
Acara berjalan hingga sore,teman Gio sudah akan pulang,namun Monica memintanya untuk menunggu sebentar karena akan membekalkan mereka makanan untuk keluarga di rumah.katering kedua belum sampai.jadi lah mereka di minta untuk menunggu sebentar lagi.Gio dan teman-teman juga kerabat Ayana masih pada mengobrol,membahas tentang bagaimana cara merawat anak kembar Gio mendengarkan pengalaman kerabat dan tetangga Ayana yang memang memiliki anak kembar.keduanya akan belajar dari mereka.
Dua mobil Alphard hitam terlihat memasuki pekarangan rumah Ayana,dan setelah itu terlihat Aneska dan Cindy keluar lebih dulu di susul pasangan mereka masing-masing juga Giselle yang terakhir turun.kemudian dari mobil yang satunya dua orang bertubuh lunak turun,Jeniper batarico dan Iwan Guniwan selaku teman Ayana juga.di tangan mereka penuh akan barang bawaan.membuat kedua sahabat Gio yang sejak tadi memperhatikan kini merasa minder.
Pada saat sadar dan mengetahui siapa yang datang,di antara teman Ayana itu Rehan dengan cepat bersembunyi dengan asal ke ruangan lain.membuat Andre yang sedang memakan kue kering di sebelahnya pun melongo melihat Rehan yang berlari begitu saja.
"Han,woy mau kemana Lo?" Andre bangkit dari duduknya dan menyusul Rehan.
"Assalamualaikum." ucap mereka bersamaan.yang langsung di sambut oleh Ayana dan Gio juga orang-orang yang memang sudah berkumpul di sana.
"Wah rame ya." ucap Giselle.setelah menyalami semua yang ada di sana.
"Ya biasa lah,banyak tetangga dan kerabat mah ya gini ya Bu?."balas Ayana di setujui yang lain.
"Padahal cuma acara gini-gini aja.niatnya. setelah Gio sembuh beneran kami akan mengadakan acara sukuran.lah ini juga sudah lebih dari cukup." ujar Monica.
"Nanti buat acara yang meriah tante.acara sunatan si kembar." celetuk Cindy.
"Masih lama itu mah.mereka baru juga brojol" balas Aneska.
"Eh kata sapa?sekarang mah masih bocil juga udah bisa di sunat loh.gak harus nunggu gede" sahut Cindy.
"Oh ya,masa?" tanya Aneska.
"Iya bisa.gak perlu nunggu sampe bangkotan kok" jawab Dania dan para tetangga Ayana.
Aneska,Cindy dan Giselle hanya ber oh ria saja.setelah itu mereka di persilahkan untuk menikmati sajian makanan khas Sunda yang berasal dari tanah kelahiran Monica,sembari menggerumuni si kembar saat semua orang sedang asik mengobrol Gio melirik ke tempat di mana kedua sahabatnya itu berada.dan ia heran mereka tidak ada di sana.
"Yang,tadi Rehan sama Andre udah pulang ya?. "tanya Gio pada istrinya.
"Belum.kan tadi mamah bilang suruh nunggu bentar." jawab Ayana.kemudian ia berdiri untuk menanyakan kepada Monica.
"Lah tadi di sini." ujar Monica dengan heran.
"Cari siapa sih?." tanya Giselle.
"Temannya Gio.tadi mereka masih di sini kok tiba-tiba gak ada." sahut Ayana .
"Ke kamar mandi kali."ucap Tante Dania.
"Emang ada teman-temannya laki lo beb?mana bawa sini." tanya Jeniper dengan wajah antusias.siapa tahu kan dia bisa mendapatkan jodoh di sini.
"Ajak sini Ay.kita mau kenalan juga." timpal Iwan.Ayana hanya mengangguk dan tersenyum.
