Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
73


__ADS_3

Gio dan istrinya bisa bernapas lega ternyata anak-anaknya baik-baik saja di tinggal oleh Ayana.mereka terlihat anteng saat Gio dan Ayana mengecek cctv yang mereka sengaja pasang.tujuannya guna keamanan anak-anak saat di tinggal bersama pengasuhnya.bukan mereka tidak percaya kepada dua suster itu. melainkan untuk berjaga-jaga,karena hati seseorang tidak ada yang tahu.semua bisa saja tempe.


"Sukur lah,tenang jadinya.semoga kedepannya bakal seperti ini terus." Gio merentangkan ototnya lalu beranjak dari kursi menuju kasur.


"Iya,udah ayo tidur" ajak Ayana saat ini dirinya sudah amat mengantuk.Gio langsung menuruti ikut bergabung ke dalam selimbut yang Ayana gunakan untuk menutup sebagian dirinya itu." Gimana kabar lon itu?" tanya Ayana saat Gio baru akan memejamkan mata.


Mendengar Ayana bertanya hal itu,lantas Gio membuka kembali matanya,namun hanya sebentar ia pun kembali menutup matanya." Gak tau,udah gak usah di pikirin aku kan udah bilang nanti dia bakal capek sendiri."


"Oh.bagus deh,kalau bisa mati aja itu orang sekalian." balas Ayana dengan kesal.


"Gak boleh gitu.pamali." Gio menggeser dirinya guna memeluk Ayana yang ia pastikan sebentar lagi akan ngambek,salah sedikit saja,Gio bisa jadi serba salah pokonya kalau Ayana sudah ngembek dan mode galak.tepung serba guna pun bisa menjadi tepung serba salah.


"Pamali,pamali.yang pamali itu udah tahu suami orang masih di kejar.dan udah tahu ada perempuan mau masuk ke dalam rumah tangga sendiri.tapi di diamkan.itu baru pamali." sindir Ayana sengaja yang langsung mendapat kekehan dari Gio.


"Iya maaf.ya udah aku salah.lagian kan nomornya udah aku blok.udah gak usah di perpanjang lagi ya,mending tidur kamu harus istrihat." ucap Gio sengaja agar istrinya tidak lagi membahas perempuan gatal itu.


"Awas kalau kamu macam-macam." ancam Ayana sebelum masuk ke dalam pelukan hangat Gio.


"Hmm.iya tuan putri." Gio menjawab seadanya dengan mata terpejam.


Ayana tak membalas ia hanya memeluk Gio erat.dirinya begitu takut kehilangan ayah dari anak-anaknya ini.banyak sekali yang mengejar suami Ayana,baik secara terangan-terangan mau pun diam-diam di belakang.contohnya Althea,Aya yakin kalau sepupunya itu ada hati kepada suaminya.dirinya bukan bodoh yang tidak mengerti akan sikap sepupunya itu.mana mungkin Ayana tidak paham,kalau sebenarnya Althea berusaha untuk merebut Gio darinya.beruntungnya Gio itu bukan laki-laki yang gampangan,ia selalu ketus dan tegas terhadap perempuan mana pun yang berusaha menggodanya.


Namun berbeda jika itu kepada Amanda.ah Ayana jadi ingat kepada mantan Gio itu apa kabarnya sekarang perempuan itu Ayana terkahir melihatnya saat mereka di perjalanan waktu itu.dan hingga saat ini Amanda tidak pernah lagi terdengar kabarnya.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Pagi ini Gio mendapat telepon dari Indri kalau Mira memintanya untuk menginap kesana.tapi Gio selalu menolak dengan alasan sibuk.namun sesekali ia masih berkunjung kesana tanpa anak dan istrinya bukan tanpa alasan.Gio hanya sedang menghindari Kaka iparnya.dia amat tidak menyukai Bian yang berada terus di rumahnya.kelakuan laki-laki itu memang sedikit berubah namun tetap saja sifatnya yang pemalas dan kurang giat bekerja itu mendarah daging masih melekat pada dirinya.selama laki-laki itu kembali,ia tidak bekerja dan hanya mengandalkan uang dari hasil parkir.dan tentu saja untuk biaya sehari-hari mengandalkan uang yang di berikan oleh Gio kepada ibunya.


