Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
115


__ADS_3

Pagi ini Ayana sengaja belanja begitu banyak karena sore nanti akan ada Indri dan Billa kerumahnya.dia sudah lama meminta kaka iparnya itu menginap tapi Indri selalu beralasan sibuk dan di nanti-nanti saja,hingga hari ini baru di setujui oleh perempuan beranak satu itu. entah mengapa setelah Ayana dan Gio sempat pisah Indri terlihat menarik diri perempuan itu hampir tidak pernah datang ke rumah Ayana.selalu saja ada alasan setiap kali Gio dan Ayana memintanya untuk datang.tak hanya itu saja Indri juga sangat jarang menghubungi Gio dan Ayana,hanya sesekali mengirim pesan untuk menanyakan kabar keduanya beserta anak-anak.


Tidak sehangat dulu dan seperhatian dulu Indri juga terlihat lebih kalem dari sebelumnya.perubahan sikap iparnya itu menimbulkan banyak tanda tanya di benak Ayana,entah kesalahannya apa.tapi di balik sikap Indri pasti ada alasan dan penyebabnya Ayana tentu tahu itu.


"Gi,menurut kamu selama ini salahnya aku apa ya?kenapa ka Indri kaya yang menjauh dari kita?dia menarik diri dan selalu saja ada alasan kalau aku suruh main atau nginep?" tanya Ayana setelah Gio ikut duduk di sampingnya.sebetulnya masalah ini sudah pernah ia bahas bahkan mungkin sudah ada beberapa kali.tapi Ayana tidak pernah menemukan jawaban di setiap obrolannya dengan Gio,lelaki ini selalu mengatakan tidak tahu akan sikap sang kaka yang tiba-tiba menjaga jarak dengan mereka.tapi Ayana yakin Gio pasti tahu penyebabnya hanya saja suaminya ini mungkin sengaja menutupi agar keduanya sama-sama aman dan tidak ada perselisihan antara mereka." Baru hari ini usahaku berhasil.ka Indri akhirnya mau datang setelah sekian lama aku minta untuk datang.itu pun karena Billa kayanya, aku minta Billa bujuk bundanya supaya mau datang." katanya sambil membetulkan cepolan rambutnya.


"Coba kamu tanya pelan-pelan.kalo sama aku ga pernah mau jawab ka Indri selalu mengalihkan pertanyaan." lanjut Ayana ketika Gio malah sibuk menyulut batang rokok timbang menjawab pertanyaan istrinya.


"Iya,nanti aku tanyain lagi." sahut Gio setelah menghembuskan asap rokok ke udara yang membuat Ayana menarik napas kesal.demi apa dia sangat kesal jika Gio meroko di sampingnya.lelaki itu sekarang sudah menjadi perokok aktif.


"Tapi menurut kamu salahku apa sih?." Ayana memutar badannya menghadap pada Gio." Perasaan aku ga pernah ngomongin ka Indri,apa lagi menjelek-jelekan demi apa pun ga pernah sekali pun." Ayana terheran-heran. seingatnya dia tidak pernah sekalipun mencari perkara dengan kaka iparnya itu.


"Mungkin karena kamu cemburu sama dia pas kita pisah.bisa jadi begitu." ucap Gio santai sambil menghisap nikotin itu dengan nikmat.


Mendengar itu lantas Ayana mengerjap menatap Gio." Maksudnya...ka Indri marah sama aku gara-gara itu?."


Gio mengangguk cepat." Mungkin."


"Ih,jangan mungkin doang.jawab yang bener" Ayana menggeplak lengan atas Gio yang kekar itu.


"Ya coba aja kamu pikir Yang.lagian waktu itu kamu ini aneh sih.cemburuan membabi hutan_"


"Buta" koreski Ayana cepat membuat Gio menjawil pipi kurusnya." Sakit ih."


Gio menatap mata Ayana." Sakitan mana sama pas di perawanin_awss nyeuri atuh ah" Gio meringis sambil menggosok pahanya istrinya mencubit pahanya yang super liat itu.


"Bodo amat.ngomong sama kamu ga ada benarnya." rutuk Ayana sambil bangun lalu meninggalkan Gio yang terkekeh melihat istrinya ngomel.


"Ngomel aja cantik." komentarnya sambil menggelengkan kepala.


