
Ayana tersenyum kepada semua orang yang ada di pabrik itu.meski ini hari minggu tapi semua karyawan pada masuk karena ada barang datang dalam jumlah yang banyak.mereka terpaksa lembur dari pada menganggur bonusnya juga lumayan.Gio sudah memperkanalkan sang istri kepada beberapa orang saja.ia tidak mau semua laki-laki di sana melihat dan mengetahui istrinya.meski telat,karena mereka sudah curi-curi pandang sejak kedatangan Ayana.
"Luar biasa ya ibu Ayana ternyata cantik sekali seperti artis.kami hanya pernah mendengar dari bapak Gio dan sekarang melihat langsung." puji salah satu bagian pemasangan mesin itu.
Ayana yang sedang duduk di samping Gio itu tersenyum." Bapak bisa aja.saya biasa aja pak gak kaya artis." sangkalnya.
"Kata siapa?ibu cantik sekali cocok sama bapak yang ganteng.kalian serasi seperti putri dan pangeran." timpal yang lain.
Gio tersenyum jumawa.tentu saja ia sangat bangga memiliki istri seperti Ayana ini banyak lelaki di luar sana yang mengharapkan berada di samping wanitanya ini.tapi dialah yang berhasil." Terima kasih Pak.doakan rumah tangga saya langgeng dan selalu dalam lindungan allah ya Pak." ujar Gio dengan sopan.
"Amin,amin Pak.saya doakan kalian langgeng sampe ajal memisahkan." sahut bapak bapak yang sedang berkumpul di sana.ini memang masih waktu istirahat jadi mereka masih bebas mengobrol.
"Nanti bawa ibu ke gubuk saya Pak.istri saya di rumah kayanya lagi bikin bakso ikan.kali aja ibu mau nyobain." ujar salah satu bapak bapak di sana.
Gio mengangguk cepat." Pasti Pak.terima kasih atas tawarannya."
"Besok saya mau nyuruh istri di rumah buat bikin emping sama rebusan ikan.buat ibu bawa ke jakarta.ikan yang kemarin saya bawain itu Pak." ucap yang satunya lagi.dan begitu seterusnya mereka seakan berbondong memberikan makanan khas daerah sana untuk istri bos mereka itu.
Usai jam waktu istirahat berakhir para karyawan terlihat kembali bekerja.Gio pun mulai mengawasi dan memberikan pemahaman pada mereka.sesekali ia menghampiri istrinya yang sedang memperhatikan isi di dalam pabrik itu.
"Jangan kesana-sana yang,banyak buaya di sini." bisik Gio setelah ia menghampiri istrinya Ayana hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu itu." komentarnya tanpa mengalihkan pandang dari mesin besar di depannya yang baru Gio selesaikan pengerjaannya." Ini mesin kamu yang buat?"
"Iya,hebat ya suami kamu bisa mengerjakan mesin sebesar ini?" Gio membanggakan diri membuat Ayana tertawa geli.
"Papah yang udah buat ribuan mesin ini tertawa melihat ini" ujar Ayana menbuat Gio mengerucutkan bibirnya." Tapi aku akui kamu hebat dan pintar.kamu cepat tanggap dan paham soal mesin ini.padahal belajarnya ribet menurutku.ini susah loh orang perlu kuliah bertahun-tahun demi menguasai ilmu mesin seperti ini.tapi kamu bahkan kamu ninggalin kuliah dan bolos mulu."
"Udah aku bilang suamimu ini hebat dalam apa pun." balas Gio lagi-lagi narsis.
"Termasuk bisa membuatku segila ini sampe nyusulin kamu kesini.demi tuhan hal seperti ini belum pernah aku lakuin ke orang lain." ujar Ayana dalam hati ia merutuk bukankah ia pernah lebih gila dari ini sebelumnya pada Leonardo dulu.
Gio tersenyum dan langsung salting saat itu juga.bagaimana tidak ia bisa membuat putri konglomerat itu tergila-gila padanya oh tuhan.bahkan Gio tidak memakai pelet atau semacam ilmu pengikat,tapi mengapa Ayana sampai segininya.rasanya tidak mampu Gio ungkapkan dalam kata-kata betapa bahagianya ia saat ini. rasa yang paling membahagiakan ya itu rasa cinta kita yang terbalas.begitu yang Gio rasakan saat ini.tak hanya dirinya saja yang cinta mati pada Ayana.begitu pun istrinya itu.
