
Monica menatap wajah Gio yang sembab dan wajah putrinya yang terlihat sinis. kemudian ikut duduk di depan anak dan menantunya itu,tak lama Frans yang barusan berganti pakaian tidur itu ikut bergabung.pria tua yang sedang mengancingkan piyama itu juga sama menatap heran kedua anaknya.apa lagi saat melihat wajah anak menantunya yang sembab.Frans tau Gio pasti habis menangis dan itu karena ulah Ayana.ia yakin Ayana yang sudah menyebabkan suaminya itu menangis.lalu apa yang membuat mereka kemari.seketika perasaan takut menyelimutinya.semoga apa yang menjadi ketakutannya itu tidak menjadi nyata.tapi Frans memilih tak segera bersuara menunggu keduanya yang lebih dulu mengatakan apa maksud dan tujuannya kemari.
"Mah bisa panggilkan mas abi?" pinta Ayana lirih yang di angguki langsung oleh Monica.tak sampai satu menit Monica dan Abimana Himawan sudah kembali kesana. wajah kaka Ayana itu menimbulkan banyak tanda tanya.ia tak mengerti mengapa tiba-tiba di panggil oleh adiknya.seketika ada hal yang membuat perasaannya tak menentu.Gio yang semula menunduk itu akhirnya mengangkat wajahnya menatap bergantian pada ketiga orang yang ada di hadapannya saat ini.sebelum membuka suara ia berdehem guna melonggarkan tenggorokannya yang terasa mencekik.
"Mah,Pah,Mas Abi.maaf mengganggu waktu istirahat semua.ada yang ingin aku sampaikan." Gio menahan napas melihat ketiganya yang menatap padanya dengan penuh tanya.ia merasa seolah menjadi terdakwa yang sedang di sidang oleh mereka.
"Ada apa ini?" Abi menatap satu persatu orang yang ada di sofa besar yang ada di kamar orangtuanya itu.kemudian kembali pada Gio." Ada apa Gi?jangan buat kaka kaget kalian berdua ini." sebetulnya ia sudah bisa menangkap ada gelagat aneh dari keduanya.Gio hanya menanggapi dengan senyum tipis.sebelum itu melirik Ayana yang duduk dengan wajah lempeng tidak terlihat sedikit pun keraguan di wajah wanitanya itu.
"Malam ini di saksikan oleh Papah,Mamah. dan Mas Abi.kujatuhkan talak satu pada Ayana binti Frans Himawan.Talak,sejak detik ini aku melepaskan diri dari ikatan yang menyebabkan kami halal bersentuhan."
Sontak mata mereka yang ada di sana membelalak,kecuali Ayana.mendengar ucapan Gio yang bergetar itu mereka menatap keduanya tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.Monica menutup mulut menggelengkan kepala tak percaya ia menatap sedih pada Ayana yang tengah menunduk dengan air mata yang meluncur mulai membasahi pipinya.
Siapa yang tahu bahwa hatinya di dalam sana seketika hancur dan berantakan. wanita mana yang senang saat lelaki yang menjadi suaminya menjatuhkan talak apa lagi di depan kedua orangtua serta saudaranya.rasanya dunia Ayana runtuh seketika bersamaan dengan ucapan kata talak yang terucap dari mulut Gio.sial padahal ini adalah keinginannya.ia yang memaksa lelaki itu untuk menceraikannya. lalu mengapa sekarang hati dan perasaannya yang malah hancur.
"Kau sadar mengatakan ini,Gio?" napas Abi memburu menatap nyalang pada adik iparnya itu.setelahnya ia memukul meja kaca yang menjadi pembatas antara mereka." Kau benar sadar sudah menjatuhkan talak pada adikku,huh?"
"Aku sadar,Mas." sahut Gio pelan.
"Bajingan" sekali lagi Abimana menggebrak meja,kalau saja harganya tidak mahal mungkin meja kaca itu sudah hancur." Apa yang membuatmu melakukan hal gila ini.Gio?"
