Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
54


__ADS_3

Jam empat sore Ayana kembali berdandan seperti tadi siang.dirinya memakai hijab dan gamis milik kaka iparnya Ayana sedikit memoles wajahnya agar telihat lebih fresh dan cerah.istri Gio itu meminta di pakaikan stelan muslimah seperti saat kondangan namun tidak seheboh tadi.kali ini Indri memilih gamis yang simple dan warnanya pun begitu kalem dan lembut,cocok dengan wajah Ayana.


"Pasti nanti Gio heboh banget," ujar Indri sembari mengencangkan kaitan hijab yang di tusuk jarum pentul.


"Tadi dia kekeuh minta aku gak buka hijabnya.ya ga bisa,punya bayi ribet di tarikin mulu mana gerah lagi." sahut Ayana membuat Indri terkekeh.


"Iya,cowok mah gak paham gimana rasanya." balas Indri lalu mengacungkan dua jempolnya." Cuakepp banget ka.di jamin si Giok nempel mulu sampe subuh." seru Indri membuat Ayana salah tingkah.


"Gak gini juga nempel mulu.sampe aku katain anak monyet juga dia gak marah loh kadang heran sama Gio itu gak ada bosen-bosennya maunya nempel seharian apa lagi kalau libur kerja dan kuliah beuh aku berasa ketempelan." curhat Ayana tanpa sadar membuat Indri mengulum senyum iri.


"Gapapa,malah bagus itu artinya dia cinta banget dong ke kaka.kalau aku sih senang banget bisa di gituin suami.ayahnya Billa mah boro-boro datang ke rumah cuma marah-marah doang." sahut Indri lalu sekelebet bayangan Bian yang sedang tersenyum pun mampir di benaknya.


Ayana tersenyum mengusap lengan kaka iparnya." Sabar ya Ka,suatu saat kaka bakal bahagia bersama orang yang tepat." ujar Ayana lembut.


"Tapi hatiku hanya terpaku pada satu nama,ayahnya Billa.gak peduli seberapa buruk perlakuan dia ke aku,aku tetap mencintai dia.walau pun aku gak tahu dia berada di mana sekarang." Indri menarik napasnya dan menghalu air mata agar tidak tumpah.dia merindukan seuaminya itu.


"Kaka yang tabah.nanti ayahnya Billa pasti pulang dan temui kalian." ucap Ayana kembali menenangkan.


"Aku yakin dia akan datang walau entah kapan,aku sedih kalau Billa nanyain mana Ayah Iya katanya kalau dia lagi ingat.kalau gak ingat tetap nanyainnya om Iyo sama dede ayi sama nte yaya." Indri tertawa lucu mengingat celotehan putrinya yang baru belajar bicara itu.


"Gemes banget sih Abilla.aku jadi gak sabar pengen denger Jemia bisa ngomong juga.tapi gapapa sih Ka kalau Billa mau manggil Gio ayah." ucap Ayana jadi sedih mengingat keponakannya itu begitu merindukan ayahnya hingga sering lupa memanggil Gio dengan sebutan ayah karena sedari kecil balita itu memang menganggap Gio adalah ayahnya.


Indri menggeleng cepat." Gak bisa Ka nanti kebiasaan sampe gede takutnya kedepannya ada apa-apa kan repot." tolak Indri yang langsung di angguki Ayana.


"Ayah pulang,Mia?." teriak Gio dari luar membuat Ayana dan Indri buru-buru keluar kamar.


"Suaramu,Dek.kaya di hutan aja deh." protes Indri risih mendengar suara nyaring adiknya.


"Gak sabar pengen ketemu istri,ka." sahut Gio lalu matanya terpaku pada Ayana yang berdiri di dekat pintu kamar Indri.Gio bahkan tak mengedipkan matanya sama sekali dia begitu terpesona akan kecantikan Ayana dengan balutan gamis hitam dan jilbab hijau army yang sangat cocok di padukan di wajah istrinya ini.