"Tunggu bentar ya,aku mau ijin dulu ke anak-anak." pamit Gio dan langsung melangkah tanpa menunggu jawaban dari Ayana.
"Mau ngapain dia?" gumam Ayana sembari meneliti sekitar,ia takut ada binatang meski pabrik bagus dan bersih seperti ini tetap saja ia takut ada kecoa atau pun tikus.tak berapa lama Gio datang lengkap dengan kunci mobil di tangannya.
"Yuk ke hotel dulu,biar kamu istirahat di sana." ajaknya.Ayana menurut dan mereka berjalan menuju mobil yang terparkir.
Ajun yang melihat itu pun dengan cepat berdiri." Non Aya sama Pak Gio mau pergi?" tanya Ajun membuat keduanya mengangguk.
"Iya Mas.biar non Aya istirahat di hotel mau saya antar dulu.mas Ajun di sini aja ngopi sana dan buk kantin biasanya sebentar lagi masak untuk makan sore." jawab Gio.
"Oh oke.kalau gitu saya di sini aja ya.kalau ada apa-apa telepon aja Pak." balas Ajun dan segera pergi.
Selepas itu Ayana dan Gio pergi menuju hotel yang tidak jauh dari pabrik itu.hanya berjarak dua ratus meter saja.keduanya memasuki kamar hotel dengan Ayana yang terus menunduk.ia merasa malu di tatap oleh banyak mata yang ada di hotel itu.mereka seperti terkesima melihat Ayana yang bening dan sangat cantik itu.
"Masuk sayang.cuci kaki dan muka dulu sana.tadi di pabrik banyak debu." suruh Gio usai meletakan koper Ayana di lemari.
Ayana menurut ia langsung membersihkan diri.malah berganti pakaian dengan yang lebih santai dan nyaman.usai itu ia menyantap serabi putri khas kampung itu dan es kuwut yang Gio beli tadi di jalan saat akan memasuki area hotel." A,Gi cobain deh enak loh." Ayana menyodorkan satu potong serabi ke mulut Gio dan lelaki itu langsung melahap dengan sekali hap." Enak kan?beda sama yang di jakarta rasanya anyep.kalau ini gurih kelapanya banyak dan kerasa."
Gio mengangguk membenarkan.ia menyesal baru mengetahui ada jajanan ini di dekat hotel." Iya enak.tapi lebih enak serabi kamu." katanya sambil mengecup pipi Ayana.
"Ck.di samain sama makanan" dengus istrinya.
Gio hanya terkekeh sambil melepas pakainnya ia berlalu ke kamar mandi sekitar lima belas menit lelaki itu keluar dengan wajah segar dan rambut basah.ia hanya memakai handuk di pinggangnya. Gio membuka sedikit jendela sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil.pemandangan senja yang indah dapat ia lihat melalui jendela ini.usai makan Ayana bergerak membereskan sampahnya ia mencuci tangan di wastafel kamar mandi setelah itu memainkan ponsel dan memfoto senja yang membentang indah di luar sana.saat sedang memilah foto yang akan ia posting ke akun instagramnya tangan hangat Gio bergerak melingkar di pinggangnya.
"Kangen yang." bisik lelaki itu tepat di telinga Ayana.rasanya ia hampir gila menahan dari tadi untuk tidak menyosor istrinya sejak di pabrik.Gio mengecupi leher Ayana dan sesekali menjilat daun telinga istrinya itu dengan mesra.kelakuan Gio membuat sekujur tubuh Ayana merinding dan aliran darahnya berdesir kala tangan kokoh itu mengelus dari atas hingga bawah belakang punggungnya.
Tanpa Ayana sadari entah kapan tepatnya Gio sudah merebahkannya di atas kasur saat ini lelaki itu tengah menindih dan menghujaninya dengan kecupan ringan di seluruh permukaan wajahnya.Ayana tertawa geli kala Gio menjilati cuping telinganya." Kenapa?" tanya Gio heran.