"Kami udah sepakat." lagi jawaban Gio membuat emosi Abi kian tersulut.matanya nyalang penuh dengan bara kemarahan.
"Omong kosong.kau sadar istrimu itu sedang hamil?" tukas lelaki yang belum lama menyandang gelar sebagai ayah itu." Istrimu mengandung,dan kau menceraikannya,apa kau gila?wanita hamil itu tidak bisa di talak." teriakan Abi membuat Monica tambah menangis.
"Bi,tenangkan dirimu." Frans yang sejak tadi hanya diam itu menegur anak sulungnya.dia tau dan tak bisa menyalahkan Gio di sini karena itu atas keinginan putrinya sendiri.
Abi menatap ayahnya garang." Pah. gimana aku bisa tenang?anak ingusan ini sudah ngelunjak dan kurang ajar.dia menceraikan adikku dalam keadaan hamil bagaimana aku bisa tenang?setelah adikku memberinya 4 anak dengan perjuangan yang tidak mudah,si tengik ini malah menceraikannya.bener-bener keterlaluan tidak tahu diri dan terima kasih."
"Perceraian ini aku yang minta,aku yang menginginkan." ucap Ayana dingin membuat kakanya itu langsung menatapnya.
"Dek,apa maksudmu?" tuntut Abi meminta penjelasan.
Ayana menghapus air matanya yang tidak pernah berhenti sejak tadi." Aku yang meminta cerai,bukan Gio yang ingin. sungguh.ini semua atas keinginan aku sendiri Gio gak ada salah apa pun,dia juga tidak berselingkuh mau pun kdrt,kami hanya udah gak sejalan lagi,udah gak cocok jadi karena itu,kami memutuskan untuk bercerai." jelas Ayana dengan tegas bagaimana pun ia tak ingin Gio yang di salahkan atas perceraian mereka.karena ini murni permintaan dan keinginannya.
Abimana mengusap wajahnya dengan kasar.ia tidak mengerti pada sang adik sedang hamil besar malah minta di cerai. apakah Ayana tidak memikirkan keadaan ke depannya.ia kira makan malam beberapa jam yang lalu yang terasa begitu nikmat itu maka dirinya akan berakhir tidur nyenyak karena kekenyangan.namun perkiraannya salah.sepertinya malam ini Abi tak akan bisa tidur dengan tenang.
"Aku minta maaf." ucap Abi pada Gio tanpa malu mengakui kesalahannya ia menatap Gio tajam." Tapi tak akan kumaafkan kalau kau ada macam-macam di luar sana.yang sekarang mungkin saja sedang adikku tutupi.dan jika aku tau kau sampai memukulnya atau menyakiti fisiknya.aku tak akan segan untuk mematahkan lehermu,Gi." ancamnya setelah itu berdiri hendak pergi keluar." Selesaikan saja urusan kalian.aku gak mau ikut campur." setelah mengatakan itu ia pergi begitu saja.
"Apa bener-bener udah gak bisa di perbaiki lagi,Aya,Gi?" tanya Monica di sela tangisnya.
"Aku hanya menuruti keinginan Aya,Mah, Pah." Gio bersuara meski begitu kesusahan untuk mengeluarkan setiap kata dari mulutnya." Aku gak bener-bener menginginkan perceraian ini.dan jika pun saat ini Aya ingin kami rujuk aku siap kembali."
"Nggak.aku udah mantap.terima kasih udah bersedia mengembalikan aku ke Papah." sahut Ayana cepat.ia yakin lambat laun perasaan yang kini ia rasakan itu perlahan hilang.hatinya yang hancur ini hanya sementara setelahnya Ayana yakin semua pasti akan baik-baik saja.
"Aya." tegur Frans yang tak tahan melihat sang putri seolah tak akan menyesali langkahnya ke depan nanti.Frans seratus persen percaya bahwa Ayana akan menyesal setelah perpisahan ini.
