Menikahi Brondong

Menikahi Brondong
76


__ADS_3

Dua hari setelah turnamen futsal itu aktivitas Gio dan Ayana sudah kembali normal,keduanya begitu sibuk mengatur waktu antara kerjaan dan anak-anak. Ayana sudah aktif di perusahan ayahnya begitu juga dengan suaminya.besok pagi Gio akan pergi ke bengkulu untuk menggantikan Frans guna memantau proyek yang sedang di kerjakan sekarang.


"Tapi kuliah kamu gimana?" tanya Ayana.


Gio tak segera menjawab lelaki jangkung itu tengah sibuk mengancingkan celananya." Gi?" tegur Ayana membuat Gio segera menoleh kepadanya.


"Iya,aku bakal ijin hari ini." jawab Gio seadanya berhasil membuat Ayana memicingkan matanya.


Lantas perempuan berusia tiga puluh dua tahun lebih itu berdiri dari kursi di depan meja riasnya." Kamu ini kenapa sih?."


"Apa?" tanya Gio sembari memakai kausnya,rupanya pemuda beranak tiga itu belum mengerti akan raut wajah sang istri saat ini.


"Ya kamu kenapa?pagi ini kok kaya orang lagi sariawan,bahkan aku ngomong aja kamu gak lihat aku." ucap Ayana kemudian dengan raut wajah betenya ia segera keluar dari kamar.


Gio yang keheranan melihat sikap istrinya pun hanya menggelengkan kepalanya." Perasaan emak si Jem gak lagi datang bulan deh?." gumamnya.


Di meja makan Ayana terlihat sedang sarapan bersama si sulung.belum lagi si kembar sedang sibuk lari sana sini membuat rumah terasa lebih ramai dan riweuh rupanya dua suster tidak cukup menjaga tiga anak Ayana dan Gio.Gio menangkap putra dan putrinya yang sedang belajar jalan itu.mereka begitu kegirangan saat melihat ayahnya


"Cium ayah dong morning kissnya mana. hmm?" pinta Gio kepada anak anaknya.


"Tatatatah.yayayah." ujar si kembar,bayi berusia sembilan bulan itu begitu antusias saat mencium pipi sang ayah.


"Duh,lucu banget sih kalau lihat kalian kek gini tuh,ayah gak mau kerja tau." ucap Gio sembari menjemil satu-satu pipi anaknya. bahkan sesekali ia mengambil tangan anaknya lalu mengigitnya karena gemas.


"Euhhhh,gemess tolong"


"Aaaaaa...huaaaa.." Vindi terlihat menangis karena Gio mengigit tangannya terlalu kencang.


Tangis anaknya yang melengking itu membuat Gio panik." Jangan nangis nanti bunda denger ayah yang kena.jangan pinter ngadu napa?." omelnya.


"Giiiii?" suara Ayana mengeleger dari meja makan.


"Iya,iya.nih Raven ngegigit tangan Vindi" dusta Gio dengan panik.


Suster Risma dan Suster Titi hanya saling pandang melihat tingkah ayah muda itu." Begini nih,kalau anak-anak punya anak." batin suster Titi.


"Morning cantik." sapa Gio sembari mencium pipi istri dan anaknya gantian lalu duduk di samping Jemia.


"Kamu apain Vindi tadi?." tanya Ayana curiga dan wajah Gio langsung panik.


"Nggak.rebutan maenan jarinya Vindi di gigit Raven." bohongnya,lalu kembali mencium Jemia dengan gemas tentu Ayana tidak langsung percaya begitu saja tapi ia malas untuk memulai perdebatan apa lagi pagi-pagi begini salad saja baru sampe kerongkongan.


"Ayah..." ujar Jemia dengan suara cemprengnya karena Gio masih mengecupi pipinya,membuat Gio kembali mendusel pipi gembulnya itu hingga merah." Akit,ayah."


"Biarin,siapa suruh kamu gemesin." kemudian Gio melirik Ayana yang tengah sibuk memakan salad dan pie buah yang di kirim dari Monica." Mau bareng aku atau bawa mobil sendiri, Yang?." tanya Gio.


Ayana yang tengah sibuk mengunyah pun lantas menelan makannya terlebih dulu." Aku bawa mobil,kamu ke kampus aja duluan soalnya aku ada urusan bentar." jawab istrinya Gio.


