
Kembali ke aktivitas sebelumnya Gio sedang di sibukan dengan beberapa pekerjaan.bahkan sampai ia hampir melupakan kuliahnya.jujur saja ia sebenarnya kuwalahan membagi waktu antara kuliah,kerja,dan menjadi sosok ayah dan suami untuk anak dan istrinya. sebetulnya Ayana kurang suka jika Gio meninggalkan kuliahnya,suaminya itu sering kali membolos karena pekerjaan.
Ayana sudah sering mengingatkan agar Gio fokus dulu saja pada kuliahnya,namun apa daya jika pekerjaan mendesak Gio untuk mengerjakannya.seperti beberapa hari lalu baru saja Gio menyandarkan dirinya di sofa stelah makan malam,ia segera bangkit lagi karena ada telepon dari anak buah Frans di lapangan.katanya pekerjaan mereka ada masalah dan hanya Gio yang bisa membantu.dan suami Ayana itu segera ke pabrik guna mengecek kerusakan pada mesin tersebut dan mencari tahu penyebabnya.
"Mau kemana?" tanya Ayana pada saat itu ia melihat jam yang sudah di angka 11 malam.
"Ke pabrik bentar,katanya cerobong asapnya gak mau nyala." jawab Gio seraya meraih kunci mobil di laci meja." Tidur duluan aja ya Sayang jangan nungguin takut lama."tandas Gio dan segera pamit dari sana tanpa menunggu balasan dari Ayana.
"Kenapa dia jadi sesibuk ini?" gumam Ayana kemudian mengambil ponsel dan hendak protes kepada ayahnya,namun urung karena sudah malam tak ingin mengganggu Frans yang sedang istirahat.
Hari-hari berlalu begitu saja dan Gio dengan kesibukannya,begitu pun dengan Ayana perempuan itu sibuk membagi waktu antara di rumah dan di perusahaan apa lagi setelah ada kontrak dengan perusahaan mr Myunghoon pekerjaan Ayana begitu sibuk dan sulit meluangkan waktu.di antara waktunya yang sibuk itu tapi ia juga senang setelah menjalin kontrak dengan Pt.Sengja Sukses Abadi milik Mr Myunghoon pundi-pundi rupiah mengalir deras ke rekeningnya.meski Ayana adalah orang kaya dari lahir,tapi tetap saja ia begitu senang saat uang mengalir dengan deras ke rekening perusahaannya.
Siang ini Ayana berada di restoran four season sedang makan siang bersama Frans dan tamu dari Surabaya,wanita cantik itu tak henti bercengkrama dengan rekan kerja ayahnya.namun ia di buat tidak nyaman ketika sadar bahwa laki-laki yang merupakan anak dari rekan kerjanya ini tak henti menatap kagum padanya.Ayana menatap tajam laki-laki itu,ia risih dan tidak nyaman karena tatapan mata pria itu begitu intens menatapinya seakan Ayana ini adalah barang yang akan di beli kepergok sedang menatapi Ayana laki-laki itu tersenyum canggung dan seketika mengalihkan pandang ke arah lain sembari mengusap tengkuknya.
"Pah,Aya ijin bentar ya mau telep ncus nanyain Vindi udah minum obat apa belum" ijin Ayana pada ayahnya yang sedang merokok dengan tamunya itu.
Frans mengangguk mempersilakan." Sekalian tanya Gio,dek.kayu dari Jambi udah datang belum gitu." pesan Frans yang di angguki Ayana.
Sepeninggalnya Ayana,laki-laki tadi yang bernama Cakra Suditomo tersebut segera berdehem membuat Frans dan ayahnya menoleh." Kenapa Cak?" tanya Santoso Suditomo konglomerat surabaya pemilik Pt.Gemilang perkasa.
Cakra tersenyum ia melihat Ayana yang sedang menelepon di luar kaca,setelah itu ia beralih menatap Frans." Om,itu anak om kan?boleh dong saya ajak jalan dan deketin?boleh ga om?" tanyanya penuh keberanian.