"Jika memang ini semua keinginan Ayana, Papah bisa apa.terima kasih sudah mengembalikannya dalam keadaan baik, tanpa kurang satu pun." Frans menarik napas sesak yang kian memenuhi dada." Meski ini adalah akhir dari pernikahan kalian tapi kamu tetap anak bagi Papah. Gi.kamu bebas kapan pun datang kemari pintu kami akan selamanya terbuka untukmu."
Gio tak bisa lagi menahan laju air matanya, dia menangis mengusap air mata yang menderas keluar.dia bahkan sampai tersenggal mengungkapkan betapa sakitnya perceraian ini." Makasih Pah." lirih Gio hanya itu yang bisa ia ucapkan karena sulit sekali menguasai diri.
"Maafkan kami yang tak bisa menahan langkah Ayana,Gi." ujar Monica di sela isakannya.Gio mengangguk beberapa kali lalu meliirk Ayana di sampingnya yang hanya diam membisu.air mata wanita itu tak keluar lagi sudah mengering.
"Malam ini tidur lah di sini,Gi.di kamar lain_" Kalimat Frans terhenti karena suara ponsel Gio yang berbunyi.lelaki itu meminta maaf merasa tak enak tapi Frans menyuruhnya mengangkat.setelahnya Gio menjawab teleopon yang ternyata dari kakanya itu.
"Iya,Ka?" Gio tak mendengar jawaban hanya isakan Indri yang terdengar menyayat hatinya." Ka?" lirih Gio sekali lagi sambil menahan napas.
"Kesini sebentar dek." suara Indri terdengar di ujung sana.Gio sudah tak mampu menjawab ia hanya mematikan ponselnya dengan tubuh mengigil.
"Ada apa?." tanya Frans kawatir melihat Gio yang hanya diam setelah menutup telepon.jiwa lelaki malang itu seolah terpisah dari raganya.
"Ibu,Pah." jawab Gio pelan hampir mirip seperti gumanan.
__ADS_1
"Jangan bilang_" Frans tak melanjutkan kalimatnya.ia hanya menggelengkan kepala." Nggak ada,jangan kawatir ibumu akan baik-baik saja." lanjutnya menenangkan meski ia sendiri tak yakin dengan ucapanya.
"Aku ke rumah sakit dulu Pah,Mah, Yang_mm...aku pamit." Gio tak menunggu jawaban mereka ia langsung melesak ke luar rumah.Gio mengendarai mobil seperti kesetanan dengan pandangan yang sudah mengabur,air matanya memenuhi kedua mata indah itu.ia juga mengabaikan makian dari pengendara lain dengan terus menekan pedal gas hingga nyawanya sendiri hampir melayang.
"Ibu.." tangisnya kembali pecah hingga ia kesulitan menjalankan mobilnya.sambil terus menunggu lampu merah berganti hijau.Gio menggigit jempolnya meredam tangis dan rasa sakit berharap bisa menguranginya walau sedikit saja.
Sementara di sini Ayana terisak setelah Gio pergi.wanita itu tersenggal-senggal tangisnya memenuhi ruangan besar itu. Monica yang awalnya kesal pada sang putri karena kekeras kepalaannya itu kemudian mendekat.walau bagaimana pun ibu mana yang tidak sedih melihat putrinya bercerai di depannya sendiri.
"Kemari." Monica merangkul Ayana ke dalam dekapannya.Ayana langsung meraung begitu juga Monica sendiri.
"Mamah.." raung Ayana membuat hati sang ibu kian pilu.
"Gak apa-apa.semua akan baik-baik saja." ujar Monica seraya mengusapi punggung sang anak." Jangan bersedih,ini pilihanmu.ini keinginanmu bukan?kamu harus bahagia dengan pilihanmu ini." Ayana tambah tersiak mendengar ucapan sang ibu.ia tahu di balik kata simpatiknya terselip nada mencibir.ia tahu betul Monica berbeda dengan Frans.wanita baya ini tak akan selalu memenangkan apa yang sudah menjadi pilhan Ayana.