"Ngedip woy." tegur Indri sembari mendelik pada adiknya.Gio hanya cengengesan saja di buatnya." Kaka nyusul ibu sama bocil dulu." Indri undur diri memberikan ruang kepada pasangan bucin itu.dari pada dirinya iri dengki mending tidak melihat kemesaraan mereka pikirnya.


"Kok gamis sama jilbabnya beda sama yang tadi siang,yang?," tanya Gio sembari mendekati istrinya yang masih berdiri dengan wajah malu-malu.


"Kamu gak suka yang aku pake sekarang?" tanya Ayana dengan hati yang sedikit kecewa.


"Suka dong,aku cuma tanya aja kok beda. sengaja ya biar tampil lebih cantik di depan aku iya?." goda Gio lalu mencondongkan wajahnya dan mengecup pipi Ayana yang selalu wangi bedak itu.


Ayana menepis tangan suaminya yang akan menjemil pipinya." Jangan di cubitin mulu nanti kendor nih pipi." protes Ayana.


Gio mengulum senyum nakal." Gapapa kalau pipi mah.asal yang lain tetap kencang dan masih ngejepit banget, ramuan jamu Mamah emang jos banget." goda Gio dengan senyum genit membuat Ayana mendekus.


"Kok bisa ya gue nikah sama bocah tengil ini?untung ganteng,kalau gak.idih ilfeel banget gue.mana mesum lagi si Giok ini." batin Ayana tidak habis pikir mengapa ia malah mencintai Gio." Dan bisa-bisanya gue sampe punya anak dari dia?" lanjutnya lagi.


"Eits,mau apa nih tangan?." tanya Ayana saat Gio baru akan menyentuh tubuhnya.


"Mau megang-megang lah.pake di tanya lagi,ck." dengus Gio heran.


"Ngapain pegang-pegang?." tanya Ayana lagi.


"Ya terserah aku lah.halal ini,dan bebas mau pegang kek mau apa kek suka-suka yang punya dong." balasnya.


"Idih.sok iye banget,tubuh gue mahal dan limited edition gak boleh di pegang-pegang sembarangan." sahut Ayana dengan tangan bersidekap di dada.


Gio mendelik tidak suka." Oh ya?kalau gitu punyaku juga limited edition dong.gak boleh di remas dan di cengkram sesukanya,apa lagi kalau pagi-pagi pasti ada tangan nyelusup ke celana tangan siapa it_hmpp"


"Bisa diam gak?nanti kalau ibu dengar gimana?." potong Ayana sembari membekap mulut Gio.


"Kenapa emang,malu?biarin aja biar ibu tahu kalau anaknya ini suka di ganggu kalau tidur.masa enak-enak tidur di uyel-uyel_"


"Gio.diem dong malu." Ayana memukul dada Gio dengan sebal.oh ayolah wajahnya sudah semerah bibir Ceu Ratna debat dengan Gio sama saja mencari jarum di tumpukan jerami.


Gio terkekeh menangkap tangan istrinya." Malu kok ngaku?istri aku ini kok gemesin banget sih,jadi pengen punya dua yang kaya gini nih." ujar Gio dengan senyum manisnya.


"Bilang apa tadi?." tanya Ayana karena kurang jelas dirinya sibuk salting sih.


"Enggak.kamu itu cantik banget kaya Popo berbi," sahut Gio.


Ayana mengerutkan keningnya heran." Popo berbi siapa?." tanyanya.


"Itu loh penghuni kayangan.kamu mah jangan tahu mahluk begituan bikin sawan yang ada." jelas Gio dan Ayana hanya mengangguk saja." Yang bentar yuk." ajak Gio sembari menarik tangan Ayana untuk masuk kamar.


"Enggak ah.bentar lagi ibu pulang bawa Mia.masa kita lagi begituan." tolak Ayana dirinya malu jika harus ketahuan bercinta oleh mertua dan iparnya.


"Quickie s*x aja,yang.gak lama kan untuk latihan nanti malam." sahut Gio lalu sibuk mengajak istrinya masuk kamar.