Sementara di ruangan lain,Rehan dan Andre tengah kewalahan menenangkan Althea yang sedang memarahi dan menuduh keduanya.tadi saat Rehan memasuki kamar itu dirinya tidak sengaja melihat Althea yang sedang mengganti baju.Rehan tentu saja terkejut,dan segera membalikan tubuhnya hendak keluar dari sana.namun sayang,dirinya bertabrakan dengan Andre yang akan masuk kesana.
Karena itu lah mereka sama-sama terkejut. dan akhirnya ketahuan oleh Althea dan perempuan muda itu begitu murka kepada mereka,tak henti mengancam keduanya akan melaporkan kejadian ini kepada tuan rumah.membuat Rehan dan Andre memohon untuk tidak mengadukan masalah ini.mau di taruh di mana wajah mereka jika hal ini sampai ketelinga mertua Gio.
"Jangan gitu lah Mbak.kan saya tadi udah minta maaf.lagian kenapa kok pintunya gak di tutup?" ucap Rehan.
"Lo kira dengan minta maaf aja semua selesai?gila lo ya,udah jelas-jelas kalian mesum dan cabul." sungut Thea.
"Eh mbak.jangan sembarangan ya kalau ngomong,kalau kami cabul juga lihat-lihat kali mana yang pantas di intip dong.lah barang sortiran aja pede bener.maaf aja kami ini gak minat,Mbak." ujar Andre dengan wajah kesal.pasalnya ponakannya istri Gio itu sangat menyebalkan sekali.
Thea membulatkan matanya mendengar ocehan Andre ini." Apa lo bilang?dasar mesum.giliran udah ketahuan bisa aja ngelesnya." sungut Althea .
"Udah deh Mbak.kita damai aja ya,saya buru-buru ini mau pulang." pinta Rehan dengan lembut.ia tidak ingin memperpanjang masalah dengan perempuan resek ini.
"Enak aja damai,gak bisa kal_"
"Udah,Han.kita tinggal aja pusing gue lama-lama." Andre memotong ucapan Thea dan menarik Rehan meninggalkan ruangan itu.
"Lah kalian dari mana?." tanya Gio yang berpapasan dengan mereka.lelaki itu memberhentikan kursi rodanya.saat ini Gio memang belum bisa berjalan dengan lancar.
"Nganter Andre pipis.eh salah kamar mandi." jawab Rehan asal yang membuat orang di sampingnya itu membulatkan mata.
"CK.lo yang buat masalah malah di lempari ke gue." sungut Andre.
"Emang kenapa?" tanya Gio dengan heran. kemudian Althea muncul dari sana dengan wajah kesal.
"Bawa pulang temen-temen lo yang gak punya sopan santun ini.lain kali kalau ada acara atau apa pun itu,gak usah ngundang mereka,cuma bikin malu aja,wajar lah ya. namanya juga orang kampung pasti minim segalanya." ujar Althea sangat menohok. perempuan muda itu menatap pada mereka dengan tatapan menilai.Gio yang tidak mengerti pun hanya menatapi mereka bergantian.
"Iya kami mau pulang Mbak.maaf udah menganggu." balas Andre dan Rehan.
"Emang ada apa sih?" tanya Gio Heran.
Althea tertawa sinis sembari melipat tangan di dada." Lo tanya aja deh sama mereka.kenapa mereka masuk ke kamar itu.mungkin nyari kesempatan kali mungpung orang rumah pada lengah." ucap Althea penuh arti.
"Maksudnya apa mbak?kok jadi menuduh begitu sih?." sahut Andre menatap Thea dengan kesal.
"Kami gak sengaja mbak.dan gak niat buat nyuri apa-apa di rumah ini.demi Allah saya dan teman saya ini gak ada pikiran kesitu." timpal Rehan serius.
"Halah mana ada maling ngaku." bantah Althea.
__ADS_1
Baru Gio akan bertanya keburu di larang oleh Rehan dan Andre,mereka tidak ingin memperpanjang masalah.kemudian Althea pergi dari sana dengan wajah sinis.bgitu juga dengan Gio dan kedua temannya itu mereka pergi keluar melalui pintu sebelah.
