
Gio membuka matanya perlahan dan yang pertama kali di lihatnya adalah langit-langit kamar rumah sakit ini.Gio mengedarkan pandangannya dan melihat Mira yang sedang menangis sesegukan di kursi tak jauh dari ranjang tempat Gio saat ini.
"Bu" panggil Gio dengan lemah.
Mira langsung berdiri dan menghampiri putranya itu." Sukur lah kamu udah sadar Gi." ujarnya dengan wajah sedih.
"Aya_na dimana,Bu?." tanya Gio.
"Tadi udah di pindahkan ke ruang perawatan.kamu mau kesana?tapi gak boleh masuk dulu ya,dokter melarang katanya kamu belum sembuh gak boleh ketemu anak-anak." ujar Mira membuat Gio langsung menatapnya dengan tajam tentu saja dirinya tidak suka mendengar ucapan ibunya itu.apa maksudnya dirinya tidak boleh bertemu dengan mereka.heh apaan ini?siapa yang membuat peraturan itu.
"Hahh?." tanya Gio bermaksud ingin menanyakan mengapa harus ada aturan seperti itu.
"Kan tadi ibu udah jelasin.Gio kan masih sakit gak boleh dong deket-deket bayi yang baru lahir.apa lagi yang satunya masih di inkubator.berat badannya terlalu rendah.kasihan mana masih merah dan kecil banget badannya udah di tusuk-tusuk sana sini." Mira terisak mengingat cucunya yang malang itu.bagaimana tidak,bayi sekecil itu harus di tempel berbagi macam alat dan di biarkan ia tidur di dalam box kaca itu.seharunya ia bersama Ayana sepanjang hari agar merasakan dekapan hangat ibunya.
"Bu.." air mata Gio meluruh mendengar apa yang barusan Mira katakan bagaimana bisa anaknya harus merasakan derita seperti itu,bahkan ia baru saja lahir ke dunia ini.
"Jangan nangis.kamu harus kuat dan cepet sembuh.agar bisa membantu Ayana merawat anak-anak kalian." Mira mengusap air mata Gio dengan tangannya dokter tadi sudah mengatakan setelah memeriksa Gio.bahwa katanya ingatan Gio saat ini sudah berangsur kembali sepertinya namun belum sepenuhnya pulih semua orang begitu bersukur setelah mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Gio yang sekarang ini.
Setelah merasa lebih baik dan sudah siap Gio di antar oleh Mira untuk menemui Ayana walau di luar kaca saja untuk sementara.Gio langsung di sambut hangat oleh Frans dan Monica di luar ruangan Ayana bahkan langsung di peluk oleh kedua mertuanya itu." Mah." isak Gio sembari memeluk Monica begitu erat menumpahkan tangisnya di pundak hangat itu.
"Mamah senang Gio udah pulih.cepet sembuh Nak.kami merindukan celotehan kamu." ujar Monica dengan tangis yang susah di hentikan.
"Iya.Mamah.." balas Gio dengan sama sedihnya.
"Selamat untuk kamu.kamu memiliki tiga anak sekarang.anak kamu kembar dua. mereka sepasang begitu lucu dan menggemaskan.namun..sayang yang satunya masih membutuhkan peralatan medis.beratnya terlalu rendah." ujar Frans dengan suara pelan yang tercekat di tenggorokannya.Gio tambah tergugu di pelukan Monica begitu mendengar penjelasan ayah mertuanya itu.
"Kamu harus sabar ya.jangan nangis seperti ini,kamu yang harus paling kuat di sini,karena Ayana butuh kamu untuk melalui semuanya." Frans menepuk bahu lebar Gio yang bergetar.
Gio memandangi putranya yang berada di dalam inkubator itu.bayi merah yang begitu kecil dengan kulit kemerahan terlihat begitu damai tertidur di dalam sana.siapa pun pasti tidak tahan melihatnya.bayi sekecil itu sudah di tusuk dan di tempel sana sini oleh peralatan medis.untuk menambah berat badan dan membantunya mendapatkan nutrisi juga obat-obatan melalui infusan.Air mata Gio tidak berhenti meleleh sejak tadi.ia tidak tega melihat putra kecilnya di dalam sana mengapa ia harus melalui hal berat seperti ini bahkan di awal kehidupannya.
