
Kedua pasangan alot itu turun ke bawah menghampiri beberapa keluarga yang sedang bercengkrama membahas usaha yang baru di buka oleh Frans dan Monica.mertua Gio itu resmi membuka usaha cuci mobil atau yang bisa kita ketahui doorsmer atau carwash. mereka membahas tentang customer yang langsung meledak sehingga Monica harus menambah beberapa karyawan lagi.karena yang ada sudah kewalahan akibat banyaknya pelanggan yang datang.
Ayana mengajak Gio duduk di sampingnya dan lelaki itu hanya menurut saja.tatapan penuh arti dari beberapa saudara Monica itu membuat Gio tak nyaman.belum lagi godaan-godaan yang terus di tujukan padanya tak henti di layangkan oleh mereka.
"Makan dulu aja.kelonannya lanjut nanti." ujar Citra dengan senyum menggoda.
Gio hanya tersenyum lain halnya dengan Ayana yang mendekus sambil memanyunkan bibir tipisnya." Gerah tante. boro-boro kelonan siang-siang gini."
"Kan bisa di gedein Acnya,iya nggak,Gi?." sahut Beatrix membuat yang lain terkekeh. lagi-lagi Gio hanya tersenyum saja.
"Udah ah hayuk makan dulu." ajak Monica karena pesanan dari ketring sudah tiba semua mereka tinggal makan saja.
Saat semua orang tengah menyantap makanan Ayana mendekati Monica yang sedang memakan karedok sambil sesekali membukakan premen dan kue untuk Jemia dan adiknya." Mah.Nenek beneran gak datang ya?" tanya Ayana pelan.sejak tadi ia mencari keberadaan sang nenek namun tidak ada. meski Ayana sudah tahu bahwa Melani memang sudah pernah bicara padanya kalau ia tidak akan datang atau main kesana jika Ayana dan Gio kembali rujuk.
"Nggak.kake doang itu.nenek tadi pagi nolak katanya ada urusan padahal kata kakemu beliau di rumah aja gak ngapa-ngapain." jelas Monica membuat wajah Ayana jadi murung." Udah lah biarin aja dulu,gapapa nenek masih belum menerima kalian rujuk.nanti lama-lama juga biasa lagi.namanya juga nenek-nenek sensian kaya nggak tau aja."
"Tapi jadi kurang lengkap rasanya Mah."
"Ini juga udah lengkap.cuma kurang satu itu nenek-nenek doang.biarin aja udah." balas Monica membuat Ayana mengangguk lemah. Melani memang belum menerima itulah alasannya ia menolak hadir ke rumah Monica.
"Be,ambil jus jeruk di dapur yang udah di buat bi Narti tadi.Aya pengen katanya tapi ribet sama anaknya aku kagok ini.udah abis tuh suamimu juga belum minum takut nyari nanti." suruh Monica pada Beatrix.tadinya ia akan meminta Artnya.tapi karena mereka sedang makan juga jadi urung tak tega rasanya sementara Beatrix sudah selesai sejak tadi.
"Iya udah Ka."sahut adik bungsu dari Monica itu.langkahnya terhenti karena Althea yang meminta.
"Mama mau ngapain?biar Thea aja Ma. sekalian mau ambil eskrim." pinta Althea yang segera di angguki ibunya dan memberitahunya.wanita muda itu langsung pergi dengan senyum cerah.kesempatan kedua kembali ada setelah tadi pagi ia mencampurkan beberapa serbuk pil berbahaya ke makanan Ayana.namun entah di makan atau tidak oleh wanita itu.tapi tak apa semakin sering Ayana mengkonsumsi maka semakin besar juga efeknya yang berakibat fatal bagi tubuh wanita itu.
"Yang,aku ngecas hape dulu ya." Pamit Gio karena memang ponselnya sudah low sejak tadi.
Althea pergi ke dapur seorang diri karena semua orang sedang berada di samping rumah Monica,ia tersenyum seraya merogoh sesuatu dari sakunya.kemudian tanpa ragu dia mencampurkan barang itu ke dalam jus jeruk yang sudah dia tuangkan ke dalam gelas.hatinya gembira karena sebentar lagi seseorang yang di bencinya dalam diam akan merasakan sengsara setelah ini.sampai kapan pun Althea tidak akan rela melihat kebahagiaan Ayana seperti sekarang ini setelah kembali rujuk dengan Gio.