"Gak di anter mas Ajun aja?takutnya kamu pegel nyetir." Ayana menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Mas Ajun kan sibuk sama Mamah.Pak Rudy juga mau ke semarang sama pak Martin." jawabnya.Gio hanya mengangguk sembari menyuapkan brownis yang mereknya sama dengan nama mantan pacarnya itu dan karena itu pula Ayana tidak mau memakan brownis merek itu lagi mulai saat ini.


"Brownisnya legit dan enak banget ya?kaya mantanmu" celetuk Ayana saat ia tengah memerhatikan Gio yang sedang melahap brownis itu.lelaki itu terlihat begitu menikmati membuat Ayana kesal.


Lantas lelaki itu menghentikan kunyahannya." Hah,apwa?." tanyanya dengan mulut penuh.


"Menikmati banget kayanya.sampe setengah langsung ludes" sindir Ayana dengan ketus.


Buru-buru Gio menekan air di dispenser dan meminumnya dengan cepat." Kan kuenya emang enak yang.makanya nikmat di makannya ini."


Ayana mendekus lalu kembali mengambilkan sosis goreng untuk putrinya." Iya lah,Amanda gitu loh pasti enak dan nikmat." sindirnya.


"Loh,loh,apa hubungannya Amanda sama ini brownis?" tanya Gio dengan heran.


"Baca namanya,makanya BACA." sengit Ayana.


Lalu Gio membaca dus bolu kesukaannya itu." Oh,hehehe." cengirnya garing.


"Dih" dengus Ayana.Gio Memutari meja makan lalu memeluk sang istri yang masih duduk itu dari belakang,ia menciumi seluruh wajah Ayana dengan gemas membuat perempuan itu memukul tangannya berkali kali.


"Awas ih bedak aku luntur nanti.abisin dulu sarapannya tuh keburu telat." Ayana masih terus berusaha melepaskan tangan Gio dari pundaknya.


Gio tak segera menjawab malah menenggelamkan hidungnya ke leher Ayana,hingga hidung bangirnya itu menyon-menyon." Wangi banget sih?sampe gak mau udahan nyiumnya." komentarnya." Kek gini nih muah, muachhhhh."


"Halah,udah sana kamu bau rokok." usir Ayana.


"Belum ngerokok geh.alesan aja kamoh." jawab Gio seraya mencium kecil-kecil pipi Ayana dengan cara di cicil." Ini kok gak pake pondasi yang,malu nanti keliatan lagi."


Ayana segera memeriksa tulang selangkanya,itu bekas semalam hasil karya ayah anak-anak." Foundation Gio. makanya sana dulu kamunya biar aku ke kamar dulu."

__ADS_1


"Gak usah nanti juga pudar ini,kan kamu pake jas" cegah Gio.


"Pudar ndasmu.ini masih ungu begini.awas ih bau rokok." Ayana berusaha bangun dari duduknya namun Gio tetap menekan bahunya agar tetap duduk." Ampun deh ini aki-aki,pagi pagi begini udah gelayutan kaya anak monyet aja." Ayana menghela napas lelah ternyata begini rasanya punya bayi gede.


"Mana ada aki-aki masih muda dan guanteng begini?" sanggah Gio tidak terima.


"Emang kamu aki-aki kok,itu buktinya bau rokok." balas Ayana.Gio berdecak lalu melepaskan tangannya dari tubuh Ayana membuat Ayana lega namun tak lama ia langsung tersentak karena Gio mencuri bibirnya.


"Mulut aku wangi kan?bau roko dari mana coba?kan aku ngerokoknya gak aktif.itu juga kalau lagi stres aja." ujarnya sembari sekali lagi menyedot bibir Ayana hingga lipsticknya hilang.


"Lagian ngapain sih kamu ngerokok?ada anak-anak loh Gi.gak bagus ngerokok itu nanti kamu cepet mati." ucap Ayana sembari mengusap bibrinya yang basah.


"Ya elah mbak,kan aku ngerokonya di balkon dan gak deket anak-anak.jadi aman dong." Gio membela diri.


"Tetap aja.lagian buat apa ngerokok coba?ngilangin stres kok ngerokok."


Gio menggelengkan kepalanya,ngomong sama perempuan memang bikin capek. capeknya sama saja seperti naik turun tangga sepuluh balikan." Begini ya mbak Aya yang cantiknya kelewatan banget,nget nget,roko itu emang bisa ngilngin stres di dalamnya kan ada kandungan nikotin yang bisa menenangkan dan ngilangin stres. sama kaya kamu itu,bisa menenangkan dan ngilangin stres." jelas Gio" Bedanya kalau kamu mah bikin stres kadang-kadang." lanjutnya dalam hati.