"Dia ganteng ya,kaya kamu." ucap Mira dengan senyum hangat sembari terus memandangi wajah cucunya.Gio mengangguk dengan senyum bahagia di sela tangisnya.
"Kalau kakanya sehat dan montok. mukanya mirip kamu lagi aja.kalau yang ini ibu lihat lebih mirip Ayana,tapi tetap ada kamunya." Mira terkekeh menceritakan cucu-cucunya yang begitu lucu itu.mereka begitu menggemaskan kembar namun tidak indentik.karena mereka bisa di bilang tidak mirip satu sama lain.
"Ayo kita ke ruangan Aya.kamu belum lihat yang perempuan.tadi ibu dan Mamah Monic udah meminta sama dokter supaya kamu bisa melihat anak dan istrimu.kamu katanya juga boleh masuk ke ruangan Ayana " Mira mendorong kursi roda Gio menuju ruangan Ayana.tadi Gio sempat melihat sekilas Ayana yang sedang tidur karena Monica bilang istrinya Gio itu baru saja minum obat dan istirahat.jadi mereka memutuskan untuk tidak menganggunya.
...πππππ...
Gio tersenyum saat melihat Ayana yang tengah belajar miring kanan kiri.di temani oleh perawat.begitu melihat Gio di sana dua perawat itu menghentikan kegiatan mereka karena memang sudah selesai.
"Gi?.." Ayana berusaha duduk namun di larang oleh Monica dan Mira.hanya di biarkannya setengah duduk.
Gio tak menjawab langsung menghambur memeluk Ayana dengan tangis yang terdengar begitu pilu.Ayana yang bingung pun tak sempat bertanya apa pun ia hanya ikut larut dalam tangis dan pelukan Gio yang hangat ini." Maaf.." ucap Gio di sela tangisnya.ia menciumi seluruh wajah Ayana yang basah oleh air mata mereka yang bercampur menjadi satu.Ayana hanya menggelengkan kepalanya tak mampu berkata apa-apa.
Mira dan Monica diam-diam keluar memberikan ruang untuk anak-anak mereka.keduanya menunggu di depan pintu dengan tangis sedih,melihat cobaan yang menimpa Ayana dan Gio saat ini.
"Maafin_aku.." lirih Gio.ia mengusapi air mata Ayana dengan kedua ibu jarinya.Gio menyatukan kening mereka dengan mata yang sama-sama terpejam.saling menghirup napas dari keduanya yang melebur menjadi satu.
"Kamu gak perlu minta maaf.kamu gak salah apa pun.aku berusaha menerima semuanya.aku yang bersalah di sini sehingga mengorbankan kamu seperti ini. aku yang harus minta maaf sama kamu." ucap Ayana dengan suara tersendat dan bergetar.Gio tetap menggelengkan kepalanya lalu mengecup kening dan kelopak mata Ayana.
"Gak ada.yang bersalah di sini Sa_yang." Bantah Gio dengan cepat.sembari mengecupi seluruh wajah istrinya dengan mesra.
"Kita sama-sama salah ya Gi." sahut Ayana dengan tawa kecil.lalu memeluk suaminya begitu erat.Gio membalasnya tak kalah erat seolah takut kehilangan Ayana.Gio menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ayana,mengendus dan menghirup aroma ini yang sepertinya sudah sangat lama tidak di hirupnya sebenarnya dirinya pegal karena harus menunduk dari kursi roda dengan posisi seperti ini.namun jika itu bersama Ayana semuanya terasa nyaman.
Hadeh dasar bucin
"Kamu udah ingat sama aku?kamu udah mengingat semuanya?." tanya Ayana bertubi-tubi usai melonggarkan pelukan mereka.