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Ayana menaruh apron ke dalam cucian setelah selesai memasak mie ayam rencananya ingin makan di temani sang suami.dia hendak mencari Gio dan akan memintanya di temani makan karena perutnya sudah lumayan lapar.tadi saat Gio makan dia belum lapar sehingga tidak ikut makan dengan lelaki itu." Sayang" tanya Ayana saat melihat siluet Gio yang lewat di luar kaca jendela kamarnya.dia memanggil lagi suaminya tapi sepertinya Gio tak mendengar." Mau kemana itu orang keren banget gitu?" herannya penuh curiga.tak pikir panjang Ayana menyusul Gio dan ternyata lelaki itu tengah memanaskan motor sepertinya hendak keluar.


"Mau kemana?" tanya Ayana penuh curiga.


Gio mendongak dan tersenyum nakal menatap istrinya yang hanya menggenakan daster super tipis hingga pakaian dalamnya kelihatan." Basket,bole ya,Yang?" katanya sekalian ijin rupanya.


Ayana menyelidik pakaian Gio yang tidak terlihat akan pergi basket.celana jeans panjang dan kaus hitam di balut jaket serta sepatu convers yang cocok sekali untuk main.masa iya basket pakaiannya begitu dan kalau pun akan ganti di tempat rasanya gak lucu.masalahnya Gio sering pergi basket dengan pakain rumah tapi tidak sekeren itu juga.


"Mau kemana?" alis Ayana naik ke atas menukik seperti elang yang akan turun ke bawah."Yakin basket?"


Gio mengangguk dengan senyumnya." Hu'um,sayang.bole ya?please bun.aku pengen banget maen biar gak kaku ini otot." katanya penuh permohonan.


"Tanding?" tanya Ayana tanpa mempedulikan permohonan Gio.


"Iya,maaf lupa bilang ke kamu,hehe." Gio mencuci tangannya setelah memasukan kanebo ke dalam tempatnya." Ijinin ya bun?kalau tim ayah menang nanti ayah beliin sepatu yang bunda mau Nike gdragon bukan sih?" tanya Gio sambil merayu.


Ayana mendengus tapi juga tersenyum, sekaya-kayanya perempuan pasti tetap suka kalau mendapat hadiah dari pasangannya.meski dia mampu membelinya sendiri." Ck.padahal aku udah pesen dua pasang.tapi ya gapa kalau kamu mau beliin buat aku." katanya senang.


Gio mendekat dan mengecup dahi istrinya." Bedalah.kalau dari aku pasti sesuatu banget."


"Gombal." Ayana memukul dada Gio yang langsung di kecup pipinya oleh lelaki itu sampe menyon." Malu ih nanti banyak yang lihat." komentarnya saat Gio sudah mengusap-usap bokongnya.biasanya kalau sudah begini nih bahaya.


"Biarin,toh di rumah kita sendiri.gak akan ada yang protes." katanya enteng sekali." Cium yang banyak buat bekel." lanjutnya dan langsung mengecupi seluruh wajah istrinya tak lupa bibirnya pun habis oleh Gio sampai lipstick Ayana pindah ke bibirnya.


"Byee sayang,jangan nungguin ya takut pulangnya macet.bilang ka Indri maaf ga bisa jemput." pamit Gio setelah puas menciumi istrinya.


"Di ciputra kan?" tanya Ayana untuk memastikan saja apakah benar lokasinya di sana.lelaki itu mengangguk membuat Ayana tersenyum.


Pukul empat sore Indri sampai di rumah Ayana bersama Billa.mereka masuk saat Ayana menyambutnya dengan hangat. anak-anak Ayana langsung kumpul menyambut kaka sepupunya itu.mereka bercengkrama di ruang keluarga sambil menonton dan menyantap aneka camilan yang telah di siapkan oleh Ayana.


"Lagi nggak Bill?" Ayana menawari Billa tapi anak remaja itu menolak karena perutnya sudah kenyang.


"Udah Nte.kenyang aku." katanya karena memang sudah kenyang sekali.


"Iya udah,kalau kamu mau apa-apa jangan sungkan ya,di sini juga rumahmu,apa pun yang ada di sini kamu boleh.tanya Jemi atau Vindi ya." ujar Ayana agar ponakannya itu mau berbaur dengan anak-anaknya yang lumayan sedikit sombong itu.


"Iya nte.makasih ya." balas Billa dengan senyum manisnya persis Indri.


"Mau nonton gak,ke kamarku yuk" bisik Jemia pada Billa dan keduanya beranjak dari sana.