Ayana menahan senyum mendengar penjelasan suaminya.duh kira kira wajahnya bersemu gak yah.tentu saja tidak." Halah alesan.ngilangin stres gimana?yang ada nambah stres karena mahal harganya" sanggahnya.


"Hooh,makanya,ya udah.besok aku berhenti roko deh asal sering nen ya." Gio menaikan alisnya dengan senyum nakal.


"Enak aja.nyusuin anak lu aja gue capek, nambah lagi bapaknya.ogah,ikut nyusu aja tuh sama anjingnya tetangga lagi lahiran." suruh Ayana.


"Tega maneh mah." balas Gio dramatis. beberapa hari ini Gio memang merokok rupanya pria muda itu di landa stres lumayan parah.hingga ia lampiaskan dengan mencoba coba rokok.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Gio berjalan menuju parkiran kampus melewati Sally yang sedang menunggu temannya di depan mobil,tak ingin kenal lagi dengannya.Gio pura-pura tak melihat anggap saja perempuan itu adalah tunggul kelapa yang sudah budugan di makan rayap.melihat Gio yang cuek dan melewatinya seperti itu.tentu saja Sally sedih dan kesal sombong sekali pemuda itu pikirnya." Gi?.." panggil Sally membuat langkah Gio terhenti kemudian menoleh namun tetap tidak menjawab.


"Tunggu" Sally berjalan menghampiri Gio.


"Apa?" tanya Gio setelah Sally berada di hadapannya.


"Gue mau minta maaf,maaf kemarin-kemarin udah bikin hubungan kita jadi canggung begini.gue harap lo maafin gue dan kedepannya kita bisa seperti biasa tanpa canggung lagi." ujar Sally terdengar tulus.


Gio membuang pandangannya dan menghela napas lalu menatap Sally." Iya udah,tapi kedepannya lo jangan aneh-aneh lagi deh gue eneg tau sama perempuan yang gatal kek gitu.lo cantik dan kaya cari yang single masih banyak toh anak anak sini juga pada demen sama lo?nah milih aja tuh sesuain sama tipe lo."


"Tapi tipe gue itu,lo,Gi." jawab hati Sally. perempuan itu mengangguk dengan cepat." Iya.gue minta maaf." jawabnya.


"Mm.ya udah gue duluan." pamit Gio lalu menaiki motornya dan memasang helm yang menambah kadar keren lelaki itu sebanyak dua ons.


"Turut berduka untuk hati yang patah." celetuk Nolla teman Sally.


"Sabar.masa depan lo masih panjang ketimbang ngelakuin hal yang gak guna begitu.pokonya pelakor itu gak ada bagusnya di mata orang,Sall.nama lo akan di kenang sepanjang masa dengan buruk. pokonya gak ada enak enaknya,Sall.yang ada rugi karena apa pun yang lo lakuin pasti gak ada benarnya di mata pembaca. lo napas saja salah di mata Netizen."


Nolla menepuk pundak Sally sekali lagi." Sabar.lo cantik jadi jangan nodai kecantikan lo itu dengan bertingkah murahan." ujar Nolla lalu meninggalkan Sally menuju mobilnya.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


"Ibu mana?." tanya Gio pada Indri,tadi setelah dari kampus ia mampir sebentar guna melihat keadaan ibunya.jujur saja Gio rindu ibu dan kakanya itu apa lagi si cantik Abilla Shena.


"Ke rumah kang Hendi,lagi ada acara sunatan ponakannya anaknya teh Imas kamu udah makan belum?biar kaka angetin lagi lauknya kalau belum makan." Indri berdiri hendak menghangatkan lauk untuk Gio makan.namun urung karena Gio melarangnya.


"Aku udah makan.kesini cuma mau lihat ibu sama Billa." ucapnya.entah mengapa Indri merasa sakit kala mendengar ucapan Gio yang hanya menyebut dua kata itu berarti adiknya itu tidak ingin bertemu dengannya.sikap Gio terhadapnya juga sedikit beda hari ini tak ingin mempermasalahkan,Indri mengangguk.


"Oh,ya udah tunggu dulu ya.biar kaka wa teh Susi suruh ibu pulang." Indri ke kamar mencari ponselnya guna menghubungi tetangganya meminta agar ibunya segera pulang.