"Hmm.tapi.gak.semua_nya." sahut Gio dengan senyuman yang terus menghiasi wajah tampannya.
"Gimana cara kamu mengingat aku,Gi?." Ayana begitu penasaran bagaimana Gio mengingat kembali dirinya.
"Tiba-tiba aja.." jawab Gio sudah semakin nyaman di dengar." Aku kangeun.kamu_"
"Oeeee.oeeee." suara tangis bayi yang tiba-tiba menghentikan ucapan Gio dan mengagetkan keduanya.
"eh..itu anak kita nangis." ujar Ayana dengan panik.saking asiknya melepas rindu keduanya sampai tidak sadar dengan anak sendiri.jangan di contoh ya pemirsah.
Gio yang sama paniknya pun bingung,lalu dengan susah payah ia memutar kursi rodanya menuju box bayi yang berada di samping ranjang Ayana.Gio mengambil bayi itu dan membawa ke dalam pelukannya dengan penuh ke hati-hatian menghirup aromanya yang menenangkan ini,dan mendekapnya begitu erat seolah itu adalah barang yang sangat berharga dan rapuh.Gio kembali menangis sembari menciumi bayi mungil itu.
"Maafin.ayah ya." ujar Gio kepada putrinya yang langsung menggeliat itu." Gemesnya." lanjutnya seraya menciumi habis seluruh wajah putri kecil itu.setelah itu mengerjap panik lupa bahwa dirinya ini sedang sakit.
"Gapapa kok.kamu udah sehat Gi,kamu juga bersih kan gak kotor." Ayana seolah mengerti dengan apa yang di takutkan oleh Gio.
Gio tersenyum dan mengangguk sembari membawa bayi itu ke pangkuan Ayana." Dia.cantik.seperti kamu." ujar Gio sembari mengelus pipi bayinya.
"Gombal.baru juga sembuh." sahut Ayana dengan wajah salting.
"Kamu emang.cantik kan?." goda Gio lalu mengecup punggung tangan Ayana dengan lembut.membuat perempuan itu meleleh.
"Dih apaan sih?genit deh" balas Ayana sembari memalingkan wajahnya.
"Genitnya.cuma sama kamu aja." goda Gio lagi sengaja.
"Dihh.udah deh.dasar genit" dengus Ayana.dirinya sudah tidak kuat jika harus menahan salting lebih lama lagi.
"I Love..you." balas Gio sembari mengedipkan matanya dengan wajah tengil itu.
"Gio.." jantung Ayana merosot ke lambung saat ini.bahkan jahitan bekas oprasi seketika kembali menyatu dengan sempurna mendengar gombalan Gio ini.Oh ayolah permirah getok saja kepala Gio ini. supaya ingatan dia kembali hilang agar Gio berubah menjadi kalem.dumel Ayana di dalam hatinya.
"Tadi udah di azani sama Papah dan petugas rumah sakit.kamu gak perlu mengazani lagi.apa lagi kondisi kamu seperti ini." Ayana mengalihkan suasana supaya Gio tidak menggombal terus.jujur saja dirinya tidak kuat jika harus kembali meletoy oleh gombalan Gio itu.
"He'um.cantik." sahut Gio membuat mata Ayana hampir keluar.
"Dih,nih orang ketempelan apa sih?bukannya dia baru sembuh?jangan-jangan yang ngisi jiwa Gio ini.bukan Gio yang asli" Ayana mencoba menebak-nebak dalam hati sembari memerhatikan Gio yang sedang memainkan tangan putrinya.
"Gi.kamu tahu gak nama aku siapa?" tanya Ayana konyol.
Dahi Gio mengerut sepertinya dia merasa heran." Ayana." jawab Gio.
"Anak kita yang pertama siapa namanya?."
__ADS_1
"Mia.." sahut Gio.
"Mamah aku siapa namanya?." Ayana kembali bertanya.
Kali ini Gio menggeleng karena tentu saja dia tidak ingat.jangankan Monica,Mira dan Indri saja kaka dan ibunya sendiri Gio lupa.