__ADS_1


"Teh,aku ikutan dong." teriak Vindi saat Billa dan Jemia sudah berada di ujung tangga.


"Gak mau.kamu gak usah ganggu kita deh Vin." tolak sang kaka langsung.kacau kalau gadis kecil itu ikut nimbrung yang ada malah rusuh di kamar.


"Ya elah pedit.tibang mau nonton doang." sebal Vindi membuat Indri terkekeh." Aku aduin bunda ya.kalau teteh itu suka nonton Edward cullen." ucapnya dengan keras agar Ayana mendengar.Jemia langsung melotot memberi peringatan agar adiknya tidak macam-macam." Bun,teteh melototin aku." adu Vindi membuat Jemia melemparinya dengan kertas orgami berbentuk bunga hasil karya tangan Jeivan.


"Sudah Vin.bunda cubit kamu ya lama-lama gak bisa banget ya sehari aja gak gangguin kakanya?" omel Ayana jengah juga lama-lama.Vindi mendelik tak suka pada kakanya lalu duduk di sofa dan mengganti chanel tivi sesuai seleranya.


"Setiap hari begitu Ka?" tanya Indri sambil tertawa.


Ayana mengangguk kemudian menggelengkan kepalanya." Begitulah, Vindi sehari aja gak buat ulah rasanya kami patut curiga."


"Gak capek kalian?aku kok kayanya nggak sanggup." ujar Indri jujur.masalahnya setelah dia lihat-lihat keponakannya itu tidak ada yang kalem seperti Billa, semuanya gesit-gesit.


Ayana tertawa sambil menyuapkan pai susu ke mulutnya." Kalo di tanya soal kuat gak kuatnya,ya aku jawab gak kuat.tapi ya gimana namanya anak sendiri.mau gak mau sebagai orang tua kami harus menerima dan bersabar di masa-masa ini nih.mudah-mudahan gak akan lama lagi supaya mereka cepet mengerti."


"Bener ka." Indri setuju dengan ucapan adik iparnya itu.lalu dua wanita kesayangan Gio itu banyak mengobrol membahas tumbuh kembang anak masing-masing.walau awalnya Indri terlihat canggung dan sedikit membatasi diri.hari ini sudah sedikit cair meski masih tetap penuh kehati-hatian.entahlah Ayana masih belum tahu apakah kaka iparnya ini menaruh dendam kepadanya atau apa.dia tidak tahu dan seingatnya tidak pernah ada masalah serius dengan kakanya Gio itu.


"Oh iya,ka aku tinggal bentar gapapa ya?aku mau beli keperluan si kembar buat besok sekolah,di nanti-nanti takut lupa. kalo nitip Gio di beliinnya bisa besok lusa." ujar Ayana ijin pamit karena dia harus memastikan sesuatu.


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Sementara itu Gio tengah bersorak dengan temannya karena tim mereka menang kali ini setelah beberapa kali kalah dari lawan. tanding kali ini merupakan hal yang membanggakan bagi Gio karena tim mereka kembali menang setelah tahun-tahun sebelumnya beberapa kali kalah terus.


"Hidup Darexa team." mereka merayakan selebrasi dengan perasaan bangga.Gio tersenyum begitu mereka mengabadikan moment dengan berfoto.matanya tak sengaja melirik perempuan yang sejak tadi memperhatikannya terus.begitu pandangan keduanya bertemu perempuan berambut sebahu itu tersenyum padanya membuat Gio mengerutkan kening.


Setelahnya mereka pada bersiap pulang Gio mengambil tas dan helm dari loker kemudian bersiul seraya menyelempangkan tas eigernya itu. langkahnya terhenti karena suara perempuan yang memanggilnya.Gio menoleh dan menunjuk dirinya sendiri karena takut salah orang.


"Iya kamu." ujar perempuan itu.


Oh rupanya perempuan yang tadi pikir Gio, dia berdiri menunggu perempun itu yang sedang menghampirinya.begitu keduanya berhadapan Gio mengerutkan kening ingin bertanya ada apa perempuan ini memanggilnya.


"Mm,gini.." perempuan bergigi besi itu tersenyum canggung saat akan mengutarakan niat dan maksudnya.


"Kenapa?kamu kenal saya?" tanya Gio langsung sambil menunjuk lagi dirinya.


"Iyalah.emang ada yang nggak kenal kamu?semua juga udah pada tau kalau kamu yang paling menonjol di Darexa." katanya membuat Gio menaikan alisnya.