Sementara Frans hanya diam dengan kepala tertunduk.berkali kali meremas rambutnya menyalurkan berbagi rasa yang memenuhi dadanya.kemudian ia berdiri duduk di samping Ayana lalu mengelus rambut putrinya.
"Jangan menangis,Sayang.ini adalah keputusanmu.jalan yang kau pilih meski harus mengorbankan semuanya. percayalah meski setatusmu sebagai istri sudah berubah.tapi bagi kami,kau tetap adalah Ayana putri kebangangaan kami yang sudah memberi kami 4 cucu.kau hebat nak,Papah dan Mamah menyayangimu."
Ayana menghambur ke pelukan Frans kembali menangis di sana.ayahnya memang yang terhebat selalu ada untuknya kapan pun.dia adalah wanita paling bahagia karena mendapatkan cinta dan kasih sayang dari seorang lelaki hebat seperti Frans.Monica hanya diam sebetulnya ia tak suka dengan cara Frans mendidik dan memperlakukan Ayana.cara didik mereka berbeda walau pun selalu berusaha kompak.Monica tidak terlalu memanjakan putrinya berbeda dengan Frans yang selalu memenuhi setiap keinginan Ayana.tak heran putrinya tumbuh menjadi wanita yang keras kepala dan egois.
"Papah mau kemana?" tanya Ayana setelah tangisnya mereda.
"Ke rumah sakit.kasian Gio sendirian.mau lihat keadaan bu Mira."
"Aku ikut."
"Gak bisa.kamu lagi hamil dan ini udah malam.kamu tetap di rumah istirahat sana tenangkan pikiranmu." tolak Frans tanpa menunggu rengekan Ayana yang memaksa untuk ikut.lelaki tua itu segera pergi ke rumah sakit.
...πππππππ...
"Lailaha ilaallah." tuntun Gio saat membacakan kalimat doa untuk sang ibu yang sedang sekaratul maut.Mira tampak kesulitan walau nyawanya sudah di kerongkongan." Pergilah bu,aku sama kaka iklas.larilah ke surga Ayah udah nunggu di sana.semoga allah mengampuni segala dosa-dosa ibu.semoga allah menerima amal dan ibadah ibu.jangan pikirkan kami bu,kami iklas.pergilah." ucapnya dengan suara yang bergetar.
Mira terlihat kesusahan saat nyawanya di ambil oleh sang pemilik kehidupan.namun perlahan matanya tertutup dengan senyum yang tercetak di bibir keringnya.dua detik yang lalu Gio masih merasakan denyut di nadi sang ibu namun sekarang ia tak merasakan apa pun." Ibu.." Gio meraung menghambur memeluk jasad Mira.lelaki muda yang menjadi kebanggaan Miranti Andini dan Agus Rahman di sepanjang hidup mereka itu,kini tersedu dengan pilu hancur sudah hidupnya baru beberapa jam ia melepaskan orang tercintanya setelah sang ibu.kini harus kembali melepaskan cinta pertamanya untuk selamanya.
"Nggak apa-apa,sayang.gapapa." ucapnya menenangkan Billa yang menjerit-jerit.meski sulit sekali mengeluarkan suara di saat kerongkongan tercekik bahkan untuk sekedar napas saja ia kesulitan.
"Om,Bunda kenapa?" tanya Billa yang masih belum paham apa itu pingsan.
"Bunda kecapean." susah payah Gio menjawab pertanyaan itu.
Setelah beberapa saat dokter dan perawat sudah memasuki ruang rawat Mira.Indri juga sudah sadar kini tengah menatap kosong seperti orang linglung.hanya Gio yang tetap menjaga kewarasannya di sini jika bukan dia lalu siapa lagi.karena mereka tidak mempunyai saudra yang lain hanya ada beberapa kerabat yang jauh.
"Kami minta maaf Pak,bu.kami sudah berusaha tapi tuhan berkehendak lain." ucap dokter.kemudian ucapan duka dari beberapa perawat berdatangan membuat kepala Gio hampir pecah.bayangkan dalam keadaan yang sudah hancur tak berbentuk ia harus berkali-kali mendengar ucapan bela sungkawa dari beberapa dokter dan perawat yang mengetahui kabar tersebut.kalimat dan ucapan-ucapan dari mereka menambah kesedihannya.