"Geli" jawab Ayana berujung dengan lenguhan karena saat ini suaminya itu sudah membuat adonan donat di dadanya setelah permainan akan sampai pada intinya Gio sudah bersiap untuk memasuki istrinya dengan tak sabaran.namun Ayana menahan perutnya untuk bergerak membuatnya berhenti dan menatap istrinya dengan tatapan bertanya.
__ADS_1
"Tunggu,kamu pake dulu pengaman.bawa kan?aku gak KB,ini masa subur aku kalau jadi gimana?" ucap Ayana membuat Gio mendengus.
"Kamu ini ada ada aja yang.aku gak bawa itu.yakali aku bawa pengaman kesini buat apa coba dan kapan aku akan makenya?kan kamu di rumah dan aku di sini.kalau aku bawa gituan kesini aku yakin kamu pasti ngereog." Ayana tertawa sambil memukul tangan Gio.suaminya juga ikut tertawa sembari mengecup bibirnya.
"Terus ini gimana?di luar ya nanti?" ujar Ayana seraya mengelus rahang Gio dengan lembut.
Gio kembali mengecupi bibir istrinya kemudian melepaskan." Nggak kok,gak akan jadi.tenang aja." ucapnya menenangkan dan dengan pelan ia menggerakan pinggulnya membuat Ayana meringis nikmat.
"T_tapi ini masa subur aku_Akhh..mm." lenguh Ayana membuat Gio bersemangat tanpa peduli apa yang istrinya ucapkan itu, karena selanjutnya yang ia dengar hanya lenguhan nikmat.
Gio menggeliat kemudian membuka mata ia melihat jam ternyata sudah di angka 8 malam.lelaki itu menarik selimbut untuk menutupi bahu terbuka sang istri.ia mengecup dahi dan pipi Ayana yang masih terlelap itu.tadi setelah percintaan mereka Ayana begitu kelelahan hingga ia tidak sempat membersihkan diri bahkan tidak turun dari kasur.namun Gio dengan suka rela dan telaten membersihkan bagian bawah Ayana mengelap sisa percintaan mereka dengan tisu basah dan handuk kecil yang sudah di basahi air hangat. meski Ayana menolak tapi Gio kekeuh agar istrinya itu tidur dengan nyaman tanpa merasa lengket.
"Bangun sayang,makan dulu nanti lanjut tidur lagi." Ayana hanya berguman kala Gio membangunkannya dengan kecupan-kecupan ringan di pipi dan bahu terbukanya." Ayok bangun.kita makan dan tadi kan di minta ke rumah Pak Rahmat istrinya lagi buat bakso ikan katanya.kamu mau kan?"
"Iya" Ayana terpaksa bangun meski kantuk masih menyerangnya.akibat rasa lelah ia begitu malas untuk duduk dan malah mendusel ke dada Gio.
Gio mengusapi rambut istrinya dengan lembut dan sesekali ia mengecup pucuk kepala itu.ini adalah waktu yang membahagiakan karena hanya ada mereka berdua di kamar ini dan bebas ingin melakukan apa saja.karena biasanya mereka tidak terlalu bebas bermesraan karena ada anak-anak yang masih kecil-kecil.tapi bukan berarti dirumah juga tidak bisa.hanya saja Gio dan Ayana lebih mementingkan anak mereka ketimbang lama-lama bermesraan seperti ini.
"Sekarang ini ada bulunya ya Gi?" Ayana mengelus dada Gio yang perlahan di tumbuhi bulu halus.entah sejak kapan bulu-bulu ini tumbuh Ayana lupa karena sebelumnya sama sekali tidak berbulu.
"Aku gak tau,tiba-tiba tumbuh aja." sahut Gio sambil memainkan hidung kecil Ayana seperti saat ia tengah memainkan pucuk dada sang istri di pelintir-pelintir dan di pilin-pilin.
"Tapi ini seksi,bagus ada ininya kamu terlihat makin jantan dan macho." Ayana terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
"Masa?" Gio mendakap Ayana dengan erat." Emang sebelum ini aku gak terlihat jantan dan macho gitu,hmm?" tanyanya.
