
Zahra menatap Bryan berkaca-kaca. Bagaimana bisa dia kehilangan lelaki ini? Dia sangat mencintai Bryan. Bryan adalah cinta pertama nya dan lelaki pertama yang berhasil membuat Zahra jatuh cinta setelah ayahnya.
"Iya Sayang kenapa?" Bryan tersenyum kearah Zahra. Sama seperti Zahra dia juga mencintai wanita itu.
"Abi. Umi. Maksud kedatangan saya kesini adalah untuk melamar Zahra menjadi istri saya," jelas Bryan tak lupa senyuman lembut nya. Sejak mengenal Zahra, lelaki dari pria kaya raya itu begitu santun dan sopan, Zahra memang sudah mengajarkannya banyak hal.
"Kak." Mata Zahra berkaca-kaca.
"Nak Bryan, sebelum nya Abi minta maaf. Apakah kau sudah tahu kalau Abi akan merestui hubungan kalian jika kau mengikuti kepercayaan Zahra dan jika diluar itu Abi minta maaf, Abi akan menolak lamaran mu," tandas Rahman tegas.
Bryan mengangguk paham. Namun dia harus selesaikan masalah hubungan nya dengan Zahra. Dia juga ingin mengalah tetapi itu sepertinya tidak mungkin, kalaupun dia mendapat restu dari orang tua Zahra. Kedua orang tua nya belum tentu memberikan restu padanya.
"Saya tahu maksud Abi. Saya pun tidak memaksa Abi untuk menerima lamaran saya. Tetapi untuk masalah kepercayaan saya tidak bisa meninggalkan Tuhan saya, Abi. Saya minta maaf." Bryan menangkup kedua tangannya didada. Harusnya kisah cintanya berakhir sampai disini.
"Kalau begitu dengan berat hati, Abi menolak lamaranmu," tegas Rahman.
Bryan memejamkan matanya sejenak. Sakit, bagai ditusuk oleh ribuan pisau.
"Abi, aku rela pindah agama asal aku bersama Kak Bryan," ucap Zahra menimpali.
"Keputusan ada di tanganmu. Kalau kau siap keluar dari rumah ini silahkan pilih jalan mu sendiri dan kau bukan anak Abi lagi."
Deg
"Aku siap Abi," sahut Zahra yakin.
"Tidak Sayang," tolak Bryan
"Kak." Air mata Zahra luruh.
"Maaf. Aku tidak akan mengizinkanmu meninggalkan kedua orang tua mu apalagi Tuhan-mu demi aku," sahut Bryan. Dia berusaha menahan air matanya.
"Kak, aku tidak mau pisah. Aku cinta padamu," ucap Zahra menggeleng sambil memeluk lengan Bryan.
"Aku juga mencintaimu. Tetapi kita boleh melawan orang tua. Maafkan aku, Sayang."
__ADS_1
Sedangkan Rahman menatap dingin kedua orang itu. Dia tidak bisa menerima toleransi.
"Kenapa kau menolak anak saya?" Rahman menatap Bryan dingin.
"Abi, tidak apa-apa Zahra kehilangan saya, asal Zahra tidak kehilangan Allah-nya." Bryan tersenyum kecut. "Saya tidak mau egois. Apalagi Zahra sampai kehilangan kedua orang tua nya karena saya. Tidak apa-apa saya kehilangan Zahra. Asal Abi dan Umi tidak kehilangan Zahra," ucap Bryan.
Jauh didalam lubuk hatinya dia ingin memperjuangkan Zahra sampai akhir. Tetapi ketika mendengar perkataan Rahman yang akan mencoret nama Zahra, lelaki itu tidak tega. Bagaimanapun Zahra masih butuh figure orangtua.
Rahman mengangguk. Walau ada sedikit tidak tega. Tetapi ini adalah jalan terbaik.
"Kak, aku tidak mau berpisah darimu," renggek gadis itu memeluk lengan Bryan dan menolak untuk berpisah.
"Sayang." Bryan menangkup wajah kekasih hatinya itu. "Jangan menangis lagi. Kau akan baik-baik. Aku pamit. Maaf, aku tidak bisa berjuang sampai ke pelaminan. Aku tidak mau kau kehilangan kedua orang mu." Air mata Bryan pun mengalir dengan deras. Mungkin ini pertama kalinya dia menangis setelah dewasa.