"Papah siapa namanya?."
"Frans.." sahut Gio.
"Oke deh.." balas Ayana.
Dahi Gio berlipat menatap Ayana dengan bingung." Kok.kamu..tanya gitu?." tanya Gio dengan heran.
"Ngetes aja.siapa tahu kamu salah jiwa." sahut Ayana dengan santai.
"Hah?." Gio tidak mengerti akan ucapan istrinya itu.
...ππππππ...
Monica yang sedang mengobrol dengan Mira pun di kejutan oleh kedatangan seorang pria.pria itu menghampirinya dengan sebuah kado berukuran sedang dan buket bunga di tangannya.
"Maaf.mau tanya kamar Ayana yang ini kan ya.tante?saya Jerrian teman Ayana, tante." tanya pria itu.
"Iya.oh teman Ayana." jawab Monica dengan heran.sepertinya dia lupa-lupa ingat dengan pria ini setelah melihat wajahnya dari dekat.
"Iya tan.ini pasti mamanya Ayana ya?saya yang waktu itu nemuin Ayana pas kecelakaan kecil.saya juga sempet ketemu om Frans beberapa kali." sahut Jerrian dengan wajah ramah.
"ohhh.iya iya.saya mamanya Ayana.dan ini tante Mira mamanya suami Ayana." ucap Monica.
"Oh iya tan.ini saya mau jenguk Ayana kemarin wa dia katanya lagi di rumah sakit mau lahiran." ujar Jerrian.
"Oh iya.ini masuk aja apa gimana?." ucap Monica dengan bingung pasalnya Ayana sedang bersama suaminya di dalam.dan ia juga menghargai Mira di sini.
"Bawa masuk aja Jeng.gapapa.Gio dan Ayana juga kan udah dari tadi ngobrolnya." ujar Mira mengerti akan kebingungan Monica.
Sementara itu di dalam ruangan,Ayana dan Gio tengah tersenyum memandangi putri mereka yang tengah menyusu begitu rakus Gio mencolek pipi empuk anaknya dengan gemas.
"Lucu ya" ujar Ayana.
"Lucuan.kamu." sahut Gio.membuat Ayana mendengus kok gombal terus dari tadi si Giok ini.
Gio hanya terkekeh pelan tidak bisa keras karena rahangnya masih sakit.melihat wajah Ayana dengan dekat seperti ini membuatnya gemas sendiri.pipi istrinya begitu tembem sekarang ini berbeda ketika mengandung Jemia.Ayana tidak segemuk ini.mungkin karena mengandung dua bayi sekaligus jadi tubuhnya sedikit lebih berisi dari sebelumnya.
"Kenapa ngelihatin terus,hmm?." tanya Ayana saat ia mengangkat wajahnya.mata Gio begitu lekat menatapnya.
"Pengen kiss." ucap Gio dengan suara pelan.
"Loh,baru juga sembuh udah kass kiss kass kiss aja.nanti aja sih kalau udah sembuh." tolak Ayana sengaja.
"Isshh." dengus Gio membuat Ayana terekeh.
Gio tersenyum setelah mengecup sekilas bibir Ayana.membuat perempuan itu menggeram namun tetap tersenyum karena ia suka.melihat respon Ayana yang senang-senang saja dan tidak menolak Gio kembali mengecup bibir tipis itu bahkan memagutnya hingga ia terlena.dan keduanya sudah sama-sama terbuai.
Ceklek
Jerrian,Mira dan Monica terkejut dengan apa yang mereka lihat sekarang.Ayana dan Gio tengah berciuman dengan mesra hingga tidak mendengar suara pintu yang di buka.rupanya kedua manusia itu begitu larut dalam ciuman,sehingga tidak menyadari ketiga orang dewasa yang sedang memeregoki keduanya.Jerrian memalingkan wajahnya ke samping.dirinya malu sendiri melihat kemesraan Ayana dengan yang katanya suaminya itu apa lagi dirinya melihat baju Ayana yang terbuka dan memamerkan dadanya separuh.tentu saja Jerrian sempat melihatnya,karena Ayana sepertinya tengah menyusui bayinya.