"Oh ya?setau saya yang menonjol dan terkenal itu bukan saya,tapi Edgar dan Deon." jawabnya jujur sekali atau pura-pura saja agar perempuan ini lebih tertarik pada Edgar.


"Salah Gi,kamu loh." kata perempuan itu kemudian menyodorkan tangannya." Aku Velove,temennya Kanaya,pacar Rafi,kamu tau kan?"


Gio membalas uluran tangan tersebut." Oh, iya." jawabnya singkat seraya melepaskan tangannya dan segera berjalan yang langsung di ikuti perempuan itu.


"Kamu mau pulang kan?bareng dong.aku gak bawa mobil kebetulan tadi ikut Deon."


"Ya udah sana ikut lagi sama dia." ucap Gio cuek sekali.


"Dia udah pulang duluan sama adiknya" jawabnya cepat.


Gio tak peduli terus saja berjalan.dan perempuan itu juga mengikuti terus membuat Gio agak risih." Saya ada urusan, maaf gak bisa anterin." tolaknya kemudian.


"Serius?padahal aku butuh tumpangan, kalau naek greb aku gak berani soalnya pernah hampir di lecehin." wanita itu memasang wajah sedih meminta simpatik dari Gio.


"Sama yang lain aja coba.maaf saya gak bisa mbak.apa lagi naek motor gini terus kamu cuma pake gitu doang,gimana entar?" Gio memandang risih melihat rok span wanita itu yang sangat ketat.ketatnya melibihi protokol kesehatan di wakanda ini.


"Pinjam jaketmu buat nutupin nggaknya, soalnya yang lain sama pasangan masing-masing." ngeyel sekali perempuan begigi besi ini rupanya.


Gio melihat sekitar tempat itu sudah sepi hanya ada beberapa orang di sana.dia bingung ingin meninggalkan tapi tidak tega ingat anak perempuannya tidak ingin mendapat hal serupa kelak nanti." Tapi gak sampe rumah kamu ya?misal kalo udah deket saya turunin kamu abis itu naik ojek atau apa kek." Gio mengalah gapapa lah hitung-hitung bantu orang saja.


Velove tersenyum senang matanya berbinar begitu terang." Makasih ya,kamu baik banget sumpah."


Gio tak menjawab dia segera naik ke atas motor besarnya setelah memasang helm fullfacenya.Velove girang dia menerima helm dari Gio lalu memakainya setelah itu mereka berlalu dari sana."Jangan pegangan.biasa aja.saya gak suka di pegang pegang." cegah Gio saat Velove hendak melingkarkan tangannya ke pinggang kekar Gio.gadis itu mengangguk dengan perasaan tak rela.padahal dia sudah membayangkan akan memeluk Gio sepanjang jalan.


Belum lama keluar dari area sportclub itu Gio merasa ada yang membuntutinya.dia berusaha menoleh dan ada mobil di belakangnya.merasa agak familiar dengan mobilnya tapi tak bisa melihat plat nomor mobil tersebut.dengan cepat dia menjalankan motornya supaya segera sampai di tujuan.dengan sama pula mobil itu mengejarnya dengan kecepatan yang sama.jalanan mulai terlihat lenggang mobil itu hampir menyamai kecepatan motor Gio karena Gio sengaja memelankan laju motornya agar bisa melihat siapa yang ada di mobil itu.


Saat kendaran mereka bersampingan pengendara civic kuning type R itu menurunkan kaca jendelanya.Gio menoleh ke sebelah kirinya itu dan membelalak." Allah,bini gue ternyata." katanya saat Ayana menaikan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya itu.dia tersenyum kepada Gio lalu menurunkan lagi kacamatanya kemudian perempuan itu menambah laju kecepatan mobilnya meninggalkan Gio yang hampir oleng dengan suara mesin mobil mahal yang masih terdengar menggerung di telinga.


Gio menyusul mobil Ayana dengan segera motor besar itu hampir tak menapak di aspal saking kencangnya.dia tak mempedulikan Velove yang menjerit-jerit di belakang karena ketakutkan di antar ke neraka saat ini juga oleh Gio." Pelan-pelan dong.takut banget." teriak Velove bersamaan dengan suara decitan ban dan aspal yang saling bergesekan." Eh kok?." Velove mengerjap heran saat Gio memaksanya turun.


