
"Kau tidak apa-apa?" tanya lelaki itu pada Bee.
"Saya tidak apa-apa," jawab Bee singkat padat dan jelas. Wanita itu memperbaiki baju nya yang setengah bergeser.
"Oh perkenalkan saya Gilang, manager keuangan," ucap nya mengulurkan tangan kearah Bee.
"Bee," jawab wanita tersebut tanpa menyebut uluran tangan Gilang.
"Hei, perkenalkan Willy. Kami bertiga staf keuangan," sambung Willy menyambut uluran tangan Gilang.
"Oh iya, saya Gilang," sahut Gilang kikuk ketika melihat wajah Bee. Namun lelaki itu malah tersenyum ketika Bee menolak nya .
"Rara, Tuan," ucap Rara juga memperkenalkan diri.
"Kalian mau ikut meeting?" ujar Gilang.
"Iya Tuan," jawab Rara dan Willy bersamaan.
"Ya sudah sama-sama saja, bagaimana?" tawar Gilang.
"Ayo Tuan," sahut Rara
Rara menggandeng tangan Bee yang menampilkan wajah dinginnya. Mereka berempat berjalan memasuki ruangan meeting. Gilang diam-diam melirik Bee, lalu tersenyum tipis sangat tipis sehingga tidak ada yang menyadari senyum lelaki berwajah tampan tersebut.
Disana para direksi dan pimpinan perusahaan sudah berkumpul termasuk Bastian dan Eric sebagai pimpinan tertinggi perusahaan.
"Silahkan Nona Bee," ucap Gilang lembut sambil menarik kursi untuk wanita itu agar duduk disampingnya.
Kening Bee mengerut heran saat Gilang begitu perhatian padanya. Tetapi dia sama sekali tidak peduli.
"Terima kasih," ucap Bee dingin.
Tanpa sadar sedari tadi tatapan Bastian tertuju pada Bee dan Gilang. Tangan lelaki itu mengepal kuat. Dia tidak suka ada yang memberi perhatian pada istrinya.
"Bas, kau kenapa?" tanya Eric setengah berbisik.
Bastian tetap diam wajah nya merah padam dan rahangnya mengeras. Lelaki mana yang tidak akan kesal saat melihat istrinya didekati oleh pria lain.
Eric mengikuti arah pandang anaknya. Lelaki paruh baya itu menghela nafas panjang, pasti Bastian sedang cemburu melihat Bee didekati oleh Gilang.
"Hem, harus profesional Bas. Kau tidak bisa campurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Nanti dirumah kau bisa bicarakan baik-baik dengan Bee," ucap Eric berbisik ditelinga anaknya.
Bastian langsung tersadar. Dia tidak boleh berulah, Bastian harus kuasai emosi nya sebab sekarang dia bukan lagi bocah yang ingin bermain-main. Dia telah menjadi seorang pemimpin perusahaan besar yang seharusnya bekerja lebih serius demi masa depannya bersama Bee.
__ADS_1
"Selamat siang semua nya. Terima untuk kehadiran para direksi dan seluruh staf untuk pertemuan pertama dengan direktur baru. Mulai hari ini posisi saya akan digantikan oleh anak saya, Bastian," ucap Eric.
Banyak yang berbisik-bisik dan tampak meragukan kemampuan Bastian. Semua karyawan di kantor tahu bahwa Bastian hanya anak sekolah menengah atas yang baru saja lulus ujian.
"Apa dia bisa jadi pemimpin?" bisik yang lainnya.
"Dia terlalu muda menjadi direktur," sambung yang lain.
"Jujur saja, saya meragukan kemampuan nya," timpal yang lain.
Bee mendengar para direksi yang sedang berbisik-bisik tentang suaminya. Wanita itu tetap tenang dengan pena yang mengetuk-ngetuk atas meja. Walau begitu tidak ada yang tahu bahwa dirinya tengah emois. Bastian memang terlalu muda untuk jadi pemimpin tetapi bukan berarti dia tidak bisa. Dia hanya perlu waktu untuk belajar.
"Kenapa? Ada yang keberatan?" tanya Eric menatap para karyawan nya. "Anak saya memang masih muda, tetapi dia memiliki kemampuan menjadi seorang pemimpin," ucap Eric menepuk bahu Bastian.
"Tuan Eric, kenapa tidak Tuan Bara atau Tuan Bryan saja? Kami tidak meragukan kemampuan Tuan Muda Bastian, tetapi kami perlu pemimpin yang memiliki pengalaman," ucap salah satu direksi.
"Iya Tuan," sambung yang lainnya.
