Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
Sahabat


__ADS_3

"Ayang tidak ingin yang lain lagi?" ucap Bastian meneteng paper bag belanjaan sang istri.


"Cukup itu saja, Bas," jawab Bee.


Bee hanya belanja keperluan make-up nya saja. Sedangkan barang-barang yang lain masih banyak di rumah nya.


"Kau tak ingin beli sesuatu?" Bee melirik suaminya.


"Tidak Ayang, aku 'kan menemani mu saja," jawab Bastian.


Para pengawai toko tersenyum mendengar obrolan suami istri itu. Banyak yang menatap iri, betapa cocok nya Bastian dan Bee. Wajah tampan dan cantik seolah sudah tercipta bagi mereka berdua. Apalagi Bee yang cantik tanpa menunjukkan identitas nya yang lebih tua dari Bastian.


"Bentar, Bas. Aku ingin membelikan sesuatu untuk kedua keponakan ku," ucap Bee masuk kedalam salah satu buku yang menjual beberapa buku pelajaran untuk anak-anak sekolah menengah pertama.


"Beli buku?" kening Bastian berkerut.


"Iya. Mereka suka belajar," jawab Bee mengambil beberapa buku.


Setelah membayar belanjaan nya, kedua orang itu berjalan keluar dari mall.


"Tidak berat?"


"Sama sekali tdiak, Ayang. Kau harus tahu bahwa aku ini lelaki kuat. Apalagi kalau diatas ranjang," bisik Bastian.


Bee menarik kulit perut suaminya dengan gemes. Kalau sudah berbicara mesum, suaminya ini cepat sekali tanggap nya. Tetapi kalau disuruh belajar, Bastian seperti orang bodoh yang tak paham-paham.


"Aww, Ayang," ringgis Bastian.


"Makanya kalau bicara itu jangan suka mesum," omel Bee.


"Ya 'kan memang benar Ayang," jawab Bastian menjerit sakit. Kuat sekali tenaga istrinya itu. Apa dulu Bee pernah ikut latihan silat.


Bastian membuka pintu mobil untuk Bee, tak lupa tangannya melindungi kepala istrinya itu takut jika tersandung di kap mobil. Jujur saja hati Bee tersentuh. Sudah lama dia kehilangan perhatian yang diam-diam dia rindukan tersebut. Bastian memang muda, tetapi lelaki itu tahu cara menghargai wanita.


"Biar aku yang pasang, Ayang," ucap Bastian memasang sabuk pengaman di tubuh sang istri.

__ADS_1


Bee mengangguk. Sejauh ini Bee rasa Bastian tidak seburuk yang dia kira. Lelaki ini memperlakukan nya dengan baik dan menghormati nya sebagai seorang wanita. Bahkan Bastian tak menuntut meski belum diberikan hak nya sebagai seorang suami. Bukan Bee tak mau melayani Bastian, tetapi dia ingin memastikan hatinya dan Bastian. Apakah mereka sudah saling menerima dan mencintai? Sebab jika Bee menyerahkan seluruh miliknya pada Bastian, artinya dia tidak akan bisa lepas atau melepaskan lelaki tersebut. Bee tak ingin salah langkah dan salah pilih. Dia tak mau menyesal di kemudian hari.


"Ayo Ayang," ajak Bastian.


"Bas, apa kau tidak risih dengan nama panggilan itu?" tanya Bee.


"Tidaklah, Ayang. Itu 'kan nama panggilan kesayangan aku," jawab Bastian menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.


Jujur Bee risih, tetapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin dia meminta Bastian memanggil nya tante, seperti di awal pernikahan mereka.


Hingga mata Bee tak sengaja menangkap bayangan seorang perempuan yang berjalan menarik koper nya di trotoar jalan. Tentu dia kenal perempuan tersebut.


"Bas, berhenti!" titah Bee.


"Ada apa, Ayang?" tanya Bastian dan menepikan mobilnya.


"Tunggu sebentar."


Bee melepaskan sabuk pengaman nya dan keluar dari mobil.


Rara yang berjalan menunduk sontak mengangkat pandangan nya. Seperti nya Rara mengenal suara tersebut.


"Bee."