"Gue tadi niatnya mau sembunyi ke ruangan kosong itu,eh ada dia." ucap Rehan usai mereka berada di samping teras rumah Ayana.Rehan ngotot tadi meminta keluar lewat tempat lain karena tidak ingin bertemu dengan Aneska.
"Lo kenapa sembunyi segala sih lagian?." tanya Gio heran.
"Ada temen istri lo yang gue tahu.gue pernah ketemu sama dia gak sengaja.gue gak mau ketemu lagi sama dia,makanya gue milih sembunyi aja." jelas Rehan serius.
"Kenapa?lo pasti pernah macem-macem ya sama dia?" tuduh Andre.
"nggak lah.mending kalau ketemunya begitu mah.ini beda cuy,pokonya gak menyenangkan aja." ujar Rehan dengan kepala menggeleng.
"Yang mana sih?" tanya Gio.ia juga belum sepenuhnya mengingat semua teman Ayana.
"Itu loh yang pake baju kurang bahan.yang bawa paper bag warna Oren." jelas Rehan membuat Gio mengangguk.
"Ka Aneska kali ya?"ucapnya.
"Iya kali.buset gue gak mau ketemu sama itu orang lagi.galak dan gak jauh beda lah kaya ponakan istri lo itu." ucap Rehan membuat Andre terbahak.
Kemudian kedua teman Gio itu pamit dari sana.mereka tidak ingin berlama-lama karena takut jika Althea menuduh mereka dengan tuduhan seperti tadi.Gio benar-benar merasa tidak enak hati kepada sahabatnya itu.bagaimana tidak mereka di tuduh mencuri oleh Althea dirinya tahu pasti mereka merasa malu dan sedih saat ini.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
Malam harinya Ayana merasa heran karena Gio lebih banyak diam,tidak seperti saat tadi siang.Ayana merasa ada yang beda dengan sikap Gio malam ini.setelah menidurkan semua anak-anaknya yang di bantu oleh suster.Ayana ke kamar menemui Gio yang sudah menunggunya.
"Kamu lagi ada masalah?" tanya Ayana sembari menududukan dirinya di samping Gio.
Gio menoleh dan meletakan ponselnya." Enggak.emang kenapa sayang?" Gio malah balik bertanya.
"Kamu kaya lagi ada masalah gitu.lebih banyak diam dari tadi." ucap Ayana.
Alis Gio bertaut heran,perasaan dirinya sedang tidak ada masalah apa pun." Enggak kok.perasaan aku biasa-biasa aja deh." sahutnya.
"Kok banyak diem,kamu lagi marah sama aku?" selidik Ayana.
"Ih mana ada?kok nanyanya gitu sih yang?"
"Abisnya kamu begitu." Ayana mengambil ponsel yang Gio mainkan tadi.kesal juga karena lelaki itu tidak menjawab pertanyaannya.
Gio mendekat dan menggeser duduknya agar bisa memeluk sang istri dari samping dan mendekatkan wajahnya,membuat Ayana menoleh kepadanya dan wajah mereka hampir beradu saat ini.Ayana bisa merasakan sapuan napas hangat Gio yang beraroma permen karet di wajahnya perlahan Gio menempelkan bibirnya di bibir Ayana.tanpa tahu siapa yang memulai keduanya sudah berciuman dengan mesra Ayana hanyut dalam ciuman memabukan Gio.perempuan itu sampai kewalahan mengimbangi suaminya.padahal Gio tergolong masih belum pulih total,tapi lihat lah,lidah dan bibirnya begitu lincah mengobrak abrik mulut Ayana.
"Hmmp." Ayana berusaha melepaskan diri. namun Gio menahan tengkuknya." Hmmm." protes Ayana sembari memukul pelan bahu Gio.