"Sampe kapan pun gue gak suka sama lo, Ka.kita memang keluarga,tapi tidak dengan hati kita masing-masing." ujarnya sambil mencuci tangannya di wastafel.puas rasanya sebentar lagi atau lambat laun ia akan menyaksikan pewaris tunggal Himawan group itu akan sengsara hidupnya.
Akan menyenangkan rasanya melihat Ayana yang sombong itu akan rapuh secara perlahan.wanita seperti dia harus merasakan betapa menyakitkannya memiliki mental yang sakit dan tubuh yang rusak.Althea tak sabar bagaimana reaksi Ayana setelah obat ini bekerja secara perlahan dan membunuhnya dengan pelan-pelan.
"Apa itu?" Althea yang sedang tersenyum sambil mengelap tangannya itu terpaku seraya meremas tisu yang barusan ia pakai." Bukan gula kan?kamu tau pasti kaka sepupumu itu gak suka jusnya di pakein gula?"
"Oh,itu vanili bubuk semacam pewangi gitu, Gi.gak manis kok cuma enak aja di mulut pas di minum.Ka Aya juga suka kok." Althea berbalik badan dan tersenyum mencoba untuk terlihat santai.
Gio tersenyum dan mengangguk kecil." Oh,ya udah lo cobain udah pas belum rasanya." titahnya dengan santai tapi mampu membuat wanita muda itu menelan ludah.
"Udah tadi." balas Althea cepat dan meyakinkan." Udah mending lo bawa aja sana,kasian Ka Aya udah nunggu kali dari tadi gue mau ke kamar mandi dulu."
"Iya,gue bawa asal lo cobain dulu." tantang Gio dengan santai sambil menyandarkan tubuhnya di kulkas tangannya di lipat di dada." Setegukan aja gak usah banyak."
"Males ah.gue mau makan eskrim." Althea melangkah dari sana namun langkahnya segera di tahan oleh Gio.lelaki itu menjulurkan sebelah kaki panjangnya menghalangi langkah Thea." Apaan sih,Gi?awas."
"Minum dulu itu jus.baru lo boleh pergi." paksa Gio.ia berdiri sambil mendekati Thea. berdiri tepat di depan wanita muda itu matanya menyorot tajam membuat Althea menahan napas." Cobain sekarang di sini, atau cobain di depan semua orang,pilih." tekan Gio membuat tenggorokan Thea terasa menyempit.
"Buang aja." ujar wanita itu membuat alis Gio bertaut.
"Apanya?"
"Jusnya."
"Kenapa?"
"Gapapa.lo bener sih Ka Aya gak suka ada campuran apapun ke dalam makanan atau minumannya.gue minta maaf untuk ini tadinya seneng aja ngasih karena setau gue dia suka soalnya." mata Thea bergerak gelisah tak ingin menatap wajah Gio yang tepat berada di depan wajahnya itu.
"Iya dia ga suka termasuk campuran racun atau apa pun itu yang bisa mencelakakan dirinya." ujar Gio dengan suara pelan namun mampu membuat Thea sedikit ketakutan." Istri gue lagi nyusuin.harusnya lo tau betapa bahayanya untuk mereka.kalau lo masukin yang aneh-aneh." wajah Gio berubah mengeras emosinya mulai naik melihat Thea yang santai begitu padahal ia bersalah.
"Sekarang minum.biar gue tau yang lo campurin ke minuman itu bahaya atau nggak." paksa Gio membuat Thea panik.
"Gi.." Thea ketakutan keringat mulai merembes betapa paniknya dia di minta meminum jus dengan campuran pil *** yang sangat berbahaya itu.otaknya mulai mencari cara bagaimana agar bisa lolos dari tekanan Gio yang menyeramkan ini.
"Minum,atau gue yang minumin?" tangan Gio terulur hendak mengambil gelas jus yang sudah berada di nampan itu.tapi segera di cegah oleh Thea.
"Buang aja." Althea menyambar gelas itu lalu membuang isinya ke dalam westafel.
Sudut bibir Gio terangkat menatap wanita yang umurnya lebih muda dua tahun darinya itu." Gimana kalau Aya tau sepupu kesayangannya malah mau nyelakain dia?" tanya Gio membuat Althea semakin panik." Juga seluruh keluarga,kira-kira gimana reaksi mereka ya?." ucapnya lagi membuat Thea semakin marah.