Rara berhambur memeluk Bee sambil menangis. Dia takut pulang kerumah, sudah pasti kedua orang tua nya akan marah jika tahu dirinya diusir dari rumah.


Bastian ikut turun dari mobil. Pria muda itu khawatir melihat istrinya yang tiba-tiba keluar dan setengah berlari.


.


.


"Minumlah," ucap Bee meletakkan segelas air putih diatas meja.


Rara mengambil gelas tersebut lalu menunggak isinya hingga tandas. Kebanyakkan menangis membuat tenggorakan nya kering.

__ADS_1


"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Bee mengusap lengan sahabat nya tersebut.


Rara adalah sahabat Bee setelah Willy. Bee tak memiliki banyak teman, dia memang tidak suka berinteraksi dengan banyak orang. Tetapi dalam persahabatan Bee adalah orang yang paling peduli dan peka.


"Hiks hiks, Bee."


Tangis Rara kembali pecah. Dia masih mengingat perlakuan keluarga suaminya yang menatap dirinya tak berharga sama sekali.


Bastian hanya mendengarkan percakapan antara sang istri dengan sahabat nya. Bastian ingin melihat bagaimana cara Bee menyelesaikan masalah, apakah istrinya itu tetap akan tenang seperti yang dia lihat selama ini. Atau emosi Bee akan membuncah.


"Dino menceraikan aku," jelas Rara.


Bee sama sekali tak terkejut. Wanita itu biasa saja, sebab dia memang sudah tahu seperti apa kehidupan rumah tangga Rara belakangan ini.


Sebenarnya Bee sudah lama meminta Rara menceraikan suaminya. Tetapi wanita itu menolak karena dia masih berharap jika Dino bisa berubah. Sudah Bee katakan berulang kali, semua kesalahan termaafkan kecuali perselingkuhan. Orang-orang yang berselingkuh adalah mereka yang sadar bahwa perbuatan nya itu kelak akan mengundang kontroversi. Selingkuh bukan sesuatu yang terjadi spontan jika tak ada keinginan dan rencana sebelum nya.


"Lalu?" kening Bee berkerut heran.


"Aku mencintai Dino, Bee. Aku tidak bisa berpisah dengan nya. Aku.. aku tidak mau kehilangan nya," ucap Rara jujur, sebab pertemuan nya dengan Dino mampu mengobati luka di hati Rara karena masa lalu nya.


"Apa dia mencintai mu?" tanya Bee lagi tetap tenang. Seolah tak ada emosi dari wajah wanita tersebut.


"Aku tidak tahu, Bee. Tidak masalah dia tidak mencintai ku. Tetapi aku sungguh mencintai nya," jelas Rara yang masih menangis segugukan.


"Kau ingin bertahan hanya karena kau mencintainya. Sementara dia tidak mencintaimu. Apa kau akan bahagia, Ra?" tanya Bee sekali lagi. Wanita itu tidak seperti orang lain yang akan memeluk sahabatnya saat menangis. Bee malah terkesan tak peduli, tetapi dia memang begitu.


Rara terdiam, dia juga bingung mau menjawab apa. Sebab, bagi nya mencintai memang sakit walau kemungkinan orang yang di cintai itulah yang akan menyebabkan salah satu luka di hati.


"Kenapa diam saja, Ra?" tanya Bee. "Apa sekarang kau bingung dengan pertanyaan ku?" sambung Bee.


"Aku mencintainya Bee. Itu saja. Kalau dia tidak mencintai ku, bukan masalah. Apakah aku bahagia hidup bersamanya? Mungkin aku akan bahagia selama dia ada," jawab Rara menyeka air matanya.


"Kemungkinan nya berapa persen kau akan bahagia, Ra?" Bee tersenyum sinis seraya menggelengkan kepalanya.


Para wanita kadang rela melakukan apa saja demi mempertahankan lelaki yang dia cintai. Padahal kenyataannya, cinta tidak ada yang benar-benar bisa berjuang sendiri jika salah satu nya merasa dirinya tidak pantas berjuang. Banyak wanita yang mau saja kehilangan kebahagiaan nya demi lelaki yang sama sekali tak menghargai nya. Padahal tanpa lelaki tersebut, seorang wanita juga bisa bahagia dan memiliki kesempatan untuk mengenal laki-laki yang lebih baik.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2