Ayana tertawa dalam dekapan Gio." Macho.tapi kurang gitu.tapi kamu seksi kok."
"Aku gak percaya." sahut Gio sembari mengigit pipi Ayana hingga merah.
"ish." Ayana memukul bahu Gio membuat lelaki itu tambah menciuminya.
"Yang.." Ayana menatap suaminya menantikan ucapan Gio selanjutnya." Untuk yang tadi itu.kamu bener-bener yakin udah gak akan nambah anak lagi kita alasannya apa,yang?" Ayana tak langsung menjawab ia malah menatapi langit-langit kamar hotel sebelum helaan napas kasar ia hembuskan.Gio sengaja membiarkan Ayana dengan pikirannya itu.mungkin istrinya mencari kata yang pas untuk ia ungkapkan mengenai alasannya.
Gio mengangguk apa pun yang Ayana mau dia akan setuju saja.meski beberapa bulan lalu sempet ada pembicaraan dengan Frans,ayah mertuanya itu menginginkan ia dan Ayana memiliki anak lebih dari 3.tapi dengan jarak yang lumayan.tapi Gio akan menyerahkan semuanya pada Ayana apa pun keputusannya ia akan mendukung saja.lagi pula bayang-bayang pada saat Ayana melahirkan si sulung masih melekat di ingatannya dan itu mengerikan.
"Iya,apa pun itu aku setuju aja.lagi pula yang hamil dan melahirkan itu kamu,bukan aku.jadi gak ada alasan kalau aku gak setuju sama keputusan kamu itu."
"Gi.."Ayana memeluk suaminya dengan air mata haru yang mendesak keluar." Makasih udah selalu ngertiin dan paham posisi aku."
"Kalau bukan aku yang ngerti dan pahami kamu lalu siapa lagi yang?aku ini suami kamu udah jelas apapun itu yang jadi keputusan kamu,aku harus setuju.asal itu masuk akal dan seperti ini,kita komunikasikan dengan baik."
"Aku mencintaimu." Ayana mengecup rahang Gio.
"Aku lebih mencintaimu,Sayang." lelaki itu membalasnya membuat perasaan Ayana melambung inggi.Ayana merasa bahagia bahkan ia lupa bahwa ia pernah merasakan rasa sakit akibat cinta tak terbalas.Ayana memeluk Gio ia berjanji dan bersumpah tidak akan pernah melepaskan lelaki yang sangat di cintainya dan mencintainya ini.seumur hidup Ayana akan menggenggamnya bahkn hingga napas terakhir.
...☘☘☘☘☘☘...
Selesai membersihkan diri Ayana memoles bibirnya dengan lipstik berwarna nude ke bibir tipisnya.ia memakai baju sedikit tebal karena cuaca di sini lumayan dingin belum lagi tadi sempat gerimis.Gio menarik tangan Ayana dan menggenggamnya menuju tempat parkir mobil mereka di depan hotel.dua menit perjalanan mereka telah sampai di rumah Pak Rahmat yang terletak di pinggir pantai.mungkin jarak rumah Pak Rahmat ini hanya lima meter dari laut.Ayana bergidik ngeri membayangkan jika ada bencana sunami atau semacamnya.
"Rumahnya ngeri amat masa deket banget sama pantai gini." komentar Ayana.
"Bener.kamu berani gak punya rumah di sini?" tanya Gio membuat istrinya itu melotot.
"Nggak,kaya gak ada tempat yang lebih aman aja." sahut istrinya Gio itu.Gio hanya tertawa menanggapi kemudian mereka mengetuk pintu rumah pak Rahmat.dan tak lama seorang wanita seumuran dengan ibu Gio membuka pintu.
"Eh,ini tamunya udah sampai Pak" ucap istrinya pak Rahmat." Selamat datang di gubuk kami Pak,Bu.silakan masuk." pintanya lalu duduk di kursi lain.
__ADS_1
"Terima kasih bu." balas Gio dan Ayana keduanya duduk berdampingan.
