Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
55


__ADS_3

Setelah hampir satu minggu berada di rumah mertuanya.kini Ayana beserta anak dan suaminya sudah kembali ke rumah Monica.aktivitas mereka masih sama seperti biasa.hanya saja sepulang dari rumah Gio,Ayana sering kali mual mual dan sakit kepala juga kerap kali meriang namun ia tidak pernah mengeluhkan di depan semua orang.termasuk di depan Gio.seperti malam ini,saat Gio pulang biasanya Ayana akan menyambut suaminya namun kali ini tidak,dirinya memilih rebahan saja di kasur tanpa minat sedikit pun untuk menyambut kedatangan Gio.kasur lebih menggoda dari pada ketampanan wajah Gio.yang biasanya Ayana sukai saat suaminya pulang dalam keadaan berantakan. menurut Ayana wajah Gio akan tambah tampan jika dalam keadaan acak-acakan.kok bisa gitu ya Ay.


"Istrimu coba tanyain,Gi.kenapa dia gak turun kamar seharian.kata ncus nengokin Mia aja enggak.untung stok asinya banyak." ucap Monica saat Gio baru sampai di ruang tengah.


Gio mengangguk meski dalam hati sedikit heran." Gak enak badan kali Mah.biasanya juga enggak kan?." ujar Gio.


"Iya kayanya tapi Mamah lihat sehat-sehat aja deh.kenapa itu anak malam ngurung diri seharian,ya udah kamu tanyain coba." sahut Monica sembari meninggalkan Gio karena mobil Frans sudah memasuki garasi.Gio buru-buru ke kamarnya dan benar saja dirinya melihat sang istri yang sedang tiduran sambil bermain ponsel.


"Yang?.." panggil Gio usai meletakan tasnya.


Ayana menoleh tanpa melepaskan ponselnya tapi hanya sebentar saja." Hm, kenapa?" sahut Ayana dengan mata yang tetap terus menatap layar ponsel.entah apa yang sedang di lihatnya di dalam sana.


"Kata Mamah kamu seharain gak keluar kamar,kenapa?kamu sakit,yang?" Gio mendekat dan memeriksa suhu tubuh Ayana." Ini normal kok gak panas." ucap Gio usai memeriksa dahi dan badan Ayana dengan punggung tangannya.


"Yang bilang sakit siapa?orang aku cuma males aja.dari pagi cuma pengennya rebahan doang males ngapa-ngapain." sahut Ayana jujur.memang dirinya mendadak malas dan enggan untuk melakukan apa pun.bahkan untuk mandi saja dirinya malas untung masih tetap cantik dan wangi pikirnya.


"Kok tumbenan?biasanya kamu paling gak bisa diam." ujar Gio heran.


"Soalnya nih badan kaya meriang gitu. seluruh badan dingin dan menggigil apa lagi kalau kena air tapi enggak panas sih." jelas Ayana seraya memperlihatkan kuku-kuku kakinya yang membiru.bak orang kedinginan saja dan Gio baru sadar Ayana tidak menyalakan pendingin di kamarnya.


Gio mendekat lalu memeluk sang istri dirinya mendadak di selimuti kekawatiran." Ke dokter aja yuk,periksa takut ada apa-apa." ajak Gio dengan lembut agar istrinya terbujuk.Ayana mengangguk cepat membuat Gio heran.tumben pikirnya biasanya Ayana paling susah di ajak ke dokter." Kapan mau sekarang apa nanti malam?" tanya Gio.


"Malam aja," jawab Ayana lalu meminta Gio untuk menemaninya tiduran padahal suaminya itu belum mandi.


Setelah makan malam,Ayana dan Gio memutuskan untuk ke rumah sakit tanpa membawa Mia.setelah sampai di rumah sakit keduanya di persilakan masuk oleh seorang suster,setelah itu Ayana di periksa dan dokter mangatakan Ayana hanya meriang biasa mungkin karena kecapean gelajanya seperti akan pilek dan demam.


"Ada sakit tenggorokan gak?" tanya dokter setelah memeriksa Ayana .


"Gak ada dok,cuma itu aja yang saya sebutkan tadi." jawah Ayana dengan cepat.


"Oke.saya kasih obat pilek sama batuknya aja ya,dan ini obat radang buat jaga-jaga aja.soalnya ini lagi musim rata-rata mengalami batuk pilek dan radang,juga demam." ucap dokter sembari memberikan resep vitamin dan obat kepada Ayana.