Dan yang membuat Gio lebih kesalnya lagi. Kaka iparnya itu tergabung dalam komunitas kumpulan pemuda yang berseragam loreng oren.yang kerjaannya hanya tidur,ngatur dan bergaya kesana kemari.lebih menyebalkannya lagi,mereka akan menyerbu para tetangga yang sedang mengadakan hajatan.tugasnya menghabiskan rendang,makanan dan lauk. dan itu membuat Gio dan keluarga tambah malu karena sering di gunjing tetangga.


"Kenapa?." tanya Ayana setelah meletakan tas kerjanya.bukannya menjawab Gio malah salfok kepada istrinya yang pagi ini jauh terlihat lebih cantik dan anggun. rambutnya yang lembut dan wangi itu di urai begitu saja.bibirnya yang selalu Gio gigit itu di poles lipstick mahal berwarna pink muda.mata Ayana yang berwarna cokelat terang terlihat memancarkan binar indah yang membuat Gio selalu tenggelam kedalamnya.


"Rotinya di oles dulu,Ayah." tegur Ayana saat tangan Gio menggantung begitu saja selai yang menempel di pisau yang sedang Gio pegang itu pun hampir jatuh.


"eeh.kok lupa ya." Gio tertawa dengan kebodohannya lalu buru-buru mengoles selai cokelat itu ke rotinya.


"Kamu mau rasa apa?" tanyanya setelah mengambil roti yang baru untuk Ayana.


"Rasa cinta dan sayangnya aja boleh gak di tambah?." jawab Ayana usai meminum teh hijau yang selalu ia konsumsi di pagi hari katanya sih untuk melancarkan buang air dan menjaga berat tubuhnya agar selalu aman.


Gio tak menjawab hanya memandang istrinya dengan senyum tertahan." Kok jadi narsis dia.berlajar dari mana itu?." batin Gio.


"Apa yang nggak sih,buat calon direktur mah.semua akan aku kabulin." guyon Gio dengan tawa tertahan.


"Kalau gitu sore kerumah ibu.tadi ka Indri wa aku nyuruh kita nginep.katanya ibu kangen cucunya." pinta Ayana yang langsung membuat Gio merengut.


"Males aku ketemu bapaknya Billa." ucap Gio dengan malas.


"Tujuan kita bukan ketemu oraang itu.tapi ketemu ibu dan ka Indri juga Billa." balas Ayana dengan lembut." Ayolah masa udah lama gak ke ibu sih?kamu mau jadi anak durhaka?."


"Iya.iya.tapi kamu jangan akrab-akrab sama dia ya,Bian itu bajingan.nanti kamu di apa-apain sama si beban itu." akhirnya Gio mengalah benar juga kata istrinya.ia sudah lama tidak menginap di rumahnya.


"Kalem,Gi.aku juga tahu kok dan bakal jaga batasan." balas Ayana.kemudian keduanya buru-buru berangkat.


...☘️☘️☘️☘️🍀🍀...


Sorenya mereka langsung menuju rumah Gio di pinggiran kota.setelah tadi mengambil perlengkapan yang sudah di siapkan oleh bibi keduanya tidak membawa suster sengaja karena ingin membiarkan para suster istirahat sekalian menjaga rumah.Indri juga mengatakan untuk tidak membawa serta pengasuh ponakannya itu karena ia sendiri yang akan menjaga mereka.selama Gio dan Ayana di sana." Aduh sayangnya ibu,ganteng dan cantik-cantik banget sih kalian ini." Mira begitu senang saat Gio dan keluarga kecilnya tiba.


"Terima kasih,ibu." ujar Ayana menirukan suara anak-anak.


"Udah lahap makannya ya,Aya?." tanya Mira kepada menantunya.

__ADS_1


"Iya Bu.makannya banyak dan lahap.apa lagi Vindi doyan banget makan.tapi Raven sih agak pilih-pilih." jawab Ayana.