"ehemm.." deheman Monica membuat kegiatan Ayana dan Gio terhenti dan keduanya seketika menoleh dengan wajah terkejut.dengan cepat Gio menutupi dada Ayana dengan kain bedong anaknya hingga kain itu menutupi separuh wajah bayinya.
"Mamah kok gak ketok dulu?." ujar Ayana dengan nada kesal sepertinya ia sangat malu sekaligus marah.karena kegiatan mengasikan itu harus terhenti.
"Maaf kami gak sengaja.kirain kan..lagi ngobrol tahunya." sahut Monica membuat Mira tertawa pelan.
"Ini ada teman kamu mau jenguk katanya." ujar Monica.mata Ayana tertuju pada Jerrian yang berdiri tidak jauh dengan Mira.
"Oh iya.hai Jerr." sapa Ayana ramah.
Jerrian tersenyum dan mendekat pada ranjang Ayana." Hai.Ayana." ucapnya membuat Gio menatapnya dengan alis bertaut.
"Kamu kesini dengan siapa?." tanya Ayana basa basi saja.
"Sendiri aja.gimana kabar kamu?selamat ya udah keluar si kembar.lucu banget deh anak kamu" ujar Jerrian
"owalah.makasih Jerr udah nyempetin nengokin kembar." sahut Ayana.
Jerrian mendekat dan menyodorkan tangannya pada Gio." Saya Jerrian mas dan selamat ya atas kelahiran anak kalian." ucapnya ramah.
Gio menerima tangan itu namun hanya sebentar saja." Ya.makasih." jawab Gio datar.
"Maaf ya Jerr.Gio masih belum sembuh dia belum bisa bicara banyak." ucap Ayana agar Jerrian tidak tersinggung oleh sikap Gio.
"oh iya gapapa.cepet sembuh ya mas." Jerrian tersenyum kepada Gio namun tidak di balas oleh lelaki itu.setelah mengobrol sebantar dengan Mira dan Monica juga Ayana tentunya.akhirnya Jerrian pamit undur diri.dia tidak nyaman melihat tatapan sinis Gio kepadanya.suami Ayana itu memasang wajah datar sejak tadi,entah sengaja atau memang wajahnya seperti itu pikir Jeri
...ππππππ...
Ayana terkejut dan merasa heran saat mendapati Gio tengah memakan coklat hadiah dari Jerrian kemarin.pria itu memakannya dengan rakus hingga satu box habis tak tersisa.Gio juga tadi pagi memberikan buket bunga mawar itu pada seorang suster tua yang merawat Ayana.
"Kok cokelatnya di habisin,sayang?"tanya Ayana heran.
"Biar.kamu.gak makan." sahut Gio santai.
"Loh?kan itu ya emang harus aku makan." balas Ayana tambah heran.
"Banyak.cokelat lain.kenapa harus.dari dia." ketus Gio sembari membuang bungkus cokelat itu pada tong sampah.
"Kamu cemburu?" tanya Ayana.Gio menggeleng cepat." Bohong.iya kan kamu cemburu sama Jerri?kalau engga kenapa tuh cokelat kamu makan semua?dan bunganya juga kamu kasih ke suster tua itu." ujar Ayana.
"Ga." balas Gio cepat.
"Bohong.masa gitu aja cemburu.dia cuma ngasih hadiah sebagai ucapan aja kok kami juga berteman karena dia nolongin aku pas aku kecelakaan beberapa waktu lalu.awalnya aku risih sama dia tapi lama-lama ternyata dia baik juga.oh iya kami murni loh hanya berteman biasa." jelas Ayana kepada Gio agar suaminya itu paham dan tidak beranggapan yang tidak-tidak tentangnya.Ayana memang selama ini sudah berteman dengan Jerri dan mereka juga cukup dekat.sering kali membahas hobi yang sama-sama mereka sukai.ternyata Jeri hobi melukis sama dengan Ayana.