"Iya terima kasih,dokter." Ayana dan Gio keluar ruangan dan langsung menebus obat.usai itu keduanya mampir di kedai bakso katanya Ayana ingin makan yang panas-panas dan berkuah.


"Jangan pedes-pedes.nanti lambung kamu kambuh." peringat Gio dengan penuh perhatian.pasalnya istri Gio ini begitu semangat menuangkan cabai ke dalam kuah baksonya.


"Gak pedes kok Gi,cabenya cuma enam sendok kok." sahut Ayana dengan santainya membuat mata Gio hampir keluar.


"Gak pedes tapi enam sendok?jangan cari penyakit,yang.kamu baru aja periksa kata dokter kan tadi jangan makan yang aneh-aneh dulu takutnya kamu radang juga." ucap Gio dengan tegas.Gio merinding begitu melihat kuah bakso yang tadi bening namun sekarang menjadi semerah wajah bi Sumi.ngeri sekali pikirnya.


Ayana mencebik tidak suka." Ya udah kalau gitu kamu aja yang makan." pinta Ayana sembari menyodorkan semangkuk bakso yang kuahnya sangat merah dan kental campuran sambal dan saus.


Gio menelan ludah dengan kasar yang benar saja pikirnya " A_aku.aku gak bisa makan bakso sepedas ini.buset bisa mules nanti subuh." tolak Gio namun Ayana menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Jadi pilih kamu,apa aku yang makan?." tanya Ayana sangat tidak ramah sama sekali.


"Ya udah aku aja." Gio menarik mangkuk berisi bakso itu ke hadapannya dengan cepat lalu mulai memakan baksonya dengan sangat terpaksa.dari pada di buang pikirnya kan sayang.dia juga tidak bisa membiarkan Ayana yang memakannya.


Ayana tersenyum senang lalu dirinya memilih dan pesan menu lain." Yuk pulang udah selesai kan?." ajak Ayana padahal Gio masih engap-engapan karena ke pedesan.bahkan bakso yang tadi ia kunyah masih belum turun ke lambung masih nyangkut di lehernya.tapi Ayana sudah mengajaknya pulang dengan tidak sabaran.


"Bentar atuh.nih bakso belum turun masih nyangkut di sini." Gio menunjuk batang lehernya membuat Ayana terkekeh.lalu laki-laki itu menyambar es teh manis dan meminumnya dengan rakus membuat jakun seksinya naik turun.pemandangan itu tidak hanya Ayana saja yang menikmatinya tapi ada beberapa remaja yang juga ikut memperhatikan Gio.


"Ganteng banget.sumpah."


"Rahim gue anget lihat jakunnya seksi banget."


"Duh,baru lihat dia senyum aja gue udah mikirin resepsi mau pake adat apa."


"Jadi pengen milikin.dadanya pelukable banget.cocok di jadiin bantal pas lagi mager."


"Ngelihat dia ngejilatin bibir kaya gitu gue udah basah.gimana kalau di cumbu sama dia coba?udah banjir kali."


Telinga Ayana sudah panas ingin menelan beberapa remaja centil itu.namun dirinya harus jaga imej dan tidak ingin mempermalukan Gio di depan orang. bagaimana pun dirinya yang paling beruntung karena sudah menjadi istri Gio bebas mau ngapain saja.tidak seperti mereka yang hanya bisa mengagumi dan membayangkan berada di posisinya.


"Kepedesan ya?" tanya Ayana sembari menarik tisu dan mengelap keringat Gio di pelipisnya.Gio mengangguk dengan matanya yang di penuhi air mata,bukan karena sedih ya pemirsah,tapi padas sekali seluruh wajahnya memerah bahkan hingga telinga,dan bibirnya yang tebal itu menjadi jeding saat ini.


...Seperti ini Gaes...



"Pedes yang.jadi pengen nyusu." ujar Gio membuat Ayana menahan tawa lalu memukul lengan suaminya itu.


"Sayang banget pacarnya udah dewasa ya."


"Cantik sih,tapi kaya orang penyakitan gitu pacarnya."

__ADS_1


"Iya,terlalu kurus dan kuyu gitu gak sih?kek gak cocok banget sama cowoknya."


"Iya,lihat coba cowoknya ganteng tapi maunya sama yang tua."