"Badannya juga beda,bu.Raven ini agak lembek gak sekel kaya Vindi dan Kaka Jem." tambah Gio sembari mengupaskan pisang untuk putrinya.


"Iya juga,kenapa bisa begini?." heran Mira.


"Wajar lah,bu.dari kecil dia yang paling berat cobaannya.beratnya aja kan gak cukup waktu itu" Gio mengelap area mulut putranya dengan tisu basah.


"Meh,meh." Vindi begitu sibuk saat matanya menatap balon yang sedang Billa pegang.


"Teteh,Billa.dede Vindi pinjam balonnya ya?." pinta Gio yang langsung di turuti oleh Billa.


"Satu,untuk Aven ya,om." ujar Billa sembari berlari mengambil balon yang lain.yang di balas dengan kecupan di pipinya oleh pamannya itu.


"Udah bisa ngoceh dia,Gi." ujar Indri dan Mira dengan senang.karena Vindi beberapa kali mengutarakan keinginannya meski dengan bahasa bayi.begitu pun Gio dan Ayana yang terkejut untuk pertama kalinya mendengar sang anak meminta sesuatu.biasanya anak-anak mereka hanya bergumam jika menginginkan apa pun.


"Nda.nen." pinta Jemia yang baru terlepas dari mainannya.anak itu terlihat begitu sibuk dengan mainan boneka barbie yang Gio belikan untuk Billa dulu.boneka itu bisa bicara dan mengedip sendiri.


"Nen.botol aja ya,Nak." ujar Ayana.


"Ga.mau nen nda." tolak Jemia.


"Mulai.suka gak tahu tempat kamu mah. ayah kan udah bilang,nennya kalau malam aja.kalau siang nen botol." ujar Gio membuat ibu dan kakanya itu tertawa.


"Nen botol aja ya,Jemi,teteh Billa juga nen botol loh,sama nte yuk kita lihat kambing." ajak indri supaya anak itu mau.


"Nen otol?mia mau." dan akhirnya Jemia pun menurut.dengan cepat Mira membuatkan susu untuk cucunya itu.dan untung nenek Billa itu masih ingat takarannya.


"Otol,otol.botol.salah dikit berabe itu." ujar Gio yang langsung mendapat cubitan dari Ayana di pinggangnya.dan ayah dari anaknya itu hanya cengengesan tanpa dosa.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


"Yang,istigfar atuh.sakit perut kamu nanti." omel Gio sembari mengambil sedikit sambal yang sudah berada dalam piring Ayana.


"Lagi pengen,di rumah jarang makan cabe. aku kadang masak pake lada doang." ucap Ayana seraya mengaduk kuah cuko yang terlihat begitu segar itu.


"Kok di sini makanya enak-enak ya,beda sama yang di tempat kita.hambar semua." lanjut Ayana.


"Ngalihin pembicaraan rupanya." ujar Gio yang langsung membuat Ayana terkekeh.


"Sesekali atuh,ayah.gak tiap hari ini." ucapnya membela diri.Gio tak menangapi lagi hanya mengangguk terserah saja. mereka menyantap empek-empek yang begitu segar dan enak itu.tiba-tiba kursi di sebelah mereka terdengar ada yang menarik dan seseorang mendudukan dirinya di sana.Ayana melirik kesamping dan ia terkejut dengan siapa yang di lihatnya.mata Ayana dan Amanda beradu pandang keduanya untuk sesaat saling tatap sebelum Amanda memutus lebih dulu dan itu membuat Ayana meradang.


"Dih,sombong amat,mbak." batin Ayana sembari menyuapkan potongan empek-empek dengan ukuran besar ke mulutnya.


Ayana tetap mengunyah dengan gerakan kasar dan itu membuat Gio merasa heran. suami Ayana itu melirik kesamping dan ia terkejut melihat keberadaan Amanda di sana.Gio menjadi serba salah,mau menyapa tapi takut Ayana marah,tidak menyapa dirinya tidak ingin di cap sombong.namun demi kenyamanan sang istri ia memilih memutus pandang,dan kembali fokus pada makanannya.


"mm,cukonya seger ya." ucap Gio memecah keheningan.masalahnya Ayana seperti sedang menelanjanginya dengan tatapan maut.