"Ck." Gio berdecak sambil melihat Althea dari atas hingga bawah." Istri gue terlalu sempurna sih ya?dan dalam hal apa pun dia selalu beruntung.pantes sih lo iri sampe segininya.padahal lo juga cakep sih.tapi sayang hati lo busuk."
"Lo jangan kurang ajar ya." napas Thea memburu tanganya terangkat hendak menampar Gio namun keburu di tangkap oleh Gio dan pergelangan tangannya di remas oleh pria itu.
"Seru kayanya kalau mereka tau kelakuan lo begini,Thea." Gio terkekeh setelahnya wajahnya berganti datar dan mengeras membuat Thea ketakutan." Katakan,apa salah Ayana sampe lo mau nyelakain dia?." tekan Gio dengan tangannya yang nencengkram keras pergelangan tangan Thea sepertinya tangan Thea akan memerah setelah ini.
"Lo mau tau?" tantang Althea dengan wajah pongah." Banyak,banyak sekali sampe gue gak bisa nyebutin satu persatu.Ayana yang dulu sebelum lo kenal.dia wanita iblis yang menjelma menjadi putri satu-satunya keluarga Frans.dia itu pembawa sial kehadirannya banyak membawa petaka bagi orang-orang.gue benci dia hingga ke tulang."
__ADS_1
"Memang susah sih ya,kalau penyakit iri hati di pelihara mah." selanjutnya Gio melepaskan Thea begitu saja membuat perempuan itu mengaduh.Gio tersenyum pada Bi Narti yang kebetulan lewat.
"Lo gak usah bertingkah ya." Thea menunjuk wajah Gio dengan telunjuknya." Lo itu bukan siapa-siapa di sini.jadi gak usah sok berani mau ngaduin gue segala.Cih." Althea mendecih kemudian menatap sinis pada Gio." Masih sukur kembali di pungut oleh Ayana. mau sok-sokan lo.sana balik lagi ke tempat sampah mending."
"Panik ya?" ejek Gio dengan senyum penuh arti sambil berlalu dari sana.
"Anjing." maki Thea dengan wajah penuh emosi.napasnya memburu ingin sekali membunuh Gio saat ini juga jika ia bisa.ia terkejut melihat Gio bicara dengan Bi Narti tak jauh dari sana.dia mulai ketar ketir jangan sampe nenek tua itu mendengarnya tadi.
...☘☘☘☘☘☘...
Pagi ini Ayana sibuk meminta para art untuk merapikan rumah.ia juga mulai mendekor rumah dengan berbagi bunga kesukaannya. hingga rumah Monica saat ini menjadi ramai sekali bak toko bunga saja.semua art terheran-heran namun mereka hanya bisa menurut saja apa yang di perintahkan oleh bos mereka itu.
"Semua di tata di sini ya,Mbak." suruh Ayana meminta salah satu art untuk menata kue basah dan aneka camilan di sana.
"Mau ada acara apa emang Non?" kepo Bi Narti yang baru saja meletakan ikan bakar ke dalam nampan lalu menutupnya.
"Mau ngundang temen-temen,Bi.temennya Gio juga.udah lama gak makan ramean. mungpung Giselle lagi di indo." sahut Ayana sembari sibuk mencolekan irisan timun ke dalam sambel tomat yang merah merekah itu.beberapa jenis daun selada hijau yang segar tak terlewatkan ia mengunyah dengan rakus.
"Owalah.mau ada mereka toh,udah lama bibi gak lihat non Giselle.Non." balas bi Narti senang.
"Iya makanya Bi.hari ini saya sengaja ngundang mereka." ujar Ayana masih sibuk dengan sambel dan lalaban di depannya itu.
"Embekkk." sontak mereka menoleh ke arah pintu terlihat Gio tertawa di sana." Ada kambing cantik banget Bi." ujarnya membuat Bi Narti dan beberapa pelayan tertawa di sana.namun ada juga yang salting.
"Ishh." rajuk Ayana membuat Gio mengusap kepalanya dan menciumnya sekilas.
"Gapapa sayang.bagus kok makan sayur,biar sehat." ujarnya kemudian ikut mencomot irisan timun dan memakannya dengan sambal.
Pukul sebelas siang teman-teman Ayana juga Gio hadir di sana.sudah hampir semua hanya Rehan dan Aneska dan Cindy yang belum sampai.bagi yang sudah hadir sambil mereka menunggu menikmati sajian berbagi makanan yang telah di sediakan.