Gio terkekeh masih dengan napas tersenggal.lalu tangannya terulur mengusap bibir basah sang istri dengan ibu jarinya." Maaf.aku terlalu bersemangat habisnya kita udah lama gak kaya gini." ujar Gio.
"Aku rindu tahu,yang.bisa mesra kaya gini.. seperti dulu sebelum ada anak-anak sekarang mah boro-boro,bisa mandi tenang aja udah sukur ya." Gio tertawa begitu juga dengan Ayana." Yang,yuk" ajak Gio penuh arti dengan senyum mesumnya.
Ayana menautkan alisnya heran." Yuk apaan?" tanyanya dirinya pura-pura tidak paham.
"Olah raga.kamu di atas bisa kali ya?" balas Gio dengan mata bergeling nakal.
"Ish.masih sakit juga,kamu kan masih sakit emang bisa?" tanya Ayana tak percaya jika Gio bisa.
"Bisa lah.kamu di atas,kan aku belum bisa gerak dengan bebas." jawab Gio santai seketika saja pipi Ayana bersemu.
"Ish.bukan itu maksud aku.emangnya udah bisa berdiri?" tanyanya lagi dengan pandangan tertuju penuh pada paha Gio.
Gio yang paham pun terbahak mendengar pertanyaan istrinya itu." Jadi kamu pikir punya aku ikutan loyo juga,yang?" Gio menahan tawanya.
Ayana mengusap tengkuknya yang tak gatal itu bingung menjawabnya." Ya.yakan bisa aja ikut lemes juga.secara kamu kan belum bisa jalan juga.aku pikir ikut loyo juga." ucap Ayana dengan mata yang terus menghindari mata Gio.
"Ya enggak lah.masih bagus kok,kokoh dan tegak." ujar Gio membuat seluruh wajah Ayana menjadi merah.
"Oh.bagus dong." sahut Ayana lalu berdiri bermaksud akan siap-siap tidur.
"eits mau ngapain?jangan tidur dulu dong. sekali aja kita coba dulu bentar." ajak Gio dan tangannya menahan pinggang berisi Ayana agar tidak pergi.
"Besok-besok aja lah.aku capek hari ini" jawabnya.Ayana tidak sepenuhnya bohong karena hari ini memang begitu banyak tamu yang hadir meski acara di buat tidak besar.tapi tetap saja orang-orang dan tetangga dekat pada datang.
"Ya udah deh.padahal aku pengen ngetes adiku masih bisa perang apa enggak." sahut Gio dengan lemas.ia langsung kehilangan harapan saat ini.padahal tadi sudah membayangkan akan memadu kasih dengan Ayana malam ini.karena ia merasa pusakanya itu harus di tes kegagahannya.mengingat Gio pernah koma dan sekarang bisa di katakan dirinya masih lumpuh.siapa tahu senjata Gio itu loyo sebelum perang.Ayana menahan tawanya lalu ia berbalik dan duduk di atas paha Gio.lelaki itu terlihat sedikit meringis karena istrinya duduk secara tiba-tiba tepat di atas si Gatot yang sudah sedikit mengeras.
"Coba buktiin,masih kaya biasa apa enggak?" tantang Ayana dengan wajah sensual.
"Siapa takut." sahut Gio lalu mendekap istrinya dan mulai mencumbunya dengan mesra.
Keduanya sudah sama larut dalam api gairah yang menyala di antara mereka.saat keduanya telah siap dan sudah tak sabar lagi.Gio membuka blouse Ayana dengan tergesa lelaki itu memang selalu brutal dalam hal ini.setelah itu lanjut dengan membuka kausnya dan seluruh pakaiannya hingga tubuh mereka tanpa sehelai benang pun sudah sama-sama polos sekarang ini.