Frans dan Santoso tertawa mendengar keberanian anak muda itu." Iya Frans,kau boleh lah bagi kontak pribadi anakmu itu untuk anakku.siapa tau mereka cocok dan kita bisa menjadi besan,jujur aku suka melihat putrimu loh,dewasa dan cantik.kau tau kan?kita sebagai pria maunya wanita yang dewasa yang sudah mengerti dan tidak banyak merepotkan.kelihatannya anakmu cocok dengan anakku."
Frans terkekeh sambil mengetrukan debu roko ke asbak,ia merasa lucu saja mendengar ayah dan anak itu,beruntung Gio tidak ada di sini jika pria itu ada dan mendengar langsung bahwa Ayana sedang di puji pria lain,pasti menantu Frans itu kebakaran jenggot.
"Sayangnya San,anakku itu udah menikah dan anaknya 3.kita terlambat ketemunya Ayana sudah bersuami dan memiliki anak." jelas Frans membuat Santoso dan Cakra terkejut pasalnya mereka tidak menyangka bahawa ternyata Ayana sudah bersuami.
"Sayang sekali ya,aku pikir kita bisa jadi besan." sahut Santoso sambil terkekeh jujur dia kecewa mendengar fakta tersebut.
"Maaf ya Cak.lain kali om kenalkan nanti dengan sepupu anak om." Frans merasa tidak enak telah meleburkan harapan Cakra.
Cakra hanya tersenyum di tengah hatinya yang perih." Iya gapapa om,saya ikut senang ternyata anak om udah berkeluarga.maaf kalau tadi saya lancang."
"Gapapa santai aja." sahut Frans dan mereka kembali melanjutkan obrolan tanpa Ayana karena sepertinya perempuan itu tengah sibuk Video call dengan anaknya.
...☘☘☘☘☘☘...
Gio memasuki mobilnya usai dia rasa pekerjaannya sudah bisa di tinggal,Gio menyalakan mesin mobil namun masih diam di sana tidak bergerak sedikit pun setelah di rasa yakin ia berjalan meninggalkan area pabrik menuju rumahnya di pinggiran kota.
"Bu?" Mira yang sedang melipat pakaian kering itu menoleh dan terkejut melihat Gio sudah berdiri di pintu.
"Loh?tumben nak?" tanyanya seraya berdiri menyambut putranya." Ada apa?" lanjutnya
"Pengen mampir aja bu,emang ga boleh?" Gio mencebik ibunya itu berlebihan sekali tibang anak mampir doang padahal.
Mira tertawa ia merasa jahat pada putranya itu,tega sekali seharusnya senang Gio pulang malah di tanyai." Ibu kan takutnya ada apa-apa gitu sama kalian soalnya kamu itu jarang pulang tiba-tiba begini,biasanya juga telepon kaka dulu."
"Kebetulan aku mau ketemu Rehan,habis ini paling ke rumahnya," ujar Gio jujur karena memang ia akan bertemu Rehan salah satunya.
"Oh,kenapa si Rehan?"
"Katanya lagi butuh mau pinjam duit motornya mau di tarik leasing bu,gajinya udah 3 bulan ga di bayar."
__ADS_1
"Iya Gi,kasian loh dia beberapa waktu lalu ada tukang bank juga ke rumahnya ngancem mau sita rumah karena belum bisa stor.kalau kata ibu sih mending kamu bantu dia,ajak kerja atau bantu modal buat usaha,itu pun kalau kamu ada dan jangan lupa di obrolin sama Aya juga."
"Bank apa bu?mereka punya pinjaman gitu?"