"Karena cowok sukanya sama cewek dewasa gak sih.soalnya mereka gak mau ribet gitu.kalau yang dewasa kan udah pasti ngertiin dia."


"Iya bener sih setau gue gitu."


Begitulah celotehan sekumpulan beberapa gadis yang duduk tidak jauh dari meja Ayana dan Gio.keduanya mendengarkan dengan diam.Gio tahu istrinya ini terganggu dengan ocehan mereka.dirinya langsung peka saat melihat raut wajah Ayana yang berubah menjadi suram sesuram harapan penulis ingin menjadi istrinya wang yibo.


"Ayo pulang.nanti kita mampir dulu ke super indu Mamah tadi nitip beli telur dan ayam." ajak Gio lalu berdiri lebih dulu.


Ayana melihat kepada gadis gadis yang sejak tadi terus memperhatikan Gio itu.dengan cepat dirinya pura-pura pusing saat akan bangun." Aduh,aduh kepalaku pusing banget." Ayana berpura-pura pusing sembari memegangi kepalanya.


Gio langsung saja mendekati istrinya." Pelan-pelan.sini biar aku papah mau di gendong gak? " tawar Gio dengan cepat dan kawatir.


"Gak usah tapi bantuin." ujar Ayana lalu berjalan sembari di papah oleh Gio,Ayana melirik sekumpulan remaja itu lalu tersenyum culas pada mereka dan seketika saja para gadis yang sedang memperhatikan Gio itu semuanya melengos.ada yang iri ada juga yang kesal dan mereka memilih tidak ingin melihat keduanya.


"Rasain.iri kan kalian." batin Ayana sembari mengeratkan tangannya pada pundak Gio.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Gio berjalan dari kafe menuju kantor dirinya baru saja selesai menghabiskan makan siang.sudah tiga hari ini Ayana tidak menyiapkan bekal untuknya karena istri Gio itu mendadak jadi pemalas padahal Ayana itu termasuk orang yang ringan tangan atau bisa di katakan sangat aktif bergerak tidak malas seperti pembaca dan penulis di sini ini.Gio sengaja berjalan kaki tidak membawa mobil hitung-hitung olah raga pikirnya.lagi pula dekat hanya kurang dari satu kilo meter jaraknya,anggap saja olah raga untuk membentuk otot-otot kakinya agar kekar dan tidak gampang capek seperti beberapa hari ini.karena Gio sudah jarang olah raga lagi.


Masalahnya olah raga di atas tubuh Ayana itu tidak menghasilkan badan kekar apa lagi roti sobek hanya membakar sedikit kalori di tubuhnya.dan Gio juga sudah jarang olah raga akhir-akhir ini karena aktif kuliah dan jam kantor yang lumayan menyita banyak waktunya.masih bisa memperhatikan Ayana dan putrinya saja dirinya sudah bersukur.saat akan menyebrang Gio bebarengan dengan Leonardo.dirinya belum menyadari siapa yang berada di belakangnya itu.Gio cuek saja dan segera menuju area kantor namun saat akan menuju lobby langkah Gio terhenti karena suara Leonardo.


"Lama gak ketemu." sapanya membuat Gio membalikan badan.


"Oh iya." balas Gio dengan senyum tipis.


Leonardo maju beberapa langkah dan memasang senyum yang membuat Gio mengerutkan kening memang apa yang lucu pikirnya." Gimana pernikahan lo dengan Ayana?bagaimana rasanya menikahi putri dari pengusaha nomor satu di kota ini?" tanya Leonardo dengan senyuman yang masih tidak luntur dari bibirnya.


Gio membalas senyum itu sekenanya." Tentu saja bahagia,kenapa memangnya bang?"Gio bertanya balik.


"Oh pastinya ya,memangnya orang miskin mana yang gak bahagia bisa menikahi anak orang kaya.apa lagi dengan cara yang gak halal,bisa di bilang jalan pintas iya,kan?." ujar Leonardo penuh arti.


Gio mengerutkan kening tidak mengerti akan ucapan pria di depannya ini." Dengan cara yang gak halal gimana bang?saya menikahinya dengan benar dan sah di mata hukum mau pun agama.lalu di mana cara gak halalnya?dan kami juga saling menyukai kok." sahut Gio.