"Lo makin cantik aja deh,heran gue." ujar Cindy yang kebetulan baru sampai itu menjawil pipi Giselle yang tembem.lanjut cepika cepiki dengan semuanya begitu sampai pada Gio ia menepuk bahu Gio." Ini lagi brondong gue.makin hot aja deh Gio ini. langsung nyut-nyutan gue." ucapnya yang di susul kekehan oleh para temannya.
Gio hanya tertawa menanggapi." Makasih udah datang,Ka."
"Lah emang gue mau datang kok,Gi.mau ngeliat lo makanya gue kudu datang.kangen lo banget soalnya." balas Cindy membuat tawa yang ada di sana makin kenceng.namun Ayana langsung cembetut.Gio hanya meringis melihat istrinya yang mendelik padanya itu.
"Ini lagi emak-emak anak empat masih kenceng aja." komentarnya pada Ayana yang kebetulan langsung merangkulnya.
"Jelas dong.masa iya kalah sama anak gadis." sahut Ayana congak.
"Sialan lo macan.untung cantik jadi gue terima-terima aja.lah kalau lo jelek abis lo." balas Cindy.
Sementara tidak jauh dari rumah Monica. Rehan dan Aneska tengah berdebat sambil rempong dengan anak mereka yang aktifnya kebangetan." Kamu duluan aja sama Renesa ya.nanti sekitar lima menitan aku nyusul ke sana pake gojek." titah Rehan sambil mencium pipi anaknya.
"Ish.lo ini gimana sih?nanti gue kerepotan dong bawa segala macam keperluannya Nesa.pempes,susu dan lain-lain.ribet banget." gerutu Aneska kesal.bagaimana bisa ia pergi dengan segala barang bawaan ini.belum lagi anaknya yang aktifnya luar biasa batreinya tak habis-habis.bisa gempor dirinya.
"Sayang.kamu kan bawa mobil.ya biarin aja barangnya taruh mobil aja.nanti kalau perlu baru di ambil.lagian tibang pempes doang mah minta aja ke anak Gio." bujuk Rehan dengan lembut." Kalau kita datang bersama nanti mereka kaget dong?bukannya kita udah sepakat dari rumah juga,beb?." tanya Rehan membuat Aneska mengangguk pada akhirnya.
"Ya udah.tapi Papi bantu jagain Nesa di sana ya?Mami kan sibuk dong ngobrol sama temen." ujar Aneska membuat Rehan tersenyum lalu mencium pipinya.
"Beres,sayang." katanya.kemudian mereka berpisah setelah Rehan turun dari mobil.
Kedatangan Aneska di sambut oleh mereka dengan hangat dan penuh tanda tanya. bagaimana bisa seorang Aneska yang super anti anak kecil itu datang dengan seorang anak kecil di gendongannya.beberapa waktu lalu memang ia sempat membuat grup wa gempar dan ramai oleh pengakuan Aneska yang membuat seluruh anggotanya syok.
Kala itu Aneska mengaku sudah memiliki anak dan telah menikah diam-diam dengan pria bule.namun hubungannya dengan sang suami kurang akur.hingga mereka tinggal berjauhan.pantas saja wanita itu menolak bertemu dengan teman-temannya hampir setahun lamanya.
"Hay." sapa Cindy pada anak yang ada di gendongan Aneska itu.Renesa memalingkan wajahnya dan bergerak gelisah ia tak suka orang asing." Nes ini anak lo beneran?" tanyanya tak percaya.
"Iyalah dodol." jawab Aneska sambil mengusap punggung anaknya menenangkan karena Renesa terlihat tak nyaman.
"Gue sih percaya.soalnya dari segalanya kaya sebelas duabelas sama emaknya." ucap Giselle yang di hadiahi delikan oleh Aneska membuat tawa yang lain meledak.
"Iya mirip banget ya,liat aja kelakuannya." timpal Ayana saat melihat Renesa langsung ingin melompat dari gendongan ibunya menuju tempat mainan.padahal berjalan saja ia belum lancar.
"Iya gak tau malu anjir.sama kaya emaknya." ujar Jullian sambil tertawa-tawa.
"Anes mainnya sama kaka Jem ya.tuh ada temen juga kaka kembar." suruh Aneska pada putrinya itu.anak kecil itu tak peduli dan hanya memerhatikan sekeliling sambil memegangi beberapa mainan milik anak Gio. setelahnya ia di bawa oleh suster Titi menuju tempat mainan yang lebih banyak lagi.tapi ajaibnya ia segera mengesot kembali pada ibunya sambil membawa beberapa mainan. meski masih ngesot tapi ia begitu lincah dan aktif.bayangkan jika dia sudah lancar jalan.