"Bank emok,bank keliling gitu,setiap hari atau minggunya sekian untuk stornya,dulu kan ibu juga sempat mau ngambil buat modal kamu mondok,gak jadi kan karena kamunya ga mau milih mandi oli di bengkel Tito," Gio tertawa pelan ingat masa lalu mereka.pada waktu itu baru tamat smp Gio sempat bersitegang dengan ibunya karena menolak di masukan ke pondok. Mira kekeuh ingin Gio mondok di pesantren yang ada di kampung halamannya tapi Gio menolak karena tidak ingin menyusahkan ibunya.ia memilih kerja serabutan untuk biaya hidup mereka sehari-hari,dan itu membuat Mira kesal kepadanya namun lambat laun sang ibu menerima dan pasrah tidak ingin mengatur hidup Gio lagi.
"Bukan ga mau bu,tapi aku ga mau nyusahin ibu.aku ga bisa bayangin di saat kondisi ibu lagi ga sehat ibu banting tulang nyari biaya buat aku.lebih baik aku ga punya ilmu dari pada ngebebanin ibu," balas Gio yang langsung membuat Mira mendelik.
"Kamu itu anak ibu,ga ada yang namanya nyusahin,apa pun yang kamu mau bakal ibu turutin selama masih mampu,makanya saat itu ibu pengen kamu mondok biar punya bekal ilmu agama,setidaknya walau kita hidup pas-pasan anak ibu ga buta-buta banget soal ilmu agama."
"Ibu mau aku jadi ustad kaya si Hasan ya bu?" Gio tertawa melihat ibunya mendengus." Kalau udah mondok jadi santri gitu lama-lama pasti ke panggil-panggil gitu kan?terus jadi ustad atau kiyai,"
"Amin,ya sukur-sukur kalau jadi ustad mah" Gio tergelak sambil memeluk ibunya ia tak sungkan sama sekali nempel-nempel seperti ini dengan Mira.
"Kaka kemana?" tanya Gio tidak melihat keberadaan Indri di sana.
"Nganter Billa ngaji,habis masak tadi langsung pergi sambil ngejualin Risol punya Bude Samisah.males kali dia di rumah terus ga ada kegiatan."
"Nu edan ga datang lagi kan kesini bu?" Mira menggeleng sembari memindahkan minyak ke dalam botol kaca.
"Nggak,mungkin takut kali,takut di kroyok warga kalau dia berani datang lagi mah" Gio mengangguk senang,setidaknya ia merasa tenang dan aman karena keluarganya bebas dari gangguan kaka ipar biadab itu.
Setelah mengobrol dengan ibunya Gio keluar rumah sebentar niatnya hanya ingin melihat-lihat saja sebelum ke rumah Rehan.dia memerhatikan setiap sudut rumahnya dari luar sesekali mengecek kawatir ada yang rusak di rumahnya.usai memastikan semuanya baik-baik saja dan aman Gio menghela napas lega.setidaknya rumahnya masih kuat dan kokoh ia tidak akan kawatir rumah itu roboh atau ambruk.
Tahun lalu ia dan Ayana selesai merenovasi rumah ibunya,membuatnya menjadi lebih bagus dan nyaman.kamar Gio yang awalnya kecil dan sumpek itu sudah berubah di sulap menjadi sedikit lebih luas dan nyaman.sekarang ia sudah tidak kawatir lagi karena keadaan rumahnya sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Lama ga lihat Gi" Gio memutar tubuhnya saat mendengar suara yang tidak asing baginya itu.ia menatap Amanda yang berdiri tepat di depannya,gadis itu memakai gamis sederhana dengan balutan hijab panjang yang menutupi dadanya.
Amanda tersenyum sembari menatapi Gio yang diam saja dengan mata yang terus menghindari pandangan Manda.lelaki di depannya ini masih sama dengan Gio yang dulu yang ia kenal,semuanya masih sama seperti terakhir kali pada saat Manda masih bisa menyentuhnya.hanya saja sikapnya yang berubah dan beda padanya.
"Sama anak istri?apa sendiri aja?" tanya Manda mencoba mencari bahan obrolan karena terlihat lelaki di depannya ini sepertinya enggan bicara dengannya.
Sebelum menjawab Gio menjilat bibirnya yang terasa kering itu." Sendiri"
Manda mengangguk dan tersenyum." Gi, duduk di sana yuk sebentar." pintanya.