Leonardo terbahak mendengar jawaban Gio.dirinya tidak menyangka bahwa Gio akan berbohong seperti ini." Lo pikir gue gak tahu?kalian di jodohkan kan,sama om Frans lo pikir gue bodoh bisa lo bohongi?dan gue tahu kenapa om Frans milih lo?itu karena lo udah main curang.lo udah guna-guna mereka sekeluarga,dan lo juga udah nyuci otak mereka supaya percaya sama lo."


Gio menatap pria yang seumuran dengan istrinya ini.kata katanya begitu menusuk tepat pada ulu hati Gio.juga menyadarkan dirinya berasal dari mana.terkadang Gio lupa dari mana dirinya bersal.karena begitu bahagia menikmati keluarga kecilnya bukan menikmati harta mertua dan istrinya.


Memangnya lelaki ini pikir,Gio tinggal di rumah Frans hanya enak-enakan saja makan tidur dan main.heloww,Gio juga bekerja keleus dari siang hingga malam bahkan terkadang pulang subuh karena pekerjaan tidak bisa di tinggalkan seenaknya saja kalau ngomong.ingin rasanya Gio sentil empedunya sampe buyar.


"Maaf tuduhan abang salah.saya gak pernah menggunakan cara licik seperti itu bagi saya gak guna karena akan menyesetkan.bukan kebahagiaan yang saya dapat tapi tertekan dan tersiksa nantinya." balasnya dengan pandangan yang tetap mengarah pada lelaki itu." Abang benar.saya dan Ayana memang awalnya di jodohkan tapi kami saling mencintai.dan kami bahagia dengan pernikahan kami apa lagi setelah kelahiran putri kami.kebahagiaan kami rasanya berlipat." ujar Gio dengan suaranya yang tenang itu.


"Dan maaf,abang juga salah menuduh saya yang hanya numpang hidup saja,saya ini manusia bang,yang di bekali akal dan pikiran.saya memang menikahi putri orang kaya di kota ini,tapi bukan berarti saya tidak bertanggung jawab hanya makan dan tidur saja.saya juga bekerja untuk menghidupi keluarga kecil saya.saya memang orang miskin tapi saya tahu diri kok bang gimana caranya bertanggung jawab." lanjutnya sembari memasukan satu tangannya ke saku celananya.dan satu tangannya lagi memegang es kopi miliknya.


Leonardo mendecih terkekeh." Hadeh. ngomong sama bocil yang sok iye dan sok dewasa banget.kalau cuma ngomong doang mah semua orang juga bisa,Dek.lo bahkan masih kuliah kan?dan baru awal semester terus nyari duit dari mana lo kalau cuma modal ijasah SMA doang?di sini posisi lo jadi apa coba gue tanya,jadi OB?gak mungkin lo dapat posisi bagus kalau cuma modal ijasah SMA doang? lagian om Frans juga gak bego kali nempatin lo di posisi bagus.sedangkan ilmu dan otak lo aja gak bakal sampe kesana." hinanya benar-benar menusuk kulit Gio hingga ke tulang bukan hatinya lagi.


Dada Gio bergemuruh karena amarahnya mulai tersulut.demi apa pun dirinya ingin sekali meninju mulut dan wajah pongah lelaki iblis ini.namun Gio harus tetap menjaga imej sebagai menantu Frans Adelard pemilik gedung tinggi ini.jika saja mereka hanya berdua di tempat sepi mungkin saja Gio sudah meremukan tulang pipi Leonardo.


"Kalau cuma ingin menghina saya dengan kata-kata yang keluar dari mulut kotor abang.maaf atuh saya gak ada waktu buat dengerin saya banyak kerjaan di dalam. kalau abang cuma mau ngehina saya mending pergi aja deh gak guna tahu. buang-buang waktu aja." sahut Gio lalu melangkah namun segera di cegat oleh Leo.


Wajah pongah yang pantas untuk di tinju itu kembali tersenyum mengejek di depan Gio." Kenapa?apa yang gue sebutin tadi bener kan?kasihan banget sih lo,percuma dong menikah sama orang kaya tapi posisi lo cuma jadi OB.gue heran apa Ayana gak malu ya suaminya cuma OB di kantornya sendiri.oh,atau dia sengaja ingin mempermalukan lo kayanya.biar semua orang tahu kalau suaminya yang miskin ini cocoknya memang cuma jadi OB aja sih." dan kekehan meremehkan keluar dari mulut kotor Leonardo itu.