"Tapi anak lo cakep,Nes.kaya siapa ya.gue tuh kaya pernah lihat gitu.dan mukanya kaya gak asing.." ujar Ayana setelah beberapa saat memerhatikan anak sahabatnya itu." Sayang, mirip siapa sih ya?" tanyanya pada Gio yang juga sedang memerhatikan Renesa.
"Nggak tau.aku juga kaya pernah lihat mukanya.tapi gak tau." jawab Gio.padahal di hatinya tertuju pada satu orang.meski ia sendiri pun tak yakin.
"Ya mirip gue lah,cakep.gimana sih kalian ini?muka anak gue itu jarang ada yang punya ya. jadi dia gak mirip siapa-siapa." Aneska tak terima anaknya di bilang mirip entah dengan siapa.sebetulnya ia sendiri sudah degdegan takut mereka bisa menebak.masalahnya wajah Renesa ini jiplakan Rehan sekali.
"Ah,masa iya mirip Rehan sih?." batin Gio masih menyangkal.
Tak lama suara Rehan terdengar mengucapkan salam.begitupun dengan yang sudah berada di sana mereka menyambutnya dengan ramah.
__ADS_1
"Maaf telat." cengir Rehan sambil menyalami satu persatu yang ada di sana.
"Udah gak aneh." balas Andre membuat pria itu tertawa.
"Yuk di makan dulu aja.biarin anak-anak mah main di temani suster." ajak Ayana dan Gio. kemudian semuanya mulai makan menikmati apa saja yang di sajikan oleh tuan rumah itu.
"Bunda.boya Indi di abil itu." anak Ayana tiba-tiba menangis dan menghampiri sang ibu.
Gio yang tengah makan itu berhenti dan langsung cuci tangan." Kenapa sayang?" katanya sambil mendekati anaknya.
"Boya Indi.ayah." rengek Vindi sambil menunjuk anak Aneska yang sedang merebut semua bola milik si kembar.
"Oh bola?biarin aja di pinjam temannya dulu ya.nanti di balikin kok." Gio menenangkan namun anaknya itu tetap menangis.
"Wah anak lo pengacau Nes." ujar Cindy." Padahal baru netes.tapi udah keliatan jiwa-jiwa perebutnya."
"Iya loh heran gue,dia tuh sukanya ngerebut punya orang padahal di rumah ada banyak. tapi maunya punya orang aja." ucap Aneska heran akan perilaku Renesa yang beda baginya.
"Nurun dari lo kali Nes.siapa tau semasa hidup lo suka ngerebut punya orang." balas Cindy membuat Ayana dan Giselle terkikik.
"Kapan lo lihat gue kek gitu?" kesal Aneska.
"Ya mana gue tau.sekarang aja lo punya anak di sembunyikan dari kami.tau-tau anak lo udah gede aja." Aneska mendelik mendengarkan ucapan Cindy yang di setuju yang lain itu.
"Pap_piii." semua orang menoleh pada Nesa yang memanggil Rehan dengan sebutan Papi. anak itu menghampiri Rehan dengan riang seperti sudah mengenal.
Rehan langsung berdehem saat mata semua orang tertuju padanya." Hay." sapanya pada Nesa pura-pura tak kenal.
"Ppi,auhh." ujar anak kecil itu sambil menunjukan tangannya yang tadi hampir di gigit oleh Vindi.tak segan anak itu melompat pada Rehan dan langsung memeluki leher pria itu.telihat seperti sudah terbiasa dan tak segan padahal Renesa tak ingin di sentuh dan menghindari yang lain.
"Eh." cengir Rehan sambil melirik Aneska yang pura-pura makan tak ingin menatap keduanya.tubuh wanita itu sudah panas dingin melihat tatapan-tatapan kecurigaan temannya itu.
"Kok mau ya sama lo,Han?" tanya Andre herman.pasalnya tadi pada saat Jullian sempat ingin menggendong Nesa namun di tolak anak itu.begitu pun dengan Cindy dan Giselle yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Renesa.Andre kan jadi heran mengapa begitu melihat Rehan anak kecil itu langsung mau.sudah gitu wajah mereka mirip lagi.bagaimna Andre tak herman coba.