"Janji ya bentar aja tapi,dan jangan di dalem aku belum dapet bulan ini.kamu juga gak bawa pengaman kan." akhirnya Ayana setuju saja.dari pada menolak Gio dirinya tidak ingin suaminya mencari kenikmatan dari perempuan lain di luar sana.Ayana paham batul,Gio ini masih muda dan benar-benar sedang berada di puncak kegemarannya mengenai hubungan s*x.


Benar kata orang,laki-laki yang berada di umur dua puluhan itu sedang hot-hotnya tentang urusan ranjang.semangat Gio selalu menyala siang malam subuh sore tidak kenal lelah dan malas gas saja jika dirinya menginginkan.Ayana pun senang-senang saja selama dirinya masih kuat melayani Gio dengan suka rela.lagi pula pikir Ayana dirinya rugi juga jika harus menolak Gio.benih Gio yang amat berharga dan mahal itu sayang jika terbuang sia-sia.mending di tumpahkan ke dalam tempatnya dari pada tumpah di tempat lain.atau malah terbuang sia-sia.


Saat akan melakukan penetrasi,keduanya terhenti karena suara ketukan dan teriakan dari luar yang begitu nyaring." Gio.Gi,lo di dalam kan?." teriakan suara yang amat Gio tahu siapa itu.siapa lagi kalau bukan dua kambing conge.

__ADS_1


"Gio.kita di depan nih nyong." teriak satunya lagi membuat rahang Gio mengeras.


"Gimana ini?." tanya Ayana panik dan ketakutan.dirinya berasa sedang berbuat mesum lalu di gerebek warga.


"Lanjut aja lah,biarin aja mereka nunggu." sahut Gio sembari mendorong miliknya.


"Gio.kami di depan." teriak suara itu lagi.


"Anak Anjing." maki Gio seraya menarik kembali miliknya dengan wajah emosi lalu memakai kembali pakaiannya.


Ayana malah terkekeh melihat wajah Gio yang memerah karena emosi dan hasrat yang tidak tersalurkan." Jangan maki teman kamu.kasihan mereka gak tahu apa-apa." ujar Ayana masih dengan tawanya.Gio tak menjawab langsung keluar menemui temannya.


"Eyo,wasap bray." sapa Andre dengan wajah ceria dan cengar cengir seperti biasa membuat siapa saja yang melihatnya pasti ingin menggeplak wajah itu.


"Widih mukenya serem amat?." ujar Rehan heran.


"Kalau mau namu tahu waktu dong.ini masih sore udah namu." ketus Gio membuat kedua temannya itu melongo biasanya juga mau siang malam,subuh magrib juga Gio tidak pernah masalah.lah ini kenapa.ya gak tahu,kok tanya saya.


"Lo ngapa anjir PMS apa gimana sih tiba-tiba emosian gini?perasaan semalam lo minjem motor gue baik-baik aja tuh mana motor gue gak di isi bensin sama nih kadal amazon." ucap Rehan herman pada sikap Gio ini.


"Gue mau makan tadi tanggung,jadi gue kesel." sahut Gio.Rehan dan Andre mengerutkan kening nah ini lagi,perasaan biasanya Gio tidak serempong ini deh.jika akan makan dan ada siapa pun yang datang tak membuat Gio berhenti mengunyah nasi.


"Mau makan yang lain kali ya?." celetuk Andre sembari menggosok hidungnya kemasukan remeteuk yang berkerubung dari kandang kambing mang Saleh tetangganya Gio itu kurang ajar memang membuat kandang kambing di dekat rumah orang.mentang-mentang dirinya yang punya lahan.


"Oh ya udah kami tinggal dulu kalau gitu nanti kalau udah selesai wa aja." ucap Rehan sembari berdiri hendak mengajak Andre pergi.


"Enggak-enggak.kok pergi sih kalian ini?." cegah Gio lalu meminta istrinya membuat teh atau minuman untuk kedua teman laknatnya itu.


"Nih buat anak lo." Andre dan Rehan memberikan masing-masing paper bag yang tadi mereka simpan di samping kursi.


"Apaan nih?." tanya Gio sembari melongok isinya.


"Hadiah buat anak lo mainan.kan pas lo kawin kami gak ngado." jawab Andre di angguki Rehan.