Kesabaran Gio menipis rupanya,dirinya mencengkaram kerah Leonardo dan menyeretnya ke tempat sepi.dan senyum kemenangan terbit di wajah Leo.dirinya sengaja memang tujuannya ingin menghancurkan imej Gio agar semua orang tahu bahwa Gio tidak sebaik yang mereka lihat.pengen tak hih aja si Leonardo ini.


"Lo jangan bikin kesabaran gue abis, Anjing." geram Gio tanpa melepaskan cengkramannya dari leher Leo.pites aja Gi halal kok.


"Cie yang jaga imej di depan semua orang. supaya semua orang tahu kalau lo orang baik dan seperti yang terlihat selama ini. gue tahu seperti apa lo sebenarnya." ujar Leonardo dengan sengaja memancing amarah Gio.


Gio mendecih lalu terkekeh." lo tahu apa tentang gue,Hah?lo siapa ikut campur rumah tangga dan urusan gue?lo cuma mantan temen istri gue yang udah di buang dan gak di anggap lagi.bahkan dia aja udah lupa kalau pernah berteman sama keparat macam lo." tukas Gio dengan senyum remeh.


"Lo mau ngehancurin gue dan rumah tangga gue?jangan mimpi.gue gak akan diem.jangan lo anggap gue lemah dan takut sama lo,lo salah.gue gak takut sama sekali apa lagi sama orang modelan anak mamih papih kaya lo ini." Gio menoyor dada Leonardo dengan jari telunjuknya membuat laki-laki itu mendorong dadanya.


"Kalau berani ayo lawan gue,anjing,jangan cuma bacot doang." tantang Leonardo yang sudah tersulut mendengar penghinaan dari Gio yang mengatainya anak mamih dan papi,karena memang benar.


"Yakin?kalau lo masuk rumah sakit gimana?" ejek Gio dengan tawa remeh.


"Anjing,lo pikir gue takut hah?" Leonardo mendorong Gio dan meninju wajah pria itu dengan sekuat tenaga,hingga gelas kopi yang sedang Gio pegang terlempar.Gio yang tidak siap pun hampir saja tersungkur saat mendapat pukulan yang berhasil mengenai wajah mulusnya.wah kalau Ayana tahu habis lah kau Leo.


"Cemen.anak kecil tahu apa sih sok-sokan mau lawan gue." Leo mengejek Gio dengan tawa remeh.


Gio mengusap sudut bibirnya dengan ibu jarinya.rasa asin dan anyir terasa di mulutnya saat ini.Gio menatap Leonardo dengan sudut bibir terangkat.menciptakan smirik yang membuat Leo merasa terhina.

__ADS_1


"Segini doang pukulan lo?ck ck lo tipes atau cacingan sih?lemes amat perasaan masa iya mukul gue kek mukul anak SD aja bang." hina Gio dengan smirk maut membuat dada Leonardo naik turun di buatnya.harga dirinya seakan luntur bak di kucek rinso cair dengan kekuatan sepuluh tangan.baru lelaki itu akan menyerang,Gio dengan cepat memberikan satu tinju di rahangnya.dan berhasil membuat wajah Leo hampir tersungkur mengenai tiang listrik yang ada di dekatnya.


"Gitu doang udah nyungkur,hampir adu banteng sama tiang listrik yang gak tahu apa-apa itu.gimana goyang gak gigi lo?untung gak gue jedotin ke tiang listrik." ejek Gio berpura-pura menggoyangkan tangannya yang tadi di pakai mukul Leo." Duh ngilu tangan gue." keluhnya dengan nada mengejek.


Leo berdiri dan hendak melayangkan satu pukulan ke wajah Gio namun melesat dirinya malah menabrak tanaman janda bolong yang di tanaman di sekitaran area kantor." Woy jangan ngerusak tanaman mertua gue.buset potnya sampe kebelah gitu." Gio terbahak sampe perutnya keram.


"Santai aja atuh pake segala tanaman orang lo tabrakin,mana pecah lagi." Gio masih tidak puas mengejek Leonardo yang sedang berusaha bangun itu.


"Lo jangan maen-maen ya sama gue.ingat lo bakal nyesel karena udah kurang ajar sama gue." ancam Leo dengan wajah emosi.


"Dih ngancem-ngancem,lo yang mulai kok lo yang kebakaran jenggot.gak waras nih orang" ujar Gio dengan wajah heran.


Leonardo menatap Gio dengan kemusuhan." Urusan kita belum selesai bakal gue bayar mahal dengan apa yang udah lo lakuin ke gue." ancamnya kembali


"Khap." jawab Gio.