Gio menunggu di kursi ruang tamu,ia tak mengajak Indri bicara seperti biasanya lelaki itu hanya diam dan sesekali melihat ponselnya.menunggu seperti ini rasanya tidak enak bagi Gio bagaimana tidak.ia tidak mengobrol dengan kakanya seperti biasa.usai kejadian lalu membuat Gio merasa canggung terhadap kakanya.ia tidak marah kepada Indri hanya saja Gio merasa keadaan tidak sama lagi setelah beberapa waktu lalu.


"Gi?" Mira masuk ke rumahnya lalu duduk tidak jauh dari Gio.


"Ibu dari kapan di rumah kang Hendi?" tanya Gio setelah melihat Mira duduk.


"Dari kemarin sore.soalnya kan gak ada yang masak padahal ibu ngantuk ini tapi tamu masih pada datang." ujar Mira.Gio hanya mengangguk kemudian matanya melirik sang ibu yang sedang membuka tas kecil yang isinya adalah makanan.


"Di makan nih,tadi denger kamu datang ibu langsung ambil banyak." Mira menyodorkan kue talam ubi kepada putrnya.


Gio menerimanya kemudian memakannya langsung." Siapa yang buat?ibu apa Bude Samsiah?." tanya Gio.


"Ibu sama Bude." jawab Mira.kemudian wanita tua itu melirik pada Indri yang sejak tadi hanya diam duduk di kursi paling ujung." Loh,Ndri.Billa mana?." tanya Mira yang tidak melihat keberadaan cucunya.


"Ikut sama neng Lela ke alun-alun.katanya mau beli balon sama naik mobil." jawab Indri seraya melirik Gio.


Mira mengangguk lalu menatap pada putranya." Aya kemana,kok gak ikut?anak anak sehat kan?"


"Aya sibuk di kantor.aku di pabrik.besok juga aku mau ke bengkulu gantiin Papah." jawab Gio seraya masih memakan aneka kue basah itu.


"Hati-hati di sananya,ingat jaga hati dan pandangan selalu Gi.namanya kita berpergian kan bisa aja ketemu lawan jenis di mana pun harus ingat terus anak dan istri jangan macem-macem,kasian Aya sama anak-anak" pesan Mira.

__ADS_1


Gio berdecak kecil dan mengangguk." Ibu ini gak percyaan.hati aku udah penuh bu sama Aya mana mungkin lirik yang lain." jawabnya.


"Alah.namanya juga laki-laki.meski yang di rumah udah bening juga tetap aja kalau di luar mah melek."


"Ibu suka sok tau" sanggah Gio membuat Mira tertawa.


"Maafin ibu sama kaka ya Gi" ujarnya dengan suara pelan.


Gio kemudian mendongak mendengar ucapan sang ibu." Udah gak usah bahas lagi bu,yang lalu biar berlalu.aku gak mau denger bahasan itu lagi."


"Tetap aja ibu ngerasa bersalah sama kamu.maafin ibu sama kaka juga Ayah bukan kami ingin merahasiakan segalanya dari kamu,tapi kami gak mau kehilangan kamu Gi,karena bagi ibu kamu adalah anak ibu." Mira bergeser mendekat kepada Gio lalu meraih tangan besar putranya." Tolong jangan seperti ini lagi ya.jangan cuek sama ibu dan kaka.jangan mengabaikan kami Nak,ibu lihat setelah itu Gio menghindari kami.ibu sedih Gi,ibu sama kaka sampe gak enak makan gak enak tidur selama berhari-hari."


"Ibu jangan nangis.aku jadi ngerasa bersalah banget sama kalian.jangan kaya gini." pinta Gio seraya memeluk ibunya.


"Ka.."panggilnya kepada Indri dan perempuan itu mendongak dengan air mata yang sudah menggenang." Sini peluk aku sama ibu" ujar Gio.langsung saja Indri berdiri dan menghambur memeluk Gio dan ibunya,bertiga mereka berpelukan saling menumpahkan yang mengganjal di hati mereka selama beberapa hari ini.


"Maafin aku." ujar Gio kepada dua perempuan yang selalu ia sayangi itu.


"Kamu gak salah.ibu sama kaka yang salah." ujar Indri dan Mira." Kaka sayang kamu Gi.tapi bukan seperti yang mas Bian bilang.tapi kaka sayang sama kamu sebagai Gio,adik kaka." lirih Indri.