Nurul ikut menyeka air matanya. Sebagai seorang wanita tentu dia paham perasaan Zahra tetapi dia juga tak bisa berbuat banyak karena beda keyakinan memang tidak ada toleransi.
"Zahra" tegur Rahman.
"Saya permisi Abi. Saya titip Zahra," ucap Bryan berdiri dari duduknya. Lalu melenggang keluar.
.
.
Eric dan Laerra menatap anaknya penuh selidik. Tak biasanya Bryan mau keluar negeri apalagi menetap dalam waktu yang lama.
"Kau baik-baik saja, Son?" tanya Eric menatap putranya penuh selidik.
"Aku baik-baik saja, Dad. Aku akan membuka cabang perusahaan baru di sana," jelas Bryan.
Pergi adalah cara dia melupakan cinta yang tak mungkin di miliki. Dia ingin hidup tenang walau dia tak baik-baik saja. Nyatanya berpisah karena berbeda keyakinan jauh lebih menyakitkan. Bryan memang tak menceritakan masalah asmaranya pada sang ayah dan ibu karena dia tidak mau kedua orang tua nya khawatir memikirkan dirinya.
"Kau tak ingin menunggu kelahiran anak, Bee?" Laerra menatap putranya penuh selidik.
"Aku akan datang kalau jagoan Bastian sudah lahir," jawab Bryan terkekeh.
__ADS_1
Bee sebentar lagi melahirkan, menurut hasil USG dan pemeriksaan dokter kandungan dia akan melahirkan bayi laki-laki.
"Ya sudah, kalau itu keputusanmu. Hati-hati, jika ada apa-apa langsung hubungi Daddy," ucap Eric.
Bryan nengangguk. Lelaki itu telah mempersiapkan semua keperluan hidupnya selama di luar negeri. Tak ada yang tahu jika kepergiannya adalah melupakan cinta yang telah merasuki dada.
"Selamat tinggal, Sayang. Aku harap kau bahagia. Sampai bertemu di titik terbaik menurut takdir. Maaf telah ingkar janji karena pada akhirnya perpisahan yang kita hindari telah terjadi," gumam Bryan lalu masuk ke dalam pesawat.
.
.
"Keputusan Kakak sudah tepat untuk menemani ku belajar di luar negeri," ucap Alsya sambil memasukkan barang-barangnya.
"Iya," jawab Ragil ketus.
"Lupakan Kak Bee, mulailah hidup yang baru. Dia sudah bahagia bersama Bastian," ucap Alsya lagi.
Ragil tak menanggapi. Setelah menyiapkan semua barang-barangnya kakak beradik itu keluar dari rumah mewah mereka. Sejenak Ragil menatap bangunan kokoh yang sudah dia tempati selama beberapa belas tahun terakhir. Kenangan bersama Bee juga tertinggal di rumah ini, dulu dia sering mengajak wanita itu untuk sekedar bermain dan mengajari Alsya belajar.
"Kakak," panggil Alsya.
Ragil langsung tersadar dan masuk ke dalam mobil. Mereka memutuskan kembali keluar negeri dan tinggal bersama kedua orang tua nya. Apalagi Alsya yang akan melanjutkan study di bagian ilmu kedokteran dan Ragil harus memantau adik perempuannya itu.
"Doakan saja, semoga Kak Bee baik-baik saja," ucap Alsya lagi.
Ragil menghela nafas panjang, "Kakak akan berusaha," jawabnya menatap kosong ke depan sambil menikmati perjalanan menuju bandara.
"Kakak menyesal dulu pernah meninggalkan Bee," sahut Ragil.
"Sudah Kak jangan di sesali terus. Ikhlas saja Kak Bee dan biarkan dia hidup bahagia. Aku yakin, suatu saat nanti Kakak akan menemukan kebahagiaan tersendiri," ucap Alsya menyemangati sambil bersandar nyaman di bahu sang kakak.
Ragil mencoba berdamai dengan masa lalu, mencoba melepaskan Bee untuk kebahagiaannya. Terkadang benar kata orang-orang, bahagia itu adalah ketika mengikhlaskan orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain.
"Terima kasih Alsya," ucap Ragil tulus.
__ADS_1
Mungkin memilih pergi sejauh kaki melangkah adalah pilihan yang tepat. Melupakan seseorang yang pernah ada tak benar-benar mudah jika masih bisa melihat orang tersebut tetapi tidak untuk memilikinya.
Bersambung.....