"Lo jangan kurang ajar ya sama gue."


"Khap,khapunkhap swadikap ikan kakap xo khechan kheach laew." balas Gio mencoba berbicara dengan bahasa Thailand yang ia tiru dari drama yang biasa istrinya tonton.


"Gak jelas lo.gak gitu bahasanya tolol." maki Leonardo dengan sinis.


"Lalu gimana tolol pan gue orang sunda mana tahu bahasa Tahlilan.lidah gue lidah ikan asin dan sambel terasi bang kaga ngarti bahasa khap khap an gitu." tukas Gio dengan sama sinisnya.


"Terus lo ngapain ngomong Thailand sok-sokan?cih." tanya Leonardo sembari membenarkan kerah bajunya.


"Niru Ayana suka nonton pilem yang cowok sama cowok ngen itu loh.keknya lo juga sejenis mereka ya?kan lo dari sana kan?." tanya Gio membuat kedua bola mata Leo hampir nyeblot keluar.



"Lo emang anjing ya." makinya baru akan neyerang Gio namun urung keburu ada satpam yang mendekati mereka berdua.


"Loh mas Gio,mas Leo?ada apa ini kok berduaan di sini mas?terus kenapa pot nyonya kebelah gini ya?wah habis nih di amuk nyonya besar." ucap pak satpam sembari geleng-geleng kepala.tanpa melihat wajah keduanya yang lebam.


"Bukan saya,Pak.noh dia nabrakin diri ke pot itu.kalau gak percaya cek coba kali aja ada cctv yang tersembunyi di sini." ujar Gio dengan cepat.


"Loh kenapa Mas kok nabrakin taneman toh?" Pak satpam memandang Leo dengan heran.


"Bohong pak.dia kok yang nyerang saya di sini sampe saya nabrak ini taneman." Leo menatap Gio dengan senyum kemenangan.


"Enggak kok,Pak.yakali saya nyerang-nyerang dia,buat apa coba?orang dia yang nyerang saya duluan." sahut Gio membuat pak satpam yang agak oon itu kebingungan untuk apa mereka serang-serangan di mari pikirnya.


"Nyerang gimana Mas?memang kalian ngapain serang-serangan di sini?" tanyanya.


"Salah paham aja Pak.bukan apa-apa kok jangan bilang siapa-siapa ya Pak rahasiakan aja ini dari siapa pun." ujar Gio pelan." Cukup kita saja yang tahu,kita kan bestai,Pak." lanjutnya.Pak satpam mengangguk dengan semangat.


"Gak gratis tapi mas.harus ada uang rokok dan bensin juga uang makan.karena tutup mulut juga butuh tenaga." balas Pak satpam oon itu.


"Hadeh lo emang mata duitan ya." sahut Leo dengan kesal.


"Ya udah nih dua puluh buat bensin cukup dong.sisanya minta sama yang mecahin pot tuh." Gio memberikan uang tutup mulut itu lalu pergi dari sana.membuat Leonardo misuh-misuh karena di palak Pak satpam.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Gio memasuki gedung kantor lalu bertemu dengan Lita yang baru meletakan kopi dari meja Frans.gadis itu tersenyum kepada Gio seperti biasa selalu mengagumi wajah tampan itu.jika saja bukan suami anak bosnya mungkin sudah lama Lita gaet tidak peduli pake cara apa pun juga mendukun juga bisa pikirnya.jaman now apa sih yang susah.dukun saja banyak yang bisa online.


"Loh Mas Gio itu bibirnya kenapa kok berdarah?." tanya Lita lalu mendekat dengan kawatir sukur sukur bisa nyentuh bibir Gio dengan dalih khilap.


"Ah,enggak Mbak.ini di gigit Ayana." jawab Gio sembari menjauhkan diri enggan berdekatan dengan Lita.dirinya selalu menjaga jarak dengan siapa pun,karena kedua mata Ayana selalu menghantui Gio kemana pun dirinya melangkah.


"O_ooh gitu." Lita tersenyum kaku.


"Ehmm." Frans berdehem membuat Gio langsung menoleh kepadanya." Ikut Papah." ucap mertua Gio itu sembari berjalan ke ruangannya.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Sengaja kasih part yang panjang pengennya double up tiap hari,tapi aku sibuk bray😌





...Noh bonus aa Gio...

__ADS_1


__ADS_2