"Bagaimana ibumu,Gi?." Frans baru saja sampai,dalam perjalanan tadi ia terjebak macet yang menyebabkan lama di jalan.
Gio yang terduduk di kursi di depan ruangan Mira itu menoleh.ia mengusap air matanya yang kembali jatuh mendengar pertanyaan Frans." Ibu udah nggak ada Pah." jawabnya pelan.
Frans membelalak pantas saja para perawat hilir mudik memasuki ruangan Mira.dia kira sedang ada masalah di dalam mengenai alat medis atau apa pun itu namun ternyata besannya telah tiada.
"Inalilahi waina lilahi roji'un." Frans mengusap wajah kasar tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar itu. " Kuatkan dirimu,nak." Frans memeluk Gio segenap jiwa.seperti seorang ayah.air matanya tak mampu di bendung ia menangis mengetahui kenyataan bahwa besannya telah pergi untuk selamanya hidup memang penuh kejutan.
Entah kapan tepatnya ia terakhir bertemu dan mengobrol dengan besannya itu.jauh sebelum Mira terserang sakit.dan terakhir bertemu saat Mira sudah dalam keadaan kritis.ia dan Monica memang selalu menyempatkan diri untuk menjenguk setiap dua atau tiga hari sekali.sekelebet bayangan pada saat ia dan Mira bersitegang lantaran kesalah pahaman wanita itu yang menuduh putrinya yang menyebabkan Gio hampir meninggal. masih ingat di ruang ingatan ia mengintimidasi besannya itu,mengancam akan mencabut perawatan Gio jika Mira masih memusuhi putrinya.
Dan tak lama setelah itu,entah karena Mira takut atas ancamannya atau karena mungkin sudah sangat menyayangi Ayana menganggap sebagai putrinya sendiri.Mira akhirnya meminta maaf padanya dan Ayana.setelahnya hidup mereka rukun dan bahagia dengan kehadiran tiga cucu.
"Saya tau ini terlambat,maafkan saya bu Mira,baik yang di sengaja atau tidak. semoga allah menempatkan ibu di tempat terbaik,di sisinya." ujar Frans saat ia sudah berada di hadapan Mira yang sudah terbujur kaku.setelahnya Frans membantu mengurusi dan membereskan juga mengatur kepulangan Mira.dia juga yang telah menghubungi orang-orang untuk mengurus pemakaman Mira yang akan di langsungkan besok pagi.
Di tengah kesibukan Frans ponselnya tak henti berdering sejak tadi.rupanya sang istri yang menghubungi." Iya Mah?"
"Papah lama banget angkat telpon.Aya mau lahiran ini.sekarang aku udah di rumah sakit sebentar lagi akan di lakukan oprasi.detak jantung bayinya melemah. Ayana juga pendarahan." Frans terduduk di kursi mendengar kabar dari istrinya.
__ADS_1
"Tuhan," Frans mengusap wajah kasar.ia melihat jam sudah pukul 4 subuh sebentar lagi jenazah Mira akan di bawa pulang dan langsung di kebumikan.segera Frans menemui Gio yang sepertinya sedang menunaikan ibadah solat subuh. benar saja anak menantunya itu baru keluar dari musola yang berada di dalam rumah sakit tersebut.
"Gi,maaf Papah gak bisa ikut nganter ibumu pulang,dan mungkin saat di kebumikan pun Papah gak bisa hadir di peristirahatan terkahirnya.Ayana pendarahan dan sekarang harus segera di oprasi.karena detak jantung bayimu lemah kata Mamah." Gio terhuyung kehilangan kesimbangan kalau saja tidak ada tembok ia mungkin sudah jatuh tersungkur.tungkai kakinya melemah dan rasanya tak mampu di gerakan.ia menyenderkan tubuhnya menahan diri agar tidak jatuh.