Gio mengangguk." Lah pake kado-kadoan doanya aja udah cukup.ini teh pokonya mah tengkiyu banget." ujar Gio yang di balas cibiran oleh keduanya.


Ayana keluar membawa nampan di tangannya yang berisi minuman yang baru di buatnya.istrinya Gio itu tersenyum kepada kedua sahabat suaminya." Di minum ya." Ayana menyajikan gelas yang berisi minuman dan beberapa cemilan untuk mereka.


"Eh makasih ya,Ka." ucap kedua teman Gio itu.Ayana mengangguk dengan wajah ramah.


"Ini kado katanya untuk Jemia,yang." ujar Gio sembari memberikan dua paper bag pemberian mereka.


"Monmaap Ka.Yusup siapa ya?." tanya Rehan dengan wajah serius.


Ayana menoleh kepadanya." Saya gak tahu.mana yang Andre mana yang Yusup." sahut Ayana membuat tawa Gio menyembur.


"Dia namanya Rehan,sayang.bukan Yusup. kalau ini bener emang Andre." ujar Gio sembari menepuk bahu Andre membuat Ayana kelabakan.


"Astaga.maaf banget,aku kira kamu Yusup dan Andre.aku lupa kalau kamu itu Rehan." ucap Ayana dengan tak enak hati.


Gio dan kedua sahabatnya terbahak ada-ada saja istrinya Gio itu.untung cantik jadi masih bisa selamat pikir mereka." Silakan di makan.aku mau ambil Mia dulu." pamit Ayana kemudian berjalan ke rumah ceu Rukmini untuk menjemput putrinya.


"Gimana caranya lo bisa dapetin dia sih?maksud gue gimana caranya lo mikat hati tuh cewek?kok bisa modelan artis tapi demen ama lo yang gak jauh beda sama beruk gini." ujar Andre seenak jidad saja dan geplakan kasih sayang pun di terimanya dengan setengah iklas.


"Cakep gini di kata mirip beruk." rutuk Gio tak terima.


"Si paling cakep." sahut Rehan mengejek.


"Iyalah jelas,tidak ada yang meragukan lagi sekampung ini." ujar Gio dengan pedenya yang hampir menyamai tingginya jemuran Bi Karsih itu.


Andre dan Rehan mendecih." Pede bener lo.betewe kenalin dong,Gi.siapanya istri lo kek gitu,misal ponakan atau bibinya juga gapapa gue mah.gue juga pengen atuh kesiraman air orang kaya,cape nih ngebubut mulu di bengkel Mas Tito.mana gue risih di Intilin mulu sama si bebengok." ujar Rehan membuat tawa Gio dan Andre pecah." Lihat nih tangan gue sampe kapalan gini." katanya dengan wajah di buat sesedih mungkin.jual derita dikit mah gapapa kali pikir Rehan gak dosa ini pikirnya.


"Lo mau gak ama temen Ayana?tapi seumuran sama istri gue.kemarin-kemarin dia sering banget datang minta di kenalin mulu sama brondong katanya.nah keknya cocok lu berdua sama-sama edan." ucap Gio membuat mata Rehan melebar.


"Serius lo?ya tapi jangan yang binal juga dong.udah mah gue rusak masa dapet yang rusak juga.gue kan buat serius ini bukan buat main-main." sahutnya dengan wajah serius." Body masih mulus gak?."


"Jelas dong.lecet pemakaian doang paling." jawab Gio membuat ketiganya terbahak-bahak." Justru yang udah rusak gitu lo harus perbaiki.biasanya cewek begitu yang baik mah untuk di jadikan istri mending yang nakal dulu baru bener.dari pada yang telat nakalnya." jelas Gio membuat Rehan terdiam karena ada benarnya juga.


"Gio bener.lo kalau mau yang seperti itu mending.gapapa bekas orang juga yang penting dia mau berubah dan bisa sama-sama saling melengkapi kekurangan kalian.jangan sok iye deh lo." timpal Andre di angguki Gio.