Seperti yang Gio katakan tadi,Ayana yang memimpin permainan ini,dirinya yang berada di atas tubuh Gio dengan meliukan tubuhnya begitu lihai dan membuat Gio mabuk.saat ini Ayana begitu pandai dalam permainan tidak seperti dulu yang amatir dan tidak begitu memuaskan pikir Gio.namun sekarang ini.lihat lah.bahkan Gio di buat kewalahan dengan goyangan Ayana yang begitu dahsyat,membuat seluruh tubuh Gio seperti di sengat listrik ribuan volt.
Ayana tersenyum melihat wajah Gio yang berubah menggelap.dan menatap dirinya penuh puja.bahkan suara erotis yang keluar dari bibir lelaki itu memenuhi kamar megah ini.tangan lelaki itu memegang kedua pinggulnya yang bergerak pelan dan sesekali mengelus punggung polos Ayana,juga meremas bokong sintalnya meski begitu tipis dan tulang semua kalau kata Gio mah.
"Kamu luar biasa" puji Gio di sela lenguhannya.mata lelaki itu di buat merem melek oleh Ayana.Ayana hanya tertawa kecil sembari mengusap rahang kokoh Gio dengan lembut." Sekarang udah pinter ya." lanjut Gio lalu mulut itu menyambar dada Ayana yang begitu menggoda,seperti meminta di gapai oleh Gio.
__ADS_1
"Kan belajar dari kamu_ahhhh." sahut Ayana dengan desahannya.karena Gio hampir menggigit teh pucuk Ayana,eh pucuk gunung dong.usai pergulatan panas yang di pimpin Ayana itu selesai.keduanya bersiap akan tidur.mereka saat ini saling berpelukan dengan pandangan yang sama-sama saling menatap.Gio merapikan anak-anak rambut Ayana yang menjuntai menutupi wajah cantiknya.
"Capek ya?" tanya Gio sembari mengusap usap rambut lembut sang istri.Ayana yang sudah kelelahan pun hanya mengangguk dengan mata sayu.Gio terkekeh lalu mencium kening istrinya begitu lama.
"Terima kasih ya,terima kasih karena udah mau bertahan sama aku.udah setia menunggu aku selama berbulan-bulan lamanya.dan sekarang,aku sembuh juga malah masih seperti ini.masih membebani kamu." lirih Gio sembari menatap istrinya begitu lekat.betapa bersukurnya ia mendapatkan wanita setulus Ayana.Ayana ini tiada duanya bagi Gio.dia adalah wanita dengan hati seluas samudra,cantik fisiknya juga ahlaknya.ia begitu berterima kasih kepada ayah dan ibu mertuanya,karena telah melahirkan dan mendidik Ayana menjadi sempurna seperti ini.
"Kenapa berterima kasih?kan emang udah kewajiban aku sebagai seorang istri.kalau pun posisi itu ada di kamu,pasti akan melakukan hal yang sama kan?."ujar Ayana dengan pandangan jatuh menatap manik mata Gio yang jernih dan tajam.
"Tentu,sayang." jawab Gio lalu mengecup lagi bibir istrinya berkali-kali.lelaki itu memang romantis dan selalu membuat Ayana merasa istimewa.
"Aku merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia ini.karena memiliki seorang istri seperti kamu.aku harus berterima kasih sama Mamah dan Papah. juga tuhan,karena telah menciptakan perempuan sesempurna kamu." ujar Gio dengan senyum lembutnya yang mampu menghipnotis Ayana.perempuan itu membalas senyum Gio lalu mengelus rahang kokoh itu dengan lembut.
"Terima kasih.aku juga bahagia karena bersuamikan lelaki tampan dan kuat seperti kamu.lihat lah suamiku ini,dia masih bisa kugenggam jemarinya,dan masih bisa kudengar helaan napasnya.juga masih bisa kudekap seperti ini.matanya yang indah ini juga masih bisa kutatap sekarang ini." balas Ayana dengan sebuah senyum manis yang menghiasai wajahnya.
Tak mampu berkata-kata Gio langsung membawa Ayana ke dalam dekapannya. mencium dan menghirup aromanya yang selalu menjadi candunya itu begitu dalam ia mendekap wanitanya seerat mungkin.