Mendengar ajakan dari Amanda itu Gio terlihat bingung,namun sejurus kemudian ia mengangguk mengiyakan.lalu keduanya duduk di saung milik Mang Aris tempat main anak-anak tetangganya Gio,setelah duduk Gio diam saja bingung untuk memulai obrolan ia membiarkan saja Amanda yang lebih dulu bicara.Amanda meremas kedua tangannya ia duduk sedikit lebih jauh dari Gio perempuan itu melihat keadaan sekitar ia takut orang lain salah paham jika ada yang melihat keduanya.
"Bulan depan aku mau nikah sama Raka," ujar Amanda pelan,kepalanya tertunduk kebawah melihat kedua kakinya yang gerak-gerak." Tapi aku gak menginginkan pernikahan itu,sama sekali.itu adalah keinginan umi dan abi." sebelum Gio bicara ia telah lebih dulu angkat suara." Mungkin ini terdengar gak penting buat kamu,tapi ini penting buat aku,Gi."
Gio tetap diam sekali ia melirik pada Amanda namun sesaat kemudian ia alihkan pandangannya itu." Lalu?ya bagus dong kamu nurut sama umi dan abi." balasnya kemudian.
Amanda menggelengkan kepalanya seraya menoleh pada Gio." Tapi aku ga cinta sama dia,Gi,aku ga menginginkan pernikahan itu.tapi aku bisa apa?umi sama abi udah sepakat akan menikahkan kami bulan depan,dan aku sama sekali ga mau menjalani pernikahan yang nantinya akan ngebuat batin aku kesiksa,kamu tau Gi menikah dengan orang yang ga kita cinta itu akan susah,dan aku ga bisa."
"Kamu kan belum coba,jangan bilang gitu dulu.harusnya kamu yakin dong kalau nanti hidup kamu akan bahagia bersama suami kamu.jangan bilang begitu,pamali." ujar Gio serius ia bisa melihat bahwa Amanda memang benar-benar serius akan ucapannya,berarti foto prewedding yang ia lihat waktu itu,itu hanyalah palsu hanya untuk menutupi bahwa Amanda hanya pura-pura bahagia.
"Kan aku udah bilang.orang yang bisa bikin aku bahagia itu cuma kamu.gak ada lagi dan ga akan ada yang bisa gantiin kamu. kamu tetap masih sama,orang yang sama yang punya tahta tertinggi di hati aku," jujur Amanda sejurus kemudian matanya sudah berembun membuat Gio mengalihkan pandang." Perasaan aku masih sama,aku masih cinta sama kamu,ga ada yang berubah sedikit pun,dan aku akan tetap nunggu kamu sampai waktu yang akan menjawabnya."
"Aku udah nikah,Manda.ingat itu,sampai kapan kamu akan tetap nunggu aku?aku udah rumah tangga ga mungkin dan mustahil aku balik ke kamu.tolong jangan ngomong kaya gitu,ingat kamu ini perempuan,kamu harapan umi sama abi mereka berharap banyak sama kamu Manda." balas Gio sembari menatap ke dalam manik teduh milik Amanda,hati Gio biasa saja tidak bergetar tidak terpesona seperti dulu.namun kini yang ia rasakan hanya kasihan dan merasa bersalah pada perempuan ini.
"Iya,iya,umi sama abi emang berharap banyak sama aku.dan aku pun ingin mewujudkan harapan dan keinginan mereka,tapi itu sama kamu Gi,bukan sama orang lain.kalau bukan sama kamu,aku ga mau wujudin mimpi mereka.lebih baik sendiri selamanya." Gio membuang pandangannya ke samping mendengar ucapan Amanda." Aku cuma mau sama kamu,Gi,cuma sama kamu."
Gio menarik napas dalam dan kembali menatap Amanda,membuat yang di tatap tersenyum karena bahagia bisa memandang wajah tampan Gio dari dekat seperti ini.