"Selamatkan keduanya Pah.hanya mereka yang kupunya saat ini.maaf lagi-lagi gak bisa ikut dampingi Aya melahirkan." lirih Gio bahkan air matanya sudah tak keluar lagi.mungkin sudah kering karena cobaan yang bertubi-tubi menghampirinya.
"Apa pun akan Papah lakukan untuk keduanya,kamu harus kuat ada kaka dan keponakanmu yang membutuhkanmu.Gi. jangan pikirkan yang lain." Frans menepuk pundak Gio sebelum meninggalkan lelaki itu.
...ππππππππ...
Pagi ini gerimis rintik mengiringi selama pemakaman berlangsung.langit seolah mendukung kesedihan Gio saat ini.lelaki yang menggenakan kemeja panjang hitam itu baru keluar dari liang lahat.lalu mengikuti warga yang mulai menutupi kuburan Mira dengan tanah merah.daat orang-orang sudah meninggalkan pemakaman.Gio menatap nanar pada tumpukan tanah merah yang masih basah itu.mata sembabnya tersembunyi di balik kaca mata hitam yang bertengger di hidung bangirnya.peci hitam yang berada di kepalanya juga kemeja yang ia kenakan bahkan sudah lembab akibat gerimis yang terus mengguyur.
"Bun hayuk pulang." cicit Billa yang sejak tadi duduk di akar pohon besar yang berada tepat di kuburan Mira.anak kecil itu sudah tak tahan akibat gigitan nyamuk.dan kerudung yang ada di kepalanya pun sudah basah.mendengar suara keponakannya Gio menoleh lalu melihat kakanya yang duduk melamun. perempuan beranak satu itu menatap kosong ke depan.Gio beranjak mendekati kakanya.memegang kedua bahu yang rapuh itu.
"Ayo Ka,kita pulang.kasian Billa kehujanan." ajak Gio yang langsung di turuti oleh Indri meski tak bicara sepatah kata pun.keduanya pergi meninggalkan pemakaman.Gio juga harus segera menyambut orang-orang yang berdatangan mengucapkan bela sungkawa beserta ikut mendoakan mendiang ibunya.malam harinya para warga memenuhi rumah Gio.mereka ikut mendoakan kepergian Mira yang terkenal dengan keramahannya itu.mereka mengaji di mesjid dan rumah Gio.usai acara doa selesai satu persatu warga meninggalkan rumah Gio.hanya bude Samsiah dan teh Susi yang masih berada di sana menemani Indri yang sejak tadi seperti orang linglung.
Gio memakai celana panjang dan jaket ia akan ke rumah sakit.karena belum mendapat kabar apa pun dari Frans. setelah menitipkan kakanya kepada Teh Susi lelaki itu langsung pergi ke rumah sakit di mana Ayana berada." Ya allah,aku gak minta apapun,hanya ingin keduanya selamat." doa Gio tak henti menyertai.
Setengah jam perjalanan ia sampai di rumah sakit langsung mencari keberadaan mertuanya.Frans menyambut dan segera membawa Gio ke tempat Ayana berada.
"Gimana Pah?" tanya Gio,jujur saja sejak tadi ia menahan napas karena takut.takut kembali mendapat kabar buruk.rasanya Gio sudah tidak kuat menerima kabar buruk lagi.bahkan saat ini saja ia mati-matian mempertahankan kewarasannya.
"Selamat,anakmu jagoan,tampan sepertimu,istrimu_maksud Papah Aya juga sehat.keduanya selamat." ujar Frans.
Gio meraup oksigen dengan rakus.rasa lega dan haru seketika memenuhi hatinya ia memeluk Frans sekali lagi." Terima kasih udah nyelamatin mereka Pah."