"Aku mencintaimu," ucap Ayana di dalam dekapan Gio.membuat lelaki itu semakin mendekapnya begitu kuat hingga Ayana sesak napas.
"I love you too,aku mencintaimu lebih dari apa pun,bahkan lebih dari yang kamu tau," bisik Gio di telinga Ayana.
"Serius?" goda Ayana sembari melepas dekapan Gio.
"Kamu gak percaya?" tanya Gio.
"Kurang sih.kaya gak yakin gitu." jawab Ayana santai.
"Hey?mau aku buktikan seperti apa lagi kalau aku ini sangat mencintaimu? mencintai bundanya anak-anak aku ini mmm?." ujar Gio serius.
"Kalau memang mencintaiku,buktikan kamu bisa sembuh.semangat terapinya supaya kamu bisa berjalan lagi dengan normal.jangan merasa rendah.buktikan pada semua orang bahwa kamu layak mendampingi aku dan anak-anak kita.aku gak mau kamu ngerasa rendah dan gak pantes bersanding denganku.kamu itu suami aku Gi,apa pun keadaan kamu,aku akan terus berada di sisi kamu selama kamu menginginkannya.jika kamu membuktikan semua itu,baru aku percaya bahwa kamu sangat mencintai aku lebih dari apa pun.seperti kata kamu tadi." ucap Ayana dengan tatapan jatuh ke dalam manik Gio ia ingin memberi suaminya dorongan agar cepat pulih dan semangat untuk melakukan berbagi macam tahap terapi.
Ayana tahu bahwa Gio sempat ingin menyerah pada kondisinya,karena baginya tak ada harapan lagi.kakinya lemas untuk di gerakan,berdiri sebentar saja sudah gemetar.lelaki itu sempat down dan merasa rendah.
"Sekarang gak pernah lagi yang.aku gak pernah lagi ada kepikiran seperti itu.aku janji,aku akan berusaha untuk sembuh supaya aku bisa menjaga kalian.supaya aku bisa mendampingi kamu untuk merawat anak-anak kita." balas Gio dengan suara lirih.ia merasa malu kepada Ayana,Ayana benar.dirinya pernah dan sempat merasa down,Gio merasa bahwa dirinya hanyalah beban untuk Ayana dan keluarganya.bagaimana tidak,ia hanyalah lelaki lumpuh yang duduk di kursi roda jangankan untuk melakukan pekerjaan apa pun.menjaga putrinya saja Gio tak mampu.
"Maaf.karena aku pernah merasa seperti itu.maaf juga udah ngebanin kamu.gak hanya tenaga dan materi aja,tapi dalam segala hal," lanjutnya dengan sama lirihnya.
"Udah kita gak usah bahas itu lagi.mulai sekarang dan kedepannya.kita hanya fokus pada keluarga kita aja,dan perkembangan anak-anak.juga kesembuhan kamu." sahut Ayana lalu mengecup sudut bibir Gio." Ini ada bulunya cukur ya,Gi.aku tuh risih kalau lihat cowok ada bulunya." ujarnya.
"Iya.kemarin aku kehabisan stok cukuran yang,nanti kalau kamu keluar nitip ya." ujar Gio.
"Dih,aku malu yakali beli cukuran nanti orang nyangka gimana-gimana lagi.minta ke Papah aja " tolak Ayana cepat.
"Lah kok malu?kan tinggal beli cukuran aja yang,orang juga pasti mikirnya buat nyukurlah." balas Gio heran
"Ish,kamu gak paham sih.ya malu dong" sahut Ayana.
"Terus itu suka mendadak tipis kamu apain emang?." tanya Gio penasaran.wajah Ayana bersemu,ia mengalihkan tatapannya ke arah lain." Kok diam?aku tanya,suka kamu apain ini di cabutin?" desak Gio tangannya turun ke bawah mengelus lahan sepetak itu dengan lembut.