__ADS_1
"Pemikiran kamu itu salah,itu bukan cinta namanya Manda,tapi obsesi.buang jauh-jauh perasaan kamu itu dan mulai lah menerima orang baru,buka hati dan lembaran baru.kisah kita udah masa lalu jangan terpaku,maaf,aku memang salah tapi bukan berarti aku mau balik sama kamu lagi buat nebus kesalahan aku.aku punya istri dan anak,jangan berharap sama yang udah jelas itu ga mungkin.cobalah untuk belajar lebih dewasa,Manda."
Amanda malah menangis mendengar ucapan Gio,baginya setiap kata yang Gio ucapkan terasa menusuk perasaannya." Kamu jahat banget ya Gi,jahat."
"Maaf" balas Gio tanpa menatap pada Amanda.
Amanda masih sibuk menghalu air matanya dengan kerudungnya.kemudian dengan mata yang di penuhi air mata itu ia menatap Gio mencoba mencari kejujuran di mata itu.apakah Gio masih mencintainya atau memang perasaan laki-laki itu padanya sudah punah hilang tak tersisa." Gi" ia masih terus mencari jejak dan sisa-sisa cinta di mata Gio untuknya namun sepertinya benar ia tidak menemukannya,ataukah sebetulnya lelaki itu memang pandai menyembunyikan perasaannya.ia yakin di hati Gio masih ada dirinya.
Gio tak bicara ia hanya menatap Amanda dengan tatapan perihatin,perempuan yang dulu menempati hatinya itu kini terlihat sangat menyedihkan." Udah ya,seperti yang aku bilang tadi.kamu ikutin umi sama abi untuk menerima Raka,insya allah pilihan orang tua itu yang terbaik.Raka bisa menjamin masa depan dan kehidupan kamu lebih dari cukup dan mampu.dia orang berada kan dan berpendidikan sepadan sama kamu.aku yakin pelan pelan kamu bisa menerima dia."
Amanda menggeleng lagi dengan hidung yang memerah." Aku ga butuh harta dan kekayaan,aku cuma butuh orang yang aku cinta,ya itu kamu,aku butuh kamu." kekeuh Amanda tetap pada pendiriannya bahwa hanya Gio yang bisa membuatnya bahagia.
Gio sebenarnya kesal pada perempuan ini. namun ia juga tidak bisa menyalahkan Amanda cinta memang mengalahkan segalanya.ia tau Amanda memang sangat mencintainya,tapi bukan berarti harus memakasakan untuk memiliki." Ya,aku minta maaf untuk itu.maaf karena udah nyakitin dan ninggalin kamu,tapi maaf udah aku bilang kan aku ga bisa kembali semua terserah kamu mau terima Raka apa nggak." Gio berdiri dan merapikan bajunya." Kalau emang ga ada yang di omongin lagi,aku pulang Manda."
Amanda diam saja ia sibuk menangis sampai ia terkejut karena Gio memang benar-benar akan meninggalkannya." Oke aku bakal nikah sama Raka.gapapa Gi kalau emang benar-benar udah ga ada setitik pun nama aku di hati kamu seperti yang kamu bilang tadi,aku akan menerima Raka dan ngelupain kamu,aku ga akan ngemis cinta lagi sama kamu,aku ga akan ngerendahin diri aku lagi di depan kamu"
Langkah Gio terhenti saat ia mendengar ucapan Amanda,ia tidak menoleh kebelakang hanya diam di tempat." Iya. semoga pernikahan kalian bahagia." ujarnya pelan sambil melangkah dari sana tanpa menoleh.
Amanda dengan cepat menyahut." Iya. terima kasih untuk waktu yang singkat dan menyakitkan ini,terima kasih untuk luka dan kenangannya,ini udah berakhir,kita udah benar-benar berakhir Gi,kamu bahagia dan aku juga akan bahagia." Amanda tertawa getir dan mengusap air matanya." Lucu ya,aku pernah bodoh menunggu dengan sia-sia membuang waktuku sampai aku lupa untuk membahagiakan diri sendiri karena menunggu kamu yang ternyata memang sudah bukan orang yang sama dengan orang yang aku harapkan."