__ADS_1
"Terserah." sahut Gio ketus.
"Cie Bapak-bapak cemburu nih ya.malu dong sama anak udah tiga loh,masa iya masih cemburu-cemburuan?." goda Ayana.
"Ishh." dengus Gio tidak suka di bilang bapak-bapak oleh Ayana.hey,Gio ini masih muda,unyu dan kekar masa di bilang bapak-bapak sih.
"Uluh-uluh ngambek ceritanya.sini dulu mau nen gak?" tawar Ayana membuat wajah Gio langsung sumringah,hih dasar bayi kolot.
"eitss.enggak dong.ini punya anak-anak.di tambah Mia juga masih sering nen.dia kurang suka sufor.maunya yang langsung dari sumbernya kaya ayahnya." kekeh Ayana membuat Gio juga ikut terkekeh.
"Apa sih?" ucapnya lalu merangkul Ayana dan menciumi keningnya dengan sayang.
...ππππππ...
Hari ini teman-teman Gio berkunjung ke rumah Ayana.karena Monica meminta Gio untuk mengundang teman-temannya datang.Monica mengadakan acara makan-makan bersama tetangga dan sanak saudara.beberapa hari lalu Ayana sudah di perbolehkan pulang ke rumah begitu juga dengan Gio,dokter sudah mengijinkannya untuk pulang.karena kondisi Gio saat ini sudah terlihat membaik dari hari ke hari.bahkan bicaranya pun sudah lancar.dan rahangnya sudah tidak begitu sakit saat di gerakan.kesehatan Gio sudah bisa di katakan hampir tujuh puluh persen jauh lebih baik dari sebelumnya pasca Ayana melahirkan dan ingatan Gio pulih,kondisi tubuh Gio juga semakin membaik dengan cepat.
Anak mereka juga sudah bisa di bawa pulang berat badannya sudah menambah kini keluarga Gio begitu bahagia dengan kehadiran tiga bayi di rumah Ayana.rumah Frans tambah hangat dan terasa lebih hidup.si kembar memang membawa kebahagiaan di keluarga itu.
Namun bukan berarti Jemia tidak.tentu saja gadis itu adalah yang pertama menumbuhkan cinta di antara mereka termasuk di keluarga itu.dia adalah yang pertama mengikat cinta Ayana dan Gio menjadi semakin dalam dan hangat.dia lah yang paling utama mendapatkan seluruh perhatian di keluarga itu.
"Ini udah kedua kalinya kita ngasih kado untuk anak Gio.lah kita mah boro-boro ya,Han?nemu induknya aja belum." ujar Andre yang di sahuti gelak tawa oleh ibu-ibu yang ada di sana.kebetulan hari ini ada keluarga Ayana katanya akan membuat rujak.
"Ya udah kamu juga cari dong.biar punya anak kaya anaknya Gio lucu-lucu kan." ucap salah satu kerabat Ayana.
"Aduh tante,gak ada.susah nyarinya.kalau ada sih anak tante aja boleh kali." sahut Andre yang langsung di sikut oleh Rehan.
"Lo jangan tolol deh.mereka itu keluarga sultan semua.beda ama kita yang remehan gendar." bisik Rehan sembari tetap memasang senyum pada semua orang.
"Boleh juga tuh.tante punya cucu tapi baru masuk TK sih.kalau mau tungguin aja." ujar perempuan bernama Dania itu.
"Buset tan.atuh keburu saya bungkuk ini mah.kelamaan tan,gak ada yang seumuran sama saya apa?" tanya Andre.
"Oh ada sih.adik saya.cuma udah pernah menikah sekali tapi gagal.umurnya beda tiga tahun aja sama saya ." jawab Dania.
Tawa Rehan dan Andre seketika saja menyembur.mereka terbahak tak kuat menahan tawanya sampai Gio yang memang receh pun ikutan tertawa.
