
"Ayang, hari ini kita jalan saja bagaimana?" ujar Bastian seraya memberikan saran pada istrinya itu.
Bee masih sibuk dengan laptop di pangkuan nya. Wanita itu tak kenal hari libur, dia selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan. Bahkan Bee jarang jalan-jalan. Dia tidak suka menghabiskan waktunya untuk hal-hal tidak penting.
"Kemana?" tanya Bee melirik suaminya.
Meski mereka berbeda usia tetapi Bee awet muda dan Bastian tampak tua dari usianya. Apalagi tubuh Bastian yang menjulang tinggi.
"Kemana saja Ayang mau," jawab Bastian semangat. "Tenang Ayang, aku punya uang tabungan hasil dari balapan. Ini bukan uang Daddy," jelas Bastian memamerkan kartu berwarna gold ditangannya.
Dulu Bastian memiliki kartu hitam, tetapi sejak semua fasilitas nya diambil. Dia hanya memiliki kartu berwarna emas dan itu pun, hasil dia yang lomba balapan.
"Kau balapan lagi?" Bee menatap suaminya tajam.
"Hm, jangan suhuzon dulu Ayang. Ini hasil balapan sebelum aku bertobat," jelas Bastian cenggesan. Dia tidak mau istri nya salah paham lagi.
Bee kembali fokus pada laptop nya. Dia juga di minta oleh sang ayah mertua untuk membantu Bastian mengelola perusahaan. Sebenarnya Bee menolak tetapi dia ingin membantu sang suami, serta mengajari laki-laki itu mencari uang.
"Mau tidak, Ayang?" tawar Bastian. Selama menikah dia tidak pernah jalan-jalan bersama istrinya tersebut.
Bee menutup laptop nya dan mengangguk. Tidak ada salahnya dia liburan hari ini, untuk mencari angin segar diluar.
"Yes." Bastian bersorak gembira.
"Aku ganti baju dulu," ucap Bee meletakkan laptop nya.
"Iya Ayang," sahut Bastian tersenyum menggoda.
Lelaki itu tampak bahagia ketika sang istri mau di ajak jalan-jalan. Sebab Bee selalu sibuk dan jarang ada waktu untuk suaminya. Entah karena pekerjaan yang menumpuk atau memang dia enggan menghabiskan waktu dengan Bastian.
__ADS_1
"Aku harus buktikan pada Kak Bara dan Kak Bryan, bahwa aku pantas menjadi seorang perwaris dari perusahaan, Daddy," gumam Bastian.
Wajah lelaki itu tiba-tiba dingin. Bukan Bastian tidak tahu jika kedua kakak nya tidak menyukai dirinya. Bastian juga tahu bahwa Bara dan Bryan juga tidak terima jika dia menjadi pewaris dari bisnis sang ayah.
"Kalian lihat saja nanti, Kak. Aku akan mengalahkan kalian dalam dunia bisnis. Untuk sekarang kalian boleh remehkan aku. Tetapi nanti kalian akan tahu siapa aku," ucap Bastian tersenyum devil.
Bastian menatap istrinya yang keluar dari kamar, lelaki tanpa sadar berdiri ketika melihat Bee memakai out fit yang seperti anak remaja. Kenapa istrinya tampak lebih muda?
"Ayang," ucap Bastian terpesona.
Bee tersenyum, dia memang sengaja memakai pakaian anak muda. Sebab dia tidak mau membuat suaminya malu karena menikahi tante-tante seperti nya. Meski usia nya tua tetapi Bee bisa dikatakan awet muda. Apalagi dia memakai pakaian ala-ala Korea seperti ini.
"Ayang, kau cantik sekali," puji Bastian terkagum.
"Biasa saja," jawab Bee yang sama sekali tidak terbawa perasaan pada pujian suaminya
"Ayo, Ayang. Biar aku yang menyetir," ajak Bastian dengan semangat menggandeng tangan Bee.
"Silahkan masuk, Ayang," ucap Bastian membuka pintu untuk Bee dan mempersilahkan wanita itu masuk.