"Iya,kaya aku ya seger." balas Ayana dengan senyum manisnya.kemudian mereka mengobrol ringan sambil sesekali saling melempar tawa dan candaan.


Cukup lama Amanda memperhatikan keduanya di sana.hatinya saat ini merasa terbakar api cemburu.bagaimana bisa saat ini Gio seperti tidak mengenalinya.padahal sudah jelas lelaki itu tadi melihatnya.tapi mengapa untuk menyapa pun tidak.


"Bungkus dua ya,kang." ujar Amanda kepada penjual empek-empek itu.


Ayana dan Gio menoleh namun hanya sebentar.setelah itu keduanya membayar dan langsung pergi dengan langkah pelan Gio dan Ayana ingin menikmati malam ini dengan berduaan seperti ini." Mantan kamu makin cantik ya." ujar Ayana membuat Gio seketika menoleh.


"Biasa aja"


"Masa?padahal jelas cantik dan makin bahenol."


"Iya kali,aku gak merhatiin."

__ADS_1


"Alah.kok tadi terkejut pas lihat dia,pasti karena dia cantik banget sekarang,iya kan?." desak Ayana.


"Keget aja dia ada di sana.bukan karena dia cantik.cantikan juga ibu aku." jawab Gio.


"Bohong_"


"Gi,ini titip buat ibu sama ka Indri." tiba-tiba suara Amanda memotong ucapan Ayana. membuat keduanya menoleh ke belakang. terlihat Amanda menyerahkan kantung pelastik kepada Gio.


"Untuk siapa,mbak?" tanya Ayana dengan pandangan tajam.


"Untuk ibu dan ka Indri,mereka doyan empek-empek." jawab Amanda dingin. matanya tak sedikit pun menatap istri Gio itu.


"Oh begitu,padahal saya sendiri udah lebih dari mampu buat beliin ibu dan kaka saya. mbak.hanya aja tadi mereka gak mau katanya.soalnya baru pada makan lapis surabaya yang saya bawain dari rumah jadi ibu bidan gak perlu repot-repot lah." ujar Ayana dengan tegas.sebelum Amanda membuka suaranya Ayana lebih dulu meminta kantung pelastik yang berada di tangan Amanda itu." Sini deh,gapapa rejeki jangan di tolak.


"Ayana meraih kentung pelastik berwarna putih itu.dan Amanda pun memberikannya dengan tidak ikhlas ." Makasih ya,bu bidan empek-empeknya saya terima.semoga rejekinya lancar terus.lumayan buat ngemil sebelum tidur." ujar Ayana lagi.


"Sama-sama." balas Amanda dingin.ia menatap nanar kantung pelastik itu kemudian tatapannya beralih pada Gio yang tidak bereaksi apa-apa.lelaki itu seolah mulutnya terkunci.jangankan untuk sekedar menyapa.melihat pada Manda saja tidak.


Ayana kemudian berjalan lebih dulu,tanpa mengajak Gio,ia ingin melihat apakah suaminya itu akan bicara dengan mantannya atau malah mengikutinya untuk pulang,dan benar saja dua langkah Ayana melangkahkan kakinya,Gio mengikuti di belakang dan segera menyamai langkahnya." Tunggu,yang.di depan gelap kamu harus hati-hati.kamu keperosok nanti ke tumpukan kotoran kambing." ujar Gio dengan langkah cepat sembari meraih satu tangan sang istri.


"Mataku masih normal kali." balas Ayana sembari terus memainkan ponselnya.ada beberapa pesan dari ibunya yang menanyakan kabar anak-anak.


"Marah?." tanya Gio seraya memberhentikan langkahnya.tangannya masih menggenggam tangan sang istri yang sedang memegang kantung pelastik itu.


"Untuk apa marah?toh dia dan kamu udah gak ada apa-apa ini." jawab Ayana tenang membuat Gio seketika langsung lega ibarat sedang pilek dan langsung mencium balsem.rasanya pasti plong sekali.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


Pagi ini Ayana sengaja tidak ke pabrik,ia memilih menghabiskan harinya bersama dengan mertua dan Kaka iparnya itu. mereka saat ini masak dengan berbagi menu makanan." Gimana dengan rumah barunya,Ka?." tanya Indri saat ini mereka tengah mengaduk adonan bakwan.