"Naik ojek aja sana." ujar Gio setelahnya menarik tuas gas hingga motor itu seperti terbang.saat sudah melewati belasan kilo meter Gio mengerem mendadak saat melihat mobil Ayana yang terparkir di jalan sepi entah apa maksudnya Gio tak paham, apakah wanita itu tidak takut orang jahat atau apa.

__ADS_1


"Sayang." Gio turun dari motor tanpa membuka helmnya.dia mengetuk pintu jendela yang masih tertutup itu.tapi tak di pedulikan oleh Ayana sampai Gio frustasi sendiri." Yang,Sayang.buka dong pintunya." tak lama Ayana menurunkan kaca jendela tapi wajahnya masih lurus ke depan enggan menoleh pada suaminya.


Gio menundukan tubuh jangkungnya itu agar lebih sejajar." Jangan salah paham dulu,Yang.itu pacar Deon.gak ada tumpangan jadi aku anterin sekalian pulang." jelas Gio tanpa di minta.telapak tangannya sudah basah oleh keringat sungguh takut jika Ayana salah paham.


Ayana menoleh ke samping dengan wajah datarnya." Begini ya kelakuan bapak empat anak?" katanya dengan wajah yang sudah mulai menunjukan kekesalan." Bilang ke istri tanding doang.taunya ada yang lebih penting dari itu." Ayana berdecak selanjutnya membuat Gio tambah dagdigdug.


"Ya allah,aku harus gimana jelasinnya?" ucap Gio.


"Buka helmnya.ngomong sama istri kaya nanya jalan." ketus Ayana yang langsung di turuti oleh Gio.


"Maafin." cicit Gio.


"Nggak." balas Ayana sambil menyalakan mesin mobilnya kemudian menekan pedal gas hingga membuat Gio menyingkir.


"Yang,mau kemana?pulang kan?." tanya Gio seraya berjalan karena Ayana mulai menjalankan mobilnya.


"Seneng-seneng." sahut Ayana sambil menekan pedal gas dan melesat begitu saja dari sana.


Gio bengong di sisi jalan melihat kepergian sang istri yang bagaikan lalat terbang sangat cepat sekali.lelaki itu mendengus kemudian menyusul Ayana dari belakang tapi nihil istrinya itu tak terlihat.setelah beberapa menit lalu Gio memutuskan menelepon orang rumah untuk menanyakan apakah Ayana sudah pulang atau belum.dan sialnya orang rumah mengatakan kalau Ayana tidak pulang.sore itu Gio memutuskan memutari kota jakarta mencari istrinya karena telepon Ayana tak aktif.


Sementara di rumah Ayana sudah pulang dan sedang menghangatkan sup untuk suaminya makan malam.tak lama dia meminta artnya untuk mengabari Gio kalau dirinya sudah kembali ke rumah.


"Adik ka Indri itu loh.kesel deh aku." adu Ayana pada kaka iparnya.


Indri yang sedang mengupasi udang untuk anak-anak itu menoleh." Kenapa lagi si sergio,ka?" tanyanya penasaran.


"Masa tadi bawa pacar temennya,kan udah nyeleweng itu orang.heran aku maksudnya dia itu apa begitu." jelas Ayana.


"Biar nanti pulang aku gerus dia." sahut Indri membuat Ayana sendiri terkekeh.


"Kasih hukuman Ka,hari ini aku sakit hati banget sama dia." lagi Ayana mengadu agar kaka iparnya itu memberikan pelajaran pada suami brondongnya itu.


"Beres." sahut Indri yang di balas tawa oleh Ayana yang sedang menyicipi kuah sup itu.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Gio memarkirkan motornya di garasi dengan wajah kusut.setelahnya dia memasuki rumah berjalan dengan gontai dan ogah ogahan.lelaki berwajah bule itu menghampiri meja makan membuka tutup saji mencari makanan untuk mengisi perutnya yang sudah pasti penuh dengan angin.saat Gio tengah memakan sup krim jagung dan makanan lainnya dia melihat Ayana menghampiri meja makan tapi Gio tak peduli karena kesal telah di kerjai oleh istrinya itu.


"Masih ingat rumah?" Ayana mendudukan dirinya tepat di depan Gio sambil meraih toples kerupuk.Gio hanya melirik di sela kunyahannya itu." Bilang ada tanding basket,taunya cuma kedok doang biar bisa ketemu cabe-cabean." ujar Ayana sembari mengunyah kerupuk bangka yang sudah lumayan alot itu.lagi Gio tak menanggapinya terus saja fokus menghabiskan makanannya." Cantikan juga aku,Gi.masih kalah jauh pokonya." sambung Ayana penuh dengan percaya diri.


