
"Dasar " dengus Ayana dengan mengulum senyum.
"Ganteng." tambah Gio yang membuat perempuan di depan layar ponselnya itu semakin mendekus.Gio memperhatikan istrinya yang sepertinya sedang bicara dengan pengasuh anaknya.namun hanya sebentar setelah itu Ayana kembali menatap layar ponsel." Ada apa?"
"Itu Vindi nangis nyariin aku.mungkin mau Nen kali.udah dulu ya nanti sambung lagi kalau anak anak udah tidur," Gio mengangguk setuju membuat istrinya tersenyum." Ya udah ya."
"Asal nanti V*S ya.udah rindu banget sama si mungil." Gio menggerlingkan matanya sebelum ia bungkam karena si abang penjual sate tersebut menyajikan satu piring sate di hadapannya.
Ayana di sebrang sana terbahak menatapi suaminya yang terlihat menahan wajah malu.bukan tanpa sebab penjual sate itu masih muda dan ia pasti mengerti akan ucapan Gio barusan.mengingat pria itu pasti mendengar karena tepat saat Gio mengatakan itu.bersamaan dengan si penjual sate menyodorkan satenya di meja Gio.
"Makasih." ucap Gio dengan wajah malu bukan maen.penjual sate itu mengangguk dengan senyum penuh arti.dan itu semakin membuat Gio ingin menutup wajahnya dengan serbet kucel yang melingkar di pundak si abang.
...Eskpresi abang sate...
...Gio...
__ADS_1