Tak lama Pak Rahmat ikut duduk di sana dan segera meminta sang istri untuk membuatkan kopi dan memanaskan kuah bakso ikan untuk di suguhkan pada Ayana dan Gio." Silakan di makan Pak,Bu.ini makanan khas kampung sini." istri Pak Rahmat mempersilakan Gio dan Ayana untuk makan.
Ayana langsung berbinar melihat kuah basko yang mengepul dan wanginya membuat perutnya meronta." Terima kasih Ibu.wah saya suka banget bakso ini bahkan saya suka beli lewat online atau nitip sama orang."
"Oh,iya-iya.silakan di makan selagi panas Bu." mereka senang ternyata istri bosnya itu suka dengan makanan itu.
Gio dan Ayana memakan bakso ikan yang sangat lezat dan gurih itu.tanpa malu keduanya bahkan nambah hingga menghabiskan lima bulatan bakso seukuran bola kasti itu." Baksonya enak banget bu.kuahnya pas dan saya suka banget." puji Ayana membuat bu Nunung tersenyum senang.
"Nanti bawa ke jakarta ya Bu.saya akan buatkan banyakan buat bagi-bagi tetangga." balas bu Nunung.Ayana mengangguk dengan senyum hangat.
...☘☘☘☘☘...
Aneska menatapi Rehan yang sedang membuatkan teh hangat untuknya.pikiran wanita itu menerawang ia teringat akan ancaman sang ayah dan ibunya mereka meminta Aneska untuk segera menikah. mengingat umur Aneska sudah tidak lagi muda.tentu saja di usianya yang sudah memasuki 34 tahun itu sudah pasti di pertanyakan kapan dirinya akan menikah. karena selama ini Aneska hanya fokus pada pekerjaannya dan wanita itu sudah 2 tahun tidak memiliki pacar.sempat hampir menikah namun gagal karena calon mertuanya tidak setuju dan sang pacar pun kedapatan memiliki hubungan dengan wanita lain.
"Minum dulu mbak.biar hangat cuaca lagi kurang bagus ini." Rehan menyodorkan segelas teh hangat dan roti gandum yang sudah ia bakar pada Aneska.
"Lo gak makan?" tanya Aneska melihat hanya ada satu roti saja untuknya.lalu Rehan makan apa dong.
Rehan menggeleng." Aku tadi udah ngopi, mbak aja yang makan.aku nanti makan di kerjaan aja."
"Lo mau kerja hari ini?" Aneska mulai mengigit roti bakar itu.
"Iya nanti jam 11.nunggu kabar dari bos dulu."
"Kalau gitu temenin gue dulu sebelum kerja gue pengen di pijit pegel banget badan."
"Oke,ya udah abisin dulu sarapannya abis ittu aku pijitin." Rehan mengambil elap kecil dia mulai membasahi dengan air kemudian mengelap isi dapur apartemen Aneska.lelaki itu dengan cekatan membersihkan debu dan kotoran.bahkan ia menyedot debu di lantai lalu mengepelnya dengan bersih.setelah itu Rehan menaruh cucian ke mesin cuci setelah selesai mencuci kemudian menjemurnya.
Aneska hanya memperhatikan lelaki itu yang cekatan melebihi dirinya yang perempuan." Benar kata Ayana,dia masih sama kaya Gio mungkin mereka di bawah didikan yang hampir sama.terutama lingkungan dan kehidupan mereka yang sama.makanya mereka terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tanpa malu dan gengsi.apa ini saatnya gue mutusin buat nerima dia jadi suami?ih.tapi nggak deh." tarikan napas Aneska begitu berat.ia bingung antara menerima Rehan untuk jadi suaminya atau tidak.beberapa waktu lalu Rehan menawarinya untuk sebuah pernikahan karena pada saat itu Aneska menolaknya untuk pacaran.di sisi lain hati Aneska sempat bergetar dan ingin menerima lamaran Rehan yang tidak ada romantis-romantisnya itu.tapi setelah di pikir orangtuanya pasti tidak akan menerima Rehan sebagai menantu.
Rehan masuk ke dalam sambil membawa keranjang yang berisi pakaian kering nanti sepulang kerja ia akan menyetrika.tepat dua hari setelah kejadian tak sengaja tidur bersama.Aneska meminta Rehan untuk tinggal di apartemennya.keduanya membuat kesepakatan dan Rehan tergiur dengan tawaran Aneska yang memintanya untuk menghamili wanita itu." Han," Aneska menepuk sofa di sampingnya dan Rehan segera mendekat.