"Di wax dong Gi,ke salon." jawab Ayana dengan wajah malu.
Mata Gio yang besar itu membulat sempurna." Jadi,kamu biarkan orang lain melihat dan memegang milik kamu,yang?" tanyanya dengan wajah syok.sembari menekan segitiga bermuda itu.
Ayana mengangguk dengan santai." Ya iya lah.kan emang itu tugas mereka.ya pasti di pegang dan di lihat kok.tenang aja mereka juga perempuan."
"Kamu gak malu,orang lain melihat dan memegang milik kamu,mmm?" Gio begitu syok saat ini.selama ini ia tidak tahu kalau ternyata sang istri sering kesalon suka memangkas rumput sawah sepetak itu. selama yang dirinya tahu.Ayana memotongnya sendiri,karena itulah ia tidak pernah bertanya.palingan hanya komentar.
"Hmm.tipis banget dan wangi gini sih."
"Jangan di gundul yang.bagusan masih ada rumputnya meskipun tipis." Itulah komentar Gio selama ini.jika Ayana pulang dari salon.ia tidak curiga sama sekali dan tidak tahu menahu kalau ternyata ada pekerjaan seperti itu.memangkas rumput orang lain.wah,kalau begitu Gio juga mau ngelamar di sana.siapa tahu di terima.Gio yakin dirinya pasti cepat menguasai pekerjaan itu walau dalam beberapa jam saja.sepertinya tidak perlu latihan lagi.tak di gaji pun tak apa.karena itu pekerjaan yang menyenangkan,eh kok.
"Awalnya sih malu.kan lama-lama juga terbiasa.lagian aku udah lama sih dan ke satu orang itu aja.lagian ya para cewek juga paham.jadi gak takut juga mereka mikir gimana-gimana." jelas Ayana agar Gio tak bertanya macam-macam lagi.
"Bukan di salon si Wawan Guniwan,atau si Jupiter itu kan?" tanya Gio dengan curiga.
Ayana tertawa melihat suaminya itu yang keponya minta ampun." Nggak lah." jawab Ayana bohong.mana mungkin ia mengaku.
"Bener ya?kalau bener aku gak Ridho dan gak ijinin pokonya.mereka itu laki-laki yang meski menyerupai perempuan.tetap aja kodratnya lelaki." ucap Gio.
"Iya suamiku." Ayana rupanya sudah ketularan gombalan Gio.
"Udah ngakuin nih ya." Gio mencubit ujung hidung sang istri yang begitu kecil itu.
"Harus di akui pokonya.kalau nggak nanti di gondol pelakor.kemarin aja pas kamu koma ada yang caper ke kamu.gimana pas udah sembuh dan sehat begini?aduh gak kebayang gimana gatalnya itu perempuan." ujar Ayana sembari membetulkan selimbut yang hampir melorot dari tubuh polosnya.saat ini keduanya memang masih polos belum memakai kembali pakaiannya.
"Siapa yang?" tanya Gio dengan heran.
"Siapa lagi kalau buka mantan kamu."
"Mantan?siapa itu?"
"Heleh pura-pura lupa.itu loh si Amandel. masa lupa?" tanya Ayana.kedua alis Gio bertaut ia berusaha mengingat nama itu namun begit sulit mengingatnya.
"Aku gak tau siapa itu Amendel?dan buat apa aku pacaran sama penyakit?bukannya Amandel itu gondongan di tenggorokan kan?yang kalau kebanyakan minum es dan gorengan suka kambuh.panas dingin dan susah nelen." ujar Gio begitu polosnya. Ayana malah terbahak sembari merangkul Gio kedalam dekapannya.membuat Gio mengerut dahi tak paham dengan sikap Ayana ini.
__ADS_1
"Sukur deh.kamu lupa sama penyakit itu." ujar Ayana mengecup bibir Gio dan melanjutkan mencetak adik untuk si kembar.lah itu baru lahir woy.