"Hei,bukan Papah.tapi tuhan yang mengijinkan mereka bertahan.kalau aja telat dikit.entah apa yang terjadi pada keduanya." ucap Frans.selanjutnya ia mengajak Gio untuk masuk ke dalam. begitu pintu terbuka Ayana dan Monica langsung menoleh.mata Gio dan Ayana bertemu keduanya sama-sama terkunci namun tak ada satu pun yang berani menyapa.
"Gi?." Monica berdiri mengakhiri tatapan suami istri itu.
Gio tersenyum mengangguk.kemudian Monica memeluknya mengucapkan kata maaf serta penyesalan dan duka karena tak dapat hadir di pemakaman besannya." Kamu kuat ya,jangan berlarut.lihat jagoanmu tuh.dia tampan sepertimu." mata Gio tertuju pada bayi yang ada di samping Ayana.kemudian mengangguk dan tersenyum.Ayana hanya menatap keduanya tanpa tahu apa yang sedang terjadi.dia tidak mengetahui apa pun.ia menganggap ibunya masih merasa bersalah pada lelaki itu.
"Iya,Mamah.terima kasih." balasnya kemudian keduanya mengurai pelukan.
Setelahnya Frans dan Monica memilih keluar mereka berpura-pura ingin mencari kopi agar keduanya bisa meninggalkan kamar tersebut.mereka ingin memberi ruang untuk pasangan suami istri yang masih sah di mata hukum itu.sepeninggal kedua orangtua itu Gio yang berdiri kaku itu melangkah mendekati ranjang dimana Ayana berada.wanita itu hanya diam mulutnya seperti terkunci.tanpa Ayana sadari Gio langsung memeluknya membenamkan wajahnya ke dadanya yang hangat.ia mencium kepala Ayana berkali-kali seraya mengeratkan pelukan.
Ayana hanya diam tak membalas mau pun menolak.ia ibarat raga yang kosong namun air matanya yang terus membasahi pipi putihnya." Terima kasih udah bertahan dan masih bisa kupeluk seperti ini.terima kasih juga udah berjuang untuk anak kita. kamu hebat,Sayang." bisik Gio.
"Maaf aku gak ada di saat kamu mempertaruhkan nyawa demi anak kita aku bukan gak mau nemenin.tapi ada hal lain yang tak bisa aku tinggalkan." lanjutnya meski tak dapat respon sama sekali." Andai aku bisa membelah tubuh, mungkin udah kulakukan."
"Kenapa?" Ayana pada akhirnya bersuara." Kenapa gak datang?." katanya.
Gio mencium sekali lagi dahi istrinya ralat mantan istri." Ka Indri sakit." jawab Gio bohong.tak ingin Ayana syok setelah ini jika mengatakan hal yang sebenarnya. mereka sudah sepakat untuk menutupi kematiann Mira dari Ayana sementara hingga perempuan itu pulih pasca oprasi.
"Benar begitu?" tanya Ayana seakan tak percaya dengan ucapan Gio." Bukan bantu-bantu mantanmu Kan?siapa tau dia butuh bantuan apa lagi setelah kelahiran bayinya yang mungkin menyebabkan dia butuh bantuanmu." Gio memejamkan matanya ingin marah atas tuduhan Ayana. tapi tak bisa karena ia tak punya tenaga untuk itu.lagi pula situasinya tidak pas mengingat luka Ayana yang masih berdarah-darah.
"Mana anakku?." Gio mengalihkan dia mulai mencari putranya.Ayana melepaskan diri air mukanya langsung berubah.
"Jangan di ganggu,dia baru tidur.rewel sejak tadi asiku gak keluar." cegah Ayana ketus.
"Belum kali.makanya kamu jangan banyak pikiran biar asinya lancar.kasian dede." Gio berjalan menuju anaknya berada. tangannya terulur hendak mengambil bayi merah itu tapi terhenti karena suara Ayana.
"Jangan sentuh anakku." ucapnya membuat luka dan kepedihan di hati Gio kian bertambah.
...πππππππ...
Jangan gitu Mbak Aya.kalau mbak gak mau suaminya buat saya aja,tampan gini kok di jutekin muluππ€
__ADS_1
Penambah imunππ