"Iya ka." Gio mengecup kening Indri dan Mira bergantian dengan sayang.ia menyesal karena telah mengabaikan kaka dan ibunya selama berhari hari.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Gio berjalan ke ruangan Ayana dan Frans. istri dan mertuanya itu tidak terlihat di mana pun hari ini kemana mereka pikirnya.


"Ka Lita,bu Aya kemana ya?" tanyanya kepada Lita.


"Oh,bu Aya lagi makan siang ramean sama Tuan dan Pak Jerrian juga." ujar Lita.Gio mengangguk setelah itu langsung masuk ke ruangan Ayana dan menunggunya di sana,namun sudah hampir satu jam lamanya istrinya itu tidak juga datang. merasa bosan Gio akhirnya pergi ke pabrik bagian produksi guna melihat pekerja di sana.


Sebelum benar-benar ke pabrik,Gio memutar motornya mampir ke kafe guna membeli kopi,ia merasa ngantuk sepertinya segelas espresso boleh juga pikirnya.Gio membuat pesanan take away karena Gio tidak ingin berlama-lama dan bukan waktunya untuk nongkrong.setelah satu cup kopi dan cake redvelvet sudah berada di tangannya.Gio melangkah dari sana.namun sebelum itu pandangannya tak sengaja melihat sosok sang istri tengah berbincang dengan beberapa orang kantor.yang kebanyakan adalah laki-laki.


Mata Gio memicing kala ia melihat satu mahluk laki-laki yang tengah memperhatikan istrinya yang sedang tertawa itu.dapat ia lihat bahwa laki-laki itu menyimpan rasa kepada istrinya." Yang penting istri gue tetep lurus." gumam Gio sebelum melangkah dari sana.setelah sampai di pabrik Gio terlihat melamun panjang sampai es kopi yang ia sedot pun telah ludes.


"Kalau mau lagi biar saya pesankan mas, sampe bunyi-bunyi gitu." ujar Ujang salah satu anak produksi bagian lem.


Gio mengerjap dan baru tersadar." Udah kenyang Jang.ini mah iseng aja." sanggah Gio padahal mah malu.


"Oh.kiran kurang sampe sosorodotan kitu es batuna." ujar si ujang koplok.


"Hih,maneh mah,gak tau aja sensasinya beda kalau sampe sosorodotan berarti kopina enak." balas Gio.


...☘☘☘☘☘☘...


"Jem itu siapa?" tunjuk suster Risma kepada Gio yang motornya baru memasuki garasi.


Gadis kecil itu langsung girang melihat sang ayah." Ayah.mau naik." ujarnya dengan riang,ia mencoba menaiki motor setelah sang ayah memberhentikan motornya.


"Mau kemana?" tanya Gio usai meletekan helmnya.


"Jayan jayan Ayah.cana beli emen." ujarnya begitu imut dan menggemaskan.


"Emen,emen.rusak giginya nanti"


"Ayah..." rengek Jemia mulai mengeluarkan jurus andalan.


"Iya,iya.hayu naik." Gio selalu kalah oleh wajah imut itu." Jangan bilang bunda ya nanti kita di amuk." lanjutnya sembari membawa gadis kecilnya itu naik ke atas motor.Gio membawa putrinya menuju mini market yang ada di jejeran ruko depan cluster rumahnya pemuda palsu itu menyetir dengan satu tangan karena tangan satunya harus memegangi putrinya yang berada di depan.



Gio memfoto putrinya yang sedang menariknya masuk menuju mini market,lalu ia kirimkan pada Ayana,


Gio:Anak siapa ini?sibuk banget ngajakin bapaknya jajan.


Tak lama Ayana membalasnya dengan emoticon ketawa.


My wife:Anak siapa ya itu?ih kok gemes sih,kok gak tunggu bunda pulang sih.


My wife:Curang nih ya.masa jalan jalan gak nungguin bunda.


Gio:Dadah bunda,kami jajan dulu ya sekalian cari Mama baru.


My wife:Nyari ribut ya?


Gio:Nyari enak.


My wife:Awas ya,tunggu aku pulang.


Gio tak membalas lagi pesan istrinya sengaja biarkan saja nanti juga Ayana akan ngamuk kan seru sesekali harus ribut lah.

__ADS_1



Paan sih tjakep banget


__ADS_2