"Paling lo cuma tinggal perbaiki onderdilnya aja." lanjutnya membuat Rehan memelototinya." Seriusan gue mah lecet pemakain doang mah gak apa,"


"Gue timpuk lu lama-lama Ndre." kesal Rehan.membuat sahabatnya itu terbahak makin kencang." Minta wanya dong,Gi. atau gak share aja wa gue di grup chat bini lo biar gue laris atuh." pinta Rehan membuat Gio mendekus.


"Ngomong ama sendal buntung emak gue tuh." sahut Gio seraya menunjuk sandal buluk ibunya yang tinggal sepotong.


Saat mereka masih bercengkrama Ayana terlihat memasuki rumah sembari menggendong Mia.membuat Rehan dan Andre berdiri ingin menggendong balita yang menduplikat seluruh wajah Gio itu.


"Udah masuk sana,siapin makan,yang." ujar Gio sembari mengambil alih putrinya dari gendongan Ayana.perempuan itu mengangguk dan masuk ke dalam,karena Gio tidak suka jika Ayana bergabung dengan temannya.karena Gio tahu kedua sahabat laknatnya itu sering mencuri pandang kepada istrinya.dan bisa saja dan ada kemungkinan mereka tengah berfantasi tentang tubuh istrinya.oh tentu saja Gio tidak rela dan tidak akan pernah rela tubuh istrinya di jadikan fantasi oleh orang lain.apa lagi oleh kedua kadal mesir itu.


"Gi,anak lo ganteng banget sih." ucap Andre seraya memperhatikan wajah Jemia.

__ADS_1


"Apaan?orang anak gue cewek." sahut Gio ketus.


"Iya,tapi ganteng loh.soalnya kaya lo banget ya mukanya jadinya ganteng bukan cantik." balas Andre lagi.


"Ganteng iya,cantik iya.gimana ya jelasinnya." timpal Rehan membuat Gio mendelik tak suka.


"Sembarangan aja.anak gue cantik gini.di bilang ganteng." sungut Gio kesal.


"Eh tapi iya,Gi.lo coba deh tanyain istri lo nah itu orangnya." tunjuk Rehan pada Ayana yang kebetulan nongol." Ka Jemia cantik apa ganteng?."tanya Rehan pada Ayana membuat perempuan itu mengerut dahi.


"Gak usah di jawab,yang.orang gila ini memang suka sekali nambah beban pikiran orang." ujar Gio.


"Tergantung yang lihat aja sih.ada yang bilang cantik ada juga yang bilang ganteng." jawab Ayana dengan serius membuat Rehan dan Andre mengangguk.


"Kan gue bilang apa?bini lo aja secara tidak langsung mengakui,lo kok gak terima." ucapnya lalu menyeruput minuman yang di sajikan oleh Ayana tadi.


"Sini dedenya,biar om tampan gendong bentar." ujar Andre meminta Jemia di pindahkan ke pangkuannya.meski ragu Gio tetap menuruti.


"Hati-hati nanti anak gue lecet lagi lcdnya." peringat Gio membuat Andre dan Rehan terbahak keras.


"Tenang,Gi.tangan gue udah terlatih kok udah biasa megang anak orang." sahut Rehan masih dengan kekehannya.


Tiba-tiba Ayana nongol di pintu membuat Gio mendongak kepadanya." Ada apa, yang?" tanyanya.


"Rujak pesenan aku mana?." tanya Ayana.


Gio tersadar dan menepuk dahinya." Aduh, yang.maaf aku lupa.tadi heboh sih pengen cepet lihat kamu pake hijab jadinya kelupaan." ucap Gio dengan wajah menyesal.


Ayana mendekus dengan wajah kecewa." Kamu tuh kenapa sampe bisa lupa segala sih?tibang di titipin rujak doang sampe lupa." sungut Ayana membuat Andre dan Rehan saling pandang.jaga-kaga mereka akan pulang jika tuan rumah ini akan bertarung adu bacot.tapi menjadi supporter seru juga sepertinya.