Amanda menarik napasnya susah payah melanjutkan kalimatnya sembari menatap punggung Gio yang masih mematung di depannya." Pergilah Gi,jangan terus di sana karana itu membuat aku sakit.hanya dengan melihat punggung kamu aja hati aku udah sakit.pergilah." Amanda lebih dulu melangkah berlari ke samping rumahnya dengan tangisnya.ia pergi bersama dengan rasa sakit dan kebenciannya kepada Gio.
Giovanno Narendra Pramudya,nama itu akan selalu ada di hati Amanda untuk selamanya.orang yang telah membuatnya bahagia dan berharga namun orang yang berhasil menghancurkan perasaanya juga mulai saat ini Amanda berjanji akan menerima Raka dan mencoba menggantikan Gio di hidupnya.meksi tidak mungkin menggantikan nama orang itu di hatinya.
Gio mengadah ke atas ada setetes air mata yang jatuh di pipinya.ia bukan menangis karena masih mencintai Amanda tapi ia menangis karena merasa bersalah pada perempuan itu.bagaimana pun dialah yang bersalah,jika saja ia tidak mengambil langkah lain mungkin saat ini mereka sudah bersama sebagai pasangan yang bahagia.namun ia juga tidak menyesal karena telah memilih istrinya yang sangat ia cintai untuk ia jadikan teman hidup selamanya.
"Selamat Bro,lo adalah orang paling oon sedunia karena udah ninggalin dan ngelepas berlian demi batu kali." Gio menoleh ke samping ia melihat Raka tengah bersandar di tiang jemuran teh Susi sambil memasukan kedua tangannya ke saku.
"Kha?"
"Iya,kenapa lo nyesel udah ngelepas Manda ke gue?" Gio mendecih ke samping mendengar ucapan Raka.
"Gue ga nyesel ngelepas dia,gue cuma ngerasa bersalah itu aja." jawab Gio santai.
Raka terkekeh mengejek dan ia menilik penampilan Gio." Lo jauh terlihat lebih baik ya sekarang,ga heran sih uang memang bisa ngerubah penampilan.lo kan emang ga jelek sih,cuma miskin aja." ejek Raka sengaja.
Senyum sinis Gio tersungging." Lo kenapa dari dulu sensi mulu sama gue,Kha?perasaan kita baik-baik aja dan ga ada masalah kan?lo lebih unggul segalanya dari gue,harusnya lo bahagia sekarang karena Amanda udah jadi milik lo,kalian akan menikah,terus buat apa lo masih sensi ke gue.tenang gue udah iklas ngelepas dia buat lo,ga usah takut gue ambil lagi."
Raka menatap Gio dengan tajam ia merasa terhina dengan kata-kata Gio ini.mengapa lelaki ini selalu lebih unggul darinya.tidak hanya pandai bersilat lidah saja,Gio ini pandai membuatnya selalu merasa terpojok dan mati kutu." Gi,Gi,padahal gue santai loh,siapa juga yang sensi sih?lo aja kali ngerasnya begitu?ya udah deh makasih ya udah ngasih Manda buat gue doain mudah-mudahan pernikahan kami lancar dan bahagia."
Gio tersenyum penuh arti membuat Raka menahan diri untuk tidak meninju wajah sombong itu." Iya,bahagiain ya,selamat untuk pernikahan kalian semoga bahagia dan langgeng,maaf gue duluan Kha." pamit Gio seraya berlalu dari sana tanpa mendengar balasan Raka.
"Sialan itu orang,lihat aja Gi,lo pasti nyesel karena Amanda akan bahagia sama gue." ucap Raka penuh percaya diri,ia yakin Amanda akan bahagia bersamanya.
...☘☘☘☘☘...
Terima kasih buat yg masih baca lopyu pul
Cerita ini udah menuju ending
tapi boong
__ADS_1