"Lumayan sih,ka.tapi kalau boleh jujur kurang suka sama beberapa tetangganya banyak yang kepo sama kami." ujar Ayana dengan jujur.memang ada beberapa tetangga mereka yang masih kepo terhadap kehidupan orang lain.


"Hampir sama kaya di sini dong ya,di sini mah kita napas aja kedengeran ke rumah orang.dan jadi omongan nantinya." balas Indri seraya terkekeh.


"Ndri." tegur Mira kawatir terdengar oleh tetangganya.


"Biarin aja,bu.emang iya kok nyatanya kan gitu." ketus Indri.


Siang harinya saat Ayana tengah menidurkan si kembar.ia mendengar suara pintu yang terbuka dengan sedikit kasar lalu mendengar suara orang masuk ke dalam.Ayana pikir itu adalah Indri yang baru pulang tadi beberapa saat lalu sedang keluar membawa Billa dan Jemia ke mini market.dan mungkin juga mertuanya yang sedang keluar entah kemana.


"Ndri,Indri." suara seorang lelaki mengetuk kamar Indri yang sepertinya tidak terkunci orang itu masuk ke kamar Indri sepertinya." Kemana sih ini orang?." terdengar lagi lelaki itu mengomel.


Ayana bangun dengan pelan ia akan menegur orang itu,karena menganggu anak-anaknya yang sedang tidur dengan nyenyaknya.


"Eh.." Ayana terkejut di depan pintu kamarnya saat ia melihat orang yang tidak ia kenal itu.


"Istri Gio ya?." tanya Bian sembari menyodorkan tangannya.ciri khas wajah dan pandangannya yang menyebalkan itu membuat Ayana tak nyaman.air liur Bian hampir menetes melihat bidadari di depannya itu.seumur hidup dia belum pernah melihat wanita secantik itu." Sialan,istri Gio cantik banget ternyata. pinter juga si bocah sialan itu cari istri bisa secantik ini." batin Bian.lihat saja ia akan mendapatkan istri Gio karena dendamnya pada sang adik ipar belum terbalaskan.


"Iya,mas Bian kan?." tanya balik Ayana dan berusaha ramah.pria itu mengangguk dengan senyum mengembang." Oh,ini yang namanya Bian?." tanya Ayana dalam hati.karena pria itu tidak terlihat sejak kedatangan Ayana kemarin.katanya sih pergi kerja,dan hingga siang begini baru pulang,kerja apaan pikir Ayana.


"Kamu udah makan belum?yuk makan bareng saya." ajaknya begitu ramah. otaknya sudah berkelana mencari cara bagaimana caranya agar dia bisa meniduri istri adik iparnya itu.


"Oh,saya udah tadi.mas Bian aja duluan ada makanan banyak itu." Ayana masih tersenyum dengan sopan.jika seseorang sopan padanya maka ia pun akan segan.


Bian mengangguk dan langsung menuju meja makan yang letaknya memang tidak jauh dari sana." Wangi banget,ini pasti kamu yang masak ya?." ucapnya pada Ayana.


"Iya,tapi barengan sama ka Indri dan ibu juga." jawab Ayana dan langsung pamit karena anak-anaknya takut kebangun.


Setelah beberapa saat Ayana merasa ada yang memperhatikannya,ia melirik ke samping dan lupa kalau pintu tidak sepenuhnya tertutup.rupanya Bian tengah memperhatikannya dari sofa di ruang tv yang mengarah langsung ke kamar Gio. Ayana di buat tidak nyaman dan serba salah ingin menutup pintu itu namun tentu saja merasa tidak sopan.tapi jika tidak maka lelaki itu akan terus menatapinya seperti sekarang ini.


"Ih,kok serem sih." Ayana pura-pura tidak melihat apapun,ia menunggu Indri dan Mira datang dengan tidak sabaran.

__ADS_1


__ADS_2