"Ya udah aku beli sekarang ya,kamu tungguin bentar aku ke alun-alun dulu biasanya di sana banyak." Ujar Gio membujuk namun Ayana tidak mempan di bujuk sepertinya." Yang.tolong jangan marah.aku bener-bener lupa loh." Gio berdiri hendak mengambil kunci motor Rehan dirinya akan membeli rujak namun terhenti karena ucapan Ayana.


"Aku maunya kamu yang belikan." tunjuk Ayana pada Andre yang sedang cosplay wajah orang utan di depan Jemia sebenarnya tidak cosplay memang mereka memiliki sedikit kemiripan sih.


Dan aksi laki-laki itu terhenti seketika." Hah,aku?." tanya Andre menunjuk dirinya sendiri.


Ayana mengangguk dengan cepat dan serius." Iya kamu.cepetan beliin rujak kalau gak aku musuhin seumur hidup,mau?." Ancam Ayana dengan mode galak membuat Andre mengerut takut.sepertinya istri Gio ini memiliki dua keperibadian pikir Andre.


"Iya ka.aku jalan dulu ya." pamit Andre yang langsung di angguki Ayana.lelaki itu pergi dengan motor Rehan.


Rehan menahan tawa sejak tadi melihat wajah Andre tiba-tiba kalem karena takut pada Ayana." Lucu juga si beruk kalau lagi ketakutan gitu." dan tawa jahat pun muncul di wajahnya.


"Ya udah,kamu masuk gih." suruh Gio pada Ayana masih dengan wajah heran dirinya merasa heran kepada Ayana ini mengapa bisa seberani itu pada Andre yang baru di kenalnya pikir Gio.memang pernah beberapa kali bertemu tapi tidak begitu mengenal apa lagi akrab.


Tak lama Andre datang dengan dua bungkus rujak dan sosis bakar juga cilok sengaja dirinya membeli lebih cemilan siapa tahu Ayana suka." Tuh Ka,rujaknya silakan di makan." ujar Andre dengan sopan.


Mata Ayana berbinar saat melihat beberapa jajanan kaki lima.langsung saja tangannya mengambil satu tusuk cilok bumbu kacang dan langsung menyuapkan ke mulutnya." Makasih banyak ya,Ndre." ucap Ayana dengan wajah manis.


Andre mengangguk dengan senyum senang." Sama-sama Ka.di makan rujaknya tuh,Ka.di abisin." suruh Andre lagi.


"Enggak ah.tiba-tiba udah gak pengen lagi.enakan cilok ini dari pada rujak yang asam itu.kamu aja gih yang makan."pinta Ayana pada Rehan membuat pemuda itu membesarkan matanya.


"A_aku?." tanya Rehan dengan ragu dirinya sudah ketakutan jika di suruh makan rujak asam itu.Rehan tidak suka rujak sama dengan Andre.berbeda dengan Gio yang memang doyan.


"Iya kamu.coba makan dong semuanya. kasihan udah di beliin temanmu loh,Andre udah jauh-jauh masa gak di makan kan sayang." ujar Ayana dengan enteng.


"Ndasmu Ka.lo kan yang nyuruh,terus kenapa gak lo aja sih yang makan?kenapa harus nyuruh gue coba?gue gak suka rujak tauuuu?apa anda ini mengerti?arghhhh." dumel Rehan dalam hati.


"Rehan gak suka rujak,yang.mending kamu makan aja cobain dulu siapa tahu gak asem" Gio mencoba membujuk sang istri.kasihan juga melihat wajah Rehan yang sudah bergidik ke aseman padahal itu rujak belum di coba.


"Gi,tolongin dong,lo jangan mau enaknya aja giliran susahnya ke gue." rutuk Rehan membuat Gio tertawa.


"Cepetan di makan atuh,Rehan." suruh Ayana membuat Rehan menelan ludah Andre dan Gio menahan tawanya kemudian mau tidak mau Rehan mulai memakan rujak itu yang sudah di lumuri bumbu pedas dan manis.




...Rehan...



...Gio dan Andre...





"Kalau bini si Giok ini hamidun.gue doain anaknya mirip gue,biar Gio pusing yang bikin siapa yang di miripin siapa." batin Rehan dengan sumpah serapahnya.

__ADS_1


__ADS_2