"Yang bilang dia cantik siapa?nuduh aja terus Yang,gapapa lanjutin sesukamu." Gio berdiri dari kursi membawa piring kotor ke cucian dan langsung mencucinya bahkan sekalian dengan beberapa gelas kotor bekas anak-anak sepertinya.


Ayana mengikuti dari belakang sambil membuka kulkas dia menyeletuk." Bukan nuduh tapi emang faktanya begitu kok, pulang telat dan boncengan sama cewek lain,mesra lagi."


"Mesra dari mana?aku cuma nganterin dia gak lebih,gak ngapa-ngapain juga.ga usah berlebihan deh." balas Gio kesal juga di tuduh begitu.


"Kapan kamu mulai ketemu dan deket sama dia?" tanya Ayana membuat Gio yang sedang mengelap tangannya itu langsung menoleh.


"Deket apanya?ketemu juga baru tadi gak sengaja juga.tadi tuh ngasih tumpangan doang karena yang lain udah masing-masing sama boncengannya.sementara dia sendiri kasian mana perempuan_"


"Kasian aja terus.kamu mah lihat orang gila di jalan pasti kamu bocengin juga kan karena kasian?udah deh,Gi.ga usah banyak alasan bilang aja kamu ada rasa ingin maen-maen kan?ingat anakmu udah pada gadis.masa iya bapaknya mau genit ke cewek-cewek?ga malu apa" ujar Ayana yang membuat Gio kesal setengah mati.


"Terserahmu lah mau ngomong apa.lagian selingkuh bukan kelasku." pungkas Gio sambil berlalu meninggalkan istrinya yang sedang di redam kekesalan.


Malam harinya mereka tidur tanpa bertegur sapa.Ayana membungkus dirinya dengan selimbut sampe kepala.dia enggan berdekatan dengan suaminya itu bahkan ketika kaki Gio menyentuh ujung jari kakinya ia langsung geser menjauh.dan lebih kesalnya lagi Gio terlihat enggan untuk mengajaknya baikan.lelaki itu malah lebih cuek sepertinya nyaman-nyaman saja perang dingin dengan istrinya.


"Acnya kecilin dingin." perintah Ayana dengan ketus tanpa membuka selimbutnya.


"Panas." jawab Gio sengaja bodo amat dia tidak peduli.lagi pula kalau memang dingin tinggal pelukan saja apa susahnya.


"Panas dari mana?ini dingin banget." rutuk Ayana masih di dalam selimbut.


"Makanya sini.peluk aku biar ga dingin." balas Gio dengan mata yang sudah terpejam tapi belum bisa tidur karena belum memeluk sang istri.Ayana yang masih gengsi pun menolak dia tidak mau memeluk Gio karena masih kesal pada lelaki itu.pada akhirnya mereka tidur dalam keadaan jauh-jauhan.namun di tengah malam Ayana meringsek masuk ke dalam ketiak Gio dan mendusel di sana.begitu Gio memeluknya dengan posesif Ayana langsung pulas hingga melupakan ibadah subuh.


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


"Pagi nte." sapa Jemia kepada Indri seraya mendudukan dirinya di meja makan.


"Pagi sayang.di anter siapa?" tanya Indri sembari menuangkan nasi goreng kepiring yang berada di hadapan Jemia.


"Sama ayah kayanya.tapi ayah belum kelihatan." anak itu menoleh ke pintu kamar orangtuanya.belum kelihatan tanda kalau orangtuanya itu sudah bangun. biasanya terlihat bundanya sibuk mondar mandir antara kamar dan dapur.

__ADS_1


"Mungkin ayah sama bunda belum bangun dek.gapapa biar nte yang anter ada motor kan di depan?" ujar Indri menawarkan.


"Boleh juga,aku udah lama ga naik motor ga di bolehin sama bunda.padahal kalau les sore aku paling suka naik motor enak ada anginnya." kata Jemia dengan wajah cemberut kala mengingat banyak larangan dari bundanya.beda dengan ayahnya yang suka curi-curi waktu bawa anak-anak keliling dengan motor besarnya itu.sesekali Gio memang sering menyempatkan waktu walau pada akhirnya harus kena omel istrinya tujuh hari tujuh malam.


__ADS_2