Bee masuk kedalam mobil. Wanita itu tersenyum melihat Bastian yang sudah banyak berubah sejak mereka menikah. Tetapi Bee tidak berjanji untuk bisa mencintai Bastian, dia hanya sedang berusaha membuka hati untuk suaminya itu. Jika pada akhirnya Bee tak bisa juga, maka Bee akan menyerah. Cukup sampai disini dia menemani Bastian berubah. Hati tidak bisa dipaksakan bukan.
"Jangan lupa sabuk pengaman nya, Ayang," ucap Bastian memperingatkan sang istri.
Bee mengangguk dan memasang sabuk pengaman di tubuh nya. Bastian melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
"Ayang, mungkin Minggu depan aku sudah masuk kantor. Jadi bagaimana nanti aku berangkat ke kantor, Ayang? Apa aku naik ojek atau naik taksi?" tanya Bastian.
Bee terdiam, sebenarnya dia masih tak menyangka jika Bastian mengikuti semua ucapannya. Dia pikir suaminya itu akan menolak segala saran yang dia berikan.
__ADS_1
"Kita berangkat bersama saja," sahut Bee.
Bee kasihan melihat Bastian yang terbiasa hidup dalam kemewahan harus menyesuaikan dengan dirinya yang notabene wanita biasa saja.
"Kau yakin, Ayang?" tanya Bastian memastikan. Hati Bastian berbunga-bunga mendengar jika Bee mau berangkat satu mobil dengan nya.
Bee mengangguk, "Apa kau sudah memikirkan mau lanjut kemana?" tanya Bee pada suaminya.
Sebentar lagi lelaki itu akan menyelesaikan pendidikan nya disekolah menengah atas.
"Aku tidak ingin kuliah, Ayang. Aku ingin fokus pada perusahaan," jawab Bastian yakin dengan keputusan nya.
Bee mendelik menatap suami nya. Apa Bastian tidak tahu betapa penting sebuah pendidikan? Bukan semata mencari gelar, tetapi juga materi dan pengalaman.
"Kenapa?" tanya Bee menatap suaminya dalam.
"Apa beda nya? Kuliah juga akan bekerja, bukan? Lagian kalau aku kuliah akan memakan waktu, lulus kuliah aku akan kembali melanjutkan perusahaan ini. Lebih baik aku fokus pada perusahaan saja," jelas Bastian.
Bastian memang dari dulu tidak mau yang namanya sekolah. Dia tidak suka diatur. Itulah sebab nya dia selalu membuat masalah dan memberontak agar dirinya dikeluarkan dari sekolah. Tetapi karena sang ayah memiliki kuasa, sehingga Bastian tidak dikeluarkan dari sekolah walau memiliki banyak kasus.
"Kuliah semangkuk, tidak kuliah juga semangkuk," ucap Bastian menirukan peri bahasa yang sering dia dengar.
Bee menghela nafas panjang. Tugas nya sangat banyak, yaitu membentuk karakter Bastian untuk menjadi lelaki sesungguhnya.
"Kau salah Bastian. Kuliah dan tidak kuliah itu memiliki kualitas berbeda. Aku tidak bilang orang yang tak kuliah itu bodoh, tetapi ketika kau kuliah kau akan mendapatkan ilmu dan pengalaman. Kau akan tahu cara menghadapi masalah dalam dunia kerja."
"Untuk apa uang mu banyak, jika kau tidak melupakan pendidikan tinggi. Uang itu bisa habis, tetapi pendidikan akan kekal di hatimu selama nya. Kau bisa menggunakan nya hingga tua nanti."
"Kau pernah bilang bahwa kedua kakak mu meremehkan kemampuan mu, karena kau masih muda. Saatnya kau buktikan pada mereka bahwa muda bukan berarti tak berpengalaman."
__ADS_1
"Kau benar kuliah dan tidak kuliah tetap semangkuk, tetapi isinya berbeda. Kau paham maksud ku, Bastian?" ucap Bee pada suaminya. Bastian ini harus di nasehati dengan lembut. Sebab kalau kasar maka dia akan lebih kasar.
Bersambung....