"Tante suka ngadi-ngadi deh.yakali nawarin tante Rosa yang udah nenek-nenek begitu." ucap Ayana sembari mengelap botol susu dengan tisu.
Dania hanya tertawa puas mengerjai dua remaja itu." Habisnya mereka bilang cucu tante masih kecil.ya itu yang tua mah tante Rosa." balas Dania.
"Yang pas mah tuh Thea.seumuran sama kalian." ucap Dania saat melihat Althea baru saja datang.perempuan muda itu begitu sibuk dengan barang bawaan.
Mereka seketika menoleh pada Thea yang berjalan memasuki rumah Ayana.wajahnya begitu datar dan tampak tidak menyukai datang kemari." Halo Thea,makin cantik aja nih?." sapa Indra suami dari Dania yang baru saja dari dapur.
Althea hanya tersenyum kepada Pakdenya itu usai meletakan barang bawaannya namun senyum itu luntur seketika saat melihat Ayana dan Gio.
"Cantik sih,tapi agak judes ya." bisik Rehan kepada Andre di sebelahnya.
"Masih cantikan juga nenek gue,dan bukan tipe gue.gak tahu kalau lo." sahut Andre.
"Enggak dong.idih cewek modelan gitu gak ada menarik-menariknya." balas Rehan.
"Dia binal loh.pasti lo suka." sambar Gio dengan pelan agar tidak ada yang mendengarnya.
"Binal gimana maksud lo?dia suka di atas?" tanya Rehan tak mengerti.
"Bukan gitu,monyong.ya agak liar-liar gitu lah.tipe lo kan yang begitu." jelas Gio.
"Ya enggak.yang begitu juga kali." sewot Rehan.
"Ya santai dong,burhan.gak usah sewot." balas Andre membuat Gio terkikik.
"Thea langsung ke dalam aja Tante." ucap Althea tidak sopan sama sekali.perempuan itru malah melewati mereka begitu saja.
"Gusti.amit-amit jangan sampe jadi jodoh gue." gumam Rehan dan Andre membuat Ayana yang mendengarnya pun tertawa.
"Eh.kok yang satunya mirip kamu ya." ucap Dania menujuk anak Gio yang perempuan.mereka semua kompak menoleh pada wanita setengah baya itu.
"Maksudnya mirip siapa tan?" tanya Ayana .
"Mirip teman Gio yang itu." tunjuk Dania kepada Rehan.membuat pemuda itu kontan menunjuk dirinya.
"Saya?mirip sama saya,tan?" tanyanya panik sembari melihat ke arah Gio yang sedang cengo.
Dania mengangguk dengan cepat." Iya, saya lihat perasaan kok mirip kamu.setelah di lihat-lihat,lah kok bener.mirip loh sama kamu.pas ngidam Ayana mungkin kesel sama kamu itu." ucap Dania.
Rehan dan Andre saling pandang.begitu juga dengan Gio dan Ayana." Ya enggak lah.kapan aku kesel sama dia sih?" bantah Ayana cepat.
"Yang?" Gio menatap Ayana membuat Ayana menautkan alisnya.
"Apa?mau nyalahin aku?enak aja.salahin aja tuh dia.kenapa bisa-bisanya mirip anak kita." sahut Ayana.
"Ka,yang duluan lahir itu aku loh." Rehan merasa tidak terima.
"Iya,tapi kamu yang mirip anak saya.bukan anak saya yang mirip kamu." balas Ayana membuat Andre dan Dania terbahak.
"Ternyata doa gue waktu itu di dengar oleh tuhan.doa orang tersakiti memang udah pasti terkabul." batin Rehan sembari menatapi anak Gio yang katanya mirip dengannya itu.tapi kalau di lihat-lihat sih benar juga,sekilas mirip.
"Lo gak ikut nitip saham kan?." bisik Andre yang langsung saja mendapat pukulan kasih sayang dari Gio yang mendengarnya.
...Mia jangan di ajari hape dong,Ayah....
__ADS_1