"Kenapa Mbak?"
"Lo harus secepatnya buat gue hamil.gue gak peduli soal apa pun sekarang asalkan gue bisa segera hamil.gue udah capek di desak sama keluarga.gue pastiin setelah gue hamil lo bebas gue gak akan nuntut nafkah atau pun tanggung jawab karena ini gue yang minta.lo cukup buat gue hamil setelah itu kita pura-pura saling gak kenal aja.dan lo gak ada hak sama anak gue.tapi sesekali boleh kok kalau cuma lihat doang mah."
Rehan terperangah mendengar penuturan Aneska.hatinya sakit dan terluka bagaimana bisa Aneska menganggapnya seperti itu.dia pikir hati Rehan ini terbuat dari adonan tepung atau apa sampai tidak memiliki perasaan sama sekali.yang benar saja dan bagaimana bisa.ia tidak yakin kalau suatu saat berhasil membuat Aneska hamil dan melahirkan anaknya Rehan tidak peduli akan wanita itu dan anak mereka rasanya tidak mungkin,ia bukan lelaki berengsek yang tinggal tanam lalau tinggalkan.
"Setelah saya pikir-pikir.saya gak bisa mbak." tolak Rehan membuat Aneska menatapnya.
"Kenapa?bukannya enak di elo ya?lo tinggal hamilin gue terus hubungan kita berakhir.lo gak perlu tanggung jawab gue bisa besarin anak gue sendiri meski tanpa lo,Rehan."
"Ya kalau mbak hamil saya harus tanggung jawab dong.yakali saya sebagai bapaknya gak ngasih nafkah?saya masih waras mbak dan saya paham apa itu hukum nafkah dan kewajiban seorang ayah.mbak gak usah aneh-aneh deh,udah mah saya banyak dosa dengan bergumul terus tiap hari di tambah lagi saya harus nelantarin anak."
"Lo gak nelantarin anak,Rehan.ini kan gue yang minta.anak kita bakal terjamin kehidupannya lo gak perlu kawatir."
"Kenapa kita gak nikah aja sih mbak kalau gitu?"
Aneska berdecak malas." Kan gue udah bilang alasannya,Rehan.pertama gue gak suka sama lo.kedua ortu gue gak bakal nerima lo."
"Kan belum di coba.gimana kalau kita datangin dulu ortu mbak.terus saya minta mbak ke mereka.kalau misal gak di terima ya saya akan berjuang.kalau misal masih gak di terima saya akan mundur.saya gak mau kita memiliki anak tanpa ikatan mbak. saya tau saya berengsek dan bukan orang suci.tapi bukan berarti saya akan membuat anak saya kesulitan di masa depan takutnya anak kita akan dapat bullyan karena gak punya ayah dan_"
"Siapa bilang dia gak akan punya ayah?gue kan bakal nikah nanti setelah menemukan orang yang gue suka."
Demi dewanya tapasya hati Rehan mencelos mendengar ucapan Aneska begitu tajamnya lidah wanita itu,sama sekali tidak memikirkan perasaan Rehan yang terluka.hatinya mendidih.padahal selama ini ia telah sabar mengahadapi wanita itu.Rehan mendekat dan menindih tubuh Aneska lalu menciumnya paksa membuat wanita itu kelabakan." Oke.saya akan menuruti kemauan mbak.mari kita lakukan agar mbak cepet hamil lalu setelah itu mbak bisa menikah dengan orang yang mbak cintai.dan mari untuk tidak saling mengenal nantinya."
Aneska menegang dan sempat meronta namun cengkraman Rehan begitu kuat hingga ia tak mampu melawan." Bersiaplah mbak.saya akan pastikan dua minggu lagi mbak akan mengandung anak saya." Rehan menghentak Aneska tanpa pemanasan membuat wanita itu meringis tapi ia pantang terlihat lemah.sifatnya hampir sama dengan Ayana,sama-sama keras dan gengsian.
Rehan dan Aneska
__ADS_1