"Gak tau gue juga." Rehan masih mencoba pura-pura tidak mengenal anak ini." Ke mamamu sana,Dek." ujarnya kemudian pada Nesa.namun Renesa malah tambah menemplok padanya.
"Lah di lihat-lihat kalian mirip ya?" celetuk Giselle membuat semua orang kembali memerhatikan Rehan dan Renesa.
"Iya,ya." sahut Ayana keheranan.
"Kok mukanya bisa lu banget gitu,Han." timpal Andre rada curiga.
"Ka,ini si dedeknya." ujar Rehan mengalihkan agar orang-orang ini agar berhenti menyamakan wajahnya dengan sang anak.
"Iya sini Anesnya.sama Mami." ajak Aneska namun di tolak oleh Nesa.
"Au,papi." tolak Renesa sambil mengeratkan pelukannya di leher Rehan.Rehan kembali menyengir namun ketegangan tubuhnya tak mampu di sembunyikan.
"Noh cariin bapaknya Nes.anak lo pengen bapak itu." ujar Ayana membuat Aneska mendekus.
"Gio aja boleh gak,Ay?" ujarnya sengaja.
"Anaknya udah kebanyakan." sahut Ayana membuat yang lain tertawa." Di tambah lagi anak lo mah bisa pecah kepalanya."
Giselle memperhatikan anak Aneska yang terlihat agak berbeda di pengamatannya.ia sedikit tau tentang anak kecil karena Giselle mengambil kuliah psikolog anak.baginya anak Aneska ini agak berbeda dari anak-anak Gio dan Ayana.bukan maksud membandingkan tapi itulah perbedaannya anak normal dengan anak yang seperti anak Aneska ini.
"Nes.jarang di ajak keluar ya?" tanyanya pada Aneska." Kayanya gue lihat dia jarang di ajak main nih.sesekali coba ajak main sama anak seumurannya."
Tak di sangka Rehan dan Aneska mengangguk bebarengan." Iya,tuh maminya jarang ngajak main.di kereum aja di dalam ya beku dia.jarang bersosialisasi dengan orang-orang." ujar Rehan membuat semua orang kompak menatap padanya dengan heran.
"Kok lo tau?," ujar Gio dan Andre bersamaan.
Rehan langsung gelagapan apa lagi saat melihat wajah Aneska yang sempat melotot padanya namun hanya sebentar." Ya, ya_gue...gue nebak aja sih.pasti si dedeknya ini di kurung terus.soalnya dia takut sama orang.dan dia pasti pilih-pilih nih maunya sama siapa.iya nggak Ka?" ujar Rehan yang sudah panas dingin itu.
"Iya.lo bener.emang anak gue begitu jarang di ajak keluar dan pilih-pilih kalau mau sama orang." sahut Aneska di sertai senyum tipis mereka hanya berohria saja.meski sebetulnya agak janggal sih.
Suasana kembali seperti semula mereka membahas segala hal.anak Aneska juga sudah anteng kembali dan mau bermain dengan anak Ayana membuat sang ibu lega dan bisa bersantai selonjoran sambil tak henti ngemil.Rehan juga bisa merokok bersama para lelaki membuat keadaan lebih santai dan tenang.
Namun ternyata hanya beberapa saat saja. setelahnya Renesa menangis dan mengesot menghampiri Aneska sambil merengek." Kenapa sayang?" tanya Aneska sambil menggendongnya.
"Cucu pi." pintanya pada Rehan membuat Gio,Jullian,dan Ayana juga Andre kompak menatap Rehan.kebetulan di sana hanya ada mereka berenam.karena Cindy dan Giselle ke kamar mandi.entahlah kalau mereka di sana. pasti keadaan jadi heboh." Au cucu." rengeknya lagi.
Rehan yang terlalu syok itu menantap Aneska namun sialnya perempuan itu belum sadar sepertinya dan malah menambah keterkejutan mereka." Pi,ambil susunya di mobil.biar mami ambil air panasnya.cepetan." ujarnya pada Rehan.
Kontan saja mereka menganga tak percaya. memandangi keduanya bergantian bahkan Ayana sampai meletakan kembali gelas kosong yang sudah di angkatnya itu hendak di taruh ke dapur.
__ADS_1
Rehan memejamkan matanya sesaat.ia menatap pada mereka." Nanti gue jelasin." ucapnya pada Gio.dan saking syoknya Gio hanya mengangguk saja dengan mulut terbuka.