"Kenapa? Saya yakin Bastian bisa menjadi pemimpin di perusahaan ini," jawab Eric.
Sementara Bastian menunduk entah kemana jiwa keberanian nya yang dulu. Beginikah rasanya diremehkan?
"Maaf Tuan, seperti nya kami menolak Tuan Muda Bastian menjadi pemimpin," ucap yang lain nya
"Saya juga," ungkap yang lain.
Bastian meremas ujung jasnya. Dada lelaki itu terasa sesak. Andai saja tidak ada orang sudah pasti dia akan menangis.
"Saya tidak menolak. Saya setuju jika Tuan Muda Bastian yang menjadi pemimpin perusahaan ini. Apa salahnya masih menjadi seorang pemimpin jika dia memiliki kemampuan?"
Semua orang menatap kearah Bee yang berbicara duduk tetapi dengan wajah tenang sambil melipat kedua tangannya didada.
Bastian mengangkat pandangannya kearah Bee. Mata lelaki itu berkaca-kaca.
"Bagaimana Anda bisa yakin Nona Bee jika Tuan Muda Bastian bisa menjadi pemimpin?" tanya salah satu direksi.
"Sepenuh hati saya, saya yakin bahwa Tuan Muda Bastian layak menjadi seorang pemimpin," jawab Bee tegas. Dia menatap suaminya kasihan.
"Kalau dia gagal, bagaimana?" tanya yang lain mengintimidasi.
Perusahaan ini memang milik Eric tetapi para direksi memiliki wewenang sepenuhnya masalah kepemimpinan.
"Saya akan pastikan bahwa Tuan Muda Bastian akan berhasil," jawab Bee yakin.
__ADS_1
Semua yang berada di ruangan tersebut, menatap kearah Bee. Apalagi ketika dia mengatakan hal tersebut seperti memiliki emosi yang tinggi seperti sedang membela orang yang dia sayang.
"Terima kasih Nona Bee, saya juga yakin jika Tuan Muda Bastian bisa memimpin perusahaan ini," sambung Gilang berdiri.
"Saya juga," sambung Rara.
"Saya juga yakin, Tuan," ucap Willy ikut menimpali.
Bee tersenyum ketika mendengar banyak yang setuju dengan pendapat nya. Bee akan bantu Bastian membuktikan bahwa suaminya bisa menjadi seorang pemimpin yang baik dan juga tegas.
"Terima kasih untuk kepercayaan nya," ucap Bastian.
Sementara yang lain berbisik-bisik, sebenarnya tidak setuju. Tetapi mereka tak bisa melawan jika Bee yang angkat bicara. Sebab Bee salah satu staf terbaik yang mendapat kepercayaan dari Eric.
Meeting kembali di lanjutkan, semua departemen divisi mempresentasikan nilai perolehan dan keuntungan di bulan ini.
Setelah meeting para direksi dan staf di berikan kesempatan untuk berkenalan dengan direktur baru mereka. Walau banyak yang tidak setuju, tetapi mau tak mau mereka harus mengikuti prosedur kepemimpinan baru.
"Bas, selamat yaa. Daddy yakin, kau bisa menjadi pemimpin yang baik. Semoga sukses," ucap Eric memberikan pelukan hangat pada putranya.
"Terima kasih Dad, aku berjanji akan membuktikan pada mereka, bahwa aku bisa," sahut Bastian.
Saat semua orang tak percaya bahwa dia bisa. Tetapi Bastian bersyukur masih ada sang ayah dan istri tercinta yang selalu memberikan dukungan padanya.
"Bee, tidak kenalan dengan direktur baru?" tanya Willy. "Tadi kau sudah membela nya," sambung Willy.
Rara menahan senyum nya. Dia yakin jika sebenarnya Bee sudah memiliki rasa pada Bastian hanya saja, selalu ditutupi dengan wajah dingin Bee yang tampak tak tersentuh itu.
"Tidak. Aku masih banyak pekerjaan," jawab Bee berjalan keluar dari ruangan.
"Bee, tunggu," panggil Rara dan Willy yang ikutan keluar dari ruangan.
Sementara Gilang menatap punggung Bee dengan senyum. Dia menyukai kepribadian Bee yang tegas dan berani.
Bersambung...
Hai guys....
Please bacanya jangan lompat bab atau nabung bab🙏
Soalnya ini penilaian berdasarkan retensi...
Sekali lagi makasih buat kalian yang sudah ikutin kisah nya Bastian dan Bee. kalau ada saran dan masukkan kalian boleh coret-coret di bawah yaa.
__ADS_1